Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

“Pengelolaan Air Limbah Komunal”


SAMPUL

NAMA KELOMPOK 6:

1. Ni Kadek Elgi Cintiyani (N 201 16 070)

2. Nining Fitra Handayani (N 201 16 071)

3. Fitriani (N 201 16 141)

4. Iis Lorina (N 201 16 146)

5. Moh. Ibnusabil (N 201 16 165)

6. Shinta Widya Puspita (N 201 16 206)

KELAS : A

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS TADULAKO
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan baik dan tanpa hambatan.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah
Pengelolahan Air Limbah yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran kepada
kami. Terlebih lagi dalam penyusunan makalah ini sehingga kami dapat
menyelesaikannya dengan baik. Terima kasih juga kepada pihak-pihak yang telah
membantu kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini, yang tidak bisa kami
sebutkan satu-persatu.
Kemampuan maksimal dan usaha yang keras telah kami curahkan dalam
menyusun makalah ini. Semoga usaha kami tidak sia-sia dan mendapatkan hasil yang
baik.
Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh
dari sempurna, karena kami menyusun ini dalam rangka mengembangkan
kemampuan diri. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun baik
lisan maupun tulisan sangat kami harapkan.

Selasa, 18 September 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penanganan limbah merupakan tanggung jawab bagi semua orang
khususnya untuk kegiatan yang memiliki potensi pencemaran lingkungan.
Penanganan limbah yang dimaksud tidak hanya untuk limbah padat tapi yang
terpenting juga adalah limbah cairnya. Limbah cair yang berasal dari layanan
kesehatan/rumah sakit berdasarkan kualitas dan kuantitasnya mempunyai
“potential hazard” terhadap manusia dan lingkungan dikarenakan oleh adanya
bahan berbahaya dan beracun (B3) yang terkandung di dalamnya terutama
apabila dalam pembuangannya tidak dikelola dengan baik sehingga menjadi
sebuah kewajiban untuk berbagai instansi terkhusus pelayanan kesehatan dalam
menangani limbahnya yang berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu
kesehatan manusia (Fruss).
Masalah pencemaran lingkungan di Jakarta telah menunjukkan gejala
yang sangat serius, khususnya masalah pencemaran air. Penyebab dari
pencemaran tadi tidak hanya berasal dari buangan industri dari pabrik-pabrik
yang membuang begitu saja air limbahnya tanpa pengolahan lebih dahulu ke
sungai atau ke laut, tetapi juga yang tidak kalah memegang andil baik secara
sengaja atau tidak adalah penduduk Jakarta itu sendiri. Setiap hari buangan
rumah tangga yang jumlahnya semakin besar sesuai dengan perkembangan
penduduk maupun perkembangan kota Jakarta. Ditambah lagi rendahnya
kesadaran sebagian besar masyarakat yang langsung membuang kotoran/tinja
maupun sampah ke dalam sungai, menyebabkan proses pencemaran sungai-
sungai yang ada di Jakarta bertambah cepat.
Dari studi tersebut juga diketahui bahwa untuk wilayah Jakarta, dilihat
dari segi jumlah, air limbah domistik (rumah tangga) memberikan kontribusi
terhadap pencemaran air sekitar 75 %, air limbah perkantoran dan daerah
komersial 15 %, dan air limbah industri hanya sekitar 10 %. Sedangkan dilihat
dari beban polutan organiknya, air limbah rumah tangga sekitar 70 %, air limbah
perkantoran 14 %, dan air limbah industri memberikan kontribusi 16 %. Dengan
demikian air limbah rumah tangga dan air limbah perkantoran adalah
penyumbang yang terbesar terhadap pencemaran air di wilayah DKI Jakarta.
Di lain pihak fasilitas pengolahan limbah rumah tangga secara terpusat
yang ada masih sangat minim sekali yakni hanya melayani 3% dari seluruh
wilayah Jakarta. Sebagai akibatnya, banyak sungai atau badan air di wilayah DKI
Jakarta yang tercemar berat oleh air limbah rumah tangga, air limbah perkantoran
maupun air limbah yang berasal dari daerah komersial.
A. Rumusan masalah
1. Apa Pengertian IPAL Komunal?
2. Bagaimana Karakteristik Air Limbah Domestik?
3. Bagaimana Sistem Sanitasi Setempat?
4. Apa Sistem Sanitasi Terpusat?
5. Apa Sistem Perpipaan Komunal?
6. Bagaimana Teknologi Pengolahan IPAL Komunal?
7. Bagaimana Pengelolaan Air Limbah di Kota Blitar?
B. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian IPAL Komunal
2. Untuk Mengetahui Karakteristik Air Limbah Domestik
3. Untuk Mengetahui Sistem Sanitasi Setempat
4. Untuk Mengetahui Sistem Sanitasi Terpusat
5. Untuk Mengetahui Sistem Perpipaan Komunal
6. Untuk Mengetahui Teknologi Pengolahan IPAL Komunal
7. Untuk Mengetahui Pengelolaan Air Limbah di Kota Blitar
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian IPAL Komunal


