Anda di halaman 1dari 63

SARI PUSTAKA

JULI 2018

PERIMETRI

Sultan Hasanuddin

Pembimbing :

Dr.dr. Noro Waspodo, Sp.M


dr. Tenrisanna Devi, Sp.M(K), M.Si,MARS
dr. Ririn Nislawati,Sp.M,M.Kes
dr. Yunita Mansur, Sp.M(K),M.Kes

Moderator :

dr. Andi Pratiwi, Sp.M,M.Kes

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS TERPADU


DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
Daftar Isi

Daftar Isi i
Pendahuluan 1
Dasar Psikofisika dan Fisiologi Perimetri 2
Dasar Psikofisika 2
Batas Lapang Pandangan Normal 3
Efek Usia terhadap Lapang Pandangan 4
Karakteristik Visual dalam Lapang Pandangan 5
Lapang Pandangan adalah Gambaran 3 Dimensi 6
Dasar Fisiologi Perimetri 7
Jenis-jenis Perimetri 9
Perimetri Static Supra-treshold 9
Perimetri Kinetik 10
Perimetri Statik 12
Perimetri Goldman 14
Prinsip Kerja Permteri Goldman 14
Prosedur Pemeriksaan dan Persiapan Pasien 15
Teknik Pemeriksaan 17
Perimetri Humphrey 26
Prinsip Kerja Perimetri Humphrey 27
Cara Kerja dan Persipan Pasien 30
Parameter Pemeriksaan Perimetri Humphrey 34
Analisis Sekuensial 48
Pola Kerusakan Serabut Saraf dan Lapang Pandangan 50
Pola “Glucomatous Nerve Loss” 52
PENDAHULUAN

Pemeriksaan lapang pandangan merupakan satu kesatuan dengan


pemeriksaan oftalmologi yang lain. Setiap ahli dokter mata melakukan dan
menginterpretasi hasil pemeriksaan lapang pandangan sebaiknya melakukan tes
ini terhadap diri mereka sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya terhadap
pasien. Ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai tes ini dan
penggunaan modalitas perimetri yang berbeda-beda.1
Pemeriksaan lapang pandangan merupakan metode yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana ruang lingkup penglihatan seseorang, yakni penglihatan
sentral dan perifer mereka. Pemeriksaan lapang pandangan sesungguhnya
bertujuan untuk memetakan lapang pandangan masing-masing mata pada
seseorang. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan subjektif yang memerlukan
pemahaman pasien terhadap instruksi pemeriksaan, kemampuan untuk bekerja
sama sepenuhnya, dan pemahaman akan tes ini secara keseluruhan.2
Pemeriksaan lapang pandangan digunakan untuk mendeteksi gejala
kerusakan nervus optik akibat glaucoma, serta untuk mendeteksi penyakit retina
baik sentral maupun perifer, kelainan-kelainan pada palpebra seperti ptosis,
kelainan pada nervus optik, dan visual pathway. Pemeriksaan ini ada beberapa
bentuk:2
- Tes konfrontasi
- Amsler grid
- Static perimetry
- Kinetic perimetry
- Frequency doubling analysis
DASAR PSIKOFISIKA DAN FISIOLOGI PERIMETRI

I. Dasar Psikofisika
Pada uji perimetri yang konvensional, pasien diminta untuk mendeteksi
target berupa satu titik berwarna putih yang terletak diatas uniform background
luminance pada lapang pandangan yang berbeda-beda. Deteksi tersebut
didasarkan pada kenaikan atau perbedaan ambang batas cahaya yang menentukan
jumlah minimum cahaya yang harus ditambahkan ke stimulus (ΔL) dengan
tujuan untuk membedakannya dengan background (L), ini dikenal dengan sebutan
hukum Weber atau ΔL/L = C.3,4
Agar hukum Weber ini dapat terjamin validitasnya, maka background
adapting luminance dari perimetri harus berada dalam photopic range (umumnya
sekitar 31.5 apostilbs, atau 10/candelas per meter kuadrat), ukuran pupil harus
cukup lebar (lebih dari 2mm), media refrakta harus jernih, serta kondisi alat ukur
lainnya (ukuran stimulus, durasi stimulus) harus berada dalam kondisi baik.
Dalam kondisi seperti ini pada mata normal, fovea adalah lokasi lapang
pandangan dengan sensitivitas yang paling tinggi. Sensitifitas ini akan menurun,
yaitu sekitar 3 derajat pada setiap titik yang menjauhi fovea, kemudian penurunan
sensitivitas yang lebih cepat akan terjadi pada area 30 derajat di luar fovea,
diikuti dengan penurunan sensitifitas yang jauh lebih cepat lagi dapa daerah yang
berada lebih jauh dari 30 derajat di luar fovea.3
Lapang pandangan temporal lebih luas dibandingkan lapang pandangan
nasal, lapang pandangan inferior lebih luas dibandingkan lapang pandangan
superior. Bentuk 3 dimensi dari profil lapang pandangan diistilahkan sebagai “hill
of vision” atau “the island of vision in a sea of blindness”, seperti yang terlihat di
gambar di bawah. Tampak terdapat sebuah lubang di daerah “island of vision”
yang merepresentasikan “blind spot” atau bintik buta, yaitu lokasi dimana nervus
optik keluar meninggalkan bola mata dan tidak terdapat fotoreseptor ataupun
elemen-elemen neural retina lainnya. Bintik buta direpresentasikan sebagai area
buta berbentuk oval berwarna kehitaman yang berlokasi sekitar 15 derajat dari
pusat fiksasi di lapang pandangan temporal yang meluas hingga 1/3 di superior
dan 2/3 di inferior meridian vertikal. Dari sisi klinis, kegunaan uji lapangan
pandang perimetri adalah untuk mengetahui pola lapang pandangan yang dimulai
dari profil sensitivitas normal dan untuk menentukan ukuran serta lokasi defisit
yang ada.3,5

Gambar 1: Representasi 3 dimensi sensitifitas mata terhadap cahaya dalam lapang pandangan.
Gambar di atas merepresentasikan mata kanan.3

I.1 Batas Lapang Pandangan Normal


Konsep atau “the island of vision in a sea of blindness” diperkenalkan
pertama kali oleh Traquair pada tahun 1939. Bagian puncak dari lembah mewakili
fovea dengan sensitifitas cahaya yang paling tinggi (titik fiksasi), dimana
sensitifitas ini semakin ke perifer akan semakin rendah dan bagian dasar lembah
merupakan bagian yang memiliki sensitifas paling rendah. 6
Lapang pandangan normal berbentuk oval: di temporal meluas hingga
100-110, inferior hingga 70-75, dan superior serta nasal hingga 60o (gambar 2).
Area di mana penglihatan menghilang dalam lapang pandangan disebut skotoma.
Jika hilangnya penglihatan tersebut bersifat menyeluruh disebut skotoma absolut,
jika bersifat parsial skotoma tersebut disebut relatif. Bintik buta merupakan
skotoma absolut yang berkorespondensi dengan papil nervus optic dan berlokasi
sekitar 15o dari fovea.6
Lapang pandangan dapat juga dibagi menjadi 3 zona yaitu daerah sentral
(dari titik fiksasi sampai 30° ke perifer), daerah intermediate (30°–50°), dan
daerah perifer (lebih dari 50°). 7
Gambar 2: Hill of vision dan luas lapang pandangan normal 6

I.2 Efek Usia Terhadap Lapang Pandangan


Penelitian menunjukkan penurunan sensitifitas lapang pandangan seiring
dengan usia. Dilaporkan dengan perimeter Goldmann, terjadi pengurangan
lapangan pandang pada semua kuadran baik daerah sentral maupun pada daerah
perifer. Pada automated perimetry, usia meningkatkan tresholds terhadap target
statik pada semua area lapang pandangan, bahkan threshold ini lebih meningkat
lagi di area 10 derajat di luar area sentral. Automated tresholds juga menjadi
bervariasi utamanya di perifer di area setelah 24 derajat. Penelitian menunjukkan
bahwa sensitifitas lapang pandangan mengalami penurunan secara konstan setelah
usia 20. Akan tetapi beberapa studi menunjukkan penurunan yang lebih tajam
setelah usia 60. Setelah usia 20 tahun, sensitivitas cahaya berkurang 1 dB per 10
tahun. Contohnya sensitivitas cahaya pada fovea pada usia 20 tahun adalah 35
dB, pada usia 30 tahun akan menjadi 34 dB. 7,8,9,10
Ada empat alasan utama terjadinya sensitifitas cahaya akibat usia, yaitu
perubahan pada media okular, penurunan diameter pupil secara linear terhadap
usia, penurunan efisiensi peyerapan cahaya oleh sel-sel fotopigmen, dan adanya
neuronal loss baik pada retina maupun pada retino-geniculostriate pathway. 10
Gambar 3: Umur dan perimeter Goldmann yang menunjukkan pengurangan secara gradual. Secara
jelas terlihat pengurangan setelah umur 55. 10

I.3 Karakteristik Visual dalam Lapang Pandangan


Setiap titik pada retina berhubungan langsung dengan arah tertentu dengan
lapangan pandang. Misalnya, fovea (titik paling tengah/pusat dari bagian posterior
retina), berkorespondensi langsung dengan titik dimana titik arah pandang
dipusatkan. Sedangkan daerah perifer dari retina berarti daerah perifer dari
lapangan pandang.7,8
Karena bayangan yang dibentuk oleh sistem optik mata yang terbalik dan
di belakang seperti halnya kamera, maka bayangan yang diterima retina akan
berbanding terbalik dengan keberadaan objek. Bagian nasal retina akan melihat
objek di temporal dari lapangan pandang dan sebaliknya, serta bagian superior
retina akan melihat objek di inferior lapangan pandang dan sebaliknya.7,8
Dari seluruh titik pada retina, informasi visual akan dikumpulkan oleh
nervus optik yang berada kira-kira 15-20 derajat dari titik fiksasi atau fovea yang
selanjutnya akan berjalan terus sampai ke korteks lobus oksipital di otak. Di
tempat ini tidak mengandung sel fotoreseptor sehingga sinar yang jatuh pada titik
tersebut tidak dapat terdeteksi sehingga akan menimbulkan skotoma yang
fisiologis yang biasa dikenal dengan blind spot. Karena tempat ini berada di
bagian nasal dari mata maka blind spot berada di temporal dari lapangan
pandang.7,8

