Anda di halaman 1dari 14

Kisah Kejujuran Syekh Abdul Kadir Jaelani

Pada suatu ketika, Syekh Abdul Kadir Jaelani pergi ke kota Baghdad dengan tujuan
menuntut ilmu. Ketika itu, ia masih sangat muda. Dia mengikuti satu khalifah yang akan menuju
ke baghdad dari rumahnya, sebelum berangkat, ibunya memberi sedikit uang sebagai bekal untuk
berbelanja serta sedikit bekal makanan. Ibunya menyembunyikan uang itu pada bagian lengan
baju anaknya dan dijahitnya supaya tidak diketahui oleh orang lain.

Setelah ia siap, ibunya pun berpesan kepada Syekh Abdul Kadir. ”Hai anakku, aku hendak
memberimu beberapa pesan. Dengarkanlah baik-baik, bila engkau dalam perjalanan dan berada
di negeri orang, hendaklah senantiasa berkata dan berlaku baik dan benar. Ketahuilah, bahwa
orang Islam tidak boleh berdusta. Hai anakku, hendaklah kau ingat akan sabda Rasul bahwa
amanah itu adalah kemenangan. Bertindaklah yang benar, baik dalam perkataan, maupun
perbuatan. Dengan demikian Allah swt, akan senantiasa melindungi dirimu.”
Di tengah perjalanan, khalifah itu diserang oleh sekelompok perampok secara tiba-tiba. Para
perampok meminta seluruh orang dalam khalifah itu mengeluarkan semua harta bendanya.
Salah seorang perampok bertanya kepada Syekh Abdul Kadir, ”Hai anak muda, apa yang engkau
bawa?” Syekh Abdul Kadir menjawab, “Aku hanya membawa uang empat puluh ashrafis
(mata uang pada zaman itu)”. Mendengar jawabannya perampok itu membentak Syekh Abdul
kadir. “Apakah kamu hendak mempermainkan aku ? Kamu pasti berbohong!” Perampok itu
berkeyakinan bahwa tidak mungkin Syekh Abdul Kadir hanya membawa uang yang begitu
sedikit. Syekh Abdul Kadir berusaha meyakinkan bahwa dirinya memang benar-benar hanya
membawa uang empat puluh ashrafis. Sekalipun perampok itu terus menekan, Syekh Abdul
Kadir tetap tenang, ia berkata. ”Wahai tuan, orang yang sedang menuntut ilmu itu seperti
sedang berjalan menuju ke surga.

Ia selalu di dampingi oleh malaikat dan malaikat itu selalu menolongnya, saya hendak
menuntut ilmu dengan harapan saya dapat menjadi orang yang beriman. Mengapa saya mesti
berbohong hanya untuk uang sebesar empat puluh ashrafis ?. Seorang muslim sejati tidak akan
berbohong, sekalipun ia dalam keadaan bahaya dan kesusahan.”

Perampok itu terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia merasa
kagum dan heran dengan sikap perampok itu membawa Syekh Abdul Kadir kepada
pemimpinnya.

Di hadapan pemimpin perampok itu Syekh Abdul Kadir memberi tahu tentang tujuannya,
yaitu untuk pergi menuntut ilmu di negeri Baghdad. “Kalau begitu, engkau tentu membawa
uang bukan ?” kata pemimpin perampok itu. Dengan tenang Syekh Abdul Kadir berkata. ”Ya
benar, aku membawa uang sebesar empat pulu ashrafis.” Mendengar perkataannya,
pemimpin perampok itu tampak menahan marah dan berkata. ”Apakah engkau hendak
mempermainkan diriku ?” Syekh Abdul Kadir menjelaskan bahwa dirinya tidak berdusta dan
benar-benar hanya membawa uang sebesar empat puluh ashrafis. “Ibu saya telah berpesan
kepada saya untuk tidak berbohong. Seorang muslim yang baik tidak ada berbohong,
sekalipun dalam keadaan bahaya dan kesusahan. Apalagi, saya akan pergi menuntut ilmu,
padahal dalam menuntut ilmu akan menjadi sia-sia jika saya berbohong”.

