Anda di halaman 1dari 14

PENGANTAR ARSITEKTUR DAN BUDAYA

ARSITEKTUR, ARSITEK, BUDAYA, DAN PENERAPAN BUDAYA


DALAM ARSITEKTUR

Dosen :
Dr. Retna Ayu Puspitarini, ST, MT.

Disusun Oleh :
Erfan Hasyim Mustofa 052001500029
Ilham Alamanda Nugraha Putra 052001500055
Muhammad Nurul Imam 052001500062

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
2019
DAFTAR ISI

ARSITEKTUR ................................................................................................. 2
A. PENGERTIAN ARSITEKTUR ............................................................... 2
B. TUJUAN ARSITEKTUR ......................................................................... 3
C. PROSES PERANCANGAN ARSITEKTUR ARSITEKTUR .................... 3
D. KONSEP-KONSEP DALAM ARSITEKTUR .......................................... 3
ARSITEK ...................................................................................................... 5
A. TUGAS DAN PERANAN ARSITEK ....................................................... 5
B. TAHAPAN KERJA ARSITEK ................................................................. 6
BUDAYA ...................................................................................................... 8
A. PENGERTIAN BUDAYA ....................................................................... 8
B. WUJUD BUDAYA .................................................................................. 8
PENERAPAN BUDAYA DALAM ARSITEKTUR ............................................ 9
A. BUDAYA AGAMA DALAM ARSITEKTUR ............................................. 9
B. BUDAYA SOSIAL DALAM ARSITEKTUR ............................................. 10
KESIMPULAN ................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 13

1
1. ARSITEKTUR
Arsitektur merupakan seni yang dilakukan setiap individu untuk berimajinasikan diri
mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Arsitektur sendiri berasal dari kata Archi yang
berarti kepala dan Techton yang berarti tukang. Secara umum, deasin arsitektur adalah seni
yang dilakukan individu atau kelompok untuk merancang sebuah bangunan yang dihasilkan
dari ide dan imajinasi mereka.
A. PENGERTIAN ARSITEKTUR MENURUT PARA AHLI

• Menurut Marcus Pollio Vitrovius, pengertian arsitektur adalah:


o Arsitektur adalah sebuah kekuatan/kekokohan (virmitas),
keindahan/estetika (venustas), dan kegunaan/fungsi (utilitas).
o Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya serta dilengkapi
dengan proses belajar.
• Menurut Amos Rappoport, Arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih
dari sekedar fisik, tapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini
meliputi tata atur kehidupan sosial dan budaya masyarkat, yang diwadahi dan
sekaligus memperngaruhi arsitektur.
• Menurut Francis DK Ching, Arsitektur membentuk suatu tautan yang mempersatukan
ruang, bentuk, teknik dan fungsi.
• Menurut Y.B. Mangunwijaya, Arsitektur adalah vastuvidya atau wastuwidya yang
berarti ilmu bangunan. Wastuwudya mencakup ilmu tata bumi, tata gedung, dan tata
kemudian lintas (dhara, harsya, dan kana). Mangunwijaya juga menafsirkan arsitektur
sebagai penciptaan suasana, perkawinan guna dan citra. Arsitektur tidak dilihat dari
kemewahan bahan, teknologi, dan harganya. Sebab, dari bahan-bahan sederhana
pun bisa memberikan cerminan refleksi keindahan yang puitis dari suatu arsitektur dan
jauh lebih bersih dari godaan maupun kepongahan.
• Menurut Cornelis Van de Ven, Arsitektur adalah proses penciptaan ruang yang
diciptakan dengan cara yang benar dan direncanakan serta dipikirkan. Pembaharuan
dalam arsitektur yang terus menerus terjadi adalah karena faktor konsep-konsep
ruang yang juga terus berkembang.
• Menurut Banhart CL Dan Jass Stein, Arsitektur adalah seni dalam menegakkan
bangunan, dimana di dalam seni tersebut terdapat segi perencanaan, konstruksi, dan
solusi dekorasinya. Selain itu, sifat atau format bangunan, proses membangun,
bangunan dan kelompok lainnya adalah segi-segi lain yang juga ada di dalam
arsitektur.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian definisi diatas dapat disimpulkan, Arsitektur adalah sebuah
proses pembentukan ruang aktivitas manusia yang menggabungkan elemen seni dan
konstruksi yang melalui beberapa rangkaian proses untuk menyediakan ruang yang ideal
bagi manusia untuk melakukan sebuah aktivitas.