Gambar 4: blind spot7

I.4 Lapang Pandangan adalah Gambaran 3 Dimensi


Menentukan batas paling terluar dari lapangan pandang adalah aspek yang
paling utama dalam sebuah tes lapangan pandang, tetapi yang tak kalah
pentingnya adalah bahwa setiap titik dalam area lapangan pandang mempunyai
karakteristik tertentu dalam fungsi visual. Contohnya bahwa kemampuan untuk
melihat detail yang paling baik adalah pada titik fiksasi yaitu pada daerah fovea
sentralis yang selanjutnya akan berkurang secara progressif pada lokasi yang jauh
dari fovea. 7,8,9,11
Lapang pandangan dapat digambarkan sebagai sebuah pulau penglihatan
yang dikelilingi oleh lautan kegelapan, yang dikenal dengan nama Hill of Vision
atau “the island of vision in a sea of blindness”. Teori ini dikemukakan oleh
Harry Moss Traquair. Pulau ini merupakan struktur 3 dimensi. Koordinat X dan
Y mewakili area lapang pandangan. Tepat di fovea, koordinat X dan Y berada di
titik 0,0. Lokasi dari semua area lapang pandangan digambarkan sepanjang aksis
X dan Y. Aksis Z mewakili tinggi dari hill of vision dan berkoresponden terhadap
sensitifitas retina. Tajam penglihatan paling jelas pada puncak pulau yaitu fovea
dimana tempat sensitivitas retina tertinggi. Dari puncak kemudian lerengnya akan
menurun ke perifer dimana lereng bagian nasal lebih curam dibanding temporal.
Lereng menggambarkan makin berkurangnya sensitivitas retina. Bintik buta yang
berkorespondensi dengan nervus optik, tergambar sebagai sumur yang sangat
dalam. 7,8,10,13
Bentuk pulau berhubungan dengan anatomi dari sistem visual dan tingkat
adaptasi retina. Konsentrasi sel kerucut yang paling tinggi pada fovea dimana
sebagian besar sel kerucut tersebut berproyeksi langsung ke sel ganglionnya
sendiri.7,8,10

Gambar 5: Hill of Vision ; menggambarkan secara 3 dimensi dari lapang pandangan. Secara 2
dimensi (x-y axis) akan menggambarkan luas lapang pandangan, tapi z axis akan menggambarkan
tingginya sensitifitas setiap titik( retina) didalam lapang pandangan10

II. Dasar Fisiologi Perimetri


Untuk interpretasi yang benar mengenai hasil uji lapang pandangan

membutuhkan pengetahuan yang cukup dalam hal anatomi lintas pengelihatan.

Seperti terlihat pada gambar di bawah, gambaran panoramik pada lapang

pandangan di bentuk di retina dengan melibatkan komponen optikal mata (kornea,

lensa, pupil). Cahaya yang ditangkap diubah menjadi impuls elektrik yang

kemudian akan di transmisikan melalui 100 juta fotoreseptor ke elemen neural

retina yang lain dan akhirnya sampai ke jutaan sel ganglion retina . Axon-axon sel

ganglion retina memasuki nervus optik dan berjalan ke belakang sampai ke


korteks visual. Ketika serabut saraf nervus optik meninggalkan bulbus okuli dan

memasuki otak, terjadi pemisahan serabut saraf yang menyuplai daerah lapangan

pandang nasal dan temporal sepanjang meridian vertical. Pemisahan ini terjadi di

area chiasma opticum, dimana lapangan pandang nasal dari satu mata akan

bergabung dengan lapangan pandang temporal dari mata lainnya, sehingga

sebagian pengelihatan sebelah kiri akan di representasikan di hemisfer kanan,

sebaliknya sebagian pengelihatan kanan di representasikan di hemisfer kiri.

Serabut saraf berlanjut hingga ke thalamus (nukleus genikulatum lateral) dimana

mereka bersinaps dengan serabut saraf lainnya yang menghantarkan informasi ke

korteks visual primer yang disebut area 17 atau VI.3

Gambar 6: ilustrasi skematik lintas penglihatan pada manusia3


JENIS-JENIS PERIMETRI

Selama dua abad terakhir, berbagai metode perimetri telah dikembangkan


untuk memeriksa lapang pandangan. Meskipun semua bentuk pemeriksaan lapang
pandangan memeriksa mata satu per satu, setiap modalitas memiliki kelebihan
dan kekurangan masing-masing. Berikut tabel yang membandingkan setiap teknik
perimetri secara garis besar. 4

Tabel 1: kelebihan dan kekurangan tipe-tipe perimetri4

I.1 Perimetri Statik Supratreshold


Teknik ini sangat cocok untuk melakukan screening lapang pandangan
secara cepat. Saat mempresetasikan stimulus pada suatu titik, pemeriksaan
menentukan apakah pasien dapat melihat target yang diberikan pada setiap lokasi.
Ada berbagai macam jenis perimetri ini. Yang paling sederhana adalah tes
konfrontasi dimana pemeriksa menentukan apakah pasien dapat melihat benda-
benda seperti jari, pensil, spaltel lidah, atau tutup botol obat pada lokasi lapang
pandangan perifer yang berbeda-beda. Pemeriksaan ini cepat, mudah dan mudah
diadaptasikan sesuai lingkungan pemeriksaan. Bagaimana pun, tes konfrontasi
dapat mendeteksi hilangnya lapang pandangan secara kasar dan akan melewatkan
defisit yang ringan seperti pada pasien dengan glaukoma stadium awal.3,4
Tangent screen dan perimeter Goldmann juga dapat digunakan untuk
melakukan tes lapang pandangan dengan teknik statik supratreshold. Armaly-
Drance, merupakan teknik skrining glaukoma menggunakan statik supratreshold
yang paling berguna, dapat mengetahui adanya lapang pandangan nasal step
secara dini, dan defisit lapang pandangan parasentral diluar 30 derajat. Prosedur
ini juga tersedia di berbagai automated perimetry.3,4
Meskipun perimetri statik supratreshold sangat cepat dan gampang
dilakukan, teknik ini memberikan pemahaman yang terbatas terhadap lapang
pandangan pasien. Dengan perkembangan terbaru berupa threshold estimation
procedures yang lebih cepat, keuntungan teknik ini yakni time-saving dianggap
bukan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam memilih modalitas
pemeriksaan lapang pandangan.3,4

Gambar 7: contoh hasil pemeriksaan menggunakan Humphrey Field Analyzer pada mata kanan
dengan glaukoma sudut terbuka primer dengan two-zone, threshold-related 120 point visual field
screening test3

II. PERIMETRI KINETIK


Perimetri kinetik sangat bergantung pada kemampuan operator sebagai
pemeriksa yang akan menggerakkan stimulus dari satu area yang tidak terlihat ke
arah area yang terlihat. Ukuran dan intensitas stimulus yang bervariasi telah
ditentukan besar dan intensitasnya oleh pemeriksa. Titik dimana stimulus mulai
terlihat dari titil yang sebelumnya tidak terlihat merupakan batas terluar dari
lapang pandangan, sehingga jika titik-titik tersebut dihubungkan akan membentuk
garis isopter.3,4,12
Sesuai dengan namanya, perimetri kinetik melibatkan gerakan dari target
yang terletak pada background yang sama , terdiri atas 1 atau 2 meter dark
tangent screen atau sebuah mangkuk perimeter yang hemispherik (Goldmann atau
Goldmann-like perimetry). 3,4,12
Perimetri kinetik terdiri dari proses pemetaan “hill of vision” (batasan dari
buta menjadi melihat) dengan cara menggerakkan sebuah target dengan ukuran
dan luminasi tertentu mulai dari perifer mengarah ke titik fiksasi sepanjang
meridian suksesif . Untuk target tertentu, masing-masing lokasi dihubungkan
dengan sebuah garis dengan sensitivitas serupa yang disebut isopter. Isopter
multiple dapat dibentuk dengan cara merubah ukuran atau luminasi target. Isopter
yang normal berbentuk bulat telur, dengan perumpamaan axis yang panjang
mengarah ke lapangan temporal, dan axis yang pendek mengarah ke lapangan
pandang nasal. Serupa dengan hal itu, lapangan pandang inferior meluas lebih
jauh ke perifer dibandingkan lapangan pandang superior. Apabila isopter sesuai
dengan bentuk tersebut, maka tidak diperlukan evaluasi lebih lanjut. Akan tetapi,
apabila didapatkan indentasi lokal pada isopter, maka pergeseran target scan harus
diarahkan ke perifer secara tegak lurus searah garis imajiner yang terbentuk
diantara 2 titik. 3,4,12
Dalam radius 30-40 derajat lapang pandangan, sering didapatkan
beberapa “spot checks” arkuata di antara isopter dan di lokasi dimana satu atau
beberapa isopter mengalami indentasi. “Spot checks” yang statis biasanya
tampak di antara garis-garis isopter, dan memberikan pantulan target yang jelas.
Lokasi dimana tidak didapatkan spot checks, harus di ulang kembali untuk
mendeteksi area non-detection. Pada daerah dimana tidak didapatkan “spot
checks”, atau regio dengan resesi lokal atau isopternya tertekan, maka pemetaan
skotoma harus dilakukan, dimulai dari daerah yang dicurigai terdapat defek dan
digerakkan keluar dan radier ke 8 arah (horizontal, vertikal, oblik). Pencitraan
tambahan dapat dilakukan untuk mengkarakterisasi bentuk defisit dengan lebih
baik, serta sebaiknya digunakan target multipel untuk mengidentifikasi kedalaman
defisit serta batas defisit tersebut. Hasil akhir dari perimetri kinetik berupa
pemetaan topografik “hill of vision” yang merepresentasikan bentuk 2 dimensi
dari struktur lapang pandangan 3 dimensi.3,4,12
Kelebihan dari perimetri kinetik antara lain kemampuannya untuk
mengkarakterisasi keseluruhan lapang pandangan, baik sentral maupun perifer,
fleksibilitas serta interaksi antara pemeriksa dan pasien lebih baik, dan merupakan
suatu metode yang sangat efisien untuk mengevaluasi lapang pandangan perifer
yang jauh. Beberapa kekurangannya termasuk prosedur yang kurang
terstandarisasi, karakteristik populasi normal yang terbatas, serta kesulitan untuk
menentukan karakteristik kehilangan sensitivitas lapang pandangan yang luas
untuk kelompok usia yang berbeda. 3

III. PERIMETRI STATIK


Saat ini, perimetri statik adalah metode yang paling lazim digunakan untuk
uji lapang pandangan, khususnya perimetri otomatis. Perimetri statik melibatkan
deteksi target statik (menetap) yang terletak pada uniform white background. Pada
masing-masing lokasi lapang pandangan yang diuji, penilaian meliputi jumlah
minimum perbedaan titik cahaya (target) yang dapat dibedakan dengan
background yang ada. Lokasi lapang pandangan yang berbeda di uji sepanjang
meridian radier antara titik sentral fiksasi dengan lokasi eksentrik, atau mengikuti
Cartesian grid of locations yang biasanya mengelilingi meridian horizontal dan
vertikal. Sebagai tambahan, metode untuk mengevaluasi test performance (false
positive, false negative, blind spot fixation checks) serta alignment (posisi kepala
dan mata) telah dikembangkan pada perimetri statik. 3,4,12
Representasi hasil lapang pandang dari perimetri statik otomatis
digambarkan dalam nilai sensitifitas numerik, general and pattern deviations dari
masing-masing kelompok usia normal, tampilan hitam-putih sebagai representasi
sensitifitas lapang pandangan, probability plots (penyimpangan dari pola normal),
dan dapat pula memberikan gambaran tiga dimensi sensitivitas densitas daerah
yang mengalami deviasi pada beberapa kasus.3,4,12
Gambar 8: prinsip kerja perimetri kinetic dan statik11