Pemimpin perampok itu termenung mendengar perkataan Syekh Abdul Kadir, ia tidak mengira
Syekh Abdul Kadir akan berkata demikian. Ia memikirkan perkataan Syekh Abdul Kadir yang
sangat menyentuh hati pemimpin perampok itu. Ia pun menjadi sedih dan menangis, dan
ia merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Syekh Abdul Kadir. Syekh Abdul
Kadir tidak mampu mengkhianati ibunya, sementara dirinya mampu mengkhianati Allah.
Akhirnya, pemimpin perampok itu bertobat, ia menyadari kesalahannya selama ini.
Kisah Kejujuran Anak Penggembala Kambing

Sahabat pilar islam, Khalifah Umar bin Khattab merupakan sosok pemimpin setelah
meninggalnya Rasulullah Muhammad SAW yang sangat disegani. Ini karena Umar terkenal
sangat teguh menjaga amanah dan tidak mau menyimpang.
Kala itu, Umar sedang mengadakan perjalanan ke suatu tempat. di tengah perjalanan, dia
bertemu dengan seorang anak penggembala kambing.
Anak ini hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia pun
hidup mengandalkan upah yang diperolehnya dengan menggembala kambing. Melihat si anak
itu, Umar kemudian ingin menguji apakah anak ini dapat bersikap jujur dan amanah. Maka,
didekatilah si anak ini.
“Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah
kepadaku barang satu ekor saja,” kata Khalifah Umar kepada si anak gembala.
“Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan kambing-kambing ini
dan memungut upah darinya,” kata anak gembala.
“jika kau jual pada ku, Katakan saja kepada majikanmu, kalau salah satu kambingnya dimakan
serigala,” ucap Khalifah Umar.
Anak gembala itu terdiam. Sejenak kemudian, dia lalu berkata, “Di mana Allah? Di mana
Allah? Jika tuan menyuruh saya berbohong, di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat?
Apakah tuan mau menjeruskan saya ke dalam neraka karena telah berbohong?”
Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar menitikkan air mata. Dipeluknya anak gembala itu, lalu
dia meminta agar si anak gembala itu mengantarkannya kepada sang majikan.
Setelah bertemu dengan majikan si anak gembala, Khalifah Umar kemudian menawar harga
anak itu. Kesepakatan terjadi, dan si anak gembala ini dimerdekakan oleh Khalifah Umar.
Selain itu, Khalifah Umar juga membeli semua kambing yang digembalakan si anak tadi.
Kambing-kambing itu kemudian diberikan kepada si anak gembala, dan menjadi hak penuh
miliknya, sebagai hadiah atas kejujuran dan amanah si anak tadi.
Kisah jujur Abu Bakar berikan semua hartanya demi kemajuan Islam

Rasulullah SAW dikenal sebagai nabi yang jujur. Bahkan, dengan kejujurannya Beliau dijuluki
Al Amin yang berarti dapat dipercaya.
Namun tak hanya Rasulullah yang mempunyai sifat seperti itu. Salah satu sahabatnya Abu Bakar
juga memiliki sifat jujur. Abu Bakar sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah dan
keluarganya.
Abu Bakar adalah orang yang hanif yaitu orang cenderung pada kebenaran. Abu Bakar tidak
pernah minum minuman keras, tidak pernah berjudi, dan berzina. Selain itu, Abu Bakar rajin
bekerja. Dia sangat ulet dan tidak pernah menyerah.
Dalam berdagang dia tidak pernah menipu. Dia sangat jujur sehingga kejujuran dan kebaikannya
dikenal banyak orang.
Dengan berdagang, Abu Bakar menjadi orang kaya dan terhormat. Banyak orang datang
kepadanya meminta bantuan. Abu Bakar tidak pernah menolak orang yang minta
pertolongannya.
Dengan lemah lembut, ramah dan murah senyum dia melayani orang-orang lemah. Abu Bakar
tidak pernah meminta balasan dari mereka.
Abu Bakar orang yang sangat mendukung dakwah Nabi Muhammad. Semua waktu, tenaga dan
pikirannya dicurahkan untuk kemajuan Islam.
Bahkan, dia tak segan memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan tersebut. Kala itu
Rasulullah bertanya kepada sahabatnya tersebut, "Hai, Abu Bakar, kau infakkan seluruh
hartamu. Lalu apa yang kau tinggalkan untuk anak istrimu?.
Dengan tegas dia menjawab, "Aku pasrahkan anak istriku kepada Allah dan Rasul Nya,".
Abu Bakar tak pernah takut menderita dengan memberikan semua hartanya di jalan Allah.
Menurutnya, semua penderitaan dan kesedihan tak akan terasa bila dia tetap bersama Rasulullah.
Beliau lebih mencintai Allah dan Rasulullah dari pada keluarganya. Lantaran kejujurannya Abu
Bakar mendapat julukan sebagai As-Shiddiq (orang yang membenarkan). Tidak itu saja, jaminan
masuk surga secara langsung, pun telah beliau genggam dari Rasulullah.
Allah berfirman dalam surat Al Layl ayat 17-21, "Dan kelak akan dijauhkan dari neraka itu orang
yang paling bertakwa, yang memberikan hartanya untuk menyucikan diri, tidaklah bagi seorang
pun selainnya yang tidak mengharap nikmat sebagai balasan, kecuali menghendaki wajah
Tuhannya yang Maha Luhur, dan niscaya (Tuhannya) akan meridhoi,". (QS Al Layl: 17-21).
Kejujuran Seorang Yang Menemukan Barang Bukan Miliknya

