Anda di halaman 1dari 142

LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat, hidayah dan
karunianya kepada kami semua sehingga kami dapat menyelsaikan LAPORAN
PRAKTIKUM LABORATORIUM HIDROLIKA dengan baik dan lancar, serta
tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat dengan tujuan memperoleh ilmu mengenai
Hidrolika dalam Teknik Sipil dalam suatu pengujian, sehingga dapat mengetahui
kondisi atau keadaan tekanan air tersebut. Dalam kesempatan kali ini, kami
menyadari bahwa pekerjaan ini tidak lepas dari bimbingan dan dorongan dari
beberapa pihak, oleh karena itu kami banyak mengucapkan banyak terima kasih
kepada :
1. Ibu Hj. Eva Ryanti, ST., MT ,selaku instruktur.
2. Bapak Harun Rasidi S, S.ST, MT selaku teknisi Laboratorium Hidrolika.
3. Teman-teman kelas D4/4C, yang telah bekerjasama sehingga bisa
terlaksana Praktikum Laboratorium Hidrolika.

Demikianlah yang kami buat, penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran dari Bapak /Ibu serta teman-teman
sangat dibutuhkan agar penulis dapat memperbaikinya. Akhir kata penulis ucapkan
terima kasih
Pontianak, 18 April 2018

Penulis

i
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2. Tujuan ........................................................................................................... 3

1.2.1. Tujuan Umum ........................................................................................ 3

1.2.2. Tujuan Khusus ....................................................................................... 3

1.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ................................................................... 5

1.4. Materi Praktikum .......................................................................................... 5

BAB II DASAR TEORI .............................................................................................. 7

2.1. Sejarah Hidrolika .......................................................................................... 7

2.2 Pengertian Hidrolika Menurut Beberapa Ahli ............................................ 10

BAB III PEMBAHASAN .......................................................................................... 11

1. Aliran Pada Saluran Terbuka .......................................................................... 11

1.1. Aliran Permanen Seragam Pada Saluran Licin dan Kasar .......................... 11

1.2. Aliran Permanen Tidak Beraturan Akibat Pembendungan ......................... 18

1.4. Bangunan Kontrol Ambang Tajam ............................................................. 27

1.5. Bangunan Kontrol Ambang Lebar .............................................................. 33

1.6. Crump Weir ................................................................................................ 38

1.7. Pintu Sorong/ Sluice Gate ........................................................................... 44

1.8. Bendungan/Overflow Weir ......................................................................... 49

Blended reverse curvature ................................................................................. 50

Ski jump ............................................................................................................. 51

ii
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Sloping apron ..................................................................................................... 51

2. Tumbukan Pancaran Fluida ............................................................................ 58

3. Persamaan Energi Aliran Fluida ..................................................................... 68

4. Koefisien Kecepatan Debit ............................................................................. 73

6. Pengukuran Tekanan Fluida (Bourdon) .......................................................... 73

7. Kehilangan Tekanan Dalam Pipa (Loss in band) ........................................... 88

8. Stabilitas Ponton ............................................................................................. 96

9. Menghitung Debit Aliran Dengan Ambang Persegi dan Segitiga ................ 104

10. Gaya Hidrostatis Pada Bidang Datar......................................................... 112

11. Rembesan Air Pada Pasir (permeability) .................................................. 125

12. Aliran Dibawah Dinding Penyekat ........................................................... 125

BAB IV PENUTUP ................................................................................................. 139

1.1. Kesimpulan ............................................................................................... 139

1.2. Saran .......................................................................................................... 139

iii
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hidrolika merupakan salah satu bagian dari cabang ilmu mekanika fluida.
Hidrolika dipakai untuk studi, penelitian dan aplikasi dari hampir semua aspek
dari sifat-sifat dan tingkah laku fluida yang berhubungan dengan para ahli
rekayasa/engineers (Chadwick & Morfett, 1993). Secara lebih khusus bagi para
ahli dan praktisi yang lebih berkecimpung dalam satu jenis fluida saja yaitu air.
Hidrolika merupakan bagian ilmu praktis yang digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan aliran zat cair. Maka,
ilmu ini harus dipahami dengan baik, bukan hanya melalui perkuliahan saja
(teori), tetapi juga melalui percobaan di lapangan. Praktikum adalah cara
tersendiri untuk memahami bagaimana teori tersebut dapat diterapkan, sehingga
kita akan melihat perbandingan teori dan kondisi sesungguhnya. Pada zaman
Mesir Kuno dan Babilonia, teknik hidrolika telah dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari. Bangunan Irigasi dan Drainase seperti bendungan, saluran dan
aquaduck telah dibangun pada tahun 2500 SM.
Sejarah ilmu hidrolika dimulai oleh Archimides (287 – 212 SM) dan
selanjutnya mengalami perkembangan ditandai dengan munculnya berbagai
teori dari para ilmuwan. Pada abad ke-18 ilmu hidrolika mengalami perubahan,
dimana hidrolika teoritis terpisah dari hidrolika praktis. Hidrolika teoritis
berkembang menjadi ilmu hidrodinamika, dan hidrolika praktis sebagai ilmu
hidrolika eksperimen. Sekitar akhir abad ke-19, Ludwig Prandh (1875-1953)
menggabungkan teori hidrodinamika dan hidrolika eksperimen menjadi Ilmu
Mekanika Fluida.
Ilmu Hidrolika oleh para ahli dan praktisi dipakai sebagai alat untuk
pemahaman, pengembangan dan eksploitasi bidang sumber daya air khususnya
dalam rekayasa. Pengembangan sistem sosial dan sistem ekonomi mempunyai
ketergantungan yang besar terhadap pengembangan infrastruktur fisik
(Grigg,1988) dalam kaitanya dengan lingkungan alam seperti ditunjukkan dalam
diagram berikut ini.

1
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Sistem sosial
Sistem ekonomi
Infrastruktur phisik (physical infrastructure)
- Sistem penyediaan air
- Sungai
- Waduk beberapa infrastruktur keairan
- Drainase
- Pengendalian banjir
Lingkungan
- Transportasi alam (natural environment)
- Gedung-gedung
Gambar 1.1. -Hubungan
Dll. antara sistem sosial, ekonomi, infrastruktur dan
Lingkungan alam (Grigg,1988)

Dari Gambar 1.1 dapat dilihat bahwa peranan infrastruktur keairan (penyediaan
air bersih, drainase, sungai dll.) adalah sangat penting karena merupakan bagian dari
sistem infrastruktur yang mendukung sistem ekonomi dan sistem sosial sekaligus
sebagai kerangka landasan kedua sistem itu dalam keseimbangan yang harmoni
dengan alam lingkungan. Sistem penyediaan air memakai dasar-dasar aliran pada
saluran terbuka dan aliran pada pipa tergantung dari bentuk penampangnya,
sedangkan sungai dan drainase umumnya berdasarkan konsep aliran dalam pipa.
Oleh karena itu untuk memahami infrastruktur keairan pengetahuan tentang hidrolika
mutlak diperlukan.
Daerah pengaliran sungai diseluruh indonesia berjumlah hampir 6000 (Le
Groupe,1994). Problem klasik banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim
kemarau setiap tahun untuk beberapa daerah, merupakan masalah yang harus diatasi
dengan solusi yang tepat. Sistem drainase kota sebagaai sarana untuk menyalurkan
kelebihan air (teutama air hujan) di kota masih belum dapat mengatasi persoalan
banjir yang terjadi di beberapa kota besar. Penyediaan air bersih dengan sistem
jaringan pipa masih juga belum mampu mengatasi kebutuhan air bersih terutama di
kota-kota besar. Saluran irigasi mulai dari bendung (saluran primer) sampai saluran
kuarter kemudian saluran pembungan perlu direncanakan dengan analisis yang
matang, sehingga fungsi dari masing-masing saluran dapat bekerja dengan baik. Hal-
hal di atas merupakan beberapa contoh aplikasi hidrolika.

2
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Jenis-jenis aliran Pada umumnya, zat cair dibedakan menjadi dua macam, yaitu
zat cair ideal yang tidak memiliki kekentalan, dan zat cair riil yang memiliki
kekentalan. Kekentalan (viskositas) tersebut disebabkan karena adanya kohesi antara
partikel zat cair yang menyebabkan perbedaan kecepatan partikel pada mesin aliran.
Aliran zat cair riil disebut juga aliran viskos, yang dibedakan menjadi dua macam,
yaitu :
1. Aliran Laminer
Aliran Laminer adalah zat cair dimana partikel-partikelnya bergerak secara
teratur mengikuti lintasan saling sejajar. Aliran ini terjadi apabila saluran
kecil, kecepatan kecil dan kekentalan aliran besar.
2. Aliran Turbulen
Aliran Turbulen adalah aliran zat cair dimana partikel-partikelnya bergerak
tidak teratur dan garis lintasan saling berpotongan. Dengan berkurangnya
pengaruh kekentalan atau bertambahnya kecepatan, aliran akan berubah
dari aliran laminer menjadi turbulen. Contoh Aliran Turbulen, misalnya :
aliran di sungai, aliran di saluran irigasi atau drainase, aliran di laut.

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum


Adapun tujuan umum dari praktikum Hidrolika ini adalah :

1. Membantu para mahasiswa mengerti tentang pekerjaan yang biasa


dilakukan di lapangan sebelum terjun ke masyarakat.
2. Sebagai ilmu terapan yang didapat mehasiswa sebagai bekal dalam praktik
dilapangan

1.2.2. Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari praktikum Hidrolika ini adalah diharapkan mahasiswa
dapat :
1. Mengetahui prinsip hidrostatis dan pengamatan lembar format yang ada.
2. Mengetahui langkah kerja serta pengujian persamaan energi pengaliran
fluida dengan baik dan benar.

3
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

3. Mengetahui cara menghitung tekanan terhadap beban, serta dengan


menggunakan alat bourder,mengukur tekanan menggunakakn air raksa,
4. Mengetahui cara pengujian stabillitas benda apung dan menghitung beda
tingginya.
5. Mengetahui cara pengujian,serta menghitung debit aliran dengan ambang.
6. Mengetahui teknis pada percobaan tumbukan pancaran fluida,serta
pengaplikasi di lapangan.
7. Mengetahui cara pengujian Koefisien kecepatan dan debit serta hitungannya
dengan baik dan benar.
8. Mengetahui cara pengujian dan mengisi form kehilangan tekanan dalam
pipa dengan baik dan benar.
9. Mengetahui cara pengjian rembesan air pada pasir dengan baik dan benar
serta mengisi form dan perhitungannya.
10. Mengetahui cara pengujian aliran dibawah dinding penyekat dengan baik
benar,serta perhitungannya.
11. Mengetahui cara pengujian,serta perhitungan saluran terbuka
dengan,berbagai metode,seperti :
a. Aliran permanen seragam pada saluran licin
b. Aliran permanen seragam pada saluran kasar
c. Aliran permanentidak beraturan akibat pembendungan
d. Bangunan kontrol ambang tajam
e. Bangunan kontrol amang lebar
f. Crum Weir
g. Pintu sorong/sluice gate
h. Bangunan control
- Blended reverse curvature
- Ski jump
- Sloping apron

4
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Tempat : Politeknik Negeri Pontianak

1.4. Materi Praktikum

1. Aliran pada saluran terbuka


a. Aliran permanen seragam pada saluran licin
b. Aliran permanen pada saluran kasar
c. Aliran permanen tidak beraturan akibat pembendungan
d. Bangunan kontrol ambang tajam
e. Bangunan kontrol ambang lebar
f. Crump Weir
g. Pintu sorong / sluice gate
h. Bangunan kontrol
 Blended reverse curvature
 Ski Jump
 Sloping apron
2. Tumbukan pancaran fluida
3. Persamaan energi aliran fluida
4. Koefisien kecepatan dan debit
5. Pengukkuran tekanan fluida
6. Kehilangan tekanan dalam pipa

5
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

7. Stabilitas benda apung


8. Menghitung debit aliran dengan ambang
9. Gaya hidrostatis pada bidang datar
10. Rembesan air pada pasir
11. Aliran di bawah dinding penyek

6
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

BAB II
DASAR TEORI

2.1. Sejarah Hidrolika


Sejarah ilmu hidraulika dimulai oleh Archimedes (287-212 SM) yang mengemukakan
hukum benda terapung dan teori yang mendukungnya. Pada masa kekaisaran Romawi,
beberapa saluran/terowongan air dibangun setelah diketahuinya hukum – hukum aliran air.
Sesudah kemunduran kekaisaran Romawi (476 SM), perkembangan ilmu hidraulika terhenti
selama hampir 1000 tahun.
Ilmu hidraulika mulai berkembang lagi, ketika Leonardo da Vinci (1452–1519 )
melakukan penelitian mengenai aliran melalui saluran terbuka, gerak relative fluida dan
benda yang terendam dalam air, gelombang, pompa hidraulis, dan sebagainya. Pada
masatersebut muncul juga seorang ahli matematika Belanda yaitu Simon Stevin (1548-1620)
yang menyumbang perkembangan ilmu hidrostatika. Hasil karyanya yang dipublikasi pada
tahun 1586 memberikan analisisgayayang dilakukan oleh zat cair pada bidang terendam.
Prinsip hidrostatika yang dikemukakan yaitu : pada bidang horizontal yang terendam di
dalam zat cair bekerjagayayang besarnya sama dengan berat kolom zat cair di atas bidang
tersebut. Selain itu juga perlu diingat karya dari Galileo (1564-1642) yang menemukan
hukum benda jatuh dalam zat cair. Masa antara Leonardo da Vinci sampai dengan Galileo
disebut dengan zaman Renaisance.
Padazaman setelah renaisance dapat dicatat Evangelista Torricelli (1608-1647), murid
Galileo, yang menemukan kecepatan aliran melalui lobang. Selanjutnya Edme Mariote
(1620-1684) menentukan secara eksperimental nilai koefisien debit pada lobang. Pada masa
yang sama, Robert Hooke (1635-1703), yang terkenal dengan teori elastisitas, meneliti
tentang anemometer dan baling – baling yang akhirnya menjadi dasar dalam perkembangan
baling – baling kapal. Antoin Parent (1666-1716) mempelajari kincir air dan mencari
hubungan antara kecepatan roda dan kecepatan air untuk mendapatkan rendemen maksimal.
Pada tahun 1692, Varigon menemukan pembuktian secara teoritis theorema Torricelli untuk
aliran melalui lubang.

7
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Pada abad ke-17, ilmu matematika dan mekanika mulai dikembangkan dalam ilmu
hidraulika. Blaise Pascal (1623-1662), seorang ahli matematika terkenal, memberi
sumbungan yang sangat penting pada bidang hidraulika dengan teori hidrostatika. Hokum
Pscal tersebut menyatakan bahwa pada zat cair diam, tekanan hidrostatis pada suatu titik
adalah sama dalam segala arah. Sir Isac Newton (1624-17280, ahli fisika terkenal juga
memberikan sumbangan pada ilmu hidraulika dengan merumuskan hukun aliran fluida
viskos (kental), yaitu bentuk hubungan antara tegangan geser yang terjadi dan gradien
kecepatan.
Pada decade kedua dari abad ke-18, karena pengaruh mate-matika terapan ke teknik
praktis, perkembangan ilmu hidraulika mengalami perubahan. Hidraulika teoritis terpisah
dari hidraulika praktis. Hidraulika teoritis dikembangkan menjadi ilmu hidrodinamika.
Kelahiran ilmu hidrodinamika tidak lepas dari sumbangan dari empat ahli mate-matika pada
abad ke-18 yaitu Daniell Bernoulli, Leonard Euler, Clairault dan Jean d’Alembert.
Hidrodinamika merupakan aplikasi ilmu mate-matika untuk analisis aliran fluida. Ilmu ini
mempelajari gerak zat cair ideal. Bernoulli (1700-1782) mengemukakan hukum kekekalan
energi dan kehilangan energi selama pengairan. Studi mate-matika yang dilakukan oleh
d’Alembert (1717-1783) dan Clairault (1713-1765) yang kemudian di sempurnakan oleh
Leonard Euler (1767-1783) merupakan dasar dari ilmu hidrodinamika. Persamaan yang
menggambarkan aliran fluida ideal dikenal dengan persamaan Euler. Rintisan keempat ahli
tersebut kemudian dilanjutkan oleh banyak ahli. Dapat disebutkan disini, Louis Nafier (1785-
1836) dan Sir Geoege Stokes (1819-1903) yang menyempurnakan persamaan Euler menjadi
persamaan gerak fluida viskos, yag dikenal dengan persamaan Nafier-Stokes. Sir George
Airy (1801-1892) menemukan persamaan gelombang amplitude kecil; Hermann von
Helmholtz (1821-1894) mempelajari aliran vortex, garis arus, analisis dimensi, dan
sebagainya. Lord Kelvin (1824-1907) mengembangkan teori dinamika untuk berbagai bidang
dan penemuannya yang terpenting adalah hokum pertama dan kedua thermodinamika. Lord
Rayleigh (1842-1919) orang pertama yang mempopulerkan prinsip-prinsip kesebangunan
dan analisis dimensi.
Perkembangan hidrodinamika terpisah dengan studi hidraulika eksperimen, yang juga
berkembang sangat pesat pada abad ke 18 dan 19. Hendri Pitot (1695-1771) menemukan alat
untuk mengukur kecepatan aliran zat cair, dan alat tersebut kemudian dikenal dengan tabung

8
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Pitot. Antoine Chezi (1718-1798) mempelari tahanan hidraulis yang kemudian dikenal
dengan rumus Chezy untuk aliran melalui saluran terbuka. Jean Borda (1733-1799)
mempelajari aliran melalui lobang dan orang pertama yang menggunakan faktor 2g secara
eksplisit dalam rumus-rumus hidraulika. Dapat disebut disini beberapa ahli lainnya seperti
jean Babtise Belanger (1789-1874) yang mempelajari garis pembendungan (backwater);
Benoit Fourneyron (1802-1867) mengembangkan turbin hidraulis; Gasper de Coriolis (1792-
1843) mempelajari distribusi kecepatan aliran dan pengaruh perputaran bumi terhadap aliran.
Jean Louis Poiseuille (1799-1869) mengembangkan persamaan aliran laminer, Barre de Saint
Venan (1797-1886) mempelajari gerak gelombang disaluran terbuka: Arsene Dupuit (1804-
1866) mengembangkan hidraulika air tanah; Antoine Charles Bresse (1822-1883) melakukan
studi hitungan profil muka air. Henri Darcy (1803-1858) mengemukakan hukun tahaan aliran
melalui aliran pipa yang diturunkan berdasarkan percobaan pipa, dan aliran melalui media
berpori. Paul du Boys (1847-1924) melakukan penelitian gerak sedimen dasar di saluran dan
sungai. Henri-Emile Bazin (1829-1917) melakukan studi ditribusi kecepatan pada arah
transversal saluran dan mengusulkan rumus kekasaran dinding saluran dalam bentuk
koefisien Chezy. Pada saat yang hampir bersamaan dengan Darcy dan Bazin. Emile Oscar
Ganguiller (1818-1894) dan Wilhelm-Rudolph Kutter (1818-1888) juga mengusulkan rumus
tahanan aliran. Rumus serupa juga diusulkan Philippe-Gaspard Gauckler (1826-1905) dan
Robert Manning (1816-1897). Giovanni Venturi (1746-1822) mempelajari pengaruh
perubahan penampang pipa dan saluran terhadap tekanan dan profil aliran. Osborn Reynolds
(1842-1912) mengembangkan teknik model fisik gerak sedimen dasar dan meneliti masalah
kavitasi. Selain itu dia juga mengusulkan bilangan tak berdimensi yang dikenal dengan angka
Reynolds, dan meneliti kondisi aliran Laminer, Turbulen dan kritis.
Pada sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 terjadi perkembangan yang sangat
penting dalam sejarah ilmu hidraulika Ludwig Frandtl (1875-1953) menggabungkan teori
hidrodinamika dan hidraulika eksperimen menjadi ilmu mekanika fluida. Sampai saat ini
Frandtl dianggap sebagai pencetus lahirnya ilmu mekanika fluida. Karyanya yang terpenting
adalah konsep lapis batas (1901). Murid beliau yaitu Paul Heinrich Blasius meneliti aliran
melalui pipa halus dan mengusulkan hubungan antara koefisien gesekan dan angka
Reynolds; dan Johann Nikuradse meneliti aliran melalui pipa kasar.

