Anda di halaman 1dari 66

Hak

Cipta @2018


PERANGKAT
TRAINING OF TRAINER (ToT)
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TEKNIS KOMPETENSI
BAGI PENYULUH KELUARGA BERENCANA


Edisi Pertama Tahun 2018


Tim Penyusun :
Dra. Robertha Suparyanti, MM
Dra. Elly Emalia, MPd
Afif Miftahul Majid, S.Sos
Khaeri Marifah, S.Psi., M.Psi
Moh. Tohirin Hasan, MPd
Nilam Kemuning HP., SPd
Robert Ainslie, MA - JHCCP
Dinar Pandan Sari, MA - JHCCP
Arief Mochamad - JHCCP
Herni Suwartini - JHCCP
Bahtiar Fitanto - Konsultan JHCCP


Pengarah :
Drs. Ipin Zaenal Arifin Husni, MPA


Penanggung Jawab :
Jainuddin, SE
Uswatun Nisa., S.Sos, MAPS


Pelaksana Teknis :
Desnita Ekaratri Wulandari, SS, MPH


Editor :
Yufi Wini Astuti, SKM
Dewi Andayani, SPd, MSi
Hendy Noor Irawan, S.Sos, MSc


Diterbitkan oleh :
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPENDUDUKAN DAN KB
BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL
Jl. Permata No. 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur 13650
PO. BOX : 296 JKT 13013

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya, maka perangkat Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Teknis bagi Penyuluh
KB dapat terselesaikan. Perangkat diklat ini disusun sebagai upaya pengembangan kinerja,
mengefektifkan dan mengharmonisasi rancang bangun program diklat KKB yang berstandar
sesuai dengan kebutuhan unit kerja pengguna.

Kaitan dengan hal tersebut di atas, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
berupaya untuk mendukung program KKBPK melalui penguatan yang diperlukan tenaga-
tenaga Penyuluh KB yang handal dan mampu memerankan fungsinya secara optimal di
tingkat lini lapangan.

Saya menyambut baik diterbitkannya perangkat diklat Penyelenggaraan Training of Trainer
Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Teknis bagi Penyuluh KB ini sebagai upaya penting
dan strategis dalam rangka memperkuat, menyiapkan dan meningkatkan keahlian tenaga
fasilitator atau pengajar dalam memfasilitasi diklat teknis tersebut.

Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu diucapkan terima kasih atas
kontribusi, masukan, saran dan koreksi hingga tersusunnya Perangkat Pendidikan dan
Pelatihan Teknis ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi upaya kita dalam mengelola
Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga secara
profesional hingga terwujudnya Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera, dapat berjalan sesuai
harapan.

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT., Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat, taufiq
dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan perangkat diklat
Penyelenggaraan Training of Trainer Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Teknis bagi
Penyuluh KB sebagai salah satu kepentingan menjaga kualitas penyelenggaraan dan
standarisasi program diklat yang telah ditetapkan.

Sejalan dengan agenda prioritas pembangunan nasional tahun 2014 - 2019 pemerintahan
Presiden RI - Bapak Ir. Joko Widodo mengamanatkan dalam rancangan program 8 (delapan)
Agenda Nawa Cita.

BKKBN melalui mandat dalam rancangan strategis memiliki 3 (tiga) kesinambungan Agenda
Nawa Cita yaitu pada poin ke - 3 (tiga) membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan; dan poin ke - 5
(lima) meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas
pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia pintar”, serta peningkatan
kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera”
dengan mendorong land reform dan program untuk rakyat di tahun 2019, serta Nawa Cita
ke - 8 (delapan) melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali
kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan
kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti
pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air,
semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Khususnya pendekatan dari Money Follow Function menjadi Money Follow Program serta
perubahan pendekatan perencanaan pembangunaf nasional yang Holistik, Integrasi,
Tematik dan Spesial (HITS) dan adanya perubahan kewenangan pemerintah yang tercantum
dalam UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka perlu dilakukan
penyesuaian dan penyempurnaan pada RENSTRA BKKBN 2015 - 2019. Penyempurnaan
tersebut ditujukan untuk mempertajam strategi pelaksanaan program Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), agar dapat diimplementasikan
secara operasional hingga ke lini lapangan sebagai upaya peningkatan kualitas hidup
manusia Indonesia, sesuai agenda prioritas pembangunan nasional (Nawa Cita).

Dalam konteks, Holistik, program KKBPK dilaksanakan sinergi dengan mobilisasi seluruh
potensi dan sumber daya baik di lingkungan BKKBN maupun secara bersama-sama dengan
pemangku kepentingan dan mitra kerja di seluruh kegiatan wilayah. Integrasi bahwa BKKBN
mengembangkan keterpaduan dan sinergitas program kegiatan dengan lintas sektor serta
difokuskan pada wilayah Kabupaten/Kota, Kecamatan dan desa/kelurahan atau wilayah
tertentu yang menjadi prioritas. Tematik, program BKKBN difokuskan pada penurunan
angka

Fertilitas Total (TFR) untuk mengendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan
mewujudkan keluarga berkualitas. Spasial dimaksudkan bahwa BKKBN lebih fokus pada
wilayah penggarapan program KKBPK pada Kabupaten/Kota, Kecamatan dan
desa/kelurahan yang tingkat pencapaiannya di bawah standar pencapaian wilayah
diatasnya. Dalam hal ini, BKKBN menetapkan wilayah legok untuk setiap indikator target
sasaran yang telah ditetapkan pada RPJMN dan RENSTRA BKKBN 2015 - 2019.

iii

Keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga


(KKBPK) di Indonesia tidak terlepas dari kerja keras dan kerja cerdas para Penyuluh
KB/Petugas Lapangan KB (PLKB). Di tingkat lini lapangan Penyuluh KB adalah ujung tombak
Program KKBPK yang sangat besar kontribusinya sebagai pengelola dan pelaksana program
KKBPK.

Panduan ini menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan Training of
Trainer Diklat Kompetensi Teknis bagi Penyuluh KB seperti: deskripsi singkat materi sesuai
dengan rancang bangun kurikulum, sasaran dan kriteria peserta, kriteria tenaga kediklatan,
sarana prasarana dan perencanaan sampai dengan evaluasinya. Keseluruhan isi perangkat
diklat ini berupaya menjamin terselenggaranya kegiatan Diklat KKB yang berkualitas dan
memenuhi kepuasan pengguna.

Kami berharap, perangkat diklat ini dapat memberikan acuan bagi penyelenggara kegiatan
Training of Trainer Diklat Kompetensi Teknis bagi Penyuluh KB agar mampu menciptakan
kualitas yang terstandar. Hasil akhir yang dicapai adalah tersedianya tenaga fasilitator atau
pengajar dalam memfasilitasi proses belajar mengajar terkait Kompetensi Teknis bagi
Penyuluh KB.

Selanjutnya, kepada seluruh pihak yang telah membantu penyusunan perangkat diklat ini
diucapkan terima kasih dan kami sampaikan penghargaan yang setinggi- tingginya. Semoga
perangkat diklat ini bermanfaat untuk menjamin terlaksananya penyelenggaraan Training
of Trainer Diklat Kompetensi Teknis bagi Penyuluh KB yang baik dan berkualitas.


Jakarta, April 2018
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Kependudukan dan Keluarga Berencana,

Drs. Ipin ZA. Husni, MPA







iv

KATA PENGANTAR

Selama lebih dari tiga dekade, Johns Hopkins Center for Communication Programs (JHCCP)
telah menjadi mitra kerja BKKBN [Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana) di
Indonesia. Suatu kebanggaan bagi Kami untuk dapat terus melanjutkan kolaborasi ini.

Kerjasama yang panjang ini telah membuktikan sinergi yang dapat memberikan nilai
manfaat berlebih untuk masyarakat Indonesia, terutamanya kolaborasi yang terjadi di
bidang penguatan kapasitas, advokasi, dan komunikasi perubahan perilaku. Terdapat
banyak inovasi yang digagas dan dilaksanakan yang kemudian menjadi referensi bagi
pemangku kepentingan lainnya.

Sejak tahun 2015, BKKBN dan JHCCP telah bersama-sama melaksanakan Program Pilihanku
di empat provinsi percontohan di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan capaian
Keluarga Berencana dan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang. BKKBN dan
JHCCP berserta organisasi mitra telah melakukan penguatan-penguatan kapasitas kader
untuk menjadi motivator lapangan yang dapat mendorong perubahan perilaku setiap
Pasangan Usia Subur di Indonesia agar memiliki kesadaran untuk merencanakan
keluarganya demi terbangunnya generasi penerus yang berkualitas di masa akan datang.
BKKBN dan JHCCP merangkul dan secara aktif mengoptimalkan pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti pemanfaatan aplikasi telepon genggam, media
sosial, dan jejaring online lainnya agar dapat menjangkau lebih banyak lagi masyarakat
Indonesia yang membutuhkan informasi yang bermanfaat bagi dirinya.

Pelatihan Petugas KB yang tertuang dalam kesempatan ini adalah sebuah upaya untuk
mengangkat pembelajaran lapangan dan mengintegrasikannya ke dalam praktek di tingkat
nasional.

Kami berharap agar kemitraan yang erat antara JHCCP serta pemerintah Indonesia akan
terus berlanjut hingga tahun-tahun yang akan datang.

Terima kasih.



Fitri Putjuk
Kepala Perwakilan
Johns Hopkins Center for Communication Programs (CCP)
di Indonesia

DAFTAR ISI

BAB 1
Pendahuluan .......................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................ 2


B. Deskripsi Singkat ............................................................................ 2
C. Manfaat Modul .............................................................................. 2
D. Standar Kompetensi ....................................................................... 3
E. Materi Pokok .................................................................................. 3
F. Petunjuk Belajar ............................................................................. 3

BAB 2
Advokasi Program KKBPK ..................................... 5

A. Pengantar Advokasi ........................................................................ 6
B. Pengertian dan Tujuan Advokasi .................................................... 8
C. Perbedaan Advokasi dan KIE ........................................................... 10
D. Rangkuman ..................................................................................... 11
E. Latihan ............................................................................................ 12

BAB 3
KKBPK Sebagai Isu Lintas Sektor .................................... 15

A. Dampak KKBPK terhadap Sektor Lain ............................................. 16
B. Kaitan antara Target KKBPK dengan Pencapaian Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan ......................................................... 17
C. Rangkuman ..................................................................................... 19
D. Latihan ............................................................................................ 19

BAB 4
Langkah-langkah Menyusun Strategi .............................. 21

A. Merumuskan Isu Strategis .............................................................. 22
B. Menentukan Tujuan dan Sasaran yang SMART .............................. 23
C. Identifikasi Mitra Strategis & Pengambil Keputusan/Kebijakan ..... 24
D. Kenali Pengambil Keputusan/Kebijakan ......................................... 26
E. Merumuskan Permintaan ............................................................... 27
F. Menyusun Rencana Kegiatan .......................................................... 29
G. Rangkuman ..................................................................................... 31
H. Latihan ............................................................................................ 33

vi

BAB 5
Perencanaan dan Penganggaran Desa/Kelurahan ........... 35

A. Pendahuluan Kompetensi Sosial Kultural ....................................... 36
B. Proses Penyusunan Anggaran ......................................................... 37
C. Peran Penyuluh KB dalam Perencanaan dan Penganggaran
Desa/Kelurahan, Kecamatan dan Daerah ....................................... 47
D. Pemetaan Sumber Daya Daerah ..................................................... 47
E. Rangkuman .................................................................................... 48
F. Latihan ........................................................................................... 48

BAB 6
Penutup .................................................................. 51

A. Kesimpulan ..................................................................................... 52
B. Evaluasi ........................................................................................... 52

vii
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan


BAB

PENDAHULUAN
1
1
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan


A. Latar Belakang


Keberhasilan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana dan
Pembangunan Keluarga (KKBPK) antara lain ditandai dengan adanya
penurunan laju pertumbuhan penduduk, penurunan tingkat fertilitas,
peningkatan kesadaran masyarakat tentang makna keluarga kecil, bahagia
dan sejahtera. Hal ini mencerminkan betapa besarnya peran Penyuluh
Keluarga Berencana (PKB) dalam melaksanakan kegiatan Advokasi,
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)/Penyuluhan KKBPK di wilayah binaan
pada tingkat desa/kelurahan.

PKB sebagai ujung tombak program sangat strategis perannya dalam
melakukan pembinaan langsung kepada individu, keluarga dan masyarakat di
tingkat desa/kelurahan. Selain itu PKB juga perlu memastikan lingkungan
yang kondusif agar program KKBPK dapat berjalan dengan baik. Seperti
tersedianya biaya operasional PPKBD dan Sub-PPKBD, biaya untuk
mendukung kegiatan KIE di masyarakat, ada dukungan dari Kepala Desa dan
lintas sektor terkait di level desa. Oleh karena itu para PKB perlu dibekali
pengetahuan dalam melakukan pembinaan kepada individu, keluarga dan
masyarakat di tingkat desa/kelurahan, melakukan KIE/Penyuluhan KKBPK dan
melakukan advokasi di tingkat desa/kelurahan dengan mudah dan percaya
diri.

Modul Advokasi, ini dimaksudkan untuk menyiapkan PKB sebagai advokat
KKBPK di level desa/kelurahan agar dapat menciptakan lingkungan yang
kondusif bagi kegiatan KKBPK di tingkat desa/kelurahan serta mendukung
juga upaya advokasi di level kabupaten/kota.

B. Deskripsi Singkat


Modul ini membahas konsep advokasi, perbedaan advokasi dan
KIE/Penyuluhan, langkah-langkah melakukan advokasi di desa/kelurahan.
Pada akhir pembelajaran peserta diharapkan mampu melakukan Advokasi,
sesuai dengan kondisi masyarakat dan daerah yang berbeda di Indonesia.

