Anda di halaman 1dari 32

COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY DENGAN TEKNIK SOCIAL SKILL

TRAINING

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Bimbingan Kelompok yang
diampu oleh Dr. Agus Taufik, M.Pd dan Dr. Nandang Budiman, M.Si

Disusun oleh.
Emria Fitri
1707587

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas selesainya penulisan
makalah dengan judul “Cognitive Behaviour Therapy dengan Teknik Social Skill
Training”. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Bimbingan Kelompok. Makalah ini membahas tentang Cognitive Behaviour
Therapy dan salah satu tekniknya yaitu Social Skill Training.

Keberhasilan penulisan makalah ini tidak lepas dari dukungan berbagai


pihak, pada kesempatan ini perkenankan penyusun mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. Agus Taufiq, M.Pd dan Dr. Nandang Budiman, M,Si selaku
dosen pembimbing mata kuliah Bimbingan Kelompok

Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, untuk
kepentingan pengembangan ilmu, khususnya ilmu Bimbingan dan Konseling.
Terakhir, mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan, dengan segala
kerendahan hati penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Oktober 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan Makalah ........................................................................................... 3
D. Sistematika Penulisan .................................................................................. 3
BAB II KONSEP DASAR COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY
A. Pengertian Cognitive Behavior Therapy...................................................... 4
B. Biografi tokoh Cognitive Behavior Therapy .............................................. 4
C. Sejarah Cognitive Behavior Therapy ........................................................... 5
D. Pandangan terhadap manusia....................................................................... 6
E. Konsep dasar Cognitive Behavior Therapy ................................................. 6
F. Tujuan Cognitive Behavior Therapy .......................................................... 7
G. Prinsip-prinsip dasar teori Cognitive Behavior Therapy ............................. 8
H. Teknik konseling Cognitive Behavior Therapy ........................................ 11
I. Fokus konseling Cognitive Behavior Therapy ......................................... 12
J. Langkah-langkah konseling Cognitive Behavior Therapy ....................... 12
K. Aplikasi Cognitive Behavior Therapy dalam Kelompok ......................... 14
BAB III TEKNIK SOCIAL SKILL TRAINING
A. Pengertian teknik Social Skill Training .................................................... 15
B. Tujuan Social Skill Training ..................................................................... 15
C. Defisit Keterampilan Sosial ......................................................................
D. Indikasi Social Skill Training ................................................................... 16
E. Tahapan Pelaksanaan Social Skill Training ............................................. 18
F. Pelaksanan Social Skill Training .............................................................. 21
G. Kelebihan dan Kekurangan Social Skill Training .................................... 25

ii
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 24

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berfikir merupakan ciri khas dari manusia yang membedakannya dengan
makhluk lain. Ciri inilah membuat manusia disebut sebagai anima intelectiva,
berbeda dengan anima sensitive dan anima vegetativa. Manusia memutus
tindakannya melalui berfikir. Proses berfikir merupakan bagian dari
keberfungsian kognitif manusia. Manusia tidak hanya menerima rangsangan
dari apa yang dilihatnya melalui penginderaannya, mengingat peristiwa, serta
menghubungkan peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan landasan hukum
asosiatif, namun mengalami informasi yang diperolehnya melalui pengalaman
serta fungsi kognitifnya. Hal ini membuat berbagai asumsi mengenai
informasi yang diterima manusia di dalam benaknya dengan
mempertimbangkan hal melalui proses berfikir dan mengambil keputusan atas
dasar pertimbangan yang difikirkan secara matang. Inilah ciri yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Satiadarma (Oemarjoedi, 2003:10) mengemukakan penyimpangan
perilaku manusia terjadi karena adanya penyimpangan fungsi kognitif.
Perbaikan perilaku manusia yang mengalami penyimpangan tersebut terlebih
dahulu harus dilakukan perbaikan terhadap fungsi kognitif manusia.
Pernyataan ini menunjukkan pentingnya pengaruh aspek kognitif terhadap
perilaku manusia. Peran kognitif dalam mempertimbangkan utusan untuk
melakukan tindakan tertentu menjadi fokus perhatian dalam pendekatan
Cognitive behaviour therapy.
Cognitive behaviour therapy (CBT) merupakan pendekatan konseling
yang didasarkan atas konseptualisasi atau pemahaman pada setiap konseli,
yaitu pada keyakinan khusus konseli dan pola perilaku konseli. Proses
konseling dengan cara memahami konseli didasarkan pada restrukturisasi
kognitif yang menyimpang, keyakinan konseli untuk membawa perubahan
emosi dan strategi perilaku kearah yang lebih baik. Oleh sebab itu, CBT

1
merupakan salah satu pendekatan yang lebih integrative dalam konseling
(Alford dan Beck, 1997).
Cognitive behaviour therapy (CBT) merupakan suatu pendekatan yang
memiliki pengaruh dari pendekatan kognitif terapi dan behavior therapy. Oleh
sebab itu, Makson dan Ollendick (1988:44) mengungkapkan bahwa cognitive
behaviour therapy merupakan perpaduan pendekatan dalam psikoterapi yaitu
kognitif therapy dan behavior therapy sehingga langkah-langkah yang
dilakukan oleh kognitif therapy dan behavior therapy ada dalam konseling
yang dilakukan oleh CBT. Karakteristik CBT yang tidak hanya menekankan
pada perubahan pemahaman konseli dari sisi kognitif namun memberikan
konseling pada perilaku kearah yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1. Apa pengertian Cognitive Behavior Therapy?
2. Bagaimana biografi tokoh Cognitive Behavior Therapy?
3. Bagaimana sejarah Cognitive Behavior Therapy?
4. Bagaimana pandangan Cognitive Behaviour Therapy terhadap manusia?
5. Bagaimana konsep dasar Cognitive Behavior Therapy?
6. Bagaimana tujuan Cognitive Behavior Therapy?
7. Bagaimana Prinsip-prinsip dasar teori Cognitive Behavior Therapy?
8. Bagaimana teknik konseling Cognitive Behavior Therapy?
9. Apa yang menjadi fokus konseling Cognitive Behavior Therapy?
10. Bagaimana langkah-langkah konseling Cognitive Behavior Therapy?
11. Bagaimana aplikasi Cognitive Behavior Therapy dalam kelompok?
12. Apa Pengertian teknik Social Skill Training?
13. Apa tujuan Social Skill Training?
14. Apa faktor yang mempengaruhi defisitnya keterampilan sosial?
15. Bagaimana indikasi Social Skill Training?
16. Bagaimana tahapan Pelaksanaan Social Skill Training?

