Anda di halaman 1dari 25

TEKNIK KENDALI MOTOR

“HARMONISA”

Disusun oleh:
Muhammad Reza Pahruroji 1316020013

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2019

Politeknik Negeri Jakarta


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI .................................................................................................................. 2

A. Teori Harmonisa ...................................................................................................... 3

B. Sumber Harmonisa................................................................................................. 7

C. Pengaruh Penggunaan Peralatan Elektronika Daya Terhadap Harmonisa ... 7

D. Standar Distorsi Harmonisa IEC .......................................................................... 9

E. Filter Harmonisa.................................................................................................. 12

E.1 Filter Pasif ...................................................................................................... 13

E.2 Single-tuned passive filter............................................................................. 15

E.3 Double Tuned Filter ...................................................................................... 17

G. Pengaruh Harmonisa Pada Beberapa Aspek ................................................... 21

G.1 Sistem Proteksi ............................................................................................... 22

G.2 Motor Listrik .................................................................................................. 22

G.3 Transformator ................................................................................................. 23

G.3 Dampak Harmonisa pada Peralatan ............................................................... 24

Politeknik Negeri jakarta


A. Teori Harmonisa

Dalam sistem tenaga listrik yang ideal, bentuk gelombang tegangan yang
disalurkan ke peralatan dan bentuk gelombang arus yang dihasilkan adalah
gelombang sinus murni terlihat bentuk ideal dari gelombang tegangan dan arus pada
Gambar 2.1.

Gambar Gelombang sinus arus dan tegangan

Harmonisa merupakan gangguan yang dalam distribusi tenaga listrik yang


disebabkan oleh adanya distorsi gelombang arus dan tegangan yang menyebabkan
adanya pembentukan gelombang-gelombang yang tidak sinusoidal atau dengan
frekuensi kelipatan bulat dari frekuensi fundamentalnya. Sehingga harmonisa dapat
menyebabkan cacat gelombang atau cacat Harmonisa adalah perubahan bentuk
gelombang akibat adanya komponen frekuensi tambahan. Pada sistem tenaga listrik
frekuensi kerja normal adalah 50 Hz atau 60 Hz tetapi, dalam aplikasi pemakaiannya
berdasarkan beban yang digunakan frekuensi arus dan tegangan dapat menjadi tidak
normal atau menjadi kelipatan dari frekuensi normal 50/60 Hz, hal inilah yang
disebut dengan harmonisasi.

Politeknik Negeri Jakarta


Jika frekuensi (f) adalah frekuensi normal dari suatu sistem, maka frekuensi
orde n (1,2,3...n) adalah nf atau factor kelipatan dari frekuensi normal, sehingga
frekuensi dapat berubah menjadi 100 Hz, 150 Hz dan seterusnya. Gelombang inilah
yang kemudian menumpang pada gelombang normal sehingga terbentuklah
gelombang tidak sinusoidal yang merupakan hasil dari penjumlahan antara
gelombang normal sesaat dengan gelombang harmonisanya. seperti tampak pada
Gambar dibawah ini.

Gambar Bentuk gelombang dasar, harmonisa dan gelombang terdistorsi

Harmonisa bisa muncul akibat adanya beban-beban non linier yang terhubung
ke sistem distribusi. Beban non linier ini umumnya adalah peralatan elektronik yang di
dalamnya banyak terdapat komponen semi konduktor. Komponen ini dalam proses
kerjanya berlaku sebagai saklar yang bekerja pada setiap siklus gelombang tegangan.
Beberapa contoh beban non linier antara lain : variable speed drive, UPS, komputer,
printer, televisi, microwave oven, lampu fluorescent yang menggunakan elektronik
ballast.
Keberadaan harmonisa arus dalam suatu sistem tenaga listrik memberikan efek
secara langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas dan keandalan sistem
tersebut. Pada beberapa kasus, keberadaan harmonisa orde ketiga yang dihasilkan oleh
beban-beban satu fasa menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan aliran daya pada

