Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang
ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam
dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan
suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada
reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak
ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap
kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan
anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama


kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic
Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan
pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan
berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak
biasa.
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya
miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua
kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di
negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal
sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang
lebih baik.

Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Dengan adanya


metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak
yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di

1
atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme
masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan
dokter di dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 -
15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens
autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1
diantara 1000 anak. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 -
4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang
lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini
belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan
jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu orang.

1.2 Rumusan masalah


a) Apakah pengertian dari autisme ?
b) Apakah penyebab dari autisme ?
c) Bagaimana patifisologi autisme ?
d) Bagaimana cara mengetahui autisme pada anak ?
e) Apa saja manifestasi klinis dari autisme ?
f) Bagaimana pengobatan autisme dan diet makanan anak autism ?
g) Bagaimana prognosis bagi penyandang autisme ?
1.3 Tujuan
a) Mampu memahami pengertian Autisme.
b) Mampu memahami etiologi autisme.
c) Mampu memahami patofisiologi autisme.
d) Mampu memahami cara mengetahui autisme pada anak.
e) Mampu memahami manifestasi klinik autisme.
f) Mampu memahami pengobatan, diet makanan dan prognosis
autisme.
g) Mampu mampu melakukan asuhan keperawatan anak dengan
autism.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Autisme


Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan
kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan
gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305).
Autisme Infantil adalah gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan
non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi
sebelum usia 30 bulan. (Behrman, 1999: 120).
Autisme menurut Rutter 1970 adalah gangguan yang melibatkan
kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),
hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik
dan konvulsif. (Sacharin, R, M, 1996: 305).
Autisme pada anak merupakan gangguan perkembangan pervasif (DSM
IV, sadock dan sadock 2000).
Definisi autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan
kurangnya kemampuan berinteraksi social dan komunikasi, minat yang
terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana
kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja J, 2007).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah
gangguan perkembangan pervasif, atau kualitatif pada komunikasi verbal dan
non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik berupa
kegagalan mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30
bulan),hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena
ritualistik dan konvulsif serta penarikan diri dan kehilangan kontak dengan
realitas.

3
2.2 Etiologi

Penyebab Autisme diantaranya :

1. Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar


dizigot) terutama pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan
kemampuan bicara).
2. Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
3. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti).
4. Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum,
keadaan tidak menguntungkan antara faktor psikogenik dan
perkembangan syaraf, perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus
otak depan.
5. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan
gangguan sensori serta kejang epilepsi.
6. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak

Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh pada


masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak tidak
berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata,
memberikan kesan jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua
memperlihatkan rasa ingin tahu atau minat pada lingkungan, bermainan
cenderung tanpa imajinasi dan komunikasi pra verbal kemungkinan
terganggu dan tampak berteriak-teriak. Pada masa anak-anak dan remaja,
anak yang autisme memperlihatkan respon yang abnormal terhadap suara
anak takut pada suara tertentu, dan tercenggang pada suara lainnya. Bicara
dapat terganggu dan dapat mengalami kebisuan. Mereka yang mampu
berbicara memperlihatkan kelainan ekolalia. Dengan bertumbuhnya anak
pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri dengan kelainan intonasi
dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus
konsentrasi pada bagian perifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan

4
menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca
indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorasi lingkungannya.

Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang dapat menyita


perhatiannya (berlonjak, memutar, tepuk tangan, menggerakan jari tangan).
Kegiatan ini ritual dan menetap pada keadaan yang menyenangkan atau
stress. Kelainan lain adalah destruktif, marah berlebihan dan kurangnya
istirahat. Pada masa remaja perilaku tidak sesuai dan tanpa inhibisi, anak
austik dapat menyelidiki kontak seksual pada orang asing.