2
17. Bagaimana Pelaksanan Social Skill Training?
18. Apa kelebihan dan keterbatasan teknik Social Skill Training?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian Cognitive Behavior Therapy
2. Untuk mengetahui biografi tokoh Cognitive Behavior Therapy
3. Untuk mengetahui sejarah Cognitive Behavior Therapy
4. Untuk mengetahui pandangan teori cognitive behaviour therapy terhadap
manusia
5. Untuk mengetahui konsep dasar Cognitive Behavior Therapy
6. Untuk mengetahui tujuan Cognitive Behavior Therapy
7. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip dasar teori Cognitive Behavior Therapy
8. Untuk mengetahui teknik konseling Cognitive Behavior Therapy
9. Untuk mengetahui fokus konseling dalam Cognitive Behavior Therapy
10. Untuk mengtahui langkah-langkah konseling Cognitive Behavior Therapy
11. Untuk mengetahui aplikasi Cognitive Behavior Therapy dalam kelompok
12. Untuk mengetahui Pengertian teknik Social Skill Training
13. Untuk mengetahui tujuan Social Skill Training
14. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi defisit keterampilan sosial
15. Untuk mengetahui indikasi Social Skill Training
16. Untuk mengetahui tahapan Pelaksanaan Social Skill Training
17. Untuk mengetahui Pelaksanan Social Skill Training
18. Untuk mengetahui kelebihan dan keterbatasan teknik Social Skill Training.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika makalah terdiri dari tiga Bab. Bab I adalah pendahuluan
yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan
makalah. Bab II berisi kajian teori mengenai Cognitive Behaviour Therapy.
Bab III berisi kajian teori teknik social skill training. Bab IV penutup
berisikan kesimpulan.

3
BAB II
COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY

A. Pengertian Cognitive Behavior Therapy


Cognitive Behavior Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Beck
tahun 1976, yang konsep dasarnya meyakini bahwa pola pemikiran manusia
terbentuk melalui proses rangkaian Stimulus Kognisi – Respon (SKR), yang
saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan dalam otak manusia,
dimana proses cognitive akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan
bagaimana manusia berpikir, merasa, dan bertindak (Oemarjoedi, 2006, hlm.
6).
Terapi perilaku kognitif (CBT- Cognitive Behavior Therapy)
menggunakan teori dan riset tentang proses-proses kognitif. Pada faktanya
terapi tersebut menggunakan gabungan paradigma kognitif dan belajar. Para
terapis perilaku kognitif memberikan perhatian pada peristiwa-peristiwa
dalam diri, pemikiran, persepsi, penilaian, pernyataan diri, bahan asumsi-
asumsi yang tidak diucapkan (tidak disadari), dan telah mempelajari serta
memanipulasi proses-proses tersebut dalam upaya memahami dan mengubah
perilaku bermasalah yang terlihat maupun tidak terlihat (Davision, 2006, hlm.
74).
Terapi kognitif-behavioral (cognitive behavioral therapy) ini berusaha
untuk mengintegrasi teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu
individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya perilaku nyata tetapi
juga dalam pemikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya. Terapi
kognitif-behavioral memiliki asumsi bahwa pola pikir dan keyakinan
mempengaruhi perilaku, dan perubahan pada kognisi ini dapat menghasilkan
perubahan perilaku yang diharapkan (Nevid, 2005).

B. Biografi Tokoh Cognitive Behavior Therapy


Aaron Beck lahir pada tanggal 18 Juli 1921 di Providence Rhode
Island. Beck adalah anak keempat dari imigran Yahudi Rusia. Pada usia tujuh
tahun Beck memiliki penyakit fatal yang membuat orang tua Beck semakin

4
overprotektif, sebab salah seorang saudara Beck tidak berhasil untuk bertahan
hidup dan saudara perempuan Beck telah meninggal karena virus influenza
pada tahun 1919. Beck memiliki banyak fobia dan kecemasan ketika tumbuh
dewasa, termasuk takut operasi, ketinggian, sesak napas dan takut berbicara di
depan umum. Saat lulus SMA Beck menjadi lulusan terbaik di kelas dan
melanjutkan kuliah pada jurusan bahasa inggris dan ilmu politik di Brown
University. Kemudian Beck memperoleh MD dalam bidang Psychiatry di
Yale University School of Medicine, kenapa Beck kemudian melanjutkan ke
psikiatri karena masih sedikitnya psikiater, dan Beck meyelesaikan studi
selama enam bulan putaran. Beck memutuskan untuk tetap di psikiatri dan
dari tahun 1950-1952 Beck bergabung dalam psikiatri di Austen Riggs Center
di Stockbridge, Massachusetts. Pada tahun 1953, Beck telah disertifikasi
dalam psikiatri oleh American Board of Psychiatry and Neurology, dan pada
tahun 1958 Beck lulus dari Philadelphia Psychoanalytic Institute. Karya Beck
antara 1960 dan 1963 menyebabkan perkembangan konseling kognitif.

C. Sejarah Cognitive Behavioral Therapy


Secara historis terapi kognitif bisa dirunut kembali kepada karya filusuf
Epictetus yang pada abad pertama masehi berpendapat bahwa orang-orang
tidak tergantung oleh hal-hal jasmaniah, namun terganggu oleh pandangan
mereka tentang hal-hal itu. Lebih lanjut, secara mutakhir akarnya terletak pada
karya John Broadus Waston, seoran psikologi perilaku yang dikenal sebagai
bapak pendekatan perilaku, dan karya fisiolog Rusia, Ivan Petrovic Pavlov,
yang berdasarkan risetnya pada binatang, menghasilkan prinsip-prinsip
pengkondisian klasik (Palmer, 2011: 99). Pengaruh-pengaruh berikutnya
berasal dari psikiatris Alfred Adler yang dalam bukunya berjudul “What Life
Should Mean to You (Apa Seharusnya Makna Kehidupan bagi Anda) menulis
makna tidak ditentukan oleh situasi, namun kitalah yang menentukan diri kita
dengan makna yang kita berikan pada situasi. Kemudian pada 1950-an
Georger Kelly pencipta terapi konstruk personal, berpendapat bahwa individu
adalah ilmuwan yang mengembangkan gagasannya dan kemudian mengujinya

5
dengan mempraktikannya. Karyanya membuka jalan bagi perkembangan
terapi kognitif. Berikutnya karya psikolog seperti Albert Ellis, pendiri terapi
perilaku emotif rasional dan Donald Miechenbaum menekankan pentingnya
proses kognitif. Pada tahun 1960-an terapi kognitif mulai menemukan
bentuknya lewat karya psikiatris Aaron Beck yang tidak puas dengan tidak
adanya dasar ilmiah untuk teori-teori psikoanalitik, membawa kognitif terapi
ke garda depan profesi. Jurnal Cognitive therapy and Research pertama kali
didirikan pada 1977 dan salah satu bukunya Beck yang terkenal Cognitive
Therapy for Depression (Terapi Kognitif untuk Depresi) dipublikasikan Beck
dan kolega-koleganya pada 1979, saat itulah kognitif berkembang pesat
(Palmer 2011, hlm. 100-101).