C. Manfaat Modul


Modul ini diharapkan bermanfaat bagi para peserta diklat untuk
membekali pengetahuan tentang advokasi, sehingga dapat meningkatkan
profesionalisme sebagai advokat KKBPK di tingkat lapangan.

2
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

D. Standar Kompetensi


1. Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti mata diklat ini peserta diharapkan mampu melakukan
advokasi untuk program kependudukan dan Keluarga Berencana di tingkat
desa/kelurahan

2. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari modul ini, maka peserta dapat:
a. Memahami konsep advokasi, isu prioritas, tujuan advokasi,
menentukan sasaran advokasi dan mengemas pesan advokasi
b. Mengemas KKBPK sebagai isu lintas sektor
c. Memahami mekanisme perencanaan dan penganggaran
desa/kelurahan
d. Melakukan pemetaan sumber daya manusia, program dan kegiatan
yang ada di desa/kelurahan

E. Materi Pokok


1. Advokasi program KKBPK
2. KKBPK sebagai isu lintas sektor
3. Mekanisme perencanaan dan penganggaran desa/kelurahan
4. Pemetaan sumber daya manusia, program dan kegiatan yang ada di
desa/kelurahan

F. Petunjuk Belajar

Untuk mencapai hasil pembelajaran, peserta pelatihan perlu mengikuti
beberapa petunjuk antara lain sebagai berikut:

1. Bacalah modul ini tahap demi tahap. Pahami dengan benar materi
pada tahap awal. Lakukan pengulangan pada halaman tersebut
sampai Saudara benar-benar memahaminya.
2. Jika Saudara mengalami kesulitan dalam memahami materi pada
halaman atau sub bahasan tertentu, diskusi dengan rekan peserta
lainnya atau fasilitator yang mengampu materi modul ini.
3. Setelah selesai memahami materi pada setiap bab, saudara dapat
melakukan latihan dan/atau melakukan pengembangan kasus yang
sesuai.

3
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

4. Lakukan diskusi dengan teman sekerja, apabila sudah kembali ke


tempat kerja serta praktikan seluruh materi yang ada dalam modul
ini dalam kegiatan tugas Saudara.

4
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan


BAB

ADVOKASI PROGRAM KKBPK


2
Indikator Keberhasilan:

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan dapat


Memahami konsep advokasi KKBPK, isu prioritas, tujuan advokasi,
menentukan sasaran advokasi dan mengemas pesan advokasi ,.

5
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

A. Pengantar Advokasi

Untuk mencapai RPJMN BKKBN, program KKBPK dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten,
kecamatan dan desa, harus memastikan:

1. Tidak adanya hambatan dari sisi kebijakan dan peraturan yang dapat
menghambat pelaksanaan program KKBPK secara efektif dan maksimal
2. Tersedianya kebijakan dan peraturan yang mendukung program KKBPK
3. Tersedianya sumber daya yang dibutuhkan, baik dari segi anggaran,
kecakapan, sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang
mendukung pelaksanaan program
4. Terselenggaranya kerja sama dan koordinasi dengan baik dari segi kebijakan
maupun program/aktivitas di tingkat lapangan



Hal diatas menjadi tantangan besar karena terdapat perubahan tata kelola pemerintahan
yang berimplikasi pada perlunya strategi baru untuk meresponnya, yakni kebijakan
desentralisasi termasuk di dalam kelembagaan BKKBN. Kebijakan ini menimbulkan
konsekuensi OPD KB di tingkat kabupaten/kota dibiayai dan diatur oleh pemerintah
setempat. Kondisi ini membawa pada situasi yang tidak kondusif untuk mengembangkan
program KB yang efektif. Dari sisi pengembangan program, BKKBN nasional tidak dapat
sepenuhnya mempengaruhi keputusan di tingkat kabupaten.

advokasi
advokasi



Berdasarkan temuan lapangan, diskusi dan pengalaman implementasi program advokasi
yang tertuang dalam buku Strategi Komunikasi dan Advokasi BKKBN Tahun 2017 disebutkan
bahwa problem yang dihadapi di daerah adalah:

1. Tidak banyak pimpinan daerah yang memberi prioritas pada program KKBPK
sehingga alokasi anggaran program KKBPK juga di banyak daerah tidak mencukupi
kebutuhan program dan besar masalah KKBPK di daerah itu serta bentuk lembaga
KKBPK di daerah yang masih banyak digabungkan dengan sektor lain.

6
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

2. Oleh pemangku kepentingan daerah Program KKBPK belum dilihat sebagai program
yang berdimensi dan memiliki kemanfaatan lintas sektor, ia hanya dilihat sebagai
program alokon saja.
3. Dari sisi SDM, rekrutmen pimpinan OPD KB juga kerap tidak mempertimbangkan
kapasitas di bidang KKBPK, sehingga para pengelola kurang cakap dalam merancang
dan mengelola program. Kadang staff yang sudah terlatih, mengalami mutasi ke
kantor lain.
4. Terdapat potensi dana di daerah yang berpotensi menutup kekurangan anggaran
APBD untuk program KKBPK namun belum termanfaatkan misalnya dana-dana di
desa (dana desa, anggaran dana desa, CSR dll)
5. Masih perlu dimaksimalkannya pemanfaatan potensi besar sumber daya yang ada
di daerah selain potensi anggaran, misalnya potensi sumber daya penggerakan
(contoh: jejaring berbagai organisasi yang dapat merespon situasi kurangnya
penggerakan KB akibat tidak idealnya jumlah penyuluh KB yang tersedia), sumber
daya kecakapan (contoh: kepakaran pengembangan program komunikasi di
perguruan tinggi), sumber daya media (contoh: media yang dikelola jejaring
Kominfo), dll.

Awal Tahun 2016 Pemerintah Indonesia meluncurkan Kampung KB yang dicanangkan oleh
Bapak Presiden pada tanggal 14 Januari 2016. Tujuan dari pelaksanaan Kampung KB adalah
meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada lokasi yang terpilih melalui percepatan
kegiatan program KKBPK yang inovatif di tingkat lapangan yang diintegrasikan dengan
kegiatan sektor pembangunan lainnya. Kondisi ini akan sulit tercapai karena jumlah
penyuluh KB saat ini di Indonesia sebanyak 15.131 orang dengsan rasio 1:5 berbanding
jumlah desa/kelurahan. Dengan kondisi tersebut penyuluh KB perlu berjejaring dengan
mitra potensial yang ada di lapangan agar dapat melaksanakan program dan kegiatannya
untuk sama-sama meningkatkan kualitas hidup manusia.

Salah satu indikator BKKBN yang menunjang kualitas hidup manusia adalah jumlah rata-
rata wanita yang melahirkan selama masa reproduksinya (TFR). Hasil laporan sementara
SDKI Tahun 2017 menunjukkan angka TFR mengalami penurunan dari SDKI 2012 yaitu 2,6
menjadi 2,4 yang berarti seorang wanita di Indonesia rata-rata melahirkan 2,4 anak selama
masa reproduksinya. Tetapi TFR wanita di perkotaan (2,3) lebih rendah 0.3 dibanding di
pedesaan (2,6), artinya rata-rata wanita Indonesia yang tinggal di pedesaan rata-rata
melahirkan lebih banyak dari pada wanita Indonesia yang tinggal di perkotaan.

Berdasarkan kondisi tersebut penting untuk meningkatkan berbagai upaya mulai dari
peningkatan permintaan, memastikan pelayanan dan rantai pasok, serta menciptakan
lingkungan yang kondusif di pedesaan. Disisi lain kondisi desa sebagai tumpuan
keberhasilan pembangunan disebabkan:

7
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

1. Desa merupakan wilayah pembangunan yang strategis dan penting.


2. Apa yang terjadi di desa akan mempengaruhi situasi di tingkat yang lain,
bahkan sampai tingkat nasional.
3. Keberhasilan pembangunan di tingkat desa akan mendongkrak keberhasilan di
tingkat kabupaten, provinsi dan nasional, demikian juga sebaliknya.
4. Gagasan membangun dari pinggiran merupakan bagian dari strategi
pencapaian tujuan pembangunan nasional. (Cita ke 3 dari Nawacita Presiden).



Salah satu problem utama dari aspek advokasi adalah masih banyaknya salah pengertian
mengenai pengertian advokasi. Masih banyak pengelola program dan mitra yang
menyamakan pengertian advokasi dengan KIE. Padahal secara garis besar, kedua hal ini
berbeda secara konseptual sehingga berbeda pula dalam pengembangan strategi maupun
perancangan program/kegiatannya.

Di dalam buku Strategi Komunikasi dan Advokasi BKKBN Tahun 2017 disebutkan secara
umum kegiatan advokasi di tingkat lapangan yang kurang berhasil, umumnya disebabkan
karena:


1. Menyamakan Advokasi dengan KIE
2. Advokasi diimplementasikan hanya dengan rapat/pertemuan/audiensi saja. Setelah
pertemuan. Advokat tidak memberikan bahan yang dibagikan (pertinggal, lembar
kebijakan atau policy brief) untuk dibaca kembali oleh sasaran khalayak advokasi.
3. Lebih banyak mengungkap fakta ketimbang mendefinisikan permintaan (Fact sheet
disamakan dengan Policy brief).
4. Permintaan tidak didukung data atau konsekuensi tidak dituangkan secara kongkrit
5. Sasaran advokasi salah, karena tidak memetakan sasaran advokasi dengan akurat.
Sehingga sasaran tersebut tidak bisa mengambil keputusan yang diharapkan.
6. Menuntut saja, tidak memikirkan situasi/kondisi/kepentingan/hambatan, dll dari
sisi sasaran advokasi.

B. Pengertian dan Tujuan Advokasi




Advokasi menurut Mansour Faqih (2000) adalah media atau cara yang digunakan
dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Advokasi lebih merupakan suatu
usaha sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan
terjadinya perubahan dalam kebijakan publik secara bertahap maju.

8
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Advokasi juga merupakan langkah untuk merekomendasikan gagasan kepada orang


lain atau menyampaikan suatu isu penting untuk dapat diperhatikan masyarakat
serta mengarahkan perhatian para pembuat kebijakan untuk mencari
penyelesaiannya serta membangun dukungan terhadap permasalahan yang
diperkenalkan dan mengusulkan bagaimana cara penyelesaian masalah tersebut.


Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa advokasi adalah
aksi strategis yang ditujukan untuk menciptakan kebijakan publik yang bermanfaat
bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan merugikan
masyarakat.

Secara garis besar sebuah kampanye komunikasi suatu program


pembangunan memiliki tiga komponen yang saling berkait, saling
mempengaruhi dan saling mendukung, yaitu:
1. Komunikasi perubahan perilaku.
2. Mobilisasi sosial.
3. Advokasi.



Sumber McKee et al., 2000, McKee, 199

9
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Perbedaan Advokasi, Komunikasi Perubahan Perilaku dan Mobilisasi Sosial



Komponen Tujuan
Advokasi Mendapatkan:
• Komitmen politik dan perubahan kebijakan.
• Alokasi sumber daya dan layanan.
• Percepatan implementasi program.
• Regulasi/kebijakan.
• Fasilitas.
• Pendanaan.
• Sumber daya manusia
Mobilisasi Sosial Upaya menggerakkan semua pihak yang dapat mendukung
program untuk melakukan satu atau lebih kegiatan/program
(lembaga pemerintah, masyarakat madani (LSM, Asosiasi,
Perkumpulan, dll)).
Komunikasi Merubah/mengembangkan:
Perubahan Perilaku • Cara berfikir.
• Sikap.
• Perilaku.
Sumber: Strategi Komunikasi dan Advokasi BKKBN 2017

Dari penjelasan diatas, jelas bahwa program komunikasi perubahan perilaku atau
kerap disebut KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta program mobilisasi
sosial yang selama ini dijalankan oleh pelaku program KKBPK, sangat membutuhkan
dukungan advokasi yang kuat.

Berdasarkan tabel tersebut diatas tujuan advokasi antara lain untuk:

1. Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK baik berupa anggaran,


manusia, kecakapan, fasilitas, dll
2. Menghilangkan hambatan dari sisi kebijakan dan aturan serta tersedianya
kebijakan dan aturan yang mendukung program KKBPK
3. Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah
4. Meningkatkan visibilitas isu KB


C. Perbedaan Advokasi dan KIE




Advokasi dan KIE atau komunikasi perubahan periaku adalah dua hal yang berbeda namun
di lapangan kedua hal tersebut masih sering dilihat sebagai sesuatu yang sama. Perbedaan
Advokasi dan KIE selain dari tujuannya yang berbeda seperti yang telah disebutkan

10
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

sebelumnya, dapat dilihat berdasarkan sasaran, dampak, metode dan pelakunya seperti
yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

KIE/ Komunikasi Perubahan Perilaku Advokasi


SASARAN: SASARAN:
Pasangan Usia Subur (PUS), Remaja, Pimpinan daerah, Pengambil keputusan,
Lansia, dll Tokoh masyarakat, Tokoh agama, Pimpinan
lembaga dan organisasi

DAMPAK: DAMPAK:
• PUS menjadi akseptor, memiliki • Disetujuinya alokasi anggaran untuk
maksimal dua anak program KKBPK
• Mengunakan metoda kontrasepsi • Membuat peraturan yang mendukung
yang paling sesuai untuk dirinya program KKBPK
• Remaja menunda pernikahan dan • Tersedianya sumber daya yang
merencanakan hidup mendukung program KB
• Lansia mendukung PUS menjadi • Adanya koordinasi dan sinergi antar
akseptor dan remaja dapat program
merencanakan hidup

METODE: METODE:
• Penjangkauan dan penggerakan • Pembentukan kelompok advokat lintas
masyarakat sektor
• Promosi melalui komunikasi tatap • Menyampaikan lembar kebijakan
muka, pertemuan masyarakat, • Memberi masukan spesifik terhadap
pengajian dan kegiatan keagamaan keputusan yang akan diambil
lainnya, pertemuan PKK dan lain-lain • Advokasi melalui media pertemuan
advokasi,
Alat bantu: • Pemberian penghargaan
Leaflet, poster, iklan layanan masyarakat,
APBK, Aplikasi Smartphone/tablet Alat bantu:
lembar kebijakan, paparan singkat

D. Rangkuman

Untuk mencapai RPJMN BKKBN perlu dilakukan upaya


advokasi agar tersedia kebijakan dan peraturan yang
mendukung program KKBPK, sumber daya yang dibutuhkan,
baik dari segi anggaran, kecakapan, sumber daya manusia
serta sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan
program, adanya kerja sama dan koordinasi dengan baik dari
segi kebijakan maupun program/aktivitas di tingkat lapangan.