Politeknik Negeri Jakarta


sistem tiga fasa sehingga arus pada kawat netral yang seharusnya bernilai nol menjadi
bernilai tertentu yang seringkali melebihi kapasitas kawat tersebut. Pengaruh
keberadaan harmonisa juga sangat tampak pada peralatan-peralatan sistem tenaga listrik
seperti generator, transformator, motor, dan kapasitor. Selain itu umur pakai peralatan
tersebut juga mengalami penyusutan dikarenakan vibrasi dan temperatur operasi yang
meningkat jauh lebih tinggi akibat keberadaan harmonisa arus. Pada kapasitor,
harmonisa menyebabkan reduksi kapasitas penyimpanan daya reaktif sehingga jelas
lebih baik proses koreksi terhadap faktor daya juga mengalami gangguan.
Harmonisa berdasarkan dari urutan ordenya dapat dibedakan menjadi
harmonisa ganjil dan harmonisa genap, sesuai dengan namanya harmonisa ganjil
adalah harmonisa ke 1,3,5,7,9,11 dan seterusnya, perpaduan harmonisa ganjil
dengan harmonisa kosong adalah paling merugikan yaitu harmonisa ke 3,9,15 dan
seterusnya seperti pada Gambar dibawah ini

Gambar Spektrum urutan orde harmonisa

Teori yang dipakai untuk memahami gelombang harmonisa adalah deret


Fourier, dimana deret Fourier dapat menunjukkan komponen genap dan komponen
ganjil, dan persamaan umum dari deretfourier dapat ditulis dengan sistematis
menggunakan Persamaan berikut :

Politeknik Negeri Jakarta


f
Persamaan 1 di gunakan untuk gelombang yang berperiode

berkelanjutan dalam teori fourier hal- hal yang mengacu kepada Persamaan (1) yaitu
A0 (nilai rata – rata dari fungsi x (t), An dan Bn (koefisien deret) ketiga koefisien
tersebut dapat diturunkan seperti Persamaan (2),(3) dan (4).

A .................................................(2)

An ..................................(3)

Bn ……………………….(4)

dimana : n adalah indeks harmonisa

Banyaknya aplikasi beban non linier pada sistem tenaga listrik telah membuat
arus menjadi sangat terdistorsi dengan persentase harmonisa arus, Tingginya persentase
kandungan harmonisa arus Total Harmonic Distortion atau disingkat dengan THD pada
suatu sistem tenaga listrik dapat menyebabkan timbulnya beberapa persoalan harmonisa
yang serius pada sistem kelistrikan, menimbulkan berbagai macam kerusakan pada
peralatan listrik yang sensitive dan menyebabkan penggunaan energi listrik tidak
teratur.

Politeknik Negeri Jakarta


B. Sumber Harmonisa

Harmonisa dihasilkan karena berbagai jenis penggunaan peralatan yang


memiliki kondisi saturasi, peralatan elektronika daya dan beban non-linier, yaitu
sebagai berikut :

1. Peralatan yang memiliki kondisi saturasi biasanya memiliki komponen


yang bersifat magnetik seperti transformator, mesin-mesin listrik, tanur
busur listrik, peralatan yang menggunakan power supply dan magnetic
ballast.

2. Peralatan elektronika daya biasanya menggunakan komponenkomponen


elektronika seperti tirystor, dioda, dan lain-lain. Contoh peralatan yang
menggunakan komponen elektronika daya adalah konverter PWM,
Inverter, pengendali motor listrik, electronic ballast, dan sebagainya.

3. Pada rumah tangga, beban non-linier terdapat pada peralatan seperti


Lampu Hemat Energi, Televisi, Video player, AC, Komputer dan lainnya

C. Pengaruh Penggunaan Peralatan Elektronika Daya Terhadap Harmonisa

Rangkaian elektronika daya merupakan suatu rangkaian listrik yang dapat


mengubah sumber daya listrik dari bentuk gelombang tertentu seperti bentuk
gelombang sinusoidal menjadi sumber daya listrik dengan bentuk gelombang lain tidak
sinusoidal dengan menggunakan piranti semi-konduktor daya. Semikonduktor daya
memiliki peran penting dalam rangkaian elektronika daya. Semikonduktor daya dalam
rangkaian elektronika daya umumnya dioperasikan sebagai pensakelar switching,
pengubah converting, dan pengatur controlling sesuai dengan unjuk kerja rangkaian
elektronika daya yang diinginkan. Penggunaan peralatan elektronika daya juga dapat
merusak kualitas tegangan dan arus sistem pada titik-titik tertentu di jaringan sistem

Politeknik Negeri Jakarta


tenaga.Pada titik- titik tersebut ditemukan komponen tegangan dan arus dengan
frekuensi-frekuensi kelipatan dari frekuensi fundamental, sehingga menimbulkan
harmonisa .