D. Pandangan Teori Cognitive Behavior Therapy terhadap Manusia


Teori Cognitive Behavior Therapy pada dasarnya meyakini pola
pemikiran manusia terbentuk melalui proses stimulus-kognisi-respon (SKR),
yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak
manusia dimana proses kognitif menjadi faktor penentu dala menjelaksan
bagaimana manusia berikir (Oemarjoedi, 2006, hlm. 3). Sementara dengan
adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap
pemikiran yang rasional dan irrasional. Dimana pemikiran yang irrasional
dapat meninggalkan gangguan emosi dan tingah laku yang menyimpang.
Maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa dan berindak
dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, merumuskan, bertanya,
bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan
perasaannya, konseli diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya dari negatif
menjadi positif (Chodijah, 2016, hlm. 135).

E. Konsep Dasar Cognitive Behavioral Therapy


Teori cognitive behavior pada dasarnya meyakini bahwa pola pemikiran
manusia terbentuk melalui proses rangkaian stimulus –kognisi –respon (SKR),
yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak

6
manusia, dimana proses cognitive akan menjadi faktor penentu dalam
menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak. Sementara
dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap
pemikiran yang rasional dan irasional, dimana pemikiran yang irasional dapat
menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku, maka terapi cognitive
behavior diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak,
dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memusatkan, bertanya,
berbuat, dan memutuskan kembali. Dengan merubah status pikiran dan
perasaannya, klien diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya dari yang
negatif menjadi positif (Oemarjoedi, 2003, hlm. 6). Hal ini sejalan dengan
pendapat, Khodijah (2016, hlm. 135) bahwa harapan dari CBT yaitu
munculnya sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi dan
perilaku ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, terapi cognitive behavior
menitikberatkan pada perubahan yang terjadi pada aspek kognitif dengan
keyakinan akan diikuti oleh perubahan pada perilakunya. Memperjelas
pernyataan tersebut, Gunarsa (2011, hlm. 228) mengemukakan tiga dasar
pokok teori cognitif behavioral yaitu sebagi berikut.
a. Aktivitas kognitif mempengaruhi tingkah laku
b. Aktivitas kognitif dapat dipantau dan diubah-ubah
c. Perubahan perilaku yang dikehendaki dapat dilakukan melalui perubahan
kognitif.

F. Tujuan Cognitive Behavioral Therapy


Tujuan Cognitive Behavior Therapy adalah untuk mengajak konseli
menentang pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti
yang bertentangan dengan keyakinan mereka tentang masalah yang dihadapi
(Kasandra, 2003). Terapis diharapkan mampu menolong klien untuk mencari
keyakinan yang sifatnya dogmatis dalam diri klien dan secara kuat mencoba
menguranginya. Terapis harus waspada terhadap munculnya pemikiran yang
tiba-tiba mungkin dapat dipergunakan untuk merubah mereka. Sementara
sebagian ahli lain berusaha menghargai masa lalu sebagai bagian hidup klien

7
dan mencoba membuat klien menerima masa lalunya, untuk tetap melakukan
perubahan pada pola pikir masa kini demi mencapai perubahan untuk masa
yang akan datang (Oemarjodi, 2003: 9).
Dalam Cognitive Behavior Therapy konselor berupaya membantu klien
untuk merubah pikiran dan pernyataan negatif serta keyakinan tidak rasional
yang dialaminya. Dalam proses ini, beberapa ahli Cognitive Behavior
memiliki pendapat bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalam
terapi, karenanya Cognitive Behavior lebih banyak bekerja pada status
kognitif masa kini untuk dirubah dari negatif menjadi positif (Mirza &
Wiwiek, 2013, hlm. 59).

G. Prinsip-prinsip Dasar Cognitive Behavior Therapy


Adapun prinsip-prinsip dari CBT berdasarkan kajian yang diungkapkan
oleh Beck (2011) adalah sebagai berikut.
1. Prinsip 1: Cognitive Behavior Therapy berdasarkan pada formulasi yang
terus berkembang dari permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif
konseli. Formulasi konseling terus diperbaiki seiring dengan
perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang
strategis, konselor mengkoordinasikan penemuan-penemuan
konseptualisasi kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya
sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berpikir,
merasa, dan bertindak.
2. Prinsip 2: Cognitive Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang
sama antara konselor dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi
konseli. Melalui situasi konseling yang penuh dengan kehangatan, empati,
peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan
membuat pemahaman yang sama tehadap permasalahan yang dihadapi
konseli. Konseli tersebut akan menunjukan sebuah keberhasilan dari
konseling.
3. Prinsip 3: Cognitive Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan
partisipasi aktif. Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling. Maka

8
keputusan konseling merupakan keputuasan yang disepakati dengan
konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling,
karena konseli mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi
konseling.
4. Prinsip 4: Cognitive Behavior Therapy berorentasi pada tujuan dan
berfokus pada permasalahan. Setiap sesi konseling selalu dilakukan
evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. Melalui evaluasi ini
diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran pikiran yang
mengganggu tujuannya, dengan kata lain tetap berfokus pada
permasalahan konseli.
5. Prinsip 5: Cognitive Behavior Therapy berfokus pada kejadian saat ini.
Konseling dimulai dari menganalisis permasalahan konseli pada saat ini
dan disini. Perhatian konseling beralih pada dua keadaan. Pertama, ketika
konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya.
Kedua, ketika konseli terjebak pada proses berpikir yang menyimpang dan
keyakinan konseli di masa lalunya yang berpotensi merubah kepercayaan
dan tingkah laku ke arah yang lebih baik.
6. Prinsip 6: Cognitive Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan
mengajarkan konseli untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan
menekankan pada pencegahan. Sesi pertama CBT mengarahkan konseli
untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk
proses konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT
meyakini bahwa pikiran mempengaruhi emosi dan perilaku. Konselor
membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi
proses berpikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan
rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah lakunya.
7. Prinsip 7: Coginitive Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang
terbatas. Pada kasus-kasus tertentu, konseling membutuhkan pertemuan
antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan waktu
panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan
melatih konseli untuk melakukan self-help.