2.3 Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls
listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu
(korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak
berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf
terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada trimester ketiga,
pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan akson, dendrit, dan
sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua tahun. Setelah
anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa bertambah dan
berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi
secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain growth
factors dan proses belajar anak. Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin
cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada
stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar
menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian
otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson,
dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi
yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses
tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan
abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan

5
neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4,
vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang
merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur
penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan
jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik terjadi kondisi growth
without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak
beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel
saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel
saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil
pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan
akson, glia (jaringan penunjang pada system saraf pusat), dan mielin
sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya,
pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas,
peningkatan brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4
menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel Purkinye dapat
terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik,
gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal
masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah
berkembang, kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel
Purkinye. Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alcohol
berlebihan atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI
menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan
gerakan motorik, belajar sensori-motor, atensi, proses mengingat,serta
kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih
lambat, kesulitan memproses persepsi atau membedakan target, over
selektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak
secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal
sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman menemukan berkurangnya

6
ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan otak besar yang berperan
dalam fungsi luhur dan proses memori) dan amigdala (bagian samping depan
otak besar yang berperan dalam proses memori). Penelitian pada monyet
dengan merusak hipokampus dan amigdala mengakibatkan bayi monyet
berusia dua bulan menunjukkan perilaku pasif-agresif. Mereka tidak memulai
kontak sosial, tetapi tidak menolaknya. Namun, pada usia enam bulan
perilaku berubah. Mereka menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik
diri, mulai menunjukkan gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip
penyandang autisme. Selain itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.

2.4 Cara Mengetahui Autisme Pada Anak


Anak mengalami autisme dapat dilihat dengan:
1. Orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan normal.
2. Orang tua harus mengetahui tanda-tanda autisme pada anak.
3. Observasi orang tua, pengasuh, guru tentang perilaku anak dirumah,
diteka, saat bermain, pada saat berinteraksi sosial dalam kondisi
normal.

 Tanda autisme berbeda pada setiap interval umumnya:


1. Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi
tegang bila diangkat ,cuek menghadapi orangtuanya, tidak
bersemangat dalam permainan sederhana (ciluk baa atau kiss bye),
anak tidak berupaya menggunakan kat-kata. Orang tua perlu waspada
bila anak tidak tertarik pada boneka atau binatang mainan untuk bayi,
menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak
terlihat tertarik pada kedua tangannya sendiri.
2. Pada usia 2-3 tahun dengan gejala suka mencium atau menjilati benda-
benda, disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain
sebagai benda atau alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau
sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek menghadapi kedua
orang tuanya.

7
3. Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak
merasa sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari.
Bila anak akhirnya mau berbicara, tidak jarang bersifat ekolalia
(mengulang-ulang apa yang diucapkan orang lain segera atau setelah
beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan nada suara yang
aneh (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas
(walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi
bisa juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis yang ditemui pada penderita Autisme :
a) Penarikan diri, kemampuan komunikasi verbal (berbicara) dan non
verbal yang tidak atau kurang berkembang mereka tidak tuli karena
dapat menirukan lagu-lagu dan istilah yang didengarnya, serta
kurangnya sosialisasi mempersulit estimasi potensi intelektual kelainan
pola bicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan,
permainan sosial abnormal, tidak adanya empati dan ketidakmampuan
berteman. Dalam tes non verbal yang memiliki kemampuan bicara
cukup bagus namun masih dipengaruhi, dapat memperagakan
kapasitas intelektual yang memadai. Anak austik mungkin terisolasi,
berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang
idiot dan menghabiskan waktu untuk bermain sendiri.
b) Gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat
yang sempit, keasyikan dengan bagian-bagian tubuh.
c) Anak biasa duduk pada waktu lama sibuk pada tangannya, menatap
pada objek. Kesibukannya dengan objek berlanjut dan mencolok saat
dewasa dimana anak tercenggang dengan objek mekanik.
d) Perilaku ritualistik dan konvulsif tercermin pada kebutuhan anak untuk
memelihara lingkungan yang tetap (tidak menyukai perubahan), anak
menjadi terikat dan tidak bisa dipisahkan dari suatu objek, dan dapat
diramalkan .