Dalam analisis harmonik, beberapa indeks Persamaan (5) dan (6) yang
digunakan untuk melukiskan pengaruh harmonisa pada komponen sistem tenaga

listrik.

THD tegangan : THDV = X 100%...............(5)

THD arus : THDi ........................(6)

Persamaan (5) dan (6) didefinisikan sebagai perbandingan nilai rms


komponen harmonik terhadap komponen dasar dalam (%). Indeks ini digunakan
untuk mengukur penyimpangan deviation dari bentuk gelombang satu periode yang
mengandung harmonik pada satu gelombang sinus sempurna. Untuk satu
gelombang sinus sempurna pada frekuensi dasar THD adalah nol. Demikian pula
pengukuran distorsi harmonik individual untuk tegangan dan arus pada orde ke h
didefinisikan sebagai Vh/V1 dan Ih/I1.

Harmonik yang dihasilkan untuk meningkatkan jumlah beban non linier seperti
yang dijelaskan dibawah ini:

1. Ketika tegangan sistem linier tetapi beban non-linier, saat akan


terdistorsi dan menjadi non-sinusoidal. Arus yang sebenarnya akan
menjadi lebih tinggi dari arus yang akan diukur oleh ammeter atau alat
ukur lainnya pada frekuensi dasar.

Politeknik Negeri Jakarta


2. Ketika sistem suplai itu sendiri mengandung harmonisa dan tegangan
sudah terdistorsi, beban linier akan menghadapi beban harmonik
tegangan tersebut dan menarik arus harmonik terhadap sistem dan
menghasilkan urutan harmonisa arus yang sama.

Bila tegangan sistem dan beban keduanya non-linier (suatu kondisi yang
lebih umum) tegangan harmonik akan memperbesar dan harmonik
tambahan akan dihasilkan, sesuai dengan linieritas non-of beban dan
karenanya akan lebih mindistorsi bentuk gelombang tegangan sudah
terdistorsi.

D. Standar Distorsi Harmonisa IEC

Dalam hal ini standar yang digunakan sebagai batasan harmonisa adalah yang
dikeluarkan oleh International Electrotechnical Commission (IEC) yang mengatur batasan
harmonisa pada beban beban kecil satu fasa ataupun tiga fasa yang nilai arusnya lebih kecil
dari 16 amper perfasa. Untuk beban beban tersebut umumnya digunakan standar IEC 61000-
3-2. Hal ini disebabkan karena belum adanya standar baku yang dihasilkan oleh IEEE. Pada
standar IEC 61000-3-2, beban beban kecil tersebut diklasifikasikan dalam kelas A, B, C,
dan D, dimana masing masing kelas mempunyai batasan harmonisa yang berbeda beda yang
dijelaskan sebagai berikut :

1). Kelas A menyangkut semua kategori beban termasuk didalamnya peralatan penggerak
motor dan semua peralatan 3 fasa yang arusnya tidak lebih dari 16 amper perfasanya.
Semua peralatan yang tidak termasuk dalam 3 kelas yang lain dimasukkan dalam
kategori kelas A. Batasan harmonisanya hanya didefinisikan untuk peralatan satu fasa
(tegangan kerja 230V) dan tiga fasa (230/400V) dimana batasan arus harmonisanya
seperti yang diperlihatkan Tabel 1.

Politeknik Negeri Jakarta


Tabel 1. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas A

Harmonisa ke (n) Arus Harmonisa Maksimum


yang di izinkan (A)
Harmonisa Ganjil
3 2,3
5 1,14
7 0,77
9 0,4
11 0,33
13 0,21

Tabel 1. (Lanjutan)

15≤ 𝒏 ≤ 𝟑𝟗 2,25/n

2 Harmonisa Genap 1,08


4 0,43
6 0,3
𝟖≤𝒏 𝟒𝟎 1,83/n

Politeknik Negeri Jakarta


2). Kelas B meliputi semua peralatan tool portable dimana batasan arus harmonisanya
merupakan harga absolut maksimum dengan waktu kerja yang singkat dimana
batasan arus harmonisanya diperlihatkan Tabel 2.2.

