Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Banyak penyakit yang menggangu kelangsungan hidup masyarakat luas.
Penyakit-penyakit ini bukan hanya muncul dikarenakan keteledoran daripada
pengidap itu sendiri, melainkan juga dari lingkungan luar yang ada di sekitarnya.
Biasanya para pasien yang ada di rumah sakit paling mudah tertular dengan berbagai
macam penyakit yang dapat membahayakan kehidupannya sendiri. Dengan
perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi yang semakin canggih menyebabkan
tuntutan akan kemudahan dan keakuratan mengobati suatu penyakit. Demikian halnya
perkembangan ilmu dan teknologi di bidang alat-alat kesehatan.

Alat kesehatan meliputi barang, instrument atau alat lain yang termasuk tiap
komponen bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan
untuk digunakan dalam pemeliharaan dan perawatan, diagnosis, pemulihan,
perbaikan, penyembuhan, dan lain-lain. Semua alaT kesehatan yang kontak langsung
dengan pasien dapat menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu, persediaan dari barang
steril cukup memainkan perang penting dalam mengurangi penyebaran penyakit di
pelayanan kesehatan.

Alat kesehatan (UU RI No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan) adalah


instrument, apparatus, mesin, implant yang mengandung obat, yang digunakan untuk
mencegah, mendiagnosa, menyembuhkan atau untuk membentuk struktur dan
memperbaiki fungsi tubuh. Alat kesehatan dapat juga mengandung obat yang tidak
mencapai kerja utama pada dalam tubuh manusia melalui proses farmakologi,
imunologi, atau metabolism tetapi dapat membantu fungsi yang diinginkan dari alat
kesehatan dengan cara tersebut. Dengan hal tersebut diharapkan pembaca dapat
mengetahui hal-hal terseebut.

1.2 Rumusan Masalah


1
1.2.1 Apa pengertian alat-alat kesehatan?

1.2.2 Apa saja yang termasuk alat-alat kesehatan dan fungsinya?

1.2.3 Bagaimana teknik sterilisasi alat kesehatan?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Agar mengetahui pengertian alat kesehatan

1.3.2 Agar mengetahui yang termasuk alat kesehatan dan fungsinya

1.3.3 Agar bisa mensterilisasi alat kesehatan

BAB II

PEMBAHASAN
2
2.1 Pengertian Alat Kesehatan

Berdasarkan Menteri Kesehatan RI.no.220/Men.Kes/Per/IX/1976 tertanggal 6


September 1976, Alat Kesehatan (ALKES) adalah Barang, instrumen aparat atau alat
termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapan yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan
untuk digunakan dalam penelitian dan perawatan kesehatan, diagnosis
penyembuhan, peringanan atau pencegahan penyakit, kelainan keadaan badan atau gejalanya
pada manusia.

2.2 Alat-alat Kesehatan beserta Fungsinya

1. PERALATAN KESEHATAN DARI BAHAN LOGAM


a. Tongue depressor/ Tongue Blade (Ing.) Tong spatel (Ind.)
Fungsi : untuk menekan lidah agar dapat memeriksa/ melihat kelainan pada
tenggorokan, misalnya amandel. Faringitis dll.

b. Laringeal mirror
Fungsi : untuk memeriksa/ melihat keadaan dalam mulut/ tenggorokan

c. Stetoskop

3
Stetoskop atau stethoscope adalah alat kedokteran yang paling sering dikaitkan dengan
profesi seorang dokter bahkan sepertinya sudah merupakan simbol seorang dokter.
Rasanya belum sah bila seorang dokter tidak memiliki alat ini. Tidak heran kalau
seorang dokter spesialis radiologi ataupun dokter ahli laboratorium klinik yang jarang
sekali perlu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasiennya secara langsungpun
memiliki setoskop.

d. Reflex Hamer
Fungsi : memeriksa kemampuan refleksi dari bagian tertentu tubuh kita, misalnya lutut.

