Anda di halaman 1dari 13

Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup

Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DAN GAYA HIDUP


DENGAN TINGKATAN HIPERTENSI PADA MIDDLE AGE
45-59 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DINOYO
KOTA MALANG

Tan Robin Alhuda1), Swito Prastiwi2), Novita Dewi3)

1)
MahasiswaProgram Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
2)
Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
3)
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang
E-mail: tanrobin56@gmail.com

ABSTRAK

Data WHO 2012 menunjukan 839 juta penderita hipertensi. Pola makan mengarah ke
sajian siap santap yang mengandung lemak dan garam tinggi serta didukung dengan
kurangnya aktivitas, tingkat stres yang tinggi dan obesitas dapat memberikan kontribusi
berkembangnya hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola
makan dan gaya hidup dengan tingkatan hipertensi pada middleage (45-59 tahun) di
wilayah kerja Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Desain penelitian ini menggunakan
korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 36 orang dari 57 populasi
dengan teknik purposive sampling, analisa data dengan regresi linier berganda, serta
menggunakan instrumen kuesioner, food record dan pengukuran. Hasil penelitian
menunjukkan pola makan, sebagian besar dikategorikan memiliki pola makan normal
berdasarkan perbandingan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu sebanyak 20 orang
(96,67%), gaya hidup, hampir seluruhnya dikategorikan tidak sering yaitu sebanyak 34
orang (94,45%), terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan tingkatan
hipertensi, terdapat hubungan gaya hidup dengan tingkatan hipertensi, serta terdapat
hubungan pola makan dan gaya hidup dengan tingkatan hipertensi, dan didapatkan nilai
sebagai berikut: 0,000 (p < 0,050), 0,014 (p < 0,05) dan 0,000 (p < 0,05). Saran untuk
responden middleageage 45-59 tahun pasien hipertensi untuk mengurangi makanan yang
dapat memicu hipertensi (lemak, serat dan karbohidrat) dan memperbanyak makanan yang
mengandung vitamin (sayur-sayuran dan buah-buahan). Diharapkan kepada peneliti
selanjutnya untuk mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pola makan

550
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

(budaya, agama, status sosial, personal preverence, rasa lapar, nafsu makan dan rasa
kenyang, serta kesehatan) dan gaya hidup (tingkat pendidikan, usia, tingkat penghasilan
dan jenis kelamin).

Kata Kunci : Gaya Hidup, Pola Makan, Tingkatan Hipertensi.

RELATIONSHIP BETWEEN EATING AND LIFESTYLE PATTERNS WITH


HYPERTENSION LEVEL AT MIDDLE AGE 45-59 YEARS IN PUSKESMAS
DINOYO CITY OF MALANG WORK

ABSTRACT

WHO data 2012 showed 839 million people with hypertension. The diet leads to a ready-
to-eat dish that contains high fat and salt and is supported by lack of activity, high stress
levels and obesity can contribute to the development of hypertension. The purpose of this
study was to determine the relationship between diet and lifestyle with hypertension levels
in the middle age (45-59 years) in the work area of Dinoyo Puskesmas Malang. This
research design use correlation with cross sectional approach. Samples were 36 people
from 57 population with purposive sampling technique, data analysis with multiple linear
regression, and using questionnaire, food record and measurement instrument. The results
showed that diet, mostly categorized as having normal diet based on comparison with
Nutritional Sufficiency Rate (AKG) that is 20 people (96.67%), lifestyle, almost totally
categorized not often that is as many as 34 people (94.45% ), there was a significant
correlation between diet with hypertension level, there were lifestyle correlation with
hypertension level, and there was correlation between diet and lifestyle with hypertension
level, and got value as follows: 0.000 (p <0.050), 0.014 (p < 0.05) and 0.000 (p <0.05).
Suggestions for middle-age respondents 45-59 years of hypertensive patients to reduce
foods that can trigger hypertension (fat, fiber and carbohydrates) and multiply foods
containing vitamins (vegetables and fruits). It is expected that the next researcher will
examine the factors that influence the diet (culture, religion, social status, personal
preverence, hunger, appetite and satiety, and health) and lifestyle (education level, age,
income level and type sex).

