Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS KDP

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN


MOBILISASI PADA PASIEN DI RUANG MAWAR RUMAH SAKIT dr.
ABDOER RAHEM SITUBONDO

oleh:
Devi Putwi Hardini, S.Kep
NIM 182311101051

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Muskuloskeletal


1. Muskuler/Otot

1.1 Otot

Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi.


Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot
tersebut dilekatkan pada tulang-tulang kerangka tubuh oleh tendon, dan
sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit.

Fungsi sistem muskuler/otot:

 Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut


melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh.
 Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan
mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk
terhadap gaya gravitasi.
 Produksi panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas
untuk mepertahankan suhu tubuh normal.
Ciri-ciri sistem muskuler/otot:

 Kontrakstilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau


tidak melibatkan pemendekan otot.
 Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh
impuls saraf.
 Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang
melebihi panjang otot saat rileks.
 Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah
berkontraksi atau meregang.

Jenis-jenis otot

a) Otot rangka, merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka.
 Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan
lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
 Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer.
 Kontraksinya sangat cepat dan kuat.
Struktur Mikroskopis Otot Skelet/Rangka

• Otot skelet disusun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-
serabut berbentuk silinder yang panjang, disebut myofiber /serabut otot.
• Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyai
banyak nukleus ditepinya.
• Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh dengan
bermacam-macam organella, kebanyakan berbentuk silinder yang
panjang disebut dengan myofibril.
• Myofibril disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-beda
ukurannya :
 yang kasar terdiri dari protein myosin
 yang halus terdiri dari protein aktin/actin.
b) Otot Polos merupakan otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini
dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus,
serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan,
reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi darah.
 Serabut otot berbentuk spindel dengan nukleus sentral.
 Serabut ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi
pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada uterus wanita hamil.
 Kontraksinya kuat dan lamban.
Struktur Mikroskopis Otot Polos

• Sarcoplasmanya terdiri dari myofibril yang disusun oleh myofilamen-


myofilamen.

Jenis otot polos

Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut otot distimulasi untuk
berkontraksi.
 Otot polos unit ganda ditemukan pada dinding pembuluh darah besar,
pada jalan udara besar traktus respiratorik, pada otot mata yang
memfokuskan lensa dan menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot
erektor pili rambut.
 Otot polos unit tunggal (viseral) ditemukan tersusun dalam lapisan
dinding organ berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan
mampu berkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot ini dapat bereksitasi
sendiri atau miogenik dan tidak memerlukan stimulasi saraf eksternal
untuk hasil dari aktivitas listrik spontan.
c) Otot Jantung
 Merupakan otot lurik
 Disebut juga otot seran lintang involunter
• Otot ini hanya terdapat pada jantung
• Bekerja terus-menerus setiap saat tanpa henti, tapi otot jantung juga
mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut.
Struktur Mikroskopis Otot Jantung

• Mirip dengan otot skelet

Gambar .1

Otot Rangka Otot Polos Otot Jantung

Kerja Otot

Fleksor (bengkok) >< Ekstentor (meluruskan)

Supinasi(menengadah) >< Pronasi (tertelungkup)

Defresor(menurunkan) >< Lepator (menaikkan)


Sinergis (searah) >< Antagonis (berlawanan)

Dilatator(melebarkan) >< Konstriktor (menyempitkan)

Adduktor(dekat) >< Abduktor (jauh)

1.2 Tendon

Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang
terbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang
dengan otot atau otot dengan otot.

Gambar.2

Tendon

1.3 Ligamen

Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan


jaringan elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkus
tulang dengan tulang yang diikat oleh sendi.

Beberapa tipe ligamen :

a) Ligamen Tipis

Ligamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral


yang ada di siku dan lutut. Ligamen ini memungkinkan terjadinya
pergerakan.
b) Ligamen jaringan elastik kuning.

Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang membungkus dan


memperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

Gambar.3

Ligamen

2. Skeletal

2.1 Tulang/ Rangka

Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang.


Tubuh kita memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting
adalah tulang belakang.

Fungsi Sistem Skeletal :

1) Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis.


2) Membentuk kerangka yang yang berfungsi untuk menyangga
tubuh dan otot-otot yang.
3) Melekat pada tulang
4) Berisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan
salah satu jaringan pembentuk darah.
5) Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium
daridalam darah misalnya.
6) Hemopoesis
Struktur Tulang

1) Tulang terdiri dari sel hidup yang tersebar diantara material tidak hidup
(matriks).
2) Matriks tersusun atas osteoblas (sel pembentuk tulang).
3) Osteoblas membuat dan mensekresi protein kolagen dan garam mineral.
4) Jika pembentukan tulang baru dibutuhkan, osteoblas baru akan dibentuk.
5) Jika tulang telah dibentuk, osteoblas akan berubah menjadi osteosit (sel
tulang dewasa).
6) Sel tulang yang telah mati akan dirusak oleh osteoklas (sel perusakan
tulang).