e. Korentang

4
Fungsi : untuk memegang atau mengambil alat dan bahan medis steril spaya tetap terjaga
dalam kondisi steril, jika diambil dengan tangan kemungkinan alat tersebut menjadi tidak
steril.

f. Nald vooder/Needle Holder/Nald Heacting


Gunanya adalah untuk memegang jarum jahit (nald heacting) dan sebagai penyimpul
benang.

g. Gunting

• Gunting Diseksi (disecting scissor)

Gunting ini ada dua jenis yaitu, lurus dan bengkok. Ujungnya biasanga runcing. Terdapat
dua tipe yabg sering digunakan yaitu tipe Moyo dan tipe Metzenbaum.

• Gunting Benang

Ada dua macam gunting benang yaitu bengkok dan lurus, kegunaannya adalah
memotong benang operasi, merapikan luka.

5
• Gunting Pembalut/Perban

Kegunaannya adalah untuk menggunting plester dan pembalut.

h. Pisau Bedah

Pisau bedah terdiri dari dua bagian yaitu gagang dan mata pisau (mess/bistouri/blade).
Kegunaanya adalah untuk menyayat berbagai organ atau bagian tubuh manusia. Mata
pisau disesuaikan dengan bagian tubuh yang akan disayat.

i. Retraktor (Wound Hook)

Retraktor langenbeck, US Army Double Ended Retraktor dan Retraktor Volkman


penggunaannya adalah untuk menguakan luka.

6
j. Deschamps Aneurysm Needle

Penggunaannya adalah untuk mengikat pembuluh darah besar.

k. Obstetrical Stethoscope/ Stethoscope monoaural (Ing.) Stethoscope bidan


Fungsi : untuk mendengar bunyi jantung bayi dalam kandungan ibu hamil

7
l. Klem
Klem atau Clamp adalah alat untuk menjepit (memegang dan menekan) suatu benda.

Jenis-jenis klem antara lain :


1) Arterie klem (Beld.) Artery Forceps (Ing.)
Arteri klem tergolong alat seperti pegangan gunting dengan cantelan.
Fungsi : untuk menjepit pembuluh darah arteri.
Arteri klem dapat digolongkan ke dalam dua bagian
 Kocher : ujungnya bergigi
 Pean : ujungnya tidak bergigi

2) Peritoneum forceps
Fungsi : untuk menjepit jaringan selaput perut.

m. Needle Holders (Ing.) Naald Voerder (Beld.)Fungsi : untuk menjepit jarum jahit
(hechtnaald) serta menjahit luka terbuka seperti luka kecelakaan atau pembedahan.

8
n. Pinset
Pinset memiliki berbagai macam bentuk dan fungsinya, antara lain :
• Pinset Sirugis
Kegunaannya adalah untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan penjahitan luka,
memberi tanda pada kulit sebelum memulai insisi.
• Pinset Anatomis
Kegunaannya adalah untuk menjepit kasa sewaktu menekan luka, menjepit jaringan yang
tipis dan lunak.
• Pinset Splinter

Kegunaannya adalah untuk mengadaptasi tepi-tepi luka (mencegah overlapping).

o. Jarum Jahit

Penggunaanya adalah untuk menjahit luka yang dan menjahit organ yang rusak lainnya.
Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampang segitiga agar lebih mudah mengiris
kulit (scharpe nald). Sedangkan untuk menjahit otot dipakai yang berpenampang bulat
( rounde nald ).