Pada perimetri otomatis threshold /ambang batas diartikan sebagai angka


yang menunjukkan sejumlah 50 % kemungkinan suatu titik dalam area lapang
pandang untuk menangkap suatu stimulus dimana titik tersebut mempunyai
daerah batas tertentu yang akan diukur dalam dB atau asb. 7,8,10,13,6
PERIMETRI GOLDMAN

Perimeter Goldmann adalah alat yang berbentuk setengah kubah dengan


warna latar belakang putih dan berjari-jari 30 cm. Sebuah alat yang dapat
digerakkan dan memancarkan cahaya target ke dalam kubah dengan jarak 30 cm
dari kornea yang secara kontinyu atau berkala dengan ukuran yang berbeda-beda
serta intensitas yang berbeda pula dengan background illumination sebesar 31,5
asb. Pemeriksa akan mengamati pasien melalui sebuah teleskop dan pasien akan
merespon stimulus melalui sebuah tombol. 9,10, 14

Gambar 9 : Perimetri Goldmann14

Indikasi penggunaan perimeter Goldmann yaitu:9


 Jika menginginkan pemeriksaan lapang pandangan yang lebih dari 30°,
dimana perimeter statik hanya dapat membatasi sampai 30°.
 Jika terdapat indikasi terjadi Functional Field Loss.
 Jika kepatuhan pasien kurang baik dalam memfiksasi mata sehingga
diperlukan operator dalam memonitor fiksasi mata pasien.

I.1 Prinsip Kerja Perimetri Goldmann


Ketajaman penglihatan yang jauh dari fovea dapat diukur dari suatu
pengukuran lapang pandangan. Tetapi pengukuran lapang pandangan dengan
menggunakan perimeter yang manual/kinetik (Perimeter Goldman), tidak dapat
mengukur kemampuan kuantitatif atau sensitivitas retina pada setiap titik /daerah
yang berbeda dalam area lapang pandangan tersebut, hanya mengukur batas
terluar dari lapang pandangan serta melihat adanya defek. Tetapi tidak demikian
halnya dengan perimeter otomatis yang dapat mengukur besarnya fungsi
ketajaman visual pada tiap titik berbeda dalam area lapang pandangan.10,13,15
Pada perimeter Goldmann, digunakan target yang ukuran serta intensitas
yang telah ditetapkan yang akan menentukan batas dan ambang dari lapang
pandangan. Perimeter ini menggunakan pencahayaan background luminance
sebesar 31,5 asb.10,13
Stimulus ini akan digerakkan dari area yang tidak dapat dilihat
(infratreshold) ke area yang yang dapat terlihat (supratreshold). Selanjutnya
dilakukan pada beberapa tempat berbeda. Titik-titik sepanjang batas terluar dari
lapang pandangan didapatkan dengan mencari kemampuan pasien untuk melihat
stimulus terlemah. Garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki batas
ambang yang sama atau batas daerah antara yang terlihat dan yang tak terlihat
disebut isopter.10,13

I.2 Prosedur Pemeriksaan dan Persiapan Pasien


Pada pemeriksaan dengan menggunakan perimetri Goldmann, dilakukan
dalam beberapa langkah, yaitu:16
 Pasien duduk dalam keadaan nyaman. Perhatikan pupil pasien jika kurang
dari 2 mm maka lakukan penetesan 2,5 % phenylephrine.
 Ketajaman penglihatan dekat harus dikoreksi sebelum dilakukan
pemeriksaan. Sangat diutamakan jika pasien memakai kontak lensa.
Posisikan frame kacamata jangan sampai menyentuh bulumatanya.
 Siapkan seluruh peralatan sebelum pasien didudukkan depan mesin.
Pasang kertas perimeter. Pastikan posisi kertas tepat pada framenya.
 Jelaskan kepada pasien tentang cara kerja pemeriksaan ini. Berikan latihan
pada pasien dalam mempergunakan tombol jika melihat stimulus cahaya.
 Tutup mata yang tidak diperiksa dengan baik. Jika terdapat
dermatokalasis, plester lipatan kulit keatas, jika ada ptosis, elevasi
palpebra superior ke atas dengan plester tapi jika kurang kuat, siapkan
seseorang untuk mengangkat palpebra selama pemeriksaan. Posisikan
dagu dan dahi pasien pada tempatnya.
 Redupkan lampu ruangan dan berikan kesempatan kepada pasien untuk
beradaptasi sebelum memulai pemeriksaan.
 Perhatikan mata pasien melalui teleskop, dan instruksikan untuk tetap
terfiksasi tetap di sentral. Jika tidak pada posisi sentral, atur posisi vertikal
dan horisontal dari dudukan dagu melalui alat dibawah kertas.
 Instruksikan kepada pasien untuk terus melihat lurus kedepan, walaupun
akan ada cahaya yang lain yang mungkin lebih terang dan yang lain akan
lebih redup. Perintahkan untuk menekan tombol kapan saja dia melihat
cahaya.
 Pilih ukuran dan intensitas cahaya target . Mulai dengan daerah perifer
tanpa lensa koreksi.
 Gerakkan pantograf dari area tak terlihat menuju area yang dapat dilihat
oleh pasien dengan kecepatan 3-5 derajat perdetik.
 Instruksikan pasien jika melihat cahaya untuk menekan tombol.
 Jika telah didapatkan isopter daerah perifer, pasangkan lensa koreksi , jika
memang diperlukan, dan mulai kembali untuk daerah sentral dengan
memakai beberapa isopter.
 Blind spot didapatkan dengan target yang paling kecil.
 Untuk menghindari kelelahan dari pasien, jangan lakukan pemeriksaan
lebih dari 10 menit pertama. Jika terlihat tanda kelelahan , berikan waktu
untuk istirahat pada pasien.
 Sangat penting untuk mengevaluasi konsistensi pasien dalam melakukan
pemeriksaan ini Biasanya kita mematikan alat untuk beberapa detik,
seharusnya pasien akan tidak memberikan respon selama waktu tersebut.
Dan yang terpenting juga adalah kita harus memperhatikan fiksasi mata
pasien melalui teleskop, jika tidak terfiksasi dengan baik, instruksikan
untuk memperbaiki fiksasi matanya.
 Jika ingin melanjutkan pada mata sebelahnya, berikan waktu untuk
istirahat. Pastikan semua kuadran telah diperiksa semua.

1.3 Teknik Pemeriksaan


1.3.1 Jenis dan Ukuran Target
Target diartikan sebagai suatu stimulus yang mempunyai dua parameter,
yaitu ukuran besar stimulus dan luminance atau intensitas/terangnya stimulus
yang diukur dalam apostilb (asb).10
Ada 6 jenis ukuran target/stimulus dimana merupakan kelipatan 4 dari
ukuran target sebelumnya, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2: ukuran target atau stimulus pada perimetri Goldmann10

Sedangkan intensitas stimulus dibagi manjadi 2 pola yaitu:10


 Intensitas dari angka 1,2,3 dan 4 yang berbeda 5 dB, dimana angka
4 adalah yang paling terang. Selanjutnya akan lebih di bedakan lagi
dengan;
 Intensitas dari angka a,b,c,d dan e yang berbeda 1 dB, dimana
huruf e adalah yang paling terang.
Jadi jika memakai target stimulus III 2e akan lebih terang dan besar daripada I 2d
tapi tidak lebih besar dan lebih terang dari IV 3a.10
Intensitas cahaya diukur dengan desibel (dB) yang merupakan cara untuk
membandingkan intensitas cahaya pada stimulus terhadap maksimal intensitas
cahaya yang dapat dikeluarkan oleh mesin. 10 dB berarti cahaya ini 1/10 kali
lebih terang dari cahaya yang paling terang yang ada, 20 dB berarti cahaya ini
1/100 kali lebih terang dari cahaya yang paling terang yang ada ( berdasarkan log
unit). Jadi semakin tinggi jumlah dB maka semakin redup stimulus, misalnya
stimulus I 2e adalah 5 dB lebih atau lebih redup dari stimulus I 3e. Jika dB
dikonversikan ke asb maka 0 dB berarti 10.000 asb, dan 10 dB berarti 1000 asb,
tapi untuk mengukur derajat sensitivitas retina biasa dipakai satuan dB untuk lebih
memudahkan.10,16

Tabel 3: besar intensitas stimulus pada perimetri10

Suatu stimulus akan dapat terlihat oleh pasien jika diberikan pencahayaan
kontras. Untuk perimetri Goldman warna stimulus dan warna latar belakang sama
yaitu warna putih, sedangkan pencahayaan latar belakang (background
luminance) telah memakai ukuran standar yaitu sekitar 31,5 asb (perimetri kinetik
dan statik). Stimulus untuk dapat terlihat harus memiliki intensitas yang melebihi
intensitas latar belakangnya.10,16
1.3.2 Pemilihan Target
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setiap mata yang diperiksa
seharusnya dengan 3 jenis target untuk mendapatkan 3 lingkaran isopter. Ukuran
target yang terkecil diberikan pada lapang pandangan sentral (10°), dan semakin
ke perifer menggunakan target yang lebih besar. 10
Yang terutama adalah isopter yang berada di paling terluar dari lapang
pandangan dengan stimulus yang besar dan terang (V4e) dan stimulus yang kecil
dan agak redup untuk memeriksa lapang pandangan dalam area 30 derajat ( I2e ,
I3e atau I4e). 10
Jika sebuah defek dapat terlihat dengan isopter I2e tapi tidak dengan
isopter I4e maka daerah antaranya dapat diisi dengan isopter I3e. Jika ada
kecurigaan adanya defek di sentral atau para sentral, maka 03e isopter dapat
digunakan. Sangat diperlukan pengetahuan serta pengalaman untuk dapat
menemukan target yang tepat sehingga defek dapat ditemukan.16,17
Gambar 10: isopter lapang pandangan10
Gambar diatas memperlihatkan pemeriksaan dengan menggunakan 3 buah
isopter yang lebih jelas memperlihatkan adanya defek. Gambar A adalah
gambaran perimetri Goldmann dimana memperlihatkan isopter terluar adanya
konstriksi daerah nasal lapang pandangan, isopter tengah menunjukkan adanya
defek arkuata superior dan inferior nasal sedangkan isopter terdalam
menunjukkan puncak sensitifitas. Gambar B memperlihatkan gambaran lapang
pandangan3 dimensi dari gambar A yang dibandingkan dengan gambaran normal
lapang pandangan di gambar C.10