Jaringan tulang terdiri atas :

a. Kompak (sistem harvesian  matrik dan lacuna, lamella intersisialis)


b. Spongiosa (trabecula yang mengandung sumsum tulang dan pembuluh
darah)
Klasifikasi Tulang berdasarkan penyusunnya

1. Tulang Kompak

a. Padat, halus dan homogen

b. Pada bagian tengah terdapat medullary cavity yang mengandung ’yellow


bone marrow”.

c. Tersusun atas unit : Osteon  Haversian System

d. Pada pusat osteon mengandung saluran (Haversian Kanal) tempat


pembuluh darah dan saraf yang dikelilingi oleh lapisan konsentrik
(lamellae).

e. Tulang kompak dan spongiosa dikelilingi oleh membran tipis yang


disebut periosteur, membran ini mengandung:

 Bagian luar percabangan pembuluh darah yang masuk ke dalam


tulang
 Osteoblas
2. Tulang Spongiosa

a. Tersusun atas ”honeycomb” network yang disebut trabekula.


b. Struktur tersebut menyebabkan tulang dapat menahan tekanan.

c. Rongga antara trebakula terisi ”red bone marrow” yang mengandung


pembuluh darah yang memberi nutrisi pada tulang.

d. Contoh, tulang pelvis, rusuk,tulang belakang, tengkorak dan pada ujung


tulang lengan dan paha.

Klasifikasi Tulang berdasarkan Bentuknya

1. Tulang panjang, contoh: humerus, femur, radius, ulna


2. Tulang pendek, contoh: tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki
3. Tulang pipih, contoh: tulang tengkorak kepala, tulang rusuk dan sternum
4. Tulang tidak beraturan: contoh: vertebra, tulang muka, pelvis
Pembagian Sistem Skeletal

4. Axial / rangka aksial, terdiri dari :


 tengkorak kepala / cranium dan tulang-tulang muka
 columna vertebralis / batang tulang belakang
 costae / tulang-tulang rusuk
 sternum / tulang dada
5. Appendicular / rangka tambahan, terdiri dari :
 tulang extremitas superior
a. korset pectoralis, terdiri dari scapula (tulang berbentuk segitiga) dan
clavicula (tulang berbentuk lengkung).
b. lengan atas, mulai dari bahu sampai ke siku.
c. lengan bawah, mulai dari siku sampai pergelangan tangan.
d. tangan
 tulang extremitas inferior: korset pelvis, paha, tungkai bawah, kaki.
2.2 Sendi

Persendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga


dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya gerakan.

1. Synarthrosis (suture)
Hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan, strukturnya terdiri
atas fibrosa. Contoh: Hubungan antara tulang di tengkorak.
2. Amphiarthrosis
Hubungan antara dua tulang yang sedikit dapat digerakkan, strukturnya
adalah kartilago. Contoh: Tulang belakang

3. Diarthrosis
Hubungan antara dua tulang yang memungkinkan pergerakan, yang terdiri
dari struktur sinovial. Contoh: sendi peluru (tangan dengan bahu), sendi
engsel (siku), sendi putar (kepala dan leher), dan sendi pelana (jempol/ibu
jari).

Gambar. 4

B. LOW BACK REGION

1. Struktur

Ruas tulang punggung dikelompokkan menjadi:

1. Cervical/leher 7 ruas
2. Thoracalis/punggung 12 ruas
3. Lumbalis/pinggang 5 ruas
4. Sakralis/kelangkang 5 ruas
5. Koksigeus/ekor 4 ruas
2. Fungsi

Low back region berfungsi untuk menegakkan/menopang postur struktur


tulang belakang manusia. Postur tegak juga meningkatkan gaya mekanik struktur
tulang belakang lumbrosakral.

Gambar 5. Tulang belakang dan lekukuannya

Antar tulang belakang diikat oleh intervertebal, serta oleh ligamen dan
otot. Ikatan antar tulang yang lunak membuat tulang punggung menjadi fleksibel.
Sebuah unit fungsi dari dua bentuk tulang yang berdekatan diperlihatkan dari
gambar di bawah ini.

