Anda di halaman 1dari 9

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RSIA PARAMOUNT

Nomor : 007/01/MFK/DIR/RSIA-P/IX/2017

TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN KEWASPADAAN BENCANA
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PARAMOUNT

DIREKTUR UTAMA RSIA PARAMOUNT

Menimbang : a. bahwa RSIA Paramount perlu untuk selalu meningkatkan pelayanan


kepada pelanggan melalui peningkatan mutu secara berkesinambungan;
b. bahwa dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien, maka diperlukan
adanya Panduan Kewaspadaan Bencana RSIA Paramount
c. bahwa sesuai butir a. dan b diatas perlu ditetapkan dengan Surat
Keputusan Direktur RSIA Paramount
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang
Praktek Kedokteran;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor
417/MENKES/PER/II/2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PANDUAN KEWASPADAAN BENCANA RSIA PARAMOUNT

Pertama : Memberlakukan Panduan Kewaspadaan Bencana RSIA Paramount


sebagaimana terlampir dalam surat keputusan ini.

Kedua : Panduan Kewaspadaan Bencana RSIA Paramount sebagaimana terlampir


dalam surat keputusan ini dimaksud dalam Diktum pertama harus dijadikan
acuan dalam memberikan pelayanan di RSIA Paramount

ii
Ketiga : Surat Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila
dikemudian hari ternyata terdapat hal-hal yang perlu penyempurnaan akan
diadakan perbaikan dan penyesuaian sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Makassar
Pada Tanggal : September 2017
--------------------------------------------
Direktur RSIA Paramount

dr. Muhammad Nadjib, MM, AAK

iii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat dan
anugerah yang diberikan kepada penyusun, sehingga Panduan Kewaspadaan Bencana di
RSIA Paramount ini dapat selesai disusun.

Terima kasih yang sebesar besarnya, kami haturkan kepada jajaran Direksi RSIA
Paramount yang telah memberikan dukungan moral dan materi dalam pembuatan pedoman
ini, para pejabat struktural dan tenaga fungsional di lingkungan RSIA Paramount yang telah
memberikan masukan dalam proses penyusunan pedoman ini, serta seluruh staf di RSIA
Paramount yang telah dan akan berpartisipasi aktif mulai dari proses penyusunan,
pelaksanaan sampai pada proses monitoring dan evaluasi pedoman ini.

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi rumah sakit dan pihak-pihak lainnya yang
terkait dengan penyelenggaraan akreditasi rumah sakit. Akhirnya saran dan koreksi demi
perbaikan buku panduan ini sangat kami harapkan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Makassar, September 2017

Penyusun

v
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................ i

Surat Keputusan Direktur Utama ................................................ ii

Kata Pengantar ............................................................................. iv

Daftar Isi v

A. Definisi ............................................................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................................................. 2
C. Ruang Lingkup ................................................................................................................... 2
D. Sistem Kewaspadaan ......................................................................................................... 2
E. Pemberlakuan Rencana....................................................................................................... 2
F. Penentuan Golongan Korban .............................................................................................. 4
G. Pengakhiran Rencana Dan Evaluasi ................................................................................... 5

vi
PANDUAN KEWASPADAAN BENCANA
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PARAMOUNT