1.3.3 Pemetaan Bintik Buta


Dalam pemeriksaan perimetri pemetaan terhadap bintik buta sangatlah
penting, biasanya digunakan ukuran target I4e atau I2e. Target yang lebih besar
tidak akan dapat menemukan ukuran dari blind spot yang kecil.10
Caranya dengan menggerakkan stimulus maju-mundur. Sementara mata
pasien terfiksasi, matikan stimulus, lalu tempatkan stimulus di 15° di temporal
pada horisontal meridian (tempat ini tepat ditengah blind spot), lalu nyalakan
kembali stimulus. Jika pasien mengatakan melihat stimulus, matikan stimulus,
lalu gerakkan stimulus keatas dan ke lateral beberapa derajat, lalu nyalakan
kembali. Jika pasien mengatakan tidak melihat stimulus, gerakkan keatas, ke
bawah, ke lateral dan ke nasal sampai pasien mengatakan melihat stimulus.
Daerah yang tidak terlihat itulah tempat bintik buta berada yakni antara 10-20
derajat temporal dari titik fiksasi.10

1.3.4 Pemetaan Penyakit Retina


Dalam pemetaan penyakit-penyakit di retina sangat berhubungan dengan
informasi hasil funduskopi. Jika kecurigaan di daerah makula maka pemeriksaan
sangat dikhususkan pada daerah sentral. Retinitis pigmentosa mungkin lebih
dikhususkan pada daerah midperifer. Tetapi untuk pemilihan jenis perimeter,
dengan perimeter otomatis sangatlah terbaik, karena dengan perimeter statik akan
dapat diketahui berapa besar sensitivitas retinanya.10

1.3.5 Pemetaan Nervus Optik dan Pemetaan meridian Horizontal


Gangguan yang melibatkan nervus optik prechiasmal akan merefleksikan
adanya pengurangan luas lapang pandangan daerah meridian horisontal. Defek
lapang pandangan yang tersering adalah skotoma sentral atau defek arkuata,
sehingga sangat penting untuk memeriksa daerah sentral 20° dan daerah meridian
horisontal nasal. 10
Pertama gerakkan stimulus dari arah nasal dibawah dan diatas meridian
horisontal, selanjutnya akan terlihat ketidaksesuaian. Stimulus lalu digerakkan
secara perpendicular di daerah nasal. Lakukan pada beberapa tempat di daerah
sekitar nasal dan superior untuk lebih mengeksplorasi defek di superonasal.10
Gambar 11: pemetaan meridian horisontal dengan defek nasal step pada mata kanan. A-B
Gerakkan stimulus yang berada di atas dan di bawah meridian horizontal sampai terlihat adanya
disparansi daerah superior. C-D Eksplorasi daerah superior dengan menggunakan beberapa
stimulus ukuran yang sama tetapi intensitas berbeda (statik) sampai didapatkan daerah terlihat (O)
dan tidak terlihat (X). E pemetaan kinetic lebih pada daerah superior sampai didapatkan isopter
(F)10

1.3.6 Pemetaan Meredian Vertikal


Penyakit-penyakit yang berada di belakang kiasma optik akan
merefleksikan pada meridian vertikal. Gerakkan stimulus seperti halnya
pemeriksaan meridian horisontal. Stimulus digerakkan disebelah kanan dan kiri
meridian vertikal. Pemeriksaan meridian vertikal harus dilakukan dengan 3 isopter
pada daerah 50°, 40° dan 30° derajat.10
Gambar 12: Perimetri kinetik dilakukan untuk memeriksa meridian vertikal dengan cara memilih 3
isopter yaitu pada isopter 30, 40 dan 50 derajat. Stimulus digerakkan di atas dan di bawah garis
meridian.10

1.3.7 Gambaran Normal


Sebuah diagram lapang pandangan dapat diartikan sebagai lapangan yang
“as patient sees it“. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pemeriksaan
perimeter Goldmann hanya akan memberikan gambaran secara 2 dimensi dimana
sebuah kriteria normalnya akan memberikan gambaran luas lapang pandangan
yang sesuai dengan umurnya.10,14
Yang menentukan pula bahwa pemeriksaan dilakukan tidak hanya dengan
1 isopter saja sehingga defek yang berada di dalam area lapang pandangan dapat
terdeteksi.10,14
Pada gambar di bawah memperlihatkan gambaran normal dari lapang
pandangan mata kanan seseorang yang berumur 20 tahun. Physiologic Blind Spot
berada di antara 10-20º dari titik fiksasi. Tidak terdapat keterangan nama, tanggal
pengambilan, diameter pupil. Pemeriksaan dilakukan dengan 4 isopter berbeda
sehingga jelas memperlihatkan batas-batas lapang pandangan dibeberapa derajat
dari titik fiksasi. Perhatikan daerah lateral lebih luas dari daerah nasal yang sesuai
dengan gambaran normal lapang pandangan. Keterangan besar ukuran dan
intensitas cahaya stimulus disebutkan di kotak pojok kanan bawah.10
Gambar 13: Lapang pandang normal pada mata kanan10

1.3.8 Artefak
1. Lens Rim Artifact dan Lids Artifact
Perhatikan jika lens holder terdorong kebawah atau terdapat ptosis atau
blepharokalasis, sehingga akan menghalangi visualisasi lapang pandangan
daerah superior.10,14

2. General constriction
Pupil yang kecil, atau refraktif error yang tidak terkoreksi dengan baik, ketidak
konsistensian dari pasien dalam memfiksasi matanya, akan mempengaruhi
hasil lapang pandangan terutama daerah sentral. Juga dipengaruhi oleh cara
pemeriksa dalam menggerakkan stimulus yang terlalu cepat sehingga stimulus
yang seharusnya terlihat menjadi tidak terlihat. 10,14
Gambar 14 : Lens artifact10

Gambar 15: Lids artifact10

1.3.9 Bentuk
Setiap defek pada hasil pemeriksaan perimeter Goldmann adalah
perubahan dari pola isopter. Jika lingkaran isopter mengalami perlekukan, hal ini
mengartikan bahwa ada area yang tidak terlihat pada lapang pandangan dimana
stimulus tidak terlihat oleh pasien.10
Dalam pemetaan lapang pandangan sangat tergantung kepada perubahan
dari ambang batas penglihatan (visual threshold) pada setiap titik dalam area
lapang pandangan. Perubahan yang dimaksud adalah bertambahnya batas ambang,
yang berarti sensitivitas retina menjadi berkurang dalam menangkap stimulus
sehingga akan memberikan gambaran lekukan atau indentasi terhadap permukaan
batas ambang yang semestinya. Ada 3 jenis gambaran gangguan yang biasa
didapatkan, yaitu :10,18
1. Scotoma, yaitu daerah berupa kawah yang dalam tapi dikelilingi oleh
daerah yang normal. Skotoma berarti hilangnya penglihatan walau dengan
target yang paling besar dan yang paling terang. Dibedakan atas skotoma
absolut yang mempunyai sensitivitas retina 0 dB misalnya fisiologis blind
spot dan skotoma relatif dimana masih mempunyai sedikit sensitivitas
retina.
2. Constriction, yaitu daerah lekukan yang melibatkan batas terluar dari
lapang pandangan.
3. Depression, yaitu daerah lekukan yang tidak lebih dalam dari scotoma tapi
luas. Ini menandakan bahwa hilangnya sensitivitas retina tidak lebih
banyak dari skotoma relatif.

Gambar 16: Lekukan kiri atas menunjukkan Scotoma, lekukan kanan atas Depression dan
dibawah adalah Constriction.18
PERIMETRI HUMPHREY

Perimetri Humphrey didesain menyerupai kondisi perimetri Goldmann.


Sehingga kedua alat ini memiliki jarak view yang sama yaitu 33cm, background
luminance yang sama yakni 31,5 asb, ukuran target yang sama dengan
penunjukan yang sama yakni I-IV, dan intensitas dari perimetri Humphrey dapat
dengan mudah dikonversikan ke perimetri Goldmann. Rentang target luminance
mungkin lebih besar pada Humphrey dibanding Goldmann.10,14
Perimetri Humphrey dengan hasil pemeriksaan yang begitu lengkap dan
akurat akan dapat:10,19
- Menentukan adanya kelainan lapang pandangan
- Menentukan derajat kelainan lapang pandangan
- Melihat adanya defek karena penyakit glaukoma yang masih ringan (
Early glaucomatous defect ) dan progresifitasnya
Pada primetri Humphrey juga disertakan hasil statistik yang disebut visual
field indices untuk memberikan gambaran penurunan sensitivitas yang
generalisata atau luas (Mean deviation/MD), penurunan sensitivitas yang
terlokalisir (Pattern standard deviation/PSD), hilangnya lapang pandangan sebagai
akibat dari kerusakan asimetris lapang pandangan superior dan inferior yang
merupakan karakteristik glaukoma (glaucoma hemifield test/GHT), serta progresi
lapang pandangan (glaucoma progression analysis/GPA) dan tingkat
progresitivitas (Glaucoma progression index/GPI).3
Walau dengan segala keuntungan tersebut diatas, perimetri otomatis ini
juga memberikan kerugian karena perlu pembelajaran serta berbagai macam data
yang diperlukan dan interpretasinya yang sangat sulit.6,10
Pencahayaan latar belakang sama dengan perimeter Goldmann yaitu
sekitar 31,5 asb yang telah ditentukan oleh International Perimetric Society.
Perimeter ini akan menggunakan stimuli yang dipancarkan ke kubah dengan
intensitas yang bervariasi sampai 51 dB, tetapi ukuran stimuli telah ditentukan
sebelum pemeriksaan dilakukan. Ukuran besarnya stimulus sama dengan
perimetri Goldmann.10,14
Gambar 17: Humphrey Visual Field Analizer II- I series14