8
e) Ledakan marah menyertai gangguan secara rutin.
f) Kontak mata minimal atau tidak ada.
g) Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan tangan, pengunyahan
benda, dan menggosok permukaan menunjukkan penguatan kesadaran
dan sensitivitas terhadap rangsangan, sedangkan hilangnya respon
terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara keras
yang mendadak menunjukan menurunnya sensitivitas pada rangsangan
lain.
h) Keterbatasan kognitif, pada tipe defisit pemrosesan kognitif tampak
pada emosional
i) Menunjukan echolalia (mengulangi suatu ungkapan atau kata secara
tepat) saat berbicara, pembalikan kata ganti pronomial, berpuisi yang
tidak berujung pangkal, bentuk bahasa aneh lainnya berbentuk
menonjol. Anak umumnya mampu untuk berbicara pada sekitar umur
yang biasa, kehilangan kecakapan pada umur 2 tahun.
j) Intelegensi dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam
retardasi secara fungsional.
k) Sikap dan gerakan yang tidak biasa seperti mengepakan tangan dan
mengedipkan mata, wajah yang menyeringai, melompat, berjalan
berjalan berjingkat-jingkat.

 Ciri yang khas pada anak yang austik :


1. Defisit keteraturan verbal.
2. Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik.
3. Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau
dipikirkan orang lain).

9
 Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:
1. Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal.
2. Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal.
3. Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak
fleksibel dan tidak imajinatif.
4. Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.

2.6 Pengobatan
Orang tua perlu menyesuaikan diri dengan keadaan anaknya, orang tua
harus memeberikan perawatan kepada anak temasuk perawat atau staf residen
lainnya. Orang tua sadar adanya scottish sosiety for autistik children dan
natinal sosiety for austik children yang dapat membantu dan dapat
memberikan pelayanan pada anak autis. Anak autis memerlukan penanganan
multi disiplin yaitu terapi edukasi, terapi perilaku, terapi bicara, terapi
okupasi, sensori integasi, auditori integration training (AIT),terapi keluarga
dan obat, sehingga memerlukan kerja sama yang baik antara orang tua,
keluarga dan dokter.
Pendekatan terapeutik dapat dilakukan untuk menangani anak austik
tapi keberhasilannya terbatas, pada terapi perilaku dengan pemanfaatan
keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. Perilaku
destruktif dan agresif dapat diubah dengan menagement perilaku. Latihan dan
pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant konditioning yaitu
dukungan positif (hadiah) dan hukuman (dukungan negatif). Merupakan
metode untuk mengatasi cacat, mengembangkan ketrampilan sosial dan
ketrampilan praktis. Kesabaran diperlukan karena kemajuan pada anak autis
lambat. Neuroleptik dapat digunakan untuk menangani perilaku mencelakkan
diri sendiri yang mengarah pada agresif, stereotipik dan menarik diri dari
pergaulan sosial. Antagonis opiat dapat mengatasi perilaku, penarikan diri
dan stereotipik, selain itu terapi kemampuan bicara dan model penanganan
harian dengan menggunakan permainan latihan antar perorangan terstruktur

10
dapat digunakan. Masalah perilaku yang biasa seperti bising, gelisah atau
melukai diri sendiri dapat diatasi dengan obat klorpromasin atau tioridasin.
Keadaan tidak dapat tidur dapat memberikan responsedatif seperti
kloralhidrat, konvulsi dikendalikan dengan obat anti konvulsan. Hiperkinesis
yang jika menetap dan berat dapat ditanggulangi dengan diit bebas aditif atau
pengawet. Dapat disimpulkan bahwa terapi pada autisme dengan mendeteksi
dini dan tepat waktu serta program terapi yang menyeluruh dan terpadu.