A. Definisi
1. Bencana adalah rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam atau manusai yang
mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan
lingkungan, kerusakan saran dan prasaran umum serta menimbulkan gangguan
terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pembangunan nasional
yang memerlukan pertolongan dan bantuan secara khusus.
2. Gawat darurat sehari-hari adalah suatu keadaan seseorang secara tiba-tiba dalam
keadaan darurat dan terancam anggota badannya dan jiwanya (akan menjadi
cacat/mati) bila tidak mendapatkan pertolongan dengan segera
3. Korban massal adalah korban akibat kejadian dengan jumlah yang relative banyak
oleh karena sebab yang sama dan perlu mendapatkan pertolongan kesehatan segera
dengan menggunakan sarana ,fasilitas dan tenaga yang lebih besar sehari-hari
4. Pengungsi adalah orang atau sekelompok orang WNI yang meninggalkan tempat
tinggal akibat tekanan berupa kekerasan fisik dan mental akibat ulah manusia dan
bencana alam guna mencari perlindungan maupun penghidupan yang baru
5. Rencana kedaruratan adalah rancangan atau rencana rumah sakit dalam
penaggulangan bencana baik yang bersifat eksternal (yang terjadi di luar rumah sakit)
maupun internal (yang terjadi didalam rumah sakit)
6. Penanganan Bencana ekternal/External Hospital Disaster Plan adalah penanganan
korban/pasien yang berasal dari kejadian/ bencana yang terjadi di dalam rumah sakit
7. Penanganan bencana intern/Internal Hospital Disaster Plan adalah penanganan
korban/pasien yang berasal dari kejadian/ bencana yang terjadi di dalam rumah sakit
8. Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak yang terjadi akibat
bencana.
9. Tanggap darurat adalah tindakan-tindakan yang adiambil segera seelah terjadi
bencana
10. Triage adalah pengelompokan korban berdasarkan kegawat daruratnya akibat trauma
penanganan/pemindahannya.
11. Struktur komando bencana adalah suatu system komando/ perintah yang dijalankan
hanya pada saat rencana.
12. Rekontruksi adalah pembengunan kembali semua prasarana dan sarana pada wilayah
pasca bencana, dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya perekonomian,
social, dan budaya, tegaknya hokum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta
masyarakat dala segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca benacana.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi semua lapisan masyarakat dalam
rangka terwujudnya masyarakat utama adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT
melaui pendekatan pemeliharaan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi)
yang dilaksanakan secara menyeluruh.
b. Tujuan Khusus
Pada dasarnya pertolongan yang diberikan bertujuan unuk mencegah terjadinya
kecacatan atau kematian yang dapat dihindarkan, dengan cara memanfaatkan semua
tenaga, fasilitas dan sarana yang telah ada secara efektif, efisien, terkoordinasi dan
terkendali.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan kewaspadaan bencana yaitu :
1. Langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah dan menanggulangi bencana di
rumah sakit.
2. Pembekalan bagi pegawai rumah sakit dalam menghadapi bencana.

D. Sistem Kewaspadaan
Bila ada informasi tentang kemungkinan bencana, Manajer Pelayanan Kesehatan selaku
incident commander melakukan “Immediate Action” yaitu :
1. Melakukan prosedur persiapan meliputi cadangan logistik, arus informasi, lokasi
triase dll.
2. Menginstruksikan semua karyawan yang berada di luar rumah sakit untuk melaporkan
kepada unit masing-masing
3. Rumah sakit dinyatakan dalam keadaan “waspada” atau “stand by”
4. Keseluruhan aktivitas dikoordinasi oleh Manajer Pelayanan Kesehatan
5. Tingkat aktivitas sesuai dengan tingkat kewaspadaan yang ditemukan oleh Manajer
Pelayanan Kesehatan berdasarkan analisa situasi

E. Pemberlakuan Rencana
1. Pelaksanaan Rencana Kontinjensi ditetapkan oleh Manajer Pelayanan Kesehatan
selaku Incident Commader (Komando Kejadian)
2. Saat dinyatakan Rencana Kontinjensi diberlakukan, Manajer Pelayanan Kesehatan :
a. Mengumumkan pemberlakuan rencana kedaruratan melalui pengeras suara
rumah sakit baik secara langsung ataupun melalui petugas informasi umum.
b. Menginformasikan dan menginstruksikan kepada semua unit terkait yang berada
di bawah komandonya untuk melakukan tugas sesuai tanggung jawab masing-
masing.
c. Menilai dan menginstruksikan untuk merelokasi pasien yang sedang dirawat bila
diperlukan.
d. Memberitahukan kondisi kedaruratan tersebut kepada Direktur Rumah Sakit dan
MPKU Wilayah serta LBP PP
e. Mengaktifkan pelaksanaan dukungan medis (Medical Support) dan dukungan
manajemen (Management Support)
3. Medical Support
a. Triage
Triase dilakukan di depan IGD dengan pembagian sebagai berikut :
1) Bantuan Hidup Dasar
2) Korban dengan label merah segera dimasukkan ke IGD
3) Korban dengan label kuning dikirim ke pintu utama (poliklinik)
4) Korban dengan label hijau diletakkan di teras depan poliklinik
b. Bantuan Hidup Dasar : dilakukan di IGD oleh dokter jaga IGD dibantu oleh
perawat IGD.
c. Bantuan Hidup Lanjutan : dilakukan di IGD/ruang perawatan oleh dokter jaga
IGD/ruangan bila diperlukan.
d. Prosedur Spesialistik: dilakukan di rawat inap dan kamar operasi oleh dokter
spesialis sesuai dengan kasus penyakit cederanya.
4. Management Support
a. Pos Komando
Pos Komando berada di kantor Direktur Pelayanan Medis dan menjadi pusat
aktivitas menejemen keseluruhan saat bencana. Apabila kantor ini karena sesuatu
hal (misalnya terkena dampak bencana) maka sebagai ruangan cadangan adalah
kantor Direktur Rumah Sakit
b. Pengaturan staf/karyawan yang libur
Semua karyawan yang sedang libur atau diluar shift kerjanya harus melaporkan
posisi masing-masing ke pusat komando rumah sakit dan segera datang bila
diperlukan/ dipanggil.
c. Persiapan Logistik
Bagian Logistik segera menyiapkan peralatan yang diperlukan sesuai daftar
dibuku panduan
d. Keamanan dan parkiran
Bagian keamanan dan parkiran segera mengamankan jalur keluar masuk rumah
sakit sehingga hanya ada 1 jalur masuk/keluar dan dijaga ketat agar tidak terjadi
kekacauan di dalam rumah sakit
e. Area Dekontaminasi
Area dekontaminasi segera disiapkan untuk menerima korban dengan kecurigaan
keracunan bahan biologis atau bahan kimia.
f. Data dan Penempatan Korban
Penempatan korban sesuai dengan perencanaan dan dilakukan pendataan rekam
medis dengan form khusus bencana.
g. Penanganan korban meninggal
Korban yang meninggal segera dikirim ke kamar jenazah/ruang Khusnul
Qotimah dan dilakukan prosedur rukti jenazah dan pendataan ulang bila
diperlukan.
h. Jalur komunikasi (Intern dan Ekstern Rumah Sakit)
Semua jalur komunikasi ke/dari rumah sakit dilakukan dan diatur melalui Front
office kecuali jalur langsung yang bisa dilakukan dan ruang Pos Komando bila
diperlukan. Sedangkan jalur intern rumah sakit bisa dilakukan langsung dari
bagian masing-masing.
i. Pemberian Informasi kepada Pers dan Keluarga Korban
Jalur komunikasi dengan medis pers dan keluarga korban diatur/dikendalikan
oleh pusat informasi yang dikelola oleh penanggung Jawab Informasi Publik
yaitu Kepala Bagian Humas.