9
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

2.2 Pengertian Hidrolika Menurut Beberapa Ahli


Singh (1992), mengatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang membahas karakteristik
kuantitas dan kualitas air di bumi menurut ruang serta waktu, termasuk proses hidrologi,
pergerakan, penyebaran, sirkulasi tampungan, eksplorasi, pengembangan maupun manajemen.
Marta dan Adidarma (1983) menyebutkan tentang definisi atau pengertian hidrologi, ia
mengatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya distribusi juga
pergerakan air, baik itu diatas maupun di bawah permukaan bumi, menyangkut reaksi sifat fisika
maupun kimia air terhadap kehidupan serta lingkungan.
Ray K. Linsley, Yandi Hermawan (1986) menjelaskan tentang pengertian hidrologi, yaitu
bahwa hidrologi adalah ilmu yang membicarakan tentang air di bumi baik itu mengenai
kejadiannya, jenis-jenis, sirkulasi, sifat kimia dan fisika serta reaksinya terhadap lingkungan
maupun kehidupan.

10
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

BAB III
PEMBAHASAN

1. Aliran Pada Saluran Terbuka

1.1. Aliran Permanen Seragam Pada Saluran Licin dan Kasar


A.Maksud dan Tujuan
Setelah melaksanakan percobaan ini, diharapkan dapat:
 Mendemonstrasikan aliran permanen seragam pada saluran licin dan kasar.
 Menentukan koefisien kekasaran Manning untuk masing – masing saluran tersebut.

B.Dasar Teori
Pada umumnya, tipe aliran melalui saluran terbuka adalah torbulen karena kecepatan aliran
dengan kekasaran dinding relatif besar. Aliran melalui saluran terbuka tersebut (uniform) apabila
berbagai variabel aliran seperti kedalaman tampang basah, kecepatan dan debit pada setiap
tampang disepanjang aliran adalah konstan. Pada aliran seragam, garis energi, garis muka air dan
dasar saluran adalah sejajar sehingga kemiringan tiga garis tersebut adalah sama. Kedalaman air
pada aliran seragam disebut dengan kedalaman normal.
Aliran tersebut tidak seragam atau berubah apabila variabel aliran seperti kedalaman tampang
basah kecepatan disepanjang saluran tidak konstan. Apabila aliran terjadi pada jarak tiang
panjang maka disebut aliran berubah beraturan. Sebaliknya apabila terjadi pada jarak yang
pendek maka disebut aliran cepat.
Aliran disebut permanen apabila variabel aliran disuatu titik seperti kedalaman dan kecepatan
tidak berubah terhadap waktu apabila berubah terhadap waktu maka disebut aliran tidak
permanen.
Zat cair yang mengalir melalui saluran terbuka akan menimbulkan tegangan geser pada dinding
saluran. Tahanan ini akan di imbangi oleh komponen gaya berat yang bekerja pada zat cair
dalam arah aliran didalam aliran seragam komponen gaya berat dalam arah aliran adalah
seimbang dengan tahanan geser. Tahanan ini tergantung pada kecepatan aliran.
Berdasarkan keseimbangan gaya – gaya yang terjadi tersebut dapat diturunkan Rumus Manning
sebagai berikut :

11
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1 2/3
𝑉= . 𝑅 . 𝐼𝑠1/2
𝑛
Dimana : V = Kecepatan aliran
n = Koefisien kekasaran Manning
R = Radius (jari-jari) Hidrolik
Is = Kemiringan saluran
Apabila kecepatan aliran dapat diketahui, maka akan mudah bagi kita untuk menentukan harga
koefisien Manning tersebut.
C.Alat dan Bahan
Multi Purpose Teaching Flume

Multi Purpose Teaching Flume


Point Gauge

Point Gauge
Stopwatch

Stopwatch

12
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Mistar atau Pita Ukur

.
Mistar atau Pita Ukur
D.Langkah Kerja
1) Mempersiapkan alat – alat yang diperlukan untuk percobaan
2) Mengatur kemiringan dasar saluran yang telah ditentukan, yaitu 1%, 1,5% dan 2% dan
dimulai dengan kemiringan 1% pada percobaan pertama

Mengatur Kemiringan
3) Mencatat kemiringan sebagai (Is)
4) Mengalirkan air dalam saluran dengan menjalankan pompa
5) Mengukur kedalaman di dua titik yang telah ditentukan jaraknya (L), titik 1 dibagian
hulu, dan yang lain dihilir sebagai H1 dan H2 menggunakan point gauge

13
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Mengukur panjang
6) Mengukur debit aliran dengan membaca Volume air dan Waktu menggunakan stopwatch,
misal tentukan volume 10 liter lalu mulai baca waktu dari volume 0 – 10 liter
menggunakan stopwatch

mengukur debit
7) Mengukur kemiringan muka air yang terjadi yaitu :
8) Iw = Is + H1-H2 / L
9) Mengamati keadaan aliran yang terjadi
10) Menentukan besarnya koefisien kekasaran manning untuk dasar saluran licin.

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tata-tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk instruktur yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi
4. Lakukan pengujian dengan baik dan benar
5. Gunakan alat sesuai dengan fungsinya

F.Analisa Data
Saluran Licin
Kemiringan 1% ( Is )

14
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Dik :
Lebar saluran( B ) = 7,7 cm
Jarak titik 1-2 = 387 cm
Volume = 10 Liter ( 10.000 cm³/detik )
Waktu (t ) = 7,26 detik
Kedalaman air ( h1 ) = 3,6 cm
Kedalaman air ( h2 ) = 2,8 cm

Dit : angka kekasaran


Luas penampang( A )
A1 = B × h1 = 7,7 cm × 3,6 cm = 27,72 cm²
A2 = B × h2 = 7,7 cm × 2,8 cm = 21,56 cm²

Keliling basah( P )
P1 = B+2h1 = 7,7 cm + ( 2×3,6 ) = 14,9 cm²
P2 = B+2h2 = 7,7 cm + ( 2×2,8 ) = 13,3 cm²

Radius hidrolik( R )
R1 = A1/P1 = 27,72 cm² / 14,9 cm² = 1,860 cm
R2 = A2/P2 = 21,56 cm² / 13,3 cm² = 1,621 cm

Radius hidrolik rata-rata ( R )


𝑅1+𝑅2 1,860+1,621
R= = = 1,740 𝑐𝑚
2 2

Hitung debit ( Q )
𝑣𝑜𝑙 10 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟
Q= × 1000 = 7,26 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 × 1000 = 1,377𝐿/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = 1377,410 𝑐𝑚³/ 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑡

Hitung kecepatan( V )
𝑄 1377,410
V1 = 𝐴1 = = 49,690 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
27,72

15
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

𝑄 1377,410
V2 = 𝐴2 = = 63,887 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
21,56

Hitung kecepatan rata-rata ( V )


𝑣1+𝑣2 49,690+63,887
Vtotal = = = 56,788 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
2 2

Jari-jari hidrolik( R )
𝐴1 27,72𝑐𝑚2
R1 = 𝑃1 = = 1,860 𝑐𝑚
14,9 𝑐𝑚

𝐴2 21,56𝑐𝑚2
R2 = 𝑃2 = = 1,621 𝑐𝑚
13,3 𝑐𝑚
1,860+1,621
Rtotal= = 1,740 𝑐𝑚
2

Hitung angka kekasaran( n )


2 1 2
1
(𝑅 3 × 𝑠2 ) ( 1,740𝑅3 ×0,01 ) 1,446×0,1
2
n= = = = 0,0025
𝑣 56,788 56,788

saluran licin
uraian satuan titik 1 titik 2 titik 1 titik 2 titik 1 titik 2
kedalaman saluran (Is) % 1% 1% 1.5% 1.5% 2% 2%
kedalaman aliran ( h ) cm 3.6 2.8 2.9 2.4 2.6 2.2
luas penampang ( A ) cm² 27.72 21.56 22.33 18.48 20.02 16.94
keliling basah ( P ) cm 14.9 13.3 13.5 12.5 12.9 12.1
radius hidrolik ( R ) cm 1.86 1.62 1.65 1.48 1.55 1.40
rata-rata ( R ) cm 1.74 1.57 1.48
kecepatan ( V ) Hz - - - - - -
kecepatan ( V ) cm/det 49.69 63.89 63.61 76.86 68.71 81.20
kecepatan rata ( V ) cm/det 56.79 70.24 74.95
volume air ( Vol ) liter 10 10 10 10 10 10
waktu ( t ) detik 7.26 7.26 7.04 7.04 7.27 7.27
debit air ( Q ) cm³/det 1377.410 1,377 1,420 1,420 1,376 1,376
angka kekasaran ( n ) - 0.0030 0.0022 0.0027 0.0021 0.0028 0.0022
rata-rata ( n ) - 0.0025
Lebar saluran ( B ) cm 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7

16
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Saluran kasar
uraian satuan titik 1 titik 2 titik 1 titik 2 titik 1 titik 2
kedalaman saluran (Is) % 1% 1% 1,5% 1,5% 2% 2%
kedalaman aliran ( h ) cm 4.9 2.9 4.5 2.8 4.2 2.5
luas penampang ( A ) cm² 37.73 22.33 34.65 21.56 32.34 19.25
keliling basah ( P ) cm 17.5 13.5 16.7 13.3 16.1 12.7
radius hidrolik ( R ) cm 2.16 1.65 2.07 1.62 2.01 1.52
rata-rata ( R ) cm 1.91 1.85 1.76
kecepatan ( V ) Hz - - - - - -
kecepatan ( V ) cm/det 35.62 60.19 41.53 66.74 43.55 73.17
kecepatan rata ( V ) cm/det 39.25 42.01 41.13
volume air ( Vol ) liter 10
waktu ( t ) detik 7.44 7.44 6.95 6.95 7.10 7.10
debit air ( Q ) cm³/det 1,344 1,344 1,439 1,439 1,408 1,408
angka kekasaran ( n ) - 0.0468 0.0232 0.0392 0.0207 0.0366 0.0180
rata-rata ( n ) - 0.0308
lebar saluran ( B ) cm 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7 7.7

G.Kesimpulan
Dalam percobaan pratikum ini kita dapat Menentukan koefisien kekasaran chezy dan serta dapat
menghitung kecepatan air yang mengalir pada permukaan licin dan kasar.
H.Dokumentasi

17
FIRZHA RIVANO
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.2. Aliran Permanen Tidak Beraturan Akibat Pembendungan


A.Maksud dan Tujuan
 Mendemonstrasikan aliran permanen tidak beraturan akibat pembendungan
 Menunjukan perbedaan koefisien kekasaran Chezy pada kedalaman normal dan pada
aliran terbendung.

B.Dasar Teori
Pada umumnya tipe aliran melalui saluran terbuka adalah terbulen karena kecepatan aliran dan
kekasaran dinding relative besar. Aliran melalui saluran terbuka disebut seragam (uniform)
apabila berbagai variable aliran seperti kedalaman, tampang basah, kecepatan dan debit pada
setiap tampang di sepanjang aliran adalah konstan. Pada aliran seragam, garis energy, garis muka
air dan dasar saluran adalah sejajar sehingga kemiringan tiga garis tersebut adalah sama.
Kedalaman air pada aliran seragam disebut dengan kedalaman normal.
Aliran disebut tidak seragam atau berubah apabila variable aliran seperti kedalaman, tampang
basah, kecepatan di sepanjang saluran tidak konstan. Apabila perubahan aliran terjadi pada jarak
yang panjang, maka disebut aliran berubah beraturan. Sebaliknya apabila terjadi pada jarak yang
pendek maka disebut aliran cepat.
Aliran di sebut permanen apabila variable aliran di suatu titik seperti kedalaman dan kecepatan
tidak berubah terhadap waktu maka disebut aliran tidak permanen.
Zat cair yang mengalir melalui saluran terbuka akan menimbulkan tegangan geser pada dinding
saluran. Tahanan ini akan di imbangi oleh komponen gaya berat yang bekerja pada zat cair
dalam arah aliran. Di dalam aliran seragam, komponen gaya berat dalam arah aliran adalah
seimbang dengan tahanan geser. Tahanan ini tergantung pada kecepatan aliran.
Berdasarkan keseimbangan gaya-gaya yang terjadi tersebut dapat diturunkan rumus Manning
sebagai berikut.
1 2 1
V= × R ⁄3 × I ⁄2 ….
𝑛
Dimana :
V = Kecepatan Aliran.

n = Koefisien kekasaran Manning.

18
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

R = Jari-jari (radius) hidraulik.

I = Kemiringan muka air


Apabila kecepatan aliran dapat diketahui, maka akan mudah bagi kita untuk menentukan haraga
koefisien Manning tersebut.
C.Alat dan Bahan
Multi purpose teaching flume

Multi purpose teaching flume

Point gauge

Point Gauge

Meteran
Bendung/Penghalang ukuran 1cm, 2.5cm, dan 5cm
Bendungan ukuran 1 cm, 2.5 cm, 5 cm

19
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Stop Watch

Stop Watch

Hidrolik Bench

Hidrolik Bench

D.Langkah Kerja
1) Mengalirkan air kedalam saluran dengan menjalankan pompa
2) Apabila dasar saluran dimiringkan,catatlah kemiringannya sebagai is
3) Membendung pada ujung hilir saluran
4) Mengukur kedalaman di beberapa titik yang telah ditentukan jaraknya, disekitar daerah
pembendungan
5) Mengukur debit aliran dan ukur pula kecepatan aliran di titik tersebut
6) Mengukur kemiringan muka air yang terjadi yaitu: iw=is+(hn-1/2-hn+1/2)/L dengan hn
adalah kedalaman pada titik ke n
7) Mengamati keadaan aliran yang terjadi
8) Dari hasil pengukuran tersebut kita bias tentukan besarnya koefisien kekasaran. Chezy
pada titik baik pada aliran dengan pembendungan, amati apakah hasilnya konstan atau
berubah.

20
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

9) Menggambarkan sketsa saluran dan letak titik-titik pengukuran


10) Sketsa pengukuran

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tata-tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk instruktur yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi
4. Lakukan pengujian dengan baik dan benar
5. Gunakan alat sesuai dengan fungsinya

F.Analisa Data
Uraian :
Jarak antar titik :
5 (92,5 cm) 4 (105 cm) 3 (96,5 cm) 2 (92,5 cm) 1
1
Kemiringan saluran (Is) = 1 % = 0,01
Lebar saluran (b) = 7,7 cm = 0,077 m
Volume = 5L = 0,005m³ = 5.000 cm³
Waktu = 7,61 detik
Debit aliran (Q) = Volume / Waktu
𝐿
Q = 𝑡 x 1000 = ?
10 𝑙
= x 1000 = 1314,06 𝑐𝑚3 /det
7,61

Ukuran sekat yang di gunakan = 1. 50 cm


2. 5 cm
5. 0 cm

( h𝑛 −1⁄ ) − ( h𝑛 +1⁄ )
2 2
𝐼𝑤 = 𝐼𝑠 +
L

21
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

( h5 −1⁄ ) − ( h5 +1⁄ )
2 2
= 1% +
L
( h5 −1⁄ ) − ( h5 +1⁄ )
2 2
= 1% +
L
( h2 ) − ( h3 )
= 1% +
L
3,25 − 3,00
= 1% +
96,5

= 0,012%

Luas tampang basah (A) =bxh


= 7,7 cm x 3,50 cm
= 26,95cm²
Keliling basah (P) = 2. h + b
= 2 . 3,50 cm + 7,7 cm
= 14,4 cm²
𝐴
Jari-jari Hidrolik (R) = 𝑃
26,95 𝑐𝑚²
= 14,7𝑐𝑚²

= 1,83 cm
𝑄
Kecepatan aliran V (cm/det) = 𝐴
1314,06 𝑐𝑚³/𝑑𝑒𝑡
= 26,95 𝑐𝑚²

= 48,76 cm/det

𝑅 2/3 . 𝐼𝑠1/2
n = 𝑉
1,716 𝑐𝑚 2/3 . 1% 1/2
= 55,226 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡

= 0,002

22
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Kemiringan 1% t(detik)= 7.61 b(cm)= 7.7 V(liter)= 10


TITIK PENGUKURAN
URAIAN (1 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1314.06
kedalaman aliran (h) 3.5 3.25 3.1 2.9 2.8
luas penampang basah (A) 26.95 25.025 23.87 22.33 21.56
keliling basah (P) 14.7 14.2 13.9 13.5 13.3
jari-jari hidrolik ( R) 1.83 1.76 1.72 1.65 1.62
R rata-rata 1.72
kecepatan aliran (v) 48.759 52.510 55.051 58.847 60.949
v rata-rata 55.223
n 0.003
TITIK PENGUKURAN
URAIAN (2.5 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1314.06
kedalaman aliran (h) 3.4 3.23 3 4.5 5.8
luas penampang basah (A) 26.18 24.871 23.1 34.65 44.66
keliling basah (P) 14.5 14.16 13.7 16.7 19.3
jari-jari hidrolik ( R) 1.806 1.756 1.686 2.075 2.314
R rata-rata 1.927
kecepatan aliran (v) 50.193 52.835 56.886 37.924 29.424
v rata-rata 45.452
n 0.003
TITIK PENGUKURAN
URAIAN (5cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1314.06
kedalaman aliran (h) 4.8 5.1 6.5 7.4 8.3
luas penampang basah (A) 36.96 39.27 50.05 56.98 63.91

23
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

keliling basah (P) 17.3 17.9 20.7 22.5 24.3


jari-jari hidrolik ( R) 2.136 2.194 2.418 2.532 2.630
R rata-rata 2.382
kecepatan aliran (v) 35.554 33.462 26.255 23.062 20.561
v rata-rata 27.779
n 0.006

kemiringan 1.5% t(detik)= 6.93 b(cm)= 7.7 V(liter)= 10


TITIK PENGUKURAN
URAIAN (1 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1443.00
kedalaman aliran (h) 2.9 2.7 2.6 2.5 2.4
luas penampang basah (A) 22.33 20.79 20.02 19.25 18.48
keliling basah (P) 13.5 13.1 12.9 12.7 12.5
jari-jari hidrolik ( R) 1.65 1.59 1.55 1.52 1.48
R rata-rata 1.56
kecepatan aliran (v) 64.622 69.408 72.078 74.961 78.084
v rata-rata 71.831
n 0.002
TITIK PENGUKURAN
URAIAN (2.5 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1443.00
kedalaman aliran (h) 2.9 2.7 2.6 2.5 5.3
luas penampang basah (A) 22.33 20.79 20.02 19.25 40.81
keliling basah (P) 13.5 13.1 12.9 12.7 18.3
jari-jari hidrolik ( R) 1.65407407 1.5870229 1.55193798 1.51574803 2.23005464
R rata-rata 1.707767527
kecepatan aliran (v) 64.622 69.408 72.078 74.961 35.359
v rata-rata 63.286
n 0.003

24
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

TITIK PENGUKURAN
URAIAN (5cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1443.00
kedalaman aliran (h) 2.9 2.7 4.7 6.55 8.1
luas penampang basah (A) 22.33 20.79 36.19 50.435 62.37
keliling basah (P) 13.5 13.1 17.1 20.8 23.9
jari-jari hidrolik ( R) 1.654 1.587 2.116 2.425 2.610
R rata-rata 2.078
kecepatan aliran (v) 64.622 69.408 39.873 28.611 23.136
v rata-rata 45.130
n 0.004

kemiringan 2.5% t(detik)= 7.38 b(cm)= 7.7 V(liter)= 10


TITIK PENGUKURAN
URAIAN (1 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1355.01
kedalaman aliran (h) 2.5 2.2 2.2 2.2 2.2
luas penampang basah (A) 19.25 16.94 16.94 16.94 16.94
keliling basah (P) 12.7 12.1 12.1 12.1 12.1
jari-jari hidrolik ( R) 1.52 1.40 1.40 1.40 1.40
R rata-rata 1.42
kecepatan aliran (v) 70.390 79.989 79.989 79.989 79.989
v rata-rata 78.069
n 0.003
TITIK PENGUKURAN
URAIAN (2.5 cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1355.01
kedalaman aliran (h) 2.5 2.2 2.2 2.2 2.4
luas penampang basah (A) 19.25 16.94 16.94 16.94 18.48

25
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

keliling basah (P) 12.7 12.1 12.1 12.1 12.5


jari-jari hidrolik ( R) 1.51574803 1.4 1.4 1.4 1.4784
R rata-rata 1.439
kecepatan aliran (v) 70.390 79.989 79.989 79.989 73.323
v rata-rata 76.736
n 0.003
TITIK PENGUKURAN
URAIAN (5cm)
1 2 3 4 5
Q (cm³/detik) 1355.01
kedalaman aliran (h) 2.5 2.2 2.2 2.2 7.5
luas penampang basah (A) 19.25 16.94 16.94 16.94 57.75
keliling basah (P) 12.7 12.1 12.1 12.1 22.7
jari-jari hidrolik ( R) 1.51574803 1.4 1.4 1.4 2.54405286
R rata-rata 1.652
kecepatan aliran (v) 70.390 79.989 79.989 79.989 23.463
v rata-rata 66.764
n 0.003

F.Kesimpulan
Dalam peristiwa pembendungan menunjukan perbedaan koefisien kekasaran chezy pada
kedalaman normal dan pada aliran terbendung
G.Dokumentasi

26
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.4. Bangunan Kontrol Ambang Tajam


A. Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
Mendemonstasikan aliran melalui ambang tajam
Menunjukan bahwa ambang tajam dapat digunakan sebagai alat ukur debit
B. Dasar Teori
Jenis ini peluap ambang tajam merupakan salah satu konstruksi pengukur debit yang banyak
dijumpai disaluran-saluran irigasi maupun laboratorium. Debit aliran yang terjadi pada ambang
tajam dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut :
2
Q = 3 x Cd x B x √𝑔 x h2/3…. (3.1)
𝑄
Cd = 2 ……………..(3.2)
𝐵 √2𝑔 ℎ3/2
3

Dengan h = tinggi muka air diatas ambang.


