Anda di halaman 1dari 18

1

TUGAS BAKTERIOLOGI II
MICROBACTERIUM LEPRAE PENYEBAB PENYAKIT KUSTA

Nama : Sania Monicha


NIM : PO.71.34.017.034

TINGKAT II REGULER A
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2018-2019
2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mikroorganisme adalah organisme yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana.
Interaksinya dengan sesama mikroorganisme ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan. Mikroorganisme
yang menguntungkan dapat kita manfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi, banyak juga mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu
dengan menyebabkan terjadinya penyakit pada tubuh manusia.
Salah satu contoh mikroorganisme adalah bakteri,yang mana merupakan mikroorganisme bersel-tunggal yang bereproduksi dengan cara sederhana, yaitu dengan
pembelahan biner. Bakteri juga memiliki ciri-ciri yang membedakannya dari organisme lain yaitu prokariotik, monoseluler, ukuran 0,4 – 2 mikro meter, reproduksi : amitosis,
konjugasi, transformasi, transduksi, memiliki dinding sel, autotrof atau heterotrof, aerob atau anaerob, hidup bebas atau parasit, yang hidupnya kosmopolit diberbagai
lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan.
Pada bakteri terdapat pula yang menguntungkan dan merugikan, sebagai contoh bakteri yang merugikan adalah Mycobacterium leprae yang dapat menyebabkan
atau menginfeksi manusia. Bakteri ini mengakibatkan penyakit kusta atau lepra yang mana merupakan penyakit ganas pembunnuh manusia. Mycobacterium leprae memiliki
karakteristik, pengklasifikasian dan daur hidup yang berbeda dari mikroorganisme lain.
Pentingnya pengetahuan akan bagaimana Mycobacterium leprae dapat menyebabkan penyakit kusta dan minimnya pengetahuan masyarakat akan bakteri yang
menyebabkan penyakit kusta, maka makalah yang berjudul “Mycobacterium leprae Penyebab Kusta” disusun sedemikian rupa dengan isi bagaimana bakteri Mycobacterium
leprae menginfeksi dan melakukan siklus hidupnya sehingga menyebabkan penyakit kusta. Disisi lain perlu diketahui juga akan definisi bakteri dan penyakit kusta itu sendiri.
Bakteri merupakan mikroorganisme bersel-tunggal yang bereproduksi dengan cara sederhana, yaitu dengan pembelahan biner. Sebagian besar hidup bebas dan
mengandung informasi genetik dan memiliki sistem biosintetik dan penghasil energi yang penting untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Dalam beberapa hal bakteri berbeda
dari eukariot. Bakteri tidak memiliki ribosom maupun organel bermembran, seperti nukleus, mitokondria, lisosom, retikulum endoplasma maupun badan golgi, bakteri tidak
memiliki flagela fibril atau struktur silia seperti pada sel eukariot. Bakteri memiliki ribosom dan kromosom sirkuler tunggal (nukleoid) tanpa sampul yang disusun oleh asam
deoksiribonukleat untai-ganda (DNA) yang bereplikasi secara amitosis. Jika terjadi pergerakan sering disebabkan adanya struktur flagela filamen-tunggal.

2
3

Sejumlah bakteri memiliki mikrofibril eksternal (pili atau fimbria) yang berfungsi untuk menempel. Eubakteria yang berdinding sel dan archaebakteria dapat berbentuk
kokus (bola), basil (batang), batang melengkung atau spiral. Struktur kimia sampul eubakteria sering digunakan untuk membedakannya ke dalam kelompok bakteri Gram-
positif, Gram-negatif, dan “acid-fast” (tahan-asam).
Bakteri memiliki ciri-ciri umum yang meliputi :
 Prokariotik
 Monoseluler
 Ukuran 0,4 – 2 mikro meter
 Reproduksi : amitosis, konjugasi, transformasi, transduksi
 Memiliki dinding sel
 Autotrof atau heterotrof
 Aerob atau anaerob
 Hidup bebas atau parasit
 Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan

3
4

Gambar 1. Struktur umum bakteri

Terdapat penggolongan bakteri berdasarkan beberapa faktor, meliputi :


a. Berdasarkan cara hidupnya
- Heterotrof, dibedakan menjadi parasit dan saprofit
- Autotrof, dibedakan menjadi fotoautotrof dan kemoautotrof
b. Berdasarkan kebutuhan oksigennya
- Aerob (obligat/fakultatif)
- Anaerob (obligat/fakultatif)
c. Berdasarkan bentuknya

4
5

- Kokus, diplokokus, stafilokokus, streptokokus, tetrakokus, sarkina


- Basilus, diplobasilus, streptobasilus
- Koma
- Spirilum

Gambar 2. Bentuk umum sel dan rangkaian sel bakteri 1) monoko-kkus


2) diplokokkus 3) stafilokokkus 4) stafilokokkus 5) sarsina 6) bakteri
batang 7) spiral (ulir) dan 8) vibrio (Sumber:Schlegel,1994)

d. Berdasarkan tempat dan jumlah flagelnya


- Monotrik = satu flagel di salah satu ujungnya
- Lopotrik
- Ampitrik
- Peritrik

5
6

Gambar 3. Beberapa tipe flagel pada sel bakteri


(Sumber: Milton R.J. Salton dan Kwang-Shin Kim, 2001)

Bakteri bereproduksi dengan cara :


a. Pembelahan sel
Sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga membentuk sel – sel tunggal, pada beberapa generasi sel – sel membelah searah dan tidak saling terpisah
sehingga membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata rantai sel yang disebut trikom. Tempat – tempat tertentu dari filamen baru setelah mengalami dormansi (istirahat
yang panjang ). Heterokist dapat mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa. Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen (terlihat
dengan mikroskop cahaya) dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist terbentuk oleh penebalan dinding sel vegetatif. Sedangkan akinet terbentuk dari penebalan sel
vegetatif sehingga menjadi besar dan penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan penebalan-penabalan eksternal oleh tambahan zat yang kompleks.

6
7

b. Fragmentasi
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian membentuk individu baru. Fragmentasi terutama terjadi pada Oscillatoria. Pada
filamen yang panjang bila salah satu selnya mati maka sel mati itu membagi filamen menjadi 2 bagian atau lebih. Masing – masing bagian disebut hormogonium. Fragmentasi
juga dapat terjadi dari pemisahan dinding yang berdekatan pada trikom atau karena sel yang mati yang mngkin menjadi potongan bikonkaf yang terpisah atau necridia.
Susunan hormogonium mungkin meliputi kerusakan transeluler.
c. Spora
Pada keadaan yang kurang menguntungkan Cyanobacteria akan membentuk spora yang merupakan sel vegetatif. Spora membesar dan tebal karena penimbunan
zat makanan.

2.2 Kusta Secara Umum


Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Micobacterium leprae (M.Leprae). Yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya
menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas,sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis.
Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh
lain kecuali susunan saraf pusat, untuk mendiagnosanya dengan mencari kelainankelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang
tampak pada kulit.
Masa tunas penyakit kusta rata-rata 2-5 tahun dan masa belahnya memerlukan waktu yg sangat lama dibandingkan dgn kuman-kuman yg lain yaitu 12-21 hari.
Penularan penyakit kusta ini dapat melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam. Dan
juga melalui kulit dengan kulit yang syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang
lama dan berulang-ulang.
Penyakit kusta dapat menular dilandasi oleh beberapa faktor, diantaranya :
- Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa

7
8

- Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti


- Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti
- Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah.
- Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat
Terdapat beberapa tanda tertularnya penyakit kusta pada diri seseorang, berikut adalah tanda penyakit kusta secara umum :
 Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia
 Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak.
 Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan
mengkilat.
 Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yarig tersebar pada kulit
 Alis rambut rontok
 Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)
Gejala-gejala umum pada lepra, reaksi :
 Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil.
 Anoreksia.
 Nausea, kadang-kadang disertai vomitus.
 Cephalgia.
 Kadang-kadang disertai iritasi, Orchitis dan Pleuritis.
 Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia, Nepritis dan hepatospleenomegali.
 Neuritis.
Menurut WHO, penyakit kusta diklasifikasikan dalam beberapa tipe yaitu :
a. Tipe PB (Pausibasiler)