11
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Hal diatas menjadi tantangan besar karena terdapat perubahan tata kelola pemerintahan
yang berimplikasi pada perlunya strategi baru untuk meresponnya, yakni kebijakan
desentralisasi termasuk di dalam kelembagaan BKKBN. Kebijakan ini menimbulkan
konsekuensi OPD KB di tingkat kabupaten/kota dibiayai dan diatur oleh pemerintah
setempat. Kondisi ini membawa pada situasi yang tidak kondusif untuk mengembangkan
program KB yang efektif. Dari sisi pengembangan program, BKKBN nasional tidak dapat
sepenuhnya mempengaruhi keputusan di tingkat kabupaten.

Salah satu problem utama dari aspek advokasi adalah masih banyaknya salah pengertian
mengenai pengertian advokasi. Masih banyak pengelola program dan mitra yang
menyamakan pengertian advokasi dengan KIE. Padahal secara garis besar, ke dua hal ini
berbeda secara konseptual sehingga berbeda pula dalam pengembangan strategi maupun
perancangan program/kegiatannya.

Advokasi adalah aksi strategis yang ditujukan untuk menciptakan kebijakan publik yang
bermanfaat bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan
merugikan masyarakat, meningkatkan sumber daya untuk program KKBPK baik berupa
anggaran, manusia, kecakapan, fasilitas, dll. Koordinasi dan sinergi antara program
pemerintah dan meningkatkan visibilitas isu KB.

tujuan advokasi:
1. Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK baik berupa anggaran,
manusia, kecakapan, fasilitas, dll
2. Menghilangkan hambatan dari sisi kebijakan dan aturan serta tersedianya
3. kebijakan dan aturan yang mendukung program KKBPK
4. Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah
5. Meningkatkan visibilitas isu KB

Program komunikasi perubahan perilaku atau kerap disebut KIE (Komunikasi, Informasi dan
Edukasi) serta program mobilisasi sosial yang selama ini dijalankan oleh pelaku program
KKBPK, sangat membutuhkan dukungan advokasi yang kuat.

E. Latihan

1. Kampung KB yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia


diluncurkan pada tanggal....
a. 14 Februari 2016
b. 14 Agustus 2017
c. 14 Maret 2016
d. 14 Januari 2016
e. 14 Januari 2017


12
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

2. Menurut hasil laporan sementara SDKI Tahun 2017, menunjukkan angka TFR
mengalami penurunan dari SDKI Tahun 2012 yaitu sebesar...
a. 2,6
b. 0,2
c. 2,4
d. 0,3
e. 2,7
3. Secara garis besar sebuah kampanye komunikasi suatu program pembangunan
memiliki tiga komponen yang saling berkait, saling mempengaruhi dan saling
mendukung, yaitu....
a. Komunikasi perubahan perilaku, mobilisasi sosial, advokasi
b. Komunikasi, perubahan perilaku, mobilisasi sosial
c. Advokasi, komunikasi, perubahan perilaku
d. Perubahan perilaku, sosial, advokasi
e. Komunikasi, mobilisasi sosial, advokasi
4. Tujuan advokasi antara lain adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK
b. Menghilangkan hambatan dari sisi kebijakan dan aturan
c. Tersedianya kebijakan dan aturan yang tidak mendukung program KKBPK
d. Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah
e. Meningkatkan visibilitas isu KB
5. Sasaran advokasi adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Kepala desa
b. Pimpinan Lembaga
c. Ketua RT/RW
d. Tokoh Agama
e. Remaja

13
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

14
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

BAB

KKBPK SEBAGAI ISU


LINTAS SEKTOR
Indikator Keberhasilan:
3
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan
dapat mengemas KKBPK sebagai isu lintas sektor

15
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

A. Dampak KKBPK terhadap Sektor Lain




Benarkah KKBPK sebagai isu lintas sektor?
1. Kegagalan KB akan menarik kebawah capaian di sektor pembangunan lain
2. Keberhasilan KB akan memberikan fundamental kuat untuk mencapai target
pembangunan di sektor lain

Permasalahan dari sisi pengelolaan program KKBPK ini berdampak pada situasi dan capaian
program KKBPK baik secara subnasional maupun nasional. Ini pada gilirannya, akan
memberi dampak pada sektor pembangunan lain.

Ilustrasi
Kondisi Kependudukan Kabupaten XXX: Proyeksi kenaikan jumlah penduduk
kabupaten xxx
Tahun 2010 - 2015

1. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten 4000000

XXX sebesar 2,56 %


3500000

3000000

2. Jumlah penduduk pada Tahun 2010 2500000

2000000 Tahun

adalah 3.111.602 1500000


Jumlah Penduduk
1000000

3. Proyeksi penduduk dibuat dengan asumsi 500000

0
tidak ada perubahan yang berarti dalam Tahun
1
2010
2
2011
3
2012
4
2013
5
2014
6
2015
Jumlah Penduduk 3,111,602 3,181,924 3,253,836 3,327,372 3,402,571 3,479,469

program KKBPK

Selama 5 Tahun akan ada 419.206 kelahiran bayi di Kabupaten XXX


Konsekuensi dari kelahiran bayi tersebut antara lain:

1. Dari segi kesehatan, pemerintah kabupaten/kota harus mengeluarkan
biaya kesehatan anak selama lima Tahun sekitar Rp. 244 M (Biaya
imunisasi per anak hingga usia 5 Tahun adalah Rp. 581.855,83,
Kementerian Kesehatan RI)
2. Penyediaan lapangan kerja harus sesuai dengan tingkat pertumbuhan
penduduk.
3. Anak yang putus sekolah akan masuk bursa tenaga kerja lebih awal
(tanpa keterampilan dan kompetensi)
4. Semakin sering seorang ibu melahirkan akan menyebabkan:
meningkatkan resiko kematian ibu dan bayi, Menurunkan kesempatan
perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
5. Potensi permasalahan sosial semakin tinggi yang mengakibatkan
terganggunya stabilitas keamanan
6. Upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan menjadi sulit tercapai.
7. Kualitas layanan umum, tingkat kemakmuran, indeks kebahagiaan, dan
lain-lain

16
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Seandainya program KKBPK berhasil dan kelahiran bayi yang dapat dicegah sebanyak
51.339 selama lima Tahun di Kabupaten XXX, maka :
Pemerintah daerah dapat menghemat dana untuk imunisasi bayi sekitar Rp. 30 M selama
lima Tahun.

Dampak Positif dari adanya efesiensi anggaran tersebut antara lain:



1. Mengalihkan penambahan fasilitas sekolah menjadi peningkatan kualitas
pendidikan
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
3. Meningkatkan kualitas layanan kesehatan
4. Meningkatkan SDM dan IPM
5. Kemanan negara terjamin
6. Serta sektor-sektor lain


B. Kaitan antara Target KKBPK dengan


Pencapaian Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan

Diagram yang dikembangkan oleh Bappenas dibawah ini, menunjukkan keterkaitan antara
program KKBPK dengan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dalam gambar
dibawah terlihat 10 dari 18 tujuan pembangunan berkelanjutan sangat erat kaitannya
dengan program KKBPK.


10 tujuan yang erat kaitannya dengan pencapaian KKBPK antara
lain:

1. Tujuan pertama: Mengentaskan segala bentuk kemiskinan
2. Tujuan kedua: Menghentikan kelaparan, meningkatkan ketahanan pangan dan
nutrisi serta mempromosikan pertanian yang berkelanjutan
3. Tujuan Ke tiga: Menjamin kehidupan yang sehat dan mempromosikan
kesejahteraan bagi semua penduduk dalam segala usia
4. Tujuan Keempat: Menjamin pendidikan inklusif dan merata serta mempromosikan
kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua
5. Tujuan kelima: Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua
perempuan dan anak perempuan
6. Tujuan ke-enam: Menjamin ketersediaan dan manajemen air bersih serta sanitasi
yang berkelanjutan untuk semua

17
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

7. Tujuan ke-tujuh:Mempromosikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang


inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh serta
pekerjaan yang layak bagi semua.
8. Tujuan ke-delapan: Membangun infrastruktur yang tangguh, mempromosikan
industry yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi
9. Tujuan ke-sembilan: Mengambil aksi nyata untuk menghadapi perubahan iklim dan
dampaknya
10. Tujuan ke-sepuluh: Melindungi, mengembalikan , mempromosikan pemanfaatan
ekosistem yang berkelanjutan. Manajemen hutan yang berkelanjutan. Memerangi
kekeringan, menghentikan dan mengembalikan degradasi lahan serta
menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati




Kaitan antara Target KB dengan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Goal 15: Goal 2:


Melindungi, Mengembalikan Goal 1: Menghentikan
dan Mempromosikan
Pemanfaatan Ekosistem yang Mengentaskan Kelaparan,
Meningkatkan
Berkelanjutan, Manajemen
Hutan yang Berkelanjutan,
Segala Bentuk Ketahanan Pangan
Memerangi Kekeringan, Kemiskinan dan Nutrisi, serta
Menghentikan dan
Mengembalikan Degradasi Mempromosikan
Lahan serta Menghentikan Pertanian
Kehilangan Keanekaragaman Berkelanjutan
Hayati

Goal 13: Goal 3:


Mengambil Aksi Menjamin Kehidupan
Nyata untuk yang Sehat dan
Menghadapi Mempromosikan
Perubahan Iklim dan Target Kesejahteraan Bagi
Semua Penduduk
Dampaknya
dalam Segala Usia

Goal 9:
Membangun
Keluarga Goal 4:
Menjamin Kualitas
Pendidikan yang

Berencana
Infrastruktur yang
Tangguh, Inklusif dan Merata
Mempromosikan serta
Industri yang Inklusif Mempromosikan
dan Berkelanjutan Kesempatan Belajar
serta Mendorong Sepanjang Hayat bagi
Inovasi Goal 7: Semua
Mempromosikan
Keberlanjutan Goal 5:
Pertumbuhan Goal 6: Mencapai Kesetaraan
Ekonomi yang Inklusif Menjamin Gender dan
dan Berkelanjutan, Memberdayakan
Kesempatan Kerja
Ketersediaan dan
Manajemen Air Semua Perempuan
yang Produktif dan
Menyeluruh, serta Bersih serta Sanitasi dan Anak Perempuan
Pekerjaan yang Layak yang Berkelanjutan
Bagi Semua untuk Semua

Sumber: Deputi Kementerian PPN/Bappenas, Bidang Pembangunan Manusia,


Masyarakat, dan Kebudayaan

18
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Hal-hal diatas hanya bisa terjadi, jika dilakukan upaya yang sistematis dan terukur untuk
mendapatkannya. Upaya itu berupa program advokasi KKBPK yang berdimensi lintas
sektoral. Hal ini mengingat peran strategis KKBPK dimana keberhasilannya akan memberi
fundamen yang kuat bagi pencapaian tujuan program di sektor lain, sebaliknya tujuan
pembangunan di sektor lain ini akan sangat sulit dicapai jika program KKBPK tidak berjalan
sebagaimana mestinya.

C. Rangkuman

KKBPK sebagai isu yang berdimensi lintas sektor: kegagalan KB


akan menarik kebawah capaian di sektor pembangunan lain,
keberhasilan KB akan memberikan fundamental kuat untuk
mencapai target pembangunan di sektor lain.

Permasalahan dari sisi pengelolaan program KKBPK berdampak


pada situasi dan capaian program KKBPK baik secara
subnasional maupun nasional. Ini pada gilirannya, akan
memberi dampak pada sektor pembangunan lain. Sehinga diperlukan upaya yang
sistematis dan terukur agar program KKBPK berhasil mencapai target sesuai yang telah
ditetapkan di dalam RPJMN maupun RPJMD.

Upaya itu berupa program advokasi KKBPK yang berdimensi lintas sektoral. Hal ini
mengingat peran strategis KKBPK di mana keberhasilannya akan memberi fundamen yang
kuat bagi pencapaian tujuan program di sektor lain, sebaliknya tujuan pembangunan di
sektor lain ini akan sangat sulit dicapai jika program KKBPK tidak berjalan sebagaimana
mestinya.

D. Latihan

1. Permasalahan dari sisi pengelolaan program KKBPK


akan berdampak pada situasi dan capaian program
KKBPK secara...
a. Sub sektor
b. Sub nasional
c. Sub sektor dan sektor
d. Sub nasional dan sub sektor
e. Sub nasional dan nasional


19
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

2. Dampak positif dari adanya efesiensi anggaran antara lain adalah sebagai berikut,
kecuali...
a. Peningkatan fasilitas pendidikan
b. Pengingkatan jumlah pengangguran
c. Peningkatkan kualitas sumber daya manusia
d. Peningkatkan kualitas layanan kesehatan
e. Peningkatkan SDM dan IPM
3. Dalam diagram yang di kembangkan oleh Bappenas, berapakah tujuan yang erat
kaitannya dengan pencapaian KKBPK?
a. 13
b. 18
c. 10
d. 6
e. 12

20
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

BAB

LANGKAH-LANGKAH
MENYUSUN STRATEGI
advokasi
Indikator Keberhasilan:
4
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan
dapat Memahami isu strategis, menentukan tujuan dan sasaran
yang SMART, identifikasi mitra advokasi dan pengambil
keputusan/kebijakan, kenali pengambil keputusan, merumuskan
permintaan advokasi, menyusun rencana kerja.