Q = debit aliran
B = lebar ambang
g = tinggi gravitasi 9.81 m/det2
Cd = koefisien debit
Model ambang tajam ini terbuat dari baja tahan karat (stainless steel). Debit yang lewat diatas
ambang tajam ini merupakan fungsi dari tinggi aliran diatas ambang.

27
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

C. Peralatan dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Multi purpose teaching flume

Multi purpose teaching flume

hidraulik bench

Ambang tajam

\
ambang tajam

28
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Point gauge (alat ukur tinggi muka air)

Point gauge

Mistar / Pita ukur

mistar

Stop watch

stopwatch

Alat tulis dan form percobaan h. Air


E. Langkah Kerja
1) Menyiapkan dan menyetel peralatan sebelum memulai percobaan.
2) Menentukan kemiringan saluran yang telah ditentukan yaitu 0%

29
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

pengaturan kemiringan saluran

3) Memasang ambang tajam pada model saluran terbuka, sebelum dipasang pada saluran
sebaiknya ambang tersebut dibasahkan terlebih dahulu.
4) Mengalirkan air kedalam saluran dengan cara membuka kran terlebih dahulu lalu
hidupkan pompa.

5) Mengukur debit yang terjadi.


6) Mengukur tinggi muka air diatas ambang tajam (h).

7) Mengamati keadaan aliran yang terjadi pada saat terjadi aliran dengan punggung aliran
berhimpit dengan badan bendung.
8) Dengan menggunakan rumus yang ada, menghitung koefisien debit pada ambang tajam.

30
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

9) Mengulangi prosedur diatas dengan nilai debit yang lain.

E. Keselamatan Kerja
1) Patuhilah tatatertib laboratorium yang berlau.
2) Ikutilah langkah kerja yang berlaku
3) Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan.
4) Bersihkan alat setelah dipakai dan kembalikan pada tempat semula

F. Perhitungan Hasil Data


Diket :
P = 11,08 cm
V =5L
t = 3,66 det
h = 16,5 cm
b = 7,7 cm
g = 9,81 m/det2 = 981 cm/det2

3
ditanya : h, h 2 , cd ?

Penyelesaian :
𝑣 5𝐿
Q =𝑡 = 3,66 𝑑𝑒𝑡 =1370 𝑐𝑚⁄𝑑𝑒𝑡

H = h tot – P = 16,5 cm – 11,00 cm = 5,42 cm

3 3
H = 5,42 cm = 12,62 cm
2 2

1370 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡
Cd =2
⁄3 . 7,7 𝑐𝑚 2.981 𝑥 12,62

1370 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡
= = 0,5
2869,514

31
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

G. Hasil Data
Tabel Hasil pengamatan pada aliran melalui ambang tajam
volume debit keofisien
waktu
no air aliran h (m) h3/2 debit
(s)
(m3) (m3/s) (cd)
1 1,37 3,66 16,5 5,42 12,62 0,5
2 0,54 9,25 15,5 4,42 9,29 0,26
3 0,68 7,37 14,5 3,42 6,32 0,47

H. Kesimpulan
Jenis ini peluap ambang tajam merupakan salah satu konstruksi pengukur debit yang banyak
dijumpai disaluran-saluran irigasi maupun laboratorium. Debit aliran yang terjadi pada ambang
tajam dihitung dengan menggunakan formula.Pada hasil Cd pada masing – masing percobaan <
I.Dokumentasi

32
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.5. Bangunan Kontrol Ambang Lebar


A. Maksud dan Tujuan
Dapat menggunakan dan menerapkan rumus-rumus hidronamika dalam saluran
 Mendemontrasikan aliran melalui ambang lebar
 Menunjukkan bahwa ambang lebar dapat digunakan sebagai alat ukur debit

B. Dasar Teori
Peluap disebut ambang lebar apabila B > 0,4 hu dengan B adalah lebar peluap dan hu adalah
tinggi peluapan.

Keterangan

Q = Debit aliran
H = Tinggi tekanan total didahulu ambang = Y0 + V2/ 2g
Y0 = Kedalaman air didahulu ambang
P = Tinggi ambang
yo = Tinggi muka air diatas hilir ambang
hu = Tinggi muka air diatas hulu ambang = Y0 – P

Ambang lebar merupakan salah satu konstruksi pengukur debit. Debit aliran yang terjadi pada
ambang lebar dihitung denga menggunakan formula sebagai berikut :

𝑄 = 𝐶ₐ. 𝐵. 𝐻¹²
Dimana :
Q = Debit aliran
H = Tinggi tekanan total dihulu ambang

33
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Cd = Koefisien debit
B = Lebar ambang

Debit aliran juga dapat dihitung sebagai berikut :


Q = Cd . 𝐶ᵥ . 𝐵 . ℎᵤ32
dengan :
Cv = Koefisien kecepatan
hu = Tinggi muka air diatas hulu ambang
Q = Debit aliran
H = Tinggi tekanan total di hulu ambang.
Cd= Koefisien debit
B = Lebar ambang
C. Peralatan dan Bahan
Multi purpose teaching flume

Multi purpose teacing flume

Model ambang lebar

Model Ambang Lebar

34
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Point Gauge

Point Guage

Mistar
Model ini merupakan tiruan ambang lebar disaluran irigasi. Model ini terbuat dari glass
reinforced plastic yang berbentuk prisma segi empat dengan punggung streamline. Kontruksi ini
pada umumnya banyak digunakan dilapangan untuk mengukur debit disaluran terbuka, karena
akan memberikan akurasi dan keandalan pengukuran, disamping itu juga kemudahan dalam
pembuatan kontruksi dan perawatannya.
D. Langkah Kerja
1) Membasahkan ambang lebar sebelum dipasang pada saluran terbuka
2) Mengalirkan air kedalam saluran terbuka
3) Mengukur debit aliran
4) Mencatat harga : H, Y0, Yc, hu
5) Mengamati aliran yang terjadi
6) Mengulangi percobaan untuk debit yang lain (3x debit)
7) Menggambarkan profil aliran yang terjadi

35
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

E. Keselamtan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kerusakan

F. Analisa Data
Contoh hitungan bangunan kontrol ambang lebar
Diketahui
L ambang ( b ) = 7,7 cm = 0,077m
T ambang ( P ) = 9,8 cm = 0,098m
Yo = 14,5 cm , 13,5 cm , 12,5 cm
Yc = 13,3 cm , cm , 1,98 cm .

Ditanya = Q
𝑣 5𝐿
Q =𝑡 = 3,66 𝑑𝑒𝑡 = 1396,65 𝑐𝑚⁄𝑑𝑒𝑡

Ditanya = H
H = h tot – P = 16,5 cm – 11,00 cm = 14,67 cm

3 3
H2 = 14,67 cm = 56,21 cm
2

1396,65 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡
Cd =2
⁄3 . 7,7 𝑐𝑚 2.981 𝑥 12,62

1370 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡
= = 3,23
2869,514

36
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Cv = Q / Cd. B. hu3/2 = 1396,65 / (1,704 x 0,094 x 0,075 x 0,0133) = 4,7754


Tabel Hasil Data Bangunan Kontrol Ambang Lebar
No Yo Yc Q V² H H^3/2 Cd Hu Hu^3/2 Cv
1 14,5 13,3 1396,65 342,56 14,67 56,21 3,23 4,70 10,19 5,52
2 13,5 12,3 611,25 65,61 13,53 49,79 1,59 3,70 7,12 7,00
3 12,5 11,6 290,53 14,82 12,51 44,23 0,85 2,70 4,44 9,97

G. Kesimpulan
Dibutuhkan ketelitian dalam menghitung data sesuai rumus yang telah ditentukan, melihat hasil
bacaan pada Yo kedalaman air di hulu.
Dibutuhkan pembagian tugas dalam praktek agar terasa lebih ringan, efektif, dan lainnya.
Dalam praktek ini harus sesuai prosedur, misalnya salah satunya pada saat mengamati aliran
yang terjadi ,aliran air kedalam saluran terbuka dan perlu ketelitian pada saat mengukur debit
aliran.
Diperlukkan kehati-hatian dalam praktek agar diharapkan tidak merusak alat dilab dan bisa
menghindari kecelakaan kerja pada diri sendiri dan atau pun orang lain.
H. Dokumentasi

37
FAESAL SEPTIRIANI
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.6. Crump Weir


A. Maksud dan Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :
 Mendemonstrasikan aliran melalui crump weir.
 Menunjukan bahwa crump weir dapat digunakan sebagai alat ukur debit.

B. Dasar Teori
Aliran melalui crump weir dapat dibedakan pada kondisi aliran modular dan non modular. Debit
aliran yang terjadipada crump weir untuk kondisi aliran modular dihitung dengan menggunakan
formula sebagai berikut:
Qm = Cd.B.Ho.√𝑔. 𝐻𝑜
𝑄𝑚
Cd = 1
𝐵.𝑔 𝐻𝑂 3/2
2

Dengan:
Qm = debit aliran modular
Ho = tinggi tekanan total dihulu ambang
Cd = koefisien debit
B = lebar crump weir

Pada kondisi aliran non modular, aliran dihulu sudah dipengaruhi oleh perubahan tinggi tekanan
dihilir. Oleh karena itu debit yang dihasilkan pada kondisi aliran non modular perlu dikoreksi :
Q = f.Qm
Dengan:
F = factor koreksi
Q = debit non modular

38
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

C. Peralatan dan Bahan


Multi purpose teaching flume

.
Multi purpose teacing flume

Model crump weir

Model crump weir

Model ini merupakan tiruan crump weir disaluran irigasi. Model ini terbuat dari glass reinforced
plastic yang berbentuk prisma segitiga. Konstruksi ini digunakan untuk mengukur debit disaluran
terbuka.
Point gauge

Point Gauge

39
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Mistar/pita ukur

mistar

D. Langkah Kerja
1) Menyiapkan alat yaitu saluran terbuka

2) Memasang crump weir pada saluran terbuka

3) Mengalirkan air kedalam saluran

40
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

4) Mengukur debit aliran


5) Mencatat harga Ho, Yo, H1, dan Y1
6) Mengamati aliran yang terjadi
7) Berdasarkan rumus diatas menentukan besarnya harga Cd crump weir

E. Keselamatan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi kerusakan

F. Perhitungan Hasil Data


Diketahui
Yo = 9,4 V = 5 lt = 5000 cm3 B = 7,5 cm
Yi = 3,9 t = 3,27detik p = 4,9 cm

g = 9,81 m/detik2 = 981cm/detik2

Ditanya
Qm,Ho,Hi,Cd
𝑣 5000
Qm = = = 1529,051 𝑐𝑚3/ 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑡 3,27

Ho = Yo + Vo2/2.g
1529,051𝑐𝑚3/ 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
Vo ( dicaridulu ) = Q/A= =21,68 cm/detik
70,5 𝑐𝑚2

41
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

3/ 2
(1529,051𝑐𝑚 2 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘)
𝑣𝑜2 70,5 𝑐𝑚
Ho =Yo + 2.𝑔 = 9,4 + = 9,64 cm
2 . 981
Ao = 𝐵 × 𝑦𝑜 = 7,5 × 9,4 = 70,5 𝑐𝑚2
3/ 2
𝑣2 (1529,051𝑐𝑚
29,25
𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
)
H1 = y1 + 2×𝑔 = 3,9 + = 5,3 𝑐𝑚2
2 . 981
A1 = B × 𝑦1 = 29,25 𝑐𝑚2
Qm = Cd x B x Ho x √𝑔 x Ho
𝑄𝑚
Cd = 1 3
𝐵 . 𝑔2 . 𝐻𝑜2

1529,051 1529,051
= 1 3 =
7,5 . 31,32 . 29,93
7,5 . 9812 . 9,642

1529,051
= = 0,217
7030,557

kondisi non modular


diketahui :
yo = 9,7 cm v = 5 liter = 5000 cm3
y1 = 8,7 cm t = 4,19
ditanya :
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 5
Q= = × 1000 = 1193,317 𝑐𝑚3/ 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑡 4,19
𝑄 1193,317
F = 𝑄𝑚 = 1529,051 = 0,780

42
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

kondisi modular
no. Y0 Y1 Qm H0 H1 A0 A1 V0² V1² Cd v t
1 9.4 3.9 1369.86 9.59 5.02 70.5 29.25 377.55 2193.32 0.20 5 3.65

Kondisi non modular

no. Y0 Y1 Q H0 H1 A0 A1 V0² V1² Cd v t f

1 9.7 8.7 1639.34 10.02 9.02 72.75 65.25 631.22 631.22 0.22 5 3.05 1.20
2 8.6 7.6 1587.30 9.00 8.00 64.5 57 775.48 775.48 0.25 5 3.15 1.64
3 7.8 7.1 1524.39 8.22 7.52 58.5 53.25 819.51 819.51 0.3 5 3.28 2.20

43
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.7. Pintu Sorong/ Sluice Gate


A. Maksud dan Tujuan
 Mendemonstrasikan aliran melalui pintu sorong
 Menunjukan bahwa pintu sorong dapat digunakan sebagai alat ukur debit.

B. Dasar Teori
Pintu Sorong/Sluice Gate ini merupakan salah satu konstruksi pengukur dan pengukur debit.
Pada pintu sorong ini prinsip konseversi energi dan momentum dapat diterapkan. Persamaan
Bernouli hanya dapat diterapkan apabila kehilangan energi dapat diabaikan atau sudah diketahui.

Debit aliran yang terjadi pada pintu sorong pada kondisi aliran air bebas dihitung dengan
menggunakan formula sebagai berikut :
Q = Cd.B.Yg.√2g.y0
Dengan :
Q = Debit aliran
Cd = Koefisien debit
B = Lebar pintu
g = Percepatan gravitasi
Yg = Tinggi bukaan pintu
Yo = Tinggi air dihulu pintu sorong

44
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

C. Peralatan dan Bahan


Multi Purpose Teaching Flume

Multi Purpose Teaching Flume


Pintu Sorong/Sluice Gate

Pintu Sorong/Sluice Gate


Point Gauge

Point Gauge
Meteran

Meteran

45
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

D. Langkah Kerja
1) Mengatur kedudukan saluran hingga dasar saluran menjadi datar/horizontal

2) Memasang pintu sorong pada saluran, jaga agar kondisi tetap vertikal

Pemasangan Pintu sorong posisi tetap vertikal


3) Mengalirkan air dan kemudian mengukur debitnya

Mengalirkan air dan Mengukur Debit


4) Mengatur Yg antara 20 mm, 30mm dan 40mm, kemudian diukur Y1 dan Y0 dan ukur
debit yang terjadi

Mengatur Ukuran Yg, Y1, dan Y0

5) Mengamati aliran yang terjadi

46
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Mengamati Aliran Yang Terjadi

E. Keselamatan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk serta arahan yang diberikan oleh teknisi
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan
4. Jaga kebersihan pada saat praktikum
5. Dilarang minum dan makan di dalam ruangan pada saat praktikum

F. Analisa Data
Diketahui :
B = 7,5 cm = 0,075Vol = 5 liter = 5dm³
t = 3.28 det g = 9,81 m/det²
Yo = 11,9 cm = 0,119 m Y1 = 5,1 cm = 0,051 m
Yg = 20 mm = 2 cm = 0,02 m
Perhitungan :
𝑣𝑜𝑙 5𝑙
Q = 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 = 3.28𝑑𝑒𝑡 = 1.524cm³/ det
𝑄 1524 𝑐𝑚3 /𝑑𝑒𝑡
Cd = 𝐵.𝑌𝑔.√2𝑔.𝑌0 =7.5 𝑐𝑚 . = 0,66
0,02 𝑚 . √2. 9,81 . 11.9

A = Y0 x B = 0,119x 0,075 = 0,008925m²


𝑄 𝑄 0,001524 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡
V0 = 𝐴 = 𝑌0 . = = 0,1707 m³/det
𝐵 0,008925 𝑚²
𝑉0
H0 = Y0 + 2𝑔
0.1707 𝑚/𝑑𝑒𝑡
H0 = 0,1102 + 2 .9,81 𝑚/𝑑𝑒𝑡² = 0.1205 m

A = Y0 x B = 5.1x 0,075 = 0,003825m²

47
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

𝑄 𝑄 0.001524 𝑚3 /𝑑𝑒𝑡
V1 = 𝐴 = 𝑌1 . = = 0.398m/det²
𝐵 0.003825 𝑚²
𝑉1
H1 = Y1 + 2𝑔
0,398 𝑚/𝑑𝑒𝑡
H1 = 0,051 m + 2 . = 0,0591 m
9,81 𝑚/𝑑𝑒𝑡²

Tabel Hasil Data Perhitungan Pintu Sorong


No Volume Waktu Yg Yo Y1 A1 Ao Q Cd Ho H1
1 5 3.28 2 11.9 5.1 38.25 89.25 1524.390244 0.67 12.05 5.91
2 5 3.15 3 7 5.2 39 52.5 1587.301587 0.60 7.47 5.98
3 5 3.04 4 4 5.2 39 30 1644.736842 0.62 5.53 5.98

B=7.5 cm
G=981 cm/detik²
G. Kesimpulan
Pintu Sorong/Sluice Gate ini merupakan salah satu konstruksi pengukur dan pengukur debit dan
contoh aplikasi nya yaitu pintu air , pengukur debit bangunan irigasi dan dalam pengujian Pintu
Sorong/Sluice Gate agar mahasiswa mengetahui bagaimana mendemostrasikan aliran melalui
Pintu Sorong/Sluice Gate dapat digunakan sebagai alat ukur debit. Dari hasil pengujian pintu
sorong didapatkan data Cd maksimum yaitu 0,680dan Cd minimum yaitu 0,358. Data H0
maksimum yaitu 0,119 dan H0 minimum yaitu 0,080. Data H1 maksimum yaitu 0,0724 dan H1
minimum yaitu 0,0690.
H.Dokumentasi

48
GILANG YERI NURYAASIIN
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1.8. Bendungan/Overflow Weir


A. Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
mendemonstrasikan aliran melalui bending
menunjukan bahwa bendungan dapat digunakan sebagai alat ukur debit
B. Dasar Teori
Debit melalui bending
Bendung merupakan konstruksi untuk menaikkan elevasi muka air di sungai dan berfungsi pula
sebagai sarana pengukur debit aliran. Disamping itu, bendung juga merupakan bentuk bangunan
pelimpah yang paling sederhana. Sifat – sifat aliran melalui bendung pada awalnya dikenal
sebagai dasar perencanaan pelimpah dengan mercu bulat, yakni profil pelimpah yang ditentukan
sesuai dengan bentuk permukaan tirai luapan bawah di atas bendung mercu tajam.
Debit yang mengalir di atas bendung dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :
2
Q= . Cd. B√2. g. (yo − P)3
3
Dengan (Yo – P) adalah jarak vertical antara muka air di hulu bendung dengan puncak bendung
dan B adalah lebar bendung.
Loncatan hidraulik pada bendung
Aliran air yang melewati bendung akan mengalami loncatan hidraulik akibat terjadinya
pelepasan energi karena berubahnya kondisi aliran dari super kritis menjadi aliran sub kritis.
Pada umumnya loncatan hidraulik dipakai sebagai peredam energi pada hilir bendung, saluran
irigasi atau struktur hidraulik yang lain serta untuk mencegah pengikisan struktur dibagian hilir.
Suatu lompatan hidraulik dapt terbentuk pada saluran apabila memenuhi persamaan sebagai
berikut :
𝑦2 1
= (−1 + √1 + 8. 𝐹𝑟12 )
𝑦1 2
Dengan :
y2 = tinggi muka air di hilir loncatan hidraulik
y1 = tinggi muka air di hulu loncatan hidraulik
V1
Fr1 = Bilangan Frude =
√g.y1

