Anda di halaman 1dari 84

STEP 1

1. Akreditasi paripurna
Tingkat kelulusan tertinggi yg bisa diraih RS
Tingkatan:
 Dasar
 Madya
 Utama
 Paripurna: 16 bab @80% utk RS pendidikan
2. Baku mutu
Ukuran batas/kadar yang diperbolehkan utk dibuang ke lingkungan.
Jumlah bahan pencemar yang boleh dibuang/ yang boleh beerdar dlm
ambience
3. IPAL(instalasi pengolahan air limbah)
Suatu instalasi yg menyaring air limbah dari suatu RS agar sesuai standar
baku untuk dialirkan
4. KARS (Komite akreditasi RS)
Lembaga utk menilai RS agar sesuai standar sasaran yang ditetapkan. salah
satunya keselamatan pasien
STEP 2
1. Apa saja ruang lingkup kegiatan K3RS?
2. Apa saja tujuan,manfaat, dan sasaran dari K3RS?
3. Bagaimana langkah2 manajemen risiko K3RS?
4. Apa saja program K3?
5. Jelaskan tentang keselamatan pasien!
6. Jelaskan tingkatan akreditasi!
7. Sebutkan indikator mutu yang ada di RS!
8. Jelaskan tentang PMKP!
9. Jelaskan bagaimana standar KARS 2012?
10.bagaimana mutu di dalam KARS?
11.Apa saja standar baku mutu limbah yg telah ditetapkan pemerintah?
12.Bagaimana cara pengolahan limbah yg sesuai dgn prosedur?
13.Jelaskan macam-macam limbah!
STEP 3
1. Apa saja ruang lingkup kegiatan K3RS?
 Prinsip:
kapasitas kerja kemampuan fisik, status gizi dan kesehatan kerja
beban kerja: beban fisik dan mental yg harus ditanggung pekerja
lingkungan kerja: lingkungan yg terdekat oleh pekerja
 Program
 Kebijakan pelaksanaan K3RS
 Standar pelayanan K3RS
 Standar sarana prasarana dan peralatan K3RS
 Pengeluaran barang berbahaya
 Standar SDM
 Pembinaan, pengawasan, pencatatan dan pelaporan
Ruang lingkup:
 Emergency response plan: latihan evakuasi dan tanggap darurat
secara periodik
 Fire safety: keamanan dari ancaman bahaya kebakaran
Upaya aktif: apar
Upaya pasif:
 Patient safety: tidak infx nasokomial, akses mudah, sistem yg friendly
 Worker health: kesehatan pekerja menjamin lingkungan,
peralatan, metode dan perilaku pekerja sehat dan aman
 Pengelolaan bahan berbahaya
 Sanitasi lingkungan
 Pengendalian dan penanganan limbah
 Pendidikan pelatihan dan promosi
 Pencatatan dan pelaporan

2. Apa saja tujuan,manfaat, dan sasaran dari K3RS?


Tujuan:
 Umum:terwujudnya penyelanggaran K3RS secara optimal, efektif,
efisien,dan berkesinambungan
 Khusus:
 menciptakan tempat kerja yg sehat, selamat, aman dan
nyaman bagi SDM RS, pasien, pendamping pasien, pengunjung,
maupun lingkungan RS shg pelayanan RS berjalan baik dan
lancar
 Mencegah timbulnya kecelakaan akibat kerja, PAK, penyakit
menular, dan penyakit tdk menular bagi seluruh SDM RS
Sasaran:
 Pimpinan dan manajemen RS:
 SDM RS
 Pasien
 Pengunjung/pengantar pasien
Manfaat:
 Untuk RS: meningkatkan mutu pelayanan, mempertahankan
kelangsungan operasional RS, meningkatkan citra RS
 Untuk karyawan: melindungi dr PAK dan mencegah dari kecelakaan
akibat kerja
 Untuk pasien: mutu pelayanan dari RS menjadi baik, kepuasan pasien
dan pengunjung