21
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

A. Merumuskan Isu Strategis




Dalam merumuskan isu strategis, kita perlu mengenali masalah yang ada dalam KKBPK dan
apa yang menyebabkan masalah itu terjadi. Masalah bisa dilihat dari pencapaian program
KKBPK dibandingkan target berdasarkan RPJMD. Misalnya capaian CPR Kabupaten XXX 55%
dibandingkan target RPJMD Kabupaten XXX sebesar 60%. Berdasarkan kondisi yang ada,
dicari apa yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi, mengapa masalah itu terjadi dan
bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.
Untuk mencari penyebab masalah di dalam setiap program apapun termasuk program
KKBPK area intervensinya tidak terlepas dari 3 hal antara lain:

1. Perubahan perilaku terdiri dari:


a. Pengetahuan, sikap dan perilaku
b. Materi KIE nya, apakah efektif atau tidak
c. Jumlah tenaga penyuluh lapangan dan tenaga penggerak di
lapangan
2. Akses pada layanan yang berkualitas, terdiri dari:
a. Kualitas konseling mengenai metoda KB yang tepat untuk klien
b. Kecakapan petugas kesehatan dalam memberikan lanyanan
KB? metoda kontrasepsi jangka panjang, KB pasca persalinan
c. Ketersediaan alokon yang memadai
d. Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang
memadai
3. Lingkungan yang mendukung, meliputi aspek:
a. Peraturan/kebijakan yang mendukung
b. Nilai, norma di masyarakat
c. Pembiayaan kegiatan
d. Regulasi terkait peningkatan kapasitas SDM
e. Koordinasi dengan program lain

22
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Contoh:
Rendahnya CPR di kabupaten XXX dibandingkan target RPJMD hal ini
disebabkan beberapa hal antara lain:
1. Terbatasnya anggaran operasional PPKBD dan Sub PPKBD
2. Kemampuan Poktan (kelompok Kegiatan) melakukan konseling kespro
dan konseling KB masih rendah.
3. Terbatasnya jumlah penyuluh lapangan
4. Belum terlatihnya bidan desa untuk melakukan layanan KB MKJP

Keempat faktor tersebut menjadi isu strategis untuk masalah Rendahnya CPR
di Kabupaten XXX dibandingkan target RPJMD.

B. Menentukan Tujuan dan Sasaran yang SMART


Dalam menyusun strategi advokasi terlebih dahulu perlu


menentukan tujuan jangka panjang, sasaran jangka pendek
yang SMART.

Tujuan Jangka Panjang: Sebuah hasil jangka panjang untuk
menggambarkan keseluruhan misi atau tujuan suatu
program, biasanya didukung oleh beberapa tujuan jangka
pendek/sasaran yang SMART. Tujuan jangka panjang ini
mengacu kepada target RPJMD program KB.

Contoh:
Pada Tahun YYYY Pengguna MKJP meningkat dari xx% menjadi xx% dan peserta KB
menggunakan metoda yang tepat sesuai kebutuhan.

Sasaran yang SMART: Pernyataan singkat yang menggambarkan hasil spesifik yang
diinginkan dalam jangka pendek untuk mendukung tujuan program jangka panjang. Dalam
menentukan tujuan/sasaran SMART kita mencoba menjawab bagaimana menyelesaikan isu
strategis yang telah di rumuskan sebelumnya yang menyebabkan tidak tercapainya
target/tujuan jangka panjang.

Sasaran SMART ini merupakan tujuan advokasi kita. Berdasarkan contoh isu strategis yang
telah dirumuskan, cari upaya yang paling memungkinkan dan SMART (Specific, Measurable,
Attainable, Relevant, Time bound).
Ingat kembali penjelasan mengenai tujuan advokasi antara lain meliputi:
1. Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK baik berupa anggaran, manusia,
kecakapan, fasilitas, dll

23
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

2. Menghilangkan hambatan dari sisi kebijakan dan aturan serta tersedianya kebijakan
dan aturan yang mendukung program KKBPK
3. Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah
4. Meningkatkan visibilitas isu KB

Contoh :
1. Pembiayaan kegiatan penjangkauan KKBPK melalui dana di desa sebesar
Rp xxxx per desa pada Tahun xxxx untuk pelatihan poktan dan
operasional PPKBD dan Sub PPKBD.
2. Bekerja sama dengan organisasi XX, YY, ZZ dalam melatih kader-kadernya
mengenai KIE KB serta mekanisme operasional KB pada Tahun xxxx
3. Menaikkan anggaran KB di OPD KB menjadi Rp xxxx dan OPD Kesehatan
menjadi Rp xxx untuk produksi materi KIE, peningkatan kualitas
penjangakuan dan konseling pada Tahun xxxx
4. Mengembangkan forum koordinasi antara organisasi yang bekerja di
bidang KB untuk memaksimalkan kegiatan penjangkauan dan layanan
pada Tahun xxxx

C. Identifikasi Mitra Advokasi dan Pengambil


Keputusan/Kebijakan

Didalam melakukan advokasi kita seringkali perlu mengajak mitra yang dapat mendukung
tercapainya tujuan advokasi. Kriteria dalam memilih mitra advokasi antara lain:

Orang-orang yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan advokasi, orang-orang yang
dihormati yang secara strategis dan selektif menginformasikan kepada pengambil
keputusan/kebijakan dan memperkuat komitmen mereka terhadap tindakan kebijakan.
Orang-orang dengan pengaruh, koneksi, dan akses terhadap pengambil
keputusan/kebijakan yang penting untuk mencapai perubahan kebijakan yang signifikan.

Orang-orang yang mempunyai keahlian secara profesional, seperti yang ahli dalam
perencanaan keluarga, pembuatan kebijakan, manajemen rantai pasok, layanan KB.
Mereka adalah informan kunci yang mengidentifikasi peluang advokasi dan memberikan
bukti terkait kebijakan berdasarkan pengalaman dan keahlian mereka.

Para petugas di Lini lapangan, Orang-orang yang mempunyai pengalaman di lini lapangan
yang bekerja sehari-hari untuk isu KKBPK. Mereka mempunyai keterampilan dan
kemampuan untuk mengatur dan memotivator para stakeholder potensial, melaksanakan

24
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

rencana advokasi agar tujuan jangka panjang program KKBPK tercapai dan menerapkan
perubahan kebijakan untuk program KKBPK.

Langkah-langkahnya:
1. Identifikasi stakeholder yang mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan, orang-
orang yang mempunyai keahlian, orang-orang di lini lapangan.
Berdasarkan contoh tujuan advokasi seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu:
Pembiayaan kegiatan penjangkauan KKBPK melalui dana di desa sebesar Rp xxxx/ per
desa pada Tahun xxxx untuk pelatihan poktan dan operasional PPKBD dan Sub PPKBD.
langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi stakeholder yang mempunyai pengaruh, mempunyai keahlian dan
petugas lini lapangan terhadap pencapaian tujuan tersebut antara lain:
Camat, TP PKK, Kepala Desa, Tokoh masyarakat, Tokoh agama, PPKBD, Sub
PPKBD, Pendamping Desa, Bidan Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa,
Dinas KB, Bupati
b. Tentukan siapa yang akan dijadikan mitra advokasi dan pengambil keputusan
berdasarkan identifikasi stakeholder tersebut.
Kriterianya:
1) Siapa saja stakeholder yang sudah mendukung dan siap bertindak untuk
pencapaian tujuan advokasi dijadikan mitra advokasi.
2) Siapa stakeholder yang pengaruhnya besar untuk mengeluarkan kebijakan dan
mengambil keputusan terkait pencapaian tujuan advokasi dijadikan sasaran
advokasi.
Misalnya didalam contoh diatas:
a) Mitra advokasi antara lain: TP PKK, Tokoh masyarakat/Tokoh agama, PPKBD,
Sub PPKBD dan pendamping desa, Kasie Advokasi
b) Pengambil keputusan/kebijakan:Bupati, Camat, Kepala Desa, Kepala Dinas
Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kepala Dinas OPD KB

2. Selanjutnya berdasarkan pemetaan tersebut terutama pemetaan pengambil
keputusan/kebijakan, petakan relasi hubungan antar stakeholder. Siapa berpengaruh
terhadap siapa terutama untuk memotivasi pengambil keputusan/kebijakan bergerak.
Bisa saja stakeholder yang mampu mempengaruhi pengambil keputusan/kebijakan
bertindak bisa berasal dari mitra advokasi.

3. Apabila pengambil keputusan ada beberapa tentukan siapa pengambil
keputusan/kebijakan akhir, misalnya untuk advokasi dana desa dapat dipergunakan
untuk mendukung program KKBPK. Jawabannya adalah Kepala Desa. Namun perlu di
lihat lagi siapa yang dapat mempengaruhi dan memotivasi kepala desa dalam membuat
keputusan/kebijakan. Misalnya kepala desa akan tergerak untuk membuat
kebijakan/keputusan bahwa dana desa bisa untuk mendukung program KKBPK ketika
adanya Payung Hukum yang jelas seperti Peraturan Bupati tentang pengelolaan dana
di desa, sehingga sasaran utama advokasi untuk tujuan advokasi pembiayaan kegiatan
penjangkauan KKBPK melalui dana di desa sebesar Rp xxxx per desa pada Tahun xxxx
untuk pelatihan poktan dan operasional PPKBD dan Sub PPKBD. adalah Bupati.

25
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

4. Petakan OPD mana yang mempunyai peran dalam menyusun Peraturan Bupati terkait
pengelolaan dana di desa secara rutin setiap Tahun. Biasanya Dinas Pemberdayaan
Masyarakat Desa (PMD). Dinas PMD merupakan sasaran antara untuk advokasi dana di
desa.

5. Selanjutnya setelah mengetahui sasaran antara advokasi dana di desa adalah Dinas
PMD maka untuk berkoordinasi perlu melakukan advokasi kepada Dinas KB Kabupaten

6. Bentuk kelompok/tim kerja yang terdiri dari Mitra Advokasi. Kelompok kerja ini bisa di
level Desa, Kecamatan maupun Kabupaten untuk memudahkan proses advokasi.


Catatan:
Di dalam melakukan advokasi Penyuluh KB tidak bekerja sendiri,
apabila advokasinya ke Kepala OPD lain atau ke Bupati silahkan

berkoordinasi dengan OPD KB Kabupaten atau ke Pokja/Tim Kerja

Advokasi Kabupaten/Kota apabila sudah ada Kelompok/Tim Kerja

Advokasi tingkat Kabupaten/Kota


D. Kenali Pengambil Keputusan/ Kebijakan


Setelah ditentukan siapa pengambil keputusan/kebijakan yang akan kita advokasi terkait
tujuan advokasi, kita perlu mengenal siapa pengambil keputusan/kebijakan tersebut.
Lakukan pemetaan pengambil keputusan/kebijakan sebagai berikut:

1. Latar belakangnya, minat perhatiannya, nilai yang diyakininya (Misalnya pendidikan,


kesehatan,kesejahteraan masyarakat, pertanian, teknik dan pembangunan dan lain-
lain)
2. Pengetahuannya terkait KKBPK apakah sudah sangat paham atau masih perlu
ditingkatkan
3. Pernyataan-pernyataan terkait KKBKP, apakah mendukung atau menentang
4. Siapa saja lingkungan sosial dan politiknya. Terhadap pernyataan siapa yang paling
berpengaruh atau menjadi perhatiannya
5. Apakah ada keinginan untuk bertindak terhadap isu yang menjadi perhatian pengambil
keputusan/kebijakan dan terhadap isu KKBPK

Berdasarkan pemetaan untuk mengenal pengambil keputusan/kebijakan tentukan juga
pendekatan yang perlu dilakukan terhadap pengambil keputusan/kebijakan, apakah perlu
memberikan informasi dasar terkait KKBPK. Apabila pengambil keputusan/kebijakan sudah
memahami isu KKBPK, perlu dibangun keinginan untuk bertindak terkait tujuan advokasi
yang telah ditentukan sebelumnya.

26
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Tiga hal yang perlu di lakukan agar pengambil keputusan/kebijakan bertindak:

1. Siapkan informasi yang diperlukan, bisa saja pengambil


keputusan/kebijakan tidak mengetahui isu KKBPK atau mengetahui tetapi
belum menjadi prioritas dibanding isu lain. Perlu disiapkan informasi
bahwa isu KKBPK adalah isu yang penting dan apa kaitannya isu KKBPK
dengan isu yang menjadi minat/perhatian pengambil
keputusan/kebijakan. Siapkan ilustrasi terkait KKBPK sebagai isu lintas
sektor, kaitkan dengan isu yang menjadi minat pengambil
keputusan/kebijakan.

2. Mendorong untuk bertindak, perlu disiapkan apa yang paling mungkin


untuk menyakinkan pembuat keputusan/kebijakan mencapai tujuan
advokasi. Apa yang paling mudah yang dapat dilakukan pembuat
keputusan/kebijakan membuat perbedaan dan bertindak, apakah sejalan
dengan minat dan perhatiannya. Apa yang menjadi keberatan pembuat
keputusan/kebijakan untuk bertindak. Apa manfaatnya bagi pembuat
keputusan/kebijakan.

