Anda di halaman 1dari 5

PEMECAHAN DORMANSI DAN UJI TETRAZOLIUM BENIH TOPOGRAFIS

Dormansi merupakan strategi benih tumbuhan tertentu untuk dapat mengatasi lingkungan
suboptimum guna mempertahankan kelanjutan hidup spesiesnya. Penyebab dormansi dapat
disebabkan karena adanya hambatan dari kulit benih misal lamtoro karena kulit benih
impermeable terhadap air, hambatan dari bagian dalam benihnya misal melinjo karena embrio
belum dewasa, hambatan karena kasus after ripening misal pada padi, adanya inhibitor seperti
pada benih tomat atau karena faktor lingkungan perkecambahan yang tidak optimum misal
benih selada yang berimbibisi pada suhu di atas 30oC.

Uji tetrazolium merupakan pengujian untuk menduga kualitas benih secara cepat dan
tepat, dan untuk mengetahui apakah benih dapat berkecambah atau tidak, selain itu dapat juga
digunakan untuk menguji vigor benih asalkan pengamatan dilakukan lebih ketat pada struktur
benih yang kritikal. Biasanya bermanfaat untuk benih yang mengalami dormansi sehingga tidak
dapat diuji viabilitasnya dengan cara dikecambahkan.

Pada pengujian secara biokimia akan terjadi proses reduksi pada jaringan hidup. Proses
reduksi ini menjadi ciri bahwa benih yang diuji tersebut hidup. Bahan yang digunakan
untuk pengujian adalah garam tetrazolium. Pada jaringan hidup, jika benih mengimbibisi larutan
ini maka terjadi proses reduksi. Dengan adanya proses dehidrogenase maka larutan 2,3,5
triphenyltetrazolium chlorode atau bromide akan berwarna merah sehingga jaringan yang hidup
berwarna merah stabil dan merupakan substan yang tidak terlarut oleh triphenyl formazan yang
dihasilkan oleh jaringan hidup. Jaringan yang hidup berwarna merah dan yang akan mati tidak
berwarna. Penilaian pengujian ini didasarkan pada warna merah yang stabil pada jaringan benih
yang hidup, sebagai hidrogenase dari 2,3,5, trifenil-tetrazolium klorida yang membentuk tripenil-
formazan.

Tujuan

1. Pemecahan dormansi kasus benih keras pada lamtoro dan adanya zat inhibitor pada tomat
2. Membandingkan berbagai metode pemecahan dormansi pada benih
3. Menilai vigor benih kedelai dan jagung dengan metode uji tetrazolium
4. Membandingkan hasil metode uji tetrazolium dengan hasil metode uji potensi tumbuh
dan uji daya berkecambah

Bahan dan alat

Alat Bahan
Baki, Substrat Kertas, Plastik, Pinset, Benih lamtoro, Benih tomat, Benih kedelai,
Loupe, Gelas Kimia 50 ml, Oven, Heater, Benih jagung, Etanol 96%, Air, Larutan 1%
Saringan Teh/Kain Kassa, Kertas Ampelas dan 0.5% 2,3,5 trifenil tetrazolium klorida
Larutan buffer (pH 6,5 – 7) campuran
KH2PO4 dan Na2HPO4
Cara Kerja:

Dormansi Benih

1. Siapkan benih tomat yang berasal dari buahnya dengan cara keluarkan biji tomat dari
buahnya, perlakukan pra pembersihan, tanamkan dengan metoda ukdp dengan perlakuan
sebagai berikut
 25 butir tanpa perlakuan apapun (tanpa dibersihkan)
 25 butir dengan dicuci pada air mengalir
 25 butir dicuci pada air mengalir dan diberi ZPT giberelin

2. Siapkan benih lamtoro, masing-masing 25 butir untuk perlakuan-perlakuan berikut


 Benih tidak diberi perlakuan apapun
 Benih digosok dengan ampelas
 Benih direndam dalam air mendidih (tidak dipanaskan) selama 15 menit
 Benih direndam dalam 95% etanol selama 15 menit

Tanam masing-masing benih yang telah mendapat perlakuan di atas dengan metode ukdp dan
di subtrat tanah (5 butir per perlakuan) kemudian hitung daya berkecambahnya pada 7 HST