2
B. TUJUAN ARSITEKTUR
Arsitektur memiliki tujuan yang lebih dari pada sekedar menyediakan sebuah wadah
tempat bernaung untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Arsitektur dapat memberikan
rona bagi kegiatan-kegiatan apakah ini; menyatakan kekuasaan, status, atau hal-hal pribadi;
menampilkan dan mendukung keyakinan-keyakinan kosmologis; menyampaikan informasi;
membantu menetapkan identitas pribadi atau kelompok; dan mengkiaskan sistem-sistem
nilai. Arsitektur juga dapat memisahkan wilayah dan membedakan antara sini dan sana, suci
dan duniawi, pria dan wanita, depan dan belakang, pribadi dan umum, yang dapat dan tak
dapat dialami, dan sebagainya. Walaupun pembedaan antara tempat-tempat merupakan
pusat masalah, tujuan dilakukannya hal itu dan cara-cara yang digunakan untuk
melakukannya mungkin sangat berbeda.

C. PROSES PERANCANGAN ARSITEKTUR


Perancangan dalam konteks arsitektur adalah semata-mata usulan pokok yang mengubah
sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Perancangan dapat dianggap
sebagai suatu proses tiga bagian yang terdiri dari keadaan mula, suatu metode atau proses
transformasi, dan suatu keadaan masa depan yang dibayangkan.
Proses Perancangan Lima-Langkah:

• Permulaan. Permulaan meliputi pengenalan dan pembatasan masalah yang akan


dipecahkan. Walaupnun para arsitek sering diharapkan untuk mengidentifikasi
masalah-masalah dan kesempatan-kesempatan, namun biasanya klienlah yang
menyampaikan masalah kepada arsitek.
• Persiapan. Langkah kedua dalam proses perancangan, yaitu persiapan, meliputi
pengumpulan dan analisis informasi mengenai masalah yang akan dipecahkan.
• Pengajuan Usul. Seorang arsitek yang serba tahu siap untuk membuat gagasan-
gagasan dan mengajukan usul-usul bangunan. Gagasan-gagasan yang sahih dapat
datang setiap waktu dalam proses perancangan, dari pertemuan pertama sampai
akhir dengan seorang klien.
• Evaluasi. Evaluasi dalam perancangan arsitektur terjadi pada beberapa skala dan
meliputi bermacam-macam peserta. Pembahasan ini berpusat pada evaluasi usul-usul
alternatif yang diajukan perancang, walaupun rancangan-rancangan khas ditinjau oleh
para klien, dewan peninjau tertentu dan para pemakai bangunan.
• Tindakan. Tahap tindakan dari proses perancangan meliputi kegiatan-kegiatan yang
dipertautkan dengan mempersiapkan dan melaksanakan suatu proyek, seperti
menyiapkan dokumen-dokumen konstruksi dan bertindak sebagai perantara antara
pemilik dan kontraktor.

D. KONSEP-KONSEP DALAM ARSITEKTUR


Suatu definisi sederhana tentang sesuatu konsep mengemukakan bahwa konsep adalah
gagasan yang memadukan berbagai unsur kedalam suatu kesatuan. Dalam konteks pokok
pembicaraan ini, unsur-unsur ini mungkin berupa gagasan, pendapat, dan pengamatan.
Dalam arsitektur, suatu konsep mengemukakan suatu cara khusus bahwa syarat-syarat suatu
rencana, konteks, dan keyakinan dapat digabungkan bersama. Jadi konsep merupakan
bagian penting dari perancangan arsitektur. Berikut macam-macam konsep dalam arsitektur:

3
• Analogi. Analogi mengidentifikasi hubungan harfiah yang mungkin diantara benda-
benda. Sebuah benda diidentifikasi dan mempunyai semua sifat khas yang diinginkan,
dan dengan demikian dia menjadi model untuk proyek yang ada.
• Metafora. Metafora (kiasan) mengidentifikasi hubungan diantara benda-benda. Tetapi
hubungan-hubungan ini lebih bersifat astrak ketimbang nyata. Perumpamaan adalah
metafora yang menggunakan kata-kata “seperti” atau “bagikan” untuk
mengungkapkan suatu hubungan.metafora dan perumpamaan mengidentifikasi pola
hubungan sejajar sedangkan analogi mengidentifikasi hubungan harafiah yang
mungkin.
• Hakikat. Hakikat menyaring dan memusatkan aspek-aspek persoalan yang lebih rumit
menjadi keterangan-keterangan gamblang yang ringkas. Hakikat mengandung
pengertian-pengertian kedalam aspekyang paling pentingdan intrinsik dari benda yang
dianalisis.