Gambar 6. Fungsi dasar tulang punggung


3. Komponen punggung
 Otot punggung
Ditunjang oleh punggung, perut, pinggang dan tungkai yang kuat dan
fleksibel. Semua otot ini berfungsi untuk menahan agar tulang belakang
dan diskus tetap dalam posisi normal.
 Diskus
Merupakan bantalan tulan rawan yang berfungsi sebagai penahan
goncangan. Terdapat diantara vertebrae sehingga memungkinkan sendi-
sendi untuk bergerak secara halus. Tiap diskus mengandung cairan yang
mengalir ke dalam dan keluar diskus. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas
sehingga memungkinkan punggung bergerak bebas. Diskus bersifat elastis,
mudah kembali ke bentuk semula jika tertekan diantara kedua vertebra.
a. Otot-otot punggung
 Spina erektor terdiri dari massa serat otot, berasal dari belakang sakrum
dan bagian perbatasan dari tulang inominate dan melekat ke belakang
kolumna vertebra atas, dengan serat yang selanjutnya timbul dari vertebra
dan sampai ke tulang oksipital dari tengkorak. Otot tersebut
mempertahankan posisi tegak tubuh dan memudahkan tubuh untuk
mencapai posisinya kembali ketika dalam keadaan fleksi.
 Lastimus dorsi adalah otot datar yang meluas pada belakang punggung.
Aksi utama dari otot tersebut adalah menarik lengan ke bawah terhadap
posisi bertahan, gerakan rotasi lengan ke arah dalam, dan menarik tubuh
menjauhi lengan pada saat mendaki. Pada pernapasan yang kuat menekan
bagian posterior dari abdomen.
b. Otot-otot tungkai
Gluteus maksimus, gluteus medius, dan gluteus minimus adalah otot-
otot dari bokong. Otot-otot tersebut semua timbul dari permukaan sebelah luar
ilium, sebagian gluteus maksimus timbul dari sebelah belakang sacrum. Aksi
utama otot-otot tersebut adalah mempertahankan posisi gerak tubuh,
memperpanjang persendian panggul pada saat berlari, mendaki, dan saat
menaiki tangga, dalam mengangkat tubuh dari posisi duduk atau
membungkuk, gerakan abduksi dan rotasi lateral dari paha.
C. INTERVERTEBRAL DISC

Pada makhluk hidup vertebrata (memiliki ruas tulang belakang) terdapat


sebuah struktur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra
(vertebral body). Pada setiap dua ruas vertebra terdapat sebuah bantalan tulang
rawan berbentuk cakram yang disebut dengan Intervertebral Disc. Pada tubuh
manusia terdapat 24 buah Intervertebral disc. Tulang rawan ini berfungsi sebagai
penyangga agar vertebra tetap berada pada posisinya dan juga memberi
fleksibilitas pada ruas tulang belakang ketika terjadi pergerakan atau perubahan
posisi pada tubuh.

Gambar bagian-bagian Intervertebral disc

Gambar 7

Susunan tulang rawan ini terbagi menjadi 3 bagian:

 Nucleus pulposus, memiliki kandungan yang terdiri dari 14% Proteoglycan,


77% Air, dan 4% Collagen.
 Annulus fibrosus, mengandung 5% Proteoglycan, 70% Air, dan 15%
Collagen.
 Cartilage endplate, terdiri dari 8% Proteoglycan, 55% Air, dan 25%
Collagen.
D. NECK

Gambar 8 Tulang Leher

Tulang leher terdiri dari tujuh ruas, mempunyai badan ruas kecil dan
lubang ruasnya besar. Pada taju sayapnya terdapat lubang tempat lajunya saraf
yang disebut foramen tranvertalis. Ruas pertama vertebra serfikalis disebut atlas
yang memungkinkan kepala mengangguk. Ruas kedua disebut prosesus odontois
(aksis) yang memungkinkan kepala berputar ke kiri dan ke kanan. Ruas ketujuh
mempunyai taju yang disebut prosesus prominan. Taju ruasnya agak panjang.

Tulang-tulang yang terdapat pada leher:

a. Os. Hyoideum adalah sebuah tulang uang berbentuk U dan terletak di atas
cartylago thyroidea setinggi vertebra cervicalis III.
b. Cartygo thyroidea
c. Prominentia laryngea, dibentuk oleh lembaran-lembaran cartylago thyroidea
yang bertemu di bidang median. Prominentia laryngea dapat diraba dan
seringkali terlihat.
d. Cornu superius, merupakan tulang rawan yang dapat diraba bilamana tanduk
disis yang lain difiksasi.
e. Cartilagocricoidea, sebuah tulang rawan larynx yang lain, dapat diraba di
bawah prominentia laryngea
f. Cartilagines tracheales, teraba dibagian inferior leher.
g. Cincin-cincin tulang rawan kedua sampai keempat tidak teraba karena
tertutup oleh isthmus yang menghubungkan lobus dexter dan lobus sinister
glandulae thyroideae.
h. Cartilage trachealis I, terletak tepat superior terhadap isthmus.

Otot Leher

Gambar 9

Otot bagian leher dibagi menjadi tiga bagian:

a. Muskulus platisma yang terdapat di bawah kulit dan wajah. Otot ini menuju
ke tulang selangka dan iga kedua. Fungsinya menarik sudut-sudut mulut ke
bawah dan melebarkan mulut seperti sewaktu mengekspresikan perasaan sedih
dan takut, juga untuk menarik kulit leher ke atas.
b. Muskulus sternokleidomastoideus terdapat pada permukaan lateral
proc.mastoidebus ossis temporalis dan setengah lateral linea nuchalis superior.
Fungsinya memiringkan kepala ke satu sisi, misalnya ke lateral (samping),
fleksi dan rotasi leher, sehingga wajah menghadap ke atas pada sisi yang lain;
kontraksi kedua sisi menyebabkan fleksi leher. Otot ini bekerja saat kepala
akan ditarik ke samping. Akan tetapi, jika otot muskulus platisma dan
sternokleidomastoideus sama-sama bekerja maka reaksinya adalah wajah akan
menengadah.
c. Muskulus longisimus kapitis, terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis.
Fungsinya adalah laterofleksi dan eksorositas kepala dan leher ke sisi yang
sama.
Ketiga otot tersebut terdapat di belakang leher yang terbentang dari belakang
kepala ke prosesus spinalis korakoid. Fungsinya untuk menarik kepala
belakang dan menggelengkan kepala.