9
p. Bak Instrumen
Fungsi : untuk menyimpan peralatan-peralatan operasi yang sudah seteril

q. Kom
Fungsi : tempat untuk menaruh kasa, betadine, sputum/dahak, kasa yang steril
Tergantung dari jenis kom nya

10
r. Dressing Jar Stainless Steell

Dressing Jar Stainless Steell adalah wadah yang biasanya digunakan untuk menyimpan
kapas , jarum operasi, benang operasi, dll yang direndam dengan alkohol.

s. Iodine Cup Stainless

Iodine cup stainless adalah wadah untuk menyimpan iodine sementara waktu selama
proses tindakan. Kapas dan kassa dicelupkan iodine kedalam wadah tersebut lalu
dioleskan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Untuk ukuran 80 cc, dengan diameter 8 – 10 cm dan tinggi 4-6cm

t. Spitting mug

11
Spitting mug adalah tempat untuk pasien membuang ludah atau riak

u. Nierbeken / Waskom Bengkok Stainless

Wadah instrumen dan disposible operasi minor yang biasa digunakan oleh dokter, bidan
dan perawat pada saat melakukan tindakan kepada pasien.
Kegunaan: Tempat membuang kapas bekas pakai, muntah, nanah dll dan Sebagai wadah
obat-obatan seperti kapas alkohol, perban, jarum, dll
Dengan ukuran 20cm,23cm dan 25cm

v. FORCEPS JAR

12
Kegunaan Untuk menaruh pinset, klem dan tang yang sudah di sterilkan agar tetap steril.
Ukuran : 15-20cm diameter 4-6cm

w. Tabung Korentang Stainless

Tabung Korentang Stainless adalah wadah berbentuk tabung untuk menyimpan/


meletakkan korentang agar tetap terjaga kesterilannya. Korentang adalah penjepit yang
digunakan untuk mengambil atau memindahkan alat dan bahan steril untuk tindakan
operasi atau hecting.
Dengan ukuran tinggi 17-25cm dan diameter 4-6cm

x. Dressing sterilizing drum

13
Kegunaan tempat mensterilkan pembalut –pembalut sebelum digunakan, biasanya pada
tindakan operasi

2. PERALATAN KESEHATAN DARI BAHAN KACA


a. Termometer

Termometer adalah alat kedokteran yang dipergunakan untuk mengukur suhu tubuh. Ada
dua jenis termometer yaitu termometer raksa dan digital. Perbedaannya terletak pada alat
pengukurnya.
b. Urinal
Fungsi : untuk menampung urine pada pasien yang tidak boleh/bisa ke WC.
Jenisnya :
 Urinal male : untuk pasien laki-laki

 Urinal female : untuk pasien wanita

14
c. Gelas ukur

Fungsi Untuk mengukur volume larutan tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi
dalam jumlah tertentu

d. Beaker Glass

Beaker gelas / glass beaker ini berbentuk gelas dan biasa digunakan untuk menampung
larutan atau cairan dengan tingkat ketelitian yang sangat rendah. Beaker glass bisa juga
digunakan sebagai wadah untuk memanaskan cairan dengan hotplate.

15
e.Pipet Tetes

Pipet tetes merupakan salah satu peralatan laboratorium yang digunakan untuk
memindahkan atau menambahkan larutan kimia ke bahan kimia lainnya. Biasanya bahan
yang dipindahkan ini volumenya sangat sedikit atau hanya beberapa tetes saja. pipet tetes
ini memiliki ujung yang runcing sehingga cukup rentan terhadap pecah. ada beberapa
pipet tetes yang memiliki hitungan 20 tetes = 1mL

f. Labu Erlenmeyer

Labu erlenmeyer juga dapat digunakan untuk menampung larutan yang cukup banyak
dan memiliki ketelitian yang lebih baik dibantingkan beaker glass karena bentuknya
yang cekung. Labu erlenmeyer digunakan pada saat titrasi, larutan lebih mudah di kocok
dan tidak tumpah. Namun labu erlenmeyer juga bisa di gunakan memanaskan dengan hot
plate.

PERALATAN KESEHATAN DARI BAHAN KARET


16
a. Bors Pomp (Beld.) Breast Pump and relieve (Ing.) Pompa Susu (Ind.)
Fungsi : untuk membantu memompa air susu keluar dari payudara wanita yang sedang
menyusui.

b. Ijskap (Beld.) Ice Bag (Ing.) Eskap (Ind.)