Adapun panjang loncatan air dapat hitung dengan rumus empiris sebagai berikut :

49
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

L = 5 s/d 7 (𝑦2 − 𝑦1)


Dengan : L = panjang loncatan hidraulik
C. Peralatan dan Bahan
Multi porpose teaching flume

Multi purpose teaching flume


Hidraulik bench

Hidaraulik bench

Model bendung/Ogee Weir dengan tiga macam lantai belakang :

Blended reverse curvature

Blended reverse curvature

50
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Ski jump

Gambar Ski jump

Sloping apron

Gambar Sloping apron


Mistar/Pita Ukur

Gambar Mistar

51
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Point gauge

Point gauge
Stop watch

Stop watch

D. Langkah Kerja
1) Memasang model bendung pada saluran terbuka

Gambar pemasangan model


2) Mengalirkan air kedalam saluran terbuka
3) Mengukur debit yang terjadi

52
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

pengukuran debit
4) Mencatat harga Yo
5) Dengan menggunakan formula menentukan besarnya koefisien debit melalui bendung
6) Menggambar profil aliran terjadi
7) Mengamati loncatan hidrulik yang terjadi di hilir bendung, ukur y2, y1 dan L dan
menentukan kecepatan yang terjadi pada aliran dihulu loncatan hidraulik

Pengukuran loncatan

Pengukuran y2,y1
8) Mengamati pula bagian mana yang akan mengalami gerusan yang membahayakan
9) Memasang lantai bendung yang lain pada bagian hilir di belakang model bendung
tersebut. Mengamati loncatan hidraulik yang terjadi, bandingkan dengan kondisi yang
sebelumnya
10) menggambarkan profil aliran yang terjadi

53
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

E. Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tata – tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk instruktur yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi

F. Analisa Data
Blended reverse curvature
B = 7,5 cm P = 9,8 cm
10000
Q = = 1470,6 cm³/det
3.226,8

g = 9,81 m/det
volume = 10 L = 10000 𝑐𝑚3
Yo = 22,4 cm
Y1 = 1,65 cm
Y2 = 1,45 cm
L = 14,5 cm
Contoh perhitungan titik 1:
𝑄
𝐶𝑑 =
2 𝑥 𝐵√2𝑔(𝑌𝑜 − 𝑃)

3
1470,6 𝑐𝑚 ⁄𝑑𝑒𝑡
𝑐𝑑 = = 0.0032
2 𝑥 7,5 𝑚 . √2 𝑥 9,81 𝑚⁄𝑑𝑒𝑡 2 . (22.4 𝑐𝑚 − 9,8 𝑐𝑚 )³

Tabel Hasil Data Reverse Curvature


debit koefisien
No volume waktu aliran Yo Y1 Y2 L debit
air(m³) (s) (m³/s) (m) (m) Cd
1 5000 3.22 1470,6 22.4 1.65 1,45 14,5 0,0032

54
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Ski Jump
Diketahui :
B = 7,5 cm P = 9,8 cm
10000
Q = = 1694,5 cm³/det
5,9

g = 9,81 m/det
volume = 10 L = 10000 𝑐𝑚3
Yo = 22,5cm
Y1 = 2,46 cm
Y2 = 1,89 cm
L = 34 cm

B = 0,077 m P = 0,178 m
10000
Q = 3.80 det = 169,5 cm3 /det
3. Q
Cd =
2. B. √2. g. (yo − P)3
3
3 𝑋 169,5 𝑐𝑚 ⁄𝑑𝑒𝑡
=
2 𝑋 7,5 𝑚 . √√2 𝑋 9,81 𝑚⁄𝑑𝑒𝑡 . (22.5 𝑐𝑚 − 9,8 𝑐𝑚)3

= 0,004
Tabel Hasil Data SKY JUMP
debit koefisien
No volume waktu aliran Yo Y1 Y2 L debit
air(m³) (s) (m³/s) (m) (m) Cd
1 5000 3.22 1694,5 22,5 2,46 1,89 34 0.004

Sloping apron

55
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Diketahui :
B = 7,5 cm P = 9,8 cm
10000
Q = = 1408,4 cm³/det
5,9

g = 9,81 m/det
volume = 10 L = 10000 𝑐𝑚3
Yo = 22,4cm
Y1 = 1,40cm
Y2 = 1,40 cm
L = 40 cm

Q = 2⁄3.cd.B √2𝑔 (𝑦𝑜 − 𝑝)3


3.𝑄 3 𝑋 1408,4 𝑐𝑚3 /𝑑𝑒𝑡
Cd= =
2 𝑥 𝐵 √2𝑔(𝑌𝑜−𝑝) 2 𝑥 7,5 𝑚 √2 𝑥 9,8 𝑚⁄
𝑑𝑒𝑡 2( 22.4 𝑐𝑚−9,8 𝑐𝑚)3

Cd = 0,003

Tabel Hasil Data Sloping Apron


debit koefisien
No volume waktu aliran Yo Y1 Y2 L debit
air(cm³) (s) (cm³/s) (m) (m) Cd
1 5000 3.58 1408,4 22.4 1.55 1.40 20 0.003

G. Kesimpulan
Dari hasil pengujian dengan metode over flow were dapat di ketahui bahwa :
Hasil perhitangan tidak sesui jauh dibanding data L mungkin dikarnakan alat praktikum sudah
lama atau tidak normal

H.Dokumentasi

56
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

57
TIO JULIAN PUTRA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

2. Tumbukan Pancaran Fluida


A.Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
 Menjelaskan prinsip dari pancaran fluida dengan mencatat data pengamatan pada lembar
format yang telah disediakan.
 Menghitung hasil percobaantersebut dengan teliti dan benar.
 Mengaplikasikan prinsip-prinsip tumbukan pancaran fluida pada bangunan-bangunan air
seperti bendungan dinding dll.

B.Dasar Teori
Penerapan hokum Newton II
Fy = Qm x V x (cos θ + 1)
Dimana :
Fy = gaya akibat p-ancaran fluida (Newton)
Qm = debit mengalir ( m3/detik )
θ = sudut balik (º )
Sedangkan debit yang mengalir :
Qm = ρ x Qt
Dimana :
Ρ = kerapatan massa air ( kg/m3)
Qt = debit terukur ( m3/detik )
Kecepatan adalah debit persatuan luas dapat diuraikan sebagai berikut:
𝑄𝑡
V= , maka Qt = A x V
𝐴

Dimana :
A = Luas Nozzle (m2 )
V = Kecepatan aliran ( m/detik )
Sudut diperoleh dari pengukuran terhadap 180º :
Θ = 180º-α
Dimana :
α = sudut pancaran terhadap sudut utama
Besarnya sudut α tergantung dari type piringan :

58
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

a. Type piringan datar

Type piringan datar

b. Type piringan cekung

Type Piringan Cekung

c. Type piringan ½ cekung

Type piringan ½ cekung

59
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

d. Type piringan tajam

Type piringan tajam

C.Peralatan dan Bahan


Jet impact apparatus

Jet Impact Apparatus

Hidrauliks bench

hidraulik bench

Thermometer air

60
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Thermometer

Massa pemberat

Massa Pemberat

Stopwatch

Stopwatch

D.Langkah Kerja
1) Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan dan pastikan peralatan dalam
keadaan baik sebelum digunakan.
2) Meletakan jet impact didalam hidrolisks bench kemudian levelkan nivo tepat ditengah
dan penahan harus setara dengan taraf keseimbangan.
3) Memasang beban maksimal diatas jet impact tersebut.
4) Mulai menghidupkan mesin dimana keran terlebih dahulu ditutup rapat dan buka secara
perlahan.
5) Apabila mencapai maksimal dan pancaran yang dihasilkan air serta penahan beban
sejajar dengan taraf keseimbangan, maka perubahan sudah bisa dilakukan.

61
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

6) Melanjutkan dengan perhitungan dengan menutup lubang penyumbat dan tentukan


kapasitas volume yang akan diukur selanjutnya waktu yang diperlikan dengan stop
watch.
7) Melakukan pengukuran secara terus menerus dengan jumlah volume dan massa beban
yang berbeda sebanyak lima kali pengukuran.
8) Pada piringan yang berbeda, melakukan pengukuran sesuai dengan langkah yang diatas.

E.Keselamatan Kerja
1. Mematuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Mengikuti petunjuk instruktur laboratorium
3. Menjaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi kerusakan
4. Sebelum memulai praktek, diharapkan kepada mahasiswa agar mempelajari terlebih
dahulu petunjuk kerja secara berurutan mulai dari tujuan praktikum sampai dengan cara
pelaksanaannya.
5. Mempersiapkan alat-alat yang akan dipergunakan dan pastikan bahwa alat tersebut dalam
kondisi yang baik.
6. Memakai pakaian praktek laboratorium, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan.

F.Analisa Data
Diketahui :
Diameter Nozzle (d) : 8 mm = 0.008 m
Temperatur air (T) : 30°C
Percepatan Gravitasi (g) : 9.81 m/detik
A : ¼ x π x d² = ¼ x 3.14 x (0.008)² = 0.00005 m²
ρ : 996 kg/m³ (didapat didalam tabel.sesuai dgn suhu)

penjelasan perhitungan.diambil dari tabel1 Tipe Piringan Datar. baris pertama.dengan nilai ;
α = 90°
θ = 180°- α
= 180° - 90°
= 90°

62
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

s = ρ x A x (Cos θ +1)
= 996 x 0.00005 x (Cos 90° +1)
= 0.0498
Dik :
m = 0.6 kg
V = 0.005 m³
t = 8.59 detik
Jawab :
𝑉 0.005
Q=𝑡 = = 0.0006 m³/detik
8.59
𝑄 0.0006
v = 𝐴 = 0.00005 = 11.641 m/detik

Fy = v² x s
= (11.641)² x 0.0498
= 6.75 N
W=mxg
= 0.6 x 9.81
= 5.89 N
𝑊 5.89
Ƞ = 𝐹𝑦x 100% = 6.75x 100% = 87%

Tipe Piringan Datar


m V t Q=V/t v=Q/A Fy=v²*s W=m*g ŋ=W/Fy
no
kg m³ detik m³/detik m/detik Newton Newton %
1 0.6 0.005 8.59 0.0006 11.641 6.749 5.886 87
2 0.48 0.005 10.15 0.0005 9.852 4.834 4.709 97
3 0.36 0.005 11.26 0.0004 8.881 3.928 3.532 90
4 0.24 0.005 14.02 0.0004 7.133 2.534 2.354 93
5 0.12 0.005 20.39 0.0002 4.904 1.198 1.177 98
α = 180°
θ = 180°- α
= 180° - 180°
= 0°
s = ρ x A x (Cos θ +1)

63
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

= 996 x 0.00005 x (Cos 0° +1)


= 0.0996
Dik :
m = 1.03 kg
V = 0.005 m³
t = 8.78 detik
Jawab :
𝑉 0.005
Q=𝑡 = = 0.006m³/detik
8.78
𝑄 5.694
v = 𝐴 = 0.00005 = 11.39 m/detik

Fy = v² x s
= (11.39)² x 0.0996
= 12.92N
W=mxg
= 1.03 x 9.81
= 10.10 N
𝑊 10.10
Ƞ = x 100% = x 100% = 78 % .
𝐹𝑦 12.92

Tipe Piringan Cekung


m V t Q=V/t v=Q/A Fy=v²*s W=m*g ŋ=W/Fy
no
kg m³ detik m³/detik m/detik Newton Newton %
1 1.03 0.005 8.78 0.0006 11.390 12.920 10.104 78
2 0.82 0.005 11 0.0005 9.091 8.231 8.044 98
3 0.62 0.005 11.84 0.0004 8.446 7.105 6.082 86
4 0.41 0.005 14.63 0.0003 6.835 4.653 4.022 86
5 0.21 0.005 19.8 0.0003 5.051 2.541 2.060 81

α = 120°
θ = 180°- α
= 180° - 120°
= 60°
s = ρ x A x (Cos θ +1)

64
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

= 996 x 0.00005 x (Cos 60° +1)


= 0.0747
Dik :
m = 0.75 kg
V = 0.005 m³
t = 10.02 detik
Jawab :
𝑉 0.005
Q = 𝑡 = 10.02 = 0.005 m³/detik
𝑄 0.005
v = 𝐴 = 0.00005 = 10 m/detik

Fy = v² x s
= (10)² x 0.0747
= 7.4 N
W=mxg
= 0.75 x 9.81
= 7.36 N
𝑊 7.36
Ƞ = x 100 % = x 100% = 99% .
𝐹𝑦 7.4

Tipe Piringan ½ Cekung


m V t Q=V/t v=Q/A Fy=v²*s W=m*g ŋ=W/Fy
no
kg m³ detik m³/detik m/detik Newton Newton %
1 0.75 0.005 10.02 0.0005 9.980 7.440 7.358 99
2 0.6 0.005 11.22 0.0004 8.913 5.934 5.886 99
3 0.45 0.005 12.54 0.0004 7.974 4.750 4.415 93
4 0.3 0.005 15.56 0.0003 6.427 3.085 2.943 95
5 0.15 0.005 21.8 0.0002 4.587 1.572 1.472 94

α = 30°
θ = 180°- α
= 180° - 30°
= 150°
s = ρ x A x (Cos θ +1)

65
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

= 996 x 0.00005 x (Cos 150° +1)


= 0.0067
Dik :
m = 0.07 kg
V = 0.005 m³
t = 9.56 detik
Jawab :
𝑉 0.005
Q=𝑡 = = 0.005 m³/detik
9.56
𝑄 0.005
v = 𝐴 = 0.00005 = 10 m/detik

Fy = v² x s
= (10)² x 0.0067
= 0.7 N
W=mxg
= 0.07 x 9.81
= 0.687 N
𝑊 0.7
Ƞ = 𝐹𝑦x 100% = 0.687 x 100% = 94%

Tipe Piringan Tajam


m V t Q=V/t v=Q/A Fy=v²*s W=m*g ŋ=W/Fy
no
kg m³ detik m³/detik m/detik Newton Newton %
1 0.07 0.005 9.56 0.0005 10 0.7 0.687 94
2 0.05 0.005 10.43 0.0005 9.588 0.616 0.491 80
3 0.03 0.005 15.12 0.0003 6.614 0.293 0.294 100
4 0.01 0.005 23.9 0.0002 4.184 0.117 0.098 84

G.Kesimpulan
Adapun yang dapat penulis simpulkan dari percobaan tumbukan pancaran fluida (jet impact):
 Jet impact merupakan suatu percobaan yang berfungsi mengukur besar gaya pancaran yang
timbul akibat adanya tekanan air, sehingga mampu mengangkat beban yang bekerja
diatasnya.

66
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

 Percobaan ini sangat memerlukan ketelitian yang akurat, missal untuk pembacaan dan
perhitungan waktu, debit air yang diperlukan serta kedudukan jet impact harus betul-betul
datar.
H.Dokumentasi

67
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

3. Persamaan Energi Aliran Fluida


A.Maksud dan Tujuan
 Mengamati besarnya tinggi energi total potensial, energi tekanan, energi kecepatan, dan
sekaligus total energi pada setiap penampang pipa.
 Mengitung besarnya tinggi energi total potensial, energi tekanan, energi kecepatan, dan
sekaligus total energi pada setiap penampang pipa.
 Membandingkan hasil pengamatan dengan hasil perhitungan tinggi total energi pada
setiap penampang pipa..
 Membandingkan hasil kedua cara percobaan, yaitu kondisi aliran menyebar dan aliran
mengumpul
 Mengaplikasikan pada perencanaan jaringan tata pipa misalnya, waterturn, jaringan pipa
PDAM dll.
B.Dasar Teori
Pada tahun 1738, Daniel Bernouli seorang ahli matematik dan filsof memperkenalkan teori
persamaan energi aliran dan akhirnya dikenal sebagai Theorema Bernouli, yang merupakan
prinsip dasar untuk memecahkan persoalan-persoalan aliran fluida.
Persamaan energi ini, dihasilkan dari penerapan teori kekekalan energi dalam fisika
klasik yang diorientasikan pada obyek aliran fluida. Energi yang dimiliki oleh suatu fluida yang
mengalir terdiri atas;
1. energi tekanan = m.g.p/(ρ/g)
2. energi potensial = m.g.z
3. energi kinetik = ½ .m.v2
Total energi = m.g.p/(ρ/g) + m.g.z + ½ .m.v2 konstan.
Bila persamaan tersebut disederhanakan, maka dapat dituliskan sebagai berikut :

P v2
+ = Konstan
Ρg 2g

Persamaan energi untuk dua penampang yang ditinjau, berlaku :

68
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

P1 v2 P2 v2
Z1 + + = Z2 + +
ρg 2g ρg 2g

Apabila kedua penampang tersebut berada dalam satu bidang datar, maka Z1 = Z2 saling
menghilangkan, sehingga persamaan energinya sebagai berikut:
P1 V12 P2 V22
+ = +
Ρg 2g ρg 2g

Persamaan tersebut diperoleh dengan asumsi, bahwa :


Aliran tidak terjadi gesekan
Aliran langgeng
Aliran stremline
Fluida tak termampatkan
Dan bila mana fluida yang mengalir terjasdi gesekan dengan media pembawanya, maka
persamaan energi Bernouli menjadi
P1 V12 P2 V22
Z1 + + = Z2 + + + h1
ρg 2g ρg 2g

Dengan : h1 = hilang tinggi energi akibat gesekan

C.Peralatan dan Bahan


Pesawat Theorema Bernouli

Pesawat Theorema Bernouli

69
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Stopwatch

Stopwatch

Gelas ukur (Volumetric bench)

Gelas ukur (Volumetric bench)

Termometer

Termometer

Hidraulik bench

Hidraulik bench

D.Langkah Kerja
1) Meletakkan alat Theorema Bernouli di atas bangku kerja hidrolis, dan atur kedudukanya
agar betul-betul horizontal dengan menyetel sekrup tiga kaki dan alat waterpass.
2) Menutup kran pengaliran (1C) dan jalankan pompa dengan memutar stater (1D).
Membuka sedikit kran (6K) dan kemudian dengan hati-hati buka kran (1C) hingga tabung
manometer terisi dengan air.