3. Akui kepeminpinan, setelah pembuat keputusan/kebijakan bertindak,


ucapkan terima kasih dan akui kepemimpinanya misalnya dengan
menyampaikan bahwa berkat kepemimpinan dan tindakan yang dilakukan
telah berhasil menyelamatkan kematian ibu dan balita, meningkatkan
kesejahteraan keluarga dan mengentaskan kemiskinan.

Catatan:

Di dalam menentukan/identifikasi pembuat keputusan/kebijakan perlu


mencantumkan nama bukan hanya jabatan. Semakin mengenal pembuat
keputusan/kebijakan permintaan advokasi yang akan di kemas semakin
akurat.

E. Merumuskan Permintaan

advokasi
Berdasarkan informasi sebelumnya kita mengenali pembuat keputusan/kebijakan,
selanjutnya tentukan bagaimana pesan yang telah disusun tersebut akan disampaikan.
1. Argumentasi secara rasional: menggunakan data-data yang berhubungan (evidence
based) yang dapat dituangkan kedalam lembar kebijakan (Policy brief)
2. Argumentasi secara emosional: menggunakan foto, cerita atau video
3. Argumentasi secara etika: menggunakan pendekatan berdasarkan hak asasi
manusia

27
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Selanjutnya semua pemetaan yang telah dilakukan disusun menjadi satu


rangkaian informasi yang lengkap antara lain:
1. Identifikasi pengambil keputusan/kebijakan
2. Hal-hal yang menjadi perhatian utama pengambil keputusan/kebijakan
3. Hal-hal yang menjadi keberatan pengambil keputusan/kebijakan terhadap
tujuan advokasi, siapkan tanggapan terhadap keberatan tersebut
4. Rumuskan permintaan/pesan advokasi yang SMART
5. Rumuskan manfaat apa yang di dapat oleh pengambil keputusan/kebijakan
terhadap keputusan/kebijakan yang akan diambil



Setiap pengambil keputusan/kebijakan dibuat satu rangkaian informasi yang lengkap
seperti ini.
Selanjutnya tetapkan siapa yang akan menyampaikan pesan terhadap pengambil
keputusan/kebijakan tersebut.
Contoh:
1. Identifikasi pengambil keputusan/kebijakan: Bapak Aman Kepala Desa Siaga
2. Hal-hal yang menjadi perhatian utama Bapak Aman: pembangunan desa dan
kesejahteraan masyarakat
3. Hal-hal yang menjadi keberatan dan tanggapan atas keberatan Bapak Aman:
a. Keberatan: Perlu payung hukum yang jelas,
b. Tanggapan:
1) Akan disiapkan Peraturan Bupati terkait pengelolana dana Desa, di
dalamnya ada pasal yang mencantumkan bahwa dana di desa bisa untuk
mendukung kegiatan Keluarga Berencana.
2) Sudah ada Permendes PDTT no 19 Tahun 2017 mengenai pengelolaan
dana di desa dan di dalam lampiran menyebutkan bahwa dana di desa
bisa untuk mendukung kegiatan Keluarga Berencana
4. Rumuskan permintaan/pesan advokasi yang SMART: Kepala desa mengalokasikan
pembiayaan kegiatan penjangkauan KKBPK melalui dana di desa siaga sebesar Rp
xxxx pada Tahun xxxx untuk pelatihan poktan dan operasional PPKBD dan Sub
PPKBD.
5. Rumuskan manfaat apa yang didapat oleh pengambil keputusan/kebijakan
terhadap keputusan/kebijakan yang akan diambil. Apabila masyarakat Desa YYY
sudah mengikuti program KB maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
pembangunan desa berkelanjutan dan kinerja Bapak Aman sebagai Kepala Desa
dinilai bagus oleh masyarakat. Hal ini akan memberi peluang untuk terpilih lagi
pada periode Pilkades berikutnya.

28
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

F. Menyusun Rencana Kegiatan




advokasi
Sebelum menyusun rencana kegiatan advokasi perlu dilakukan
analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threats).
Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal maupun eksternal
yang digunakan sebagai dasar untuk merancang strategi dan
program kerja. Analisis internal meliputi penilaian terhadap faktor
kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) kelompok/tim
kerja antara lain meliputi sumber daya keuangan, waktu, data yang
diperlukan, sumber daya manusia. Sementara, analisis eksternal
mencakup faktor peluang (Opportunity) dan tantangan (Threats) yang ada di luar
tim/kelompok kerja meliputi sumber daya anggaran, waktu, jejaring, peraturan/kebijakan,
sumber daya manusia.

Dalam menentukan kegiatan perlu diperhatikan beberapa pertanyaan berikut:


1. Bagaimana aktivitas tersebut akan mendukung tujuan kita?
2. Apa hubungannya dengan hal yang dianggap penting oleh pengambil
keputusan?
3. Apakah aktivitas itu sepadan dengan waktu dan uang yang dibutuhkan?
4. Apakah kegiatan tersebut diperlukan untuk mencapai keberhasilan kecil dalam
waktu dekat?
5. Apakah aktivitas tersebut SMART?

Selanjutnya tentukan indikator keberhasilan, terdiri dari:


1. Output (keluaran)— Apakah anda telah melaksanakan semua kegiatan advokasi
dalam rencana kerja anda?
2. Outcome (hasil)—Apakah anda telah mencapai sasaran/tujuan yang SMART? Untuk
mencapai tujuan jangka panjang akan ditempuh melalui beberapa sasaran/tujuan
jangka pendek yang SMART
3. Impact (dampak)— Apakah tujuan jangka panjang telah tercapai? Tujuan jangka
panjang ini bisa dilihat dari Tujuan RPJMD kabupaten/kota untuk KKBPK.

29
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Catatan:
Sebuah proses advokasi adalah proses yang panjang sampai tujuan,
beberapa hasil cepat yang diperoleh pada saat melaksanakan rencana
kerja advokasi perlu dicatat sebagai keberhasilan-keberhasilan kecil untuk
memotivasi tim/kelompok kerja advokasi.

Misalnya:
1. Kepala desa menyetujui akan mengalokasikan dana desa untuk
mendukung program dan kegiatan KKBPK
2. Kepala Dinas PMD menyetujui untuk menambahkan pasal yang
menyebutkan dana desa bisa untuk mendukung kegiatan KKBPK
3. Draft Peraturan Bupati tentang pengelolaan dana desa sudah selesai
dikonsultasikan ke bagian hukum


Susun rencana kegiatan advokasi berdasarkan tujuan/sasaran SMART.

Monitoring dan evaluasi:
1. Apa tindakan segera kita setelah pertemuan ini?
2. Meninjau tugas dan langkah berikutnya
3. Menindaklanjuti kemajuan melalui telepon atau bertemu langsung
4. Mengevaluasi kemajuan dibandingkan dengan ukuran keberhasilan, untuk memastikan
bahwa kita berada dijalur yang tepat

Format rencana kerja advokasi:

Sasaran SMART Langkah/ Perkiraan Biaya Penanggung Jadwal Sumber dana


Aktivitas Jawab
Aktivitas:

Output:
Aktivitas:

Output:

Aktivitas:

Output:

Aktivitas:

Output:

Aktivitas:

Output:






30
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Contoh kegiatan advokasi pemanfaatan dana di desa untuk Program KKBPK di desa:

Persiapan Advokasi Pasca Mendapatkan Hasil

Mempelajari UU terkait Pertemuan dengan Pembentukan Tim KB Desa


kewenangan desa dan MOU Dispermades dan APDESI,
antara BKKBN dan serta pihak terkait lain
Kemendes
Mengembangkan menu Penyusunan RAPBDes Pelatihan Tim KB Desa
program KKBPK yang dapat
didanai oleh dana di desa
Mengembangkan lembar Proses legal formal Pokja Pengembangan rencana
kebijakan untuk advokasi Advokasi KKBPK kerja Tim KB Desa
Membentuk Pokja Advokasi Memantau alokasi dana
KKBPK
Memantau implementasi
rencana kerja Tim KB Desa
Recording & reporting

G. Rangkuman

Penyuluh KB harus memperhatikan langkah-langkah menyusun


strategi advokasi antara lain: merumuskan isu strategis,
menentukan tujuan dan sasaran yang SMART, identifikasi mitra
advokasi dan pengambil keputusan/kebijakan, kenali pengambil keputusan, merumuskan
permintaan advokasi, menyusun rencana kerja.

Dalam merumuskan isu strategis, kita perlu mengenali masalah yang ada dalam KKBPK dan
apa yang menyebabkan masalah itu terjadi. Untuk mencari penyebab masalah didalam
setiap program apapun termasuk program KKBPK area intervensinya tidak terlepas dari 3
hal antara lain:

31
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

• Pengetahuan, Sikap, perilaku?


• Materi KIE yang efektif?
• Jumlah Penyuluh KB dan tenaga
Peningkatan penggerak di lapangan terbatas
Permintaan

KKBPK
Lingkungan Layanan
yang dan Rantai • Kualitas konseling
mengenai metoda KB yang
kondusif Pasok tepat untuk klien?
• Peraturan/Kebijakan? • Kecakapan petugas
• Nilai, norma di masyarakat? kesehatan dalam memberi
layanan KB? MKJP? KBPP?
• Pembiayaan kegiatan?
• Ketersediaan alokon yang
• Regulasi terkait peningkatan memadai
kapasitas SDM • Ketersediaan sarana dan
• Koordinasi dengan program lain prasarana kesehatan yang
meadai



Setelah merumuskan isu strategis dalam menyusun strategi advokasi perlu menentukan
tujuan jangka panjang, sasaran jangka pendek yang SMART. (Specific, Measurable,
Attainable, Relevant, Time bound).
Tujuan Jangka Panjang: Sebuah hasil jangka panjang untuk menggambarkan keseluruhan
misi atau tujuan suatu program, biasanya didukung oleh beberapa tujuan jangka
pendek/sasaran yang SMART.

Sasaran yang SMART: Pernyataan singkat yang menggambarkan hasil spesifik yang
diinginkan dalam jangka pendek untuk mendukung tujuan program jangka panjang
Langkah selanjutnya adalah mengenal pengambil keputusan/kebijakan dan merumuskan
permintaan/pesan advokasi yang SMART dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi pengambil keputusan/kebijakan
2. Hal-hal yang menjadi perhatian utama pengambil keputusan/kebijakan
3. Hal-hal yang menjadi keberatan pengambil keputusan/kebijakan terhadap tujuan
advokasi, siapkan tanggapan terhadap keberatan tersebut
4. Rumuskan permintaan/pesan advokasi yang SMART
5. Rumuskan manfaat apa yang di dapat oleh pengambil keputusan/kebijakan terhadap
keputusan/kebijakan yang akan diambil




32
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Dalam menyusun rencana kegiatan advokasi perlu


dilakukan analisa internal dan eksternal SWOTH
(Strength, Weakness, Opportunity, and Threats).
Analisis SWOT adalah analisis kondisi internal
maupun eksternal yang digunakan sebagai dasar
untuk merancang strategi dan program kerja.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menyusun
rencana kerja advokasi antara lain: Bagaimana
aktivitas tersebut akan mendukung tujuan kita?,
Apa hubungannya dengan hal yang dianggap penting oleh pengambil keputusan?, Apakah
aktivitas itu sepadan dengan waktu dan uang yang dibutuhkan dan yang tersedia?, Apakah
kegiatan tersebut diperlukan untuk mencapai keberhasilan kecil dalam waktu dekat?,
Apakah aktivitas tersebut SMART?

H. Latihan

1. Dalam menyusun strategi advokasi terlebih dahulu perlu


menentukan tujuan jangka panjang, sasaran jangka pendek
yang SMART. SMART merupakan singkatan dari...
a. Specific, Measurabel, Attainable, Relevant, Time bound
b. Specific, Measurabel, Achievable, Realistic, Timely
c. Speacific, Moderate, Attainable, Relevant, Time bound
d. Specific, Measurabel, Achievable, Relevant, Timely
e. Specific, Moderate, Attainable, Relevant, Time bound
2. Kriteria dalam memilih mitra advokasi adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Orang-orang yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan advokasi
b. Orang yang mempunyai keahlian dalam perencanaan keluarga secara
profesional
c. Orang yang mempunyai keahlian dalam manajemen rantai pasok
d. Orang yang tidak memiliki keahlian secara profesional
e. Orang yang bertugas di lini lapangan
3. Apabila pengambil keputusan/kebijakan sudah memahami isu KKBPK, perlu
dibangun keinginan untuk bertindak terkait dengan tujuan advokasi. Hal yang perlu
dilakukan agar pengambil keputusan/kebijakan segera bertindak adalah...
a. Menyiapkan informasi yang diperlukan dan mendorong untuk segera bertindak
b. Menyiapkan informasi yang diperlukan dan membicarakan kepada pengambil
keputusan/kebijakan tersebut
c. Mengakui kepemimpinananya
d. Menyiapkan informasi, mengakui kepemimpinannya dan mendorong untuk
bertidak
e. Menyiapkan informasi, membicarakan kepada pengambil keputusan dan
mendorong untuk bertindak

33
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

4. Sebelum menyusun rencana kegiatan advokasi perlu dilakukan...


a. Analisa internal
b. Analisa eksternal
c. Analisa SMART
d. Analisa SWOT
e. Analisa peluang
5. Indikator keberhasilan dari sebuah rencana advokasi terdiri dari..
a. Input, output, outcome
b. Input, output, impact
c. Input, outcome, impact
d. Output, outcome
e. Output, outcome, impact

34
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

BAB

PERENCANAAN DAN
PENGANGGARAN
DESA/KELURAHAN,
KECAMATAN DAN
Indikator Keberhasilan:
5
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan
dapat memahami mekanisme perencanaan dan penganggaran
desa/kelurahan, kecamatan dan daerah, Peran Penyuluh KB
dalam perencanaan, pengangaran desa/kelurahan, kecamatan
dan daerah, Pemetaan sumber daya program dan kegiatan

35
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

A. Pendahuluan Kompetensi Sosial Kultural




Transparansi anggaran secara umum telah mulai menggeliat sejak Reformasi pada tahun
1997 dengan dikeluarkannya UU Nomor 22 Tahun 2000 mengenai Otonomi Pemerintahan
Daerah. Tuntutan atas peran serta masyarakat dalam pembangunan, khususnya dalam
perencanaan dan penganggaran telah meningkatkan kebijakan dan pelaksanaan
transparansi dan partisipasi masyarakat. Mekanisme perencanaan juga telah
mengakomodir transparansi dan partisipasi masyarakat dalam wadah Musrenbang baik di
tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai dengan di tingkat nasional.
Forum SKPD juga wajib untuk menyertakan masyarakat ataupun perwakilan masyarakat
sebagai pemangku kepentingan dalam penentuan perencanaan program dan kegiatan,
pengalokasian anggaran, sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya untuk bidang terkait.



