Anda di halaman 1dari 5

Tasawuf Modern

7 April 2012 oleh mutiarazuhud

Tasawuf Modern karya Buya Hamka

Buku Tasauf Modern, penerapan tasawuf dalam zaman sekarang atau zaman modern ditulis oleh
Amarhum Buya Hamka sekitar tahun 30-an, sebagai karangan bersambung dalam majalah
Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan dengan Hamka sendiri sebagai pemimpin redaksi.
Setelah selesai pemuatan dalam majalah, atas permintaaan pembaca Tasauf Modern diterbitkan
sebagai sebuah buku untuk pertama kali tahun 1939.

Penerbitan pertama ini ternyata mendapat sambutan dari masyarakat sehingga mengalami cetak
ulang beberapa kali dari sebuah penerbit di Medan. Setelah Proklamasai Kemerdekaan, Tasauf
Modern kembali diterbitkan di Jakarta sekitar tahun 60-an.

Sejak sekitar tahun 70-an, oleh pengarang penerbitan Tasauf Modern dan beberapa karya lain
termasuk Tafsir Al-Azhar dipercayakan pada Pustaka Panjimas.

Alhamdulillah minat dan sambutan pembaca terhadap karya-karya Almarhum Hamka, sampai
saat in masih tetap tinggi, terbukti dengan terjadi beberapa kali cetak ulang Tasauf Modern,
Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya dan lain-lain. Bukan
hanya di Indonesia beberapa penerbit di Malaysia dan Singapura atas persetujuan ahli waris
menerbitkan Tasauf Modern dan karya-karya Hamka lainnya.

Saat ini umat manusia hidup dalam zaman modern yang serba praktis dan enak berkat teknologi
canggih. Namun kemodernan dan gaya hidup yang mementingkan materi ternyata tidak memberi
kebahagiaan, disamping jasmani, manusia juga memerlukan kebahagiaan rohani.

Disinilah dirasakan perlunya dakwah atau pelajaran agama baik bentuk tabligh maupun buku-
buku yang menentramkan rohani, antara lain Tasauf Modern karya Almarhum Hamka ini

Amat disayangkan para ulama di wilayah kerajaan dinasti yang telah dipaksakan untuk
mengikuti pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab telah menjadi korban hasutan atau
korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

Salah satu contoh penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence
Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens
menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam
terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat
tasawuf.
Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku
yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa
dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Ulama keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abuya Prof. DR. Assayyid
Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan
dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah,
menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun
1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–
aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Kami kutipkan sumber lainnya http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-


pakistan.html

***** awal kutipan ****


Para pengikut ajaran wahabi adalah kelompok yang sangat membencikan orang-orang sufi dan
mengkafirkan mereka, mereka menganggap bahwa orang -orang sufi menyembah kuburan-
kubura wali sehingga halal darahnya di bunuh, pemahaman ini bersumber dari aqidah mereka
yang menyatakan bahwa tauhd itu terbagi kepada tiga bahagian, tauhid Rububiyah, tauhid
Uluhiyah, tauhid asma` dan sifat, orang-orang sufi hanya percaya dengan tauhid rububiyyah dan
tidak menyakini tauhid uluhiyyah, sebab itulah mereka kafir dan boleh di bunuh, bahkan mereka
mengatakan bahwa orang-orang kafir qurasy lebih bagus tauhidnya daripada orang-orang sufi.
*****akhir kutipan *****

Andaikata mereka mau tetap berpegang pada kurikulum atau silabus perguruan tinggi Islam pada
umumnya, tasawuf adalah tentang ihsan atau tentang akhlak.

Tasawuf hanyalah sebuah istilah untuk jalan (tharikat) mencapai muslim yang berakhlakul
karimah, muslim yang sholeh, muslim yang bermakrifat, menyaksikan Allah ta’ala dengan hati
(ain bashiroh)

Pada hakikatnya upaya kaum Zionis Yahudi menjauhkan kaum muslim dari tasawuf adalah
dalam rangka merusak akhlak kaum muslim sebagaimana mereka menyebarluaskan pornografi,
gaya hidup bebas, liberalisme, sekulerisme, pluralisme, hedonisme dll

Bagi yang rusak akhlaknya akan cepat menularkan kepada yang lainnya

Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengutip
perkataan Imam Syafi’i ~rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti
pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia
ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau
sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil,
maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing.
Selengkapnya uraian dosen Ahmad Shodiq tentang tasawuf dan pendidikan akhlak ada dalam
tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/
Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Catatan:

***************************

Berikut sekilas tentang Buya Hamka

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni
singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17
Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan
Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9
November 2011.

Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan
buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Belakangan ia
diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi,
abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pendiri Sumatera Thawalib di
Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau,
ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.

Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang
merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti
Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah,
Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah
tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama
Hj. Siti Khadijah.

Aktivis Islam

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang pada tahun 1927. Kemudian
ia mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuai cabang
Muhammadiyah tersebut pada tahun 1928.
Pada tahun 1931, ia diundang ke Bengkalis untuk kembali mendirikan cabang Muhammadiyah.
Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke Bagansiapiapi, Labuhan Bilik, Medan, dan Tebing
Tinggi, sebagai mubaligh Muhammadiyah. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan
Muhammadiyah sebagai mubaligh ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika di Makassar, sambil
melaksanakan tugasnya sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah, ia memanfaatkan masa
baktinya dengan sebaik-baiknya, terutama dalam mengembangkan lebih jauh minat sejarahnya.
Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal. Bahkan ia menjadi peneliti
pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh
Muhammad Yusuf al-Makassari. Bukan itu saja, ketika di Makassar ia juga mencoba
menerbitkan majalah pengetahuan Islam yang terbit sekali sebulan. Majalah tersebut diberi nama
“al-Mahdi”.

Pada tahun 1934, Hamka meninggalkan Makassar dan kembali ke Padang Panjang, kemudian
berangkat ke Medan. Di Medan—bersama M. Yunan Nasution—ia mendapat tawaran dari Haji
Asbiran Ya’kub, dan Mohammad Rasami (mantan sekretaris Muhammadiyah Bengkalis) untuk
memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Melalui rubrik Tasawuf modern, tulisannya
telah mengikat hati para pembacanya, baik masyarakat awam maupun kaum intelektual, untuk
senantiasa menantikan dan membaca setiap terbitan Pedoman Masyarakat.

Pemikiran cerdas yang dituangkannya di Pedoman Masyarakat merupakan alat yang sangat
banyak menjadi tali penghubung antara dirinya dengan kaum intelektual lainnya, seperti Natsir,
Hatta, Agus Salim, dan Muhammad Isa Anshary.

Pada tahun 1945 Hamka kembali ke Padang Panjang. Sesampainya di Padang Panjang, ia
dipercayakan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin dan menyalurkan kemampuan
jurnalistiknya dengan menghasilkan beberapa karya tulis. Di antaranya: Negara Islam, Islam dan
Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan
Dari Lembah Cita-Cita.

Pada tahun 1949, Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang menuju Jakarta. Di
Jakarta, ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan
Harian Merdeka. Ia kemudian mengarang karya otobiografinya, Kenang-Kenangan Hidup pada
tahun 1950. Di samping itu, ia juga aktif di kancah politik melalui Masyumi.

Pada tahun 1950, setalah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, Hamka melakukan
kunjungan ke beberapa negara Arab. Di sana, ia dapat bertemu langsung dengan Thaha Husein
dan Fikri Abadah. Sepulangnya dari kunjungan tersebut, ia mengarang beberapa buku roman. Di
antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah

Aktivitas Politik

Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik
Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah
Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan.
Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.
Pada tahun 1955 HAMKA beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi
pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran HAMKA sering
bergesekan dengan mainstream politik ketika itu. Misalnya, ketika partai-partai beraliran
nasionalis dan komunis menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di
Konstituante, HAMKA menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat
tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub dalam
Piagam Jakarta. Namun, pemikiran HAMKA ditentang keras oleh sebagian besar anggota
Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika
Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi kemudian
diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.

Meski begitu, HAMKA tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Ketika Sukarno wafat,
justru HAMKA yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang
mempertanyakan sikap HAMKA. “Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak
perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi HAMKA, apa yang dilakukannya atas dasar
hubungan persahabatan. Apalagi, di mata HAMKA, Sukarno adalah seorang muslim.

Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena
dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang
merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai
anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji
Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.

Pada tahun 1978, HAMKA lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya adalah
keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur
selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.

Idealisme HAMKA kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah
Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama.
Sebagai Ketua MUI, HAMKA langsung menolak keinginan itu. Sikap keras HAMKA kemudian
ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu,
HAMKA lantas meminta Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula HAMKA
memutuskan mundur sebagai Ketua MUI.

Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-
Azhar, Cairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa
Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari
Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas
Prof. Dr. Moestopo.

Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun dan dikebumikan di Tanah
Kusir, Jakarta Selatan. Jasanya bukan hanya diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan
di negara kelahirannya, bahkan di Malaysia dan Singapura.