 Langsung: untuk menciptakan tempat kerja efisien dan produktif


karena pekerja merasa aman dlm bekerja
 Tdk langsung: meningkatkan image market thdp perusahaan
3. Bagaimana langkah2 manajemen risiko K3RS?
 Advokasi pimpinan RS, sosialisasi, pembudayaan K3RS
 Menyusun kebijakan K3RS yang ditetapkan oleh pimpinan RS
 Membentuk organisasi K3RS
 Perencaan K3 sesuai standar kesehatan dan K3RS yang ditetapkan
oleh depkes
 Menyusun SOP
 Melaksanakan 12 program kesehatan dan K3RS
 Melakukan evaluasi
 Melakukan internal audit mengenai program K3RS
 Mengikuti akreditasi RS

Manajemen risiko K3RS: proses yg bertahap dan berkesinambungan


untuk mencegah kecelakaan dan PAK secara komprehensif di
lingkungan RS

Langkah:
 Persiapan/penentuan konteks
Menentukan siapa yg mjd penanggung jawab dr manajemen risiko?
 Identifikasi bahaya potensial: bahaya fisik/ kimia dll
 Analisis risiko
 Evaluasi risiko
 Pengendalian risiko
 Komunikasi dan konsultasi
Dikonsultasikan apakah langkah pengendalian sudah sesuai/ belum?

4. Apa saja program K3?


 Pengembangan kebijakan K3RS
 Pembentukan organisasi K3RS
 Pembentukan program K3RS selama 3 tahun
 Pembudayaan perilaku K3RS
Sosialisasi K3RS pada seluruh jajaran RS, promosi, dll
 Pengembangan SDM K3RS :pelatihan umum, pekerja per unit
 Pengembangan pedoman dan SOP K3RS
Penyusunan pedoman praktis ergonomi RS, pedoman pelaksanaan
pelayanan kesehatan kerja
 Pemantauan dan evaluasi tempat kerja: mapping lingkungan tempat
kerja
 Pelayanan kesehatan kerja: px kesehatan sblm kerja, px kesehatan
khusus
 Pelayanan keselamatan kerja: pembinaan dan pengawasan sarana
prasaran dan peralatan kesehatan di RS
 Pengembang program, pemeliharaan, pengelolaan limbah padat cair
dan gas
 Pengelolaan jasa, bahan beracun berbahaya, dan barang berbahaya
 Pengembangan manajemen tanggap darurat
5. Jelaskan tentang keselamatan pasien!
Standar:
 Hak pasien
 Pendidikan bagi pasien dan keluarga
 Keselamatan pasien dlm kesinambungan pelayanan
 Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk evaluasi dan
peningkatan ekselamatan pasien
 Peran kepemimpinan dlm meningkatkan keselamatan pasien
 Pendidikan bagi staf ttg keselamatan pasien
 Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien
Sasaran:
 Mengidentifikasi pasien dengan ebnar
 Meningkatkan komunikasi yang efektif
 Meningkatkan keamanan obat2an yang harus diwaspadai
 Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yg benar,
pembedahan pada pasien yg benar
 Mengurangi risiko infx akibat perawatan kesehatan
 Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh
Tujuh langkah untuk menuju keselamatan pasien:
 Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
 Memimpin dan mendukung staf
 Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko
 Mengembangkan sistem pelaporan
 Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
 Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
 Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
6. Jelaskan tingkatan akreditasi! Jelaskan bagaimana standar KARS 2012?
Secara umum ada 4 kelompok standar
Standar pelayanan berfokus pada pasien: 7 bab
Standar manajemen RS: 6 bab
Sasaran keselmatan pasien RS: 1 BAB
Sasaran MDGs: 1 bab