Tabel 2. Batasan arus harmonisa untuk peralatan kelas B

Harmonisa ke (n) Arus Harmonisa Maksimum


yang di izinkan (A)
Harmonisa Ganjil
3 3,45
5 1,17
7 1,155 0,6
9 0,495
11 0,315
13 3,375/n

Tabel 2. Lanjutan

Politeknik Negeri Jakarta


15≤ 𝒏 ≤ 𝟑𝟗

2 Harmonisa Genap 1,62


4 0,645
6 0,45
𝟖≤𝒏 𝟒𝟎 2,76/n

E. Filter Harmonisa

Tujuan utama dari filter harmonisa adalah untuk mengurangi amplitudo satu
frekuensi tertentu dari sebuah tegangan atau arus. Dengan penambahan filter
harmonisa pada suatu sistem tenaga listrik yang mengandung sumber-sumber
harmonisa, maka penyebaran arus harmonisa keseluruh jaringan dapat ditekan
sekecil mungkin. Selain itu filter harmonisa pada frekuensi fundamental dapat
mengkompensasi daya reaktif dan dipergunakan untuk memperbaiki faktor daya
sistem. Banyak sekali cara yang digunakan untuk memperbaiki sistem khususnya
meredam harmonisa yang sudah dikembangkan saat ini. Secara garis besar ada
beberapa cara untuk meredam harmonisa yang di timbulkan oleh beban non- linier
diantaranya:

a. Penggunaan filter pasif pada tempat yang tepat terutama pada daerah yang dekat
dengan sumber pembangkit harmonisa sehingga arus harmonisa terjerat di
sumber dan mengurangi peyebaran arusnya.
b. Penggunaan filter aktif.
c. Kombinasi filter aktif dan pasif.
d. Konverter dengan reaktor antar fasa, dan lain-lain.

Disamping sistem diatas dapat bertindak sebagai peredam harmonisa tetapi


juga dapat memperbaiki faktor daya yang rendah pada sistem. Jika perbaikan faktor

Politeknik Negeri Jakarta


daya langsung dipasang kapasitor terhadap sistem yang mengandung harmonisa,
maka akan menyebabkan amplitudo pada harmonisa tertentu akan membesar, proses
ini mengakibatkan terjadinya resonansi antara kapasitor yang dipasang dengan
induktor sistem .

E.1 Filter Pasif


Untuk meredam harmonisa dalam sistem tenaga, maka kita perlu
menggunakan filter harmonisa yaitu filter pasif dan filter aktif. Filter pasif terdiri
dari induktansi, kapasitansi, dan unsur-unsur tahanan untuk mengendalikan
harmonisa lihat Gambar 2.8. Teknik filter pasif yang menggunakan double tuned
filter atau Type-C filter yang memiliki impedansi yang rendah untuk arus harmonisa
pada frekuensi tertentu atau frekuensi tinggi atau band-pass filter dapat memfilter
harmonisa di atas frekuensi tertentu frequency bandwidth.

Gambar 8. Model filter pasif

Filter pasif secara ekonomi relatif murah dibandingkan dengan metoda lain
untuk meredam distorsi harmonisa. Bagaimanapun, mereka mempunyai kelemahan
atau kerugian karena berpotensi saling berinteraksi dengan sistem tenaga, dan
penting sekali untuk menganalisa semua interaksi sistem yang mungkin terjadi saat
mereka dirancang. Filter pasif bekerja sangat efisien bila filter tersebut dipasang

Politeknik Negeri Jakarta


dilokasi pembangkit harmonisa (beban non linier). Frekuensi resonansi harus
dihindari dari setiap harmonisa atau pada frekuensi harmonisa lain yang dihasilkan
oleh beban. Filter umumnya di tuning lebih rendah dari frekuensi harmonisa untuk
keamanan sistem. Rancangan filter fasif harus mempertimbangkan perkembangan
sumber arus harmonisa atau konfigurasi dari beban sebab akan menyebabkan beban
lebih yang dapat berkembang menjadi panas yang berlebihan. Perancangan filter
pasif memerlukan suatu pengetahuan yang tepat dari beban pembangkit harmonisa
pada sistem tenaga. Banyak simulasi yang dilakukan untuk menguji kriteria di
bawah kondisi beban yang berubah sesuai topologi jaringan tersebut :

1. Double tuned filter adalah filter harmonisa yang terdiri 2 buah single tuned
filter yang digunakan untuk mengurangi harmonisa 2 buah orde harmonisa
diantara orde harmonisa yang ada. Didalam perhitungan penentuan nilai L
dan C mengacu pada 2 buah orde harmonisa tersebut.