Uji Tetrazolium Topografis

Penyiapan larutan

1. Siapkan larutan 1% tetrazolium yang dibuffer dalam pH6,5-7 dengan cara


- Buat larutan ke 1 : 9,078g KH2PO4 dalam 1000 ml aquades
- Buat larutan ke 2 : 11,876g Na2HPO4 dalam 1000 ml aquades
- Buat larutan buffer pH 6,5-7 dengan mencampurkan 2 bagian larutan ke 1 dengan 3 bagian
larutan ke 2 (misal 400 ml larutan ke 1 dengan 600 ml larutan ke 2)
2. Buat larutan 1% tetrazolium dengan melarutkan 10 g tetrazolium dalam 1000 ml larutan
buffer. Tempatkan larutan ini dalam wadah gelap
3. Buat pula 0,5 % larutan tetrazolium dengan mencampurkan 1 bagian larutan 1% tetrazolium
dengan 1 bagian aquades (misal masing-masing 500 ml) tempatkan larutan ini dalam wadah
gelap
Pewarnaan

Jagung
1. Rendam sebanyak 5 butir benih jagung dalam aquades selama 12 jam dalam suhu kamar
2. Tempatkan benih yang telah diprakondisikan di dalam gelas kimia
3. Belah benih ke arah vertikal di tengah-tengahnya
4. Rendam setengah bagian belahan benih di dalam larutan 0,5% tetrazolium sedangkan sisanya
dibuang
5. Tunggu materi tersebut selama 0,5-1 jam pada suhu 40oC atau 1-2 jam pada suhu kamar
6. Setelah timbul warna merah cerah, keluarkan benih dari larutan dan dicuci dengan air
7. Tempatkan benih yang telah diwarnai ini di dalam petridish dalam keadaan terendam dalam
sedikit air, lalu diamati

Kedelai
1. Prakondisikan benih dengan cara melembabkan 10 butir benih selama 12 jam dalam kertas
merang atau direndam dalam air
2. Rendam benih yang telah diprakondisikan dalam larutan 1% tetrazolium dan tempatkan
dalam suhu 40oC selama 2-4 jam atau dalam suhu kamar selama 5-7 jam
3. Setelah timbul pewarnaan merah cerah keluarkan benih dari larutan kemudian cuci dengan
air
4. Tempatkan benih yang telah diwarnai ini di dalam petridish dalam keadaan terendam sedikit
air, lalu diamati

Pengamatan

Pengamatan Jagung

1. Benih dapat berkecambah :


- No 1 Seluruh embrio berwarna merah cerah
- No 2-4 Ujung skutelum tidak berwarna
- No 5-6 Ujung skutelum tidak berwarna, bagian radikula yang tidak kritis tidak berwarna
2. Benih tidak dapat berkecambah
- No 7-8 Daerah asal akar seminal tidak berwarna
- No 9 Plumula tidak berwarna
- No 10 Bagian tengah skutelum dan daerah perkembangan akar seminal tidak berwarna
- No 11 Plumula dan radikula tidak berwarna
- No 12 Daerah tidak berwarna pada skutelum bagian bawah dan radikula yang meluas ke
dalam daerah tempat akar seminal berkembang
- No 13 Seluruh skutelum tidak berwarna
- No 14 Skutelum dan radikula tidak berwarna
- No 15 Pewarnaan merah jambu sangat lemah
- No 16 Seluruh embrio tidak berwarna
Pengamatan Kedelai

1. Benih dapat berkecambah


- No 1 Seluruh benih berwarna, warna tidak terlalu gelap
- No 2-5 Sedikit daerah tidak berwarna pada kotiledon
- No 6 Sedikit ujung radikula tidak berwarna, sedikit daerah tidak berwarna pada kotiledon

2. Benih tidak dapat berkecambah


- No 7 Tidak sedikit ujung radikula tidak berwarna
- No 8 Pertautan antara poros radikula-hipokotil dan kotiledon tidak berwarna
- No 9 Daerah tidak berwarna pada tempat plumula berada
- No 10 Sedikit daerah tidak berwarna pada bagian atas poros radikula-hipokotil
- No 11 Lebih dari setengah bagian atas kotiledon tidak berwarna
- No 12 Bagian bawah kotiledon dan poros radikula-hipokotil berwarna merah gelap atau
merah susu, pewarnaan meluas ke seluruh daerah potongan melintang dari kotiledon
- No 13 Seperti pada No 12 kecuali bahwa daerah berwarna merah susu lebih meluas lagi
- No 14 Benih berwarna sangat merah keunguan, pewarnaan meluas ke seluruh daerah
potongan melintang kotiledon
- N0 15 Seluruh benih tidak berwarna