Dalam kesehariannya, manusia selalu menghasilkan limbah yang berasal
dari aktivitas sehari- hari, seperti mencuci piring, mandi, menyiram tanaman
maupun dari kakus. Sehingga diperlukan perencanaan instalasi air limbah untuk
suatu kota dengan pertimbangan kebersihan, kesehatan dan keamanan (fisik
maupun alam). Pengelolaan air limbah memerlukan sarana dan prasarana
penyaluran dan pengolahan. Pengolahan air limbah permukiman dapat ditangani
melalui sistem setempat (on site) ataupun melalui sistem terpusat (off site).
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal merupakan sistem
pengolahan air limbah yang dilakukan secara terpusat yaitu terdapat bangunan
yang digunakan untuk memproses limbah cair domestik yang difungsikan secara
komunal (digunakan oleh sekelompok rumah tangga) agar lebih aman pada saat
dibuang ke lingkungan, sesuai dengan baku mutu lingkungan. Limbah cair dari
rumah penduduk dialirkan ke bangunan bak tampungan IPAL melalui jaringan
pipa.
Sistem ini dilakukan untuk menangani limbah domestik pada wilayah
yang tidak memungkinkan untuk dilayani oleh sistem terpusat ataupun secara
individual. Penanganan dilakukan pada sebagian wilayah dari suatu kota, dimana
setiap rumah tangga yang mempunyai fasilitas MCK pribadi menghubungkan
saluran pembuangan ke dalam sistem perpipaan air limbah untuk dialirkan
menuju instalasi pengolahan limbah komunal. Untuk sistem yang lebih kecil
dapat melayani 2-5 rumah tangga, sedangkan untuk sistem komunal dapat
melayani 10-100 rumah tangga atau bahkan dapat lebih. Effluent dari instalasi
pengolahan dapat disalurkan menuju sumur resapan atau juga dapat langsung
dibuang ke badan air (sungai). Fasilitas sistem komunal dibangun untuk melayani
kelompok rumah tangga atau MCK umum. Bangunan pengolahan air limbah ini
dapat diterapkan di perkampungan dimana tidak memungkinkan bagi warga
masyarakatnya untuk membangun septictank individual di rumahya masing-
masing.
B. Karakteristik Air Limbah Domestik
Limbah cair rumah tangga atau domestik adalah air buangan yang berasal
dari penggunaan untuk kebersihan yaitu gabungan limbah dapur, kamar mandi,
toilet, cucian, dan sebagainya. Komposisi limbah cair rata-rata mengandung
bahan organik dan senyawa mineral yang berasal dari sisa makanan, urin, dan
sabun. Sebagian limbah rumah tangga berbentuk suspensi lainnya dalam bentuk
bahan terlarut. Limbah cair ini dapat dibagi 2 yaitu limbah cair kakus yang umum
disebut black water dan limbah cair dari mandi-cuci yang disebut grey water.
Black water oleh sebagian penduduk dibuang melalui septic tank, namun sebagian
dibuang langsung ke sungai. Sedangkan gray water hampir seluruhnya dibuang ke
sungai melalui saluran. Perkembangan penduduk kota-kota besar semakin
meningkat pesat, seiring dengan pesatnya laju pembangunan, sehingga jumlah
limbah domestik yang dihasilkan juga semakin besar. Sedangkan daya dukung
sungai atau badan air penerima limbah domestik yang ada justru cenderung
menurun dilihat dari terus menurunnya debit sungai tersebut.
C. Sistem Sanitasi Setempat
Sistem sanitasi setempat (on-site sanitation) adalah sistem pembuangan
air limbah dimana air limbah tidak dikumpulkan serta disalurkan ke dalam suatu
jaringan saluran yang akan membawanya ke suatu tempat pengolahan air buangan
atau badan air penerima, melainkan dibuang di tempat. Sistem ini di pakai jika
syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi dan menggunakan biaya relatif rendah.
Sistem ini sudah umum karena telah banyak dipergunakan di Indonesia.
Kelebihan sistem ini adalah:
a) Biaya pembuatan relatif murah.
b) Bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun pribadi.
c) Teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana.
d) Operasi dan pemeliharaan merupakan tanggung jawab pribadi.
Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah:
a) Umumnya tidak disediakan untuk limbah dari dapur, mandi dan cuci.
b) Mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan pemeliharaan
tidak dilakukan sesuai aturannya.
D. Sistem Sanitasi Terpusat