4
2. ARSITEK
Arsitek adalah orang yang mempunyai keahlian dan berkecimpung di dalam ilmu dan
seni perencanaan dan perancangan lingkungan binaan (artefak)—seperti perencanaan dan
perancangan kota, kawasan, lingkungan, lansekap, bangunan, interior, perabot, dan produk.
"Arsitek" berasal dari Latin architectus, dan dari bahasa Yunani; architekton (master
pembangun), arkhi (ketua) + tekton (pembangun, tukang kayu).
Arsitek adalah sebutan ahli yang mampu melakukan peran dalam proses kreatif menuju
terwujudnya tata-ruang dan tata-masa guna memenuhi tata kehidupan masyarakat dan
lingkungannya, yang mempunyai latar belakang atau dasar pendidikan tinggi arsitektur dan
atau yang setara, mempunyai kompetensi yang diakui, serta melakukan praktek profesi
arsitek.
Profesi Arsitek adalah keahlian dan kemampuan penerapan di bidang perencanaan-
perancangan arsitektur dan pengelolaan proses pembangunan lingkungan binaan, yang
menjadi nafkah serta ditekuni secara terus menerus dan berkesinambungan.
Praktek Profesi adalah penerapan keahlian dan kemampuan profesional di bidang tertentu
yang memiliki resiko serta konsekuensi tanggungjawab / responsibility, tanggunggugat
/ liability dan tanggungbayar / accountability.

A. TUGAS DAN PERAN ARSITEK


Arsitek didefinisikan sebagai seorang perancang bangunan atau building designer,
namun peran arsitek tidak hanya sebatas bangunan saja, tetapi meliputi tugas penataan dan
pewujudan ruang dalam skala yang lebih luas. Ruang tersebut berwujud lingkungan binaan
yang diperuntukkan bagi kehidupan manusia maupun masyarakat luas.
Dalam skala kecil tugas dan peran arsitek adalah menata ruangan-ruangan yang iintegrasikan
secara utuh dalam bentuk bangunan. Dalam skala mikro inilah arsitek menjalankan tugasnya
sebagai perancang bangunan.
Seorang arsitek akan berupaya secara maksimum dalam proses penataan bangunan, dengan
menggunakan kaidah-kaidah atau pedoman -pedoman dalam perancangan arsitektur.
Pemenuhan tujuan-tujuan utama arsitektur seperti :

• Pemenuhan aspek fungsi /kegunaan bangunan


• Pemenuhan aspek struktur / kekuatan bangunan hingga
• Pemenuhan aspek keindahan bangunan
Ketiganya menjadi tugas utama seorang arsitek. Dalam skala perancangan bangunan ini,
pemahaman tugas dari bangunan menjadi penting bagi seorang arsitek / perancang
bangunan dalam menjalankan tugasnya.
Demikian pula pemahaman terhadap aspek keteknikan bangunan merupakan tugas yang
mesti dilakukan dan diselesaikan. Tugas selanjutnya yaitu melakukan kreasi dalam
mengekspresikan bentuk bangunan sebagai bagian dari pencapaian unsur estetika /
keindahan bangunan.
Dalam skala yang lebih luas, tugas dari seorang arsitek bukan lagi menata dan mewujudkan
bangunan, tetapi lebih luas dari itu menyangkut didalamnya aspek tapak dan lingkungan
sekitarnya.