Keywords: Lifestyle, Diet, Hypertension Level.

551
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

PENDAHULUAN total penduduk dunia. Berdasarkan data


WHO dalam Non-Communicable
Saat ini Indonesia berada dalam Disseace Country Profiles (2011) dalam
fase transisi epidemiologis yang Stefhany (2012), prevalensi hipertensi di
mengakibatkan pergeseran pola penyakit dunia secara keseluruhan mencapai 40%
dari infeksi menjadi penyakit tidak pada usia 25 tahun ke atas. Sementara
menular (Stefhany, 2012). WHO dalam itu, di Asia diperkirakan 30% menderita
Rasi, dkk (2006) mengatakan terjadinya hipertensi. Indonesia merupakan negara
transisi epidemiologi ini disebabkan yang prevalensi hipertensinya lebih besar
terjadinya perubahan sosial ekonomi jika dibandingkan dengan negara-negara
penduduk, lingkungan dan perubahan jika dibandingkan dengan negara Asia
struktur penduduk, dimana masyarakat yang lain seperti Bangladesh, Korea,
telah mengadopsi dan berpraktek gaya Nepal dan Thailand (WHO South Easth
hidup tidak sehat. Hipertensi merupakan Asia Region, 2011; dalam Stefhany,
salah satu penyakit tidak menular yang 2012). Berdasarkan profil kesehatan
merupakan masalah di Indonesia indonesia (Kemenkes RI, 2014),
(Rahajeng & Tuminah, 2009). Hipertensi hipertensi merupakan penyakit tidak
baru mencuat sekitar pada akhir dekade menular penyebab kematian terbanyak
1980, hal ini terjadi setelah tingkat yang menempati urutan ke-3 di
kemakmuran mulai meningkat terutama Indonesia dengan angka kematian
di kota-kota besar (Erna, dkk, 2005; 27,1%.
dalam Mutiarawati, 2009). Hipertensi Berdasarkan Riskesdas (2013),
atau yang lebih dikenal dengan sebutan prevalensi hipertensi di Indonesia yang
penyakit tekanan darah tinggi adalah didapat melalui pengukuran pada umur
keadaan dimana seseorang dinyatakan ≥18 tahun sebesar, tertinggi di Bangka
mengalami peningkatan tekanan darah di Belitung (30,9%), diikuti Kalimantan
atas batas normal. Seseorang dinyatakan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur
mengalami penyakit hipertensi bila (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%). Di
tekanan sistolik mencapai di atas 140 Jawa Timur sendiri, berdasarkan laporan
mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 tahunan rumah sakit tahun 2012 (per 31
mmHg (Junaidi, 2010). Mei 2013), hipertensi merupakan kasus
Data WHO tahun 2012 penyakit terbanyak pasien rawat jalan di
menunjukkan, di seluruh dunia, jumlah rumah sakit umum pemerintah tipe B
penderita hipertensi ada 839 juta kasus. sebanyak 112.583 kasus, begitu juga
Kasus ini diperkirakan akan semakin dengan rumah sakit umum pemerintah
tinggi pada tahun 2025 dengan jumlah tipe C dan D juga peringkat tertinggi
1,15 milyar kasus atau sekitar 29% dari untuk rawat jalan kasus hipertensi, yaitu
552
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