Dengan diterbitkannya UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
(KIP), ada kewajiban pemerintah dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi
mengenai anggaran pemerintahan sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan.
Pemerintah dituntut untuk membuka informasi pembangunan, khususnya memberikan
informasi anggaran dan membuka peluang bagi partisipasi masyarakat dalam proses
pembangunan, sedangkan masyarakat diharapkan dapat menelaah informasi anggaran
yang disampaikan dan berpartisipasi dalam memberikan masukan pemikiran, tenaga, dan
kontribusi lainnya sebagai bagian dari proses pembangunan itu sendiri.

Dengan demikian selain perlu dipastikan keterbukaan atau transparansi yang harus
dilaksanakan oleh pemerintah dalam penganggaran, sementara masyarakat perlu
mengetahui apa itu penganggaran, bagaimana mekanismenya, dan seberapa jauh dapat
berpartisipasi dalam proses pembangunan terkait dalam perencanaan dan penganggaran.
Modul ini disusun untuk memberikan informasi tersebut agar dapat terjalin kerjasama dan
partisipasi yang seimbang antara pemerintah dan masyarakat secara umum dalam bidang
penganggaran.

36
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan


Penyuluh KB salah satu tupoksinya melakukan advokasi untuk mendapatkan dukungan
kebijakan, anggaran, jejaring dan lain-lain. Sehubungan advokasi untuk mendapatkan
dukungan pendanaan, penyuluh KB perlu mengetahui mekanisme perencanaan dan
penganggaran mulai dari desa, kecamatan sampai daerah.

Salah satu tantangan terbesar advokasi adalah kalender perencanaan dan penganggaran.
Dengan memahami mekanisme perencanaan dan penganggaran desa, kecamatan dan
Daerah penyuluh KB bisa mengetahui kalender perencanaan dan penganggaran kapan
harus berkomunikasi tentang apa dan berhubungan dengan siapa.

B. Proses Penyusunan Anggaran


1. Proses Penyusunan anggaran




Proses anggaran tidak terlepas dari proses perencanaan. Dalam proses perencanaan
disusun program dan kegiatan dalam jangka panjang, menengah, dan Tahunan dengan
mengacu pada visi, misi, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan. Dokumen hasil
perencanaan dibagi dalam Perencanaan Jangka Panjang (PJP), Perencanaan Jangka
Menengah (PJM) dan Perencanaan Tahunan yang disusun dalam bentuk Rencana Kerja
Pernerintah (RKP). Di tingkat unit kerja memiliki Rencana Strategis K/L atau SKPD untuk
jangka menengah dan Rencana Kerja (Renja) K/L atau SKPD untuk perencanaan Tahunan.


Proses penyusunan anggaran diawali dengan penyusunan KUA PPAS (Kebijakan Umum
Anggaran dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara). KUA mengadopsi program dan
kegiatan dari RKPD, PPAS merupakan plafon anggaran per program yang berdasarkan
estimasi pendapatan pada Tahun rencana. KUA dan PPAS sebagai acuan bagi K/L atau OPD
dalam menyusun RKA K/L atau OPD dengan memperhatikan Renja K/L atau OPD yang telah
disusun sebelumnya.

Seluruh RKA K/L atau SKPD dan rencana pembiayaan lainnya akan menjadi Rancangan APB
untuk kemudian disampaikan kepada legislatif (Dewan) untuk pembahasan akhir. Dari hasil
pembahasan dengan Dewan, dilakukan beberapa penyesuaian sebelum RAPBN/D menjadi

37
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

APBN/D. Berdasarkan hasil pembahasan akhir APBN/D, unit kerja menyusun kembali RKA
untuk kemudian menjadi bahan bagi penyusunan Penjabaran APBN/D.
Alur Perencanaan Program dan Penganggaran



2. Peran masyarakat dalam proses penganggaran
anggaran?

Dalam proses perencanaan dan penganggaran, terjadi komunikasi dan mekanisme kerja
yang sinergi antara pemerintah, masyarakat atau perwakilan masyarakat, dan legislatif atau
DPR. Pada bagan di bawah, terlihat bagaimana mekanisme penyusunan dokumen
perencanaan dan penganggaran yang secara teknis disusun oleh pihak eksekutif,
disampaikan dan dibahas dengan pihak legislatif, juga melibatkan masyarakat atau
perwakilan masyarakat secara partisipatif.

Dalam proses perencanaan dan penganggaran, eksekutif menyiapkan data, program dan
kegiatan, dan rencana pembiayaan untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat
untuk mendapatkan masukan dan informasi terkait dengan kebutuhan atas pelayanan
dasar, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan ekonomi lokal untuk diintegrasikan
dengan rencana induk program pemerintahan dan pembangunan (daerah). Sarana yang
digunakan adalah melalui Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) baik di
tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan juga di tingkat nasional, selain itu juga
melalui sarana lainnya seperti pertemuan resmi antara pemerintah dan masyarakat, talk
show di televise, radio, maupun sarana media massa dan internet.

38
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan




Peran Warga, Pemerintah dan DPRD dalam Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif

Eksekutif • Nota Kesepakatan


• Pembahasan Legislatif
• Penyediaan RAPBD
data dan • Penetapan APBD • Regulasi
Informasi • Pengawasan
• Asistensi Teknis
• Pelaksanaan &
Monev

• Pengambilan • Komunikasi Politik


Keputusan
• Kesepakatan
Masyarakat Sipil

• Konsolidasi
partisipan
• Agregasi
kepentingan
• Memiliki preferensi
• Memiliki delegasi


Secara umum, peranan masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran adalah;
a. Menerima informasi rancangan awal perencanaan dan penganggaran
b. Konsolidasi partisipan untuk menyikapi informasi yang diterima
c. Melakukan agregasi kepentingan terkait dengan informasi dan kebutuhan atas
pelayanan dasar dan pembangunan
d. Memilih preferensi di antara beberapa alternatif untuk kemudian disampaikan dan
diusulkan dalam proses perencanaan pembangunan dan penganggarannya
e. Memilih delegasi yang akan mewakili masyarakat baik untuk proses perencanaan
(musrenbang Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional} dan proses
pembiayaannya atau penganggaran dalam forum stakeholder atau KL/SKPD
f. Delegasi melakukan komunikasi politik dengan legislatif untuk kemudian
mempengaruhi secara positif proses pengambilan keputusan dan kesepakatan
dengan pihak pemerintah dalam proses awal dan akhir perencanaan pembangunan
dan penganggarannya, seita memastikan tetap terjalinnya komunikasi politik dengan
legislatif untuk pengesahan anggaran pembangunan.

3. Hal yang perlu diperhatikan dalam penganggaran

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan dan penganggaran
partisipastif antara lain dibawah ini:

39
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

a. Konsep perencanaan dan penganggaran partisipatif dan berbasis kinerja. Walaupun


selalu disebutkan bahwa ada korelasi antara perencanaan dan penganggaran, tetapi
sampai dengan saat ini, belum terjadi integrase yang utuh antara konsep perencanaan
dan penganggaran. Konsep perencanaan lebih ditekankan pada prinsip partisipatif
dalam penyusunan programnya melalui musrenbang, dengar pendapat, dan lainnya,
tetapi belum mengutamakan indikator kinerja yang konsisten dalam program dan
kegiatan yang disusun.

Idealnya adalah, perencanaan program dan kegiatan telah memiliki indikator kinerja
yang telah ditetapkan baik dalam jangka panjang, menengah, dan Tahunan beserta
sumber pembiayaannya dalam proses yang transparan dan partisipatif dengan
stakeholder (masyarakat sipil dan legislatif).

Dengan demikian masyarakat memahami akan kemana pembangunan nasional atau
daerah dalam jangka panjang, menengah, dan Tahunan dan apa indikator capaian yang
direncanakan dan disepakati dalam jangka waktu tersebut. Setidaknya, indikator
kinerja ini tercantum dalam perencanaan jangka menengah (RPJMN/D) yang
merupakan program kerja Kepala Negara atau Kepala Daerah dalam masa
pemerintahannya. Perencanaan jangka menengah yang berdasarkan proses transparan
dan partisipatif, yang mengandung program dan kegiatan dengan indikator kinerja dan
rencana pembiayaannya lebih lanjut akan dijabarkan dan "ditajamkan" dalam proses
perencanaan Tahunan. Hasil dari proses perencanaan Tahunan ini akan menjadi acuan
untuk penyusunan anggaran Tahunan yang lebih lanjut akan disesuaikan dengan
kapasitas fiskal yang ada.

b. Urusan Wajib dan Urusan Pilihan
PP 38 Tahun 2007 adalah Peraturan Pemerintah yang membagi Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota. Urusan Pertahanan dan Keamanan, Urusan Luar Negeri, dan
Urusan Agama tetap menjadi urusan Pemerintah Pusat. Sedangkan urusan Iainnya
diserahkan menjadi kewenangan Pemerintah Daerah yang pembagiannya diatur dalam
Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang akan ditetapkan oleh masing
masing Kementerian dan Instansi Pemerintah terkait. Urusan tersebut lebih lanjut
dibagi menjadi 2, yaitu Urusan Wajib dan Urusan Pilihan.

Berdasarkan UU no 23 Tahun 2014, Keluarga Berencana merupakan salah satu urusan
wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar yang diotonomikan. Seperti yang
dapat dilihat pada grafik berikut

40
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

UU 23 Tahun 2014
U R U S A N P E M E R I N TA H A N YA N G D I O T O N O M I K A N

WAJIB
PILIHAN
berkaitan
dengan tidak berkaitan dengan
pelayanan dasar pelayanan dasar

1. penataan ruang;
1. Pendidikan; 2. pertanahan;
3. pembangunan daerah; 1. kelautan dan
2. Kesehatan; 4. koperasi, usaha kecil, dan perikanan;
3. Pekerjaan menengah; 2. pariwisata;
umum; 5. penanaman modal; 3. pertanian;
6. kepemudaan dan olah raga;
4. Sosial; 7. pemberdayaan masyarakat;
4. kehutanan;
5. ketentraman dan 8. pemberdayaan perempuan; 5. energi dan
ketertiban umum 9. lingkungan hidup; sumberdaya
10.ketahanan pangan; mineral;
serta 11. kependudukan dan pencatatan 6. perdagangan;
perlindungan sipil;
7. perindustrian;
masyarakat; dan 12.keluarga berencana;
13.tenaga kerja; dan
6. Perumahan 14.perlindungan anak; 8. transmigrasi.
15.Perhubungan
16.statistik;
17.persandian;
18.kebudayaan;
19.Perpustakaan;
20.kearsipan; dan
21.Kawasan Perbatasan Antar Negara
22.komunikasi dan informatika



Masyarakat perlu memastikan bahwa urusan wajib dilaksanakan dan disampaikan oleh
pemerintah (daerah) yang merupakan hak bagi masyarakat untuk mendapatkan
pelayanannya minimal secara standar nasional (SPM). Urusan pilihan juga perlu
dipertimbangkan disesuaikan dengan potensi, kondisi sosial ekonomi saat ini dan ke
depan, serta kapasitas fiskal dan SDM yang ada. Lebih lanjut juga perlu diperhatikan
pembagian kewenangan antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam pemberian
pelayanan. Contohnya adalah untuk pelayanan pengadaan dan perbaikan jalan dan
jembatan. Ada jalan lingkungan yang menjadi kewenangan wajib kabupaten/kota, ada
jalan penghubung antar kabupaten/kota yang menjadi kewenangan provinsi, dan ada
jalan penghubung antar provinsi yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat
(Kementerian Pekerjaan Umum). Dalam menyampaikan usulan atau advokasi program
dan kegiatan terhadap pemerintah, perlu diperhatikan dan dipisahkan yang merupakan
kewenangan dan kewajiban masing masing tingkatan pemerintahan sehingga hasilnya
menjadi lebih efektif.

c. Pelayanan Dasar (SPM) dan Non Pelayanan Dasar Pelayanan Dasar adalah jenis
pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pemerintahan. Pelayanan dasar adalah
merupakan fungsi utama adanya pemerintahan sebagai sarana untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat melalui sumber pembiayaan negara (kekayaan alam,
tambang, mineral) dan yang diperoleh dari masyarakat (pajak, cukai, retribusi).

41
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Dari sekian banyak pelayanan dasar tersebut, terdapat beberapa pelayanan dasar yang
ditetapkan sebagai pelayanan dasar yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah dengan
standar pelayanan pada tingkat minimal yang telah ditentukan. Pelayanan dasar yang
ditentukan tersebut disebut sebagai SPM atau Standar Pelayanan Minimal. Sampai
dengan saat ini SPM ditetapkan dalam 14 sektor pelayanan. SPM adalah adalah
ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib
daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. SPM ditetapkan oleh
pemerintah melalui kementerian teknis terkait, dan dilaksanakan oleh Pemerintah
Daerah.

