Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sikap bermula dari perasaan yang terkait dengan kecenderungan seseorang
dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau
pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi
perilaku atau tindakan yang diinginkan. Kompetensi sikap yang dimaksud adalah
ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang dan
diwujudkan dalam perilaku.
Kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik,
dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang - orangan maupun
berupa objek - objek tertentu. Sikap mengacu pada perbuatan dan perilaku seseorang
tetapi bukan berarti semua perbuatan identic dengan sikap.
Penilaian kompetensi sikap dalam pembelajaran merupakan serangkaian
kegiatan yang dirancang untuk mengukur sikap peserta didik sebagai hasil dari suatu
program pembelajaran. Penilaian sikap juga merupakan aplikasi suatu standar atau
sistem pengambilan keputusan terhadap sikap. Kegunaan utama penilaian sikap
sebagai bagian dari pembelajaran adalah refleksi (cerminan) pemahaman dan
kemajuan sikap peserta didik secara individual.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana konsep sikap ?
b. Indikator dari penilaian sikap ?
c. Bagaimana penilaian sikap dalam proses pembelajaran ?

C. Tujuan
a. Mengetahui konsep sikap.
b. Mengenal Indikator dari penilaian sikap.
c. Mengetahui cara penilaian sikap dalam proses pembelajaran.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Sikap
1. Pengertian Sikap
Sikap menurut para ilmuan :
a. Birrent, et al (1981) mendefinisikan sikap sebagai kumpulan hasil evaluasi
seseorang terhadap objek, orang, atau masalah tertentu. Sikap menentukan
bagaimana pribadi seseorang di ekspresikan. Menurutnya sifat kepribadiandapat
didefinisikan sebagai pola kebiasaan atau cara bereaksi terhadap. Sesuatu,oleh
karena itu melalui sikap seseorang, kita dapat mengenal siapa orang itu
sebenarnya.
b. Menurut klausmeier (1985) ada tiga model belajar dalam rangka pembentukan
sikap, tiga model itu adalah: mengamati dan meniru, menerima penguatan dan
menerima informasi verbal. Ketiga model ini sesuai dengan kepentingan
penerapan dalam dunia pendidikan. Pembelajaran model pertama berlangsung
melalui pengamatan dan peniruan. Bandura (1977) menyebut proses
pembelajaran ini dengan pembelajaran melalui model (learning through
modeling). Model kedua menerima penguatan pembelajaran model ini
berlangsung melalui pembiasan operan, yaitu dengan menerima atau tida
menerima suatu respons yang di tunjukan. Penguatan dapat berupa ganjaran
(penguatan positif) atau hukuman (penguatan negative). Model ketiga, menerima
informasi verbal, informasi tentang berbagai hal dapat d peroleh melalui lisan
atau tulisan. Informasi tentang objek tertentu yang di peroleh oleh seseorang akan
mempengaruhi pembentukan sikapnya terhadap terhadap objek yang
bersangkutan.
c. Menurut muhajirin (1992:75), mengatakan bahwa sikap merupakan
kecenderungan afeksi suka tidak suka pada suatu objek social. dst!
Dari beberapa pendapat ahli, diterapkan lima ciri yang menjadi karateristik
sikap seseorang oleh Rahmat (1998)
1. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpresepsi, berpikir. dan merasa dalam
menghadapi obyek, ide, situasi. atau nilai. Sikap bukan perilaku tetapi merupakan
kecenderungan berperilaku dengan cara tertentu terhadap obyek sikap. Obyek
sikap dapat berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi, atau kelompok.

2
2. Sikap mempunyai daya pendorong. Sikap bukan hanya rekaman masa lalu tetapi
juga pilihan seseorang untuk menentukan apa yang disukai dan menghindari apa
yang tidak diinginkan.
3. Sikap relatif lebih menetap. Ketika satu sikap telah terbentuk pada diri seseorang
maka hal itu akan menetap dalam waktu relative lama karena hal itu didasari
pilihan yang menguntungkan dirinya
4. Sikap mengandung aspek evaluatif. Sikap akan bertahan selama obyek sikap
masih menyenangkan seseorang, tetapi kapan obyek sikap dinilainya negatif
maka sikap akan berubah.
5. Sikap timbul melalui pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, sehingga sikap dapat
diperteguh atau diubah melalui proses belajar.