 Penatalaksanaan anak pada autisme bertujuan untuk:


1. Mengurangi masalah perilaku.
2. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama
bahasa.
3. Anak bisa mandiri.
4. Anak bisa bersosialisasi.

Autisme umumnya bisa diatasi dengan terapi khusus untuk melatih


perkembangannya yang terhambat. Sebagian anak autis akan memberi
reaksi yang positif apabila penangananya ditunjang pengaturan pola
makan yang menghindari aneka makanan mengandung kasein dan gluten.
Sebagian besar penderita autis memiliki reaksi negatif terhadap
casein (protein yang terdapat pada produk susu dan keju) dan gluten
(protein yang terkandung dalam gandum, barley, dan tepung terigu)
sehingga sebaiknya menghindari makanan yang mengandung zat tersebut.
Sebaiknya juga tidak terlalu sering memberikan makanan manis, karena
justru dapat mempersubur perkembangan jamur dan mikroba usus.

Kondisi umum yang sering terjadi pada anak autis adalah


terjadinya gangguan pencernaan dan penyimpangan metabolisme, belum
lagi kecenderungan anak yang pilih-pilih makanan (picky eater) dan juga
pola diet yang ketat seringkali menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin
pada anak. Karenanya peran serta orangtua dalam memberikan nutrisi
yang tepat pada anak autis harus dilakukan agar tumbuh kembang anak

11
dapat tetap berlangsung secara optimal.Makanan anak autis yang
dianjurkan adalah Sumber karbohidrat yang tidak mengandung gluten,
misalnya kentang, beras, singkong, ubi jalar, dan arerut. Sedangkan
makanan anak autis yang harus dihindari adalah makanan yang
mengandung gluten atau kasein karena diperkirakan sebagai salah satu
pemicu munculnya sikap agresif di otak. Contohnya, berbagai jenis
makanan yang berasal dari serealia, terutama gandum. Banyak peneliti
menyatakan makanan mengandung gluten dan kasein memicu sikap
agresif, dan tidak baik untuk anak autis.

Makanan anak autis tidak boleh sembarangan, perlu dilakuakn diet


khusus untuk meemnuhi kebutuhannya. Diet makanan anak autis khusus
ini sebenarnya cukup membantu karena sekitar 90% anak autis alergi susu
sapi, terigu dan ada juga yang alergi protein

Langkah pengaturan pola makan pada penderita autis :

1. Beralih pada makanan sehat.


2. Penuhi kebutuhan nutrient dasar secara adekuat.
3. Berikan tambahan vitamin/mineral.
4. Berikan tambahan omega 3dan omega 6.
5. Terapi gejala gastrointestinal.
6. Kenali dan ketahui alergi pada makanan.
7. Pikirkan terhadap pemberian diet khusus.

Anak-anak autis tampaknya menderita masalah pencernaan dan


alergi lebih dari anak-anak yang tidak memiliki autisme. Suatu fakta yang
telah mendorong penelitian tentang diet yang berkaitan dengan autisme
dan dalam hal mengeksplorasi penggunaan terapi gizi untuk mengobati
gangguan pada anak autis.

Namun demikian, para ahli gizi juga mengemukakan bahwa tidak


ada suatu pola diet yang tepat bagi semua anak dengan autisme. Karena itu
sebelum menentukan pola diet yang tepat, seorang anak autis dianjurkan
untuk melakukan tes alergi.

12
Beberapa Jenis Diet Pada Penderita Autisme:

a. Diet bebas ikan

Sebisa mungkin hindari pemberian ikan-ikanan pada anak


penderita autisme. hal ini disebabkan kandungan logam beratnya yang
tinggi akibat pencemaran lingkungan yang terdapat pada ikan terutama
ikan laut.jenis ikan yang dapat diberikan hanya : ikan salmon, ikan tuna,
ikan makarel / tenggiri.

b. Diet bebas gula

Membatasi asupan gula baik asupan gula yang berasal dari gula
murni maupun gula buatan.