9
8. Prinsip 8: Cognitive Behavior Therapy yang terstruktur ini terdiri dari tiga
bagian konseling. Bagian awal, manganalisis perasaan dan emosi konseli,
menganalisis kejadian yang terjadi dalam satu minggu kebelakang,
kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling. Bagian tengah,
meninjau pelaksanaan tugas rumah, membahas permasalahan yang muncul
dari setiap sesi yang berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru
yang akan dilakukan. Bagian akhir, melakukan umpan balik terhadap
perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur
ini membuat proses konseling lebih dipahami oleh konseli dan
meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukan self-help diakhir
sesi konseling.
9. Prinsip 9: Cognitive Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggai pemikiran disfungsional
dan keyakinan mereka. Setiap hari konseli memiliki kesempatan dalam
pemikiran-pemikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati,
emosi, dan tingkah laku mereka. Konselor membantu konseli dalam
mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan dengan kondisi realita
serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik
secara emosional, tingkah laku dan mengurangi kondisi psikologis negatif.
10. Prinsip 10: Cognitive Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik
untuk merubah pemikiran, perasaan, dan tingkah laku. Pertanyaan-
pertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan konselor dalam
melakukan konsling cognitive behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik
merupakan inti atau kunci dari evaluasi konseling. Dalam proses
konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor menggunakan teknik-
teknik dalam konseling lain seperti teknik Gestalt, Psikodinamik,
Psikoanalisis, selama teknik tersebut membantu proses konseling yang
lebih singkat dan memudahkan konselor dalam membantu konseli. Jenis
teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor
terhadap konseli, masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor
dalam sesi konseling tersebut.

10
H. Teknik Cognitive Behaviour Therapy
CBT adalah pendekatan psikoterapeutik yang digunakan oleh
konselor untuk membantu individu kearah yang lebih positif. Berbagai
variasi teknik perubahan kognisi, emosi, dan tingkah laku menjadi bagaian
terpenting dalam Cognitive Behavior Therapy. Metode ini berkembang
sesuai dengan kebutuhan konseli, dimana konselor bersifat aktif, direktif,
terbatas waktu, berstruktur, dan berpusat pada konseli.
Konselor atau terapis Cognitive Behavior biasanya menggunakan
berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan kesepakatan perilaku
sasaran dengan konseli. Teknik yang biasa dipergunakan oleh para ahli
dalam Cognitive Behavior Therapy (CBT) (McLeod, 2006, hlm. 157-158)
yaitu sebagai berikut.
1. Menata keyakinan irasional.
2. Bibliotherapy, menerima kondisi emosional internal sebagai sesuatu
yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan.
3. Mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam role
play dengan konselor.
4. Mencoba berbagai penggunaan pernyataan diri yang berbeda dalam
situasi riil.
5. Mengukur perasaan, misalnya mengukur perasaan cemas yang dialami
pada saat ini dengan skala 0-100.
6. Menghentikan pikiran. Konseli belajar untuk menghentikan pikiran
negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif.
7. Desensitization systematic. Digantinya respon takut dan cemas dengan
respon relaksasi dengan cara mengemukakan permasalahan secara
berulang-ulang dan berurutan dari respon takut terberat sampai yang
teringan untuk mengurangi intensitas emosional konseli.
8. Pelatihan keterampilan sosial. Melatih konseli untuk dapat
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.

11
9. Assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan supaya bisa
bertindak tegas.
10. Penugasan rumah. Mempraktikan perilaku baru dan strategi kognitif
antara sesi konseling.
11. In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah
dengan memasuki situasi tersebut.
12. Convert conditioning, upaya pengkondisian tersembunyi dengan
menekankan kepada proses psikologis yang terjadi didalam diri
individu. Peranannya didalam mengontrol perilaku berdasarkan kepada
imajinasi dan presepsi.
I. Fokus Konseling
CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi
atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang
merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke
masa depan dibanding masa lalu. Aspek kognitif dalam CBT antara lain
mengubah cara berpikir, kepercayaan, sikap, asumsi, imajinasi dan
memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam
aspek kognitif. Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah
hubungan yang salah antara situasi permasalahan dengan
kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku,
menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir
lebih jelas.

J. Langkah-langkah Pelaksanaan Konseling Cognitive Behaviour


Therapy
McLeod (2006, hlm. 157), langkah-langkah dilaksanakannya
pendekatan kognitif-behavioral mencakup sebagai berikut.
1. Menciptakan hubungan yang sangat dekat dan aliansi kerja antara
konselor dan klien. Menjelaskan dasar pemikiran dari penanganan
yang akan diberikan.

12
2. Menilai masalah, Mengidentifikasi, mengukur frekuensi, intensitas dan
kelayakan masalah perilaku dan kognisi.
3. Menetapkan target perubahan. Hal ini seharusnya dipilih oleh klien,
dan harus jelas, spesifik dan dapat dicapai.
4. Penerapan teknik kognitif dan behavioral (perilaku).
5. Memonitor perkembangan, dengan menggunakan penilaian berjalan
terhadap perilaku sasaran.
6. Mengakhiri dan merancang program lanjutan untuk menguatkan
generalisasi dari apa yang didapat.
Sementara Froggatt (2009, hlm. 4-5), proses konseling cognitive
behaviour therapy (CBT) adalah sebagai berikut.
1. Bekerjasama dengan konseli (engage client)
a. Membangun hubungan dengan konseli yang dapat dicapai dengan
mengembangkan empati, kehangatan dan penghargaan.
b. Memperhatikan tentang “secondary disturbances” atau hal yang
mengganggu konseli yang mendorong konseli mencari bantuan.
c. Memperlihatkan kepada konseli tentang kemungkinan perubahan
yang bisa dicapai dan kemampuan konselor untuk membantu
konseli mencapai tujuan konseling CBT.
2. Melakukan assesmen terhadap masalah, orang dan situasi (assess the
problem, person and situation)
a. Mulai dengan mengidentifikasi pandangan-pandangan tentang apa
yang menurut konseli salah
1) Adakah relasi dengan hal klinis?
2) Menanyakan personal atau sejarah masalahnya
3) Menilai keparahan masalah atau yang paling mengganggu
4) Perhatikan dampak/ faktor-faktor kepribadian yang relevan.
b. Mempersiapkan konseli untuk terapi (prepare the client for
therapy)