I. Prinsip kerja Perimeter Humphrey


Satu prinsip kerja yang paling utama yang membedakan perimeter kinetik
dengan perimeter statik, yaitu perlakuan dari stimulusnya. Stimulus atau target
dari perimeter Humphrey tidak akan bergerak tetapi tetap / statik hanya akan
bercahaya selama 200 ms pada beberapa lokasi yang berbeda-beda dalam bentuk
sebaran /grid.10
Stimulus ini akan menentukan threshold dari titik-titik pada pola sebaran.
Stimulus ini sudah ditentukan ukuran besar stimulus biasanya ukuran III atau V
tetapi intensitas cahayanya akan berubah-ubah. Stimulus ini akan memberikan
pencahayaan dimulai pada satu titik tertentu yang selanjutnya akan berpindah ke
daerah yang terdekat sampa pada daerah yang terjauh dari titik awal seperti anak
tangga, sampai seluruh lapang pandangan terpenuhi.10,14
Pola sebaran pada lapang pandangan ini tidak ada hubungan
interpolarisasi, yang berarti bahwa daerah antara dua titik tidak akan mendapatkan
cahaya sehingga skotoma yang sangat kecil yang berada pada 2 titik tidak akan
terdeteksi, jika jarak antara titik terlalu jauh.10
Semakin banyak titik yang diperiksa maka semakin lama waktu
pemeriksaan. Biasanya pemeriksaan hanya melihat 50-120 titik, dimana yang
tersering adalah 76 titik dengan jarak 6° dengan luas lapang pandangan 30° ( 30-1
atau 30-2 ).10
Gambar 18: pola sebaran titik A : 30 derajat, B : 20 derajat, C : 10 derajat 10

Setiap titik ini akan memiliki angka sebagai threshold dari sensitivitas
retina/kemampuan dari titik tersebut untuk menangkap stimulus yang terlemah
(50%). Angka tersebut akan diukur dalam decibel (dB).10,14
Semakin besar angka numeriknya yang berarti semakin tinggi sensitivitas
retina untuk menangkap stimulus, maka dengan Graytone simbol akan
menampakkan gambaran titik yang semakin putih dan sebaliknya.10,11

Gambar 19: Sensitivitas retina digambarkan secara kuantitatif dalam decibel (dB) dan
digambarkan secara simbolik Graytone dalam gambaran titik-titik
Prinsip kerja yang lain dari perimeter otomatis ini adalah bahwa data hasil
pemeriksaannya akan dikalkulasikan secara statistik dengan data kharakteristik
normal lapang pandangan pada umur yang sama dan abnormal yang telah dimiliki
oleh perimeter ini. Dengan perimeter ini juga akan mengukur berapa besar
deviasi/ perbedaan gambaran lapang pandangan pasien dengan gambaran normal
pada umur yang sama, sehingga sangat perlu pengambilan data umur dan riwayat
kelainan lainnya.19
Hasil pemeriksaan ini akan memberikan kesimpulan akhir tentang, adanya
defek lapang pandangan, jenis defek, seberapa luas dan besar defek, serta
seberapa besar kemungkinan perubahan dari hasil normal dengan umur yang
sama.19
Perimeter statik telah memiliki program tertentu yang setiap jenis
memiliki program tersendiri dimana program ini akan menentukan batas luas
daerah pemeriksaan, kecepatan serta keakuratan dalam pemeriksaan.10,19

Gambar 20: contoh defek lapang pandangan akibat kerusakan pada visual pathway di berbagai
lokasi mulai dari retina hingga korteks visual3
II. Cara Kerja dan Persiapan Pasien
Persiapan pasien sama saja dengan perimeter Goldmann, tapi pemeriksaan
akan sepenuhnya dilakukan oleh komputer. Sama seperti perimetri lain, ruangan
pemeriksaan harus gelap dan bebas dari bising yang dapat mengganggu
konsentrasi pasien. Yang perlu sangat diperhatikan bahwa karena keterbatasan
lapang pandangan yang diperiksa hanya sampai pada 30 derajat maka pasien
harus diberikan koreksi penglihatan dekatnya. Pemberian instruksi juga harus
tepat, utamanya pada pasien yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan ini.10

II.1 Pemasukan Data


Pemasukan data sangat penting sebagai langkah awal pemeriksaan yang
akan membuat hasil pemeriksaan lebih akurat dan detail. Data-data ini sangat
diperlukan juga untuk kepentingan follow up penyakitnya. Data-data tersebut
adalah:10
1. Tanggal dan waktu.
Biasanya akan diatur otomatis oleh komputer
2. Nama pasien, nomor rekam medik dan data waktu kelahiran
3. Data visus, ukur diameter pupil dan koreksi visus yang dikenakan saat
pemeriksaan dilakukan.
Penurunan ukuran pupil dari 4 ke 2 mm akan mengurangi sensitivitas
retina sebanyak 0,7 dB.
4. Jenis tes/strategi yang akan dipakai.
Setiap jenis kelainan mata akan memerlukan jenis tes yang berbeda. Tipe
program atau strategi yang akan digunakan akan menentukan berapa luas
lapang pandangan yang akan diukur sehingga akan memberikan hasil yang
maksimal.

II.2 Pemilihan program


Berbagai macam program telah disediakan untuk mendeteksi daerah-
daerah tertentu dalam lapang pandangan. Program ini bergantung kepada
gangguan tertentu yang dicurigai.
Program – program yang dimaksud adalah:3,10,11,14
1. Suprathreshold strategies (strategi skrining)
Supratreshold static perimetri umumnya digunakan dalam prosedur
skrining yang membutuhkan waktu cepat dalam mendeteksi defisit lapang
pandangan. Terdapat beberapa metode supratreshold static perimetri yang
digunakan saat ini. Pola stimulus yang diberikan bervariasi mulai dari 30 titik
hingga 200 titik. Beberapa strategi memberikan stimulus target dengan
luminasi yang tetap, namun ada juga strategi yang memberikan stimulus
target dengan luminasi yang berbeda-beda sesuai dengan derajat eccentricity.
Supratreshold strategy ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain: teknik
pemeriksaannya sederhana dan efisien untuk skrining defisit lapang
pandangan baik bagi pasien maupun bagi pemeriksa, prosedur yang
terstandarisasi serta mampu memeriksa keseluruhan lapang pandangan.
Kekurangannya termasuk keterbatasan informasi kuantitatif, sensitivitas serta
spesifisitas yang lebih rendah dibandingkan strategi threshold, system scoring
yang belum di validasi, serta terbatasnya kemampuan untuk memonitor
progresifitas penyakit.
Program ini diberikan kepada pasien yang baru pertama kali melakukan
pemeriksaan dan kecurigaan adanya kelainan ringan saja. Program ini
berlangsung cepat yaitu sekitar 6 menit pertama dan hanya akan memberikan
keterangan adanya defek tapi detail lokasinya kurang jelas. Program ini
kurang baik untuk pemeriksaan penyakit glaukoma.
Jika ada defek yang absolut akan diberi tanda bulat hitam dan defek yang
relatif diberi tanda silang. Untuk mengetahui detail defek untuk seluruh
lapang pandangan sangat baik dengan perimetri Goldmann. Sedangkan untuk
memeriksa secara detail lapang pandangan sentral menggunakan threshold
strategies, sedangkan besar stimulus yang diberikan 6 dB lebih terang dari tes
Threshold.
2. Threshold Strategies
Program ini akan mengukur reduksi / pengurangan dari sensitivitas retina
pada seluruh titik yang akan diperiksa. Sangat berguna dalam
menggambarkan secara detail defek yang terjadi. Ada 3 macam program
threshold ini, yaitu :
a. Full Threshold
Program ini adalah gold standar untuk pengukuran penyakit glaukoma.
Yang tersering diapakai adalah program 30-2 atau 24-2.
Komputer awalnya akan mengukur threshold pada titik utama pada setiap
kuadran yaitu sekitar 9° dari meridian vertikal dan meridian horisontal
untuk program 30-2. Selanjutnya akan mengukur titik-titik disebelahnya
secara berturut-turut seperti anak tangga. Awalnya setiap titik akan
diberikan 4 dB sampai pasien tidak dapat melihatnya, yang selanjutnya
akan dinaikkan tiap 2 dB sampai dapat dilihat oleh pasien. Angka dimana
pemberian 2 dB terakhir yang dapat dilihat oleh pasien adalah threshold
dari titik tersebut.

b. Fast threshold (Fastpac)


Program ini akan memakai data dari pemeriksaan sebelumnya yang akan
dipakai untuk memeriksa hanya pada daerah yang sangat dicurigai dan
tidak pada daerah yang lainnya. Jika program full threshold menggunakan
2 dB untuk tiap kenaikannya maka untuk program fast threshold
menggunakan 3 dB.

Gambar 21: Metode Full Threshold dan Fastpac ( Fast threshold )10
c. Efficient Threshold Startegies / Swedish Interactive Thresholding
Algorithm (SITA)
Program ini merupakan program standar baru yang lebih baik
dibanding dengan program Threshold. Program ini dibuat supaya
dalam menganalisa hasil pemeriksaan lebih cepat dan tidak terlalu
bervariasi serta lebih akurat.
Program terdahulu untuk melihat threshold dari suatu titik akan
melakukan staircase methode yang akan memakan waktu lama tapi
program SITA ini melihat besarnya perkiraan yang terbaik dari suatu
titik untuk dapat dilihat oleh orang dengan umur yang sama.
Program SITA ini sangat cepat dalam pemeriksaannya, yaitu 2 kali
lebih cepat dari Full threshold. Program SITA terbagi atas 2 macam
yaitu SITA Standar dan SITA Fast.

II.3 Pemilihan Daerah Pemeriksaan


Ketika kita memilih program tertentu maka daerah pemeriksaan akan ikut
ditentukan pula, apakah daerah sentral, perifer, seluruh lapang pandangan atau
daerah tertentu saja.10

a. Daerah Sentral
Daerah ini yang paling sering dipilih yaitu daerah sentral 30 atau 24, daerah
ini merupakan pemilihan untuk penyakit glaukoma.
Di dalam area 30 atau 24 akan ada beberapa titik pemeriksaan (presentation
target ), dapat 76 atau lebih detail lagi 116 titik.
Disamping itu akan ada 2 versi lain yaitu versi 1 atau 2 ( 30-1 atau 30-2 ),
dimana angka 1 berarti bahwa titik awal presentasi traget dimulai di daerah
meridian horisontal dan vertikal, sedangkan angka 2 berarti dimulai diantara
meridian (ditengah kuadran), sehingga sangat baik untuk menggambarkan
defek di daerah nasal dan hemianopia, walau kedua titik dipisahkan oleh 6°.
b. Daerah perifer
Daerah ini berada 30° - 60°. Biasanya dilakukan jika setelah pemeriksaan
sentral dan ada kecurigaan adanya defek lebih ke daerah perifer, tapi hal ini
jarang dilakukan sebab dengan perimeter Goldmann akan lebih baik.

c. Seluruh Lapang Pandangan


Tidak ada program Humphrey yang dapat menjangkau seluruh lapang
pandangan. Paling terbanyak hanya 120 titik, sehingga untuk pemeriksaan
daerah perifer secara detail sangat baik dilakukan oleh Perimeter Goldmann.

d. Daerah Khusus
Pada penyakit glaukoma, daerah sentral dan 15° di daerah nasal meridian
adalah daerah yang sangat bermakna. Program Armaly dipakai untuk
melihat daerah ini, demikian pula untuk menilai meridian horisontal dan
vertikal. Untuk pemeriksaan daerah temporal sebaiknya menggunakan
perimeter Goldmann.