Pemerintah Provinsi wajib melaksanakan 6 sektor SPM dan Pemerintah Kabupaten dan
Kota wajib melaksanakan 15 sektor SPM yang telah ditetapkan tersebut. SPM sebagai
salah satu pengukuran kinerja, wajib dimasukkan dalam program perencanaan dan
penganggaran pemerintah (daerah). Dengan demikian, SPM juga akan menjadi program
dan kegiatan yang disusun, diajukan, dan ditetapkan dalam dokumen perencanaan
(Renja SKPD, Renstra SKPD, RKPD, RPJMD) dan dokumen penganggaran (KUAPPAS,
RAPBD, APBD, dan RKA-SKPD). Lebih lanjut program dan kegiatan SPM akan menjadi
bagian yang tak terpisahkan dalam pelaksanaan anggaran dan pertanggung jawabannya.

Sebagai pelayanan dasar yang bersifat wajib, SPM harus menjadi prioritas utama untuk
disusun dan disahkan program dan kegiatan serta alokasi anggarannya, setelah alokasi
anggaran belanja umum (gaji, belanja operasional dan pemeliharaan umum), karena
merupakan hak dasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanannya dari pemerintah.

4. Perencanaan dan Penganggaran Desa/Kelurahan


Perencanaan pembangunan desa adalah proses tahapan kegiatan yang diselenggarakan
oleh pemerintah desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga
desa, dan unsur masyarakat secara partisipatif guna pemanfaatan dan pengalokasian
sumber daya desa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan desa.

Sebagai konsekuensi dari pembangunan desa dan pembangunan kawasan perdesaan, desa
harus menyusun perencanaan pembangunan sesuai dengan kewenangannya dengan
mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten. Dokumen rencana pembangunan
desa merupakan satu-satunya dokumen perencanaan di desa dan sebagai dasar
penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa). Perencanaan
pembangunan desa diselenggarakan dengan mengikutsertakan masyarakat desa melalui
musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbang desa).

Musrenbang desa akan menetapkan prioritas, program, kegiatan, dan kebutuhan
pembangunan desa yang didanai oleh APB Desa, swadaya masyarakat desa, dan/atau
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota berdasarkan penilaian
terhadap kebutuhan masyarakat desa.

42
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Prioritas, program, kegiatan, dan kebutuhan pembangunan desa dirumuskan


berdasarkan penilaian terhadap kebutuhan masyarakat desa yang meliputi:
a. Peningkatan kualitas dan akses terhadap pelayanan dasar.
b. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan lingkungan berdasarkan
kemampuan teknis dan sumber daya lokal yang tersedia.
c. Pengembangan ekonomi pertanian berskala produktif.
d. Pengembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk kemajuan
ekonomi.
e. Peningkatan kualitas ketertiban dan ketenteraman masyarakat berdasarkan
kebutuhan masyarakat desa.

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 114 Tahun 2014
tentang Pedoman Pembangunan Desa, tahapan penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa meliputi:
a. Kepala desa membentuk tim penyusun RPJM desa
b. Tim penyusun RPJM desa melakukan penyelarasan arah kebijakan
c. Pembangunan kabupaten/kota
d. Pengkajian keadaan desa
e. Penyusunan rencana pembangunan desa melalui musyawarah desa
f. Penyusunan rancangan RPJM desa
g. Perencanaan pembangunan desa
h. Penetapan dan perubahan RPJM desa



Perencanaan pembangunan di desa dan penyusunan RKP Desa dapat dilihat pada diagram
di bawah ini, perkiraan waktu akan disesuaikan kembali di daerah:

MUSRENBANGDES
•DILAKSANAKAN OLEH BPD
BERSAMA PEMERINTAH DESA
DAN LEMBAGA KEMASY.
DESA, PADA BULAN JUNI • PRIORITAS
•HASIL à KESEPAKATAN • PROGRAM
PERENCANAAN PEMB DESA • KEGIATAN
• KEBUTUHAN
• USULAN
MUSYAWARAH DESA

OUT
PUT

RANCANGAN:
RKPDESA à Akhir 1.RPJMDESA 6 THN
JULI
September (PERDES) 2.RKPDESA 1 THN


Sumber: Kemendesa PDTT

43
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

PENYUSUNAN RKP DESA


JUNI

BPD MUSYAWARAH DESA


JULI PAGU INDIKATIF DESA

PEMDES
MUSRENBANG DESA

RANCANGAN RKPDESA

SEPTEMBER PERDES RKPDESA

OKTOBER PAGU DEFINITIF DESA


PEMDES PRIORITAS BELANJA DESA
PEMDES RANCANGAN APBDESA

31 DES = PERDES APBDESA


DESEMBER

Sumber: KemendesaPDTT

Untuk kelurahan mekanismenya berbeda, kelurahan harus mengikuti tahapan perencanaan
dan penganggaran daerah seperti yang terlihat pada diagram di bawah ini:
TAHAPAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
DAERAH

Diskusi dan Kesepakatan


Usulan KUA
Penyusunan
Teknokratis RKPD 5 6
Keputusan tentang
7 PPAS
Musrenbang 4
Kota
3a Penyusunan RKA-
8 SKPD
Forum SKPD 3
Pembahasan Rancangan
Musrenbang Kecamatan2
9 APBD

10 Penetapan
1 Perda APBD
Aspirasi Kepentingan
Musrenbang
Warga/Masyarakat Kelurahan Politis



Sumber: Bahan paparan Bappeda Kota Medan

44
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

5. Kepala Desa Membentuk Tim Penyusun RPJM Desa




Tim Penyusun RPJM Desa terdiri dari: (1) Kepala Desa selaku pembina; (2) Sekretaris Desa
selaku ketua; (3) Ketua Lembaga pemberdayaan masyarakat selaku sekretaris; dan (4)
anggota yang berasal dari perangkat Desa, lembaga pemberdayaan masyarakat, kader
pemberdayaan masyarakat Desa, dan unsur masyarakat lainnya. Jumlah tim paling sedikit 7
(tujuh) dan orang dan paling banyak 11 (sebelas) orang. Tim ditetapkan berdasarkan
Keputusan Kepala Desa.
Sedangkan tugas Tim Penyusun RPJM Desa adalah:
a. Penyelarasan arah kebijakan pembangunan kabupaten/kota dengan pembangunan
desa
b. Pengkajian keadaan desa
c. Penyusunan rancangan RPJM Desa; dan
d. Penyempurnaan rancangan RPJM Desa.

6. Tim penyusun RPJM Desa Melakukan Penyelarasan Arah Kebijakan Pembangunan
Kabupaten/Kota


Tujuan: Mengintegrasikan program dan kegiatan pembangunan kabupaten/kota dengan
pembangunan desa.
Isi arah informasi arah kebijakan pembangunan kabupaten/kota:
a. Rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota
b. Rencana strategis satuan kerja perangkat daerah;
c. Rencana umum tata ruang wilayah kabupaten/kota;
d. Rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten/kota; dan
e. Rencana pembangunan kawasan perdesaan.

7. Pengkajian Keadaan Desa


Tujuan: mempertimbangkan kondisi objektif desa dan keadaan desa.
Langkah kerja:
a. Penyelerasan data desa.
b. Penggalian gagasan masyarakat; dan Penyusunan laporan hasil pengkajian keadaan desa
Output: Bahan masukan dalam musyawarah desa dalam rangka penyusunan perencanaan
pembangunan desa.

8. Penyusunan Rencana Pembangunan Desa melalui Musyawarah Desa


Badan Permusyawaratan esa menyelenggarakan musyawarah Desa berdasarkan laporan
hasil pengkajian keadaan desa. Musyawarah desa dilaksanakan terhitung sejak diterimanya
laporan dari kepala Desa.
Hal-hal yang dibahas dan disepakati dalam musyawarah desa yaitu:
Laporan hasil pengkajian keadaan desa;
a. Rumusan arah kebijakan pembangunan desa yang dijabarkan dari visi dan misi kepala
Desa;
b. Rencana prioritas kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa,
c. Pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat
desa.

45
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

Musyawarah desa Dilakukan dengan diskusi kelompok secara terarah yang dibagi
berdasarkan bidang penyelenggaraan pemerintahan Desa, pembangunan desa, pembinaan
kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

Diskusi kelompok membahas sebagai berikut:
a. Laporan hasil pengkajian keadaan desa;
b. Prioritas rencana kegiatan desa dalam jangka waktu 6 (enam) Tahun;
c. Sumber pembiayaan rencana kegiatan pembangunan desa;
d. Rencana pelaksana kegiatan desa yang akan dilaksanakan oleh perangkat desa, unsur
masyarakat desa, kerjasama antar desa, dan/atau kerjasama Desa dengan pihak ketiga.
Output: Hasil kesepakatan dalam musyawarah desa dituangkan dalam berita acara dan
menjadi pedoman bagi pemerintah desa dalam menyusun RPJM Desa.

9. Penyusunan Rancangan RPJM Desa

Tahapan:
a. Tim penyusun RPJM Desa menyusun rancangan RPJM Desa berdasarkan berita acara
hasil kesepakatan desa dan dituangkan dalam format rancangan RPJM Desa dan
dilampiri dokumen rancangan RPJM Desa.
b. Berita acara disampaikan oleh tim penyusun RPJM Desa kepada kepala desa.
c. Kepala desa memeriksa dokumen rancangan RPJM Desa yang telah disusun oleh
d. Tim Penyusun RPJM Desa, jika ada perbaikan rancangan RPJM Desa dikembalikan
kepada tim penyusun RPJM Desa. Dalam hal rancangan RPJM Desa telah disetujui oleh
kepala desa, dilaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan desa.

Rancangan RPJM Desa memuat visi dan misi kepala desa, arah kebijakan pembangunan
desa serta rencana kegiatan yang meliputi Bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa dan Pemberdayaan
Masyarakat Desa.

10. Penyusunan Rencana Pembangunan Desa melalui Musyawarah Perencanaan
Pembangunan Desa

Kepala desa menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan desa yang
diadakan untuk membahas dan menyepakati rancangan RPJM Desa. Musyawarah
perencanaan pembangunan desa diikuti oleh pemerintah desa, Badan Permusyawaratan
Desa, dan dan unsur masyarakat (tokoh adat, agama, masyakarakat, pendidikan,
perwakilan kelompok tani, nelayan, pengrajin, perempuan, dan lain-lain sesuai kondisi
sosial budaya masyarakat). Musyawarah perencanaan pembangunan desa membahas dan
menyepakati rancangan RPJM Desa dan dituangkan dalam berita acara.



46
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

11. Penetapan dan Perubahan RPJM Desa



Tahapan:
a. Kepala desa mengarahkan tim penyusun RPJM Desa melakukan perbaikan dokumen
rancangan RPJM Desa berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah perencanaan
pembangunan desa.
b. Rancangan RPJM Desa menjadi lampiran rancangan peraturan desa tentang RPJM Desa.
c. Kepala desa menyusun rancangan peraturan desa tentang RPJM Desa dibahas dan
disepakati bersama uleh kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa untuk
ditetapkan menjadi Peraturan Desa tentang RPJM Desa.
d. Kepala desa dapat mengubah RPJM Desa dalam hal:
1) Terjadi peristiwa khusus, seperti bencana alam, krisis pulitik, krisis ekonomi,
dan/atau kerusuhan sosial yang berkepanjangan; atau
2) Terdapat perubahan mendasar atas kebijakan Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan/atau pemerintah daerah kabupaten/kota.
e. Perubahan RPJM Desa dibahas dan disepakati dalam musyawarah perencanaan
pembangunan desa dan selanjutnya ditetapkan dengan peraturan desa.

C. Peran Penyuluh KB dalam Perencanaan dan


Penganggaran Desa/Kelurahan, Kecamatan & Daerah

Peran penyuluh KB didalam melakukan advokasi perencanaan dan penganggaran
desa/kelurahan, kecamatan dan daerah adalah melakukan inisiasi pembentukan
Tim/Kelompok Kerja Advokasi di daerahnya, membantu menyusun strategi dan rencana
kerja advokasi. Apabila sudah terbentuk Tim/Pokja Advokasi KKBPK di daerahnya, peran
penyuluh KB adalah membantu perencanaan dan penganggaran di desa dan kelurahan
melalui pendampingan Musrenbang desa/kelurahan dan kecamatan. Melakukan advokasi
kepada kepala desa, lurah dan camat sebelum Musrenbang berlangsung.

D. Pemetaan Sumber Daya Daerah



Salah satu kegiatan yang perlu dilakukan oleh Tim/Kelompok Kerja Advokasi adalah
membuat pemetaan sumber daya baik program dan kegiatan sampai di tingkat
desa/kelurahan. Tujuannya agar dapat mendampingi kepala desa/lurah/camat pada saat
Musrenbang dalam rangka sinergi lintas program dan kegiatan sesuai dengan rencana kerja
masyarakat.

Langkah yang perlu dilakukan adalah berkoordinasi dengan Bappeda untuk berdiskusi
mengenai program dan kegiatan yang ada di daerah, kecamatan, kelurahan dan desa.
Berdasarkan infomasi yang dibuat tabel sinergi program dan kegiatan untuk kampung KB.
Mengapa Kampung KB? Karena program kerja lintas sektor terkait sejalan dengan amanat
presiden tentang Kampung KB.

Contoh dapat dilihat pada lampiran


47
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

E. Rangkuman

Transparansi anggaran secara umum telah mulai menggeliat sejak
Reformasi pada tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU Nomor 22
Tahun 2000 mengenai Otonomi Pemerintahan Daerah. Tuntutan atas
peran serta masyarakat dalam pembangunan, khususnya dalam
perencanaan dan penganggaran telah meningkatkan kebijakan dan
pelaksanaan transparansi dan partisipasi masyarakat. Mekanisme perencanaan juga telah
mengakomodir transparansi dan partisipasi masyarakat dalam wadah Musrenbang baik di
tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai dengan di tingkat nasional.
Forum SKPD juga wajib untuk menyertakan masyarakat ataupun perwakilan masyarakat
sebagai pemangku kepentingan dalam penentuan perencanaan program dan kegiatan,
pengalokasian anggaran, sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya untuk bidang terkait.