13
1) Mengklasifikasi tujuan konseli; spesifik (Specific), dapat
diukur (Measurable),dapat dicapai atau diraih (Achievable),
realistis (Realistic), memiliki batas waktu (Time frame)
2) Memotivasi konseli untuk berubah.
3) Mengajarkan prinsip dasar CBT, termasuk model ABC
4) Mendiskusikan pendekatan dan teknik yang akan diterapkan
5) Mengembangkan kontrak dengan konseli
c. Mengimplementasikan program penanganan (Implement the
treatment programme)
1) Mengubah belief yang maladaptif dan disfungsional
2) Mengaplikasikan dialog ‘socrates’ untuk mengubah belief
3) Memberikan homework assignment
4) Implementasi teknik CBT
5) Menganalisis ABC
6) Memahami belief yang berkembang
d. Mengevaluasi kemajuan (evaluative progres)
Pada menjelang akhir intervensi konselor memastikan apakah
konseli mencapai perubahan yang signifikan dalam berfikir atau
perubahan tersebut disebabkan oleh faktor lain.
e. Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri proses konseling
(Prepare the client for termination)
1) Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri proses konseling
dengan menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai. Selain
itu, mempersiapkan konseli untuk dapat menerima adanya
kemungkinan kemunduran dari hasil yang sudah dicapai atau
kemungkinan mengalami masalah dikemudian hari.
K. Aplikasi: Teraupetik CBT dalam Kelompok

Pendekatan CBT terhadap kelompok menawarkan janji besar bagi


individu yang ingin belajar keterampilan yang diperlukan untuk
manajemen diri. Area dimana individu bisa belajar mengendalikan
perilaku dan membawa perubahan diri secara langsung seperti:

14
mengendalikan makan berlebihan, minum dan merokok dan belajar
disiplin diri ditempat kerja atau di sekolah. Beberapa orang tidak dapat
mencapai tujuan tertentu dalam pekerjaan mereka karena upaya mereka
terhalang oleh kurangnya organisasi, mereka tidak tahu bagaimana
memulai kegiatan, mempertahankan upaya mereka, cara untuk
menghindari/ melumpuhkan keputusasaan yang mereka alami ketika
mereka gagal mencapai dalam tujuan. permasalahan tersebut dapat
ditangani melalui pendekatan kelompok behavioural yang akan membantu
memberikan pedoman dan perencanaan yang diperlukan untuk melakukan
perubahan diri secara langsung (Corey, 2012).

Corey (2012) mengemukakan teknik perilaku dan kognitif yang


berlaku untuk kerja kelompok. Adapun teknik cognitive therapy
behavioural yang dikelompokkan berdasarkan empat pendekatan umum
yang dapat diterapkan untuk praktek kelompok antara lain: 1) social skill
training, 2) cognitive therapy groups, 3) stress management groups, and
4) mindfulness and acceptance based cognitive behaviour therapy.

15
BAB III
TEKNIK SOCIAL SKILL TRAINING

A. Pengertian Social Skill Training


Social skill traning (SST) merupakan suatu terapi yang mengajarkan
seseorang untuk mampu melakukan sosialisasi dengan cara membangun
keterampilan sosial sehingga dapat menciptakan hubungan positif dengan
teman sebayanya (Koiv, 2012) dan meningkatkan kemampuan seseorang
dalam berinteraksi secara efektif dengan orang lain dalam berbagai situasi
sosial (Corey, 2012). Selain itu, social skill training juga diterapkan secara
luas dan efektif untuk berbagai masalah psikososial yang meliputi depresi,
kecemasan, schizophernia, kesepian dan tekanan dalam perkawinan (Segrin,
2009).
Social skill training didasarkan pada keyakinan bahwa keterampilan
dapat dipelajari bagi seseorang yang tidak memilikinya (Stuart & Laraia,
2005). Senada dengan itu, Carson (2000) juga mengatakan bahwa sosial skill
training adalah proses belajar dimana seseorang belajar cara fungsional dalam
berinteraksi. Lebih jelasnya, social skill training merupakan kemampuan yang
dapat dipelajari oleh seseorang sehingga memungkinkan orang tersebut
berinteraksi dengan memberikan respon positif terhadap lingkungan dan
mengurangi respon negatif yang mungkin hadir pada dirinya (Cartledge &
Milbun, 1995).
Social skill training merupakan intervensi dengan menggunakan
pendekatan khusus yang bertujuan untuk mengembangkan peningkatan suatu
perilaku prososial. Individu diajak untuk mengembangkan keterampilan
alternatif yang tepat dalam menginterpretasi sinyal sosial dan menghasilkan
strategi yang tepat terhadap suatu perilaku baru dan lebih adaptif dengan
lingkungan sosial. Selain itu, SST juga merupakan suatu intervensi yang
memiliki peran secara tidak langsung untuk menurunkan perilaku agresif
(Jones, 2004).
Pendekatan SST menekankan dengan memberikan pengenalan pada
individu suatu keterampilan baru yang dapat diterapkan untuk menghasilkan

16
suatu perilaku baru dan akhirnya akan menghasilkan suatu respon positif dari
orang lain, meningkatkan hubungan dan relasi dengan teman sebaya yang
lebih positif dan mengurangi penggunaan perilaku yang kurang diterima oleh
lingkungan sosial (Jones, 2004).
Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan sosial skill
training merupakan suatu intervensi untuk mengembangkan keterampilan
sosial yang berhubungan dengan kemampuan seseorang berinteraksi secara
efektif dengan orang lain dalam berbagai situasi sosial yang dapat diterima
dan dihargai secara sosial. Hal ini melibatkan kemampuan untuk memulai dan
menjaga interaksi positif dan saling menguntungkan.
B. Tujuan Social Skill Training
Tujuan social skill training (SST) adalah untuk meningkatkan
kemampuan sosial (Landeen, 2001, dalam Kneisl, dkk. 2004), keterampilan
interpersonal pada klien, dengan cara melatih keterampilan sosial klien yang
selalu digunakan dalam hubungan dengan orang lain dan lingkungan. Menurut
Eikens (2000) social skills training bertujuan; 1) meningkatkan kemampuan
sesorang untuk mengekspresikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan; 2)
menolak dan menyampaikan adanya suatu masalah; 3) mampu memberikan
respon saat berinteraksi sosial; 4) mampu memulai interaksi; 5) mampu
mempertahankan interaksi yang telah terbina.
Menurut Michelson, dkk. (1985) social skills training dirancang untuk
meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial bagi
seseorang yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi meliputi:
keterampilan memberikan pujian, mengeluh karena tidak setuju, menolak
permintaan orang lain, tukar menukar pengalaman, menuntut hak pribadi,
memberi saran pada orang lain, pemecahan masalah yang dihadapi,
bekerjasama dengan orang lain, dan beberapa tingkah laku lain yang tidak
dimiliki klien.
C. Defisit Keterampilan Sosial
Social skill training merupakan sebuah intervensi untuk meningkatkan
keterampilan sosial individu. Akan tetapi, sebelumnya perlu diketahui