5
Bahkan arsitek perlu mengenal, mengerti dan memahami aspek-aspek yang berkaitan
dengan penataan lingkungan dan penataan ruang. Oleh karena itu dalam skala makro, tugas
seorang arsitek juga berkaitan dengan tiga aspek penting :

• Penataan / tata bangunan


• Penataan / tatalingkungan dan
• Penataan / tata ruang.
Secara kerangka kerja keprofersian, maka tugas dan peran dari seorang arsitek akan
berhubungan dengan interior designer dan furniture designer dalam skala mikro, structural
engineer dan mechanical electrical engineer dalam skala middle, serta planolog / urban
planner, urban designer dan arsitek lansekap dalam skala makro.
Untuk menjalankan profesi arsitek sebagai bagian dari penata ruang maka perlu mengenal
dan memahami Undang-undang Tata Lingkungan dan Undang-undang Tata Ruang, Arsitek
di Indonesia telah di arahkan oleh organisasi yang bernama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

B. TAHAPAN KERJA ARSITEK


Menurut Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Layanan Utama Jasa Arsitek dalam pekerjaan
perencanaan dan perancangan Arsitektur akan dilaksanakan dalam tahapan pekerjaan
sebagai berikut:
Pekerjaan Tahap ke 1 : Tahap Konsep Rancangan
Sebelum kegiatan perancangan dimulai, perlu ada kejelasan mengenai semua data dan
informasi dari pengguna jasa yang terkait tentang kebutuhan dan persyaratan pembangunan
agar supaya maksud dan tujuan pembangunan dapat terpenuhi dengan sempurna.
Pekerjaan Tahap ke 2 : Tahap Pra Rancangan / Skematik Desain
Prarancangan
Pada tahap ini berdasarkan Konsep Rancangan yang paling sesuai dan dapat memenuhi
persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola dan gubahan bentuk arsitektur
yang diwujudkan dalam gambar-gambar. Sedangkan nilai fungsional dalam bentuk diagram-
diagram. Aspek kualitatif lainnya serta aspek kuantitatif seperti perkiraan luas lantai, informasi
penggunaan bahan, sistem konstruksi, biaya, dan waktu pelaksanaan pembangunan
disajikan dalam bentuk laporan tertulis maupun gambar-gambar.
Pekerjaan Tahap ke 3 : Tahap Pengembangan Rancangan
Pada tahap Pengembangan Rancangan, arsitek bekerja atas dasar prarancangan yang telah
disetujui oleh pengguna jasa untuk menentukan:
a. Sistem konstruksi dan struktur bangunan, sistem mekanikal-elektrikal, serta disiplin terkait
lainnya dengan mempertimbangkan kelayakan dan kelaikannya baik terpisah maupun secara
terpadu.
b. Bahan bangunan akan dijelaskan secara garis besar dengan mempertimbangkan nilai
manfaat, ketersediaan bahan, konstruksi, dan nilai ekonomi.
c. Perkiraan biaya konstruksi akan disusun berdasarkan sistem bangunan, kesemuanya
disajikan dalam bentuk gambar-gambar, diagram-diagram sistem, dan laporan tertulis.

6
Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari pengguna jasa, hasil pengembangan
rancangan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan digunakan oleh arsitek sebagai dasar
untuk memulai tahap selanjutnya.
Pekerjaan Tahap ke 4 : Tahap Pembuatan Gambar Kerja
Pada tahap Pembuatan Gambar Kerja, berdasarkan hasil Pengembangan Rancangan yang
telah disetujui pengguna jasa, Arsitek menerjemahkan konsep rancangan yang terkandung
dalam Pengembangan Rancangan tersebut ke dalam gambar-gambar dan uraian-uraian
teknis yang terinci sehingga secara tersendiri maupun secara keseluruhan dapat menjelaskan
proses pelaksanaan dan pengawasan konstruksi.
Arsitek menyajikan dokumen pelaksanaan dalam bentuk gambar-gambar kerja dan tulisan
spesifikasi dan syarat-syarat teknik pembangunan yang jelas, lengkap dan teratur, serta
perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya pelaksanaan pembangunan yang jelas,
tepat, dan terinci.
Setelah diperiksa dan mendapat persetujuan dari pengguna jasa, Gambar Kerja yang
dihasilkan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan siap digunakan untuk proses
selanjutnya.
Pekerjaan Tahap ke 5 : Tahap Proses Pengadaan Pelaksanaan Konstruksi
Penyiapan Dokumen Pengadaan Pelaksana Konstruksi
Pada tahap ini, arsitek mengolah hasil pembuatan Gambar Kerja ke dalam bentuk format
Dokumen Pelelangan yang dilengkapi dengan tulisan Uraian Rencana Kerja dan Syarat-
Syarat teknis pelaksanaan pekerjaan-(RKS) serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk
Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ).
Pekerjaan Tahap ke 6 : Tahap Pengawasan Berkala.
Dalam tahap ini:
a. Arsitek melakukan peninjauan dan pengawasan secara berkala di lapangan dan
mengadakan pertemuan secara teratur dengan pengguna jasa dan Pelaksana Pengawasan
Terpadu atau MK yang ditunjuk oleh pengguna jasa.
b. Dalam hal ini, arsitek tidak terlibat dalam kegiatan pengawasan harian atau menerus.