2. Third-orde filter adalah jenis filter high pass yang digunakan hanya
melewatkan frekuensi diatas frekuensi cut-off juga. Third-orde high-pass
filter adalah filter frekuensi tinggi yang lebih efektif dalam filter, tetapi
memiliki rugi-rugi daya yang lebih besar dibanding second-orde high-pass
filter

Filter pasif selalu menyediakan kompensasi daya reaktif sampai batas


tertentu sesuai besar Volt-Ampere dan tegangan dari bank kapasitor yang
digunakan, mereka dapat dirancang untuk dua tujuan yaitu sebagai filter dan
kompensasi faktor daya yang diinginkan. Jika saringan lebih dari satu digunakan
sebagai contoh, sebuah double tuned filter untuk harmonisa ke 5 dan sebuah lagi
untuk harmonisa ke 7, atau harmonisa ke 11 dan ke 13. yang terpenting yang perlu
diingat bahwa filter pasif menyediakan kompensasi daya reaktif. Filter pasif
merupakan suatu kombinasi rangkaian seri sebuah induktansi dan sebuah
kapasitansi. Pada kenyataannya, tidak ada sebuah resistor yang secara fisik

Politeknik Negeri Jakarta


dipasang, tapi dalam perhitungan resistor selalu ada dalam rangkaian seri, tahanan
dalam dari reaktor yang terhubung secara seri terkadang menimbulkan panas yang
berlebih pada filter. Semua arus harmonisa pada frekuensi bersamaan dengan tuned
filter akan didapat impedansi rendah yang melalui filter tersebut.

E.2 Single-tuned passive filter

Merancang single-tuned passive filter adalah kombinasi seri induktansi dan


kapasitansi. Pada kenyataannya, dengan tidak adanya resistor secara fisik dirancang,
akan ada selalu menjadi hambatan seri, yang merupakan resitensi intrinsik dari
reaktor seri kadang-kadang digunakan sebagai sarana untuk menghindari
overheating filter. Semua frekuensi harmonik arus yang bertepatan dengan filter
single-tuned akan menemukan jalur impedansi rendah melalui filter .

a. Untuk menentukan kebutuhan daya reaktif dapat digambarkan dalam bentuk


segitiga daya seperti Pada Gambar 9:

Gambar 9. Vektor segitiga daya untuk menentukan kebutuhan daya reaktif Q

Kebutuhan daya reaktif dapat dihitung dengan pemasangan kapasitor untuk


memperbaiki faktor daya beban. Komponen daya aktif (P) umumnya konstan, daya

Politeknik Negeri Jakarta


Semu (S) dan daya reaktif (Q) berubah sesuai dengan faktor daya beban pada
Persamaan (8):

Daya Reaktif (Q) = Daya Aktif (P) x tan φ.............................(8)

Dengan merujuk vektor segitiga daya pada gambar 9 maka daya reaktif dapat dituliskan
pada Persamaan (9) dan (10):

Daya reaktif pada PF awal yaitu :

Q1 = P x tan φ1 ......................................................................(9)

Daya reaktif pada PF diperbaiki yaitu :

Q2 = P x tan φ2 .....................................................................(10)

Menentukan ukuran kapasitas kapasitor Qc berdasarkan kebutuhan daya reaktif untuk


perbaikan faktor daya. Daya reaktif kapasitor pada Persamaan (11):

𝑄𝑐 = 𝑃 𝑡𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑠 −1 𝑝 𝑓1 𝑡𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑠 −1 𝑝 𝑓2 ...........(11)

dimana :

P = beban (kW)

𝑝𝑓1 = faktor daya mula-mula sebelum diperbaiki


𝑝𝑓2 = faktor daya setelah diperbaiki
b. Menentukan Reaktansi kapasitor pada Persamaan (12):

𝑉2
𝑋𝑐 = 𝑄𝑐
.........................................................................(12)

c. Menentukan kapasitansi dari kapasitor pada Persamaan (13):

Politeknik Negeri Jakarta


1
C= .....................................................................(13)
2 𝜋 𝑓𝑜 𝑋𝑐

d. Menentukan Reaktansi Induktif dari Induktor pada Persamaan (14):

𝑋𝐿 = 2𝑐
𝑋 ..........................................................................(14)
ℎ 𝑛

e. Menentukan Induktansi dari Induktor pada Persamaan (15):

𝑋𝐿
L= .................................................................
........ (15)
2 𝜋 𝑓𝑜

f. Menentukan reaktansi karakteristik dari filter pada orde tuning pada

Persamaan (16):