E. ELBOW

Gambar 10

Siku adalah suatu titik yang sangat komplek di mana terdapat tiga tulang yaitu
humerus, radius dan ulna. Ketiga tulang tersebut bekerja secara bersama-sama
dalam suatu gerakan flexi, extensi dan rotasi.

F. SHOULDER (BAHU)

1. Tulang Bahu
Gambar 11
Tulang-tulang pada bahu terdiri dari:

 Clavicula (tulang selangka), merupakan tulang berbentuk lengkung yang


menghubungkan lengan atas dengan batang tubuh. Ujung medial (ke arah
tengah) clavicula berartikulasi dengan tulang dada yang dihubungkan oleh
sendi sternoclavicular, sedangkan ujung lateral-nya (ke arah samping)
berartikulasi dengan scapula yang dihubungkan oleh sendi
acromioclavicular. Sendi sternoclavicular merupakan satu-satunya
penghubung antara tulang extremitas bagian atas dengan tubuh.
 Scapula (tulang belikat), merupakan tulang yang berbentuk segitiga.
Tulang ini berartikulasi dengan clavicula dan tulang lengan atas. Ke arah
lateral scapula melanjutkan diri sebagai acromioclavicular yang
menghubungkan scapula dengan clavicula.
 Sendi glenohumeral, merupakan penghubung antara tulang lengan atas
dengan scapula.
2. Otot Bahu

Gambar 12

Otot bahu hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal
lengan dan scapula.

 Muskulus deltoid (otot segi tiga), otot ini membentuk lengkung bahu dan
berpangkal di bagian lateral clavicula (ujung bahu), scapula, dan tulang
pangkal lengan. Fungsi dari otot ini adalah mengangkat lengan sampai
mendatar.
 Muskulus subkapularis (otot depan scapula). Otot ini dimulai dari bagian
depan scapula, menuju tulang pangkal lengan. Fungsi dari otot ini adalah
menengahkan dan memutar humerus (tulang lengan atas) ke dalam.
 Muskulus supraspinatus (otot atas scapula). Otot ini berpangkal di lekuk
sebelah atas menuju ke tulang pangkal lengan. Fungsi otot ini adalah untuk
mengangkat lengan.
 Muskulus infraspinatus (otot bawah scapula). Otot ini berpangkal di
lekuk sebelah bawah scapula dan menuju ke tulang pangkal lengan.
Fungsinya memutar lengan keluar.
 Muskulus teres mayor (otot lengan bulat besar). Otot ini berpangkal di
siku bawah scapula dan menuju tulang pangkal lengan. Fungsinya bisa
memutar lengan ke dalam.
 Muskulus teres minor (otot lengan bulat kecil). Otot ini berpangkal di
siku sebelah luar scapula dan menuju tulang pangkal lengan. Fungsinya
memutar lengan ke luar.

B. Definisi Mobilisasi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas,
mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat.
Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan
kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan
untuk aktualisasi diri (Mubarak et al 2015 dalam Pradana 2016).
Latihan mobilisasi atau rehabilitasi juga bertujuan untuk memperbaiki fungsi
neurologis melalui terapi fisik dan tehnik-tehnik lain. Mobilisasi dan rehabilitasi
dini di tempat tidur merupakan suatu program rehabilitasi. Tujuannya adalah
untuk mencegah terjadinya kekakuan (kontraktur) dan kemunduran pemecahan
kekakuan (dekondisioning), mengoptimalkan pengobatan sehubungan masalah
medis dan menyediakan bantuan psikologis pasien dan keluarganya (Junaidi, 2006
dalam Pradana 2016). Pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan biasanya
menyangkut tentang kemampuan untuk mobilisasi secara mandiri. Aktivitas fisik
yang kurang memadai dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem
musculoskeletal seperti atrofi otot, sendi menjadi kaku dan juga menyebabkan
ketidakefektifan fungsi organ internal lainnya (Potter & Perry, 2006).
Menurut Mubarak 2008 jenis mobilisasi sebagai berikut:
1. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara
penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan
peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik
volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat
dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi.
Pada pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas
bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian
ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk
bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat
disebabkan oleh trauma reversibel pada system musculoskeletal,
contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
b. Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak
dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh
rusaknya system saraf yang reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia
karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomilitis
karena terganggunya system saraf motorik dan sensorik.
3. Rentang Gerak dalam mobilisasi
Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu :
a. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya
perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
b. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien
menggerakkan kakinya.
c. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan
aktifitas yang diperlukan