Sedangkan menurut para ahli sikap seseorang dapat meramalkan perubahannya


bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar
afektif akan tampak pada berbagai tingkah laku peserta didik seperti perhatiannya
yang antusias dalam mengikuti proses pembelajaran, kedisiplinan dalam belajar,
memiliki motivasi yang tinggi untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang sedang
dipelajarinya, penghargaan dan rasa hormat terhadap guru mata pelajaran yang
bersangkutan.

2. Pengertian penilaian sikap dalam lingkungan pendidikan


Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan
beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar
peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.
Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang
peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam
kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Jadi, penilaian sikap adalah penilaian
yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi
pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Popham (1995) mengatakan bahwa penilaian sikap menentukan keberhasilan
belajar seseorang. Seorang peserta didik yang tidak memiliki minat/karakter terhadap
mata pelajaran tertentu, maka akan kesulitan untuk mencapai ketuntasan belajar
secara maksimal. Sedangkan peserta didik yang memiliki minat/karakter terhadap

3
mata pelajaran, maka akan sangat membantu untuk mencapai ketuntasan
pembelajaran secara maksimal.

B. Indikator dari Penilaian Sikap


kompetensi sikap terbagi menjadi dua, yaitu sikap spiritual yang terkait dengan
pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan sikap sosial yang terkait
dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan
bertanggung jawab. Sikap spiritual sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi
vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan sikap sosial sebagai perwujudan
eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan.

Penilaian sikap spiritual Menghargai dan menghayati ajaran agama


yang dianut

1. jujur
2. disiplin
3. tanggung jawab
4. toleransi
Penilaian sikap sosial
5. gotong royong
6. santun
7. percaya diri

Tabel 1. Cakupan Penilaian Sikap

Dalam konteks penilaian sikap, indikator merupakan tanda-tanda yang dimunculkan


oleh peserta didik, yang dapat diamati atau diobservasi oleh guru sebagai representasi
dari sikap yang dinilai.

Sikap dan pengertian Contoh Indikator

Sikap spiritual

Menghargai dan  Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan


menghayati ajaran agama sesuatu.
yang dianut  Menjalankan ibadah tepat waktu.
 Memberi salam pada saat awal dan akhir

4
presentasi sesuai agama yang dianut.
 Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang
Maha Esa;
 Mensyukuri kemampuan manusia dalam
mengendalikan diri
 Mengucapkan syukur ketika berhasil mengerjakan
sesuatu.
 Berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah
berikhtiar atau melakukan usaha.
 Menjaga lingkungan hidup di sekitar rumah
tempat tinggal, sekolah dan masyarakat
 Memelihara hubungan baik dengan sesama umat
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
 Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai
bangsa Indonesia.
 Menghormati orang lain menjalankan ibadah
sesuai dengan agamanya.

Sikap sosial

1. Jujur  Tidak menyontek dalam mengerjakan


adalah perilaku dapat ujian/ulangan
dipercaya dalam perkataan,  Tidak menjadi plagiat (mengambil/menyalin karya
tindakan, dan pekerjaan orang lain tanpa menyebutkan sumber)
 Mengungkapkan perasaan apa adanya
 Menyerahkan kepada yang berwenang barang
yang ditemukan
 Membuat laporan berdasarkan data atau informasi
apa adanya
 Mengakui kesalahan atau kekurangan yang
dimiliki

2. Disiplin  Datang tepat waktu


adalah tindakan yang  Patuh pada tata tertib atau aturan bersama/ sekolah

5
menunjukkan perilaku tertib  Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan
dan patuh pada berbagai waktu yang ditentukan
ketentuan dan peraturan.  Mengikuti kaidah berbahasa tulis yang baik dan
benar

3. Tanggungjawab  Melaksanakan tugas individu dengan baik


adalah sikap dan perilaku  Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan
seseorang untuk  Tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa
melaksanakan tugas dan bukti yang akurat
kewajibannya, yang  Mengembalikan barang yang dipinjam
seharusnya dia lakukan,  Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang
terhadap diri sendiri, dilakukan
masyarakat, lingkungan  Menepati janji
(alam, sosial dan budaya),  Tidak menyalahkan orang lain utk kesalahan
negara dan Tuhan Yang tindakan kita sendiri
Maha Esa  Melaksanakan apa yang pernah dikatakan tanpa
disuruh/diminta