Penilaian:
 Tercapai penuh: 10
 Sebagian: 5
 Tidak tercapai:0
 Tidak dpt diterapkan: tdk masuk dlm sistem penilaian dan
perhitungan
Akreditasi diadakan 3 tahun sekali oleh KARS, pada akhir 3 tahun tsb RS harus
survey ulang untuk pemanjangan akreditasi
 Tingkat dasar: 4 bab digolongkaan mayor, nilai min 80%
1. Sasaran keselamatan pasien RS
2. Hak pasien dan keluarga
3. Pendidikan pasien dan keluarga
4. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien
 Madya
 Utama
 paripurna
7. Sebutkan indikator mutu yang ada di RS!
Berdasarkan area
 Indikator mutu area klinis: angka visite dokter spesialis pada pasien
baru
 Indikator mutu area menejerial: kelengkapan obat dan alkes ditroli
emergency
 Sasaran keselamatan pasien: pasien terpasang gelang identitas
 Jci: angka pasien jatuh dengan cidera
Klasifikasi
 Utama: indikator yg diutamakan untuk diimplemetasikan sesuai visi
misi
 Unit: indikator yg tetap dijalankan pd unit2 terkait untuk penginkatan
mutu pelayanan
8. Jelaskan tentang PMKP!
PMKP: Suatu komite/ tim yg berkompeten untuk mengelola kegiatan
penignkatan mutu dan keselamatan pasien
Fokus area:
 Mengelola kegiatan peningkatan mutu dan keselamatan pasien
 Pemilihan, pengumpulan, analisis, dan validasi data dr indikator mutu
 Pelaporan dan analisis insiden keselamatan pasien
 Pencapaian dan mempertahankan perbaikan
 Manajemen risiko
9. bagaimana mutu di dalam KARS?
10.Apa saja standar baku mutu limbah yg telah ditetapkan pemerintah?
 Fisika:
Suhu: 30 c
 Kimia
Ph 6-9
BOD5: 30 mg/L
COD: 80
TSS: 30
NH3 bebas:0,1
PO4: 2
 Mikrobiologi:
Ex:Gol coli: 100 ml 10.000
 Radioaktif: fosfor 7x100 bq/L
11.Jelaskan macam-macam limbah!
 Limbah padat
Limbah padat non medis: limbah dapur, limbah perkantoran, limbah
dari taman
Medis: limbah infeksius, patologi, benda tajam, farmasi, sitotoksik,
kimia, radioaktif, mengandung logam berat
 Limbah cair:
limbah infeksius (berhub dgn tindakan media ex: px mikrobiologi dr
poliklinik),
domestik(tdk ada hub dengan tindakan medis ex: toilet dapur
Laundry
dapur
kimia(penggunaan bahan kimia dr tindakan medis, lab, sterilisasi)
 Limbah gas
Semua limbah yg terbentuk gas termasuk hasil pembakaran
insenerator, dapur, generator
12.Bagaimana cara pengolahan limbah yg sesuai dgn prosedur?
Berdasarkan jenis limbah
 Padat: penimbunan terbuka, sanitary landfill (bikin lubang),
insenerasi, daur ulang
 Cair:
Primer: penyaringan, pengolahan awal, pengendapan ex: minyak
Sekunder: pakai mikroorganisme untuk menguraikan bahan
Desinfeksi
 Gas:pengolahan secara fisika, kimia, biologi
 Pembuangan B3 dengan sumber injeksi dan landfill

STEP 4
MIND MAP
STEP 7
1. Apa saja ruang lingkup kegiatan K3RS?
2. Apa saja tujuan,manfaat, dan sasaran dari K3RS?
3. Bagaimana langkah2 manajemen risiko K3RS?
Langkah-langkah Manajemen Risiko K3RS
Keterangan gambar langkah-langkah manajemen risiko K3RS:
a) Persiapan/Penentuan Konteks
Penetapan konteks proses menajemen risiko K3RS meliputi:
1) Penentuan tanggung jawab dan pelaksana kegiatan manajemen risiko yang terdiri
dari karyawan, kontraktor dan pihak ketiga.
2) Penentuan ruang lingkup manajemen risiko K3.
3) Penentuan semua aktivitas (baik normal, abnormal maupun emergensi), proses,
fungsi, proyek, produk, pelayanan dan aset di tempat kerja.
4) Penentuan metode dan waktu pelaksanaan evaluasi manajemen risiko K3.
b) Identifikasi Bahaya Potensial
dilakukan identifikasi potensi bahaya kesehatan yang terpajan pada pekerja, pasien,
pengantar dan pengunjung yang dapat meliputi:
1) Fisik (kebisingan, suhu, getaran, lantai licin)
2) Kimia (formaldehid, alkohol, ethiline okside, bahan pembersih lantai,
desinfectan, clorine)
3) Biologi (bakteri, virus, mikroorganisme, tikus, kecoa, kucing dan sebagainya)
4) Ergonomi (posisi statis, manual handling, mengangkat beban)
5) Psikososial (beban kerja, hubungan atasan dan bawahan, hubungan antar pekerja
yang tidak harmonis)
6) Mekanikal (terjepit mesin, tergulung, terpotong, tersayat, tertusuk)
7) Elektrikal (tersengat listrik, listrik statis, hubungan arus pendek kebakaran akibat
listrik)
8) Limbah (limbah padat medis dan non medis, limbah gas dan limbah cair)
Sumber bahaya yang ada di RS harus diidentifikasi dan dinilai untuk menentukan
tingkat risiko yang merupakan tolok ukur kemungkinan terjadinya penyakit akibat
kerja dan kecelakaan akibat kerja.
c) Analisis Risiko
 Risiko : probabilitas/kemungkinan bahaya potensial menjadi nyata, yang
ditentukan oleh frekuensi dan durasi pajanan, aktivitas kerja, serta upaya yang
telah dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian tingkat pajanan. Termasuk
yang perlu diperhatikan juga adalah perilaku bekerja, higiene perorangan, serta
kebiasaan selama bekerja yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
 Analisis risiko bertujuan untuk mengevaluasi besaran (magnitude) risiko
kesehatan pada pekerja. Dalam hal ini adalah perpaduan toksik, dengan
kemungkinan gangguan kesehatan atau efek toksik dapat terjadi sebagai
konsekuensi pajanan bahaya potensial.
 Karakterisasi risiko mengintegrasikan semua informasi tentang bahaya yang
teridentifikasi (efek gangguan/toksisitas spesifik) dengan perkiraan atau
pengukuran intensitas/konsentrasi pajanan bahaya dan status kesehatan pekerja,
termasuk pengalaman kejadian kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang pernah
terjadi. Analisis awal ditujukan untuk memberikan gambaran seluruh risiko yang
ada. Kemudian disusun urutan risiko yang ada. Prioritas diberikan kepada risiko-
risiko yang cukup signifikan dapat menimbulkan kerugian.