17
beberapa faktor penyebab individu tidak menunjukkan keterampilan sosial
yang memadai di antaranya: anak tidak memiliki intervensi mengenai
keterampilan sosial yang menunjang, lingkungan tidak memberikan
encouragement yang cukup pada anak untuk berperilaku walaupun sebenarnya
anak mengetahui bagaimana perilaku tersebut dilakukan. Tidak ada reward
terhadap perilaku sosial yang telah dilakukan, dan adanya perasaan yang tidak
menyenangkan seperti, kecemasan atau rasa takut yang berhubungan dengan
perilaku sosial yang sesuai sehingga anak menghindar dari perilaku atau anak
tidak menampilkan perilaku tersebut.
Elliot & Gresham (dalam Bakhtiary, 2009: 6-7) menjabarkan beberapa
faktor yang dapat berkontribusi di dalam defisit keterampilan sosial seseorang
yaitu sebagai berikut.
1. Lack of Knowledge
Anak kemungkinan kurang memahami tujuan dalam berinteraksi dengan
teman sebaya dan anak kurang mengetahui strategi perilaku untuk mencapai
tujuan perilaku sosial yang sesuai serta tidak mengetahui cara berperilaku
yang tepat.
2. Lack of Practice or feedback
Individu kurang memiliki keterampilan sosial disebABKan kurangnya
kesempatan untuk melatih keterampilan sosial dan jarang menampilkan
keterampilan tersebut. Selain itu, juga disebABKan karena individu kurang
mendapatkan umpan balik dari perilaku yang ditampilkan.
3. Lack of Cues or Opportunities
Individu mengalami hambatan dalam keterampilan sosial disebABKan
karena tidak adanya petunjuk sosial (social cues) untuk melakukan perilaku
yang sesuai dan kurangnya kesempatan anak untuk menampilkan
keterampilan sosial pada beberapa kondisi dan situasi.
4. Lack of Reinforcement
Individu mengalami defisit keterampilan sosial disebABKan karena
kurangnya faktor penguat (reinforcement) dari lingkungan. Oleh karena itu,

18
penguat (reinforcement) sosial seperti: pujian dan acungan jempol sangat
penting dilakukan saat individu menampilkan perilaku yang sesuai.
5. Interfering Problem Behavior
Faktor terakhir yang dapat berkontribusi terhadap defisit di dalam
keterampilan sosial anak adalah adanya masalah perilaku yang dimiliki oleh
anak yang disebABKan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal
misalnya; bertengkar, tempertantrum, sedangkan faktor internal misalnya:
kecemasan, depresi, dan self esteem rendah dan masalah hiperaktivitas.
D. Teknik Social Skill Training
Teknik menjadi kunci dasar dalam pelaksanaan program social skill
training (Segrin, 2009). Social skill training terdiri atas kumpulan beberapa
teknik. Tidak semua program social skill training memanfaatkan setiap teknik
ini, akan tetapi banyak program yang dikembangkan lebih baik dan lebih
sukses menggunakan sebagian besar teknik tersebut. Adapun teknik-teknik
dalam pelaksanaan social skill training yang dapat diimplementasikan dalam
seting individual maupun kelompok adalah sebagai berikut.
Tabel 1.
Kunci dasar pelaksanaan social skill training (Segrin, 2009)
1. Asesment/Penilaian: Menentukan spesifik area yang mengalami defisit
keterampilan sosial melalui self report, observasi dan asesmen lainnya.
2. Direct Intruction/ : Terapis memberikan gambaran mengenai pelaksanaan
social skill training sehingga klien memperoleh pengetahuan terhadap
aktivitas dalam social skill training dan termotivasi untuk
melaksanakannya.
3. Modelling: dilakukan dengan cara memperlihatkan contoh tentang
keterampilan perilaku spesifik yang dapat dipelajari oleh klien. Model
ini dapat dilakukan langsung oleh terapis atau pemeran, model
melalui video atau gabungan terapis dengan model di video.
4. Role Playing: Bermain peran/ role playing diatur dengan deskripsi adegan
fiktif yang menyerupai situasi bermasalah di mana perilaku yang baru
diinginkan.
5. Homework Assignments: Terapis meminta klien mengaplikasikan
keterampilan sosial dalam kehidupan sehari-hari, hal ini merupakan
pekerjaan rumah bagi klien .

19
1. Asesment
Social skill training dimulai dengan tahap asesment. Sebagaimana
social skill training bukanlah teknik yang spesifik. Hasil asesement akan
menentukan keputusan jenis social skill training yang akan menjadi fokus
selama pelatihan. Asesmen keterampilan sosial dapat dilakukan dengan
berbagai metode. Salah satu metode yang populer dan hemat biaya adalah
penggunaan self-report Instruments. Terdapat banyak instrumen yang
populer dan psikometrik untuk menilai keterampilan sosial seperti
Inventarisasi Keterampilan Sosial atau untuk menilai keterampilan sosial
dalam domain interpersonal tertentu, seperti Kuesioner Kompetensi
Interpersonal (Buhrmester, Furman, Wittenberg, & Reis, 1988 dalam
Segrin, 2009).
Keterampilan sosial secara efektif juga dapat dinilai melalui
pengamatan perilaku/ observasi. Idealnya pengamatan perilaku
memerlukan konteks naturalistik, penggunaan tahap role play dengan
terapis akan menjadi mekanisme yang berguna untuk mengamati perilaku
sosial klien yang terampil dan tidak terampil. Metode ketiga, untuk
penilaian keterampilan sosial adalah dengan melibatkan observasi dari
pihak ketiga seperti: guru, orang tua, teman sekamar, atau teman klien
yang dapat memberikan beberapa informasi tentang bagaimana individu
berperilaku dalam berbagai situasi sosial.
2. Direct Intruction/Coaching
Konselor memberikan gambaran mengenai pelaksanaan social skill
training sehingga konseli memperoleh pengetahuan terhadap aktivitas
dalam social skill training dan termotivasi untuk melaksanakannya.
Menjelaskan tujuan dan maksud dari suatu perilaku dalam menjalin
hubungan interpersonal dengan orang lain sehingga dapat mengetahui
kegunaannya dan manfaat dari perilaku tersebut menjadi hal yang penting
pada tahapan ini. Tanpa adanya bimbingan atau arahan instruksi, akan
menimbulkan risiko konseli tidak mengetahui alasan mempelajari dan