7
3. BUDAYA
Budaya dalam bahasa Sansekerta “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang
berarti budi atau akal. Dapat dikatakan budaya adalah suatu perkembangan dari kata
majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, karena itu mereka membedakan antara
budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta,karsa dan rasa.
A. PENGERTIAN BUDAYA MENURUT PARA AHLI

• Koentjaraningrat (1974) : Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan serta


hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia dengan cara belajar.
• Selo Soemardjan (1964) : Budaya adalah semua hasil karya, cipta dan rasa dalam
masyarakat. Karya masyarakat akan menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (yang biasa disebut material culture) yang
diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya
dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat.
• Melville J. Herskovits (1986) : Budaya adalah produk manusia sebagai bagian dari
lingkungannya. Artinya, manusia senantiasa berada di dalam suatu lingkungan dan
menghasilkan produk berupa budaya.
• Prof. Arnold Toynbee (1934) : kebudayaan timbul akibat usaha manusia untuk
mengatasi suatu tantangan yang datang dari alam maupun tantangan yang disebabkan
oleh manusia itu sendiri. Salah satu penyebab kebudayaan-kebudayaan yang beragam
adalah setiap manusia diseluruh belahan dunia menghadapi tantangan yang berbeda
dari lingkungannya. Tantangan yang disebut dapat berupa iklim ,cuaca, sumber
kekayaan alam, dan sebagainya.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian definisi diatas dapat disimpulkan, Budaya sangat berkaitan
dengan kehidupan dan kebiasaan manusia dalam suatu lingkungan sehingga dapat
dikatakan bahwa budaya merupakan hasil akal budi manusia dalam interaksinya, baik
dengan alam maupun manusia lainnya.

B. WUJUD BUDAYA

• Ide / Gagasan : Ide/ gagasan terbentuk ide-ide yang bersifat abstrak. Wujud
kebudayaan ini terletak dalam alam pikiran masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap
apa yang dilihat dan diamati serta dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
• Aktifitas : Aktifitas merupakan kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh masyarakat.
Aktivitas masyarakat terbentuk dalam sistem sosial, sehingga manusia saling
berinteraksi dan bekerja sama dengan sesama manusia yang lainnya sesuai dengan
adat dan kebiasaan. Aktivitas bersifat konkrit yang dapat diamati dan didokumentasikan.
• Hasil Budaya : Hasil budaya merupakan suatu peninggalan yang berbentuk hasil karya,
benda atau fisik. Hasil budaya bersifat paling konkrit karena sebuah ide/gagasan yang
dituangkan dalam aktivitas sehari-hari bisa membentuk suatu hasil atau karya yang
dapat dilihat, diamati dan didokumentasikan secara nyata.

8
4. PENERAPAN BUDAYA DALAM ARSITEKTUR

Budaya dalam arsitektur dapat dilihat dari


waktu dan tempat, bahwa budaya dari segi
arsitektur berasal dari masa lalu di lingkungan
masyarakat setempat yang melaksanakan nilai
budaya tersebut secara terus-menerus dan
bertahan hingga sekarang. Masyarakat tiap
daerah mempunyai kebudayaan yang berbeda-
beda. Hal ini mengakibatkan bervariasinya hasil-
hasil budaya, antara lain adalah beragamnya
kekhasan arsitektur yang mampu mencerminkan
budaya daerah.
Konteks kebudayaan dalam bentuknya
tercermin dalam karya arsitektur meliputi: agama,
sosial, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi,
ekonomi, estetika. Faktor fungsi dari kebudayaan dalam wujud arsitektur ditentukan oleh
kebutuhan, teknologi, asosiasi, estetika, telesik (kesejamanan), pemakaian yang tepat.

A. BUDAYA AGAMA DALAM ARSITEKTUR


Indonesia memiliki beragam agama yang berbeda-beda, diantaranya ialah islam,
Kristen, hindu, dan budha. Dalam penerapanya kedalam arsitektur, konsep fengsui ataupun
arsitektur islam dapat diterapkan sesuai dengan budaya penghuni bangunan.