70
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

3) Dengan hati-hati membuka dua kran (1C,6K) dan stel keduanya sampai memberikan
kombinasi aliran dan sistem tekanan yang berada pada tinggi kolom air manometer.
Mengukur dan mencatat tinggi energi tekanan yang berbeda pada tinggi kolom air
manometer. Mengukur dan mencatat tinggi energi tekanan (ha, hb, hc, hd, hf) pada kolom
air manometer. Mengukur dan mencatat volume air pada tangki pengukur volume ( V )
dan waktu pengukuran ( T ) sampai 3 kali, ambil harga debit rata-rata ( Q ) pada setiap
pengukuran.
4) Memasukkan probe/pitot total energi ke ujung pipa penyadap ( a ), mengukur dan
mencatat tinggi total energi ( Ha ), kemudian, menggerakkan untuk mendekati posisi
ujung pipa-pipa penyadap yang lain sehingga diperoleh tinggi total energi ( Ha, Hb, Hc,
Hd, He, Hf ).
5) Mengulangi langkah 3 dan 4 untuk h yang berada dengan membuka kran (6k). Mencatat
jarak dan diameter penampang pipa uji ( Aa, Ab, Ac, Ad, Ae, Af ).
6) Menghitung dan membuat tabel V2/2g, H, untuk penampang a, b, c, d, e, f, serta
presentase penyimpangan H (pengamatan ), H(perhitungan)
7) Memplot grafik hubungan antara h, H(pengamatan), H(perhitungan), dan persentase
penyimpangan H pada setiap penampang a, b, c, d, e, dan f
E.Keselamatan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk serta arahan yang diberikan oleh teknisi
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan
4. Jaga kebersihan pada saat praktikum
5. Dilarang minum dan makan di dalam ruangan pada saat praktikum
6. Menggunakan alat sesuai fungsinya
F.Analisa Data
Diketahui : V=1000 cm³ ; t=10 detik ; h=19.5 cm ; ha=20 cm ; A= 4.909cm² ; g=981cm/det²
Ditanya : hasil penyimpangan
Penyelesaian :
𝑉 1000𝑐𝑚³
Qa = = = 100𝑐𝑚³/𝑑𝑒𝑡
𝑡 10𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑄𝑎 100𝑐𝑚³/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
va = = = 20.4𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡
𝐴 4.909𝑐𝑚²

71
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

𝑣𝑎² (20.4)²
Hkinetis = = 2.981𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡² = 0.21 𝑐𝑚
2𝑔

Ht = h + Hkinetis = 19.5 + 0.2 =19.7 cm


𝐻𝑎−𝐻𝑡 19.5𝑐𝑚−19.7𝑐𝑚
Penyimpangan = 𝑥100% = 𝑥100% = 1.52 %
𝐻𝑡 19.7𝑐𝑚

G.Kesimpulan
Untuk penyimpangan tinggi total energi tidak boleh melebihi 5% namun dalam percobaan
besarnya penyimpangan energi total yang di hitung menggunakan rumus

H ( actual) − H ( teoritis)
X 100%
H ( teoritis)
Di dapatkan hasil penyimpangan tinggi total energi adalah 0,01%
H.Dokumentasi

72
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

4. Koefisien Kecepatan Debit


A . Maksud dan Tujuan
Setelah melaksanakan percobaan ini, diharapkan dapat:
Mengamati parameter-parameter dan variabel-variabel yang mempengaruhi besarnya nilai
koefisien kacepatan pada Plat Orifice.
Menghitung besarnya koefisien kecepatan aliran yang melewati orifice berdiameter 3mm dan
6mm.

Membual grafik hubungan antara 2 h, y  versus x dan menentukan nilai Cv pada kemiringan
grafik tersebut.
Mengaplikasikannya pada perencanaan jaringan pipa misalnya, waterturn, perlengkapan
pengolahan air bersih, perlengkapan pengolahan air limbah dll.
B.Dasar Teori
Pada tahun 1644, Torricelli memperkenalkan rumus kecepatan pancaran air yang melalui plat
orifice. Kecepatan teoritis (Vteo) hasil percobaannya dapat dijelaskan dengan menggunakan
persamaan energi Bernoulli sbb:
Tinjauan lintasan aliran 1 dan 2
P1 v12 P2 v 22
  
z1 +  . g 2 g  . g 2g

v22
h + 0 + 0 = 0 + 0 + 2g

V2 = 2 g.h

Tinjauan lintasan pancaran 2 dan 3

y = ½ .g.t2 t= (2 y ) / g

x
(2 y ) / g
x = v.t v=

= x g /( 2 y)

kecepatan aktual
Cv = kecepatan teoritis

73
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

x
Cv =

C.Peralatan dan Bahan


Pesawat Orifice and Jet.

Pesawat orifice and jet


Gelas ukur

Gelas Ukur
Stopwatch

Stop watch
Hidraulik bench

Hidraulik bench
D.Langkah Kerja

74
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1) Persiapan percobaan
2) Menghubungkan orifice and jet apparatus dengan hydraulies bench.
3) Memeriksa kehorizontalan orifice and jet apparatus dengan mengatur gelembung nivo
berada di tengah.

Mendatarkan gelembung nivo


4) Prosedur percobaan
5) Menyelipkan selembar kertas millimeter ukuran A3 pada jepitan (8G) yang ada dipapan
(8H) dan gerakkan jarum (8I) hingga ujung jarum tepat sejajar sisi atas dari lubang
Orifice dan beri posisi pangkal pada lembaran kertas grafik, posisi tersebut dinyatakan
sebagai sumbu y = 0.
6) Menaikan pipa overflow (8D), menghidupkan pompa, buka kran pengontrol dan alirkan
air kedalam tangki. Atur bukaan kran pengontrol sehingga air tepat melimpah kedalam
over flow pipe. Catat tinggi h perkirakan posisi vena contrakta dan catat jaraknya dari
plat orifice. Ukur jarak setiap jarum terhadap posisi pena kontrakta.

Proses air melimpah kedalam over flow pipe


7) Mengatur tiap jarum (8I) untuk menentukan lintasan pancaran. Beri tanda posisi ujung
jarum pada lembaran kertas, ukur penurunannya terhadap sumbu.

Pengaturan jarum untuk lintasan pancaran

75
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Pengukuran penurunan jarum terhadap sumbu


8) Mengulangi langkah kerja (a) sampai dengan (c) untuk beberapa macam harga dengan
mengatur ketinggian over flow pipe (8D).
9) Mengulangi langkah kerja (a) sampai dengan (d) dengan menggunakan plat orifice yang
berdiameter lain.

10) Menghitung dan mentabelkan 2 (h.y)


11) Menghitung besarnya Cv dengan menggunakan rumus.

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tata-tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk instruktur yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan
4. Lakukan pengujian dengan baik dan benar
5. Gunakan alat sesuai dengan fungsinya
6. Bersihkan alat setelah dipakai dan kembalikan pada tempat semula

F.Analisa Data
Diketahui : AØ3 mm = 0.07065 cm² ; AØ6 mm = 0.2826 cm² ; g = 981 cm/det² ; Atotal = 164
cm²
Ditanya : Koefisien debit
Penyelesaian :
Contoh perhitungan nomor 1 (h1=40cm ; t=20detik ; øh2=38.4cm ; øh2=36.5cm)
Mencari √h1 dan √h2
√h1=√40=6.32cm
√h2=√38.4=6.19cm(ø3mm)
√h1-√h2=6.32-6.20=0.12cm
2𝑥𝐴𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
Cd = 𝑡𝑥𝐴𝑥√2𝑔 𝑥√ℎ1 − √ℎ2
2𝑥164𝑐𝑚²
= 20𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘𝑥0.07065 𝑐𝑚²𝑥√2𝑥981𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘² 𝑥0.12𝑐𝑚

= 0.68

76
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

√h2=√36,5=6.04cm(ø6mm)
√h1-√h2=6.32-6.19=0.13cm
2𝑥𝐴𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
Cd = 𝑡𝑥𝐴𝑥√2𝑔 𝑥√ℎ1 − √ℎ2
2𝑥164𝑐𝑚²
= 20𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘𝑥0.2826𝑐𝑚²𝑥√2𝑥981𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘² 𝑥0.13𝑐𝑚

= 0.68

Cd

h2 (cm) √h1 √h2 √h1-√h2 2*At


no h1 (cm) t (detik) x √h1-√h2
t*(A*√2g)

Ø3 mm Ø6 mm Ø3 mm Ø6 mm Ø3 mm Ø6 mm Ø3 mm Ø6 mm

20 38.4 36,5 6.32 6.19 6,04 0.13 0.28 0.68 0.36

40 37,3 33 6.32 6.10 5,71 0.22 0.61 1.15 0.79

60 36 29,9 6.32 6 5,46 0.32 0,86 1.67 1.12

80 34,5 26,5 6.32 5.87 5,15 0.45 1,17 2.35 1.53


1 40
100 33 6.32 5.74 0.58 3.03

120 31,5 6.32 5.61 0.71 3.72

140 30,1 6.32 5.48 0.84 4.40

160 28,8 6.32 5.36 0,96 5.03

20 27,5 6.32 5,25 1,07 5.60

40 26,1 6.32 5,10 1,22 6.39

60 25 6.32 5 1.32 6.91

2 40

Diketahui : AØ3 mm = 0.07065 cm² ; AØ6 mm = 0.2826 cm² ; g = 981 cm/det²


Ditanya : Koefisien debit
Penyelesaian :

77
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Contoh perhitungan nomor 1 (h=40cm ; t=30detik ; Vø3=430ml ; Vø6=1600ml)


Qteoritis ø3 = 𝐴ø3𝑚𝑚 𝑥 √2𝑔ℎ
= 0.07065 cm² 𝑥 √(2.981𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡². 40𝑐𝑚)
= 19.792 cm³/detik
Qteoritis ø6 = 𝐴ø6𝑚𝑚 𝑥 √2𝑔ℎ
= 0.2826 cm² 𝑥 √(2.981𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡². 40𝑐𝑚)
= 79.168 cm³/detik
𝑉
Qactual ø3 =
𝑡
430𝑐𝑚³
= 30𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 14,333 cm³/detik
𝑉
Qactual ø6 = 𝑡
1600𝑐𝑚³
= 30𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

= 53.33 cm³/detik
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 14,333cm³/detik
Cd ø3 = 𝑄𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 = 19,792cm³/detik = 0,724
𝑄𝑎𝑐𝑡𝑢𝑎𝑙 53.333cm³/detik
Cd ø6 = 𝑄𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 = 79.168cm³/detik = 0.674

h t V Qteoritis Qactual
n Cd (koefisien debit)
Ml cm³/detik cm³/detik
o cm det
3 6 3 6 3 6 3 6
40 30 430 1600 19.792 79.168 14.333 53.333 0.724 0.674
1 40 30 450 1600 19.792 79.168 15.000 53.333 0.758 0.674
40 30 430 1600 19.792 79.168 14.333 53.333 0.724 0.674
38 30 440 1560 19.291 77.164 14.667 52.000 0.760 0.674
2 38 30 400 1525 19.291 77.164 13.333 50.833 0.691 0.659
38 30 400 1525 19.291 77.164 13.333 50.833 0.691 0.659
36 30 390 1500 18.776 75.106 13.000 50.000 0.692 0.666
3 36 30 350 1500 18.776 75.106 11.667 50.000 0.621 0.666
36 30 390 1500 18.776 75.106 13.000 50.000 0.692 0.666
34 30 385 1480 18.247 72.990 12.833 49.333 0.703 0.676
4 34 30 385 1480 18.247 72.990 12.833 49.333 0.703 0.676
34 30 385 1480 18.247 72.990 12.833 49.333 0.703 0.676

78
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

32 30 380 1440 17.703 70.810 12.667 48.000 0.716 0.678


5 32 30 375 1440 17.703 70.810 12.500 48.000 0.706 0.678
32 30 380 1440 17.703 70.810 12.667 48.000 0.716 0.678
30 30 370 1400 17.140 68.562 12.333 46.667 0.720 0.681
6 30 30 370 1400 17.140 68.562 12.333 46.667 0.720 0.681
30 30 370 1400 17.140 68.562 12.333 46.667 0.720 0.681

Diketahui : h=40cm ; x=5cm ; yø3=0.4 ; yø6=0.3


Ditanya : koefisien kecepatan
Penyelesaian :
𝑥 5
Cvø3 = 2𝑥((ℎ𝑥𝑦))^0.5 = 2𝑥((40𝑐𝑚𝑥0.4𝑐𝑚))^0.5 = 0.8
𝑥 5
Cvø6 = 2𝑥((ℎ𝑥𝑦))^0.5 = 2𝑥((40𝑐𝑚𝑥0.3𝑐𝑚))^0.5 = 0.6

79
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

no h x (cm) y (cm) 2*(h*y)^0,5) (cm) CV=X/(2*((h*y)^0,5))


{1} {2} {3} {4} {5}= {6}={3}/{5}
40 5 0.4 0.3 8 6.93 0.6 0.7
40 10 0.9 0.7 12 10.58 0.8 0.9
40 15 1.8 1.6 16.97 16 0.9 0.9
40 20 2.8 2.8 21.17 21.17 0.9 0.9
1
40 25 4.4 4.4 26.53 26.53 0.9 0.9
40 30 6.3 6.5 31.75 32.25 0.9 0.9
40 35 8.5 8.6 36.88 37.09 0.9 0.9
40 40 11.2 11.2 42.33 42.33 0.9 0.9
37.5 5 0.4 0.3 7.75 6.71 0.6 0.7
37.5 10 1 0.8 12.25 10.95 0.8 0.9
37.5 15 2 1.8 17.32 16.43 0.9 0.9
37.5 20 3.1 3 21.56 21.21 0.9 0.9
2
37.5 25 4.8 4.7 26.83 26.55 0.9 0.9
37.5 30 6.7 6.8 31.7 31.94 0.9 0.9
37.5 35 9.3 9.4 37.35 37.55 0.9 0.9
37.5 40 11.9 12 42.25 42.43 0.9 0.9
35 5 0.5 0.3 8.37 6.48 0.6 0.8
35 10 1 0.8 11.83 10.58 0.8 0.9
35 15 2 1.8 16.73 15.87 0.9 0.9
35 20 3.2 3.6 21.17 22.45 0.9 0.9
3
35 25 5.1 5 26.72 26.46 0.9 0.9
35 30 7.5 7.3 32.4 31.97 0.9 0.9
35 35 9.8 9.9 37.04 37.23 0.9 0.9
35 40 12.9 12.9 42.5 42.5 0.9 0.9
32.5 5 0.5 0.4 8.06 7.21 0.6 0.7
32.5 10 1.1 1 11.96 11.4 0.8 0.9
32.5 15 2.2 2 16.91 16.12 0.9 0.9
32.5 20 3.8 3.7 22.23 21.93 0.9 0.9
4
32.5 25 5.5 5.6 26.74 26.98 0.9 0.9
32.5 30 7.7 7.7 31.64 31.64 0.9 0.9
32.5 35 10.8 10.8 37.47 37.47 0.9 0.9
32.5 40 13.8 13.8 42.36 42.36 0.9 0.9
30 5 0.5 0.4 7.75 6.93 0.6 0.7
30 10 1.2 1 12 10.95 0.8 0.9
30 15 2.3 2.1 16.61 15.87 0.9 0.9
30 20 3.7 4 21.07 21.91 0.9 0.9
5
30 25 5.9 6 26.61 26.83 0.9 0.9
30 30 8.4 8.5 31.75 31.94 0.9 0.9
30 35 11.5 11.5 37.15 37.15 0.9 0.9
30 40 14.8 15 80 42.14 42.43 0.9 0.9
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

G.Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapat kesimpulan sebagai berikut:
1. Orifice merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menentukan debit air.
2. Debit air merupakan jumlah/volume air per satuan waktu.
3. Kecepatan aliran berbanding lurus dengan debit air yaitu semakin besar kecepatan aliran
maka semakin besar debit air.
4. Jarak garis berbanding lurus dengan debit air yaitu semakin jauh jarak garis maka
semakin besar debit air.
5. Grafik menunjukkan adanya peningkatan debit air pada ketinggian tertentu.

H. Dokumentasi

81
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

5. Pengukuran Tekanan Fluida (Bourdon)


A.Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
Menghitung tekanan relatif secara teoritis terhadap masa beban.
Mengukur tekanan realtif dengan alat ukur bourdon.
Mengukur tinggi tekanan dengan Manometer Air Raksa.
Membandingkan ke 3 cara tersebut.
B.Dasar Teori
` Tekanan fluida adalah gaya tekan persatuan luas
𝐹
𝑃= [𝑘𝑁/𝑚2 ]
𝐴
Tekanan relatif menurut alat ukur merupakan tekanan lebih hidrostatik tanpa memperhitungkan
tekanan atmosfir. Tekanan dapat didefinisikan sebagai berat kolom air yang didesak persatuan
luas :
𝑊
𝑃= [𝑘𝑁/𝑚2 ]atau sudah lazim disederhanakan 𝑃 = 𝛾 ∙ ℎ
𝐴

Karena terbukti :
w = m.g w = Berat (N)
m = p.V m = Massa (Kg)
V = A.h g = Percepatan Grafitasi (m/det2)
𝛾 𝜌 = Kerapatan Massa Air (kg/m3)
𝜌=
𝑔
V = Volume (m3)
A = Luas (m2)

Disederhanakan :
W h = Tinggi (m)
P=
A 𝛾 = Berat Jenis (N/m2)
𝑚. 𝑔
=
𝐴
𝜌. 𝑉. 𝑔
=
𝐴
𝛾
⁄𝑔 . 𝐴. ℎ. 𝑔
=
𝐴
Maka terbukti :

82
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

P = γ. ℎ
C.Peralatan dan Bahan
Manometer Hg

gambar manometer Hg
Bourdon

gambar bourdon
Piston

gambarPiston
Beban

83
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

gambarbeban
Ember
Air bersih
D.Langkah Kerja
1) Tekanan relatif secara teoritis terhadap massa beban
2) Diketahui diameter piston adalah 17,76 mm.
3) Mencari luas permukaan piston
4) Menggunakan alat ukur bourdon
5) Mengisi silinder dengan air dan masukkan pistonnya.
6) Mengeluarkan sisa udara, tidak ada gelembung udara dalam pipa
7) Membaca skala pengukur pada bourdon, P0= .... kN/m2
8) Memberi bebaan pada piston mi = 0,5 Kg, baca skala Px = .... kN/m2
9) Menambah beban sebesar 1kg, 2kg, 2,5 kg, 3 kg, 3,5 kg, dst.
10) Putar-putar piston agar tidak macet, baca skala pada alat ukur.
11) Ulangi pembacaan dengan mengurangi beban hingga nol.
12) Tekanan dapat dihitung dengan mengurangi beban hingga nol.
13) Tekanan dapat dihitung sebagai : PB = Px - P0
14) Mengukur tinggi tekanan pada manometer
15) Baca sekali tinggi pada manometer Hg saat piston dimasukkan.
16) Tinggi tekan saat belum dibebani adalah h0 = ha – hb.
17) Setelah dibebani dengan m1: ..... Kg, baca ha dan hb
18) Beda tinggi tekan hx = ha – hb. Tinggi tekan : hx – h0
19) Tekanan menurut manometer dapat dihitung sebagai :
𝑘𝑁
𝑃𝑀 = 𝛾𝐻𝑔 ∙ ℎ dimana 𝛾𝐻𝑔 = 133,4 𝑚2

84
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tatatertib laboratorium yang berlau.
2. Ikutilah langkah kerja yang berlaku
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan.
4. Bersihkan alat setelah dipakai dan kembalikan pada tempat semula

F.Analisa Data
Teoritis
Diameter Nozzle (d) : 17,67 mm
Percepatan Gravitasi (g) : 9,81 m/det
A : ¼ x π x d² = ¼ x 3,14 x (17,67)² = 0,245 m²
Ditanya PT ?
PT =mxg/A
= 0,5 kg X 9,81m/det² / 0,245 m²
= 20,02 N
Bourdon
Diketahui :
Po1 = 20 KN/m²
Po2 = KN/m²
Po3 = KN/m²
Po4 = KN/m²
Px1 = KN/m²
Px2 = 40 KN/m²
Px3 = 61 KN/m²
Px4 = 71 KN/m²
Px5 = 65 KN/m²

Ditanya =
PB = Px – Po
PB1 = 21 KN
PB2 = 41 KN
PB3 = 61 KN

85
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

PB4 = 53 KN
Manometer Hg
Diketahui :
ha = 572 mm
hb = 430 mm
Ditanya =ho ?
Penyelesaian :
ho = ha – hb
= 572mm – 430mm
= 142mm = 0,142 m
hx = ha – hb
= 649mm – 354mm
= 295mm = 0,295 m

h = hx – ho= 153 mm= 0,153 m


Pm = ɣHg*h
= 133.4 KN/m3x 0.153m
= 1.99 KN/m3

Table. data hasil pengolahan pengukuran tekanan fluida


No Teoritis Bourdon Manometer Hg
Pr=Px- ho=ha- hx=ha-
m(kg) pt=m*g/A(KN/m²) Po Px Po ha(mm) hb(mm) hb(mm) hb(mm) h=hx-ho(mm) Pm=ɣhg*h(KN/m²)
1 0 20.02 20 - 20 572 430 142 - - -
2 0.5 40.04 - 40 20 649 354 - 295 153 1.99
3 1 60.06 - 61 41 727 276 - 451 309 4.03
4 1.5 80.08 - 71 51 763 245 - 518 376 4.9
5 2 100.1 - 65 45 740 265 - 475 333 4.34

G.Kesimpulan
Dibutuhkan ketelitian dalam menghitung data sesuai rumus yang telah ditentukan, melihat hasil
bacaan pada manometer Hg saat piston dimasukkan, dan lainnya.
Dibutuhkan pembagian tugas dalam praktek agar terasa lebih ringan, efektif, dan lainnya.