𝑋 𝑛 = ℎ𝑛𝑋𝐿..................................................................(16)
g. Menentukan Tahanan (R) dari induktor pada Persamaan (17):

𝑋𝑛
R = ..............................................................................(17)
𝑄
Atau
2π × f × n × La 2π × f × n × Lb
Ra = dan Rb = ..(18)
𝑄 𝑄

E.3 Double Tuned Filter

Double tuned passive filter mempunyai nilai impedamsi yang kecil jika
frekuensinya besar. Sehingga filter ini harus mempertimbangkan parameter

Politeknik Negeri Jakarta


kaitannya dengan frekuensi harmonisa. Bebarapa aspek berkaitan dengan faktor
kualitas pada single tuned filter yaitu:

1. Tahanan R pada filter harmonisa single tuned filter adalah nilai tahanan dari
kumparan reaktor.

2. Tahanan R dapat juga digunakan untuk setiap faktor kualitas dari filter dan
menyediakan suatu cara untuk mengendalikan jumlah arus harmonisa yang
diinginkan yang melaluinya.

3. Besar nilai Q menyiratkan mengenai frekuensi resonansi filter dan oleh


karena itu filter dilakukan pada nilai paling besar dari frekuensi harmonisa.
Gambar 2.10 menunjukkan gambar rangkaian ekivalen Double tuned filter
yang terdiri dari dua buah single tuned filter dihubung paralel.

Gambar 10. Double tuned passive filter

Single tuned filter yang terdiri dari kapasitor (C) dihubung seri dengan induktor
(L) dan tahanan (R). Penggunaan double tuned filter yaitu :

1. Biasanya digunakan pada High Voltage Direct Current (HVDC) stasiun


modern pada sistem tegangan tinggi dimana kapasitor utama C1 lebih besar
agar lebih mudah untuk mengoptimalkan biaya /kVAR.

Politeknik Negeri Jakarta


2. Menurunkan pembangkitan daya reaktif di cabang transmisi tenaga yang
lebih rendah.

3. Masing-Masing filter pada dua harmonisa untuk mengurangi filter cabang


dan rugi-rugi filter. Karakteristik impedansi terhadap frekuensi harmonisa
dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Karakteristik impedansi double tuned passive filter

Dari Gambar 11 terlihat impedansi paling rendah kondisi sekitar harmonisa


orde ke 11 dan 13 yaitu pada frekuensi 550 dan 650 Hz. Jika Pada frekuensi tersebut
parameter filter tidak diperhatikan maka akan mengakibatkan sistem mengalami
beban besar atau hubung singkat. Setiap filter memiliki kelebihan dan kelemahan
dalam melakukan peredaman harmonisa pada sistem.

Kelebihan dari double tuned passive filter yaitu:


1. Terjadi resonansi pada impedansi yang sangat rendah.
2. Sangat effisien pada daerah frekuensi yang sempit.
3. Single tuned filter secara normal mampu mengeliminasi frekuensi harmonisa
yang paling besar yaitu harmonisa ke 11 dan 13.

Politeknik Negeri Jakarta


4. Lebih sensitif terhadap tuning yang tidak tepat.
5. Dengan memberikan kapasitor utama yang besar maka kerja filter lebih optimal
dan menurunkan biaya kVAR.
6. Double tuned filter merupakan model filter yang sederhana, dengan kriteria
yang baik

Kelemahan dari double tuned passive filter yaitu:


1. Membutuhkan kVAR yang tinggi untuk mencapai performance yang sama
seperti single tuned filter.
2. Terjadi rugi-rugi daya tambahan pada resistor yang dipasang.

Langkah merancang double tuned passive filter yaitu:

a. Menentukan nilai kapasitansi ΔQ untuk memperbaiki faktor daya, perbaikan


faktor daya umumnya sekitaran 0,95 atau lebih tinggi lagi pada Persamaan (19):
ΔQ = P(tan φ awal – tan φ target).............................(19)

b. Menghitung reaktansi kapasitor pada frekuensi fundamental yaitu pada


Persamaan (20) :

XC (20)

Sehingga C1 diperoleh pada Persamaan (21) :


1
1 = ......…………………..(21)
C 2𝜋𝑓𝑥 𝑐

Selanjutnya daya reaktif Qc dibagi untuk orde 3 dan 5 yaitu Qa dan Qb


dengan demikian nilai reaktansi masing-masing orde harmonisa menjadi pada
Persamaan (22):