8
9

Kusta tipe PB adalah penderita kusta dengan Basil Tahan Asam (BTA) pada sediaan apus, yakni tipe I (Indeterminate), TT (tuberculoid) dan BT (borderline tuberculoid)
menurut kriteria Ridley dan Jopling dan hanya mempunyai jumlah lesi antara 1-5 pada kulit. Kusta tipe PB adalah tipe kusta yang tidak menular.
b. Tipe MB (Multibasiler)
Kusta MB adalah semua penderita kuta tipe BB (mid borderline), BL (borderline lepromatous) dan LL (lepromatosa) menurut kriteria Ridley dan Jopling dengan jumlah lesi 6
atau lebih dan skin smear positif. Kusta tipe MB adalah tipe yang dapat menular.

Gambar 1. Kusta tipe PB


Gambar 2. Kusta tipe MB

Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit


kusta. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta
yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan
menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak
utuh. Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana
kusta dapat dihancurkan, sehingga penularan dapat
dicegah. Disini letak salah satu peranan penyuluhan
kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara teratur.

9
10

Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam
dan ada yang berpendapat sampai 7 hari, ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Jadi dalam
hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab.

2.3 Microbacterium Leprae


2.3.1 Karakteristik Microbacterium Leprae
Mycrobacterium leprae dijumpai pertama kali oleh G. H. Armauer Hansen (1873). Hidup didalam sel terutama jaringan yg bersuhu dingin, dimana bagian tubuh yang
dingin merupakan tempat predileksi misalnya: sal. nafas, testis, ruang anterior mata, kulit terutama cuping telingga dan jari-jari. Bakteri ini tidak dapat di kultur dalam media
buatan dan tumbuh sangat lambat dan mempunyai waktu penggandaan yang terpanjang dari semua bakteri, berbentuk batang dan terdapat lapisan lilin yang mengelilinginya.
Karena lapisan lilin ini, M. leprae dikenal untuk memakan waktu hingga 13 hari untuk mereplikasi. Bakteri ini tergolong bakteri yang merugikan bagi manusia karena dapat
menyebabkan penyakit.
Mycobacterium leprae adalah satu-satunya bakteri yang menginfeksi saraf tepi dan hampir semua komplikasinya merupakan akibat langsung dari masuknya bakteri
ke dalam saraf tepi. Bakteri ini tidak menyerang otak dan medulla spinalis. Kemampuan untuk merasakan sentuhan, nyeri, panas dan dingin menurun, sehingga penderita
yang mengalami kerusakan saraf tepi tidak menyadari adanya lukabakar, luka sayat atau mereka melukai dirinya sendiri. Kerusakan saraf tepi juga menyebabkan kelemahan
otot yang menyebabkan jari-jari tangan seperti sedang mencakar dan kaki terkulai. Karena itu penderita lepra menjadi tampak mengerikan. Penderita juga memiliki luka
ditelapak kakinya. Kerusakan pada saluran udara di hidung bisa menyebabkan hidung tersumbat. Kerusakan mata dapat menyebabkan kebutaan. Penderita lepra
lepromatosa dapat menjadi impoten dan mandul, karena infeksi ini dapat menurunkan kadar testosteron dan jumlah sperma yang dihasilkan oleh testis.

Secara ilmiah, Microbacterium diklasifikasikan seperti berikut :


 Kerajaan: Bakteri
Organisme ini termasuk ke dalam bakteri kerajaan karena sesuai dengan ciri khas bakteri prokariotik.
 Filum: Actinobacteria
Actinobacteria adalah bakteri yang sangat gram positif. Hal ini cocok karena organisme ini adalah gram positif.

