Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara dengan angka kematian ibu dan perinatal


tertinggi. Berdasarkan data dari WHO, pada tahun 2008 kasus kematian ibu
sebanyak 240 per 100.000 kelahiran. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI), diketahui bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia
berada pada peringkat ke-12 dari 18 negara anggota ASEAN dan SEARO (South
East Asian Nation Regional Organization). Menurut WHO (2005), penyebab
kematian maternal termasuk perdarahan, infeksi, eklampsia, persalinan macet dan
aborsi tidak aman. Penyebab kematian ibu di Indonesia dikenal dengan trias klasik
yakni perdarahan, preeklampsia/eklampsia, dan infeksi. Dimana dari 536.000
kematian maternal di dunia, 25 % oleh karena perdarahan, 15% karena infeksi dan
12% karena preklampsia/eklamsia.1
Sindrom HELLP adalah komplikasi dalam kehamilan yang ditandai
dengan hemolisis, peningkatan enzim hati dan trombositopenia, merupakan
komplikasi dari preeklampsia berat yang sering tak terdeteksi dan progresif.
Istilah sindrom HELLP pertama kali dicetuskan oleh Weinstein pada tahun 1982.
Kasus ini sering ditemukan pada trimester kedua (15%), ketiga (50%), sebelum
persalinan, dan pascapersalinan hingga 48 jam setelahnya.2
Preeklampsia merupakan suatu gangguan kehamilan spesifik yang terjadi
pada sekitar 5% dari seluruh kehamilan dan merupakan penyakit glomerulus yang
paling umum di dunia. Penyebab awal gangguan ini masih belum diketahui,
namun perkembangan terbaru menjelaskan bahwa mekanisme molekuler yang
melatarbelakanginya, terutama perkembangan abnormal, hipoksia plasenta,
disfungsi endotel. Berkomplikasi pada ibu sebagai Sindrom HELLP, gagal ginjal,
kejang, gangguan hati, stroke, penyakit jantung hipertensi, dan kematian,
sedangkan pada fetus dapat mengakibatkan persalinan preterm, hipoksia
neurogenik, dan kematian.1