Tabel 4 : Macam-macam strategi perimetri10

III. Parameter Pemeriksaan Perimetri Humphrey


Hasil pemeriksaan perimetri humphrey akan memberikan data terpercaya
berupa angka-angka yang menggambarkan derajat sensitivitas retina pada titik-
titik yang telah di tentukan. Hasil ini juga menggambarkan perhitungan secara
statistik tentang berapa besar perbedaan sensitivitas dibandingkan dengan orang
normal dan umur yang sama.10

3
8

Gambar 22: hasil pemeriksaan dengan perimetri Humphrey 24-220

Ada beberapa parameter yang terlihat melalui lembaran pemeriksaan yang


akan sangat memberikan informasi tentang keakuratan dari pemeriksaan.
Hal-hal yang sangat perlu diperhatikan dalam menilai suatu lembar
pemeriksaan perimeter Humphrey dapat dibagi menjadi 8 zona, yaitu:
I. Reproducibility
Data pasien dan parameter tes pada baian atas printout hasil
pemeriksaan:
- Data pasien (nama, tanggal lahir, mata yang diperiksa (apakah kiri
atau kanan), ukuran pupil, visus pasien saat dilakukan
pemeriksaan) khurana
Pastikan data mengenai data pasien khususnya nama dan tanggal
lahr ini akurat, karena akan penting dalam pemeriksaan berikutnya
serta dapat dibandingkan dengan gambaran normal dengan umur
yang sama.10
Pupil yang kecil dapat mengurangi lapang pandangan, jadi ukuran
pupil yang terkecil yang dapat memberikan hasil terbaik adalah 3
mm. Perhatikan jika dilakukan pemeriksaan kedua hendaknya
memakai ukuran pupil yang sama pula.10,21
- Parameter tes yang dilakukan (nama tes, strategi yang pilih,
stimulus dan background yang digunakan)
Pemilihan parameter tes yang akan digunakan disesuaikan dengan
luas lapang pandangan, area mana serta jenis informasi apa yang
akan kita periksa.
II. Reliability indices
Bagian ini menunjukkan indeks reliabilitas hasil pemeriksaan dan
durasi tes yang dilakukan.
Ada beberapa parameter untuk menilai apakah pasien telah cukup baik
dalam kerjasama serta dalam merespon setiap instruksi yang kita
berikan, yaitu :
a. Fixation Loss6,10,20
Perimeter secara periodik akan memancarkan cahaya stimulus pertama
kali pada daerah blind spot. Pasien tentunya tidak akan melihat cahaya
tersebut, tetapi jika pasien tersebut tidak melihat pada titik fiksasi
maka akan melihat cahaya dan menekan tombol. Perimeter akan
menunjukkan berapa kali tes ini dilakukan dan berapa kali pasien gagal
dalam memfiksasi matanya.
Angka ini akan menunjukkan seberapa besar kemampuan pasien dalam
mempertahankan fiksasi matanya. Pemeriksa harus selalu memeriksa
fiksasi mata pasien melalui monitor yang tersedia.
Secara kuantitatif akan terukur misalnya pada daerah blind spot
dengan angka seperti 0/10 atau 2/10 yang berarti tidak ada atau ada 2
fiksasi yang salah dari 10 titik yang berada di daerah blind spot. Jika
terdapat 20 % fiksasi yang salah maka komputer akan memberikan
tanda XX disamping angka fixation loss.

b. False Positive
Hal ini terjadi jika pasien terlebih dahulu menekan tombol dimana
sebenarnya stimulus belum diberikan (pasien terlalu
bersemangat/”trigger happy”). Biasanya normal akan terdapat 1 false
positif diantara 30 titik yang diperiksa, tetapi jika terdapat 30 %
terdapat false positive maka komputer akan menganggap suatu
kesalahan.6,10,12,14

c. False negative
Biasanya komputer akan memberikan stimulus 9 dB lebih terang dari
pada stimulus yang pertama, tapi jika stimulus tidak terlihat oleh
pasien maka ada terjadi keadaan tertentu misalnya kelelahan dari
pasien. Jika terdapat 30% false negative maka komputer akan
menganggap suatu kesalahan.6,10,12,14

d. Short-term Fluktuation
Fluktuasi ini diukur dengan cara memberikan stimulus dua kali pada
titik yang sama, sehingga terlihat perbedaan threshold pada 2 titik
tersebut. Perbedaannya lalu diukur dengan indikator p value,
sehingga semakin kecil harga p maka semakin besar ketidak responan
dari pasien dalam mengartikan suatu stimulus sehingga akan
tergambar banyak glaukomatous field loss.6,10

e. Total questions
Angka ini menunjukkan indikator lamanya waktu yang diperlukan
selama pemeriksaan.10

Hasil pemeriksaan dianggap tidak reliable jika 3 atau lebih indicator


reliabilitas terpenuhi, yakni: khurana
- Fixation loses ≥ 20%
- False positive error ≥ 33%
- False negative error ≥ 33%
- Short-term fluctuations ≥ 4.0 dB
- Total questions ≥ 400

III. Gray scale


Cara yang tercepat untuk menilai hasil pemeriksaan, biasanya
langsung melihat di gambaran Grayscalenya tetapi hal ini hanya
memberikan secara kasar dari besarnya penurunan sensitivitas retina
secara menyeluruh / general depression, tanpa melihat ada tidaknya
local depression/ scotoma. Akan tetapi bagaimanapun, secara umum
diagnosis tidak ditegakkan hanya dengan melihat grey scale ini.
Khurana,11,12
Gambaran pemetaan dalam bentuk warna, dimana semakin hitam
maka semakin rendah sensitivitasnya, yang dinyatakan dalam bentuk
Graytone symbol dan dapat dikonversikan ke dB dan asb.

Gambar 23: Pemetaan bentuk warna


IV. Total deviation plots
Memberikan gambaran seberapa besar perbedaan pada titik-titik
lapang pandangan orang tersebut dibandingkan dengan gambaran
normal lapang pandangan pada orang dengan umur yang sama. Total
deviasi ditunjukkan dalam skala numerik sedangkan gambar bagian
bawah menunjukkan dalam bentuk Greyscale. 10
Total Deviasi ini akan menggambarkan generalised depression
(depresi menyeluruh) yang dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti
adanya katarak, pupil miosis atau kelainan refraksi yang tidak
terkoreksi. Sehingga skotoma atau defek yang berada dibawah tidak
dapat terlihat, untuk hal tersebut kita harus melihat Pattern Deviasi.10
Jika terdapat deviasi atau pengurangannya, misalnya tertulis angka -2,
berarti pasien ini kurang 2 dB sensitif dari orang normal pada umur
yang sama, dan sebaliknya jika tertulis 3 maka pasien ini 3 dB lebih
baik dibandingkan dengan orang normal. Selanjutnya dengan
gambaran Grayscale akan digambarkan dengan titik-titik yang dapat
ditunjukkan dengan harga P ( Probability symbol ). Jika harga P < 1%
ini mengartikan bahwa kurang dari 1% dari populasi normal umur
sama yang mempunyai nilai sensitivitas retina tersebut. Semakin hitam
(P semakin kecil) maka semakin besar perbedaan kekurangannya yang
berarti semakin kecil kemungkinan sama dengan orang normal, yang
berarti semakin jelek.10
V. Pattern deviation plot
Pola normal dari Vision of Hill menggambarkan sensitivitas tertinggi
berada di sentral dan akan menurun secara gradual ke perifer. Pattern
Deviasi ini akan melihat adanya lokal defek/skotoma setelah
menghilangkan / mengurangi harga generalised depression dari Total
Deviasi. Suatu skotoma dapat menjadi tidak terlihat karena Total
Deviasi hanya memperhitungkan depresi yang terdapat diatas skotoma
( hidden scotoma ), sehingga Pattern Deviasi ini kan dapat
menghilangkan harga Total Deviasi sehingga suatu skotoma akan
dapat terlihat. Jadi Pattern Deviasi ini sangat mempunyai arti yang
penting dalam pemeriksaan. Dijabarkan dalam bentuk angka-angka,
dan dimana semakin hitam maka semakin banyak deviasi lokal.10

Gambar 24. A-D : Contoh hasil Total deviation dan Pattern deviation3

Pada gambar 21(A) menunjukkan hasil plot total deviation yang


normal dan pola plot pattern deviation abnormal. Hal ini
mengindikasikan bahwa pasien memiliki sensitivitas diatas rata-rata
normal dan seringkali didapatkan pada pasien “trigger happy” . Pada
keadaan seperti ini angka fixation loss dan false positive errors
biasanya diluar batas normal. 21(B) menunjukkan plot abnormal pada
total deviation, namun normal pada pattern deviation. Hal ini
mengindikasikan adanya gangguan lapang pandangan luas atau difus.
Kemudian pada gambar 21(C) dapat terlihat pola plot yang hampir
identik baik total deviation maupun pattern deviation, yang
mengindikasikan gangguan lapang pandangan terlokalisir. Terakhir,
gambar 21(D) menunjukkan lapang pandangan abnormal pada total
dan pattern deviation, dengan beberapa lokasi memberikan gambaran
abnormal pada keduanya, namun beberapa lokasi lainnya hanya
menggambarkan abnormalitas pada salah satunya. Hal ini
mengindikasikan adanya gabungan antara gangguan lapang pandangan
luas dengan gangguan lapang pandangan terlokalisir.10

VI. Global indices


Jika Reliability Indices mengukur indeks kemampuan atau kebenaran
pasien dalam proses pemeriksaan maka Global Indices mengukur
kesimpulan secara umum pola deviasi yang diukur secara statistik
besar perbedaan dengan orang normal dengan umur yang sama. Diukur
dalam data numerik (dB) yang diikuti oleh harga p/probability . Ada
4 parameter yaitu:10,11,16
- Mean Deviasi (MD)
Mean deviasi mengindikasikan deviasi lapang pandangan pasien
dibandingkan dengan hasil rata-rata nilai normal dari individu dengan
kelompok usia yang sama. Secara simpel mengartikan berapa rata-rata
angka yang terdapat dalam Total Deviasi.
Jika terdapat peningkatan harga MD, menandakan adanya depressi
yang menyeluruh, misalnya karena katarak, refractive error. Jika MD =
-5,18 dB dengan P < 2% , berarti kurang dari 2% dari populasi normal
umur sama memperlihatkan nilai MD yang lebih besar dari nilai yang
ditemukan tes ini.

