Anda di halaman 1dari 7

T N 1 E S 2 2 2 bl 0 4 th 2 0 1 8

BPP Teknologi
TECHNICAL NOTE

TECHNICAL NOTE 1

ES - 2.2.2
Program Manual

Pemilihan Material Reaktor Metanol dengan Low Pressure


5 - 15 MPa dan Working Temperature 200 - 3000C

WP 2.2
Rancang Bangun Produksi Metanol

WBS 2
Sintesa Metanol

Program
Inovasi dan Layanan Teknologi Bioenergi

Pusat Teknologi Sumberdaya Energi dan Industri Kimia (PTSEIK)


Teknologi Informasi, Energi, dan Material (TIEM)
BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Dibuat Oleh : Diperiksa Oleh : Disetujui Oleh :


Engineering Staf 2.2.2 Leader WP 2.2 Group Leader WBS 2

Frendy Rian Saputro, S.T Astri Pertiwi, S.T, M.T Dr. Ir. Herman Hidayat, MSi
Pemilihan Material Reaktor Metanol dengan Proses Low Pressure 5 - 15 MPa
dan Working Temperature 200 - 3000C

I. PENDAHULUAN

Pada umumnya metanol dapat diproduksi dengan hidrogenasi karbonmonoksida


ataupun karbondioksida dengan bantuan katalis. Gas CO dan H2 dapat dihasilkan dari
proses reforming gas alam maupun dari gasifikasi batubara, sementara gas CO2
dapat dihasilkan dari reaksi water-gas shift. Proses produksi metanol dari syngas
dilakukan dalam tiga tahap, yaitu persiapan syngas sebagai umpan, reaksi sintesis
metanol, dan pemurnian metanol sebagai produk. Reaksi sintesis metanol
merupakan reaksi katalitik. Secara umum, reaksi sintesis metanol pada fase gas
dengan katalis berbasis Cu adalah sebagai berikut

CO+2H2 ↔ CH3OH ΔH300K =−90,77 kJ/mol (1.1)

CO2+3H2 ↔ CH3OH+H2O ΔH300K =−49.16 kJ/mol (1.2)

Kedua reaksi diatas merupakan reaksi eksotermis dan terjadi penurunan jumlah mol
atau volum sehingga agar tercapai konversi kesetimbangan yang tinggi, secara
termodinamika, diinginkan proses yang memiliki tekanan tinggi dan suhu yang
rendah. Selain kedua reaksi diatas, terdapat reaksi lain yang dapat terjadi, yaitu
reaksi water-gas shift berikut.

CO+H2O ↔ CO2+H2 ΔH300K =+41,21 kJ/mol (1.3)

Pada sintesis metanol, jenis katalis yang digunakan mempengaruhi kondisi operasi
sintesis methanol, karena masing-masing katalis memiliki aktivitas katalitik pada
kondisi tertentu. Berdasarkan penelitian terbaru, metanol dapat diproduksi dari
hidrogenasi karbon monoksida (CO), hidrogenasi karbondioksida (CO2), dan oksidasi
parsial metana (CH4). Hingga saat ini, produksi metanol secara komersial didominasi
dari proses hidrogenasi CO.

Produksi metanol dari hidrogenasi CO secara komersial pertama kali dilakukan oleh
Badische Anilin and Soda Fabrik (B.A.S.F.) di Jerman pada tahun 1923. Pada
prosesnya digunakan tekanan tinggi dengan katalis berbasis Zn yang mengandung
ZnO/Cr2O3 (Lee, 1990). Kondisi operasi pada teknologi proses BASF ini memiliki
tekanan 250 - 350 bar dan suhu 320 - 4500C (Galluci, 2007). Perkembangan
selanjutnya, dikembangkan teknologi sintesis metanol pada tekanan rendah yang
menggantikan proses sebelumnya. Pada tahun 1966, Imperial Chemical Industries,
Ltd. (I.C.I.) mengembangkan proses sintesis metanol tekanan rendah dengan
menggunakan katalis berbasis Cu yang mengandung Cu/ZnO/Al2O3.

Proses produksi metanol digolongkan menurut beberapa tekanan yakni

1. Proses tekanan tinggi = 25 - 30 Mpa (250 - 300 atm)

2. Proses tekanan sedang = 10 - 25 Mpa (100 - 250 atm)

3. Proses tekanan rendah = 5 - 10 Mpa (50 - 100 atm)

Berikut beberapa teknologi proses yang dibuat oleh beberapa perusahaan yang
menggunakan proses tekanan rendah

A. Proses Sintesis Metanol Tekanan Rendah - ICI

Proses ini mulai dikembangkan pada tahun 1960 oleh perusahaan pengembangan proses
Imperial Industries, Ltd. Proses sintesis ini menggunakan tekanan rendah dengan katalis
berbasis Cu. Penggunaan katalis Cu sudah dikembangkan pada tahun 1920, tetapi
penggunaan katalis tersebut belum digunakan dalam proses sintesis metanol pada saat
itu. Hal tersebut dikarenakan katalis berbasis Cu dapat teracuni jika terdapat senyawa
sulfur pada umpan reactor sehingga proses sintesis metanol tekanan rendah dengan
katalis berbasis Cu dapat dikembangkan saat tersedia teknologi pemisahan sulfur dari
syngas.