rumah sakit tipe C sebanyak 42.212 gejala tersebut sering dianggap sebagai
kasus dan rumah sakit tipe D sebanyak gangguan biasa, sehingga korban
3.301 kasus. Sedangkan untuk kasus terlambat menyadari akan datangnya
penyakit terbanyak pasien rawat inap, penyakit (Sustrani, 2004).
untuk rumah sakit umum pemerintah tipe Penelitian yang dilakukan oleh
A, hipertensi berada pada posisi kedua Taslim, dkk (2016) tentang hubungan
sebanyak 12,590 kasus dan pada rumah pola makan dan stres dengan kejadian
sakit umum pemerintah tipe C hipertensi hipertensi grade 1 dan 2 pada ibu hamil
berada pada urutan kedua sebanyak di wilayah kerja Puskesmas Kamonji
7.355 kasus (Dinas Kesehatan Jawa Kecamatan Palu Barat” ditemukan hasil
Timur, 2013). Kasus hipertensi di bahwa terdapat hubungan antara pola
Malang Raya menduduki urutan ke tiga makan dan stres dengan kejadian
dari 10 kasus rawat jalan di rumah sakit hipertensi grade 1 dan 2. Penelitian lain
yaitu sebanyak 424 kasus (9,10%) dan yang dilakukan oleh Suoth, dkk (2014)
urutan ke empat dalam 10 penyebab tentang “Hubungan gaya hidup dan
kematian yaitu 10,99% (Profil Dinkes dengan kejadian hipertensi di Puskesmas
Provinsi Jawa Timur, 2011). Kolongan Kecamatan Kalawat
Saat ini terdapat kecenderungan Kabupaten Minahasa Utara” ditemukan
bahwa masyarakat perkotaan lebih hasil bahwa ada hubungan bermakna
banyak menderita hipertensi antara gaya hidup dengan kejadian
dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal hipertensi di Puskesmas Kolongan
ini antara lain dihubungkan dengan pola Kecamatan Kalawat Kabupaten
makan menjurus ke sajian siap santap Minahasa Utara. Perbedaan penelitian
yang mengandung lemak dan garam sebelum dengan penelitian ini adalah
tinggi membawa konsekuensi terhadap terletak variabel bebas yang hanya
berkembangnya hipertensi. Perubahan menghubungkan pola makan saja dan
gaya hidup masyarakat kota yang gaya hidup saja dengan kejadian
berhubungan dengan resiko penyakit hipertensi, sedangkan penelitian ini
hipertensi seperti stres, obesitas, menghubungkan 2 variabel bebas
kurangnya olahraga (kurang aktivitas dengan 1 variabel terikat. Selain itu
gerak), merokok dan alkohol (Sustrani, perbedaan terletak pada lokasi dan
2004). Hipertensi lebih tepat disebut populasi/sampel penelitian. Sedangkan
pembunuh gelap (the silent killer), persamaannya yaitu sama-sama
karena termasuk penyakit yang menghubungkan dengan variabel terikat
mematikan tanpa disertai dengan gejala- yaitu hipertensi.
gejala terlebih dahulu sebagai peringatan Studi pendahuluan yang dilakukan
bagi korbannya. Kalaupun muncul, pada penderita hipertensi khususnya
553
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

pada usia midleage, karena usia darah tingginya kambuh jika ada
midleage adalah usia pertengahan yang permasalahan dalam rumah tangga
merupakan awal memasuki masa tua (stres).
yang dikenal dengan pralansia sehingga Tujuan penelitian ini adalah untuk
sangat rentan terhadap berbagai mengetahui hubungan pola makan dan
penyakit. Hal tersebut didukung dengan gaya hidup dengan tingkatan hipertensi
pendapat Santrock (2002) yang pada middleage (45-59 tahun) di wilayah
menyebutkan bahwa usia 45-59 tahun kerja Puskesmas Dinoyo Kota Malang.
dianggap mengalami kecenderungan
hipertensi karena pada usia midle age
merupakan usia dimana kondisi tubuh METODE PENELITIAN
mulai menurun dan rentan mengalami
penyakit kronis. Metode penelitian ini
Berdasarkan hasil studi menggunakan desain korelasi dengan
pendahuluan yang telah dilakukan oleh pendekatan cross sectional. Populasi
peneliti di wilayah kerja Puskesmas dalam penelitian ini adalah pasien
Dinoyo Malang padatanggal 4 dan 5 hipertensi yang berobat diPuskesmas
April 2016, didapatkan hasil wawancara Dinoyo Kota Malang sebanyak 57 orang
dari 10 pasien penderita hipertensi yang yang diperoleh dari data 3 bulan terakhir
berobat di Puskesmas Dinoyo. Ke-10 yaitu bulan Januari sampai dengan Maret
orang tersebut jika dilihat dari segi sosial 2016 dan teknik sampling yang
ekonomi, tampak hidup berkecukupan. digunakan adalah purposive sampling
Hal ini dikarenakan saat mereka datang yaitu sebanyak 36 orang. Metode
kontrol menggunakan mobil pribadi. pengumpulan data yang digunakan
Selain itu dari hasil wawancara, mereka adalah kuesioner. Metode analisa data
sering makan malam bersama dengan yang di gunakan yaituanalisis regresi
keluarga di restoran. Adapun hasil linier berganda.
wawancara dari 10 orang pasien Kriteria inklusi dalam penelitian
tersebut, 5 orang (50%) diantaranya ini adalah pasien penderita hipertensi di
mengaku sering mengkonsumsi makanan puskesmas dinoyo kota malang. Kriteria
siap saji di restoran siap saji ternama, 2 eklusi dalam penelitian ini adalah pasien
orang (20%) mengaku tekanan darahnya yang tidak mengalami hipertensi dan
naik apabila ia mengkonsumsi makanan pasien yang sedang tidak berobat di
olahan dari daging sapi (bakso dan Puskesmas Dinoyo Kota Malang.
rawon), 2 orang (20%) mengaku tekanan Variabel dependen dalam
darahnya naik ketika mengkonsumsi penelitian ini adalah tingkatan hipertensi,
ikan asin dan 1 orang (10%) menyatakan dan Variabel independen dalam
554
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