Politeknik Negeri Jakarta


𝑉2 𝑉2
XCa = ∆𝑄𝑎 dan XCb = ∆𝑄𝑏 ..............................(22)

Nilai kapasitor yaitu pada Persamaan (23) :


1 1
Ca = dan Cb = ...................(23)
2πfXCa 2πfXCb
Sehingga pada Persamaan (24)
C1 = Ca + Cb ...............................................(24)

c. Menghitung nilai reaktor yang digunakan untuk meredam harmonisa ke-n pada
Persamaan (25):

XL (25)

Dengan demikian nilai XL untuk orde 3 (XLa) dan orde 5 (XLb) masingmasing
yaitu pada Persamaan (26):

XLa dan XLb ....................................(26)

Nilai induktansi masing-masing orde harmonisa yaitu pada Persamaan (27):


𝑋𝐿𝑎 𝑋𝐿𝑎
𝐿𝑎 = 𝑑𝑎𝑛 𝐿𝑏 = … … … … … … … … … (27)
2𝜋𝑓𝑛 2𝜋𝑓𝑛
Sehingga diperoleh nilai L1 pada rangkaian ekivalen double tuned
yaitu pada Persamaan (28) berikut :
𝐿𝑎 𝐿𝑏
𝐿1 = … … … … … … … … … … … . . (28)
𝐿𝑎 +𝐿𝑏

G. Pengaruh Harmonisa Pada Beberapa Aspek

Politeknik Negeri Jakarta


G.1 Sistem Proteksi

Pada peralatan sistem proteksi, harmonisa dapat menyebabkan:


1. Penurunan rating (derating) akibat pemanasan yang terjadi.
2. Menyebabkan peningkatan pemanasan dan rugi-rugi pada switchgear, sehingga
mengurangi kemampuan mengalirkan arus dan mempersingkat umur beberapa
komponen isolator.
3. Timbulnya getaran mekanis pada panel listrik yang merupakan getaran resonansi
mekanis akibat harmonisa arus frekuensi tinggi.
4. Harmonisa dapat menimbulkan tambahan torsi pada kWh-meter jenis
elektromekanis yang menggunakan piringan induksi berputar, akibatnya putaran
piringan akan lebih cepat atau terjadi kesalahan ukur pada kWh-meter karena
piringan induksi tersebut dirancang hanya untuk beroperasi pada frekuensi dasar.
5. Triple harmonisa pada kawat netral dapat memberikan induksi harmonisa yang
mengganggu sistem telekomunikasi.
6. Pemutus beban dapat bekerja di bawah arus pengenalnya atau mungkin tidak
bekerja pada arus pengenal.
7. Untuk sistem tenaga, arus pada kawat netral membesar (terutama akibat munculnya
kelipatan harmonisa ke-3) serta tegangan sentuh peralatan membesar dan berbahaya
bagi operator.

G.2 Motor Listrik

Harmonisa arus atau tegangan menyebabkan peningkatan rugi-rugi pada belitan


stator, rangkaian rotor, serta laminasi stator dan rotor sehingga efisiensi mesin menurun.
Akibat efek kulit dan arus eddy, rugi-rugi ini lebih besar dibandingkan rugi-rugi yang
disebabkan arus DC. Medan bocor pada stator dan rotor juga menyebabkan rugi-rugi
tambahan. Pada mesin induksi dan mesin sinkron, rugi-rugi panas tambahan paling
banyak dibangkitkan pada rotor karena urutan polaritas harmonisa yang dihasilkan oleh
motor khususnya motor induksi, polaritasnya dapat bernilai positif atau negatif.