86
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Dalam praktek ini harus sesuai prosedur, misalnya salah satunya mengeluarkan sisa udara,
sampai gelembung udaranya tidak ada didalam pipa, dan mungkin diperlukan ketelitian juga
untuk melihat apakah ada gelembung udaranya atau tidak.
Diperlukkan kehati-hatian dalam praktek agar diharapkan tidak merusak alat dilab dan bisa
menghindari kecelakaan kerja pada diri sendiri dan atau pun orang lain.
H.Dokumentasi

87
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

6. Kehilangan Tekanan Dalam Pipa (Loss in band)


A.Maksud dan Tujuan
Menunjukan hubungan antara kehilangan energi akibat gesekan dengan kecepatan aliran melalui
pipa berdinding halus.
B.Dasar Teori
Hilangnya energi yang terjadi pada bagian-bagian pipa, biasanya juga disebut dengan head loss
atau hilang tekanan dalam meter yang dihitung dengan rumus :
Kv 2
Ah 
2g
Dimana : K = Koefesien kehilangan tekanan
V = Kecepatan aliran dalam pipa
Karena kompleksnya aliran dalam jumlah ( banyak ) bagian – bagian pipa ( fitting ), maka K
biasanya ditentukan dengan percobaan ( eksperimen ). Untuk eksperimen bagian-bagian pipa (
pipe fitting ) banyanya kehilangan dihitung dengan dua pembacaan manometer, yang didapatkan
sebelum dan sesudah tiap-tiap bagian-bagian pipa ( fitting ), dan kemudian K ditentukan dengan
rumus sebagai berikut :
h
K
V2
2g
Dikarenakan perubahan pada daerah persimpangan ( cross-sectional ) pipa yang melalui
pembesaran dan pembengkokan, maka sistem mengalami perubahan penambahan pada statistika
tekana. Perhitungan ini adalah sebagai berikut :
2 2
V1 V2

2g 2g
Untuk menghilangkan efek dari perubahan daerah pada head ukur yang diukur, nilai ini harus
ditambah pada pembacaan head loss kalau terjadi pembesaran, dan kemungkinan jika terjadi
pengecilan
Terutama untuk eksperimen gate-valve ( katup gerbang ), perbedaan tekanan sebelum dan
sesudah pintu gerbang diukur secara langsung dengan menggunakan ukuran tekanan differensial.
Ini dapat dikonfirmasikan kedalam sebuah ekivalen dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :

88
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1 bar = 10,3 m air = 147 pon per inchi persegi ( psi )


Koefesien selisih dihitung dengan seperti hitungan untuk gate-valve diatas. Bilangan Reynold
adalah bilangan yang tidak berdimensi yang biasanya digunakan dalam membandingkan
karekteristik aliran

C.Peralatan dan Bahan


Hidrauliks Bench

Gambar Hidaraulik bench


Energi Losse in Bends Fitting Apparatus

Gambar Lost in bends fitting apparatus


Stopwatch

Gambar Stopwatch
Clamps
Termometer

89
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Gambar Thermometer

D.Langkah Kerja
1) Prosedur
2) Mengatur peralatan yang kendor pada bangku kerja hidrolika, jadi bagian dasrnya datar (
hal ini diperlukan untuk ketepatan pengukuran ketinggian dari manometer ).
3) Menyambungkan penguji lubang masuk bor, pada penyedian aliran bangku kerja dan
jalankan pertambahan karet lubang buang pada tangki volume metrik dan jagalah pada
tempatnya
4) Membuka katup meja, katup gerbang ( gate-valve ), dan katup kontrol aliran, kemudian
menghidupkan pompa untuk mengisi test rig ( perlengkapan uji ) dengan air. Agar udara
dapat dibuang dari daerah tekanan keran dan manometer, maka menutup katup bench
dan katup kontrol aliran pada test rig, setelah itu membuka baut penglepasan udara dan
memindahkan tutupnya dari katup udara.
5) Berikutnya menghubungkan turbin bor kecil dari katup udara ketangki volume matrik.
Dan sekarang membuka katub bench dan biarkan aliran melalui manometer untuk
membersihkan semua udara dari daerah tekanan keran dan manometer tersebut
6) Mengencangkan baut katup udara dan membuka setengah katup bench dan katup kontrol
tes rig
7) Berikutnya membuka katup penglepasan udara perlahan-lahan untuk agar udara dapat
masuk kebagian atas manometer. Mengencangkan kembali baut tersebut apabila level
manometer mencapai ketinggian yang pas.
8) Memeriksa semua level manometer pada skala rata-rata maksimum volume aliran (
sekitar 17 liter/menit ). Level ini dapat diukur lebih banyak lagi dengan cara
menggunakan baut kontrol pelepasan udara dengan pompa tangan yang sudah tersedia.
Baut penglepasan udara mengontrol udara yang mengalir melalui katup udara, jadi
apabila menggunakan pompa tangan maka baut penglepasan udara tersebut harus dibuka.

90
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Untuk menahan tekanan pompa tangan pada sistem tersebut, bautnya harus ditutup
setelah pemompaan.

Percobaan A :
Mengukur selisih luas bagian-bagian pipa, kecuali katup gerbang yang harus dijaga untuk selalu
terbuka penuh. Atur aliran dari tombol katup kontrol dan dalam pemberian laju aliran, lihat
selisih akhir dari manometer yang mengukur setelah derajat udaranya tetap.
Dalam menentukan laju volume tangki air. Untuk mencapai hal tersebut harus dengan menutup
bola katup dan mengukur dengan stopwatch waktu yang diperlukan untuk mencampurkan
volume fluida yang ada ditangki yang berasal dari gelas ukur, kamu harus mencampurkan cairan
fluida itu kurang lebih 1 menit untuk memperkecil kemungkinan terjadi kesalahan.
Ulangi langkah diatas untuk mendapatkan nilai totalnya sebanyak 3 kali pengukuran laju aliran
kira0kira 8-17 liter permenitnya. Ukur suhu aliran luar pada laju aliran terendah, bersamaan
dengan tabel viskositas kinematika air ditekanan atmosfir secara detail yang digunakan untuk
menentukan bilangan Reynold

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku
2. Ikuti petunjuk yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi kerusakan

91
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Tabel Kinematic

F.Analisa Data
LOSSES IN BEND
MITRE
Diketahui :
Volume (V) = 1350 ML = 1,35 L = 1,35/1000 = 0,00135 m³
Time (t) = 10 detik
h1 = 0,195 m
h2 = 0,175 m
Diameter tabung = 0,0196 m

Dit : Headloss ?
Penyelesaian :

92
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Head Loss (hl) = h1-h2


= 0,194 m - 0,185 m
= 0,009 m
Dit : Qt ?
Flow Rate (Qt) = V/t
= 0,005 m³/4,6 detik
= 0,00109 m³/detik
Dit : Velocity ?
Velocity (v) = Qt/A
Cari dulu Luas Penampang (A)
Luas Penampang (A) = ¼ . ∏.d²
=¼ . 3,14 .0,0196 m²
= 0,0003015 m²

Velocity (v) = Qt/A


0,00109 𝑚3 /𝑠
= 0,0003015 𝑚²

=3,615 m/detik
Mencari v²/2g ?
(3,615 𝑚/𝑠²)2
v²/2g = 2 𝑥 9,81 𝑚/𝑠²

= 0,666 m

h
K =
v²/2g
(0,009 𝑚)
= 0,666 𝑚

= 0,0135
Viscositas = Temperatur = 31° C
= 0,785 x 10−6 m²/s

93
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

v.d
Re =
V
3,615 𝑚/𝑠.0,0196 𝑚
= 0,785 𝑥 10−6 𝑚2 /𝑠

= 9025.99
Jadi Reynold = 9025.99 > 4000 (aliran bersifat turbulen)
Hasil Data
Percobaan Pertama
Tabel Hasil Data Percobaan Pertama Lost In Bland

Fitting Manometer Manometer Head Volume Time Flow A v²/2g k Reynold Velocity Viscosity
Loss Rate

h1 h2 h1- V t Qt=V/t v v
h2
(m) (m) (m) m3 s m3/s m/s

MITRE 0,194 0,185 0,009 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,013591919 89994,670 3,604378 7,85E-07
ELBOW 0,218 0,21 0,008 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,012081705 89994,670 3,604378 7,85E-07
SHORT BEND 0,226 0,222 0,004 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,006040853 89994,670 3,604378 7,85E-07
LONG BEND 0,234 0,231 0,003 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,00453064 89994,670 3,604378 7,85E-07
ENLARGEMENT 0,234 0,23 0,004 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,006040853 89994,670 3,604378 7,85E-07
CONTRACTION 0,233 0,227 0,006 0,005 4,6 0,001087 0,000302 0,6622 0,009061279 89994,670 3,604378 7,85E-07
GATE VALVE

Percobaan Kedua

Fitting Manometer Manometer Head Volume Time Flow Velocity v2/2g k Reynold A Viscosity
Loss Rate

h1 h2 h1- V t Qt=V/t v v
h2
(m) (m) (m) m3 s m3/s m/s
7,85E-
MITRE 0,167 0,131 0,036 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,25693608 41397,548 0,000302 07
7,85E-
ELBOW 0,214 0,192 0,022 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,157016493 41397,548 0,000302 07
7,85E-
SHORT BEND 0,237 0,224 0,013 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,092782473 41397,548 0,000302 07
7,85E-
LONG BEND 0,258 0,25 0,008 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,057096907 41397,548 0,000302 07
7,85E-
ENLARGEMENT 0,259 0,249 0,01 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,071371133 41397,548 0,000302 07
7,85E-
CONTRACTION 0,257 0,238 0,019 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,135605153 41397,548 0,000302 07
GATE VALVE

94
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Tabel Hasil Data Percobaan Kedua Lost In Bland

Percobaan Ketiga

Fitting Manometer Manometer Head Volume Time Flow Velocity v2/2g k Reynold A Viscosity
Loss Rate

h1 h2 h1- V t Qt=V/t v v
h2
(m) (m) (m) m3 s m3/s m/s
7,85E-
MITRE 0,119 0,050 0,069 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,49246082 41397,548 0,000302 07
7,85E-
ELBOW 0,209 0,165 0,044 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,314032987 41397,548 0,000302 07
7,85E-
SHORT BEND 0,257 0,224 0,033 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,23552474 41397,548 0,000302 07
7,85E-
LONG BEND 0,290 0,274 0,016 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,114193813 41397,548 0,000302 07
7,85E-
ENLARGEMENT 0,295 0,273 0,022 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,157016493 41397,548 0,000302 07
7,85E-
CONTRACTION 0,291 0,252 0,039 0,005 10 0,0005 1,658014 0,1401 0,27834742 41397,548 0,000302 07
GATE VALVE
Tabel Hasil Data Percobaan Ketiga Lost In Bland

G.Kesimpulan
Dari hasil pratikum lab LOSS IN BAND ini kita bisa tau kehilangan tekanan pada aliran pipa
tersebut dengan nilai koefisien kehilangan energy (K) memiliki nilai yang tergantung pada jenis
penampang dan lengkungannya. Untuk percobaan pertama, nilai koefisien kehilangan yang
didapatkan dari percobaan dan nilai kesalahan relatifnya.
H.Dokumentasi

95
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

7. Stabilitas Ponton

A.Maksud dan Tujuan Percobaan


 Menentukan tinggi metasentrik dari suatu model ponton.
 Untuk menyelidiki dan menetukan stabilitas benda terapung (ponton).
 Membandingkan hasil analitis stabilitas benda terapung dengan hasil percobaan.

B.Dasar Teori
Tongkang atau Ponton adalah suatu jenis kapal yang dengan lambung datar atau suatu kotak
besar yang mengapung, digunakan untuk mengangkut barang dan ditarik dengan kapal tunda
atau digunakan untuk mengakomodasi pasang-surut seperti pada dermaga apung.
Untuk kondisi massa pemberat tidak digeser
GM = BM-BG
BM = I/V
I = L.b3
12
Dimana : L = panjang pontong
B = lebar ponton di
V = Volume air yang dipindahkan
Volume air yang dipindahkan ponton = berat total ponton
VPg =W+P
( L.b.di ) P = W+ P
Ttitik B berada pada : di/2
GM = BM- BG
𝐼
= 𝑉 - [𝑦 − 𝑑𝑖/2]
𝐿.b³12
= - [𝑦 − 𝑑𝑖/2]
𝐿.𝑏.𝑑𝑖

Syarat, jika GM = > 0 maka benda stabil


GM = 0 maka benda dalam keadaan stabil netral
GM < 0 maka benda tidak stabil
Untuk kondisi massa pemberat digeser

96
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

𝑃𝑥 𝑃 𝑥
GM = x Cot Ø atau GM = 𝑊 X 𝑡𝑔Ø
𝑊

Dimana :
P = massa pemberat bergerak
X = jarak pemberat digeser dari kiri kekanan
Ø = sudut pembacaan

C.Alat Dan Bahan


Metacentric height apparatus

Timbangan

Benang
Termometer

Baskom

97
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Air
D.Keselamatan Kerja
1. Patuhilah tata tertib laboratorium
2. Ikuti petunjuk struktur
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan.

E.Langkah Kerja
Posisi pembatas diatas (digeser)
1) Menimbang berat massa (P) tanpa adanya ponton (W) = 385,6 g.
2) Menimbang berat ponton (W) tanpa adanya massa (P) = 1026,2 g.
3) Memasukkan viston pada ponton, dan pasang benang ke tiang tegak lurus yang ada di
ponton, pastikan massa tidak terbaca dahulu ( dalam kondisi 0). Kemudian cari titik
beratnya sampai keadaan benang dan tiang datar, tegak. Dengan cara mainkan benangnya
sampai keadaannya benar-benar seimbang.
4) Memasukkan benda uji kedalam air ( tersedia didalam baskom).

5) Mengukur jarak titik berat benang = 0,111 m..


6) Lalu mengukur di = 0,022 m
7) Kemudian mengukur volume, untuk mendapatkan hasil volume kita harus memerlukan
data :
Lx = 0,35 m Bx = 0,20 m di = 0,022 m.

98
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Posisi ditengah
8) Menimbang berat massa (p) tanpa adanya ponton ( w) = 0,386 kg.

9) Menimbang berat ponton (w) tanpa adanya massa (p) = 1,026 kg.
10) Memasukkan piston pada ponton dan pasang benang ke tiang tegak lurus yang ada di
ponton, pastikan massa tidak terbaca dahulu ( dalam kondisi 0). Kemudian cari titik
beratnya sampai keadaan benang dan tiang datar,tegak. Dengan cara mainkan benangnya
sampai keadaanya benar-benar seimbang.
11) Mengukur jarak titik berat benang = 0,093 m.
12) Lalu mengukur di = 0,018 m.
13) Lalu ukur volume untuk mendapatkan hasil volume kita harus memerlukan data :
14) Lx = 0,35 m Bx =0,20 m di = 0,018 m.

Posisi massa diatas (tidak digeser).


15) Menimbang berat massa (p) tanpa adanya ponton (w) =0,386 kg.

16) Menimbang berat ponton (w) tanpa adanya massa (p) = 1,026 kg.

99
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

17) Memasukkan piston pada ponton dan pasang benang ke tiang tegak lurus yang ada di
ponton, pastikan amssa tidak terbaca dahulu ( dalam kondisi 0). Kemudain cari titik
beratnya sampai keadaan bennag dan tiang datar, tegak. Dengan cara mainkan benangnya
sampai dalam keadaan benar-benar seimbang.
18) Memasukkan benda uji kedalam baskom.

19) Ukur jarak titik berat benang = 0,111 m.


20) Lalu ukur di = 0,022 m.
21) Lalu ukur volume = untuk mendapatkan hasil volume kita harus memerlukan data:
22) Lx = 0,35 m Bx = 0,20 m di = 0,022 m. Selanjutnya langkah yang posisi ditengah
sama caranya dengan posisi yang diatas.

F.Analisa Data
Diketahui :
Untuk kondisi massa pemberat bergerak tidak bergeser
A1. Posisi massa diatas
P = 0,386 kg
W = 1,026 kg
Y = 0,111 m
di = 0,022 m
Vol (atas) = L x b x d1
= 0,35 m x 0,20 m x 0,022 m
= 0,00154 m3
BG (atas) = y -1/2 .d1

100
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

= 0,111 m – ½ . 0,022 m
= 0,1 m
BM (atas) = I/v
I = (l . b3) / 12
= (0,35 m . 0,203 m ) / 12
= 0,00023 m4

BM (atas) = I/v
0,00023 𝑚4
= 0,00154 𝑚3= 0,15 m

GM (atas) = BM – BG
= 0,15 m – 0,1 m
= 0,05 m2 > 0 stabil
Untuk kondisi massa pemberat bergerak tidak bergeser
B1. Posisi massa ditengah
P = 0,386 kg
W = 1,026 kg
Y = 0,093 m
di = 0,018 m

Vol (tengah) = L x b x d1
= 0,35 m x 0,20 m x 0,018 m
= 0,00126 m3
BG (tengah) = y -1/2 .d1
= 0,093 m – ½ . 0,018 m
= 0,084 m
BM (tengah) = I/v
I = (l . b3) / 12
= (0,35 m . 0,203 m ) / 12
= 0,00023 m4
BM (tengah) = I/v

101
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

0,00023 𝑚4
= 0,00126 𝑚3 = 0,18 m

GM (tengah) = BM – BG
= 0,18 m – 0,084 m
= 0,096 m2 > 0 stabil

Untuk kondisi massa pemberat bergerak di geser.


C1. Posisi massa berada diatas
Dik : p = 0,386 kg
W = 1,026 kg
X = 0,01 m
Θ = 2,3˚
GM = p/w . x/tgθ
= (0,386 kg / 1,026 kg) . (0,01 m/ tg 2,3˚)
= 0,094 m
Hasil Data
a. Untuk kondisi massa pemberat tidak digeser (tetap)

p W di Y vol BG BM
GM =
kondisi y- KET
(kg) BM-BG
(kg) (m) (m) Lxbxdi 1/2xdi I/V
posisi
massa
0,386 1,026 0,022 0,111 0,00154 0,1 0,15 0,05 Stabil
berada
diatas
posisi
massa
0,386 1,026 0,018 0,093 0,00126 0,084 0,18 0,096 Stabil
berada
ditengah
Data hasil kondisi massa pemberat tidak digeser
Ket :
panjang ponton (L) = 0,35 m

102
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

lebar ponton ( b) = 0,20 m


b. Untuk kondisi massa pemberat bergerak digeser
jarak
𝑃 𝑋
kondisi (x) sudut GM = P/W . x/tgØ P W tg Ø GM = X
𝑊 𝑡𝑔𝜃

(m) (Ø) (kg) (kg)


posisi massa 0,01 2,3 0,094054581 0,386 1,026 0,04 0,094
berada
0,02 3,6 0,125
diatas 0,125406108 0,386 1,026 0,06
0,03 5,1 0,125406108 0,386 1,026 0,09 0,125
0,04 6,7 0,125406108 0,386 1,026 0,12 0,125
0,05 7,8 0,134363687 0,386 1,026 0,14 0,134
posisi massa 0,01 3 0,075243665 0,386 1,026 0,05 0,075
berada
0,02 5,3 0,084
ditengah 0,083604072 0,386 1,026 0,09
0,03 7,7 0,080618212 0,386 1,026 0,14 0,081
0,04 9,3 0,094054581 0,386 1,026 0,16 0,094
0,05 11,2 0,094054581 0,386 1,026 0,2 0,094
data hasil kondisi massa pemberat bergerak digeser

G.Kesimpulan
Patuhilah tatatertib laboratorium yang berlaku.
Ikutilah langkah kerja yang berlaku.
Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan.
Bersihkan alat setelah dipakai dan kembalikan pada tempat semula.
H.Dokumentasi

103
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

8. Menghitung Debit Aliran Dengan Ambang Persegi dan Segitiga


A.Maksud dan Tujuan
Menyelidiki hubungan antara ketinggian muka air diatas ambang persegi dan segitiga.
Mengetahui perbedaan koefisien debit aliran antara bentuk persegi dan segitiga.
B.Dasar Teori
Pada percobaan kali ini terdapat 2 bentuk aliran yaitu yang terjadi dari bentuk ambang persegi
dan ambang segitiga. Adapun rumus yang digunakan untuk mengetahui debit yang mengalir sbb;
Untuk ambang persegi :
Q = Cd*2/3 B √2gH^3/2
Dimana : Cd = Koefisien debit untuk ambang persegi

Q
Cd =
2/3 * B √2gH^3/2
Dimana :
Cd = Koefisien debit untuk ambang segitiga
θ = Sudut pada ambang segitiga
H = Tinggi air diatas ambang
15 𝑞𝑡
Sehingga Cd = 𝜃
8.𝑡𝑔 ( )√2.𝑔.𝐻 5/2
2

C.Peralatan dan Bahan


Plat ambang segitiga dan persegi

Gambar Plat ambang

104
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Hidraulik Bench

Point Gouge

Gambar Point Guage

Stop watch

Gambarstopwatch

Lilin (Plastisin)

105
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

D.Langkah Kerja
1) Persiapkan dahulu peralatan dan bahan yang akan dipergunakan.
2) Kemudian melepaskan pangkal penghubung dari dasar open channel dan ganti dengan
lubang pengantar.
3) Pasang sekat penenang kedalam alur disisi-sisi open channel.
4) Plat ambang sebagai alat pengukur dapat dipasang dipenyanggah ambang dengan
mengeraskan mur kupu-kupu.
5) letakkan jarum pengukur muka air (point gauge) pada dasar plat ambang sebagai titik
datum pengukur ketinggian muka air untuk ambang persegi maupun segitiga.
6) Alirkan air ke saluran dengan membuka katup pengontrol, jalankan pompa dengan
menjalankan starter dan membuka kran.
7) Biarkan sebentar tinggi muka air naik hingga tinggi aliran melewati diatas plat ambang.
8) Tutup katup pengontrol dan biarkan air sampai stabil.
9) Arahkan nonius pengukur ketinggian tepat pada nol saat jarum mencapai muka air yang
dianggap sebagai datum.
10) Penyetelan yang halus dapat dipergunakan skrup, untuk ini posisi alat ukur diperkirakan
di tengah-tengan antara plat ambang dan sekat penampang.
11) Alirkan air ke channel dan atur katup pengontrol untuk mendapatkan ketinggian h yang
dikehendaki, dengan pertambahan ± 1cm setiap percobaan.
12) Ukur debit, amati aliran yang terjadi, dan ulangi percobaan untuk debit, dan ambang yang
lain.