Bentuk : berupa kantung dari karet dengan tutup di tengahnya, diisi pecahan es batu
Fungsi : untuk kompres dingin.

c. Colostomy Bag
Fungsi : untuk menampung feses pada pasien setelah operasi colon (pembedahan usus
buatan melalui otot dan kulit perut)

17
d. Warm Water Zak (Beld.) Hot Water Botle (Ing.) Botol Panas/ Buli-buli Panas.

Bentuk : berupa kantung dari karet dengan tutup di ujungnya, diisi air panas.

Fungsi: untuk kompres panas

e. Gloves (Ing.) Handschoen (Beld.) Sarung Tangan


Fungsi : untuk melindungi tangan dari pengaruh lingkungan sekeliling

f. Cathether
Fungsi : untuk mengeluarkan/ pengambilan urine
Jenisnya :
 Nelaton Cathether : terbuat dari latex/ karet
 Metal Cathether : terbuat dari stainlesstil
18
 Balloon Cathether/ Foley Cathether : terbuat dari latex/ karet dilengkapi dengan
balon dengan cara menyutikan aqua pada ventilnya bila telah masuk agar Cathether tidak
copot.

g. Stomach Tube (Ing.) Maag Slang/ Maag Sonde (Beld.)


Fungsi :
 untuk mengumpulkan cairan/ getah lambung,
 untuk membilas/ mencucui isi perut,
 untuk pemberian obat-obatan.

h. Feeding Tube
Fungsi : untuk nutrisi/ pemberian cairan makanan melalui mulut atau hidung.

19
i. Tapelhoed atau Tapelhoedje (Beld.) Nipple Shield (Ing.) Pelindung Puting Susu
Fungsi : untuk melindungi putting susu yang lecet pada waktu menyusui sehingga si bayi
dapat menghisap air susu melewati alat tsb.

j. Windring (Beld.) Air Cusion (Ing.)


Bentuk : berupa alat yang terbuat dari karet berbentuk lingkaran seperti ban mobil,
diameter dalam 13,5 cm luar 40 cm
Fungsi : sebagai tempat duduk pada penderita wasir/ ambeien.

2.3 Pemeliharaan dan Sterilisasi

20
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan suatu benda dari semua, baik bentuk
vegetatif maupun bentuk spora. Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi
untuk mencegah pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan
keadaan aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan
terhadap pencemaran oleh mikroorganisme dan di dalam bidang-bidang lain pun sterilisasi ini
juga penting. Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen
atau kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan
cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahkan kimia. Jenis sterilisasi antara
lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi gas (Formalin H2, O2), dan radiasi
ionnisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
o Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi
o Peralatan yang akan di sterilisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas dengan
menyebutkan jenis peralatan, jumlah dan tanggal pelaksanaan sterilisasi
o Penataan alat harus berprinsip bahwa semua bagian dapat steril
o Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril selesai
o Memindahklan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril
o Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka
harus dilakukan sterilisasi ulang.

Metode Sterilisasi
Sterilisasi secara Fisik
Sterilisasi secara fisik dipakai bila selama sterilisasi dengan bahan kimia tidak akan
berubah akibat temperatur tinggi dan tekanan tinggi. Cara membunuh mikroorganisme
tersebut adalah dengan panas. Berikut penjelasan mengenai cara membunuh
mikroorganisme :
1. Pemanasan kering
Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi
sampai kering dan selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga
menyebabkan mikrobanya mati. Digunakan pada benda atau bahan yang tidak mudah
menjadi rusak, tidak menyala, tidak hangus atau tidak menguap pada suhu tinggi.
Umumnya digunakan untuk senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap
air, seperti minyak lemak, minyak mineral, gliserin (berbagai jenis minyak),
petrolatum jelly, lilin, wax, dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini

21
efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah. Contohnya alat ukur dan penutup
karet atau plastik. Selain itu, bahan atau alat harus dibungkus, disumbat atau ditaruh
dalam wadah tertututp untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven.
2. Pemanasan basah
Prinsipnya adalah dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein
penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba. Sterilisasi uap
dilakukan menggunakan autoklaf dengan prinsipnya memakai uap air dalam tekanan
sebagai pensterilnya. Alat-alat dan air disterilkan selama 1 jam, tetapi media antara
20-40 menit tergantung dari volume bahan yang disterilkan. Sterilisasi media yang
terlalu lama akan menyebabkan :
 Penguraian gula
 Degradasi vitamin dan asam-asam amino
 Inaktifasi sitokinin zeatin riboside
 Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar
a. Pemanasan dengan Bakterisida
Digunakan untuk sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil
dalam autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena dosis tunggal lebih
dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal.
b. Air mendidih
Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti jarum spoit. Hanya dilakukan dalam
keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk vegetatif mikroorganisme tetapi tidak
sporanya.
c. Pemijaran
Dengan cara membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum
inokulum, pinset, batang L, dan sebagainya.

Sterilisasi dengan radiasi


Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari
inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Sterilisasi dengan radiasi digunakan untuk
bahan atau produk dan alat-alat medis yang peka terhadap panas (termolabil).

Pelaksanaan :
a) Sterilisasi dengan cara rebus
22
Mensterikan peralatan dengan cara merebus didalam air sampai mendidih (1000C)
dan ditunggu antara 15 sampai 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan
karet.
b) Sterilisasi dengan cara stoom
Mensterikan peralatan dengan uap panas didalam autoclave dengan waktu, suhu dan
tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat-obatan dan lain-lain.
c) Sterilisasi dengan cara panas kering
Mensterikan peralatan dengan oven dengan uap panas tinggi. Misalnya peralatan
logam yang tajam, peralatan dari kaca dan obat tertentu.
d) Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan kimia
Mensterikan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat,
uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kene panas. Misalnya
sarung tangan, kateter, dan lain-lain.
Perhatian: :
- Sterilisator harus dalam keadaan siap pakai.
- Peralatan harus bersih dan masigh berfungsi.
- Peralat yang dibungkus harus diberi label yang dengan jelas mencantumkan :
nama, jenis peralatan, tanggal dan jam disterilkan.
- Menyusun peralatan didalam sterilisator harus sedemikian rupa, sehingga seluruh
bagian dapat disterilkan.
- Waktu yang diperlukan untuk mensterilkan setiap jenis peralatan harus tepat
(dihitung sejak peralatan disterilkan).
- Dilarang memasukkan atau menambahkan peralatan lain kedalam sterilisator,
sebelum waktu untuk mensterilkan selesai.
- Memindahkan peralatan yang sudah steril ketempatnya harus dengan korentang
steril.
- Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus maupun
tutupnya.
- Bila peralatan yang baru disterilkan terbuka, peralatan tersebut harus disterilkan
kembali.
Pemeliharaan Peralatan Perawatan dan Kedokteran

Melaksanakan pemeliharaan peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara membersihkan,


mendesinfeksi atau mensterilkan serta menyimpannya.
23
Tujuan :

- Menyiapkan peralatan perawatan dan kedokteran dalam keadaan siap pakai.

- Mencegah peralatan cepat rusak.

- Mencegah terjadinya infeksi silang.