penelitian ini adalah pola makan dan sering yaitu sebanyak 34 orang
gaya hidup (94,45%).
Berdasarkan Tabel 3, dapat
diketahui bahwa tingkatan hipertensi
HASIL DAN PEMBAHASAN pada pasien penderita hipertensi yang
berobat di Puskesmas Dinoyo
Tabel 1. Kategori Pola Makan Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
Pola Makan f (%) hampir seluruhnya kategori stage 1 yaitu
Rendah 8 22,22 sebanyak 28 orang (78,78%).
Normal 20 55,56
Tinggi 8 22,22
Total 36 100 Tabel 3. Tingkatan Hipertensi
Tingkatan
f (%)
Berdasarkan Tabel 1, dapat Hipertensi
diketahui bahwa pasien penderita Stage 1 28 78,78
Stage 2 8 22,22
hipertensi yang berobat di Puskesmas
Total 36 100
Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota
Malang sebagian besar dikategorikan
Tabel 4. Analisis Regresi Linier
memiliki pola makan normal
Berganda
berdasarkan perbandingan dengan
Unstandardized
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu
Variabel Coefficients Keterangan
sebanyak 20 orang (96,67%). B
Constant 15,040 Signifikan
Tabel 2. Kategori Gaya Hidup
(X1) 0,993 Signifikan
Gangguan Siklus
f (%)
Menstruasi (X2) 0,513 Signifikan
Sering 2 5,55 R Square = 0,650
Tidak sering 34 94,55
Total 36 100 Berdasarkan Tabel 4, didapatkan
model persamaan regresi sebagai
Berdasarkan Tabel 2, dapat berikut.
diketahui bahwa gaya hiup (merokok, Y = a + b1X1 + b2X2
konsumsi alkohol, stres dan latihan fisik) Y = 15,040 + 0,993 X1 + 0,517 X2
pada pasien penderita hipertensi yang Persamaan regresi dapat diartikan
berobat di Puskesmas Dinoyo bahwa, nilai korelasi variabel pola
Kecamatan Lowokwaru Kota Malang makan (X1) dan gaya hidup (X2)
hampir seluruhnya dikategorikan tidak terhadap variabel tingkatan hipertensi