- Pattern Standar Deviation (PSD)


Mengartikan berapa rata-rata angka yang terdapat dalam Pattern
Deviasi. Seperti halnya pengukuran MD tetapi mengukur berapa besar
deviasi yang disebabkan oleh kelainan secara lokal dalam area lapang
pandangan setelah menghilangkan harga MD.

- Short-term Fluctuation (SF)


Mengukur konsistensi respon dari pasien selama pemeriksaan melalui
pengukuran secara dua kali pada 10 titik yang berbeda. Jika angka
rata-rata dengan 2 kali pengukuran < 2 dB menandakan konsistensi
dari pasien. Jika angka SF tinggi biasa diikuti oleh harga False
Negative yang tinggi pula. Tetapi jika harga SF tinggi tapi harga false
negative normal, mengindikasikan adanya defek yang halus atau kecil.

- Corrected Pattern Standar Deviation (CPSD)


Besarnya angka pada Pattern Deviasi kadang disebabkan oleh karena
tingginya angka SF, dan CPSD dijadikan sebagai indikator penilaian
dari kebenaran harga Pattern Deviasi.

VII. Glaucoma hemifield test (GHT)


Glaucoma Hemifield Test didasarkan atas pemikiran bahwa penyakit
glaukoma dapat menyebabkan kehilangan lapang pandangan asimetris
dan bukan hanya pengurangan lapang pandangan secara difus,
sehingga dengan GHT ini akan membandingkan gambaran lapang
pandangan superior dengan inferior. GHT akan mengevaluasi 5 titik di
daerah superior lapang pandangan kemudian akan dibandingkan
seperti layaknya cermin dengan 5 titik di daerah inferior lapang
pandangan.3,10,12
Penilaiannya terdiri dari : GHT within normal limit, outside normal
limit dan border line normal limit.10 Selain ketiga kriteria tersebut ada
dua kriteria lain yang juga dijadikan penilaian lain dalam GHT, yaitu:
general reduction in sensitivity dan abnormally high sensitivity.
Gambar 25: Glaucoma Hemifield Test pada beberapa tempat berbeda. Pattern
Deviasi membandingkan 5 daerah superior terhadap daerah yang sama di daerah
inferior.3

Suatu defek yang disebabkan oleh glaukoma (Glaucomatous Defect)


dapat terdeteksi melalui pemeriksaan ini dengan melihat salah satu
kriteria Anderson sebagai berikut :8
1. Paling sedikit 3 atau lebih titik-titik depresi yang berdekatan pd
lapang pandangan sentral dengan P < 5% pd penampakan Pattern
Deviasi dan salah satunya harus P < 1 %.
2. Glaucoma Hemifield Test harus tidak normal atau Out of Limit
3. CPSD : P < 5%

VIII. Actual treshold value atau data numerik


Data ini menunjukkan berapa besar sensitivitas retina dalam
menangkap stimulus yang diukur dengan dB. Angka yang besar
menandakan sensitivitas retina lebih besar dimana dengan intensitas
cahaya yang redup (dBbesar ) sudah dapat ditangkap oleh sel
fotoreseptor retina. Jika terdapat 2 angka pada satu titik berarti
dilakukan 2 kali pemeriksaan pada titik tersebut.10

Pada lembar pemeriksaan di bawah, secara umum memperlihatkan


gambaran normal lapang pandangan dengan menggunakan program Full
Threshold 30-2. Dari Reliability Indices memperlihatkan harga-harga yang
normal . Global Indices dengan harga MD terdapat penurunan sensitivitas
secara menyeluruh sebesar 1,34 dB, dan terlihat hanya ada satu titik di daerah
temporal inferior dengan deviasi < 5%. PSD memperlihatkan harga 1,77 dB
tapi dianggap normal jika dibandingkan dengan populasi normalnya sehingga
terlihat bersih di plot Pattern Deviasinya. Dengan harga SF 2,63, CPSD
memperhitungkannya dan terlihat normal. GHT memperlihatkan harga yang
normal dengan kriteria-kriteria diatas.10

Gambar 26: hasil perimeter dengan program 30-2

Di bawah ini adalah pemeriksaan seseorang yang memiliki katarak.


Tampak penurunan sensitivitas yang menyeluruh yang tergambar pada data
numerik dan plot dari Total deviasinya. Ternyata pada plot Pattern Deviasinya
terdapat penurunan sensitivitas dibeberapa titik yang merupakan kelainan
selain katarak dan tidak terlihat pada total deviasi dengan harga P < 1% dan
bahkan CPSD lebih menegaskan lagi adanya kelainan sebesar 3,08 dengan
harga P yang lebih jelek yaitu P < 0,5%. 10

Di bawah ini terdapat 2 lembar hasil pemeriksaan lapang pandangan


pada orang yang sama, tetapi dengan program yang berbeda. Pemeriksaan
pertama (A), pasien diperiksa dengan program Threshold 24-2 dan terlihat ada
penurunan sensitivitas di daerah superonasal sentral lapang pandangan yaitu
sekitar 10° daerah sentral. Reliability indices menunjukkan angka-angka yang
normal, yang berarti tingkat kebenaran/kepatuhan pasien sangat baik. Global
Indices menjabarkan bahwa Mean Deviasi (MD) atau secara total deviasi
terdapat penurunan sebesar 1,44 dB ( depresi menyeluruh), pada PSD terdapat
deviasi atau skotoma sebesar 5,41 dB di daerah titik 10° dengan harga P hanya
1% tetapi harga CPSD memperbaiki dengan memperhitungkan harga SF dan
ternyata menjadi 5,17 dB dengan harga P 0,5 % (semakin besar deviasi
karena skotoma dibanding orang normalnya). Ini berarti bahwa terdapat
penurunan sensitivitas atau skotoma pada titik-titik di daerah 10° dari titik
fiksasi dibandingkan dengan orang dengan umur yang sama.10
Dari GHT terlihat Out of Limit dan terlihat lebih dari 3 titik yang
mengalami depresi pada lapang pandangan sentral dengan harga P < 1% dan
CPSD : P < 0,5% , sehingga dapat dipastikan bahwa pasien ini mempunyai
defek karena penyakit glaukoma. (1) Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut daerah sentral dengan program 10-2 (B) sehingga terlihat lebih detail
seberapa besar penurunan sensitivitas pd daerah defek.10
Gambar 27 : A.Hasil pemeriksaan perimeter Humphrey dengan program threshold 24-210
Keterangan Gambar 28 : B. Hasil pemeriksaan perimeter Humphrey dengan program 10-2 yang
berasal dari pasien yang sama dengan pemeriksaan diatas10

IV. Gaze Tracking

Gambar 29. Contoh hasil Gaze tracking pada pemeriksaan Humphrey. Defleksi keatas
menggambarkan gerakan bola mata dan kepala (alignment difficulties), sedangkan defleksi
kebawah menggambarkan kedipan atau depresi kelopak mata.(A). gaze tracking normal. (B).
Berkedip berlebihan. (C). Depresi kelopak mata. (D). Kelelahan. (E). 3
Gaze tracking adalah salah satu komponen penting pada hasil pemeriksaan
lapang pandangan. Metode ini dapat digunakan untuk menilai kesejajaran
(alignment) bola mata dan kepala, serta kedipan dan depresi kelopak mata selama
tes berlangsung. Seperti yang terlihat pada gambar 29, gaze tracking dapat
membantu member informasi seberapa tinggi konsentrasi dan seberapa kooperatif
pasien selama tes berlangsung.3,10

V. Analisis Sekuensial
The change analysis program pada primetri Humphrey merupakan cara
yang terpercaya dalam memeriksa perubahan pada beberapa variabel seperti yang
terlihat pada gambar di bawah. Pada hasil pemeriksaan tampak kotak yang terplot
untuk setiap tanggal pemeriksaan. Secara sederhana, program ini mengumpulkan
nilai threshold yang diperoleh dari satu tes tanpa berpatokan pada lokasi, dapat
menentukan median (garis mendatar di bagian tengah kotak), persentil ke 15 dan
ke 18 (bagian atas dan bawah kotak, yang menandakan bahwa kotak tersebut
mengandung 70% dari semua data), dan threshold terakhir akan tetapi yang
paling sensitif (ditunjukkan oleh perpanjangan lengan dari kotak tersebut).
Selanjutnya adalah 4 plot dari 4 global indices. Poin dari tes yang memiliki poor
reliability indices di beri tanda dengan “x” dan bukan “o”. Plot ini menunjukkan 5
dan 1% keterbatasan data normative. Jika 5 atau lebih hasil lapang pandangan
digunakan, maka program ini akan menunjukkan apakah terjadi regesi linear atau
slope secara signifikan.10
Gambar 30: change analysis dari pasien yang telah melakukan pemeriksaan dengan perimetri
Humphrey tiga kali pada waktu yang berbeda. Kotak plot (bagian atas) menunjukkan depresi di
bulan Januari 2001, memburuk di bulan Juli 2001, dan membaik di bulan Agustus 2001. Short-
term fluctuation (SF) sedikit meningkat di bulan Juli 2001, sesuai dengan kondisi neuropati optic.
Mean deviation (MD) tampak jelas memburuk di bulan Juli 2001, akan tetapi pattern deviation
(PSD, CPSD) memburuk di bulan Januari, ketika defek yang terjadi ditemukan pada area yang
fokal. Pda bulan Agustus 2001, dengan resolusi setelah serangan kedua, semua indices kembali
normal.10
POLA KERUSAKAN SERABUT SARAF DAN LAPANG PANDANGAN

