Anda di halaman 1dari 9

IMPROVING THE SOCIAL-BEHAVIORAL ADJUSTMENT OF

ADOLESCENTS: THE EFFECTIVENESS OF A SOCIAL SKILLS GROUP


INTERVENTION

REVIEW JURNAL

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Bimbingan Kelompok yang
Diampu oleh Dr. Agus Taufik, M.Pd dan Dr. Nandang Budiman, M.Si

oleh.
Emria Fitri
1707587

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2018
Improving the Social-Behavioral Adjustment of Adolescents:
The Effectiveness of a Social Skills Group Intervention

A. Identitas Jurnal
Judul : Improving the Social-Behavioral Adjustment of
Adolescents: The Effectiveness of a Social Skills
Group Intervention
Jurnal : J Child Fam Stud
Kata Kunci : Remaja, Keterampilan sosial, Intervensi
Kelompok
Penulis : Amanda W. Harrell, Sterett H. Mercer, Melissa E.
DeRosie
Tahun Terbit : 2009
Di Publikasikan oleh : Springer Science+Business Media, LLC 2008

B. Pembahasan Jurnal
1. Isi Jurnal
Penelitian ini membahas keefektifan sebuah program keterampilan
sosial khusus untuk remaja yaitu Social Skills Group Intervention-
Adolescence (S.S.GRIN-A). Adapun subjek penelitiannya adalah remaja
usia 13-16 tahun beserta orang tua mereka yang dibagi kedalam 2
kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil
penelitian sebelum dan sesudah pemberian intervensi pada remaja
kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan perbandingan terkait: konsep
diri, self-efficacy sosial, masalah internalisasi, dan eksternalisasi. Remaja
dalam kelompok eksperimen menunjukkan peningkatan konsep diri
global, peningkatan self-efficasy sosial, dan menurunkan masalah
internalisasi dibandingkan dengan remaja dikelompok kontrol. Tidak ada
perbedaan dalam penurunan perilaku eksternalisasi ditemukan.
2. Tujuan Penelitian
Mengevaluasi suatu program pelatihan keterampilan sosial yaitu
Social Skills Group Intervention-Adolescent (S.S.GRIN-A) untuk
meningkatkan keterampilan sosial, emosional dan penyesuaian tingkah
laku remaja. Secara menyeluruh tujuan dari S.S.GRIN-A adalah untuk (1)
belajar dan mempraktikkan keterampilan sosial yang utama, seperti
manajemen marah, kontrol impuls, komunikasi, dan kerja sama; (2)
meningkatkan konsep diri dan mempromosikan minat positif; (3)
mengembangkan sifat karakter positif, seperti rasa hormat, tanggung
jawab, ketekunan, dan motivasi; (4) kuasai strategi coping yang lebih
adaptif untuk menghadapi konflik sosial; (5) membangun empati dan
kemampuan untuk melihat sudut pandang orang lain; (6) mengurangi
konflik dengan orang lain dan meningkatkan keterampilan pemecahan
masalah sosial; dan (7) berkembang hubungan sosial yang positif dan
mengurangi afiliasi antisosial dengan teman sebaya.
3. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis penelitian ini adalah remaja yang telah mengikuti
intervensi kelompok S.S.GRIN-A akan menunjukkan: (1) peningkatan
konsep diri, (2) peningkatan self-efficacy sosial, dan (3) penurunan
internalisasi dan eksternalisasi.
masalah
4. Subjek Penelitian
Subjek penelitian terdiri atas tujuh puluh empat remaja (usia 13–16
tahun) yang memiliki kesulitan dalam hubungan sosial seperti: suka
membuat masalah, menganggu teman, sering terlibat perkelahian, pemalu
dan terisolir. Subjek penelitian kemudian dibagi ke dalam 2 kelompok
yaitu kelompok eksperimen (N=40) dan kelompok kontrol (N=30).