555
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

(Y)sebesar nilai konstanta yaitu sebesar dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
15,040. Dengan demikian maka dari diteliti.
nilai regresi masing-masing variabel
sebagai berikut: Identifikasi Pola Makan
Y = Variabel terikat yang nilainya Berdasarkan Tabel 1 diketahui
akan diprediksi oleh variabel bahwa pasien penderita hipertensi yang
bebas yaitu variabel pola makan berobat di Puskesmas Dinoyo
(X1) dan gaya hidup (X2) Kecamatan Lowokwaru Kota Malang
X1 = Koefisien regresi (X1) sebesar sebagian besar dikategorikan memiliki
0,993 dengan tanda menyatakan pola makan normal berdasarkan
bahwa variabel pola makan (X1) perbandingan dengan Angka Kecukupan
mempunyai pengaruh yang Gizi (AKG) yaitu sebanyak 20 orang
positif terhadap variabel (55,56%). Pola makan seseorang dapat
tingkatan hipertensi (Y). dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan
X2 = Koefisien regresi (X2) sebesar lingkungan tempat seseorang berada,
0,517 dengan tanda menyatakan dimana jika seseorang tersebut dapat
bahwa variabel gaya hidup (X2) dikatakan serba berkecukupan maka
mempunyai pengaruh yang orang tersebut dapat membeli makanan
positif terhadap variabel apapun yang dia inginkan. Demikian
tingkatan hipertensi (Y). juga dengan lingkungan seseorang yang
berada di perkotaan tentu banyak
Berdasarkan Tabel 4 hasil analisa jajanan/makana sehingga diperlukan
didapatkan nilai signifikan kurang dari ketelitian dalam membeli dan
0,050 yaitu untuk variabel pola makan mengkonsumsi makanan tersebut. Hal
(X1) sebesar 0,000 dan variabel gaya ini didukung dengan hasil penelitian
hidup (X2) sebesar 0,014 maka variabel Dewantari dan Ari (2011) yang
pola makan (X1) dan gaya hidup (X2) mengungkapkan bahwa tingkat
memiliki hubungan yang signifikan pengetahuan gizi, tingkat kesukaan,
dengan variabel tingkatan hipertensi (Y). ketersediaan, lingkungan, sosial budaya,
Hasil analisis didapatkan nilai R Square dan faktor musiman yang mempengaruhi
(R2) sebesar 0,650 yang menunjukkan ketersediaan makanan.
bahwa secara signifikan variabel pola Pola makan dapat diartikan suatu
makan (X1) dan gaya hidup (X2) kebiasaan menetap dalam hubungan
berpengaruh positif terhadap variabel dengan konsumsi makan yaitu
meningkatkan tingkatan hipertensi (Y) berdasarkan jenis bahan makanan:
sebesar 65,0% dan sisanya 35,0% makanan pokok, sumber protein, sayur,
buah, dan berdasarkan frekuensi: harian,
556
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

mingguan, pernah, dan tidak pernah hidup dapat dipengaruhi oleh faktor usia,
sama sekali. Dalam hal pemilihan dimana pada usia middle age 45 – 59
makanan dan waktu makan manusia tahun gaya hidup mengalami penurunan
dipengaruhi oleh usia, selera pribadi, misalnya dalam beraktivitas atau gerak
kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi fisik.
(Almatsier, 2002). Pengertian lain Gaya hidup seseorang dapat dilihat
menurut Baliwati,Y.F. dkk (2004), pola dari perilaku yang dilakukan oleh
makan atau pola konsumsi pangan individu sepertikegiatan-kegiatan untuk
merupakan susunan jenis dan jumlah mendapatkan atau mempergunakan
pangan yang dikonsumsi seseorang atau barang-barang dan jasa,termasuk
kelompok orang pada waktu tertentu. didalamnya proses pengambilan
Santosa dan Ranti (2004) keputusan pada penentuan kegiatan-
mengungkapkan bahwa pola makan kegiatan tersebut. Amstrong (dalam
merupakan berbagai informasi yang Nugrahen, 2003:15) menyatakan bahwa
memberi gambaran mengenai macam “faktor-faktor yangmempengaruhi gaya
dan jumlah bahan makanan yang hidup seseorang adalah sikap,
dimakan tiap hari oleh suatu orang dan pengalaman, dan
merupakan ciri khas untuk suatu pengamatan,kepribadian, konsep diri,
kelompok masyarakat tertentu. motif, persepsi, kelompok referensi,
Pola makan dengan demikian kelas sosial, keluarga,
dapat dikatakan merupakan cara dankebudayaan”.Pendapat tersebut dapat
mengatur jumlah, jenis dan waktu makan dikelompokkan bahwa faktor-faktor
dengan maksud untuk mempertahankan yangmempengaruhi gaya hidup yaitu
kesehatan dan memenuhi asupan gisi. faktor yang berasal dari dalam diri
Pola makan sendiri dipengaruhi oleh individu (internal) danfaktor yang
faktor eknomi seseorang/keluarga untuk berasal dari luar (eksternal). Faktor
memenuhi beberapa jenis makanan. internal yaitu sikap, pengalaman
danpengamatan, kepribadian, konsep
Identifikasi Gaya Hidup diri, motif, dan persepsi. Dan faktor
Berdasarkan Tabel 2 diketahui eksternal yaitukelompok referensi,
bahwa gaya hiup (merokok, konsumsi keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.
alkohol, stres dan latihan fisik) pada
pasien penderita hipertensi yang berobat Tingkat Hipertensi pada Middle Age
di Puskesmas Dinoyo Kecamatan (45 – 59 Tahun)
Lowokwaru Kota Malang hampir Berdasarkan Tabel 3 diketahui
seluruhnya dikategorikan tidak sering bahwa tingkatan hipertensi pada pasien
yaitu sebanyak 34 orang (94,45%). Gaya penderita hipertensi yang berobat di
557
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