Gambaran lapangan pandang dari pemeriksaan perimetri menjadi parameter


fungsi dari retina sekaligus fungsi dari nervus optik sebagai serabut saraf aferen
dari saraf penglihatan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, setiap
lokasi di retina berkorespondensi dengan titik tertentu di lapang pandangan,
misalnya bagian inferior retina merupakan bagian dari superior lapang pandangan
kita.3
Serabut saraf yang berasal dari titik tertentu di retina, semuanya akan
menuju ke diskus optik. Perjalanan dari serabut saraf ini akan memberikan
gambaran tertentu atau pola dari suatu defek lapang pandangan. 3
Serabut saraf daerah sebelah nasal dari diskus optik akan langsung
memasuki bagian nasal diskus optik, sedangkan serabut saraf daerah nasal fovea
dan temporal dari diskus optik akan langsung memasuki bagian temporal diskus,
sedangkan serabut saraf yang diatas dan dibawah meridian horisontal akan masuk
ke diskus dalam bentuk kurva. Gambaran serabut saraf ini disebut
papillomacular bundle. Serabut saraf di sebelah temporal dari fovea akan
membentuk pola arkuata mengelilingi fovea dan akan menuju bagian atas dan
bawah diskus optik. Jika retina dibagi oleh garis khayal dibagian temporal fovea,
serabut saraf diatas garis tersebut akan melewati fovea dibagian atas dan
memasuki diskus di bagian superior dan sebaliknya. 3
Terdapat beberapa pola kerusakan lapang pandangan yang dapat dijadikan
petunjuk dalam menginterpretasi hasil uji lapang pandangan, antara lain:3
a. Gangguan sensitivitas lapang pandangan luas (widespread).
Pola ini bisa didapatkan pada beberapa kondisi mulai kelainan media
refrakta, kerusakan pada daerah lintas pengelihatan tertentu, hingga
gangguan atensi dan kognitif. Oleh karena itu, dianggap sebagai tanda
klinis yang kurang spesifik
b. Ring scotomas.
Defek ini (baik total maupun parsial), tipikal untuk mengidentifikasi
retinitis pigmentosa atau jenis degenerasi retina lainnya.
c. Central scotomas
Secara umum, tipe defek ini di hubungkan dengan kelainan regio makula,
meskipun neuropati optik juga dapat menyebabkan central scotoma.
d. Defek yang mengenai meridian horizontal bagian nasal.
Secara umum, tipe defek ini di hubungkan dengan bundel serabut saraf sel
ganglion retina, dan indikatif untuk glaukoma dan optik neuropati lainnya.
Akan tetapi, kompresi pembuluh darah retina (Branch artery occlusion)
dapat pula menyebabkan defek lapang pandangan serupa.
e. Scotoma arkuata.
Tipe ini juga tipikal untuk kerusakan di bundel serabut saraf sel ganglion
retina (glaukoma atau optik neuropati lainnya), atau gangguan pembuluh
darah retina.
f. Nasal steps.
Defek ini paling sering didapatkan pada glaukoma dan optik neuropati
lainnya.
g. Cecocoentral scotoma.
Pola ini berhubungan dengan proses patologis yang terjadi di daerah
serabut saraf papillomacular bundle, yang melayani daerah antara blind
spot dan titik fiksasi. biasanya, defisit tersebut disebabkan oleh adanya
optik neuropati, namun dapat pula disebabkan oleh penyakit retina,
utamanya yang berupa edema (CSCR)
h. Defek bitemporal.
Hampir keseuruhan kasus yang mengenai meridian vertical
mengindikasikan gangguan lintas pengelihatan di daerah kiasma.
i. Defek lapang pandangan homonym
Kerusakan lintas pengelihatan yang berada di sisi yang sama
mengindikasikan defisit yang terjadi setelah kiasma optikum. Defek
lapang pandangan homonym hemianopia total (keseluruhan sisi kanan
atau kiri penglihatan menghilang) selalu disebabkan oleh kelainan setelah
kiasma, namun ditemukan juga pada beberapa defek di radiasio optik.
j. Defek pie in the sky
Suatu defisit lapang pandangan homonym yang timbul seperti potongan
kue pie di lapang pandangan superior kedua mata berhubungan dengan lesi
di lobus temporal.
k. Defek pie in the floor
Suatu defisit lapang pandangan homonym yang timbul seperti potongan
kue pie di lapang pandangan inferior kedua mata berhubungan dengan lesi
di lobus parietal.

Pola “Glaucomatous Nerve Loss”


Pada penyakit glaukoma, kerusakan yang terjadi adalah pada bundel
serabut saraf nervus optik ( optik neuropati ). Ketika serabut saraf pada bundel di
diskus optik mengalami kerusakan, maka daerah lapang pandangan yang disuplai
oleh serabut saraf ini akan mengalami penurunan sensitivitasnya. Akibatnya maka
akan terjadi skotoma atau depresi secara lokal.13,21
Pada umumnya serabut saraf pertama yang terkena pada penyakit glaukoma
adalah serabut saraf pada bundel superior dan inferior diskus optik, tapi biasanya
bagian atas lebih sering terkena. Nama yang diberikan biasanya sesuai dengan
gambaran klasik defek lapang pandangan yang dihasilkan pada hasil pemeriksaan
perimeter. 21
Pada gambar di bawah menunjukkan, suatu kerusakan serabut saraf di
bundel nervus optik daerah inferior temporal, maka serabut saraf daerah
inferotemporal di bawah meridian horisontal yang menyuplai daerah tersebut
akan mengalami penurunan sensitivitas, yang mengakibatkan defek lapang
pandangan pada daerah superonasal lapang pandangan, yaitu parasentral
scotoma.4,7,13
Kerusakan serabut saraf karena penyakit glaucoma (Glaucomatous Visual
Field Defect ) dapat berupa :13,21
1. Generalized Depression
2. Paracentral Scotoma, suatu skotoma yang berada di sebelah dari
daerah sentral.
3. Arcuate Defect atau Bjerrum Scotoma,dimulai dari meridian horisontal
nasal lalu akan membentuk sudut sempit dan bertemu dengan blind
spot.
4. Nasal Step, diskontinuitas yang tajam antara lapangan pandang atas
dan bawah sepanjang meridian horisontal dan merupakan ekspresi
minimal dari arkuata defects.
5. Altitudinal Defect, Lapangan pandang superior atau inferior telah
hilang, dengan variasi menyisakan daerah sentral atau temporal.
6. Temporal Wedge, seperti potongan kue pie, dimana apeksnya
mengarah ke blind spot.
Gambar diatas menunjukkan suatu defek lapang pandangan yang disebut
scotoma arcuata yang muncul pada area 10°-20°. Kerusakan serabut saraf terjadi
pada bundel nervus optik daerah inferior atau superior temporal, sehingga serabut
saraf yang mensuplai daerah tersebut akan mengalami penurunan sensitivitas dan
akan menggambarkan pola arkuata sesuai dengan perjalanan serabutnya. 21
Keterangan Gambar 31: Defek inferior arkuata (glaukoma) yang berat pada mata kiri.
Terlihat tidak ada perubahan/ perbaikan dari beberapa kali pemeriksaan 21

Keterangan gambar 32 : Pola kerusakan serabut saraf dengan defek Nasal Step21
Keterangan Gambar 33 : Pada mata kanan memperlihatkan Nasal steps (galukoma) yang
bertambah pada pemeriksaan berikutnya. Pada mata kiri terdapat Nasal step ditambah dengan
superior arkuata.21
Keterangan gambar 34 : Altitudinal defek yang melibatkan daerah nasal dan temporal pada mata
kanan.21
PENUTUP

Pemeriksaan lapang pandangan merupakan metode yang digunakan untuk


mengukur sejauh mana ruang lingkup penglihatan seseorang, yakni penglihatan
sentral dan perifer mereka. Pemeriksaan ini ada beberapa bentuk:
- Tes konfrontasi
- Amsler grid
- Static perimetry
- Kinetic perimetry
- Frequency doubling analysis

Perimetri sendiri ada 3 bentuk, yakni perimetrik statik supratreshold,


kinetic perimetri dan statik perimetri. Ketiga bentuk perimetri ini memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Perimetri statik supratreshold merupakan tes perimetri yang paling
sederhana, yakni melalui tes konfrontasi menggunakan benda-benda sekitar. Oleh
karena itu tes ini hanya mampu memberikan informasi yang sangat terbatas dan
sulit untuk mendetksi perubahan penyakit menggunakan tes ini.
Dari ketiga perimetri tersebut, perimetri Humphrey memiliki keunggulan
lebih karena selain dapat mendeteksi defek akibat penyakit seperti glaukoma, alat
ini dapat digunakan untuk meilhat progresifitas penyakit melalui program analisi
sekuensial.
DAFTAR PUSTAKA

1. Yaqub M, Visual fields interpretation in glaucoma: a focus on static


automated perimetry. Community Eye Health Journal Volume 25. 2012.
Available on www.cehjournal.com. Accessed in April 23rd 2017.
2. Martel Eye Medical Group. Visual Field Testing. Available on
www.marteleyemedicalgroup.file.com. Accessed in April 23rd 2017.
3. Johnson AC, Wall M. Chapter 35: The Visual Field in Adlers Physiology
of The Eye Expert Consult. 2011. Elsevier.
4. Johnson C. Chapter 13 Perimetry. Glaucoma Science and Practice. 2003.
Thieme
5. Perimetry. Available on www3.us.elsevierhealth.com. Accessed in April
23rd 2017.
6. Shuba ML, Young HK. Chapter 196: Glaucomatous Visual Field Loss.
Alberts and Jacobiec’s Principles and Practice of Ophthalmology Third
Edition. 2008. Saunders Elsevier.
7. Blind Spot. Available on: http://www.ophtasurf.com. Accessed in April
23rd 2017.
8. Anderson DR, Vincent MP. Automatic Static Perimetry. Second Edition.
Mosby. 1999.
9. Newell FW. Visual Field. Ophthalmology. Principles and Concepts. Sixth
Edition. The Mosby Co. St. Louis. 1986.
10. Barton J, Benatar M. Field of Vision Manual Atlas of Perimetry. First
Edition. 2003. Humania Press Totowa. New Jersey.
11. Salmon JF, Kanski JJ. Glaucoma. A Colour Manual of Diagnosis and
Treatment. Third Edition. Butterworth-Heinemann. Edinburgh. 2004.
12. Sood D, Khumar P. Chapter 9 Basic Perimetry. Diagnostic Procedures in
Ophthalmology Second Edition. 2009. Jaypee Brothers Medical Publisher
LTD.
13. Understanding Visual Field Testing. Available on
www.willsglaucoma.org. Accessed in April 23rd 2017.
14. Barton J, Sexton B. Chapter 279 Examintaion of The Visual Field. Alberts
and Jacobiec’s Principles and Practice of Ophthalmology Third Edition.
2008. Saunders. Elsevier.
15. Tangent Screen. Available on www. Text_TangentScreen.com. Accessed
on April 22nd 2017.
16. Dersu I, Wiggins MN et al. Understanding Visual Field Part I: Goldmann
Perimetri. Journal of Medical Technology. Available on
www.JOMTonline.com.
17. Schiefer U, Patzold J et al. Conventional Perimetry. Available on
www.perimetry.org. Accessen in April 22nd 2017.
18. Rowe F. Visual Field via Visual Pathway. Methods of Visual Field
assessment. First Edition. 2006. Blackwell Publisher.
19. Humphrey's (Static Threshold Related)Automated Field Analyzer.
Available on http://www.opt.indiana.edu. Accessed in April 22nd 2017.
20. Cantor LB, Rapuano CJ, Gioffi JA. Section 5 Neuro-ophthalmology Basic
Clinical Science Course. 2015-2016. American Academy of
Ophthalmology.
21. Cantor LB, Rapuano CJ, Gioffi JA. Section 10 Glaucoma Basic Clinical
Science Course. 2015-2016. American Academy of Ophthalmology.