20
menggunakan keterampilan sosial yang akan dilatihkan, dan tidak
mengetahui kapan dan mengapa menggunakannya.
3. Modelling
Permodelan digunakan oleh individu untuk mendapatkan perilaku
baru (Bandura, 1977 dalam Segrin 2009). Oleh karena itu, sebagian besar
pelatih keterampilan cenderung memasukkan permodelan sebagai bagian
penting dari paket pelatihan keterampilan sosial. Bahkan, Liberman, dkk.
(1989) berpendapat bahwa cara paling efektif untuk mengajarkan perilaku
sosial yang kompleks adalah melalui pemodelan dan peniruan. Pemodelan
dapat disajikan baik dalam rekaman video atau dalam penggambaran
langsung. Tujuan pemodelan adalah untuk menunjukkan penggunaan
perilaku tertentu yang efektif, dan terkadang tidak efektif. Orang yang
mengalami kesulitan mengatakan dan melakukan hal-hal tertentu ketika di
hadapan orang lain kadang-kadang lebih nyaman melakukannya setelah
melihat orang lain melakukan perilaku terlebih dahulu. Untuk alasan ini
pemodelan merupakan komponen penting dan efektif dari banyak program
social skill training.
4. Role Playing
Pelatihan dan pemodelan adalah teknik pasif di mana peserta
pelatihan menyerap informasi yang disajikan oleh pelatih. Namun,
bermain peran secara harfiah adalah interaktif. Teknik pembelajaran yang
menuntut produksi dan praktik perilaku aktual. Tujuan bermain peran
adalah untuk membuat klien mempraktikkan perilaku yang diinginkan
dalam pengaturan yang terkendali di mana mereka dapat diamati dan dari
mana umpan balik dan penguatan dapat ditawarkan.
Bermain peran/ role playing diatur dengan deskripsi adegan fiktif
yang menyerupai situasi bermasalah di mana perilaku yang baru
diinginkan. Penggunaan efektif role playing di dalam pelatihan
keterampilan sosial harus mencakup lebih dari sekadar produksi dan
praktik perilaku sederhana pada bagian peserta pelatihan. Sangat penting
pelatih memberikan kritik terperinci dan penguatan positif yang berlimpah

21
untuk perilaku yang sesuai dan yang diinginkan. Dianjurkan agar konseli
menjalankan kembali adegan itu, melakukan beberapa kali untuk
menghasilkan respons yang diinginkan (Liberman, dkk. 1989). Klien harus
diingatkan bahwa tidak apa-apa jika segalanya tidak berjalan lancar pada
percobaan pertama. Salah satu alasan bermain peran/ role playing dalam
teknik social skill training adalah karena bermain peran memungkinkan
konseli untuk mempraktikkan perilaku yang diinginkan dalam pengaturan
yang terkontrol, sementara juga memungkinkan pelatih untuk melakukan
pengamatan dan menilai kemajuan konseli.
5. Homework Assigment
Teknik homework assignment yaitu teknik yang dilaksanakan
dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan
menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah
laku yang diharapkan (Wilis, 2013). Komalasari, dkk. (2011)
mengemukakan tujuan homework assignment adalah untuk membina dan
mengembangkan sikap bertanggung jawab, percaya pada diri sendiri serta
kemampuan untuk mengevaluasi kemajuan dalam mempraktikan
keterampilan yang baru atau perilaku baru dalam situasi kehidupan nyata.
Melalui pemberian tugas diharapkan konseli dapat menghilangkan
ide-ide atau perasaan-perasaan tertentu, mempraktekkan repspon-
respon tertentu, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan
untuk mengubah aspek kognisinya yang keliru, melakukan latihan-
latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Selanjutnya tugas
yang diberikan, dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap
muka dengan konselor.
E. Pelaksanaan Social Skill Training
Menurut Stuart dan Laraia (2005); Bulkeley dan Cramer (1990),
pelaksanaan social skills training dapat dilakukan secara individu atau
kelompok. Ada beberapa keuntungan apabila dilakukan secara kelompok,
yaitu; penghematan tenaga, waktu dan biaya. Bagi klien yang mengalami

22
ketidakmampuan berinteraksi, social skills training merupakan miniatur
masyarakat sesungguhnya, masing-masing anggota mendapatkan kesempatan
melakukan praktik dalam kelompok sehingga mereka melakukan perilaku
sesuai contoh dan merasakan emosi yang menyertai perilaku. Masing-masing
anggota kelompok saling memberi umpan balik, pujian, dan dorongan.
Untuk pelaksanaan social skills training dalam kelompok ada beberapa
syarat yang harus dipenuhi. Besar kelompok tidak lebih dari 12 orang
(Michelson, dkk. 1985). Kelompok terlalu besar akan membawa akibat
negatif, karena masing-masing anggota kelompok memiliki kesempatan
berlatih sedikit. Social skills training dilakukan 1-2 jam perhari dalam 10-12
kali pertemuan untuk klien yang mengalami defisit keterampilan sosial dan
penurunan kemampuan berinteraksi. Bagi konseli yang hanya ingin
meningkatkan keterampilan sosial atau ingin menambah pengalaman dapat
dilaksanakan 1-2 hari saja (Prawitasari, dkk. 2002).
Teknik-teknik social skill training terwujud ke dalam tahapan
pelaksanaannya. Secara khusus ada 4 (empat) tahapan yang dapat
dikembangkan dalam social skills training menurut Stuart dan Laraia (2005);
Ramdhani (2002); Bulkeley dan Cramer (1990), yaitu sebagai berikut.
1. Menggambarkan perilaku baru untuk dipelajari dengan cara memberikan
bimbingan kepada klien yang mengalami gangguan hubungan
interpersonal.
2. Mempelajari perilaku baru dengan menggunakan bimbingan dan
demonstrasi.
3. Mempraktikkan perilaku baru dengan memberikan umpan balik.
4. Memindahkan perilaku baru dalam lingkungan.
Menurut Rogers 1961 (dalam Prawitasari 2002) sikap yang harus dimiliki
konselor, adalah:
1. Harmonis dan tulus
2. Terbuka terhadap diri dan perasaannya terlebih dahulu
3. Merasakan apa yang sedang dialami oleh konseli dan melakukan sesuatu
tindakan atau perilaku yang dibutuhkan konseli