Puskesmas Dinoyo Kecamatan turunan hipertensi sebanyak 21 orang


Lowokwaru Kota Malang hampir (58,33%). Hal ini sesuai pengamatan
seluruhnya kategori stage 1 yaitu Wade (2005) yang mengungkapkan
sebanyak 28 orang (78,78%). Responden adanya faktor genetik pada keluaraga
dikategorikan tekanan darahnya stage 1 tertentu akan menyebabkan keluarga itu
yaitu responden yang memiliki tekanan mempunyai risiko menderita hipertensi.
darah sistolik 140-1159 mmHg dan Hal ini berhubungan dengan peningkatan
distolik 90-99 mmHg. Responden yang kadar sodium intraseluler dan rendahnya
memiliki tekanan darah dengan kategori rasio antara potasium terhadap sodium
stage 1 terkadang dianggap tidak terlalu Individu dengan orang tua menderita
berbahaya sehingga menyebabkan jarang hipertensi daripada orang yang tidak
memeriksakan diri ke rumah mempunyai keluarga dengan riwayat
sakit/puskesmas. Hal ini sesuai dengan hipertensi.
hasil temuan di data umum berupa rutin
kontrol yaitu hampir seluruhnya hanya Hubungan Pola Makan dan gaya
terdapat 28 orang (77,78%) yang ruti Hidup dengan Tingkatan Hipertensi
melakukan kontrol tekanan darah, dan pada Middle Age (45–59 Tahun)
hampir setengah responden yaitu 16 Berdasarkan Tabel 4 diketahui
orang (44,45%) melakukan kontrol di bahwa variabel pola makan (X1) dan
rumah sakit/puskesmas pada 3 bulan gaya hidup (X2) berpengaruh positif
terakhir. terhadap tingkatan hipertensi (Y) dengan
Berdasarkan sampel dalam nilai UnstadardizedCoefficients (B)
penelitian ini yaitu middle age (45 – 59 untuk variabel pola makan (X1) sebesar
tahun) dan hasil penelitian ditemukan 0,993 dan gaya hidup (X2) sebesar 0,517.
hampir setengah responden berusia 45 – Hasil analisis didapatkan nilai r square
50 tahun, maka dapat dikatakan umur (r2) sebesar 0,650 yang menunjukkan
dapat memberikan kontribusi pada bahwa secara signifikan variabel pola
hipertensi. Hal ini didukung dengan makan (X1) dan gaya hidup (X2)
pendapat Kumar (2005) yang berpengaruh positif terhadap variabel
menyatakan bahwa umur seseorang yang meningkatkan tingkatan hipertensi (Y)
berisiko menderita hipertensi adalah usia sebesar 65,0% dan sisanya 35,0%
di atas 45 tahun dan serangan darah dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
tinggi baru muncul sekitar usia 40 diteliti.
walaupun dapat terjadi pada usia muda. Hasil uji t didapatkan nilai t hitung>
Selain umur faktor genetik atau ttabel yaitu untuk variabel pola makan
atau turunan, berdasarkan data umum (X1) 7,602 > 2,042 dan hidup (X2) 2,883
sebagian besar responden memiliki > 2,042 sehingga dapat disimpulkan
558
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