Sistem Sanitasi Terpusat (off site sanitation) merupakan sistem
pembuangan air buangan rumah tangga (mandi, cuci, dapur, dan limbah kotoran)
yang disalurkan keluar dari lokasi pekarangan masing-masing rumah ke saluran
pengumpul air buangan dan selanjutnya disalurkan secara terpusat ke bangunan
pengolahan air buangan sebelum dibuang ke badan perairan.
E. Sistem Perpipaan Komunal
Sistem Perpipaan Komunal sesuai dengan permukiman yang
masyarakatnya memiliki kakus di masing-masing rumah, tetapi belum memiliki
tangki septick. Merupakan sistem yang mengalirkan air limbah dari rumah-rumah
melalui jaringan perpipaan ke bangunan bawah (IPAL Komunal). Pipa yang
dipergunakan adalah pipa berbahan PVC kelas AW dengan diameter 4-8 inchi dan
dilengkapi dengan manhole (80 cm x 80 cm) disetiap ujung gang dan belokan.
Setiap Sambungan Rumah (SR) dilengkapi dengan perangkap lemak dan bak
kontrol.
Lokasi pengolahan ditempatkan pada lahan yang disepakati secara
bersama, dan dapat dijangkau oleh masing-masing rumah yang berdekatan namun
harus berada pada jarak aman terhadap sumber air terdekat serta memiliki akses
untuk truk tinja. Pada pengolahan komunal ini sangat diperlukan saling pengertian
antara pemakai untuk memelihara dan memakai secara benar. Hal yang sangat
perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada sampah (tissue, pembalut wanita,
bungkus shampo atau sabun) masuk ke dalam kloset karena akan menyumbat
sistem perpipaan.
Untuk menghindari penyumbatan, bak kontrol ditempatkan:
1. Setelah jamban keluarga
2. Pada tiap 20 m
3. Ditempatkan di titik-titik pertemuan saluran.
Dengan diameter pipa dan kemiringan pipa yang digunakan diperhitungkan agar
air limbah dapat mengalir dengan lancar.
F. Teknologi Pengolahan IPAL Komunal
1. Anaerobic Baffled Reactor (ABR)
Anaerobic Baffled Reactor dapat dikatakan sebagai pengembangan
tangki septik konvensional. ABR terdiri dari kompartemen pengendap yang
diikuti oleh beberapa reaktor baffle. Baffle ini digunakan untuk mengarahkan
aliran air ke atas (upflow) melalui beberapa seri reaktor selimut lumpur
(sludge blanket). Konfigurasi ini memberikan waktu kontak yang lebih lama
antara biomasa anaerobik dengan air limbah sehingga akan meningkatkan
kinerja pengolahan. Dari setiap kompartemen tersebut akan menghasilkan gas.
Teknologi sanitasi ini dirancang menggunakan beberapa baffle vertikal
yang akan memaksa air limbah mengalir keatas melalui media lumpur aktif.
Pada ABR ini terdapat tiga zone operasional: asidifikasi, fermentasi, dan
buffer. Zone asidifikasi terjadi pada kompartemen pertama dimana nilai pH
akan menurun karena terbentuknya asam lemak volatil dan setelahnya akan
meningkat lagi karena meningkatnya kapasitas buffer. Zone buffer digunakan
untuk menjaga agar proses berjalan dengan baik. Gas methan dihasilkan pada
zone fermentasi. Semakin banyak beban organik, semakin tinggi efisiensi
pengolahannya.
ABR cocok untuk diterapkan di lingkungan kecil. Bisa dirancang
secara efisien untuk aliran masuk (inflow) harian hingga setara dengan volume
air limbah dari 1000 orang (200.000 liter/hari). ABR tidak boleh dipasang di
daerah dengan muka air tanah tinggi, karena perembesan (infiltration) akan
mempengaruhi efisiensi pengolahan dan akan mencemari air tanah. Selain itu
untuk tujuan pemeliharaan, truk tinja harus bisa masuk ke lokasi.
Kelebihan ABR:
a. Efisiensi pengolahan tinggi
b. Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun dibawah tanah
c. Biaya pembangunan kecil
d. Biaya pengoperasian dan perawatan murah dan mudah
e. Tahan terhadap beban kejutan hidrolis dan zat organik.
f. Tidak memerlukan energi listrik.
g. Grey water (air bekas mandidan cuci) dapat dikelola secara bersamaan.
h. Dapat dibangun dan diperbaiki dengan menggunakan material lokal.
i. Masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam konstruksi.
j. Umur pelayanan panjang.
Kekurangan ABR:
a. Diperlukan tenaga ahli untuk melakukan desain dan pengawasan
pembangunannya.
b. Tukang ahli diperlukan untuk pekerjaan plester kualitas tinggi
c. Memerlukan sumber air yang konstan.