10
11

 Order: Actinomycetales
Hal ini sesuai organisme baik karena terdiri dari organisme gram positif yang dapat sulit untuk budaya, dan sering bersifat patogen bagi manusia, tumbuhan, atau
hewan.
 Subordo: Corynebacterineae
Hal ini sesuai karena karakteristik dasar urutan ini meliputi, bakteri berbentuk batang gram-positif yang dapat menjadi penyebab penyakit manusia, terutama orang-
orang dengan infeksi pada kelenjar getah bening dan kulit.
 Keluarga: Mycobacteriaceae
Keluarga ini memiliki karakteristik yang diketahui menyebabkan penyakit serius pada mamalia, aerobik dan nonmotile, adalah asam-alkohol cepat, gram positif, dan
kurang memiliki membran luar.
 Genus: Mycobacterium
Genus Mycobacterium dikenal karena memiliki komponen lilin di dalamnya dinding sel, kurang memiliki membran luar, yang non-motil, dan asam-cepat.
 Spesies: M. leprae

Microbacterium leprae merupakan pathogen intrasel obligat sehingga belum dapat dibiakkan invitro (media tak hidup). Bakteri sering ditemukan pada sel endothelial
pembuluh darah atau sel mononuclear (makrofag) sebagai lingkungan yang baik untuk bertahan hidup dan perkembangbiakan. Basil lepra ini tahan terhadap degradasi
intraseluler oleh makrofag, mungkin karena kemampuannya keluar dari fagosom ke sitoplasma makrofag dan berakumulasi hingga mencapai 10 10basil/gram jaringan pada
kasus lepratype lepromatus. Kerusakan syaraf perifer yang terjadi merupakan sebuah respon dari system imun Karena adanya basil ini sebagai antigen.
Pada lepra type tuberkuloid, terjadi granuloma yang sembuh dengan sendirinya bersifar berisi sedikit basil tahan asam. Bakteri mycobacterium leprae berbentuk
batang, langsing atau sedikit membengkok dengan kedua ujung bakteri tumpul, tidak bergerak, tidak memiliki spora dan tidak berselubung. Sel-sel panjang, ada
kecenderungan untuk bercabang. Berukuran 1-7 x 0,2-0,5µm, bersifat gram positif, tahan asam, letak susunan bakteri tunggal atau sering bergerombol serupa tumpukan
cerutu sehingga sering disebut packed of cigarette, atau merupakan kelompok padat sehingga tidak dapat dibedakan antara bakteri yang satu dengan yang lainnya, kadang-
kadang terdapat granula.
Bentuk-bentuk M. Leprae yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan mikroskopis adalah :

11
12

1. Bentuk utuh (solid); dinding sel bakteri tidak terputus, mengambil zat warna secara sempurna. Jika terdapat daerah kosong/transparan ditengahnya juga dapat
dikatakan solid
2. Bentuk globus ; adalah bentuk solid yang membentuk kelompok, dapat dibagi 2, yaitu : Globus besar terdiri dari 200-300 bakteri, dan lobus kecil terdiri dari 40-60
bakteri
3. Bentuk pecah (fragmented); dinding bakteri biasanya terputus sebagian atau seluruhnya, tidak menyerap zat warna secara merata
4. Bentuk berbutir-butir (granuler); tampak seperti titik-titik yang tersusun
5. Bentuk clump; adalah bentuk granuler yang membentuk kelompok tersendiri, biasanya llebih dari 500 bakteri

2.3.2 Siklus Hidup Microbacterium Leprae


Seperti mikobakteri lainnya ( atau bakteri ' acid - fast ' ), Mycobacterium leprae memiliki waktu yang lama untuk mereplikasi dirinya di luar sel inang. Beberapa peneliti
berpendapat bahwa M. Leprae adalah parasit intraseluler fakultatif, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa bakteri tidak bisa bereplikasi sama sekali di luar sel. Didukung
oleh fakta bahwa M. leprae belum pernah dikultur in vitro. Ketika M. leprae menemukan host yang tepat maka bakteri ini akan bereplikasi dengan memakan waktu hingga 13
hari untuk menjalani satu siklus replikasi. Kusta ditandai dengan replikasi bakteri di dalam vesikel intraseluler makrofag, sel Schwann, dan sel endotel. Secara umum, M.
leprae lebih memilih sel-sel tersebut pada suhu lebih rendah dari tubuh manusia, yang mengapa cenderung memanifestasikan dirinya di dekat permukaan kulit . Metabolisme
Ideal terjadi pada 33 ° C dan pH antara 5,1 dan 5,6.