Gula Murni:

Gula yang tidak diberikan: Gula pasir, syrup, minuman yang


berkarbonasi dan jus buah dalam kemasan.

Gula pengganti: Jus buah alami tanpa gula, gula palem namun
dengan jumlah yang sedikit dan hanya untuk dicampur kedalam
pembuatan kue, gula buah (fruktosa) namun tidak dalam frekuensi sering.

Gula Buatan:

Gula yang tidak diberikan: Gula dari saccharine, aspartame

c. Diet bebas jamur

Diet ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kembali infeksi


jamur dalam usus. Sesuai dengan namanya, semua jenis makanan yang
diolah dengan proses fermentasi tidak diberikan. Jenis makanan tersebut
seperti :
- Kecap

- Tauco

- Keju

- Kue yang dibuat dengan menggunakan soda pengembang, vermipan, atau


sejenisnya.

13
- Makanan yang sudah lama disimpan atau buah-buahan yang dikeringkan.
- Hindarkan makanan yang dibuat melalui peragian (tempe, roti, dan lain-
lain)

d. Diet bebas GFCF (Gluten free – Casein free)

Diet ini adalah diet dengan menghindarkan semua produk yang


mengandung gluten dan casein.

Makanan yang tidak dapat diberikan: Biscuit, mie, roti, kue-kue,


snack dan segala jenis makanan lain yang mengandung tepung terigu.
Hindarkan beras ketan karena mengandung gluten yang cukup tinggi.
Makanan atau minuman yang mengandung susu sapi seperti: keju,
mozzarella, butter, permen susu, es krim, yoghurt, sancks dll.

Makanan Pengganti: Makanan yang mengandung tepung beras,


tepung larut atau tepung tapioca.

e. Diet bebas zat aditif

Jangan memberikan makanan dengan zat aditif atau makanan yang


mengandung campuran bahan-bahan kimia.

Makanan yang tidak dapat diberikan: Makanan olahan seperti


sosis, kornet, nugget, bakso olahan dan lainnya.

Makanan Pengganti: Gunakan makan yang dimasak secara alami.


Gunakan pengganti warna makanan dengan bahan-bahan alami seperti :
daun pandan, daun suji, kunyit dan bit.

f. Diet bebas fenol dan salisilat

Makanan yang tidak dapat diberikan: Jeruk, Tomat, dan buah-


buahan berwarna cerah seperti anggur, ceri, plum, prun, apel, almond dll.
Makanan pengganti: Ganti buah-buahan tersebut dengan buah-buahan
yang betakaroten seperti : pepaya, mangga, bit, kiwi, nanas dan wortel.
Perbanyak memakan sayur-sayuran sebagai penambah serat agar anak
tidak susah buang air besar karena keterbatasan konsumsi buah.

14
g. Diet rotasi dan eliminasi

Sebagian besar penderita autisme mempunyai alergi makanan


akibat penumpukan makanan yang sama akibat konsumsi yang berlebihan,
maka perlu dilakukan rotasi makanan dan eliminasi yakni dengan
menggunakan makanan yang bervariasi. Setelah di tes pada makanan,
apabila IgG dalam kadar rendah, makanan tersebut dapat diberikan dengan
minimal rotasi empat kali. Maka harus dibuat daftar susunan menu.
Para ahli gizi juga merekomendasikan perubahan menu makanan
secara perlahan-lahan. Jangan tiba-tiba mengambil makanan yang mereka
kenal, dan tidak pernah menunjukkannya lagi, dan memperkenalkan
semua makanan baru. Sebaiknya gunakan pendekatan bertahap: mencari
makanan alternatif yang mirip dalam penampilan, tekstur, dan rasa dengan
makanan lama sehingga perubahan tidak akan mengejutkan.