E.Keselamatan Kerja
1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku.
2. Ikuti petunjuk serta arahan yang diberikan oleh teknisi.
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan.
4. Jaga kebersihan pada saat praktikum.
5. Dilarang minum dan makan di dalam ruangan pada saat praktikum.

106
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

F.Analisa data
Ambang empat perssegi dengan lebar 3 cm = 0,03 m
Δh = h max - h min = 67 m – 14,5 m = 52,5 m2
1/4 Δ = 52,5/1/4 = 13,125 mm
Mencari h2 sampai h4:
H2 = h1-(1/4Δ = 67-13,125 = 58 mm>0,058 m
H3 = h2-(1/4Δ = 53,88-13,125 = 45 mm >0,045 m
H4 = h3-(1/4Δ = 40,75-13,125 = 32 mm >0,032 m
Mencari Q1 sampai Q5 :
Q1 = 0,005 m3 / 05,75 det = 0,00087 m3/det
Q2 = 0,005 m3 / 07,09 det = 0,00071 m3/det
Q3 = 0,005 m3 / 13,79 det = 0,00036 m3/det
Q4 = 0,005 m3 / 19,19 det = 0,00026 m3/det
Q5 = 0,0007 m3 / 10 det = 0,00007 m3/det

Mencari Cd1 sampai Cd5


0,00087 m3/det
Cd1 = = 0,566
2/3 x 0,03 x √2.9,81 x 0,0673/2

0,00077 m3/det
Cd2 = = 0,636
2/3 x 0,03 x √2.9,81 x 0,053883/2

0,00036 m3/det
Cd3 = = 0,497
2/3 x 0,03 x √2.9,81 x 0,040753/2

0,00026 m3/det
Cd4 = = 0,640
2/3 x 0,03 x √2.9,81 x 0,027633/2

0,00007 m3/det
Cd5 = = 0,452
2/3 x 0,03 x √2.9,81 x 0,014,53/2

107
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Ambang empat persegi dengan lebar 5 cm = 0,05 m


Δh = h max - h min = 59 – 19 = 40 mm
1/4 Δ = 40/1/4 = 10 mm
Mencari h2 sampai h4:
H2 = h1-(1/4Δ) = 59- 10 = 49
H3 = h2-(1/4Δ) = 46,75- 10 = 36,75
H4 = h3-(1/4Δ) = 37,5- 10 = 27,5
Mencari Q1 sampai Q5 :
Q1 = 0,005 m3 / 4,18 det = 0,0012 m3/det
Q2 = 0,005 m3 / 07,23 det = 0,0009 m3/det
Q3 = 0,005 m3 / 12,73 det = 0,0007 m3/det
Q4 = 0,005 m3 / 41,97 det = 0,0006 m3/det
Q5 = 0,005 m3 / 22,57 det = 0,0002 m3/det
Mencari Cd1 sampai Cd5
0,0012 m3/det
Cd1 = = 0,606
2/3 x 0,05 x √2.9,81 x 0,0593/2

0,0009 m3/det
Cd2 = = 0,694
2/3 x 0,05 x √2.9,81 x 0,046753/2

0,0007 m3/det
Cd3 = = 0,700
2/3 x 0,05 x √2.9,81 x 0,03753/2

0,0006 m3/det
Cd4 = = 0,919
2/3 x 0,05 x √2.9,81 x 0,028253/2

0,0002 m3/det
Cd5 = = 0,638
2/3 x 0,05 x √2.9,81 x 0,0193/2

108
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Ambang segitiga sudut θ = 90°


Δh = h max - h min = 45 – 18 = 27 mm
1/2 Δ = 27 / ½ = 13,5 mm
Mencari h2
h2 = h1 - (1/2Δ) = 45 – 13,5 = 27 mm
Mencari Q1 sampai Q3 :
Q1 = 0,005 m3 / 9,26 det = 0,00054 m3/det
Q2 = 0,005 m3 / 15,12 det = 0,00033 m3/det
Q3 = 0,00044 m3 / 10 det = 0,000044 m3/det

Mencari Cd1 sampai Cd3

15 x 0,00054 m3
Cd1 = = 0,632
8 x tg(90/2) x √ 2.9,81 x 0,045^5/2

15 x 0,00018 m3
Cd2 = = 0,795
8 x tg(90/2) x √ 2.9,81 x 0,0315^5/2

15 x 0,000044 m3
Cd3 = = 1,181
8 x tg(90/2) x √ 2.9,81 x 0,018^5/2

Hasil Data
A. Ambang empat perssegi dengan lebar 3 cm
Tinggi Muka Air
No ( H) Volume Waktu (t) Debit (Q) H3/2 Cd
Mm m Liter m³ detik m³/det m
1. 67 0,0670 5 0,005 5,75 0,00087 0,017 0,5659
2. 53,88 0,0539 5 0,005 7,09 0,00071 0,013 0,6364
3. 40,75 0,0408 5 0,005 13,79 0,00036 0,008 0,4975
4. 27,63 0,0276 5 0,005 19,19 0,00026 0,005 0,6403

109
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

5. 14,5 0,0145 0,7 0,0007 10 0,00007 0,002 0,4525

B. Ambang empat persegi dengan lebar 5 cm


Tinggi Muka Air
No ( H) Volume Waktu (t) Debit (Q) H3/2 Cd
Mm m Liter m³ detik m³/det m
1. 59 0,0590 5 0,005 4,33 0,0012 0,014 0,6063
2. 46,75 0,0468 5 0,005 5,36 0,0009 0,010 0,6944
3. 37,5 0,0375 5 0,005 7,40 0,0007 0,007 0,7001
4. 28,25 0,0283 5 0,005 8,62 0,0006 0,005 0,9192
5. 19 0,0190 5 0,005 22,50 0,0002 0,003 0,6385

C.Ambang segitiga sudut θ = 90°


Tinggi Muka Air
No ( H) Volume Waktu (t) Debit (Q) H5/2 Cd
Mm m Liter m³ detik m³/det m
1. 45 0,042 5 0,00500 9,26 0,00054 0,00036 0,632
2. 31,5 0,0315 5 0,00500 15,12 0,00033 0,00012 1,168
3. 18 0,012 0,44 0,00044 10 0,00004 0,00002 1,181

G.Kesimpulan
Dari hasil praktikum didapatkan nilai Cd pada Ambang empat perssegi dengan lebar 3 cm adalah
Cd maksimum 0,622 dan Cd minimum 0,303.
Nilai Cd pada ambang empat persegi dengan lebar 5 cm adalah Cd maksimum 0,569 dan Cd
minimum 0,034.
Nilai Cd pada ambang segitiga sudut 90° adalah Cd maksimum 0,588 dan Cd minimum 0,423.

110
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

H.Dokumentasi

111
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

9. Gaya Hidrostatis Pada Bidang Datar


A.Maksud dan Tujuan
Dalam pecobaan ini diharap Mahasiswa dapat :
 Menjelaskan prinsip hidrostatika dengan mencatat data pengamatan pada lembar format
yang sudah disediakan
 Menghitung besar dan kedudukan titik pusat kerja gaya hidrostatis pada bidang datar
yang tercelup sebagian dan tercelup penuh didalam air.
 Mengaplikasikan prinsip hidrostatika pada bangunan-bangunan air, misalnya pintu
sorong, dinding saluran, tubuh bendung, dinding reservoir, dan lain-lain.

B.Dasar Teori
Perpotongan antara garis kerja hidrostatis dan bidang vertical yang tercelup seluas A di titik C
disebut titik pusat kerja gaya.
Kedalamannya terhadap muka air sama dengan h’.
𝐼𝑥
h’ = 𝐴ℎ

Dimana :
Ix = momen inersia terhadap sumbu x yang melalui titik C dan sejajar dengan permukaan air.
h = kedalaman titik berat (c) terhadap permukaan air.
C= Titik berat dari luasan bidang yang tercelup.
Dengan meggunakan teori momen inersia sumbu sejajar maka didapatkan
Ix = Ic + Ah²
Dengan Ic = momen inersia dari bidang vertical yang tercelup dan sejajardengan sumbu
xSehingga pada bidang vertical tersebut berlaku rumus umum :
F = ρ .γ . h. A
h’ = Ic + Ah²
Ah
Dengan :
h’ = jarak titik tangkap gaya hidrostatis (jarak pusat tekanan) terhadap permukaan air.
h = jarak titik berat luasan bidang yang tercelup terhadap permukaan air.
Dalam praktek akan terjadi keseimbangan antara momen hidrostatis dan momen massa pemberat
terhadap as tajam, dengan kondisi sebagai berikut.

112
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Tercelup sebagian.

Pivot

H H-d

d Chh’ h’’ C P D
PF
B

Dimana :
d = tinggi permukaan air saat pengukuran
F = Gaya hidrostatis pada bidang vertical
h = jarak titik berat kuasan bidang yang tercelup sebagian sampai permukaan air
h’= jarak pusat tekanan terhadap permukaan air
h”= jarak gaya hidrostatis sampai pada as tajam (tumpuan)
F = ρ .γ . h. A (Newton)
A=B.d
Dan, h = C = d/2
Jadi, F = ρ .γ . Bd²/2 . . . . . . . . . . . (1)
Momen yang terjadi terhadap as tajam (tumpuan)
Actual (percobaan)
M = F h” (Nm)
Momen keseimbangan akibat pemberat (W) dengan lengan keseimbangan (L)
F h” = W L = mgL
Substitusikan pada persamaan 1 menjadi :
h” = mgL/F = mgL/ρ.γ. Bd²/2 = 2mL/ρ.B.d² (meter)

113
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Teoritis
h’ = Ix/Ah . . . . . . . . . . . (2)
Ix = momen inersia terhadap sumbu x yang melalui titik C dan sejajar dengan permukaan air.
Dengan menggunakan teori momen inersia sumbu sejajar maka akan didapat :
Ix = Ic + Ah²
Ix = 1/12 Bd³ + B.d (d/2)²
= 1/12 Bd³ + ¼ Bd³
= 4/12 Bd³ = Bd³/3 (m4) . . . . .(3)
Jarak pusat tekanan sampai as tajam (tumpuan)
h” = h’ + H – d (m) . . . . . .(4)
masukkan persamaan (3) ke (2) dan persamaan (4) menjadi :
h” = Bd³/3
+H-d
Bd. d/2
= (Bd³/3 x 2/Bd²) + H – d
= 2/3 d + H – d
= H – d/3 (meter)

114
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Tercelup penuh

Pivot

H-d

H h’
D/2C h h’’ C
P P D
F
B

Dimana :
d = tinggi permukaan air saat pengukuran
F = Gaya hidrostatis pada bidang vertical
h = jarak titik berat kuasan bidang yang tercelup sebagian sampai permukaan air
h’ = jarak pusat tekanan terhadap permukaan air
h” = jarak gaya hidrostatis sampai pada as tajam (tumpuan)
F = ρ .γ . h. A
Dimana : A = B.D
Dan h = d – D/2
Jadi, F = ρ.γ.B.D (d – D/2) (N) . . . . . (5)
Momen yang terjadi terhadap as tajam (tumpuan)
Actual (percobaan)
M = F h” (Nm)
Momen keseimbangan akibat pemberat (W) dengan lengan keseimbangan (L)
Fh” = W . L = mgL
Substitusikan pada persamaan (5) menjadi :
h” = mgL/F = mgL

115
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

ργBD(d-D/2) (m)
Teoritis
h’ = Ix/Ah . . . . . . . . . . . (6)
Ix = momen inersia terhadap sumbu x yang melalui titik C dan sejajar dengan permukaan air.
Dengan menggunakan toeri momen inersia sumbu sejajar, maka didapatkan :
Ix = Ic + Ah²
Ix = 1/12 Bd³ + B.d (d/2)²
= BD (D²/12 + (d-D/2) ²) (m) . . . . . . . . . . (7)
Jarak pusat tekanan sampai as tajam (tumpuan)
h” = h’ + H – d (m) . . . . . . . . . . . (8)
masukkan persamaan (7) ke (6) dan persamaan (8) menjadi :
h”= BD (D²/12 + (d-D/2) ²)
+H–d
BD. (d - D/2)
h” = (D²/12 + (d-D/2) ²)
+H–d
d - D/2
C.Peralatan dan Bahan
Pipet

Gambar Pipet
Alat tekanan hidrostatis

Gambar Kuadran
Thermometer

116
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Gambar Thermoneter
Bangku kerja hidrolis

GambarHidraulics Bench

Massa pemberat

Gambar Massa Pemberat

D.Langkah Kerja
1) Menempatkan toroidal quadran diatas dua perletakan dan ikatan pada lengan neraca
dengan sekrup penjepit.
2) Menempatkan toroidal quadran
3) Mengukur H,B,D dan jarak L dari as tajam ke as batang gantungan neraca.
4) Meletakkan prespex tank diatas bangku kerja hidrolis dan menempatkan lengan neraca
diatas ujung tumpuannya.

117
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

5) Memasang sebuah pipa air ke pipa pembuang dan langsung membebaskan ujungnya ke
saluran terbuka.

6) Menghubungkan slang penyalur kemulut penyalur luar yang ada di bangku hidrolis dan
menempatkan ujung slang kedalam lubang segitiga di atas puncak prespex tank.
7) Mendatarkan tangki dengan memakai penyetel kaki bersamaan dengan Kodak sebagai
indikatornya

8) Mempergunakan pembahasan permukaan air sebagai penunjuk skala dapat menunjukan


angka nol, tanpa memasang beban neraca dan mengatur sampai lengan neraca tepat
horizontal. Keadaan ini tercapai bila garis penunjuk sebidang dengan lengan neraca.
9) Menggantungkan massa pemberat pada lengan neraca, mengoprasikan stater pompa,
membuka kran pengendalian aliran, air akan mengalir ke prespex-tank sehingga lengan
neraca jadi horizontal. menutup kran pengendali aliran tadi, dan mencatat massa
pemberat dan ketinggian air pada skala. Hal ini akan menunjukan pada permukaan

118
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

torroid. Untuk membetulkan penyetelan bila permukaan air mencapai berlebihan, dapat
dikurangi dengan mengalirkan melalui kran pembuangan.

10) Mengurangi massa pemberat dan menurunkan permukaan air sampai keadaan seimbang,
dan mencatat nilainya. Demikian seterusnya pembacaan dilakukan sampai permukaan air
tidak terbaca lagi.

11) Menghitung dan mentabelkan D,B, L, M, d, F, h” (actual) dan h” (teoritis).

E.Keselamtan Kerja
1. Mematuhi tata tertib laboratorium yang berlaku.
2. Mengikuti petunjuk instruktur laboratorium yang berwenang.
3. Menjaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadinya kerusakan

F.Analisa Data
Parameter :
Jarak titik tumpuan neraca terhadap titik gantungan panic massa ( L ) = 275 mm
Jarak dari dasar kuadran (1/4 lingkaran) sampai dengan As tajam(tumpuan)H = 200 mm
Tinggi budang vertical( D ) = 100 mm
Lebar bidang vertical ( B ) = 75 mm
Berat spasifik ( kerapatan cairan ) ρ = 1000 kg/m³

119
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Suhu (t)
Berat Massa (M)
Tinggi Air (d)
Gaya Hidrostatis (F)
Titik Pusat Gaya (Percobaan & Teoritis) = h’’
Luas Penampang (A)

Diketahui :
Suhu (t) = 25ºc ……. ρ = 997,1 kg/m³
Suhu (t) = 27ºc ……. ρ = x kg/m³
Suhu (t) = 30ºc ……. ρ = 995,7 kg/m³
Diinterpolasi menjadi
(27−25)
X = 997,1 + (30−25) x (995,75 -997,1) = 996,54

Jadi ρ= 996,54 kg/m³ disuhu 27ºc

PENUH
Diket :
ρ = 996,54 kg/m³
g = 9,81m/dtk²
B = 0,075 m
D = 0,1 00 m
H = 0,2 00 m
d1 = 0,155 m (tercelup penuh d > 0.100 m)
M = 450 gr = 0,45 0kg
L = 0,275 m
Mencari Mencari Gaya Hidrostatis (F) = ?
Penyelesaian :
𝐷
F= ρ . g . B . D . [𝑑 − 2 ]

Cari dulu
A = B.D

120
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

= 0,075 m x 0,100m = 0,0075 m²


𝐷
h = d- 2
0,1𝑚
= 0,0155 m - = 0,00775 m
2𝑚

𝐷
F = = ρ . g . B . D . [𝑑 − 2 ]

0.100
= 996,54 kg/m³ x 9,81m/dtk² x 0,075 m x 0,100 m . [0.155 − ]
2

=7,699 N
Mencari h’’ (actual) Percobaan
m.g.l
h' ' (aktual) 
F
0,45 𝑘𝑔 𝑥 9,81𝑚/𝑠2 𝑥 0,275 𝑚
h” = 7,772 𝑁

= 0,158 m
Mencari h’’ (actual) Teoritis
h’’ = h’ + H-d
cari dulu
𝐷 2
Ix = 1/12 B.D³ + B..D [𝑑 − 2 ]

0,100 2
= 1/12 0,075 X 0,100 ³ + 0,075 X 0,100 [0,155 − ]
2

= 0.0000826

𝐼𝑥
h’ = 𝐴ℎ
0,0000826
= 0,0075 𝑚2 𝑥 0,00775 𝑚

= 1,421 m
h’’ (teoritis) = h’ + H – d
= 1,421 + 0,200 – 0,155
= 1,466 m

121
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

SEBAGIAN
Diket :
ρ = 996,54 kg/m³
g = 9,81m/dtk²
B = 0,075 m
D = 0,1 m
H = 0,2 m
d2 = 0,04 m (tercelup sebagian d < 0.100 m)
M = 90 gr = 0,09 kg
L = 0,275 m
Mencari Mencari Gaya Hidrostatis (F) = ?
F =ρ.g.A.h
Cari dulu
A =Bxd
= 0,075 m x 0,04 m = 0,003 m²
𝑑 0,04 𝑚
h =2= = 0,02 m
2

F =ρ.g.A.h
= 996,54 kg/m³ x 9,81m/dtk² x 0,003 m² x 0,02 m
= 0,587 N

Mencari h’’ (actual) Percobaan


m.g.l
h' ' (aktual) 
F
0,09 𝑘𝑔 𝑥 9,81𝑚/𝑠2 𝑥 0,275 𝑚
h” = 0,590 𝑁

= 0,414 m
Mencari h’’ (actual) Teoritis
h’’ (teoritis) = H – d/3
= 0,200 m – 0,04 m/3 = 0,187 m
122
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Hasil Data

No Tinggi Lebar Jarak Jarak Berat Tinggi Gaya Titik Pusat Titik
Bidang Bidang titik Dasar Massa Air Hidro Gaya Pusat
Vertikal Vertikal Tumpuan Quadran (Percobaan) Gaya
ke (Teoritis)
Tumpuan A h h'
D B L H M d F h" h"
(m) (m) (m) (m) (kg) (m) (N) (m) (m) (m²) (m) (m)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 0,1 0,075 0,3 0,2 0,450 0,155 7,699 0,158 1,466 0,008 0,105 1,421
2 0,1 0,075 0,3 0,2 0,420 0,149 7,259 0,156 1,472 0,008 0,099 1,421
3 0,1 0,075 0,3 0,2 0,390 0,140 6,599 0,159 1,481 0,008 0,090 1,421
4 0,1 0,075 0,3 0,2 0,360 0,134 6,159 0,158 1,487 0,008 0,084 1,421
5 0,1 0,075 0,3 0,2 0,330 0,126 5,572 0,160 1,495 0,008 0,076 1,421
6 0,1 0,075 0,3 0,2 0,300 0,120 5,132 0,158 1,501 0,008 0,070 1,421
7 0,1 0,075 0,3 0,2 0,270 0,112 4,546 0,160 1,509 0,008 0,062 1,421
8 0,1 0,075 0,3 0,2 0,240 0,101 3,739 0,173 1,520 0,008 0,051 1,421
9 0,1 0,075 0,3 0,2 0,210 0,095 3,309 0,171 0,168 0,007 0,048 1,421
10 0,1 0,075 0,3 0,2 0,180 0,090 2,969 0,164 0,170 0,007 0,045 1,421
11 0,1 0,075 0,3 0,2 0,150 0,082 2,465 0,164 0,173 0,006 0,041 1,421
12 0,1 0,075 0,3 0,2 0,120 0,073 1,954 0,166 0,176 0,005 0,037 1,421
13 0,1 0,075 0,3 0,2 0,090 0,040 0,587 0,414 0,187 0,003 0,020 1,421
14 0,1 0,075 0,3 0,2 0,060 0,050 0,917 0,177 0,183 0,004 0,025 1,421
15 0,1 0,075 0,3 0,2 0,030
Tabel Data Hasil Pengolahan

G.Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan,dapat disimpulkan bahwa :
Dengan adanya alat ini kita dapat menghitung besar dan kedudukan titik pusat kerja gaya
hidrostatis pada bidang datar yang tercelup sebagian dan tercelup penuh didalam air.
Kita dapat juga mengaplikasikan ilmu hidrostatis ini dalam pembuatan pintu sorong, dinding
saluran, tubuh bendung, dinding reservoir, dan lain-lain.