a. Proses pengikatan sel Microbacterium Leprae pada inang


Pertama , bakteri berikatan dengan reseptor pada permukaan sel inang . Untuk sel Schwann saraf , yang fenolik glikolipid - 1 ( PGL - 1 ) atau LBP21 reseptor
pada M. leprae mengikat rantai samping α - 2 dari laminin - 2 serta reseptor α - dystroglycan terkait. Namun, laminin juga ditemukan pada sel-sel otot straited dan jaringan
plasenta , yang keduanya juga terinfeksi oleh M. leprae. Kehadiran protein histon HLP - seperti, disekresikan oleh M. leprae , meningkatkan sel Schwann.

12
13

Pengikatan PGL-1/LBP21 - laminin dijelaskan lebih pada gambar di bawah . Protein laminin terdiri dari dua subunit , α - β - dystroglycan dan dystroglycan.
Subunit α terletak di sisi ekstraseluler membran dan mengikat tiga protein : laminin - α 1 rantai , agrin , dan perlecan. Seluruh kompleks ini diduga struktural menstabilkan
sel dan melindunginya dari cedera. Fibronektin , βintegrin6 , dan glikoprotein 25kDa juga mengikat M. leprae , yang hadir dalam sel epitel. Penelitian telah menunjukkan
bahwa situs mengikat beberapa dapat digunakan oleh M. leprae untuk mengikat berbagai jenis sel ( termasuk sel-sel endotel dan makrofag ) , menunjukkan bahwa jika

salah satu reseptor tidak ada , orang lain dapat bekerja sama dengan baik.

Untuk makrofag, trisaccharide terminal pada PGL - 1 peptida pada M. leprae berikatan dengan reseptor komplemen CR1 , dan 4 , dan bagian dari C3 , yang
kemudian memfasilitasi fagositosis oleh jalur klasik komplemen. Namun, asam lemak rantai samping juga harus hadir pada PGL - 1 molekul untuk mengikat terjadi .
Karena spesifik mengikat komplemen C3 , fagositosis M. leprae menjadi makrofag tidak terkait dengan ledakan oksidatif ( yang umumnya hadir ketika bakteri
phagocytosed oleh monosit ). Ledakan oksidatif biasanya sinyal kehancuran bakteri - oleh karena itu , kurangnya meledak oksidatif ini mungkin merupakan tanda bahwa

13
14

M. leprae entah bagaimana mampu menghindari respon seluler awal terhadap patogen. Setelah mengikat telah terjadi , M. leprae diambil ke dalam sel inang oleh
fagositosis dan dirumuskan oleh phagosome . Dari sana , bakteri harus bertahan phagosome - lisosom fusi dan hidup cukup lama untuk meniru dan kembali keluar dari
sel .

b. Replikasi bakteri:
Setelah bakteri melekat pada reseptor permukaan sel, bakteri melakukan gerakan fagosit. Proses fagositosis tidak seperti peristiwa fagositosis bakteri lain, bahwa
protein aktin-dependent kinase tirosin, tergantung pada kalsium protein kinase dan phosphatidylinositol 3 - kinase yang memediasi prosesnya. Biasanya, setelah
fagositosis bakteri dibunuh melalui fusi dengan phagolysosome dan pencernaan oleh protease dan bahan kimia oksidasi. Namun, beberapa peneliti berpikir bahwa M.
leprae entah bagaimana mampu menangkap proses fusi lisosom untuk di mana saja dari 1 sampai 4 jam dan mereplikasi dalam phagosome sebaliknya. Saat ini
mekanisme spesifik mencegah fusi belum ditandai. Dengan cara ini proses misterius bakteri mampu menciptakan daerah aman berbatasan langsung itu sendiri, disebut '
elektron zona transparan ', untuk transparansi di bawah pencitraan elektron. Namun, setelah periode tertentu jam ( atau jika makrofag diaktifkan ), makrofag atau sel
Schwann kemudian memperkenalkan protease langsung ke phagosome, di samping sejumlah besar molekul MHC.
Respon seluler kedua ini merupakan garis pertahanan pertama terhadap M. leprae. Setelah bakteri telah dipecah menjadi potongan-potongan, molekul MHC
kemudian dapat mengambil potongan-potongan itu dan menyampaikannya kepada setiap limfosit lewat atau sel mononuklear lain dengan pindah ke membran sel. Jika
bakteri mampu menghindari mekanisme degradasi dan mereplikasi dalam sel, M. leprae membentuk bundel bakteri yang kemudian keluar dari sel dan menginfeksi
jaringan lainnya .
Aspek yang menarik dari siklus hidup M. leprae adalah efeknya pada sel-sel yang menyerang. Beberapa penelitian awal telah menunjukkan bahwa M. leprae
memiliki kemampuan untuk meningkatkan pembagian sel Schwann menginfeksi, sehingga memungkinkan proliferasi lebih lanjut dalam host. Ini merupakan mekanisme
yang menarik yang tidak sepenuhnya dipahami, tetapi merupakan mekanisme baru melindungi diri sendiri untuk M. leprae .