h. Suplemen makanan

Penderita autis umumnya mengalami defisiensi vitamin dan


mineral akibat perlakuan diet yang cukup ketat. Dengan demikian,
dibutuhkan suplemen makanan seperti :

- Kalsium (calcium citrate)

- Magnesium (magnesium glycinate)

- Zinc

- Selenium

- Vitamin A

- Vitamin B kompleks

- Vitamin B6 dosis tinggi atau dalam bentuk jadi P5P

- Vitamin C dosis tinggi (bentuk esters) dan vitamin E

- Multimineral yang tidak mengandung copper dan manganese

- asam lemak esensial yang mengandung omega 3 & 6 dan asam amino

15
- kolostrum dan enzim probiotik

- methylsulfonylmethane dan ubiquinone

- yeast control, biotin, taurin, dan reduced L-glutathione.

2.7 Prognosis
Anak terutama yang mengalami gangguan bicara, dapat tumbuh pada
kehidupan marjinal, dapat berdiri sendiri, sekalipun terisolasi, hidup dalam
masyarakat, namun pada beberapa anak penempatan lama pada institusi
merupakan hasil akhir. Prognosis yang lebih baik adalah tingak intelegensi
lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional, kurangnya gejala dan perilaku
aneh. Gejala akan berubah dengan pertumbuhan menjadi tua. kejang-kejang
dan kecelakaan diri sendiri semakin terlihat pada perkembangan usia.

16
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORI

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN


ANAK
Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut
Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:
 Tidak suka dipegang
 Rutinitas yang berulang
 Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan
 Terpaku pada benda mati
 Sulit berbahasa dan berbicara
 50% diantaranya mengalami retardasi mental
 Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri
dengan orang lain
 Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain
 Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan oranglain
 Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkan-
gerakkan mimik orang lain
 Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan
stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai
benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak
adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak
isyarat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada
pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:
 Risiko tinggi terhadap mutilasi diri berhubungan dengan:
1. Tugas-tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dari rasa percaya
terhadap rasa tidak percaya

17
2. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
3. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap
kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu, fenilketonuria
tidak teratasi, ensefalitis, tuberkulosa sclerosis, anoksia selama kelahiran dan
sindroma fragilis X
4. Deprivasi ibu.
5. Stimulasi sensosrik yang tidak sesuai
6. Sejarah perilaku-perilaku mutilatif/melukai diri sebagai respons terhadap
ansietas yang meningkat
7. Ketidakacuhan yang nyata terhadap lingkungan atau reaksi-reaksi yang
histeris terhadap perubahan-perubahan pada lingkungan
 Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan:
1. Gangguan konsep diri
2. Tidak adanya orang terdekat
3. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya
4. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap
kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria
tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran
sindromfragilis X
5. Deprivasi ibu
6. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
 Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan:
1. Ketidakmampuan untuk mempercayai
2. Penarikan diri
3. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-
kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi,
ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X)
4. Deprivasi ibu
5. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai

18
 Gangguan identitas diri/pribadi berhubungan dengan:
1. Fiksasi pada fase prasimbiotik dari perkembangan
2. Tugas-tugas tidak terselesaikan dari rasa percaya versus rasa tidak percaya
3. Deprivasi ibu
4. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai

C. PERENCANAAN DAN RASIONALISASI


Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah
keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:
1. Resiko terhadap mutilasi diri
Tujuan : Pasien akan mendemonstrasikan perilaku-perilaku alternative
(missalnya memulai interaksi antara diri dengan perawat) sebagai respons terhadap
kecemasan dengan criteria hasil:
a. Rasa gelisah dipertahankan pada tingkat anak merasa tidak memerlukan
perilaku-perilaku mutilatif diri
b. Pasien memulai interaksi antara diri dan perawat apabila merasa cemas
Intervensi
Intervensi Rasional
Jamin keselamatan anak dengan memberi rasa Perawat bertanggung jawab untuk menjamin
aman, lingkungan yang kondusif untuk keselamatan anak
mencegah perilaku merusak diri
Kaji dan tentukan penyebab perilaku – perilaku pengkajian kemungkinan penyebab dapat
mutilatif sebagai respon terhadap kecemasan memilih cara /alternative pemecahan
yang tepat.
Pakaikan helm pada anak untuk menghindari Untuk menjaga bagian-bagian vital dari
trauma saat anak memukul-mukulkepala, sarung cidera
tangan untuk mencegah menarik – narik rambut,
pemberian bantalyang sesuai untuk mencegah
luka pada ekstremitas saat gerakan-gerakan
histeris

19
Untuk membentuk kepercayaan satu anak Untuk dapat bisa lebih menjalin hubungan
dirawat oleh satu perawat saling percayadengan pasien
Tawarkan pada anak untuk menemani selama Dalam upaya untuk menurunkan kebutuhan
waktu - waktu meningkatnya kecemasan agar pada perilaku-perilaku mutilasi diri dan
tidak terjadi mutilasi memberikan rasa aman

2. Kerusakan interaksi social


Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi
perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata
dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil :
a. Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain
b. Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilaku-
perilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain
c. Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain
Intervensi
Intervensi Rasional
Jalin hubungan satu – satu dengan anak untuk Interaksi staf dengan pasien yang konsisten
meningkatkan kepercayaan. meningkatkan pembentukan kepercayaan
Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya : Benda-benda ini memberikan rasa aman
mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan dalam waktu-waktu aman bila anak merasa
rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar distres
anak tidak mengalami distress.
Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan Karakteristik - karakteritik ini
kebersediaan ketika anak berusaha untuk meningkatkan pembentukan dan
memenuhi kebutuhan – kebutuhan dasarnya mempertahankan hubungan saling
untuk meningkatkan pembentukan dan percaya
mempertahankan hubungan saling percaya
Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan Pasien autisme dapat merasa terancam oleh
memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan suatu rangsangan yang gencar pada pasien
penguatan yang positif pada kontak mata, yang tidak terbiasa

20
perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan
sentuhan, senyuman, dan pelukan
Dengan kehadiran anda beri dukungan pada Kehadiran seorang yang telah terbentuk
pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan saling percaya dapat memberikan
hubungan dengan orang lain di lingkungannya rasa aman

3. Kerusakan komunikasi verbal


Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan
ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah
ditentukan dengan kriteria hasil:
a. Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain
b. Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal
c. Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain
Intervensi
Intervensi Rasional
Pertahankan konsistensi tugas staf untuk Hal ini memudahkan kepercayaan dan
memahami tindakan-tindakan dan komunikasi kemampuan untuk memahami tindakan-
anak tindakan dan komunikasi pasien
Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan Pemenuhan kebutuhan pasien akan
anak sampai kepuasan polakomunikasi dapat mengurangi kecemasan anak
terbentuk sehingga anak akan dapat mulai
menjalin komunikasi dengan orang lain
dengan asertif
Gunakan tehnik validasi konsensual Teknik-teknik ini digunakan untuk
dan klarifikasi untuk menguraikan kode memastikan akurasi daripesan yang
pola diterima, menjelaskan pengertian-
komunikasi (misalnya :” Apakah anda pengertian yang tersembunyi di dalam
bermaksud untuk mengatakan pesan. Hati-hati untuk tidak “berbicara
bahwa…..?”) atas nama pasien tanpa seinzinnya”

21
Gunakan pendekatan tatap muka Kontak mata mengekspresikan minat yang
berhadapan untuk menyampaikan murni terhadap dan hormat kepada seseorang
ekspresi-ekspresi nonverbal yang benar
dengan menggunakan contoh