d) Evaluasi Risiko
 membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko
dengan kriteria standar yang digunakan.
 metode pengendalian yang telah diterapkan dalam menghilangkan/meminimalkan
risiko dinilai kembali, apakah telah bekerja secara efektif seperti yang diharapkan.
 juga diperlukan untuk membuat keputusan apakah perlu untuk menerapkan
metode pengendalian tambahan untuk mencapai standard atau tingkat risiko yang
dapat diterima.
 Sebuah program evaluasi risiko sebaiknya mencakup beberapa elemen sebagai
berikut:
1) Inspeksi periodik serta monitoring aspek keselamatan dan higiene industri
2) Wawancara nonformal dengan pekerja
3) Pemeriksaan kesehatan
4) Pengukuran pada area lingkungan kerja
5) Pengukuran sampel personal
 Hasil evaluasi risiko diantaranya adalah:
1) Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada.
2) Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi.
3) Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter biaya
ataupun parameter lainnya.
4) Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian
a) Pengendalian Risiko
 Prinsip pengendalian risiko meliputi 5 hierarki, yaitu:
1) Menghilangkan bahaya (eliminasi)
2) Menggantikan sumber risiko dengan sarana/peralatan lain yang tingkat
risikonya lebih rendah/tidak ada (substitusi)
3) Rekayasa engineering/pengendalian secara teknik
4) Pengendalian secara administrasi
5) Alat Pelindung Diri (APD).

 Beberapa contoh pengendalian risiko keselamatan dan Kesehatan Kerja di


Rumah Sakit:
1) Containment, yaitu mencegah pajanan dengan:
a) Desain tempat kerja
b) Peralatan safety (biosafety cabinet, peralatan centrifugal)
c) Cara kerja
d) Dekontaminasi
e) Penanganan limbah dan spill management
2) Biosafety Program Management, support dari pimpinan puncak yaitu Program
support, biosafety spesialist, institutional biosafety committee, biosafety
manual, OH program, Information & Education
3) Compliance Assessment, meliputi audit, annual review, incident dan accident
statistics. Safety Inspection dan Audit meliputi :
a) Kebutuhan (jenisnya) ditentukan berdasarkan karakteristik pekerjaan
(potensi bahaya dan risiko)
b) Dilakukan berdasarkan dan berperan sebagai upaya pemenuhan standar
tertentu
c) Dilaksanakan dengan bantuan cheklist (daftar periksa) yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan jenis kedua program tersebut
4) Investigasi kecelakaan dan penyakit akibat kerja
a) Upaya penyelidikan dan pelaporan KAK dan PAK di tempat kerja
b) Disertai analisis penyebab, kerugian KAK, PAK dan tindakan pencegahan
serta pengendalian KAK, PAK
c) Menggunakan pendekatan metode analisis KAK dan PAK.
5) Fire Prevention Program
a) Risiko keselamatan yang paling besar & banyak ditemui pada hampir
seluruh jenis kegiatan kerja, adalah bahaya dan risiko kebakaran
b) Dikembangkan berdasarkan karakteristik potensi bahaya & risiko
kebakaran yang ada di setiap jenis kegiatan kerja