23
4. Menunjukan penghargaan positif bagi konseli
5. Sikap penuh penerimaan dan perhatian tulus terhadap konseli
6. Peduli dalam usaha menolong konseli.
F. Kelebihan dan Kekurangan Social Skill Training
1. Kelebihan
a. Social skills training sangat cocok diterapkan untuk konseli yang
mengalami masalah psikososial yang setidaknya disebabkan oleh kesulitan
menjalin hubungan interpersonal. Kesulitan-kesulitan tersebut misalnya:
tekanan bela diri, kurang bisa menjalin hubungan pertemanan, dukungan
sosial yang tidak memadai, kesulitan memulai hubungan baru, hubungan
yang tidak baik dengan rekan kerja dan kurangnya jaringan sosial.
b. Social skills training membantu klien untuk meningkatkan kualitas
komunikasi dengan orang lain.
c. Pelatihan keterampilan sosial memiliki penerapan dan utilitas yang sangat
luas. Fitur yang sangat menarik dari pelatihan keterampilan sosial adalah
keterampilan dapat dengan mudah disesuaikan untuk memenuhi
kebutuhan khusus klien.
2. Keterbatasan
a. Meskipun penerapan teknik sosial skill training luas untuk mengobati
banyak masalah psikososial, ada keadaan yang akan membatasi efektivitas
teknik sosial skill training. Sosial skill training sangat bergantung pada
proses pembelajaran, konseli dengan ketidakmampuan belajar yang
mendalam kemungkinan tidak akan memperoleh manfaat dari bentuk
pelatihan keterampilan sosial yang lebih canggih. Prasyarat terkait untuk
pelatihan keterampilan sosial termasuk kemampuan untuk memperhatikan
konselor setidaknya selama 50-90 menit pada suatu waktu, kemampuan
untuk memahami dan mengikuti instruksi untuk perilaku yang tepat dan
efektif, dan yang paling penting, motivasi untuk belajar baru, dan tingkah
laku sosial (Liberman, dkk. 1989). Untuk alasan ini, konseli dengan defisit
perhatian yang parah atau gangguan pikiran kasar mungkin tidak
merespon dengan mudah pelatihan keterampilan sosial. Konseli dengan

24
motivasi rendah untuk meningkatkan hubungan interpersonal mereka,
seperti: orang dengan kepribadian antisosial atau katotonia tidak mungkin
untuk menuai manfaat langsung untuk pelatihan keterampilan sosial.
b. Kurangnya pengembangan metodologi social skills training seperti:
kurangnya kerangka teoritis, paradigma, atau model yang terpadu untuk
mengkonseptualisasikan proses pembelajaran/pelatihan keterampilan.

25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karakteristik konseling di Indonesia menginginkan proses konseling
yang cepat dan memiliki hasil yang baik. Konseli enggan untuk melakukan
konseling yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, ada baiknya
konseling bukan bersifat menceramahi atau hanya ngobrol antara konselor dan
konseli. Oleh sebab itu, konseling harus berorientasi pada efektivitas waktu
dan tidak hanya bersifat wacana saja.
Cognitif Behavior Therapy (CBT) menawarkan alternatif konseling
yang bukan berbentuk ceramah, tapi melatih konseli untuk melakukan
perubahan-perubahan tingkah laku untuk membuktikan pikiran yang
menyimpang. CBT menekankan pada restrukturisasi kognitif yang
menyimpang, kemudian perubahan-perubahan kognitif tersebut diperkuat
dengan pelatihan tingkah laku. Perubahan antara kognitif yang diperkuat
perubahan tingkah laku membuat permasalahan yang dihadapi oleh konseli
terselesaikan dengan segera sehingga konseli dapat berfikir, merasa, dan
bertindak dengan tepat.
CBT tidak melarang konselor untuk mempergunakan teknik lain yang
lebih kreatif agar konseling dapat berjalan dengan baik. Prinsip tersebut
menunjukkan CBT dipengaruhi oleh teknik-teknik atau teori konseling yang
sebelumnya telah ada. Artinya munculnya teori CBT bukan berarti
mematahkan teori atau teknik yang telah ada bahkan CBT menganggap teknik
yang terdahulu dapat dipergunakan untuk melengkapi teknik CBT.

26
DAFTAR PUSTAKA

Beck, Judith S. (2011). Cognitive-Behavior Therapy: Basic and Beyond (2nd ed).
New York: The Guilford Press.

Carson, V.B. (2000). Mental Health Nursing: The nurse-patient journey. (2th ed.).
Philadelphia: W.B. Sauders Company.

Cartledge, G., Milbun, J.F.(1995). Teaching social skills to children and youth:
Innovative Appoach, (3rd ed). Boston: Allyn and Bacon.

Chen, K and Walk. (2006). Social skills training intervension for students with
emotional/behavioral disorders: A literature review from the American
perspective.

Chodijah, S. (2016). Filsafat Bimbingan dan Konseling. Bandung: CV Mimbar


Pustaka.

Eikens, C. (2000). Social skills training, www.patneal.org./TBI.pdf, diperoleh


tanggal 08 Oktober 2018.

Elliot, S.N & Gresham, F.M. (1993). Social skills interventions for children.
Behav Modif 1993;17:287–313.

Froggatt, W. (2009). A Brief Introduction To Cognitive Behaviour Therapy.

Gunarsa, S. (2011). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Libri.

Kasandra, O. (2003). Pendekatan Cognitive Behavior Therapy dalam Psikoterapi.


Jakarta: Kreativ Media.

Kneisl, C.R., Wilson, H.S & Trigoboff, E. (2004). Contemporary psychiatric


mental health nursing. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

McLeod, J. (2006). Pengantar Konseling: Teori dan Studi Kasus. Alih Bahasa
oleh A.K. Anwar. Jakarta: Kencana.

Mercer, Y & Rubin, K.H. (1997). Social withdrawal, inhibition. New Jersey:
Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Michelson, L., Sugai, P.D & Wood, R.P. (1985). Social skills assesment. New
York: Plenum press.

27
Nevid, J.S. (2005). Psikologi Abnormal/Edisi Kellima/Jilid 1. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Oemarjoedi, K. (2003). Pendekatan Cognitive Behavior Dalam Psikoterapi.


Jakarta: Kreativ Media.

Palmer, S. (2011). Konseling Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prawitasari, J.E., Rochman, M,. Ramdhani, N dan Utami, M.S. (2002).


Psikoterapi: Pendekatan konvensional dan kontemporer. Yogyakarta:
Pustaka pelajar offset.

Stuart, G.W., & Laraia M.T (2005). Principles and practice ofpsychiatric nursing,
(8th ed), St. Louis: Mosby.

28