1. Sterilisasi terhadap bahan baku karet ( Hand Schoen)

Hand schoen atau Sarung tangan dapat disterilkan dengan uap formalin atau
dengan otoklaf. Sebelum sarung tangan disterilkan, terlebih dahulu harus dibersihkan
dengan jalan mencuci dengan air dan sabun. Bila hendak memakai uap formalin,
sarung tangan yang telah siap, dimasukkan kedalam tromol atau stoples, lalu
dimasukkan beebrapa tablet formalin. Sarung tangan baru suci hama (steril) setelah
terkena uap formalin paling sedikit 24 jam. Sebaiknya disediakan beberapa buah
stoples atau tromol agar selalu ada sarung tengan yang steril. Sarung tangan dapat
pula dimasukkan ke dalam otoklaf untuk disterilkan.
2. Sterilisasi terhadap bahan baku logam
Alat yang terbuat dari logam sebelum disteril dicuci terlebih dahulu.
Perbiasakan segera mencuci alat-alat begitu selesai memakainya, agar kotoran yang
melengket mudah dibersihkan. Alat-alat logam seperti jarum suntik, pinset, gunting,
jarum oprasi, scapel blede maupun tabung reaksi mula-mula dibersihkan terlebih
dahulu kemudian dibungkus dengan kain gaas. Setelah itu menggunakan metode
pemanasan secara kering, agar suhu mencapai 160oC, jarak waktu mencapai 1-2 jam,
kemudian didiamkan agar suhu turun perlahan-lahan.
3. Sterilisasi terhadap bahan baku kaca
Sterilisasi bahan baku kaca sama dengan sterilisasi logam yaitu dengan
menggunakan pemanasan kering, selain itu bahan baku kaca juga sering disterilisasi
dengan menggunakan metode radiasi karena bahan baku kaca banyak menyerap
bahan kaca sehingga sterilisasi dengan radiasi sangat efektive, pelaksanaanya yaitu
alat bahan baku kaca dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang melekat kemudian
keringkan dengan udara setelah kering alat bahan baku kaca dimasukan ketempat
elektronik yaitu dengan katoda panas (emisi termis) yang mengeluarkan sinar
ultraviolet kemudian sinari kaca tersebut dengan sinar ultraviolet dengan kekuatan

24
kurang lebih 2500 s/d 2600 angstrom sehingga spora dan bakteri yang melekat pada
alat tersebut dapat terbakar.
4. Sterilisasi terhadap bahan baku kain
Media kultur yang akan disteril, terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran,
kemudian kain resebut dibungkus dengan kertas agar setelah steril dan dikeluarkan
dari alat sterilisator tidak terkontaminasi dengan kuman maupun bakteri lagi.
Demikian pula kain doek tersebut dibersihkan terlebih dahulu, setelah dibersihkan
bungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum sterilisasi, metode sterilisasi yang
akan dilakukan menggunakan metode pemanasan dengan uap air dan juga
dipengaruhi dengan tekanan (autoclave). Metode sterilisasi denga menggunakan
autoclave ini yaitu dengan adanya pertukaran anatara oksigen dan carbon dioxida.
5. Sterilisasi terhadap bahan baku plastik
Bahan baku plastik misalnya mayo apabila disterilkan sebaiknya jangan
menggunakan metode pemanasan, oleh karna itu maka akan merubah bentuk dari
plastik tersebut. Untuk mensucikan alat dari bahan baku plastik sebaiknya mula-mula
bersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan detergen, kemudian keringkan,
setelah itu rendam dalam larutan alkohol setelah itu cuci denga aquades lalu rendam
dalam larutan antiseptic

Perawatan Alat Kesehatan dari Berbagai Bahan

1. Perawatan alat dari bahan baku logam yang sudah disterilkan


Alat-alat yang terbuat dari logam misalnya besi, tembaga maupun alumunium
sering terjadi karatan. Untuk menghindari terjadinya hal demikian maka alat-alat
tersebut harus disimpan pada tempat yang mempunyai temperatur tinggi (sekitar
37oC) dan lingkungan yang kering kalau perlu memakai bahan silikon sebagai
penyerap uap air, sebelum alat tersebut disimpan maka alat tersebut harus bebas dari
kotoran debu maupun air yang melekat, kemudian olesi dengan olie atau parafin.
2. Perawatan alat dari bahan baku kaca setelah disteril
Bahan baku kaca banyak dipakai dalam laboratorium medis. Ada beberapa
keuntungan dan kelemahan dari bahan baku kaca tersebut.
Keuntungan:

25
Bahan baku kaca tahan terhadap reaksi kimia, terutama bahan gelas pyrex, tahan
terhadap perubahan temperatur yang mendadak, koefisien muai yang kecil dan
tembus cahaya yang besar.
Kelemahan:
Mudah pecah terhadap tekanan mekanik, dan mudah tumbuh jamur sehingga
menggagu daya tembus sinar, kadang-kadang dengan menggunakan kain katun untuk
membersihkan saja timbul goresan.

3. Perawatan alat dari bahan baku karet


Sarung tangan dari karet mudah meleleh atau lengket apabila disimpan terlalu
lama. Untuk menghindari kerusakan dari bahan baku karet, sebelum melakukan
penyimpanan mula-mula bersihkan kotoran darah atau cairan obat dengan cara
mencuci dengan sabun kemudian dikeringkan dengan menjemur dibawa sinar
matahariatau hembusan udara hangat. Setelah itu taburi tal pada seluruh permukaan
karet.

Penyimpanan alat-alat yang telah disterilkan

Ada dua macam alat yang dilihat dari cara penyimpanan, yakni :

1. Alat yang dibungkus

Dalam kondisis penyimpanan yang optimal dan penanganan yang minimal,


dinyatakan steril sepanjang bungkus tetap kering dan utuh. Untuk penyimpanan yang
optimal,simpan bungkusan seteril dalam lemari tertutup dibagian yang tidak terlalu
sering dijamah, suhu udara dan seajuk atau kelembapan rendah. Jika alat-alat tersebut
tidak dipakai dalam waktu yang lama, alat tersebut harus disterilkan kembali sebelum
pemakaian. Alat yang tidak dibungkus harus segera diguanakan setelah dikeluarkan .
jangan menyimpan alat dengan merendam dalam larutan .

2. Pengelolaan benda tajam

Benda tajam sangat beresiko untuk menyebabkan perlukaan sehingga


meningkatkan terjadinya penularan penyakit melalui kontak darah, untuk menghindari
perlukaan atau kecelaan kerja maka semua benda tajam harus digunakan sekali pakai,
dengan demikian jarum suntik bekas tidak boleh digunakan lagi

26
BAB III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Alat Kesehatan (ALKES) adalah Barang, instrumen aparat atau alat termasuk
tiap komponen, bagian atau perlengkapan yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan

27
untuk digunakan dalam penelitian dan perawatan kesehatan, diagnosis
penyembuhan, peringanan atau pencegahan penyakit, kelainan keadaan badan atau
gejalanya pada manusia.

Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan suatu benda dari semua, baik
bentuk vegetatif maupun bentuk spora. Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang
mikrobiologi untuk mencegah pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk
mempertahankan keadaan aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk
menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh mikroorganisme dan di dalam bidang-
bidang lain pun sterilisasi ini juga penting.

1.2 Saran

Sebaiknya siswa lebih memahami dan menjabarkan pengertian, tujuan, dan


fungsi Alat-alat teori kesehatan. Dengan pengetahuan yang dimiliki diharapkan siswa
dapat menyalurkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam
lingkungan praktek. Dan siswa juga sebaiknya memahami dan mempraktekan teknik
sterilisasi yang dijelaskan dikehidupan sehari-hari maupun di tempat praktek.

DAFTAR PUSTAKA

https://idtesis.com/pengertian-alat-kesehatan-dan-penggolongan-berdasarkan-fungsi-dan-
sifat/
Di akses tanggal 3 April 2018

28
https://www.scribd.com/doc/287287255/Alat-Alat-Kesehatan-Yg-Terbuat-Dari-Logam
Di akses tanggal 3 April 2018

http://lenyfirdha.blogspot.co.id/
Di akses tanggal 3 April 2018

29