Politeknik Negeri Jakarta


Dari perubahan urutan polaritas harmonisa yakni harmonisa ke-5 urutan
polaritasnya negatif (-), sedangkan harmonisa ke-7 urutan polaritasnya positif (+), akan
memiliki dampak sendiri-sendiri. Bila motor menghasilkan harmonisa dengan urutan
polaritas negatif, maka pada sistem distribusi akan menimbulkan medan magnet putar
dengan arah maju (forward). Sedangkan untuk polaritas harmonisa negatif akan
menimbulkan medan magnet putar dengan arah mundur (reverse). Urutan polaritas
positif dan negatif harmonisa inilah yang menyebabkan motor menjadi panas. Sehingga
kemampuan mesin akan menurun akibat pemanasan berlebih karena harmonisa, selain
itu umur mesin juga akan menurun. Sedangkan pada arus harmonisa urutan polaritas
nol tidak akan menimbulkan masalah pada motor itu sendiri, melainkan akan
menimbulkan masalah pada sistem 3 fasa 4 kawat. Yaitu akan menimbulkan
penambahan arus pada kawat netral, biasanya terjadi pada transformator hubungan wye.
Penambahan arus pada kawat netral ini akan menyebabkan kawat netral menjadi panas,
karena kawat netral tidak memiliki pengaman seperti pemutus arus untuk proteksi
tegangan atau arus lebih. Selain itu, polaritas harmonisa urutan nol ini menyebabkan
terjadinya interferensi pada kabel saluran telekomunikasi. Frekuensi harmonisa yang
lebih tinggi dari frekuensi kerjanya akan mengakibatkan penurunan efisiensi atau
terjadinya kerugian daya.

G.3 Transformator

Pada transformator daya, arus urutan nol yang bersirkulasi pada belitan delta
dapat menyebabkan arus yang besar dan pemanasan berlebih.Untuk
mengatasipemanasan berlebih akibat harmonisa, seringkali kapasitas daya
transformator diperbesar untuk memperbesar kapasitas pendinginan.Tetapi konduktor
yang lebih besar menyebabkan pemanasan yang lebih besar juga, yang diakibatkan
harmonisa frekuensi tinggi.Selain itu, memperbesar kapasitas transformator berarti
memperbesar arus harmonisa yang mungkin mengalir dalam sistem.Penurunan efisiensi
transformator akibat harmonisa dapat mencapai sekitar 6%.Pada sisi transformator

Politeknik Negeri Jakarta


dampak yang bisa diketahui adalah transformator mengalami kenaikan suhu. Naiknya
suhu transformator akan menyebabkan:

1. Penambahan rugi-rugi daya akan mengurangi kapasitas pembebanan


transformator. Misal: pada transformator 750 kVA, dengan 10% rugi arus eddy
dan rugi arus harmonisa akan bekerja hanya pada 77,5%-nya atau menjadi 578
KVA.
2. Mengurangi kemampuan arus maksimum.
3. Mengurangi umur transformator.

G.3 Dampak Harmonisa pada Peralatan

Distorsi harmonisa bisa menyebabkan terjaadinya voltage zero crossing, yang


beakibat pada kesalahan operasi bila digunakan untuk sinkronisasi kontrol. Komputer
dan sejenisnya membutuhkan sumber AC yang bila megandung harmonisa THD (Total
Harmonic Distortion) tegangannya tidak boleh lebih dari 5%, dan untuk masing-masing
harmonisa tidak boleh lebih dari 3% gelombanng dasar (50 Hz).

Rugi-rugi pada Konduktor Kabel dan Kawat Transmisi


Apabila system mengalami resonansi, tegangan pada sistem dapat mengalami
peningkatan. Akibatnya, kabel dan isolator lainnya akan mengalami stres tegangan
berlebih dan korona, yang dapat menyebabakan kegagalan pada isolasi listrik atau
mempercepat penuaan (aging). Dari segi pengukuran harmonisa mengakibatkan
kesalahan pengukuran dari alat-alat ukur tergantung pada konstruksi dari alat ukur
tersebut.Alat ukur yang bekerja berdasarkan induksi (induction disk), seperti watt-hour
meters, dirancang dan dikalibrasi untuk gelombang sinus. Harmonisa membangkitkan
tambahan kopel atau torque electromagnetic pada disk, sehingga hasil pengukurannya
lebih tinggi.

Politeknik Negeri Jakarta


Generator Sinkron

Dampak arus harmonisa pada generator sinkron yang disebabkan oleh penggangguan
beba-beban non-linear adalah sebagai berikut:
1. Beban non-linear akan menyebabkan rugi-rugi tambahan pada generator sinkron
2. Rugi-rugi tambahan akibat beban non-linear disebabkan oleh rugi-rugi arus urutan
nol dan rugi-rugi arus urutan negative
3. Dalam system pembangkitan energy listrik sendiri yang umumnya menggunakan
konfigurasi tiga-fasa empat-kawat, kontribusi rugi-rugi tambahan akibat arus
urutan nol lebih besar dibandingkan rugi-rugi tambahan akibat oleh arus urutan
negatif

Politeknik Negeri Jakarta