Adapun distribusi ras sampel adalah: 79% Putih, 13,5% Afrika Amerika,
1,4% Hispanik, 2,7% Asia, dan 1,4% Hawaiian. Orang tua dari remaja
juga ikut berpartisipasi dalam intervensi S.S.GRIN-A sebanyak empat sesi
pertemuan serta ikut mengisi kuesioner postest.
5. Instrumen Penelitian
a. Social Self-Efficacy
Self-Efficacy Questionnaire for Social Skills (SEQSS) digunakan untuk
menilai efikasi diri remaja (SE; tingkat di mana seorang anak percaya
dirinya bisa melakukan tugas sosial).
b. Self Concept
Konsep diri remaja diukur menggunakan Youth’s Self-Concept Scale
yang dikembangkan oleh Piers Harris, Edisi Kedua (PiersHarris 2). The
Piers-Harris 2 menilai konsep diri dalam individu yang berusia 7–18
tahun. Kuesioner terdiri dari 60 laporan diri ya / tidak ada item yang
memberikan indikator umum konsep diri atau harga diri (skala total).
6. Prosedur Penelitian
a. Deskripsi intervensi
S.S.GRIN-A adalah pelatihan keterampilan sosial kelompok selama 12
minggu. S.S.GRIN-A dirancang untuk meningkatkan hubungan sosial,
perilaku, dan fungsi emosional remaja usia 13–16 tahun. Setiap sesi
mencakup instruksi didaktik yang dikombinasikan dengan praktik aktif
(misalnya, permainan peran, pemodelan, kegiatan langsung). Program ini
terdiri dari tiga bagian. Bagian I (sesi 1–5) menyediakan fondasi untuk
pengendalian dorongan dan pembangunan keterampilan sosial dengan
mengajarkan konsep inti yang penting untuk dipahami diri dan orang lain.
Bagian II (sesi 6-10) berusaha untuk meningkatkan kesadaran remaja
tentang bagaimana perasaan dan fikiran dapat mengganggu perilaku sosial
mereka. Membangun hubungan antara komponen kognitif dan emosional.
Secara khusus, Bagian II dibangun di atas landasan kepercayaan diri dan
tanggung jawab pribadi dalam lima sesi sebelumnya dan memperkenalkan
keterampilan penting untuk mengelola emosi (misalnya, bernafas) dan
membentuk dan mempertahankan hubungan (misalnya, komunikasi dan
pengambilan perspektif). Di bagian akhir, Bagian III (sesi 11 dan 12),
pertumbuhan remaja telah membuat seluruh kurikulum dipadatkan dan
maju. Menuju tujuan ini, meninjau remaja, mengintegrasikan, dan
mempraktekkan konsep dan keterampilan yang telah mereka pelajari.
Selain keterampilan sosial dasar yang diajarkan dan dipraktikkan di
seluruh S.S. GRIN-A, sikap dan karakter prososial ditekankan di semua
sesi grup.
b. Pemimpin Kelompok
Setiap kelompok dipimpin oleh dua profesional terlatih. Setiap
pemimpin kelompok minimal memiliki gelar master dalam bidang
kesehatan bidang layanan (misalnya, konseling sekolah, psikologi klinis,
dan kerja sosial) serta memiliki pengalaman langsung di lapangan dalam
mengelola intervensi kelompok dengan remaja. Pemimpin kelompok
diberikan pelatihan oleh pengembang program mengenai prosedur
treatment dan bahan. Integritas treatment dipantau dan dipertahankan
dengan beberapa metode: (1) catatan standar kemajuan diselesaikan oleh
pemimpin kelompok setelah setiap sesi dan (2) masing-masing pemimpin
kelompok menyelesaikan tahapan pada setiap sesi sebagai bentuk
kepatuhan dalam menjalankan treatment.
b. Prosedur Intervensi
Subjek penelitian eksperimen yang berjumlah 40 orang dibagi
kedalam 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 8 orang
remaja dan orang tua. Remaja yang berada dalam kelompok eksperimen
berpartisipasi dalam 12 sesi pertemuan dengan durasi waktu 60 menit.