Penyuluh KB salah satu tupoksinya melakukan advokasi untuk mendapatkan dukungan


kebijakan, anggaran, jejaring dan lain-lain. Sehubungan advokasi untuk mendapatkan
dukungan pendanaan, penyuluh KB perlu mengetahui mekanisme perencanaan dan
penganggaran mulai dari desa, kecamatan sampai daerah. Salah satu tantangan terbesar
advokasi adalah kalender perencanaan dan penganggaran. Dengan memahami mekanisme
perencanaan dan penganggaran desa, kecamatan dan

Daerah penyuluh KB bisa mengetahui kalender perencanaan dan penganggaran kapan


harus berkomunikasi tentang apa dan berhubungan dengan siapa.

Dalam proses perencanaan dan penganggaran, terjadi komunikasi dan mekanisme kerja
yang sinergi antara pemerintah, masyarakat atau perwakilan masyarakat, dan legislatif atau
DPR. Pada bagan di bawah, terlihat bagaimana mekanisme penyusunan dokumen
perencanaan dan penganggaran yang secara teknis disusun oleh pihak eksekutif,
disampaikan dan dibahas dengan pihak legislatif, juga melibatkan masyarakat atau
perwakilan masyarakat secara partisipatif. Masyarakat perlu memastikan bahwa urusan
wajib dilaksanakan dan disampaikan oleh pemerintah (daerah) yang merupakan hak bagi
masyarakat untuk mendapatkan pelayanannya minimal secara standar nasional (SPM).
Urusan pilihan juga perlu dipertimbangkan disesuaikan dengan potensi, kondisi sosial
ekonomi saat ini dan ke

depan, serta kapasitas fiskal dan SDM yang ada. Lebih lanjut juga perlu diperhatikan
pembagian kewenangan antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam pemberian
pelayanan.

48
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

Perencanaan pembangunan desa adalah proses tahapan kegiatan yang diselenggarakan


oleh pemerintah desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), lembaga
desa, dan unsur masyarakat secara partisipatif guna pemanfaatan dan pengalokasian
sumber daya desa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan desa. Sebagai konsekuensi
dari pembangunan desa dan pembangunan kawasan perdesaan, desa harus menyusun
perencanaan pembangunan sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada
perencanaan pembangunan kabupaten. Dokumen rencana pembangunan desa merupakan
satu-satunya dokumen perencanaan di desa dan sebagai dasar penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa). Perencanaan pembangunan desa
diselenggarakan dengan mengikutsertakan masyarakat desa melalui musyawarah
perencanaan pembangunan desa (Musrenbang desa). Musrenbang desa akan menetapkan
prioritas, program, kegiatan, dan kebutuhan pembangunan desa yang didanai oleh APB
Desa, swadaya masyarakat desa, dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) kabupaten/kota berdasarkan penilaian terhadap kebutuhan masyarakat desa.

F. Latihan
1. Menurut UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Publik (KIP), ada kewajiban pemerintah dan hak
masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai......
a. Pembangunan
b. Anggaran
c. Kebijakan
d. Kinerja Pemerintah
e. Bencana alam
2. Proses penyusunan anggaran diawali dengan penyusunan....
a. Rencana jangka panjang KB pasca
b. Rencana jangka menengah keguguran
c. Rencana janga pendek adalah
d. Rencana kerja pemerintah pelayanan KB
e. KUA PPAS yang diberikan
setelah
3. Peranan masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran adalah sebagai
penanganan
berikut, kecuali... keguguran saat
a. Konsolidasi partisipan untuk menyikapi informasi yang diterima di faskes atau 14
hari pasca
b. Membuat informasi rancangan awal perencanaan dan penganggaran
keguguran
c. Memilih preferensi di antara beberapa alternatif untuk kemudian disampaikan
dan diusulkan
d. Menerima informasi rancangan awal dalam proses perencanaan dan
penganggaran
e. Memilih delegai yang akan mewakili masyarakat
4. Tim penyusun RPJM Desa terdiri dari berikut ini, kecuali...
a. Kader pemberdayaan masyarakat desa
b. Kepala desa
c. Sekretaris desa
d. Ketula lembaga pemberdayaan masyarakat
e. Lansia

49
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

5. Tim/Kelompok kerja advokasi membuat pemetaan sumber daya baik program dan
kegiatan sampai di tingkat desa/kelurahan yang bertujuan untuk...
a. membantu perencanaan dan penanggaran di desa dan kelurahan
b. melakukan adovasi kepada kepala desa/lurah/camat
c. mendampingi kepala desa/lurah/camat pada saat musrenbang dalam rangka
sinergi lintas program dan kegiatan
d. menyusun strategi dan rencana kerja advokasi
e. berkoordinasi dengan Bappeda

50
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

BAB

PENUTUP
6
51
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

A. Kesimpulan

Advokasi merupakan aksi strategis yang ditujukan untuk


menciptakan kebijakan publik yang bermanfaat bagi masyarakat atau
mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan merugikan
masyarakat. Advokasi dilakukan kepada pembuat
kebijakan/keputusan.

Program komunikasi perubahan perilaku atau kerap disebut KIE


(Komunikasi, Informasi dan Edukasi) serta program mobilisasi sosial yang selama ini
dijalankan oleh pelaku program KKBPK, sangat membutuhkan dukungan advokasi yang
kuat.

Tujuan advokasi antara lain untuk: Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK baik
berupa anggaran, manusia, kecakapan, fasilitas, dll, Menghilangkan hambatan dari sisi
kebijakan dan aturan serta tersedianya kebijakan dan aturan yang mendukung program
KKBPK, Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah dan Meningkatkan visibilitas isu
KB.

Permasalahan dari sisi pengelolaan program KKBPK ini berdampak pada situasi dan capaian
program KKBPK baik secara subnasional maupun nasional. Ini pada gilirannya, akan
memberi dampak pada sektor pembangunan lain.

Penyuluh KB harus memperhatikan langkah-langkah menyusun strategi advokasi antara


lain: merumuskan isu strategis, menentukan tujuan dan sasaran yang SMART, identifikasi
mitra advokasi dan pengambil keputusan/kebijakan, kenali pengambil keputusan,
merumuskan permintaan advokasi, menyusun rencana kerja.

Penyuluh KB juga perlu mengetahui mekanisme perencanaan dan penganggaran


desa/kelurahan, kecamatan dan daerah agar dapat menyesuaikan jadwal kegiatan advokasi
dengan agenda perencanaan dan penganggaran desa/kelurahan, kecamatan dan daerah.

B. Evaluasi

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang merupakan


gabungan dari pertanyaan-pertanyaan bab-bab sebelumnya:

52
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

1. Kampung KB yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia diluncurkan pada tanggal....


a. 14 Februari 2016
b. 14 Agustus 2017
c. 14 Maret 2016
d. 14 Januari 2016
e. 14 Januari 2017
2. Menurut hasil laporan sementara SDKI Tahun 2017, menunjukkan angka TFR
mengalami penurunan dari SDKI Tahun 2012 yaitu sebesar...
a. 2,6
b. 0,2
c. 2,4
d. 0,3
e. 2,7
3. Secara garis besar sebuah kampanye komunikasi suatu program pembangunan
memiliki tiga komponen yang saling berkait, saling mempengaruhi dan saling
mendukung, yaitu....
a. Komunikasi perubahan perilaku, mobilisasi sosial, advokasi
b. Komunikasi, perubahan perilaku, mobilisasi sosial
c. Advokasi, komunikasi, perubahan perilaku
d. Perubahan perilaku, sosial, advokasi
e. Komunikasi, mobilisasi sosial, advokasi
4. Tujuan advokasi antara lain adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Peningkatan sumber daya untuk program KKBPK
b. Menghilangkan hambatan dari sisi kebijakan dan aturan
c. Tersedianya kebijakan dan aturan yang tidak mendukung program KKBPK
d. Koordinasi dan sinergi antara program pemerintah
e. Meningkatkan visibilitas isu KB
5. Sasaran advokasi adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Kepala desa
b. Pimpinan Lembaga
c. Ketua RT/RW
d. Tokoh Agama
e. Remaja
4. Permasalahan dari sisi pengelolaan program KKBPK akan berdampak pada situasi
dan capaian program KKBPK secara...
a. Sub sektor
b. Sub nasional
c. Sub sektor dan sektor
d. Sub nasional dan sub sektor
e. Sub nasional dan nasional
5. Dampak positif dari adanya efesiensi anggaran antara lain adalah sebagai berikut,
kecuali...
a. Peningkatan fasilitas pendidikan
b. Pengingkatan jumlah pengangguran
c. Peningkatkan kualitas sumber daya manusia
d. Peningkatkan kualitas layanan kesehatan

53
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan

e. Peningkatkan SDM dan IPM


6. Dalam diagram yang di kembangkan oleh Bappenas, berapakah tujuan yang erat
kaitannya dengan pencapaian KKBPK?
a. 13
b. 18
c. 10
d. 6
e. 12
7. Dalam menyusun strategi advokasi terlebih dahulu perlu menentukan tujuan jangka
panjang, sasaran jangka pendek yang SMART. SMART merupakan singkatan dari...
a. Specific, Measurabel, Attainable, Relevant, Time bound
b. Specific, Measurabel, Achievable, Realistic, Timely
c. Speacific, Moderate, Attainable, Relevant, Time bound
d. Specific, Measurabel, Achievable, Relevant, Timely
e. Specific, Moderate, Attainable, Relevant, Time bound
8. Kriteria dalam memilih mitra advokasi adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Orang-orang yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan advokasi
b. Orang yang mempunyai keahlian dalam perencanaan keluarga secara
profesional
c. Orang yang mempunyai keahlian dalam manajemen rantai pasok
d. Orang yang tidak memiliki keahlian secara profesional
e. Orang yang bertugas di lini lapangan
9. Apabila pengambil keputusan/kebijakan sudah memahami isu KKBPK, perlu
dibangun keinginan untuk bertindak terkait dengan tujuan advokasi. Hal yang perlu
dilakukan agar pengambil keputusan/kebijakan segera bertindak adalah...
a. Menyiapkan informasi yang diperlukan dan mendorong untuk segera bertindak
b. Menyiapkan informasi yang diperlukan dan membicarakan kepada pengambil
keputusan/kebijakan tersebut
c. Mengakui kepemimpinananya
d. Menyiapkan informasi, mengakui kepemimpinannya dan mendorong untuk
bertidak
e. Menyiapkan informasi, membicarakan kepada pengambil keputusan dan
mendorong untuk bertindak
10. Sebelum menyusun rencana kegiatan advokasi perlu dilakukan...
a. Analisa internal
b. Analisa eksternal
c. Analisa SMART
d. Analisa SWOTH
e. Analisa peluang
11. Indikator keberhasilan dari sebuah rencana advokasi terdiri dari..
a. Input, output, outcome
b. Input, output, impact
c. Input, outcome, impact
d. Output, outcome
e. Output, outcome, impact

54
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran
di Tingkat Desa/ Kelurahan

12. Menurut UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP),
ada kewajiban pemerintah dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi
mengenai......
a. Pembangunan
b. Anggaran
c. Kebijakan
d. Kinerja Pemerintah
e. Bencana alam
13. Proses penyusunan anggaran diawali dengan penyusunan....
a. Rencana jangka panjang
b. Rencana jangka menengah
c. Rencana janga pendek
d. Rencana kerja pemerintah
e. KUA PPAS
14. Peranan masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran adalah sebagai
berikut, kecuali...
a. Konsolidasi partisipan untuk menyikapi informasi yang diterima
b. Membuat informasi rancangan awal perencanaan dan penganggaran
c. Memilih preferensi di antara beberapa alternatif untuk kemudian disampaikan
dan diusulkan
d. Menerima informasi rancangan awal dalam proses perencanaan dan
penganggaran
e. Memilih delegai yang akan mewakili masyarakat
15. Tim penyusun RPJM Desa terdiri dari berikut ini, kecuali...
a. Kader pemberdayaan masyarakat desa
b. Kepala desa
c. Sekretaris desa
d. Ketula lembaga pemberdayaan masyarakat
e. Lansia
16. Tim/Kelompok kerja advokasi membuat pemetaan sumber daya baik program dan
kegiatan sampai di tingkat desa/kelurahan yang bertujuan untuk...
a. membantu perencanaan dan penanggaran di desa dan kelurahan
b. melakukan adovasi kepada kepala desa/lurah/camat
c. mendampingi kepala desa/lurah/camat pada saat musrenbang dalam rangka
sinergi lintas program dan kegiatan
d. menyusun strategi dan rencana kerja advokasi
e. berkoordinasi dengan Bappeda

55
Advokasi Efektif untuk Pengintegrasian Program
KKBPK dalam Perencanaan dan Penganggaran

di Tingkat Desa/ Kelurahan





Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif yang terdapat
pada bagian akhir modul ini. hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan
rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi.


𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓
𝑻𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒖𝒂𝒔𝒂𝒂𝒏 = 𝒙𝟏𝟎𝟎%
𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑺𝒐𝒂𝒍

Arti tingkatan penguasaan : 90 – 100% = Baik Sekali
80 – 89% = Baik
70 – 79% = Cukup
< 70% = kurang


Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dianggap telah
memahami materi. Selamat! Jika masih dibawah 80%, Anda harus mengulangi
materi ini, terutama pada materi yang belum dikuasai.

56