6) Emergency Response Preparedness


a) Antisipasi keadaan darurat, dengan mencegah meluasnya dampak dan
kerugian
b) Keadaan darurat: kebakaran, ledakan, tumpahan, gempa, social
cheos,bomb treat dll
c) Harus didukung oleh: kesiapan SDM, sarana dan peralatan, prosedur dan
sosialisasi
7) Program K3RS lainnya
o Pemindahan Risiko (Risk transfer)
Mendelegasikan atau memindahkan suatu beban kerugian ke suatu
kelompok/bagian lain melalui jalur hukum, perjanjian/kontrak, asuransi,
dan lain-lain.
f) Komunikasi dan Konsultasi
 merupakan pertimbangan penting pada setiap langkah dalam proses manejemen
risiko
 Sangat penting untuk mengembangkan rencana komunikasi, baik kepada
kontributor internal maupun eksternal sejak tahapan awal proses pengelolaan
risiko.
 Komunikasi internal dan eksternal yang efektif penting untuk meyakinkan pihak
pengelolaan sebagai dasar pengambilan keputusan.
g) Pemantauan dan telaah ulang
 untuk menjamin terlaksananya seluruh proses manajemen risiko dengan optimal.
Sumber : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit

4. Apa saja program K3?


5. Jelaskan tentang keselamatan pasien!
6. Jelaskan tingkatan akreditasi! Jelaskan bagaimana standar KARS 2012?
Standar akreditasi yang dipergunakan mulai 1 Januari 2018 adalah
STANDAR NASIONAL AKREDITASI RUMAH SAKIT EDISI 1
yang terdiri dari 16 bab yaitu :
STANDAR PELAYANAN BERFOKUS PASIEN
1. Sasaran Keselamatan Pasien (SKP)
2. Akses ke Rumah Sakit dan Kontinuitas (ARK)
3. Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
4. Asesmen Pasien (AP)
5. Pelayanan Asuhan Pasien (PAP)
6. Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
7. Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO)
8. Manajemen Komunikasi dan Edukasi (MKE)
STANDAR MANAJEMEN RUMAH SAKIT
9. Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
10. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
11. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
12. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
13. Kompetensi & Kewenangan Staf (KKS)
14. Manajemen Informasi dan Rekam Medis (MIRM)
15. Program Nasional
 menurunkan AKI dan AKB serta meningkatkan angka kesehatan ibu dan bayi,
 menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS,
 menurunkan angka kesakitan tuberkulosis,
 pengendalian resistensi antimikroba
 pelayanan geriatri
16. Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan Rumah Sakit (IPKP)
Ketentuan penggunaan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi I sebagai
berikut:
 Rumah Sakit Pendidikan : 16 bab
 Rumah Sakit non Pendidikan : 15 bab
Ada penambahan standar pada SNARS Edisi 1 ini yaitu:
 Pengendalian Reistensi Antimikroba (PRA)
 upaya pengendalian resistensi antimikroba secara terpadu dan paripurna di
fasilitas pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit dan merupakan standar baru
di dalam SNARS Edisi 1 ini.
 Standar ini dianggap perlu mengingat Resistensi mikroba terhadap antimikroba
(disingkat: resistensi antimikroba, antimicrobial resistance, AMR) telah menjadi
masalah kesehatan yang mendunia, dengan berbagai dampak merugikan yang
dapat menurunkan mutu dan meningkatkan risiko pelayanan kesehatan khususnya
biaya dan keselamatan pasien.
 Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan Rumah Sakit (IPKP)
 standar baru di SNARS Edisi 1.
 Standar IPKP ini hanya diberlakukan untuk rumah sakit yang menyelenggarakan
proses pendidikan tenaga kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan.
 Standar ini juga menunjukkan suatu kerangka untuk mencakup pendidikan medis
dan pendidikan staf klinis lainnya dengan memperhatikan mutu pelayanan dan
keselamatan pasien di rumah sakit tersebut. Kegiatan pendidikan harus masuk
dalam kerangka peningkatan mutu dan keselamatan pasien rumah sakit, karena itu
rumah sakit wajib mempunyai sistem pengawasan mutu pelayanan dan
keselamatan pasien terhadap aktivitas pendidikan yang dilaksanakan di rumah
sakit.
 Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri
 Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan multi penyakit/gangguan akibat
penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang
membutuhkan pelayanan kesehatan secara tepadu dengan pendekatan multi
disiplin yang bekerja sama secara interdisiplin.
 Dengan meningkatnya social ekonomi dan pelayanan kesehatan maka usia
harapan hidup semakin meningkat, sehingga secara demografi terjadi peningkatan
populasi lanjut usia. Oleh karena itu rumah sakit perlu menyelenggarakan
pelayanan geriatri sesuai dengan tingkat jenis pelayanan geriatri.