123
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

H.Dokumentasi

124
REFINDO ALDI WIJAYA
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

10. Rembesan Air Pada Pasir (permeability)


A.Maksud dan Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan dapat :
 Mengerti karakteristik fisik butiran tanah.
 Mengamati rembesan air pori yang mengalir diantara butiran.
 Mengukur kecepatan air pori yang merambat dalam butiran.
 Menghitung diameter rata – rata butiran dengan Rumus Kozeny – Carman.
 Menentukan keraoatan massa butiran.
 Membandingkan hasil pengukuran di laboraturium dengan hasil penelitian yang di
keluarkan secara umum.
 Mengaplikasikan pada jenis butiran sesungguhnya, misalkan media butiran berupa pasir
halus atau lumpur.

B.Dasar Teori
Tanah (Soil) terdiri dari berbagai jenis ukuran butiran dari kasar hingga halus. Kalau kita ambil
suatu bagian kecil dari molekul tanah maka bias diilustrasikan sebagai butiran berbentuk bulat –
bulat kecil yang tak terlihat kasat mata. (seperti pada gambar di bawah ini).

Penampang Tanah Detail A


Gambar detail butiran tanah/pasitr jika ada air yang mengalir di dalamnya
Diantara butiran – butiran tersebut terdapat celah/rongga yang merupakan pori dan dapat dialiri
cairan (fluida) secara gravitasi dan mempunyai kecepatan rembes (permeabilitas). Melalui
penelitian dan pendekatan teoritis terhadap kecepatan rembes pada masing – masing jenis
material, secara umum nilai rata – rata permeabilitas ditunjukkan seperti pada table di bawah ini:
kecepatan permeabilitas material

125
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Kerikil 1 m/detik
PasirKasar 1x10-2 m/detik
PasirHalus 1x10-5 m/detik
Lumpur/Lanau 1x10-9 m/detik
Lempung 1x10-11 m/detik

Dari table di atas terlihat bahwa semakin kasar diameter jenis butiran maka kecepatan rembesan
besar berkisar 1 m/detik, sebaliknya semakin halus/rapat jenis tanah maka kecepatan
rembesan/permeabilitas sangat kecil berkisar 1x1011 m/detik.
Air dalampori akan mempunyai kecepatan rembes yang dapat diukur berdasarkan debit yang
mengalir terhadap luasan poti yang dilaluinya. Rumus umum yang digunakan adalah :
Va = q/A Q = Debit pada alat ukur [m3/detik]
1
A = 4 . π . d2 A = Luas tabung sampel [cm2]

d = Diameter tabung sampel [cm]


Rumus dasar diambil dari hokum DARCY :
dh
Va =k . dL . [m⁄detik] Va = Kecepatan rata – rata [m/detik]

k = Permeabilitas [m/detik]
dh = Tinggi tekanan manometer [cm]
dl = Tinggi butiran benda uji [cm]
Sehingga kecepatan rembes dapat diuraikan sebagai :
𝑉𝑎
k = 𝑑ℎ/𝑑𝑙

Konsep dari Permeabilitas dikembangkang oleh Kozeny dan dilanjutkan berikut oleh Carman.
Berdasarkan penelitian mereka dapat dianalogikan bahwa media butiran memiliki pori yang
menyerupai tabung kapiler dan garis radius hidarulik mendekati media butiran kasar/kerikil
sehingga secara Empiril dapat diterjemahkan menjadi suatu bentuk persamaan :
𝜌.𝑔 𝜀2 𝑑 2
k = 5 .𝜇 . (1 .𝜀)2 . (6 )

Dari Hukum Darcy maka dapat dirangkai menjadi suatu persamaan yang dikenal sebagai Rumus
Kozeny – Carman :
2
dl 5 . μ . Va (1 − ε)2 6
= [ . . ]
dh ρ. g ε3 ds

126
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Sehingga dapat dihitung diameter rata – rata butiran :


1/2
μ . Va (1 − ε)2 dl
ds = [180 . . . ]
ρ. g ε3 dh
dimana : ds = Diameter rata – rata butiran [mm]
µ = Kekentalan dinamis [Kg/m.detik]
𝜌 = Kerapatan massa air [Kg/m2]
g = Percepatan gravitasi [m/detik2]
𝜀 = Porositas [non dimensi]
Porositas dapat dihitung sebagai :
Vp Vp
ε= = Vt−Vp Vp = Volume air pori [cm]
Vs
1
Vt = 4 . π . d2 . dl Vt = Volume tabung butiran [cm3]

Vs = Volume butiran [cm3]


Segingga Kerapatan Massa butiran menjadi :
ms
ρs = ρs = Kerapatan massa butiran [Kg/m3]
Vs

ms = Massa butiran ditimbangi [Kg]


C.Peralatan dan Bahan
Hydraulic Bench

Gambar Hidraulik bench


Permeability + tangki
Timbangan Digital

127
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Gambar Timbangan
Termometer Air

Gambar Termometer

Tabung sampel
Air bersih
Pasir Kuarsa
D.Langkah Kerja
1) Mempersiapkan peralatan dan bahan yang akan diperlukan.
2) Mengeringkan benda uji kedalam oven hingga kering selama  24 jam.
3) Menimbang benda uji seberat 450 gr.
4) Memasukkan kedalam tabung sample butiran untuk menghitung volume tabung yang
terisi butiran dan pori ( Vt ).
5) Menyiapkan air bersih sebanyak 500 ml ( Vawal ), kemudian memasuki kedalam tabung
tersebut diatas hingga jenuh.

Gambar memasukkan air

128
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

6) Mengeluarkan air yang berlebih dalam babung + benda uji kedalam Piknometer,
kemudian mencatat sisa air pada piknometer ( Vsisa ). Maka volume pori benda uji dapat
dihitung sebagai Vp = Vawal – Vsisa.
7) Mempersiapkan peralatan permebilitas.
8) Memasang tabung + benda uji pada alat permebilitas.
9) Menutup kran masuk ( 7 ) dan keluar ( 8 ) yang menuju Monometer Hg untuk
pengukuran Manometer air ( tekanan rendah ) dan sebaliknya.
10) Memasang selang dari tangki atas pada Hidraulic Bench dan menghidupkan air pada
mesin tersebut.
11) Membuka kran ( 1 ) untuk aliran dari atas kebawah dan kran ( 2 ) bila aliran dari bawah
keatas.
12) Memastikan tidak terdapat gelombang udara dalam selang-selang pada alt permebilitas.
13) Mencatat tinggi benda uji dalam tabung.
14) Melevelkan air pada monometer air, dengan cara mengatur suplai air yang menuju
monometer air dan mengatur sekrup pelipah pada bagian atas monometer air.

Gambar melevelkan air


15) Mengatur tiga variasi debit 300, 400, dan 500 L/menit.

129
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Gambar mengatur tiga variasi


16) Mencatat data pada variasi 1 debit pada monometer air ( dh ).
17) Melakukan langkah tersebut pada variasi debit yang berbeda.
18) Setelah pengujian selesai, matikan mesin dan mengelurkan butiran dari tabung kemudian
membersihkan dan mengeringkan peralatan.
19) Menganalisa data hasil pengujian sesuai dengan dasr teori diatas.

E.Keselamatan Kerja
1. Mematuhi tata tertib laboratorium yang berlaku.
2. Mengikuti petunjuk instruktur laboratorium .
3. Menjaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi kerusakan.
4. Sebelum memulai praktek, diharapkan kepada mahasiswa agar mempelajari terlebih
dahulu petunjuk kerja secara berurutan mulai dari tujuan praktikum sampai dengan cara
pelaksanaannya.
5. Mempersiapkan alat-alat yang akan dipergunakan dan pastikan bahwa alat tersebut dalam
kondisi yang baik.
6. Memakai pakaian praktek laboratorium, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan

F.Analisa Data
Permeabilitas
Konversi Q = 100 . (1/60) = 1,67 cm3/detik
1 1
A= 4 . 𝜋 . 𝑑2 = 4 . 𝜋 . 3,802 = 11,34 𝑐𝑚2

130
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

𝑄 1,667
Va= 𝐴 = 11,34 = 0,147 𝑐𝑚/𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
𝑉𝑎 0,147
k = 𝑑ℎ/𝑑𝑙 = 0,5/23 = 1,252𝑐𝑚3 /𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘

Diameter Rata – Rata Butiran


Vp = Vawal – Vsisa = 200 – 164 = 36 cm3
Vt = ¼ x π d2 x dl = ¼ x π x (3,802) x 23 = 260,714 cm3
𝜀= Vp / (Vt – Vp) = 36 / (260,714-80) = 0,356
1
μ .Va (1− ε)2 dl 2
Ds = [180 × × × dh]
ρ.g ε3
1/2
8,196. 10−7 . 0,147 (1 − 0,356)2 36
= [180 × × × ] = 0,0009675
995,98.9,81 0,3563 0,5
Kerapatan Massa Butiran
Vs = Vt – Vp = 260,714 – 36 =224.714 cm3
ρs = ms/Vs = 450/223,714 = 2,3 g/cm3
2,36 x 1000 = 0,0027 Kg/m3
Data selanjutnya dapat dilihat di tabel dibawah ini :
Temperatur Kekentalan Dinamis Kerapatan Massa Air
No
T µ P
˚C kg/m.detik kg/m³
1 0 1.778 x 10-3 1000
2 10 1.307 x 10-3 1000
3 20 1.003 x 10-3 998
4 30 0.779 x 10-3 996
5 40 0.657 x 10-3 992
6 50 0.548 x 10-3 988

131
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

SI VARIASI DEBIT
N M
PARAMETER SATUAN KETERANGAN
o BO
L 1 2 3
A Permeabilitas
[cm3/meni Pembacaan pada flow
100 200 300 t] meter
Q
1,67 3,33 5 [cm3/detik Konversi . 1/60 detik
1 Debit pada alat ukur ]
Diameter tabung Diameter Tube Pore =
d 3,80 3,80 3,80
2 sampel [cm3] 38mm
A 11,34 11,34 11,34 1⁄ × 𝜋 × 𝑑 2
3 Luas tabung sampel [cm] 4
Kecepatan rata –
va 0,147 0,293 0,441
4 rata [cm/detik] Q/A
Tinggi tekan
dh 0,5 0,5 0,5
5 manometer [cm] Pembacaan dalam mm
Tinggi butiran
dl 23 23 23
6 benda uji [cm] Pembacaan dalam mm
6,762 13,478 20,286
k 0,0676 0,13,4 0,20,2 [𝑐𝑚3 / detik va
7 Permeabilitas 2 78 86 [𝑚/detik] 𝑑ℎ/𝑑𝑙

Diameter rata - rata


B butiran
Pengukuran thermometer
T 29 29 29
1 Temperatur Air [oC] air
8,196. 8,196. 8,196. [Kg/m/det
𝜇 Tabel A.1 dan interpolaso
2 Kekentalan dinamis 10 10 10 ik]
linier
3 Kerapatan massa air 𝜌 995,98 995,98 995,98 [kg/m3]
4 Percepatan gravitasi G 9,81 9,81 9,81 [m/detik2] Diketahui
Kecepatan rata –
Va 0,147 0,293 0,441
5 rata [m/detik] 𝑄/𝐴 × (1/100)

132
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

6 Volume air pori Vp 36 36 36 [cm3] V awal – V sisa


Volume tabung 274.4 274.4 274.4
Vt 1⁄ × 𝜋 × d2 × dl
7 butiran 36 36 36 [cm3] 4
[non
𝜀 0,150 0,150 0,150
8 Porositas dimensi] Vp/(Vt-Vp)
0,004 0,004 0,004 𝜇.Va
(180 × ×
𝜌.g
Diameter rata - rata Ds 9 9 9 [m] 1⁄
( 1− 𝜀 )2 𝑑𝑙 2
9 butiran 0.004 0.004 0.004 × )
𝜀3 𝑑ℎ
[mm]
9 9 9
C Kerapatan massa butiran
Massa butiran
ms 30 30 30
1 sampel [Gram] Penimbangan
239.4 239.4 239.4
Vs
2 Volume butiran 36 36 36 [Cm2] Vt – Vp
Kerapatan massa
7.9 7.9 7.9
3 butiran [g/Cm3] ms/Vs
𝜌s
0,007 0,007 0,007 Konversi X 1000 Kg/m3
9 9 9 [Kg/m3]

G.Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan permebelity kita dapat menganalisa kecepatan rembes (
permebelitas ),

Diameter rata-rata butiran (  ) dan


Kerapatan massa butir ( ps ) secara Empirik menggunakan rumus dasar yang diambil dari
Hukum darcy dan pengembangannya yaitu rumus Konzeny-Carman.

H.Dokumentasi

133
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

134
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

11. Aliran Dibawah Dinding Penyekat


A.Maksud dan Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :
 Menentukan pola aliran yang terjadi dibawah dinding pilar penyekat, dibawah dinding
bangunan air, misalnya: tembok penahan tanah ,dinding turap, bending dll.
 Mengetahui alat-alat untuk menyelediki gaya seepage pada bangunan air dan dapat
menghitung gaya seepage secara teoritis
 Mengerti dan dapat mengatasi kesulitan – kesulitan dalam menyelidiki gaya seepage dan
mengetahui gradien hidrolik pada saat timbulnya gejala piping hingga keruntuhan kratas
trophic.

B.Dasar Teori
Air menembus pasir,maka akan timbul gaya pada partikel pasir air yang disebut gaya seepage
atau laju aliran. Besarnya gaya seepage ini dapat dihitung dengan persamaan:
R = i.ᵧw
Keterangan :
R = gaya seepage
I = gradient hidrolik
ᵧw = beratjenis air
sedangkan gradient hidrolik berbanding lurus dan harga tekanan muka air disebelah hulu dan
hilir dinding pemyekat, juga berbanding terbalik dengan panjang jalan alirannya. Secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

i1=
𝑖
dalam praktikum, pilar penyekat kemudian secara perlahan ditarik sehingga kedalaman
penetrasinya pada pasir berkurang sehingga pada gilirannya akan menaikkan gradient hidrolik
dan gaya seepage ke arah atas.
Bilagaya seepage padapasirmelebihigayakebawahdariberatbagian yang tenggelam, pada kondisi
ini pasir mulai bergerak kebawah atau membuih dan gejala ini disebut piping.
Jika pilar penyekat dinaikkan lebih jauh lagi, agaknya keruntuhan keatas trophic akan terjadi,

C.Peralatan dan Bahan

135
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

Tangki tranparn

Gambar Tangki trasparan

Pilar penyekat
System injector zat pewarna

Gambar System injector zat perwarna

Mistar/pita ukur
Spidol
Pasir kasar
Air
D.Langkah Kerja
1) Menyusun alat seperti diatas, dengan satu panel dipasang sebagai dinding piar penyekat
2) Mengatur perbedaan tinggi air pada bagian hilir dan bagian hulu pilar agar tetap konstan,
setelah itu injeksikan zat pewarna
3) Plot garis-garis aliran mengikuti jejak-jejak yang dibuat oleh zat pewarna

4) Ukur pada harga H,I, dan hitunglah harga I,R dengan persamaan diatas.

E.Keselamatan Kerja

136
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

1. Patuhi tata tertib laboratorium yang berlaku


2. Ikuti petunjuk yang berwenang
3. Jaga peralatan dan bahan dari kemungkinan terjadi kerusakan

F.Analisa Data
Diket :
h1 = 52 cm
h2 = 36 cm
L = 78 cm
Ditanya : h?
Penyelesaian :
h = h1- h2
= 52 cm – 36 cm = 16 cm

Ditanya : i ?
Penyelesaian :
ℎ 16 𝑐𝑚
i = 𝐿 = 78 𝑐𝑚 = 0,205

Ditanya : R ?
Penyelesaian :
R=ɣ.i
Cari dulu
ɣ =s.ρ.g
= 1 x 1000 kg/m³ x 10 m/det²
= 10000 N/m³
= 10 KN/m³

R =ɣ.i
= 10 KN/m³ x 0,205
= 2,05 KN/m³
Hasil Data
Percobaan 1

137
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

ɣ= (s.ρ.g)
Parameter h1 (cm) h2 (cm) L (cm) h (cm) i R (KN)
0,205 2,05
Fungsi 52 36 78 16 10
0,267 2, 67
Satuan 52 36 60 16 10

0,4 4
Penampang 52 36 40 16 10

G.Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini di dapat data R pada Fungsi = 2,05 kN/m3, R pada Satuan =
2,67 kN/m3, serta R pada Penampang = 4 kN/m3.

H.Dokumentasi

138
SYERUAN AKBAR
LAPORAN PRAKTIKUM HIDROLIKA

BAB IV
PENUTUP

1.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat kami simpulkan bahwa :
1. Hanya dengan mengetahui materi saja belumlah cukup dengan adanya praktikum ini
dapat membantu mahasisiwa untuk memahami pengaplikasianya pada perencanaan
2. Dalam sebuah pembangunan haruslah ada perencanaan terlebih dahulu baik itu dari
segi teoritis maupun uji coba pada saat dilapangan. Praktikum ini mengajarkan
mahasiswa untuk mengaplikasikanya pada percobaan-percobaan yanag dikondisikan
seperti halnya pada praktek dilapangan.

1.2. Saran
1. Dalam melakukan praktikum sebaiknya mahasiswa tidak bermain-main dengan mesin
yang digunakan
2. Jagalah selalu kebersihan pada saaat praktikum
3. Pastikan kondisi alat dalam keadaan prima

139