C. Etiologi
Penyebab yang dapat mempengaruhi mobilisasi antara lain (Kozier, 1995
dalam Khairani, 2013):
1. Usia dan status perkembangan
Perbedaan tingkat mobilisasi salah satunya disebabkan oleh perbedaan usia.
Orang dewasa akan mempunyai tingkat mobilitas yang berbeda dengan anak-
anak. Anak yang sering sakit juga akan mempunyai mobilitas berbeda dengan
anak yang sehat.
2. Gaya hidup
Masing-masing individu mempunyai gaya hisup sendiri yang berbeda-beda.
Hal ini juga dapat bergantung pada tingkat pendidikannya. Semakin tinggi
tingkat pendidikan individu maka perilakunya akan dapat meningkatkan
kesehatannya. Apabila pengetahuan tinggi tentunya akan diikuti pengetahuan
tentang mobilitas dan akan senantiasa melakukan mobilitas dengan cara yang
sehat.
3. Proses dari suatu penyakit
Individu yang dihadapkan dengan penyakit tertentu akan berpengaruh
terhadap mobilitasnya. Contohnya seseorang yang menderita patah tulang
akan kesulitan dalam melakukan mobilisasi secara bebas.
4. Kebudayaan
Suatu budaya dapat mempengaruhi seseorang meliputi pola dan sikap dalam
beraktivitas, misalnta seorang anak desa akan biasa dengan jalan kaki berbeda
dengan anak kota yang menggunakan kendaraan pribasi. Sehingga dapat
disimpulkan mobilitasnya sangat berbeda.
5. Tingkat energi
Individu dalam melakukan mobilitas akan membutuhkan sebuah energi.
Individu yang sedang sakit akan mempunyai tingkat mobilitas yang lebih
sedikit dibandingkan dengan individu yang sehat.

D. Tanda dan Gejala


Seseorang yang mengalami gangguan mobilitas mengalami beberapa
tanda dan gejala antara lain (Herdman dan Kamitsuru, 2015):
a. Hambatan mobilitas fisik
a) Keterbatasan rentang gerak
b) Penurunan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar
c) Instabilitas postur
d) Gangguan sikap berjalan
e) Gerakan lambat
b. Defisit perawatan diri: mandi
1) ketidakmampuan membasuh tubuh
2) ketidakmampuan mengakses kamar mandi
3) ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi
4) ketidakmampuan mengatur air mandi
5) ketidakmampuan menjangkau sumber air
c. Defisit perawatan diri: eliminasi
1) Ketidakmampuan melakukan higiene eliminasi secara komplit
2) Ketidakmampuan mencapai toilet
3) Ketidakmampuan naik ke toilet

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway


Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan
otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Mobilisasi sangat dipengaruhi
oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon,
kartilago, dan saraf. Otot skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya
kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem
pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot, isotonik dan isometrik. Pada kontraksi
isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraki
isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada
pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya menganjurkan klien untuk
latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan
isometrk. Postur dan gerakan otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati
seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal.
Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan
aktivitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi.
Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang (Handiyani, 2013).
Clinical Pathway:

Faktor penyebab: usia dan status perkembangan, gaya hidup, proses


dari suatu penyakit dan injuri, tingkat energi, kebudayaan

Kekakuan pada sendi

Degenerasi tulang
rawan sendi

Kelainan pada otot


skleletal

Membatasi pergerakan Hambatan mobilitas


pada sendi fisik

Ketidakmampuan Ketidakmampuan
mengakses kamar mandi melakukan
dan menjangkau sumber air pergerakan ke toilet

Defisit perawatan Defisit perawatan


diri: mandi diri: eliminasi
F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis untuk mobilisasi antara lain:
a. Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien dan keluarga
b. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama,
pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah
ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
sendiri, semampu pasien.
c. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, dan
pembuatan rencana terapi yang mencakup pula perkiraan waktu yang
diperlukan untuk mencapai target terapi.
d. Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan
elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/ kondisi
penyetara lainnya.
e. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan yang dapat
menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau
dihentkan bila memungkinkan.
f. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung
serat, serta suplementasi vitamin dan mineral.
g. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis
terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif,
aktif, dan aktif dengan bantuan), latihan penguat otot-otot (isotonik,
isometrik, isokinetik), latihan koordinasi/ keseimbangan, dan ambulasi
terbatas.
h. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri
dan ambulasi.
i. Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan toilet.

G. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Aspek Biologis
a) Usia
b) Riwayat Keperawatan
Hal yang perlu dikaji antara lain yaitu adanya gangguan pada istem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam
melakukan aktivitas, jenis latihan atau olahraga yang sering
dilakukan klien
c) Pemeriksaan fisik meliputi rentang gerak kekuatan ototkekuatan otot
sikap tubuh dan dampak imobilisasi terghadap sistem tubuh.
2) Aspek Psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji antara lain yaitu bagaimana respon
psikolofgis terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya.
3) Aspek Sosiokultural
Pengkajian pada aspek sosio kultural ini dilakukan untuk
mengidentifikasi dampak yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang
dialami klien terhadap kehidupan sosialnya.
4) Aspek Spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan
nilai yang dianut dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang.
5) Kemunduran Muskuloskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada sistem muskuloskeletal
adalah penurunan tonus, kekuatan, ukuran dan ketahanan otot, rentang
gerak sendi dan kekuatan skeletal
6) Kemunduran Kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardiovaskuler tidak memberikan bukti langsung atau
meyakinkan tentang perkenbangan komplikasi imobilitas
7) Kemunduran respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala eletasis
dan pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperatur dan
denyut jantung. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada, perkusi,
bunyi nafas dan gas arteri mengindikasaikan adanya perluasan kondisi
yang terjadi
8) Perubahan-perubahan Integumen
Indikator cedera iskhemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi
inflamasi. Perubahan awal terluihat pada permukaan kulit sebagai
daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk diatas
tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan
dihilangkan
9) Perubahan-perubahan Fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsiurinaria termasuk tanda-tanda
fisik berupa berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian
bawah dan batas kandung kemih yang dapat diraba. Gejala-gejala
kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih
dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah.
10) Perubahan-perubahan gastrointestinal
Sensasi subyektif dan konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada
abdomen bagian bawah, rasapenuh, tekanan. Pengosongan rectum yang
tidak sempurna, anorexia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas,
kelemahan dan sakit
11) Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi.
Didalam rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas,
penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin dan
tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien.
Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan
koridor yang terhalang, tempat tidur yang posisinya tinggi dan cairan
pada lantai. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang
potensial dapat meniingkatkan mobilitas
12) Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi dan Palpasi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui : fungsi, integritas
tulang, postur, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan,
kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari. Sirkulasi perifer
dilakukan dengan mengkaji : denyut perifer, warna, suhu, kapilerry
reffill. Pengkajian sistem skelet tubuh ditujukan untuk mengetahui
kesejajaran, deformitas, dan krepitus.
b) Pengkajian Sistem Tulang Belakang
Inspeksi dilakukan untuk mengetahui Kalainan adanya : skoliosis,
lordosis, kifosis. Prosedur yang digunakan untuk pemeriksaan
tulang belakang adalah sebagai berikut :
1) Buka baju pasien untuk menampakan seluruh punggung,
bokong dan tungkai.
2) Posisi pasien berdiri tegak dan membungkuk kedepan.
3) Yang diperiksa : kurvatura tulang belakang, simetri batang
tubuh dari pandangan antrior, posterior dan lateral.
4) Berdiri di belakang pasien yang diperhatikan : tinggi bahu dan
krista iliaka, lipatan bokong(normalnya simetris), simetris bahu
dan pinggul, kelurusan tulang belakang.
c) Pengkajian Sistem Persendian
1) Memeriksa luas gerak, deformitas, stabilitas, adanya benjolan.
Pengukuran luas gerak yang tepat dapat dilakukan dengan
geniometer (busur derajat yang dirancang kusus untuk evaluasi
gerak sendi. Jika sendi diekstensikan maksimal masih ada sisa
fleksi berarti terjadi keterbatasan gerak.
2) Keterbatasan gerak karena : deformitas skeletal, kontraktur
otot dan tendon, patologi sendi, patologi sendi pada lansia
yang menimbulkan penurunan kemampuan ADL
3) Deformitas sendi karena : kontraktur, dislokasi,
subluksasi(lepasnya sebagian permukaan sendi)
d) Pengkajian Sistem Otot
1) Meliputi kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan
koordinasi, ukuran otot.
2) Kelainan otot : polineuropati, miastenia gravis, poliomeilitis,
distrofi otot.
3) Penambahan ukuran dilakukan dengan mengukur lingkar
ekstrimitas. Pengukuran pada lingkar terbesar ekstrimitas.
4) Berikut skala kekuatan otot untuk mengkaji kekuatan otot
Skala Nilai Ket.
Normal Mampu menggerakkan persendian dalam lingkup
5/5 gerak penuh, mampu melawan gaya gravitasi,
mampu melawan dengan tahan penuh
Baik 4/5 Mampu menggerakkan persendian dengan gaya
gravitasi, mampu melawan dengan tahan sedang
Sedang 3/5 Hanya mampu melawan gaya gravitasi
Buruk 2/5 Tidak mampu melawan gaya gravitas (gerakkan
pasif)
Sedikit 1/5 Kontraksi otot dapat di palpasi tampa gerakkan
persendian
Tidak ada 0/5 Tidak ada kontraksi otot

e) Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan darah lengkap: Haemoglobin, lekosit, waktu
pembekuan dan waktu perdarahan.
2) Pemeriksaan kimia darah :
- Kalsium serum. Dilakukan pada pasien osteomalasia,
fungsi paratiroid, penyakit piaget, tumor tulang metastase,
immobilisasi lama.
- Fosfor serum. Berbanding terbalik dengan kalsium,
menurun pada pasien rikets karena malasorbsi. ◦Fosfatase
asam. Meningkat pada piaget dan kanker metastase.
- Fosfatase alkali. Meningkat pada proses penyembuhan,
miningakt pada penyakit dengan peningkatan aktivitas
osteoblast, misalnya pada pasien tumor tulang metastase.
3) Radiografi
- X-rays
- Hasil dari foto rontgen mengambarkan kepadatan, tekstur,
erosi, perubahan hubungan/menunjukkan adanya
pelebaran, dan penyempitan. Foto rontgen sendi
menggambarkan adanya cairan, sput, iregulitas, perubahan
struktur sendi.
- Ct scan.
- Hasil foto yang diperoleh adalah rincian bidang yang
diperiksa.
- EMG/elektromiografi memberikan informasi mengenai
potensial listrik otot dan saraf yang mensarafinya. Tujuan
dari EMG adalh untuk menentukan abnormalitas fungsi
unit motor end.
- Arthroscopy/endoskopi sendi
- Biops dilakukan untuk menentukan struktur dan komposisi
tulang, otot, dan sinovium
- Arteriografi.

2. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)


1) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi, kerusakan
integritas struktur tulang, penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan:
a. Keterbatasan rentang gerak
b. Penurunan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar
c. Instabilitas postur
d. Gangguan sikap berjalan
e. Gerakan lambat
2) Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan gangguan moskuluskeletal
dan kelemahan, ditandai dengan:
a. ketidakmampuan membasuh tubuh
b. ketidakmampuan mengakses kamar mandi
c. ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi
d. ketidakmampuan mengatur air mandi
e. ketidakmampuan menjangkau sumber air
3) Defisit perawatan diri: eliminasi berhubungan dengan gangguan
moskuluskeletal, hambatan kemampuan berpindah, ditandai dengan:
a. Ketidakmampuan melakukan higiene eliminasi secara komplit
b. Ketidakmampuan mencapai toilet
c. Ketidakmampuan naik ke toilet
b. Perencanaan/Nursing Care Plan :

No. Masalah NOC NIC Rasional


Keperawatan
1. Hambatan Setelah dilakukan Terapi latihan: ambulasi Terapi latihan: ambulasi
mobilitas fisik tindakan keperawatan 1. Sediakan tempat tidur yang rendah 1. Mempermudah pasien untuk
selama 3x24 jam, dan sesuai melakukan perpindahan dari
2. Bantu pasien untuk duduk di sisi tempat tidur ke kursi roda atau
hambatan mobilitas fisik
tempat tidur untuk memfasilitasi sebaliknya.
pada pasien dapat teratasi, penyesuaian sikap tubuh 2. Mempermudah pasien untuk
dengan kriteria hasil: 3. Bantu pasien untuk perpindahan, menyesuaikan sikap tubuh yang
ii. Klien dapat menopang sesuai kebutuhan diinginkan.
berat badan 4. Instruksikan pasien mengenai 3. Pasien mudah melakukan
iii. Klien dan keluarga pemindahan dan teknik ambulasi perpindahan.
paham mengenai yang aman 4. Membantu pasien dalam
manfaat dan tujuan 5. Monitor penggunaan kruk atau alat melakukan perpindahan dan teknik
melakukan latihan bantu berjalan lainnya ambulasi yang aman.
sendi 5. Mengetahui kemampuan pasien
iv. Klien paham cara Terapi latihan: pergerakan sendi dalam menggunakan alat bantu.
melakukan latihan 6. Tentukan batasan pergerakan sendi
ROM aktif atau pasif dan efeknya terhadap sendi; Terapi latihan: pergerakan sendi
v. Pasien/keluarga paham 7. Jelaskan pada klien dan keluarga 6. Mencegah pergerakan sendi yang
mengenai pemindahan mengenai manfaat dan tujuan berlebihan
dan teknik ambulasi melakukan latihan sendi 7. Membantu pasien dan keluarga
yang aman 8. Instruksikan klien/keluarga cara tentang manfaat dan tujuan
melakukan latihan ROM aktif atau melakukan latihan gerak sendi
pasif. 8. Mencegah terjadinya kekakuan
9. Monitor lokasi dan kecenderungan pada sendi
adanya nyeri. 9. Mengontrol nyeri
10. Pakaikan baju yang tidak 10. Mempermudah pasien agar
menghambat pergerakan pasien mampu bergerak tanpa hambatan
2. Defisit perawatan Setelah dilakukan Bantuan perawatan diri:
diri: mandi tindakan keperawatan mandi/kebersihan
selama 3x24 jam, defisit 1. Letakkan handuk, sabun, dan alat 1. Mempermudah pasien dalam
perawatan diri: mandi madi lain yang diperlukan di melakukan persiapan mandi
pada pasien dapat teratasi, samping tempat tidur atau kamar 2. Mempermudah pasien dalam
dengan kriteria hasil mandi melakukan oral higyene
1. Pasien dapat 2. Fasilitasi pasien untuk menggosok 3. Membantu pasien untuk lebih
mempertahankan gigi dengan tepat mandiri dalam melakukan mandi
kebersihan mulut 3. Fasilitasi pasien untuk mandi sendiri 4. Menjaga kelembapan kulit
2. Pasien dapat 4. Monitor integritas kulit pasien
mempertahankan
kebersihan tubuh
3. Defisit perawatan Setelah dilakukan Bantuan perawatan diri: eliminasi
diri: eliminasi tindakan keperawatan 1. Bantu pasien ke toilet pada waktu 1. Mempermudah pasien dalam
selama 3x24 jam, defisit tertentu menjangkau toilet
perawatan diri: eliminasi 2. Instruksikan pasien/keluarga dalam 2. Mengajarkan pasien/keluarga
pada pasien dapat teratasi, rutinitas toilet. dalam menggunakan toilet dengan
dengan kriteria hasil: 3. Buat jadwal aktivitas terkait dengan tepat dan rutin
1. Pasien mampu untuk eliminasi dengan tepat. 3. Melatih pasien agar terbiasa
melakukan aktivitas melakukan eliminasi dengan tepat
eliminasi secara dan terjadwal
mandiri atau tanpa alat
bantu.
2. Membersihkan diri
setelah eliminasi
4) Penatalaksanaan berdasarkan evidence based practice in nursing
Perencanaan pulang (discharge planning) perlu disusun sejak pasien masuk ke
rumah sakit. Perencanaan pulang (discharge Planning) yang dilakukan dengan baik
bermanfaat antara lain pasien dan keluarga merasa siap untuk kembali ke rumah,
mengurangi stress, meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga dalam menerima
pelayanan perawatan, serta meningkatkan koping pasien (Kozier, 2010). Keluarga
membutuhkan bimbingan untuk mengantisipasi dan memprioritaskan kebutuhan,
mempelajari strategi dan mengatasi masalah- masalah yang ditimbulkan. Hasil sebuah
penelitian menyebutkan bahwa pelaksanaan model discharge planning berbasis
teknologi mempunyai pengaruh terhadap dukungan psikososial keluarga dalam
perawatan penyakit stroke di Ruangan Lontara 3 Syaraf RSUP Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. Discharge planning sangat membantu keluarga dalam
perawatan pasien stroke dan mempersiapkan untuk rencana pemulangan pasien ke
rumah, selain itu CD media pembelajaran juga membantu perawat dalam memberikan
edukasi kepada pasien dan keluarga. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi
rekomendasi bagi rumah sakit dalam melakukan discharge planning yang disesuaikan
dengan kebutuhan pasien (Fuady et al, 2016). Materi yang diberikan dapat berupa
latihan Gait. Latihan gait merupakan intervensi yang sangat berpengaruh terhadap
fungsi kemandirian pasien. Latihan ini membuat pasien dapat mengembalikan
kemampuan untuk duduk dan berdiri. Latihan berjalan bisa melatih distribusi berat
badan pada kedua tungkai, sekaligus melatih keseimbangan dalam berbagai posisi.
dengan latihan gait berupa latihan mobilisasi dini/preambulasi, sitting balance, standing
balance, memakai kruk, walker dan tongkat maka diharapkan pasien dapat
meningkatkan nilai kemandiriannya serta dapat meningkatkan kemampuan fungsional
motorik ((Hickey, 2003; Smeltzer & Bare, 2004, dalam Marlina 2013).
DAFTAR PUSTAKA