bahwa gaya hidup (X2) berpengaruh 2004). Hipertensi lebih tepat disebut
secara parsial terhadap variabel pembunuh gelap (the silent killer),
tingkatan hipertensi (Y). Hasil uji F karena termasuk penyakit yang
didapatkan nilai Fhitunglebih besar dari mematikan tanpa disertai dengan gejala-
ttabel(30,672 ≥ 3,260)sehingga dapat gejala terlebih dahulu sebagai peringatan
disimpulkan bahwa pola makan (X1) dan bagi korbannya. Kalaupun muncul,
gaya hidup (X2) berpengaruh secara gejala tersebut sering dianggap sebagai
simultan (bersama-sama) terhadap gangguan biasa, sehingga korban
variabel tingkatan hipertensi (Y). terlambat menyadari akan datangnya
Hasil penelitian ini sejalan dengan penyakit (Sustrani, 2004).
penelitian sebelumnya yang dilakukan Peneliti dapat menyimpulkan
oleh Suoth dkk (2014) yang menemukan sederhana bahwa pola makan yang tidak
bahwa bahwa ada hubungan bermakna sehat yaitu kebiasaan mengkonsumsi
antara gaya hidup dengan kejadian makanan dengan tidak memperhatikan
hipertensi di Puskesmas Kolongan jenis dan bahannya, maka dapat memicu
Kecamatan Kalawat Kabupaten kegemukan yang berakibat pada
Minahasa Utara. Penelitian lain penyempitan pembuluh darah sehingga
dilakukan oleh Taslim, dkk (2016) menyebabkan otot jantung harus lebih
tentang hubungan pola makan dan stres keras memompa darah sehingga yang
dengan kejadian hipertensi grade 1 dan 2 berujung pada tingginya tekanan darah.
pada ibu hamil di wilayah kerja Begitu juga dengan gaya hidup
Puskesmas Kamonji Kecamatan Palu seseorang seperti kurang beraktivitas
Barat. berdampak pada melemahnya otot-otot
Saat ini terdapat kecenderungan pembuluh darah dimana pada saat
bahwa masyarakat perkotaan lebih hendak mau melakukan aktivitas yang
banyak menderita hipertensi lebih berat maka dapat membuat jantung
dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal untuk berusaha memompa darah.
ini antara lain dihubungkan dengan pola
makan menjurus ke sajian siap santap
yang mengandung lemak dan garam KESIMPULAN
tinggi membawa konsekuensi terhadap
berkembangnya hipertensi. Perubahan 1) Sebagian besar penderita hipertensi
gaya hidup masyarakat kota yang dikategorikan memiliki pola makan
berhubungan dengan resiko penyakit normal berdasarkan perbandingan
hipertensi seperti stres, obesitas, dengan Angka Kecukupan Gizi
kurangnya olahraga (kurang aktivitas (AKG).
gerak), merokok dan alkohol (Sustrani,
559
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

2) Gaya hidup, hampir seluruhnya Jawa Timur 2011. Surabaya: Dinas


dikategorikan tidak sering yaitu Kesehatan Jawa Timur.
sebanyak 34 orang (94,45%). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
3) Tingkatan hipertensi, hampir 2013. Profil Kesehatan Provinsi
seluruhnya kategori stage 1 yaitu Jawa Timur 2012. Surabaya: Dinas
sebanyak 28 orang (78,78%). Kesehatan Jawa Timur.
4) Terdapat hubungan yang signifikan Dewantari, Ni Made dan Ari Widiani.
antara pola makan dan gaya hidup (2011). Fruid and Vegetales
dengan tingkatan hipertensi pada Consumtion Pattern in School
middle age 45 – 59 tahun di Children. Jurnal, Skala Husada,
Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Volume 8, Nomor 2, September
Kota Malang baik secara parsial 2011: 119-125.
(masing-masing variabel) maupun Elvina, Karyadi. 2006. Hidup Bersama
secara simultan (bersama-sama). Penyakit. Jakarta: PT Intisari
Mediatama.
Hembing, Wijayakusumah dan Setiawan
SARAN Dalimartha. 2006. Ramuan
tradisopnal untuk Pengobatan
Diharapkan kepada peneliti Darah Tinggi. Jakarta: Penebar
selanjutnya yang mengambil judul dan Swadaya.
variabel yang sama untuk memilih salah Junaidi, I. 2010. Hipertensi, Pengenalan,
satu variabel bebas hal ini dimaksudkan Pencegahan, dan Pengobatan.
untuk lebih fokus ketika melakukan Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
pengambilan dan pengolahan. Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan
Indonesia 2014. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA Kumar, V. Abbas, AK., dan Fausto, N.
2005. Hypertensi vascular
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Disease. Dalam: Robin and
Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Catron pathologic basis of
Utama. Disease, 7th edition. Philadelpia:
Baliwati, Y.F., Khomsan, A., dan Elsevier Saunders.
Dwiriani, C.M. 2004. Pengantar Mutiarawati, Rumsari. 2009. Hubungan
Pangan dan GiziJakarta:Penebar antara Riwayat Aktivitas Fisik
Swadaya. dengan Kejadian Hipertensi pada
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Usia 45-54 Tahun di Wilayah
2011. Profil Kesehatan Provinsi Kelurahan Tlogosari Kulon
560
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