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi’ bin Muhammad al-Bazar berkata,
“Ketika itu aku tinggal di samping kota Makkah- sebuah kota yang semoga selalu dalam
penjagaan Allah subhanahu wata’ala-. Suatu hari aku sangat lapar, sementara aku tidak
mendapatkan makanan yang dapat mengganjal rasa laparku.
Tanpa aku duga aku menemukan sebuah bungkusan berbalut kain sutra diikat kaos kaki
dari kain sutra pula. Maka tanpa pikir panjang bungkusan itu aku pungut lalu aku bawa ke rumah
dan kubuka. Ternyata berisi seuntai kalung mutiara yang seumur hidup aku belum pernah
melihatnya.
Setelah itu, aku keluar rumah. Aku mendengar seorang kakek sedang mencari sebuah
bungkusan yang hilang. Dia menjajikan hadiah sebesar 500 dinar. Kakek itu berkata,
‘Barangsiapa menemukan bungkusan berisi kalung mutiara, maka uang 500 dinar ini akan aku
berikan sebagai imbalan kepada penemunya.’
Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku sangat butuh, aku sangat lapar, aku bisa mengambil
kalung ini dan memanfaatkannya.’ Tapi aku akan mengembalikannya.
Aku berkata pada kakek itu, ‘Marilah kita ke rumah.’ Akupun membawanya ke rumahku.
Setibanya di rumah, sang kakek menyebutkan ciri-ciri bungkusan yang hilang, diikat kaos kaki,
jenis mutiara, jumlah dan benang yang digunakan untuk mengikat mutiara tersebut.
Kemudian aku serahkan bungkusan tadi kepada kakek tersebut. Diapun memberikan kepadaku
500 dinar sebagai imbalan. Namun aku menolak, aku berkata, ‘Sudah menjadi kewajibanku
untuk mengembalikan temuan ini kepada pemiliknya dengan tanpa mengambil upah.’
Sang kakek berkata, ‘Kamu harus menerima uang ini.’ Dia terus menerus memaksaku untuk
mengambil upah tersebut. Aku tidak mau menerimanya lalu dia pergi meninggalkan aku.
Adapun cerita mengenai diriku selanjutnya bahwasanya aku lalu meninggalkan Makkah dengan
menumpang sebuah perahu. Tanpa aku duga perahu tersebut oleng. Orang-orang pun bercerai-
berai berikut seluruh hartanya. Namun aku selamat dari musibah ini berpegangan salah satu
papan perahu tersebut.
Beberapa hari aku berada di tengah lautan tanpa arah. Tiba-tiba aku terdampar di sebuah pulau
yang berpenduduk. Aku menuju masjid untuk membaca al-Qur’an. Di kampung itu tidak ada
seorangpun yang bisa membaca al-Qur’an. Kemudian mereka mendatangiku untuk meminta
mengajari mereka membaca al-Qur’an. Dari taklimku ini aku bisa mengumpulkan sejumlah
uang.
Suatu hari, aku menemukan beberapa lembar al-Qur’an di dalam masjid. Lembaran itu aku
pungut. Orang-orangpun bertanya, ‘Apakah kamu bisa menulis?’ Aku jawab, ‘Ya’. Kemudian
mereka memintaku untuk mengajari tulis menulis termasuk pada anak-anak dan remaja mereka.
Sejak itu aku mengajari mereka, akupun bisa mengumpulkan sejumlah uang. Suatu hari
masyarakat kampung ini berkata kepadaku, ‘Kami mempunyai seorang gadis yatim sangat kaya,
bagaimana jika kamu menyuntingnya?’ Aku menolak tawaran mereka. Mereka tetap memaksaku
untuk menikahi gadis tersebut. Akhirnya aku terima tawaran mereka.
Setelah diadakan walimah dan isteriku ada di hadapanku, aku mendapati kalung yang dulu
pernah kulihat, melingkar di lehernya. Mataku tak berkedip melihat kalung tersebut.
Orang-orang yang melihatku mengajukan protes, ‘Wahai ustadz, engkau telah menghancurkan
hati gadis yatim ini, sebab engkau hanya menatap kalungnya bukan wajahnya!.’
Lalu aku ceritakan kisah kalung tersebut, orang-orang pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga
terdengar oleh seluruh penduduk pulau tersebut.
Aku menanyakan kepada mereka, ‘Ada apa?’
Mereka menjawab, ‘Kakek yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah gadis ini. Kala itu
kakek tersebut berkata, ‘Seumur hidupku, aku tidak pernah bertemu dengan seorang pemuda
muslim yang baik seperti dia!’ Sang kakek hanya mampu memanjatkan do’a, ‘Ya Allah,
pertemukanlah aku dengan pemuda itu agar aku dapat menikahkannya dengan anak gadisku.’
Sekarang do’a itu telah dikabulkan Allah.
Selanjutnya, aku tinggal bersama isteriku beberapa tahun, aku dikaruniai dua anak laki-laki.
Kemudian isteriku meninggal dunia dia mewariskan kalung tersebut untukku dan untuk kedua
anakku. Tanpa aku duga, dua anak laki-lakiku pun meninggal dunia. Maka tinggalah aku
sebatang kara dan menjadi pemilik kalung isteriku. Kemudian kalung tersebut aku jual dengan
harga 100 ribu dinar. Hartaku yang bisa kalian lihat sekarang ini adalah sisa-sisa harta itu.”
Kejujuran dan Kasih Sayang Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw. sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Oleh sebab itu beliau sangat
mencintai anak yatim dan menganjurkan umatnya untuk merawat, mendidik dan mencintai anak
yatim.
Di samping itu nabi Muhammad saw. terkenal sangat jujur. Sikap jujur tersebut sudah
diperlihatkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Pada usia remaja, beliau diminta bantuan
oleh pamannya untuk membawa barang dagangan Siti Khadijah binti Khuwailid yang kaya dan
dihormati di kota Mekah.
Pada usia tiga puluh lima tahun nabi Muhammad saw. bersama-sama dengan orang-orang
Quraisy diminta untuk memperbaiki Ka’bah. Ketika pembangunan sudah sampai ke bagian
Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk
meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Pada akhirnya mereka sepakat menunjuk
Muhammad saw. sebagai orang yang tepat untuk melakukan hal tersebut.