Aquilino, Mary Lober, Et al. 2008. Nursing Outcomes Classification. Fifth


Edition. United State of America: Mosby Elsevier.
Dochterman, Janne McCloskey dan Bulcchek, Gloria M. 2008. Nursing
Interventions Clarifications. Fifth Edition.united State of America: Mosby
Elsevier.
Fatkhurrohman, M. 2011. Pengaruh Latihan Motor Imagery Terhadap Kekuatan
Otot Ekstremitas Pada Pasien Stroke Dengan Hemiparesis Di Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Bekasi. Depok. Program Srudi Magister Keperawatan
Kekhusussn Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Ilmu Keperawatan.
http://lib.ui.ac.id [Diakses pada 7 Maret 2018]
Handika, M. D. 2016. Asuhan Keperawatan Pada Ny. R Dengan Stroke Non
Hemoragik (SNH) Di Ruang Matahari Rumah Sakit Umum Daerah Kajen
Kabupaten Pekalongan. Karya tulis ilmiah. Pekajangan: prodi DIII
keperawatan Stikes muhammadiyah Pekajangan
Handiyani, H. 2013. Mobilisasi dan Imobilisasi. http://staff.ui.ac.id [Diakses pada
7 maret 2018]
Herdman, T. Heather. 2015. NANDA Internasional Inc. diagnosa keperawatan:
definisi & klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC
Khairani, A. 2013. Laporan pendahuluan tentang Mobilisasi.
https://plus.google.com [Diakses pada 7 Maret 2018]
Mubarak, Wahid Iqbal, Nurul Chayati. (2008). Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia: Teori dan Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Perry & Potter. 2005. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Pradana, M. D. 2016. Upaya peningkatan Mobilitas Fisik pada Pasien Stroke
NonHemoragik di RSUD dr Soehadi Prijonegoro. Naskah Publikasi
Surakarta: Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta [Diakses pada 7 Maret 2018]
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Persafan. Salemba Medika: Jakarta.
C.Pearce, Evelyn. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
1992.
Gibson, John. Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 2003.

l'Ergomotricité - Le corps, le travail et la santé - Michel Gendrier - Collection


Grenoble Sciences
”Muskuloskeletal System”. 2006.
http://www.ilo/encyclopaedia/?print&nd=857400009&nh=0

Sloane, Ethel. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2003.