Orang tua berpartisipasi dalam 4 sesi (1, 5, 10 dan 12) dengan anak
mereka.
C. Hasil Penelitian
Remaja yang berpartisipasi dalam program S.S.GRIN-A
menunjukkan peningkatan yang signifikan secara statistik dalam konsep
diri global dan kemandirian sosial, dan penurunan signifikan secara
statistik dalam perilaku internalisasi (yaitu, depresi dan kecemasan)
dibandingkan dengan remaja yang tidak berpartisipasi dalam program ini.
Artinya, program S.S.GRIN-A tampaknya efektif dan berdampak positif
pada sosial dan fungsi emosional pada kelompok campuran remaja laki-
laki dan perempuan yang memiliki kesulitan dalam hubungan sosial.
Hasil penellitian menunjukkan bahwa remaja merasa dirinya menjadi
lebih baik dan memiliki kepercayaan diri yang lebih setelah ikut
berpartisipasi dalam program S.S.GRIN-A. Konsep diri yang tinggi
memprediksi penyesuaian diri dimasa depan, dan bukti terbaru
menunjukkan, harga diri yang tinggi secara positif akan berdampak pada
kesehatan, kesejahteraan, dan hubungan sosial (DuBois dan Flay2004;
Cheng dan Furnham2004; Murray 2005; Sedikides et al. 2004;
Trzesniewski dkk. 2006).
Peneliti memprediksi bahwa remaja yang berpartisipasi dalam
program S.S.GRIN-A akan menunjukkan penurunan perilaku internalisasi
dan eksternalisasi dibandingkan dengan remaja yang tidak berpartisipasi
dalam program S.S.GRIN-A. Hasil penelitian menunjukkan secara statistik
signifikan menurunkan perilaku internalisasi, namun sebaliknya perilaku
eksternalisasi tidak mengalami penurunan yang signifikan secara statistik.
Adapun penjelasannya adalah perilaku eksternalisasi telah mengalami
penurunan sebelum diberikan treatment dan hasil evaluasi sebelum
S.S.GRIN-A dilakukan telah menunjukkan penurunan yang lebih dramatis
saat pra-perawatan dalam perilaku eksternalisasi bagi mereka yang secara
khusus diidentifikasi memiliki sifat agresif yang sangat tinggi
(DeRosier2004).
D. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian
Kelebihan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Intervensi yang dikembangkan spesifik, khusus untuk masa remaja.
S.SGRGR-A merupakan sebuah intervensi keterampilan sosial yang
dikembangkan khusus untuk para remaja dan disesuaikan dengan tahap
perkembangan remaja. Intervensi ini dikembangkan berdasarkan fenomena
yang sering dialami pada masa remaja. Masa remaja memiliki
kecenderungan yang tinggi untuk mendapatkan masalah misalnya konflik
dengan orang tua, mood yang sering berubah-ubah, perilaku yang berisiko,
masalah di sekolah dan berubahnya self image. Selain itu, perubahan fisik,
sosial, kognitif, identitas diri akan mempengaruhi interaksi sosial dan
hubungan pertemanan. Oleh karena itu, dengan berpedoman kepada
permasalahan sosial remaja maka, intervensi ini akan mampu
memfokuskan treatmentnya untuk mengentaskan permasalahan
keterampilan sosial remaja.
2. Kualifikasi pemimpin kelompok.
Setiap pemimpin kelompok minimal memiliki gelar master dalam
bidang kesehatan bidang layanan (misalnya, konseling sekolah, psikologi
klinis, dan kerja sosial) dan memiliki pengalaman langsung di lapangan
dalam mengelola intervensi kelompok dengan remaja. Hal ini
menunjukkan bahwa pemimpin kelompok harus seorang yang profesional
dibidangnya dan memenuhi kualifikasi yang ditentukan.
3. Adanya keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan intervensi.