KEBIJAKAN PENENTUAN KELULUSAN


Ketika suatu rumah sakit berhasil memenuhi persyaratan akreditasi KARS, rumah sakit
tersebut akan menerima penghargaan Status Akreditasi Sebagai berikut:
Rumah Sakit Non Pendidikan
1. Tidak lulus akreditasi
 Rumah sakit tidak lulus akreditasi bila dari 15 bab yang disurvei  semua
mendapat nilai <60 %
 dapat mengajukan akreditasi ulang setelah rekomendasi dari surveior
dilaksanakan
2. Akreditasi tingkat dasar
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat dasar bila dari 15 bab yang di
survei hanya 4 bab yang mendapat nilai minimal 80 % dan 12 bab lainnya tidak
ada yang mendapat nilai dibawah 20 %
3. Akreditasi tingkat madya
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat madya bila dari 15 bab yang di
survei ada 8 bab yang mendapat nilai minimal 80 % dan 7 bab lainnya tidak ada
yang mendapat nilai dibawah 20 %
4. Akreditasi tingkat utama
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat utama bila dari 15 bab yang di
survei ada 12 bab yang mendapat nilai minimal 80 % dan 3 bab lainnya tidak ada
yang mendapat nilai dibawah 20 %
5. Akreditasi tingkat paripurna
Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat paripurna bila dari
15 bab yang di survei semua bab mendapat nilai minimal 80 %

Rumah Sakit Pendidikan


1. Tidak lulus akreditasi
 Rumah sakit tidak lulus akreditasi bila dari 16 bab yang di survei mendapat nilai
kurang dari 60 %
 dapat mengajukan akreditasi ulang setelah rekomendasi dari surveior
dilaksanakan.
2. Akreditasi tingkat dasar
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat dasar bila dari 16 bab yang di
survei hanya 4 bab, dimana salah satu babnya adalah Institusi pendidikan
pelayanan kesehatan, mendapat nilai minimal 80 % dan 12 bab lainnya tidak ada
yang mendapat nilai dibawah 20 %
3. Akreditasi tingkat madya
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat madya bila dari 16 bab yang di
survei ada 8 bab, dimana salah satu babnya adalah Institusi pendidikan pelayanan
kesehatan, mendapat nilai minimal 80 % dan 8 bab lainnya tidak ada yang
mendapat nilai dibawah 20 %
4. Akreditasi tingkat utama
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat utama bila dari 16 bab yang di
survei ada 12 bab, dimana salah satu babnya adalah Institusi pendidikan
pelayanan kesehatan mendapat nilai minimal 80 % dan 4 bab lainnya tidak ada
yang mendapat nilai dibawah 20 %
5. Akreditasi tingkat paripurna
 Rumah sakit mendapat sertifikat akreditasi tingkat paripurna bila dari 16 bab yang
di survei semua bab mendapat nilai minimal 80 %
 Bila Rumah Sakit tidak mendapat status akreditasi paripurna dan ada bab nilainya
dibawah 80 % tetapi diatas 60 %, maka Rumah Sakit dapat mengajukan survei
remedial untuk bab tersebut.
Sumber : Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 (Komisi Akreditasi Rumah
Sakit) Agustus 2017