d. Efluen memerlukan pengolahan sekunder atau dibuang ke tempat yang cocok.
e. Penurunan zat patogen rendah.
f. Pengolahan pendahuluan diperlukan untuk mencegah penyumbatan.
2. Anaerobic Filter
Berupa bak dengan beberapa kompartemen yang dilengkapi dengan filter
(batu vulkano, bioball, atau media lain). Air limbah akan diolah secara anaerob.
Aerobic Filter dapat terbuat dari beton maupun Glass Reinforced Fiber (GRF).
3. Aerobic Reactor
Berupa bak dilengkapi dengan pasokan oksigen. Lokasi IPAL Komunal
dapat ditempatkan didaerah terbuka yang ada di wilayah tersebut, misalnya di
badan jalan, lokasi fasilitas umum, dan lahan terbuka lainnya. Sehingga
masyarakat masih dapat menggunakan lokasi tersebut untuk beraktivitas. IPAL
Komunal hendaknya ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau oleh truk
tinja/ penyedot lumpur.
G. Pengelolaan Air Limbah di Kota Blitar
Pengolahan limbah domestik yang dilakukan di Kota Blitar menggunakan
dua sistem yaitu off site dan on site (8). Untuk sistem off site, dengan menerapkan
instalasi pengolahan limbah komunal berbasis masyarakat, sedangkan sistem on
site menggunakan tangki septik individual. Sistem off site digunakan pada
kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi sedangkan sistem on site digunakan
pada kawasan dengan kepadatan penduduk relatif rendah. Kondisi yang terjadi di
Kota Blitar.
Seringkali sistem tangki septik individual tidak diterapkan sesuai dengan
aturan yang berlaku dengan jarak aman terhadap sumber air. Masyarakat
seringkali tidak mengetahui atau memahami standar teknis pembangunan tangki
septik rumah tangga baik jarak terhadap sumur atau sumber air maupun periode
pengurasan tangki. Sampai dengan tahun 2012 jumlah sambungan rumah melalui
sarana prasarana Instalasi Pengolahan limbah komunal sebanyak 1.556 SR
( Sambungan Rumah). Sedangkan jumlah pemilik jamban/kloset pribadi menurut
Dinas Kesehatan adalah sebanyak 25.600 unit dari jumlah KK (Kepala keluarga)
di Kota Blitar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal merupakan sistem
pengolahan air limbah yang dilakukan secara terpusat yaitu terdapat bangunan
yang digunakan untuk memproses limbah cair domestik yang difungsikan secara
komunal (digunakan oleh sekelompok rumah tangga) agar lebih aman pada saat
dibuang ke lingkungan, sesuai dengan baku mutu lingkungan. Limbah cair ini
dapat dibagi 2 yaitu limbah cair kakus yang umum disebut black water dan
limbah cair dari mandi-cuci yang disebut grey water. Sistem sanitasi setempat
adalah sistem pembuangan air limbah dimana air limbah tidak dikumpulkan serta
disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan membawanya ke suatu
tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan dibuang di
tempat.
Sistem Sanitasi Terpusat merupakan sistem pembuangan air buangan
rumah tangga (mandi, cuci, dapur, dan limbah kotoran) yang disalurkan keluar
dari lokasi pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air buangan
dan selanjutnya disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air buangan
sebelum dibuang ke badan perairan. Sistem Perpipaan Komunal Merupakan
sistem yang mengalirkan air limbah dari rumah-rumah melalui jaringan
perpipaan ke bangunan bawah (IPAL Komunal). Teknologi Pengolahan IPAL
Komunal yaitu Anaerobic Baffled Reactor (ABR) , Anaerobic Filter dan Aerobic
Reactor.
B. Saran
Program pembuatan Pengolahan Air Limbah (PAL) Komunal sampai
sekarang belum semua wilayah terlaksana karena perlu biaya yang sangat besar.
Pemerintah Daerah bukan hanya mengatur dan memberikan sanksi bagi setiap
pelanggar kerusakan lingkungan, tetapi harus memberikan solusi permasalahan
kerusakan lingkungan diantaranya pemberian hibah dana guna pembuatan PAL
Komunal, sebagai solusi permasalah biaya.
DAFTAR PUSTAKA
Herlambang, Ari, et all, 2002. Publikasi Ilmiah Teknologi Pengolahan Limbah Cair
Industri, Kerjasama Pusat Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Lingkungan
BPPT Dengan Proyek Pembinaan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta.