Orang tua pada kelompok eksperimen dilibatkan dalam dalam 4 sesi
(1, 5, 10 dan 12) dengan anak mereka. Keterlibatan orang tua
meningkatkan efektivitas intervensi dan meningkatkan kegunaan
intervensi antara lain sebagai berikut (Mendlowitz et al. 1999). Pertama,
orang tua mendapatkan pendidikan mengenai keterampilan dan tujuan
pelatihan anak mereka, sehingga orang tua bisa mendukung dan
memperkuat perubahan positif di dalam lingkungan rumah. Kedua, orang
tua memainkan peran penting dalam perkembangan sosial putra dan putri
mereka dan mendorong interaksi mereka dengan remaja lainnya, termasuk
orang tua dalam program ini membantu mereka mengambil peran yang
lebih proaktif mengelola dan membina interaksi rekan positif (Ladd et al.
1992). Ketiga, keterlibatan orang tua dalam program mungkin membantu
transisi perkembangan keluarga selama remaja dengan mempromosikan
pengambilan perspektif dan membina hubungan orangtua-anak yang lebih
positif melalui hubungan pemahaman dan kesadaran.
4. Penelitian ini sangat mempertimbangkan heterogenitas dengan memilih
sampel dari berbagai ras: 79% Kulit Putih,13,5% Afrika Amerika, 1,4%
Hispanik, 2,7% Asia, dan 1,4% Hawaiian.
Adapun kelemahan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Terdapatnya data penelitian yang bias. Proposi yang signifikan pada
kelompok eksperimen (20%) dan kelompok kontrol 8,8% tidak memiliki
data postest. Oleh karena itu, investigasi ke depan terhadap efektivitas
S.S.GRIN-A perlu perbaikan prosedur untuk mencegah atrisi, khususnya
di kelompok eksperimen untuk mengesampingkan hasil yang bias karena
gesekan.
2. Penelitian ini menggunakan ukuran sampel yang kecil walaupun secara
statistik telah memadai. Akan tetapi, lebih baik dengan jumlah sampel
besar untuk memastikan hasil treatment (melalui peningkatan pengacakan)
dan mengizinkan dimasukkannya lebih banyak kovariat untuk mengurangi
variasi yang tidak dapat dijelaskan dalam variabel hasil (Bloom2005).
3. Pelaksanaan evaluasi didesain terbatas hanya untuk melihat efek treatment
selama proses intervensi.
C. Pengembangan Bimbingan kelompok ke Depannya
Untuk intervensi kelompok ke depannya diharapkan juga untuk dapat
memberikan perhatian terhadap kelompok kontrol, walaupun efek
treatment lebih terfokus pada kelompok eksperimen. Pada penelitian ini
hanya dijelaskan kelompok kontrol tidak diikutkan dalam program
intervensi S.S.GRIN-A. Pelaksanaan intervensi yang berbeda dari
kelompok eksperimen dapat diberikan kepada kelompok kontrol. Hal
tersebut berguna untuk melihat seberapa efektif program S.S.GRIN-A
dibandingkan dengan intervensi lain yang diberikan kepada kelompok
kontrol.
Dalam penelitian ini, remaja yang lebih tua (misalnya, usia 16) lebih
banyak kemungkinan untuk keluar dari intervensi, artinya mereka tidak
menjalani sesi treatment sampai benar-benar selesai. Oleh karena itu, lebih
baik menargetkan remaja yang lebih muda untuk treatment kategori
masalah sosial, emosional, dan perilaku melalui pelatihan keterampilan
sosial. Selanjutnya, pelaksanaan evaluasi berkelanjutan perlu dilakukan,
hal ini bertujuan untuk melihat apakah perubahan tingkah laku remaja
yang mendapatkan treament dengan program S.S.GRIN-A mampu
bertahan atau permanen atau hanya selama intervensi berlangsung saja
karena di dalam penelitian ini evaluasi hanya dilaksanakan selama proses
intervensi berlangsung.