4. Toleransi  Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat


adalah sikap dan tindakan  Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan
yang menghargai pendapatnya
keberagaman latar  Dapat menerima kekurangan orang lain
belakang, pandangan, dan  Dapat mememaafkan kesalahan orang lain
keyakinan  Mampu dan mau bekerja sama dengan siapa pun
yang memiliki keberagaman latar belakang,
pandangan, dan keyakinan
 Tidak memaksakan pendapat atau keyakinan diri
pada orang lain
 Kesediaan untuk belajar dari (terbuka terhadap)
keyakinan dan gagasan orang lain agar dapat
memahami orang lain lebih baik
 Terbuka terhadap atau kesediaan untuk menerima
sesuatu yang baru

6
5. Gotong royong  Terlibat aktif dalam bekerja bakti membersihkan
adalah bekerja bersama- kelas atau sekolah
sama dengan orang lain  Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan
untuk mencapai tujuan  Bersedia membantu orang lain tanpa mengharap
bersama dengan saling imbalan
berbagi tugas dan tolong  Aktif dalam kerja kelompok
menolong secara ikhlas  Memusatkan perhatian pada tujuan kelompok
 Tidak mendahulukan kepentingan pribadi
 Mencari jalan untuk mengatasi perbedaan
pendapat/pikiran antara diri sendiri dengan orang
lain
 Mendorong orang lain untuk bekerja sama demi
mencapai tujuan bersama

6. Santun atau sopan  Menghormati orang yang lebih tua.


adalah sikap baik dalam  Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.
pergaulan baik dalam  Tidak meludah di sembarang tempat.
berbahasa maupun  Tidak menyela pembicaraan pada waktu yang
bertingkah laku. Norma tidak tepat
kesantunan bersifat relatif,  Mengucapkan terima kasih setelah menerima
artinya yang dianggap bantuan orang lain
baik/santun pada tempat dan  Bersikap 3S (salam, senyum, sapa)
waktu tertentu bisa berbeda  Meminta ijin ketika akan memasuki ruangan
pada tempat dan waktu orang lain atau menggunakan barang milik orang
yang lain. lain
 Memperlakukan orang lain sebagaimana diri
sendiri ingin diperlakukan

7. Percaya diri  Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-


adalah kondisi mental atau ragu.
psikologis seseorang yang  Mampu membuat keputusan dengan cepat
memberi keyakinan kuat  Tidak mudah putus asa
untuk berbuat atau  Tidak canggung dalam bertindak

7
bertindak  Berani presentasi di depan kelas
 Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab
pertanyaan

Tabel 2. Daftar Deskripsi Indikator

C. Penilaian Sikap dalam Proses Pembelajaran


a. Komponen-komponen Sikap
Sikap pada dasarnya terdiri atas tiga komponen yaitu:
1. Komponen afektif yaitu perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau
penilaiannya terhadap suatu objek.
2. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai
objek.
3. Komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat
dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
b. Tujuan Penilaian Sikap
Untuk mendapat umpan balik (feedback) baik bagi guru maupun siswa sebagai
dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program
perbaikan bagi anak didiknya. Untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku
anak didik yang dicapai antara lain diperlukan sebagai bahan bagi perbaikan
tingkah laku anak didik, pemberian laporan kepada orang tua dan penentuan lulus
tidaknya anak didik. Untuk menempatkan anak didik dalam situasi belajar
mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat pencapaian dan kemampuan serta
karakteristik anak didik.
1. Pentingnya penilaian sikap
Secara umum, semua mata pelajaran memiliki tiga domain tujuan. Tiga
domain tujuan itu adalah: peningkataan kemampuan kognitif; peningkatan
kemampuan afektif; dan peningkatan keterampilan berhubungan dengan
berbagai pokok bahasan yang ada dalam suatu mata pelajaran. Namun
demikian, selama ini penekanan yang sangat menonjol, baik dalam proses
pembelajaran maupun dalam pelaksanaan penilaiannya adalah dalam domain
kognitif. Domain afektif dan psikomor agak terabaikan. Dampak yang terjadi,
seperti yang menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini, lembaga-lembaga
pendidikan menghasilkan lulusan yang kurang memiliki sikap positif yang