F. Penentuan Golongan Korban


Setiap korban bencana alam pertolongannya harus dilihat dulu tingkat keparahannya dan
diberi label sesuai dengan berat ringannya korban dan instruksi apa yang harus dilakukan
1. Korban golongan I
Yang termasuk golongan ini dalah korban-korban dengan perlukaan ringan atau
gangguan jiwa sehingga tidak memerlukan tindakan bedah dan beri label warna hijau
2. Korban golongan II
Yang termasuk golongan ini adalah korban-korban dengan luka ringan sehingga
hanya memerlukan tindakan bedah minor dan diberi label warna kuning.
3. Korban golongan III
Yang termasuk golongan ini adalah korban-korban dengan indakan cepat, mudah dan
life saving, dapat dihindarkan dari kematian maupun cacat. Untuk ini deber label
warna merah
4. Korban golongan IV
Yang termasuk golongan ini adalah korban-korban dengan trauma kepala berat,
perdarahan dalam abdominal dimana pertolongan memerlukan obat-obatan dan
personil yang banyak, golongan ini diberi label warna putih
5. Korban golongan V
Yang termasuk golongan ini adalah korban-korban yang sudah meninggal dan diberi
label warna hitam.

G. Pengakhiran Rencana Dan Evaluasi


1. Pernyataan pengakhiran dan rencana dilakukan oleh Manajer Pelayanan Kesehatan
dengan kriteria :
a. Tidak ada pengirim korban lagi dari luar dan/atau seluruh korban sudah
mendapat perawatan di rumah sakit atau semua pasien rumah sakit yang
terancam bahaya sudah dievakuasi dan diamankan serta dirawat dengan baik
(khusus bencana internal)
b. Ruangan cadangan (surge capacity sudah tidak diperlukan lagi  jumlah korban
yang dirawat berkurang mencapai jumlah kapasitas normal rumah sakit.
c. Khusus bencana Internal maka kerusakan yang terjadi di rumah sakit sudah dapat
diatasi dengan baik dan atau bahaya sudah dapat diamankan atau dihilangkan.
2. Setelah diakhiri, kegiatan rumah sakit kembali ke keadaan normal:
a. Tenaga tambahan/on call dipulangkan kembali
b. Sarana/prasarana tambahan yang terpakai dikembalikan ke gudang
logistik/tempat penyimpanan semula.
c. Penghentian rencana kedaruratan diumumkan melalui pengeras suara
d. Direktur Pelayanan Medis mengadakan pertemuan dengan seluruh jajaran
dibawahnya untuk mengadakan evaluasi guna perbaikan dengan melakukan
review fasilitas, SDM, pendataan korban, manajemen biaya, dll. Hasil evaluasi
dilaporkan kepada Direktur Rumah Sakit dan pihak berwenang yang terkait
seperti Dinkes, Pemda, Poltabes, atau KODIM.