Semarang tahun 2009. Skripsi, program Studi Ilmu Gizi, Fakultas


Jurusan Ilmu Kesehatan kesehatan Masyarakat. Universitas
Masyarakat, Fakultas Ilmu Indonesia Depok.
Keolahragaan. Universitas Negeri Suoth, Meylen., Hendro Bidjuni dan
Semarang. Reginus T. Malara. 2014.
Palmer, Anna dan Williams, Brian 2007. Hubungan Gaya Hidup dengan
Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Kejadian Hipertensi di Puskesmas
Erlangga. Kolongan kecamatan kalawat
Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi Kabupaten Minahasa
Hipertensi dan Determinannya di Utara.Ejournal keperawatan (e-
Indonesia. Jakarta: Pusat Kp) Volume 2, Nomor 1.Februari
Penelitian Biomedis dan Farmasi 2014.
Badan Penelitian Kesehatan Sustrani, Lanny. 2004. Vita Health
Departemen Kesehatan RI, Jakarta; Hipertensi. Jakarta: PT Gramedia
2009. Pustaka Utama.
Rasi, Nawi dkk. 2006. Analisis Faktor Taslim, R.W. Ramadani., Rina Kundre
Resiko Kejadian Hipertensi pada dan Gresty Masi. (2016).
Dewasa Muda di Unit Rawat RSU Hubungan Pola Makan dan Stres
Labuang Baji Makasar. Kemas, dengan kejadian Hipertensi Grade
Volume II, No.1. JANUARI- 1 dan 2 pada Ibu Hamil di
MARET2006. Hal 303-308. Wilayah kerja Puskesmas kamonji
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. kecamatan Palu Barat. E-Journal
Pedoman Pewawancara Petugas Keperawatan (ekp) Volume 4
Pengumpul Data. Jakarta: Badan Nomor 1, februari 2016.
Litbangkes, Depkes RI, 2013 Wade, A Hwheir, DN Cameron, A.
Santoso, S dan Ranti, A. Lies. 2004. 2003. Using a Problem Detection
Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Study (PDS) to Identify and
Rineka Cipta. Compare Health Care Privider
Santrock, J. 2002. Life-Span and Consumer Views of
Developmen Perkembangan Masa Antihypertensive therapy.Journal
Hidfup. Jakarta: Erlangga. of Human Hpertension, Jun Vol 17
Stefhany, Emerita. 2012. Hubungan Issue 6, p 397.
Pola Makan, Gaya Hidup dan WHO, Departemen of Health and
Indeks Massa Tubuh dengan Human Services. 2010. The
Hipertensi pada Pra Lansia dan Seventh Report of The Joint
lansia di Posbindu Kelurahan National Committe on Prevention,
Depok Jaya Tahun 2012. Skripsi, Detection, Evaluation, and
561
Nursing News Hubungan Antara Pola Makan dan Gaya Hidup
Volume 3, Nomor 1, 2018 dengan Tingkatan Hipertensi Pada Middle Age 45-59
Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota
Malang

Treatment of Hight Blood


Pressure. National Institutes of
Health: National Hearth, Lung, and
Blood Institute.

562