Linsley, Ray. K, et all. 1995. Teknik Sumber Daya Air, Edisi Ketiga, Jilid 2. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Pandebesie, 2002. Pengelolaan Sistem Drainase dan Penyaluran Air Limbah, Institut
Teknologi Surabaya, Surabaya.

Prisanto D. E et all, (2015). Studi Pengelolaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air


Limbah) Domestik Komunal di Kota Blitar, Jawa Timur. Jurnal J-PAL, Vol. 6,
No. 1. hal. 74-80.

Raselawati, A. (2011). Pengaruh Perkembangan Usaha Kecil Menengah terhadap


Pertumbuhan Ekonomi pada Sektor UKM di Indonesia. Jurnal Ilmu Ekonomi
Dan Studi Pembangunan. Jakarta.

Rifai, A. 2007. Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi Pengolahan Air


Limbah Domestik Secara Komunal Di Permukiman Kota Bogor. “Jurnal JAI
Diponegoro”. Vol.3, No.2. Bogor. hal. 146-152.

Said,N.I dan S. Yudo,, 2002. Masalah Pencemaran Air di Jakarta, Sumber dan
Alternatif penanggulannya. Jurnal Teknologi Lingkungan, BPPT, Jakarta.

Zulhaikah, 2017. “Analisis Pengelolaan Air Limbah Industri Batik pada Instalasi
Pengolahan Air Limbah (Ipal) dengan Pendekatan Ergonomi Makro”. Jurnal
Unismuh Surakarta.(1) 2. Surakarta Hal. 1-10.