Ilmu topografi kuno warisan kebudayaan Cina, atau dikenal dengan Fengshui, kerap
digunakan sebagai pedoman dalam membangun oleh para penganut kepercayaan budaya
Cina. Fengshui dipercaya memiliki tujuan menyelaraskan bangunan, alam, dan manusia
dengan cara mengalirkan energi positif sehingga tercipta kenyamanan, keberuntungan dan
harmoni. Adapun beberapa contoh penerapan fengshui pada bangunan rumah tinggal.

9
B. BUDAYA SOSIAL DALAM ARSITEKTUR
Salah satu bentuk penerapan sosial kedalam bangunan dapat dilihat pada filosofi suku sunda
dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai sili asah, asuh, dan asih.
Material pada rumah adat Sunda memakai material tipis dan ringkih seperti kayu dan bambu
dimana masyarakat suku Sunda sangat menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar
umat manusia yang menjadikan rumah hanya sebagai tempat perlindungan dari hujan, angin,
terik matahari dan binatang. Bukan sebagai tempat berlintung antar warga yang
membutuhkan pertahanan dengan material kuat.

Suku sunda sebagai masyarakat peladang hanya


mengenal dua arah kosmik yaitu hulu dan hilir,
gunung dan laut, kiri dan kanan sungai. Hulu arah
asal dan hilir arah tujuan, ini merupakan arah
transenden, penguasa semesta.

Selain suku sunda adapun contoh penerapan arsitektur dalam pola permukiman pada
masyarakat sahu di maluku utara, terlihat rumah-rumah penduduk pada rumah adat Sasadu
diletakan secara linear, berdekatan, dan seluruh rumah berpusat kepada rumah sasadu
(tempat berkumpul) dan juga area terbuka untuk menjaga ikatan sosial antar masyarakat.

Unsur-unsur budaya yang terdapat pada bangunan tradisionalpun kerap diterapkan


pada bangunan modern untuk menciptakan identitas budaya suatu daerah dengan
memperhatikan penggunaan ornamen, material, bentuk, hingga susunan bangunan.
Contohnya ialah penerapan rumah tradisional sunda pada kantor wali kota bandung di bawah
ini :

10
11
KESIMPULAN

Arsitektur merupakan sebuah proses pembentukan ruang aktivitas manusia yang


menggabungkan elemen seni dan konstruksi yang melalui beberapa rangkaian proses untuk
menyediakan ruang yang ideal bagi manusia untuk melakukan sebuah aktivitas. Sedangkan
Arsitek adalah orang yang merancang ataupun terlibat dalam proses pembentukan ruang
aktivitas manusia dalam bentuk bangunan. lalu Hubungan antara arsitektur, arsitek, dan
budaya dapat tercermin melalui agama, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi,
ekonomi, estetika. Penerapan budaya dalam bangunan juga dapat dilihat dari penggunaan
ornament, material, bentuk, pola yang berpacu pada budaya suatu lingkungan (agama, sosial,
politik, dll). Arsitek pun turut berperan dalam terciptanya unsur budaya dalam suatu karya
arsitektur, penggunaan konsep Neo-Vernakular ataupun arsitektur tradisional dapat
digunakan oleh arsitek untuk menampilkan wujud budaya dalam sebuah karya arsitektur.

12
DAFTAR PUSTAKA

C. Snyder, James. 1984. Pengantar Arsitektur. Jakarta: Erlangga. Amril, Sjamsu.


1994. Ernst Neufert DATA ARSITEK: Erlangga. Dirjen Pariwisata 1988.

Sinar Tanudjaja, F.Christian.J. 1992. Wujud Arsitektur Sebagai Ungkapan Makna


Sosial Budaya Manusia. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Maryono, Irawan, Silalahi, L.Edison, Mulyaningsih, Sri, Kurniati D., Hendrajaya,


Chaidir, Ferryanto dan Laksito, Boedi. 1982. Pencerminan Nilai Budaya Dalam Arsitektur Di
Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Vitruvius, The Ten Books of Architecture diterjemahkan oleh Morris Hicky Morga,Ph.D,
LL.D (1914), Harvard University Press

Harum, Ismet Belgawan, (2011). Arsitektur Rumah dan Pemukiman Tradisional di


Jawa Barat. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

13