4. Gangguan Indentitas Pribadi


Tujuan: Pasien akan menyebutkan bagian-bagian tubuh diri sendiri
dan bagian-bagian tubuh dari pemberi perawatan dalam waktu yang
ditentukan untuk mengenali fisik dan emosi diri terpisah dari orang
lain saat pulang dengan kriteria hasil:
a. Pasien mampu untuk membedakan bagian-bagian dari tubuhnya
dengan bagian-bagian dari tubuh orang lain
b. Pasien menceritakan kemampuan untuk memisahkan diri dari
lingkungannya dengan menghentikan ekolalia (mengulangi kata-
kata yang di dengar) dan ekopraksia (meniru gerakan-gerakan
yang dilihatnya)
Intervensi
Intervensi Rasional
Fungsi pada hubungan satu - satu dengan anak Interaksi pasien staf meningkatkan
pembentukan data kepercayaan
Membantu anak untuk mengetahui hal-hal Kegiatan-kegiatan ini dapat
yang terpisah selama kegiatan-kegiatan meningkatkan kewaspadaan anda
perawatan diri, seperti berpakaian dan makan terhadap diri sebagai sesuatu yang
terpisah dari orang lain
Jelaskan dan bantu anak dalam Kegiatan-kegiatan ini dapat meningkatkan
menyebutkan bagian-bagian tubuhnya kewaspadaan anak terhadap diri sebagai
sesuatu yang terpisah dari orang lain
Tingkatkan kontak fisik secara bertahap demi Bila gerak isyarat ini dapat diintepretasikan
tahap, menggunakan sentuhan untuk sebagai suatu ancaman oleh pasien
menjelaskan perbedaan-perbedaan antara

22
pasien dengan perawat. Berhati-hati dengans
entuhan sampai kepercayaan anak telah
terbentuk
Tingkatkan upaya anak untuk mempelajari Dapat memberikan gambaran tentang bentuk
bagian-bagian dari batas-batas tubuhdengan tubuh dan gambaran diri pada anak secara
menggunakan cermin dan lukisan serta tepat.
gambar-gambar dari anak

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi
dan berinteraksi social serta mengalami gangguan sensoris,pola bermain
dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan otak tidak sinkron. Ada
yang maju pesat, sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja. Penyebab
autisme sangat kompleks, tak lepas dari factor genetika dan lingkungan
social.
Terapi penyembuhan yang diterapkan dilakukan dengan berbagai
varian tehnik, diantaranya tehnik belajar dan bermain yang dapat
dilakukan secara vebal maupun non verbal, dengan melibatkan orang tua
dan ada juga yang tidak.
Inti dari sejumlah terapi tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir
berbagai symptom yang diperlihatkan oleh seorang anak autisme yang
tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan sindrom yang
disandang anak.

3.2 Saran
Dengan mengetahui asuhan keperawatan anak austisme, maka dari
itu diharapkan seorang perawat mampu untuk memahami pengobatan
dan cara penanganan terhadap si penderita tersebut yang tergolong
masih dalam usia kanak-kanak.

24
Daftar Pustaka

Diagnosa Keperawatan : buku saku. edisi 6 . Jakarata : EGC Doenges,


Marilynn E. 1999.
Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Price. (1995).
Patofisiologi: Proses-proses Penyakit Edisi: 4, Editor peter Anugrah Buku
II. Jakarta: EGC Wilkinson, M, Judith; (1997).
Buku saku diagnosis keperawatan dengan NIC dan NOC. Edisi 7 .Jakarta :
EGC
Alih Bahasa Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K). 1995.
Kesehatan Anak Pedoman Bagi orang Tua, Arcan. Jakarta: EGC
Baron & Kohen 1994
Behrman, Kliegman, Arvin. 1999.Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi
15.

Sacharin, r.m. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2. Jakarta:


EGC

(DSM IV, sadock dan sadock 2000)

Safaria, T. 2005. Autisme Pemahaman Baru untuk Hidup Bermakna


bagi Orang Tua. Yogyakarta: Graha Ilmu

(Teramihardja, J.2007.

25