2.4 Pengobatan Kusta

14
15

Sampai pengembangan dapson, rifampin, dan klofazimin pada 1940an, tidak ada pengobatan yang efektif untuk kusta. Namun, dapson hanyalah obat bakterisidal
(pembasmi bakteri) yang lemah terhadap M. leprae. Penggunaan tunggal dapson menyebabkan populasi bakteri menjadi kebal. Pada 1960an, dapson tidak digunakan lagi.
Pencarian terhadap obat anti kusta yang lebih baik dari dapson, akhirnya menemukan klofazimin dan rifampisin pada 1960an dan 1970an.
Kemudian, Shantaram Yawalkar dan rekannya merumuskan terapi kombinasi dengan rifampisin dan dapson, untuk mengakali kekebalan bakteri. Terapi multiobat
dan kombinasi tiga obat pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981. Cara ini menjadi standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai
obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri.
Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama
24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

15
16

16
17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bakteri merupakan mikroorganisme yang memiliki karakteristik berbeda dari yang lain dimana terdapat bakteri yang menguntungkan dan merugikan. Microbacterium
leprae merupakan salah satu contoh bakteri yang merugikan penyebab penyakit kusta pada manusia. Microbacterium leprae memiliki beberapa karakteristik kusus antara lain
berbentuk batang, terdapat lapisan lilin yang mengelilinginya, merupakan bakteri gram positif, tahan terhadap asam dan merupakan pathogen intrasel obligat sehingga belum
dapat dibiakkan invitro (media tak hidup).
Mycobacterium leprae memiliki waktu yang lama untuk mereplikasi dirinya di luar sel inang. Mempunyai gerak fagosit untuk menginfeksi sel inang, dan lebih memilih
sel-sel tersebut pada suhu lebih rendah dari tubuh manusia. Terapi multiobat dan kombinasi tiga obat pertama kali direkomendasi oleh Panitia Ahli WHO pada 1981 menjadi
standar pengobatan multiobat. Tiga obat ini tidak digunakan sebagai obat tunggal untuk mencegah kekebalan atau resistensi bakteri. Terdapat dua tipe terapi multiobat
standar yaitu yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan
untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson.

3.2 Saran
Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya yang sedang menempuh perkuliahan mikrobiologi
materi mikroorganisme. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis butuhkan untuk penyusunan
makalah berikutnya.

17
18

DAFTAR PUSTAKA
 Jameway, C. A., Travers, P., Walport, M., and Shlomchik, M. J. Immuno Biology: the immune system in health and disease. 6th Ed. Garland Science Publishing, New
York:2005.
 Lavanya, M., Deena, V., Sujai, S., Balasubramanian, A., et al. 2001. Biochemical aspects of mycobacterium leprae binding proteins: A review of their role in
pathogenesis. Int. J Leprosy and Other Mycobacterial Dis. Diakses pada tanggal 10/02/2014.
 Hadioetomo, R. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Gramedia.
 Lay, B. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta : Rajawali.

18