7. Sebutkan indikator mutu yang ada di RS!


8. Jelaskan tentang PMKP!
9. bagaimana mutu di dalam KARS?
10.Apa saja standar baku mutu limbah yg telah ditetapkan pemerintah?
9.
Sumber : Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia
Nomor: P.68/Menlhk-Setjen/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik
11.Jelaskan macam-macam limbah!
12.Bagaimana cara pengolahan limbah yg sesuai dgn prosedur?
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Aspek Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
1. Pengertian
 Pengelolaan B3 dari aspek K3 : upaya meminimalkan risiko penggunaan B3 dan
limbah B3 terhadap SDM RS, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun
lingkungan RS.
 B3 : zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau
jumlah, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat membahayakan
kesehatan, kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup serta mencemarkan
dan/atau merusak lingkungan hidup sekitarnya.
 Limbah B3 : sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3. Untuk di
RS, limbah medis termasuk limbah B3.
Berikut ini yang termasuk katagori B3 yang mengacu pada Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 3 tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan
Label Bahan Berbahaya dan Beracun: Memancarkan radiasi, Mudah meledak,
Mudah menyala atau terbakar, Oksidator, Racun, Korosif, Karsinogenik, Mutagenik,
Teratogenik, Iritasi, Berbahaya bagi lingkungan (dangerous for environment), Gas
bertekanan (pressure gas)
Sedangkan yang termasuk dalam limbah B3 adalah sebagai berikut:
a) Infeksius;
b) Benda tajam;
c) Patologis;
d) Bahan kimia kedaluwarsa, tumpahan, atau sisa kemasan;
e) Radioaktif;
f) Farmasi;
g) Sitotoksik;
h) Peralatan medis yang memiliki kandungan logam berat tinggi;
i) Tabung gas atau kontainer bertekanan
2. Jenis Kegiatan
a) Identifikasi dan Inventarisasi B3 yang di RS
1) Mengidentifikasi jenis, lokasi, dan jumlah semua B3 dan instalasi yang akan
ditangani untuk mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya. Diperlukan penataan
yang rapi dan teratur, hasil identifikasi diberi label atau kode untuk dapat
membedakan satu dengan lainnya.
2) Mengawasi pelaksanakan kegiatan inventarisasi, penyimpanan, penanganan,
penggunaan B3.
b) Menyiapkan dan Memiliki Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety
Data Sheet)
Informasi mengenai bahan-bahan berbahaya terkait dengan penanganan yang
aman, prosedur penanganan tumpahan, dan prosedur untuk mengelola pemaparan
sudah yang terbaru dan selalu tersedia.
c) Menyiapkan sarana keselamatan B3:
1) Lemari B3;
2) Penyiram badan (body wash);
3) Pencuci mata (eyewasher);
4) Alat Pelindung Diri (APD);
5) Rambu dan Simbol B3; dan
6) Spill Kit
d) Pembuatan Pedoman dan Standar Prosedur Operasional Pengelolaan B3 yang
Aman
1) Menetapkan dan menerapkan secara aman bagi petugas dalam penanganan,
penyimpanan, dan penggunaan bahan- bahan dan limbah B3.
2) Menetapkan dan menerapkan cara penggunaan alat pelindung diri yang sesuai
dan prosedur yang dipersyaratkan sewaktu menggunakannya.
3) Menetapkan dan menerapkan pelabelan bahan-bahan dan limbah berbahaya
yang sesuai.
4) Menetapkan dan menerapkan persyaratan dokumentasi, termasuk surat izin,
lisensi, atau lainnya yang dipersyaratkan oleh peraturan yang berlaku.
5) Menetapkan mekanisme pelaporan dan penyelidikan (inventigasi) untuk
tumpahan dan paparan B3.
6) Menetapkan prosedur untuk mengelola tumpahan dan paparan.
e) Penanganan Keadaan Darurat B3
1) Melakukan pelatihan dan simulasi tumpahan B3.
2) Menerapkan prosedur untuk mengelola tumpahan dan paparan B3.
3) Menerapkan mekanisme pelaporan dan penyelidikan (inventigasi) untuk
tumpahan dan paparan B3.
Sumber : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2016
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit

Siti khodijah
fathul

Anda mungkin juga menyukai