8
sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dan kurang terampil untuk menjalani
kehidupan dalam masyarakat lingkungannya. Oleh karena itu, kondisi ini perlu
diperbaiki. Domain kognitif, afektif dan konatif atau psikomotor perlu
mendapat penekanan yang seimbang dalam proses pembelajaran dan penilaian.
Dengan demikian, penilaian sikap perlu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,
dan hasil penilaiannya perlu ditindak lanjuti.
2. Sikap dan objek yang perlu dinilai
Penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapat, secara umum
dilakukan dalam berkaitan dengan berbagai objek sikap sebagai berikut:
a. Sikap terhadap mata pelajaran, siswa perlu memiliki sikap positif terhadap
mata pelajaran. Dengan sikap positif dalam diri siswa akan tumbuh dan
berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan
lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Oleh karena itu,
guru perlu menilai tentang sikap siswa terhadap mata pelajaran yang
diajarkan.
b. Sikap terhadap guru mata pelajaran. Siswa perlu memiliki sikap positif
terhadap guru, yang mengajar suatu mata pelajaran. Siswa yang memiliki
sikap yang tidak positif terhadap guru, akan cenderung mengabaikan hal-
hal yang diajarkan. Dengan demikian, siswa yang memiliki sikap negative
terhadap guru pelajaran akan sukar menyerap materi pelajaran yang akan
disampaikan oleh guru tersebut.
c. Sikap terhadap proses pembelajaran. Siswa juga perlu memiliki sikap
positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses
pembelajaran disini mencakup: suasana pembelajaran, strategi,
metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Tidak sedikit siswa
yang merasa kecewa atau tidak puas dengan proses pembelajaran yang
berlangsung, namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk
menyatakan. Akibat mereka terpaksa mengikuti proses pembelajaran yang
berlangsung dengan perasaan yang kurang nyaman. Hal ini dapat
mempengaruhi terhadap penyerapan materi pelajaran.
d. Sikap terhadap materi dari pokok-pokok bahasan yang ada. Siswa juga
perlu memiliki sikap positif terhadap materi pembelajaran yang diajarkan,
sebagai kunci keberhasilan proses pembelajaran.

9
e. Sikap berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang ingin ditanamkan
dalam diri siswa melalui suatu pokok bahasan. Misalnya, pengajaran
pokok bahasan KOPERASI dalam mata peajaran ilmu pengetahuan sosial.
Berhubungan dengan pokok bahasan ini, ada nilai-nilai luhur tertentu
yang relevan diajarkan dan diinternalisasikan dalam diri siswa. Misalnya:
kerjasama, kekeluargaan, hemat dan sebagainya. Dengan demikian, untuk
mengetahui hasil dari proses pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai
tersebut dalam diri siswa perlu dilakukan penilaian.
f. Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum, seperti
yang diuraikan diatas. Kompetensi-kompetensi tersebut relevan juga
untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran berdasarkan
kurikulum 1994 yang masih berlaku.
c. Pengukuran sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara-cara tersebut
antara lain:
1. Observasi perilaku
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukan kecenderungan
seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya, orang yang bisa minum kopi, dapat
dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena
itu, guru dapat melakukan observasi terhadap siswa yang dibinanya. Hasil
observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan
2. Pertanyaan langsung
Guru juga dapat mengatakan secara langsung tentang sikap siswa
berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan siswa
tentang kebijakan yang baru diberlakukan disekolah tentang “peningkatan
ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain dari siswa dalam memberi
jawaban dapat dipahami sikapnya terhadap objek sikap tersebut. Guru juga
dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina siswa.