Rasulullah pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak
terpikirkan oleh mereka. Beliau mengambil selembar selendang, kemudian Hajar Aswad itu
diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah
yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang itu. Mereka kemudian mengangkat
Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut.

Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh kabilah setuju dan meridhai jalan keluar
ini. Mereka pun tidak jadi saling menumpahkan darah. Sejak saat itu beliau dikenal di antara
kaumnya dengan sifat-sifat yang terpuji. Para sahabat dan pengikutnya sangat menghormati dan
mencintai beliau, sehingga beliau diberi gelar “al-Amin”, artinya orang yang dapat dipercaya.
Kejujuran Nabi Muhammad Dalam Berdagang

Walau wilayahnya gurun pasir yang tandus, tetapi letak jazirah Arabia sangat strategis,
berada pada posisi pertemuan tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa. Hal ini dimanfaatkan
penduduk untuk berdagang. Pasar Ukaz di Makkah menjadi pusat perdagangan seluruh Arab,
menjadi stasiun perhubungan antara Dunia Timur dengan Dunia Barat, antara Yaman di selatan
dan Syam di utara, hingga Persi dan Ethopia di Afrika. Salah seorang dari pedagang itu adalah
paman Nabi, Abdul Muthalib yang bertanggungjawab memelihara Muhammad sejak usia
delapan tahun.
Walau Abdul Muthalib cukup disegani masyarakat Quraisy, tetapi dari segi kehidupannya
jauh dari berkecukupan. Untuk meringankan beban pamannya, Nabi sering mengikuti kegiatan
pamannya berdagang, kadang-kadang hingga ke negeri yang jauh seperti Syam (Syria sekarang).
Mengikuti kafilah dagang hingga Syam ini sudah dilakoni Nabi waktu beliau masih usia 12
tahun. Tidak seperti pedagang pada umumnya, dalam berdagang beliau dikenal sangat jujur,
tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya. Beliau pun tidak pernah mengurangi
timbangan ataupun takaran. Nabi juga tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan,
apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab
kabul.
Karena kejujurannya tersebut serta integritasnya yang tinggi, beliau di beri gelar al-Amin
yaitu orang yang terpercaya atau orang yang bisa dipercaya. Kejujuran Muhammad (belum jadi
Nabi) dalam berdagang ini menarik perhatian seorang pedagang kaya raya yang juga janda
bernama Siti Khadijah. Ia meminta kesediaan Muhammad untuk memutarkan modal yang
dimilikinya. Kepercayaan yang diberikan Khadijah tidak disia-siakan oleh Muhammad, terbukti
beliau berhasil melipatgandakan kekayaan Khadijah.
Selanjutnya hubungan keduanya tidak berhenti sampai disitu saja, tetapi diteruskan dengan
hubungan pernikahan. Muhammad pada usia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang waktu itu
berusia 40 tahun. Suatu hal yang istimewa dari cara Nabi berbisnis ialah bahwa yang dicari tidak
laba semata, melainkan terjalinnya hubungan silaturrahim dan keridhaan Allah SWT. Bagi
mereka yang tidak sanggup membayar dengan kontan, padahal kondisinya sangat membutuhkan,
Nabi memberi tempo untuk melunasi. Tidak jarang terjadi, bagi yang betul-betul tidak sanggup
membayar, beliau membebaskannya dari utang.
Tetapi kejujuran Nabi dalam berdagang dan bantuan beliau pada mereka yang lemah dan
mereka yang terlilit utang bukannya membuat beliau rugi. Dalam kenyataannya, semua pihak
senang melakukan transaksi bisnis dengan beliau. Karena itu, walaupun tanpa menggunakan
cara-cara licik dan melakukan penipuan, keuntungan yang beliau raih menjadi lebih besar.
Sejarah mencatat bahwa Muhammad adalah pedagang yang paling sukses dalam masyarakat
Quraisy waktu itu. Bagi kita yang hidup pada masa sekarang yang bisa dipetik dari pengalaman
Rasulullah adalah bahwa pedagang yang jujur itu akan sangat beuntung, bukannya malah
buntung.

Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik

Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi
pada tahun kesembilan Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat,
seperti dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam, perang ini merupakan perang yang
berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh. Kisah
berikut disarikan dari keterangan kitab tersebut.
Di antara rombongan umat muslim itu, tersebutlah Kaab bin Malik yang tidak ikut serta
dalam keberangkatan menuju Perang Tabuk. Sebelumnya, Kaab bin Malik dikenal di kalangan
sahabat sebagai orang yang terpercaya, golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, dan
selalu mengikuti perang bersama Nabi. Orang-orang tidak meragukan keimanannya.
Kaab bin Malik pun gelisah karena keterlambatannya ini. Ia mengetahui bahwa ketika ada
umat muslim yang mangkir dari perang, dan bukan disebabkan alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, maka hal tersebut adalah termasuk dosa yang besar.
Dalam kegelisahannya itu, ketika keluar rumah, ia menemui bahwa yang masih berada di
sekitar lingkungannya adalah orang-orang yang bermaksud mangkir dari peperangan – konon
disebut kaum yang munafik – dan orang-orang lemah yang tidak mampu berperang.
Di sisi lain, seusai perang, Rasulullah SAW baru menyadari bahwa Kaab bin Malik tidak
ikut serta dalam perang Tabuk itu. Ia menanyakan pada para sahabat,
“Kemanakah Kaab bin Malik?”
Kemudian ada yang mengatakan, konon seorang sahabat dari Bani Salimah,
mempertanyakan jangan-jangan Kaab ini mementingkan dirinya sendiri. Tapi langsung ia
didamprat oleh sahabat Muadz bin Jabal ra.
“Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Kaab bin Malik!”
Kaab menjadi resah saat ia tahu bahwa ia tertinggal dan absen dari perang. Hal yang ia
resahkan, adalah bagaimana ia akan berujar pada Nabi tentang keadaan yang menimpanya.
Sempat ada hasrat berbohong, tapi ia urungkan.
Setibanya Nabi di Madinah, lalu menunaikan sembahyang sebagaimana beliau amalkan
seusai perang, orang-orang yang tidak mengikuti perang mendatangi beliau dan menyampaikan
alasan-alasan mereka. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Nabi menerima alasan
mereka, dan mengatakan bahwa beliau menyerahkan urusan kebenaran dalam hati mereka
dengan Allah. Kaab bin Malik pun menjadi rikuh.
Ia beranikan diri mendatangi Nabi, lantas berkata dengan jujur,
“Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela
mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka
Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, Nabi,”
Mendengar pengakuan yang tulus itu, Nabi menerimanya. Namun karena beliau tahu
bahwa kesalahan yang diperbuat Kaab bin Malik adalah kesalahan yang besar, maka beliau
memutuskan untuk menunggu jawaban dari Allah. Rupanya selain Kaab bin Malik, ada dua
sahabat lainnya yang mengalami hal serupa, dengan alasan yang sama dengan Kaab bin Malik.
Beberapa hari kemudian, Nabi memerintahkan para sahabat untuk tidak mengajak bicara
Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya itu sebagai bentuk hukuman. Tentu saja bagi mereka
bertiga, hal itu terasa menyesakkan perasaan. Dalam riwayat, Kaab bin Malik berusaha
bertingkah biasa, namun bagaimanapun ia merasakan tekanan yang berat saat diabaikan oleh
sahabat-sahabat lainnya. Ia sempat berjumpa seorang sahabat, lantas bertanya,
“Tidak tahukah engkau bahwa aku ini sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Sahabat itu menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,”
Kaab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi
menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut
diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima
puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Kaab bin Malik melakukan salat sebelum fajar, lantas