Proses ini menggunakan umpan syngas yang mengandung karbon monoksida, karbon
dioksida, hidrogen, dan metana. Untuk mengatur rasio CO/H 2 digunakan shift-converter.
Umpan kemudian dinaikkan tekanannya hingga 50 atm pada kompresor jenis sentrifugal,
kemudian diumpankan ke dalam reaktor jenis quench pada suhu operasi 2700C. Quench
converter berupa single bed yang mengandung katalis pendukung yang bersifat inert .
Hasil reaksi berupa crude methanol yang mengandung air, dimetil eter, ester, besi
karbonil, dan alkohol lain. Hasil reaksi tersebut kemudian didinginkan dan crude
methanol dipurifikasi dengan cara distilasi. Dalam pengembangannya, karena
dianggap kurang menguntungkan, ICI mengganti jenis reaktor yang digunakan dari
quench reactor menjadi tube berpendingin yang pada prinsipnya sama dengan yang
digunakan oleh Lurgi (Lee, 1990).

Gambar 1.1 Diagram Proses Sintesis Metanol Tekanan Rendah - ICI

B. Proses Sintesis Metanol Tekanan Rendah - Lurgi

Pada proses sintesis metanol dengan teknologi Lurgi, digunakan reaktor yang
beroperasi pada kisaran suhu 220 - 2600C dan kisaran tekanan 40 - 100 bar. Desain
reaktor berbeda dari pendahulunya, teknologi ICI. Pada teknologi Lurgi digunakan
reaktor quasi isothermal shell and tube, reaksi metanol terjadi di tube side yang berisi
katalis dan pada shell side dialirkan air pendingin. Selain itu, pada teknologi ini,
peranan reaktor juga sebagai pembangkit steam bertekanan 40 - 50 bar (Lee,1990).

Gambar 1.2 Diagram Proses Sintesis Metanol Tekanan Rendah - Lurgi


II. Pembahasan
Dalam setiap perencanaan teknik, pemilihan material merupakan bagian penting
yang dapat menjadikan suatu desain yang efisien, aman dan ekonomis. Ada sangat
banyak jenis material yang dapat digunakan dalam aplikasi teknik. Untuk
menetapkan pilihan yang baik, ada empat tahap yang perlu dilakukan

1. Pemilihan yang berdasarkan pada sifat material yang akan digunakan.

2. Penentuan proses pembuatannya.

3. Pilihan dipersempit pada logam baja karbon, stainles steel, copper steel,
termoplastik atau termoset.

4. Pilihan material yang lebih khusus sesuai tingkat dan spesifikasinya.

Pada studi pemilihan kandidat material ini, analisis pendekatan pemilihan material
akan menggunakan diagram material batas elastisitas (elastic limits) dalam MPa
terhadap ketangguhan terhadap retak (fracture toughness) material dalam MPa(m)½
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Diagram Material Yield Strength atau Elastic Limit terhadap Fracture Toughness
Besarnya nilai fracture toughness dipengaruhi oleh ketebalan suatu material,
semakin tebal suatu material maka nilai fracture toughness akan semakin besar akan
tetapi jika tebal material melebihi batas kritis maka akan menyebabkan nilai fracture
toughness cenderung konstan. Ketebalan suatu material dipengaruhi oleh kondisi
pembebanan, jika beban yang diberikan merupakan plane strain(regangan/tarikan)
maka akan membutuhkan nilai ketebalan yang lebih besar sedangkan jika beban yang
diberikan merupakan plane stress (tekanan) maka membutuhkan nilai ketebalan
yang relatif lebih kecil. Untuk mendapatkan zona aman nilai kekuatan material
terhadap nilai retak material harus diketahui nilai stress dari suatu desain reaktor
bisa diprediksi. Jadi pemilihan material menggunakan diagram material yield
strength atau elastic limit terhadap fracture toughness belum bisa dilakukan.

Syarat lain yang harus terpenuhi dalam pemilihan material reaktor adalah
menggunakan diagram strenght-max terhadap service temperature yang ditunjukan
pada gambar dibawah ini.

zona aman

Gambar 2.2 Diagram Strenght-Max terhadap Maximum Service Temperature


Dengan memberi batasan pada service temperature yaitu 250 - 3000C dan strenght
material minimal 10 Mpa. Maka material - material foams, non technical ceramic,
polymer dan elastomer akan tereliminasi dari pemilihan material. Material yang
menjadi kandidat dalam pemilihan material reaktor metanol adalah golongan metal.
Batas maksimum temperatur telah ditetapkan yaitu 300 0C, jadi dalam kondisi ini
untuk mengakomodir tekanan maksimum 15 Mpa didalam reaktor metanol maka
material carbon steels sudah mampu menerima temperatur dan tekanan yang
ditetapkan.

Berdasarkan studi literatur pada proses produksi metanol akan menghasilkan asam
organik yang dapat merusak material reaktor. Jadi material tahan karat sangat
dianjurkan untuk pembuatan reaktor metanol. Alternatif pemilihan material bisa
menggunakan stainless steel yang pada dasarnya tahan akan karat, sesuai dengan
diagram Strenght-Max terhadap Maximum Service Temperature bahwa posisi
stainless steel berada pada posisi yang sangat aman dari kekuatan menahan
temperatur tinggi dan tekanan tinggi.

III. REFERENSI

1. Mike Ashby, "Material and Process Charts", Engineering Department Cambrige


CB2 IPZ, UK version 1.

2. Abdul Hafid, "Studi Pemilihan Material untuk Reaktor Gas Temperature Tinggi",
BATAN, Sigma Epsilon ISSN 0853-9103.

3. Farsi M., Jahanmiri A., 2011, Methanol production in an optimized dual membrane
fixed-bed reactor, Chem. Eng. Process. 50, 1177-1185 .

4. 2012 Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim


0.1002/14356007.a16_465.pub3