3. Laporan pribadi
Penggunaan teknik ini di sekolah, misalnya: siswa diminta membuat
ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah,
keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, siswa diminta
menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-

10
akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh siswa tersebut dapat
dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.
Teknik ini agak sukar digunakan dalam mengukur dan menilai sikap
siswa secara klasikal. Guru memerlukan waktu lebih banyak untuk
membaca dan memahami sikap seluruh siswa.

d. Teknik dan bentuk Instrumen penilaian :


1. Teknik Observasi
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara
berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan instrumen yang berisi
sejumlah indikator perilaku yang diamati. Observasi langsung
dilaksanakan oleh guru secara langsung tanpa perantara orang lain.
Sedangkan observasi tidak langsung dengan bantuan orang lain, seperti
guru lain, orang tua, peserta didik, dan karyawan sekolah.
Bentuk instrumen yang digunakan untuk observasi adalah pedoman
observasi yang berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang
disertai rubrik. Daftar cek digunakan untuk mengamati ada tidaknya suatu
sikap atau perilaku. Sedangkan skala penilaian menentukan posisi sikap
atau perilaku peserta didik dalam suatu rentangan sikap. Pedoman
observasi secara umum memuat pernyataan sikap atau perilaku yang
diamati dan hasil pengamatan sikap atau perilaku sesuai kenyataan.
Pernyataan memuat sikap atau perilaku yang positif atau negatif sesuai
indikator penjabaran sikap dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar.
Rentang skala hasil pengamatan antara lain berupa :
 Selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah
 Sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik

Pedoman observasi dilengkapi juga dengan rubrik dan petunjuk


penskoran. Rubrik memuat petunjuk/uraian dalam penilaian skala atau
daftar cek. Sedangkan petunjuk penskoran memuat cara memberikan skor
dan mengolah skor menjadi nilai akhir. Agar observasi lebih efektif dan
terarah hendaknya :

11
1. Dilakukan dengan tujuan jelas dan direncanakan sebelumnya.
Perencanaan mencakup indikator atau aspek yang akan diamati dari
suatu proses.
2. Menggunakan pedoman observasi berupa daftar cek atau skala
penilaian.
3. Pencatatan dilakukan selekas mungkin.
4. Kesimpulan dibuat setelah program observasi selesai dilaksanakan.

2. Penilaian Diri
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta
peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya
dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa
lembar penilaian diri menggunakan daftar cek atau skala penilaian (rating
scale) yang disertai rubrik.
Skala penilaian dapat disusun dalam bentuk skala Likert atau skala
semantic differential. Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok
orang mengenai suatu gejala atau fenomena. Sedangkan skala semantic
differential yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan
pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum
di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan
jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic
differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan
untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.

Kriteria penyusunan lembar penilaian diri:


 Pertanyaan tentang pendapat, tanggapan dan sikap, misal : sikap
resonden terhadap sesuatu hal
 Gunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti oleh
responden.

12
 Usahakan pertanyaan yang jelas dan khusus
 Hindarkan pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian
 Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti
 Pertanyaan harus berlaku bagi semua responden
3. Penilaian Antar peserta didik
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan
cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian
kompetensi. Instrumen yang digunakan untuk penilaian antarpeserta didik
adalah daftar cek dan skala penilaian (rating scale) dengan teknik
sosiometri berbasis kelas. Guru dapat menggunakan salah satu dari
keduanya atau menggunakan dua-duanya.
4. Jurnal
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang
berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan
peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Kelebihan yang
ada pada jurnal adalah peristiwa/kejadian dicatat dengan segera. Dengan
demikian, jurnal bersifat asli dan objektif dan dapat digunakan untuk
memahami peserta didik dengan lebih tepat. sementara itu, kelemahan
yang ada pada jurnal adalah reliabilitas yang dimiliki rendah, menuntut
waktu yang banyak, perlu kesabaran dalam menanti munculnya peristiwa
sehingga dapat mengganggu perhatian dan tugas guru, apabila pencatatan
tidak dilakukan dengan segera, maka objektivitasnya berkurang.
Terkait dengan pencatatan jurnal, maka guru perlu mengenal dan
memperhatikan perilaku peserta didik baik di dalam kelas maupun di luar
kelas. Aspek-aspek pengamatan ditentukan terlebih dahulu oleh guru
sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diajar. Aspek-aspek
pengamatan yang sudah ditentukan tersebut kemudian dikomunikasikan
terlebih dahulu dengan peserta didik di awal semester.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat jurnal adalah:


 Catatan atas pengamatan guru harus objektif

13
 Pengamatan dilaksanakan secara selektif, artinya yang dicatat
hanyalah kejadian / peristiwa yang berkaitan dengan Kompetensi Inti.
 Pencatatan segera dilakukan (jangan ditunda-tunda)
Pedoman umum penyekoran jurnal:
 Penyekoran pada jurnal dapat dilakukan dengan menggunakan skala
likert. Sebagai contoh skala 1 sampai dengan 4.
 Guru menentukan aspek-aspek yang akan diamati.
 Pada masing-masing aspek, guru menentukan indikator yang diamati.
 Setiap aspek yang sesuai dengan indikator yang muncul pada diri
peserta didik diberi skor 1, sedangkan yang tidak muncul diberi skor
0.
 Jumlahkan skor pada masing-masing aspek.
 Skor yang diperoleh pada masing-masing aspek kemudian direratakan
 Nilai Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K)
ditentukan dengan cara menhitung rata-rata skor dan membandingkan
dengan kriterian penilaian
e. Pelaksanaan Penilaian
Pelaksanaan penilaian kompetensi sikap dilakukan oleh pendidik setiap
mata pelajaran untuk dilaporkan kepada wali kelas yang selanjutnya dapat
dijadikan sebagai laporan penilaian satuan pendidikan. Secara umum,
pelaksanaan penilaian sikap sama dengan penilaian kompetensi pengetahuan
dan keterampilan yaitu harus berlangsung dalam suasana kondusif, tenang dan
nyaman dengan menerapkan prinsip valid, objektif, adil, terpadu, terbuka,
menyeluruh, menggunakan acuan kriteria, dan akuntabel.
Tahap Pelaksanaan Penilaian kompetensi sikap adalah sebagai berikut:
1. Pada awal semester, pendidik menginformasikan tentang kompetensi
sikap yang akan dinilai yaitu sikap spiritual, jujur, disiplin,
tanggungjawab, toleransi, gotong royong, santun atau sopan, atau percaya
diri.
2. Pendidik mengembangkan instrumen penilaian sesuai dengan mata
pelajaran yang diampunya, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan
indikator kompetensi sikap yang telah ditetapkan sebelumnya dalam RPP.
Bentuk instrumen yang dikembangkan disesuaikan dengan jenis aspek

14
yang akan dinilai dengan demikian pendidik dapat memilih salah satu dari
empat bentuk instrumen yang direkmendasikan oleh Permendikbud
Nomor 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan yaitu
observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal
3. Pendidik memberi penjelasan tentang kriteria penilaian untuk setiap sikap
yang akan dinilai termasuk bentuk instrumen yang akan digunakannya.
4. Memeriksa dan mengolah hasil penilaian dengan mengacu pada pedoman
penskoran dan kriteria penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya.
5. Hasil penilaian diinformasikan kepada masing-masing peserta didik pada
setiap akhir pekan dengan tujuan untuk (a) mengetahui kemajuan hasil
pengembangan sikapnya, (b) mengetahui kompetensi sikap yang belum
dan yang sudah dicapai sesuai kriteria yang ditetapkan, (c) memotivasi
peserta didik agar memperbaiki sikap yang masih rendah dan berusaha
mempertahankan sikap yang telah baik, dan (d) menjadi bagian refleksi
bagi pendidik untuk memperbaiki strategi pengembangan sikap peserta
didik di masa yang akan datang.
6. Tindak lanjut hasil penilaian sikap setiap minggu dijadikan dasar untuk
melakukan proses pembinaan dan pengembangan sikap yang disisipkan
dalam mata pelajaran yang bersangkutan tanpa harus memperhatikan
pencapaian kompetensi dasar terkait dari aspek kompetensi sikap.
7. Pada akhir semester, setiap skor penilaian harian selama satu semester
dibuat grafik perkembangannya dan nilai akhir ditetapkan dari rata-rata
nilai kompetensi sikap. Grafik perkembangan digunakan sebagai bahan
refleksi proses pembelajaran dan pembinaan sikap. Rata-rata nilai
kompetensi sikap diserahkan kepada wali kelas oleh masing-masing
pendidik pengampu mata pelajaran sebagai nilai raport

f. Pengolahan Penilaian
Data penilaian sikap bersumber dari hasil penilaian melalui teknik
observasi, penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal. Instrumen
yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta

15
didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik.
Sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
Pada akhir semester, guru mata pelajaran dan wali kelas berkewajiban
melaporkan hasil penilaian sikap, baik sikap spiritual dan sikap sosial secara
integratif. Laporan penilaian sikap dalam bentuk nilai kualitatif dan deskripsi
dari sikap peserta didik untuk mata pelajaran yang bersangkutan dan antarmata
pelajaran. Nilai kualitatif menggambarkan posisi relatif peserta didik terhadap
kriteria yang ditentukan. Kriteria penilaian kualitatif dikategorikan menjadi 4
kategori yaitu : sangat baik (SB), baik (B), cukup (C), dan kurang (K).
Sedangkan deskripsi memuat uraian secara naratif pencapaian
kompetensi sikap sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar setiap
mata pelajaran . Deskripsi sikap pada setiap mata pelajaran menguraikan
kelebihan sikap peserta didik, dan sikap yang masih perlu ditingkatkan.

Contoh uraian deskripsi sikap dalam mata pelajaran antara lain :


 Menunjukkan sikap yang baik dalam kejujuran, disiplin, perlu
ditingkatkan sikap percaya diri
 Menunjukkan sikap yang baik dalam kejujuran, disiplin, dan percaya diri
Sedangkan deskripsi sikap antarmata pelajaran menjadi tanggung jawab
wali kelas melalui analisis nilai sikap setiap mata pelajaran dan proses diskusi
secara periodik dengan guru mata pelajaran. Deskripsi sikap antarmata
pelajaran menguraikan kelebihan sikap peserta didik, dan sikap yang masih
perlu ditingkatkan apabila ada secara keseluruhan, serta rekomendasi untuk
peningkatan. Contoh uraian deskripsi sikap antarmata pelajaran antara lain :
 Menunjukkan sikap yang baik dalam kejujuran, disiplin, toleransi, gotong
royong, santun, dan percaya diri. Perlu ditingkatkan sikap tanggung
jawab, melalui pembiasaan penugasan mandiri di rumah.
 Menunjukkan sikap yang baik dalam kejujuran, disiplin, tanggung jawab,
toleransi, gotong royong, santun, dan percaya diri
Pelaksanaan penilaian sikap menggunakan berbagai teknik dan bentuk
penilaian yang bervariasi dan berkelanjutan agar menghasilkan penilaian

16
otentik secara utuh. Nilai sikap diperoleh melalui proses pengolhan nilai sikap.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan nilai antara lain :
 Pengolahan nilai sikap dilakukan pada akhir kompetensi dasar dan akhir
semester.
 Pengolahan nilai berdasarkan sikap yang diharapkan sesuai tuntutan
kompetensi dasar.
 Pengolahan nilai ini bersumber pada nilai yang diperoleh melalui berbagai
teknik penilaian .
 Menentukan pembobotan yang berbeda untuk setiap teknik penilaian
apabila diperlukan, dengan mengutamakan teknik observasi memiliki
bobot lebih besar.
 Pengolahan nilai akhir semester bersumber pada semua nilai sikap sesuai
kompetensi dasar semester bersangkutan.

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sikap merupakan suatu kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan
cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang -
orangan maupun berupa objek - objek tertentu. Tujuan penilaian sikap yaitu: Untuk
mendapat umpan balik (feedback) baik bagi guru maupun siswa sebagai dasar untuk
memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program perbaikan bagi anak
didiknya.
Beberapa komponen sikap yaitu: afektif,kognitif,konatif. Teknik dalam penilaian
sikap terdiri dari : teknik observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik, dan
jurnal.
Pelaksanaan penilaian sikap sama dengan penilaian kompetensi pengetahuan dan
keterampilan yang berlangsung dalam suasana kondusif, tenang dan nyaman dengan
menerapkan prinsip valid, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh, menggunakan
acuan kriteria, dan akuntabel.
Data penilaian sikap bersumber dari hasil penilaian melalui teknik observasi,
penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk
observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala
penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Sedangkan pada jurnal berupa catatan
pendidik.

B. Saran
Diharapkan kepada pendidik untuk dapat menerapkan cara-cara dalam melaksanakan
penilaian terhadap peserta didik.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://evaluasipembelajaranelghazy.blogspot.co.id/2017/12/penilaian-sikap.html
diakses tanggal 16 Mei 2018

http://www.al-maududy.com/2014/10/teknik-dan-bentuk-penilaian-sikap-pada.html
diakses tanggal 16 Mei 2018

19