mengadukan masalahnya kepada Allah.
“Kaab!” Terdengar suara Nabi memanggil. Kaab bin Malik terkejut.
“Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri.
Kemudian Rasulullah menyebutkan tiga ayat dari surat At Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119
yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.
Kaab merasakah bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia
itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung
konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang. Dan
memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk
berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran
memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani
mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Kaab bin Malik dan dua
sahabat itu.

Kisah Tentang Kejujuran di Jaman Rasulullah

Banyak sekali kisah-kisah hikmah yang bertebaran yang bisa kita ambil dari kisah
perjalanan manusia yang mulia Rasulullah SAW, perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan
Islam selama 23 tahun dengan dibagi 2 periode yang dinamakan dengan periode Makiyyah dan
Periode Madaniyyah, Makiyyah adalah jaman Rasulullah dalam menanamkan keyakinan
ketauhidan kepada Allah SAW.
Jaman Madaniyyah adalah jaman dimana periodenya selama 13 tahun adalah dalam
membentuk sebuah kehidupan sosial yang tinggi yang disebut dengan masyarakat Madani.
Di antara kisah-kisah yang penuh hikmah ini, adalah sebuah kisah seorang pemuda yang
ingin hidup dalam Islam namun masih memiliki kebiasaan buruk yang suka dengan berjudi,
mabuk-mabukan dan lainnya.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari
ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah SAW karena hendak memeluk agama
Islam.
Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata : “Ya Rasulullah.
Sebenarnya hamba ini selalu berbuat dosa dan sulit meninggalkannya.” Maka Rasulullah SAW.
menjawab : “Maukah engkau berjanji untuk berkata jujur?” “Ya, saya berjanji” jawab lelaki itu
singkat. Setelah itu, dia pun pulanglah ke rumahnya.
Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai
seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras.
Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia berupaya untuk meninggalkan segala keburukannya
itu. Karena itu dia meminta nasihat dari Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan pulang dari menemui Rasulullah SAW. lelaki itu berkata di dalam
hatinya : “Berat juga aku hendak melakukan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW. itu.”
Maka setiap kali hatinya terdorong untk berbuat jahat, suara hatinya selalu berkata. “Berani
engkau berbuat jahat. Apakah jawabanmu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah SAW.
Sanggupkah engkau berbohong kepadanya” bisik suara hatinya tersebut.
Setiap kali dia hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah SAW dan
setiap kali pulalah hatinya berkata : “Kalau aku berbohong kepada Rasulullah SAW. berarti aku
telah mengkhianati janjiku pada Rasulullah SAW.
Sebaliknya jika aku berkata benar berarti aku akan menerima hukuman sebagai orang
Islam. Ya Allah….sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah SAW. itu terkandung sebuah
hikmah yang sangat berharga.”
Setelah dia berjuang dengan melawan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu sukses dalam
menentang kehendak nalurinya. Menurut hadis itu lagi, sejak hari itu mulai babak baru dalam
hidupnya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan
oleh Rasulullah SAW. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang soleh dan
mulia.
Semoga setelah membaca kisah di atas kita bisa memperlakukan orang yang ingin berbuat
baik dengan memberikan saran-saran yang mudah dan sesuai dengan kemampuan dan daya
pikirnya dia saat itu.
Kisah Sahabat Nabi: Shuhaib bin Sinan, Pedagang yang Selalu Untung

Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan. Bapaknya menjadi Hakim


dan Walikota Ubuilah. Pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah
orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya agama Islam. Istananya yang
terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir “Jazirah” dan "Mosul”, anak itu hidup dalam
keadaan senang dan bahagia.
Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu
dan menawan sejumlah penduduk, termasuk di antaranya Shuhaib bin Sinan. Ia diperjualbelikan
oleh saudagar-saudagar budak. Perkelanaannya yang panjang berakhir di Kota Makkah, yakni
setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remajanya di negeri Romawi.
Hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.
Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya, hingga Shuhaib
dibebaskan dan dimerdekakan dan diberi kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya. Ammar
bin Yasir mengisahkan peristiwa yang terjadi ketika ia bersama Shuhaib. "Pada hari itu aku
berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah SAW
sedang berada di dalamnya. Aku bertanya kepadanya, ‘Kamu hendak kemana?"
Shuhaib balik membalas, "Dan kamu, hendak ke mana?"
"Aku hendak menjumpai Muhammad SAW untuk mendengarkan ucapannya," jawab
Yasir.
"Aku juga hendak menjumpainya,” ujar Shuhaib pula.
Demikianlah Yasir dan Shuhaib masuk ke dalam rumah Al-Arqam. Waktu itu Rasulullah
menjelaskan tentang akidah agama Islam. Setelah meresapi apa yang dikemukakannya, para
sahabat pun menjadi pemeluknya.
Hari-hari perjuangan Shuhaib yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat
hijrahnya. Pada hari itu ditinggalkannya segala emas dan perak serta kekayaan yang
diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama berbilang tahun di Makkah. Semua kekayaan ini
dilepaskan dalam sekejap tanpa berpikir panjang.
Ketika Rasulullah hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahuinya, dan menurut rencana ia
akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Tetapi
orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan
Rasulullah.
Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka. Hingga terhalang untuk hijrah untuk
sementara waktu, sementara Rasulullah dengan sahabatnya berhasil meloloskan diri atas
pertolongan Allah SWT Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah.
Hingga ketika mereka lengah, ia naik ke punggung untanya. Ia memacu kudanya dengan
sekencang-kencangnya menuju sahara luas.
Tetapi Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu
hampir berhasil. Tapi ketika Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka, ia berseru, “Hai
orang-orang Quraisy, kalian tahu bahwa aku adalah ahli panah yang paling mahir. Demi Allah,
kalian takkan berhasil mendekati diriku, sebelum aku lepaskan semua anak panah yang berada
dalam kantong ini. Dan setelah itu, akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai
senjata di tanganku habis semua."
Shuhaib terus berseru, "Majulah ke sini kalau kalian berani! Atau jika kalian setuju, aku
akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkanku pergi."
Mereka sama tertarik dengan tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai
imbalan dirinya. "Memang, dahulu waktu kamu datang kepada kami, kamu adalah seorang
miskin lagi papa. Sekarang hartamu menjadi banyak di tengah-tengah kami hingga melimpah
ruah. Lalu kamu hendak membawa pergi bersamamu semua harta kekayaan itu?”
Shuhaib menunjukkan tempat disembunyikan hartanya itu, hingga mereka membiarkannya
pergi sedang mereka kembali ke Makkah. Anehnya, mereka memercayai ucapan Shuhaib tanpa
meragukannya sedikit pun. Hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta
agar ia mengucapkan sumpah.
Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang
yang jujur dan dapat dipercaya.