Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Pada pendahuluan dipaparkan tentang (1) latar belakang, (2) rumusan masalah,
dan (3) tujuan.
1.1 Latar Belakang
Multibudaya merupakan keragaman budaya yang di masyarakat. Banyak
ditemui di dalam dunia pendidikan seperti di sekolah, ada banyak siswa yang
berasal dari berbagai daerah. Siswa yang berasal dari daerah yang berbeda
tersebut membawa adat istiadat, budaya, perilaku, bahasa yang berbeda. Siswa-
siwa yang berasal dari daerah yang berbeda itu memerlukan pemahaman budaya,
perlu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dengan demikian konselor
berperan penting dalam memberikan pemahaman budaya kepada siswa-siswanya
agar siswa tersebut tidak mengalami culture shock.
Konselor perlu memiliki kesadaran akan multikultural yaitu menghargai
perbedaan, keragaman nilai-nilai, keyakinan-keyakinan yang ada pada diri
konseli. Pemahaman tersebut berguna bagi konselor ketika melakukan proses
konseling dengan siswa yang berbeda budaya. Dalam proses konseling guru BK
perlu mengambil sikap proaktif terhadap perbedaan budaya, menghargai budaya
setiap konseli serta memiliki keyakinan, sikap dan kesadaran, pengetahuan dan
keterampilan (Muadib: 2013). Ketiga kemampuan tersebut oleh Sue (2005)
disebut kompetensi multikultural.
Makalah ini diharapkan para pembaca khususnya calon konselor agar
memahami apa itu konseling multikultural. Konseling multikultural ini diperlukan
oleh konselor untuk memahami latar belakang siswa, nilai-nilai yang dianut ketika
melakukan proses konseling agar tidak terjadi kesalahpahaman antara konselor
dan konseli.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, berikut ini rumusan masalah
makalah.
1.2.1 Bagaimana definisi Multikulturalisme dalam konseling?
1.2.2 Apa saja dimensi kompetensi Multibudaya pada konselor?
1.2.3 Bagaimana implikasi Model Multikulturalisme (Sue dan Sue) dalam
praktik konseling?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, berikut ini tujuan penulisan
makalah.
1.3.1 Menjelaskan definisi Multikulturalisme dalam konseling
1.3.2 Menjabarkan dimensi kompetensi Multibudaya pada
konselor
1.3.3 Menjelaskan implikasi Model Multikulturalisme (Sue dan
Sue) dalam praktik konseling.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan pada Bab 1, pada bagian ini
disajikan tentang (1) definisi Multikulturalisme dalam konseling (Sue dan Sue),
(2) dimensi kompetensi Multikulturalisme pada Konselor. dan (3) implikasi
Model Multikulturalisme (Sue dan Sue) dalam praktik konseling.

2.2 Definisi Multikulturalisme dalam Konseling


Dimensi multibudaya dalam layanan konseling merupakan suatu layanan
konseling yang pertama kali dilakukan oleh sekelompok kecil konselor dan
psikolog yang tertarik pada perbedaan budaya. Menurut Baruth & Manning
(2007: 17) multibudaya (the term multiculturalism) pada dasarnya
merupakan bentuk integrasi dan identitas budaya (cultural identity) yang
terbangun dari beberapa dimensi budaya.
Sue and Sue (2003; 16) menjelaskan apa yang dimaksud dengan MCT
adalah “multicultural counseling and theraphy can be defined as both a
helping and procces that uses modalities and defines goals to include
individuals, group, and universal dimensions, advocatis the use of universal
and culture specific strategies and roles in the healing procces and balances
the importance of individualism and collectivism in the assesment, diagnosis,
and treatment pf client systemic”. Maknanya adalah layanan konseling
multikultural menurut Sue and Sue adalah peran dan proses bantuan yang
menggunnakan modalitas dan penertapan tujuan yang konsisten terhadap
pengalaman-pengalaman dan nilai-nilai budaya konseli, mengidentifikasi
identitas konseli mencakup dimensi individual, kelompok dan universal,
mendukung penggunaan strategi-strategi dan peran-peran universal dan
kultural dalam proses konseling. Menyeimbangkan pentingnya individualisme
dan kolektivisme dalam mengakses, endiagnosis, dan menangani konseli dan
sistem konseli.
Sue dan Sue (2003) yang mengemukakan bahwa kesadaran multikultural
akan tercapai setelah individu dapat memahami bahwa di dalam dirinya,

3
individu memiiki beraneka ragam budaya. Hal ini dapat terjadi karena individu
menjadi anggota pada berbagai kelompok sosial. Dengan menyadari bahwa di
dalam dirinya sendiri, individu memiliki keanekaragaman budaya, individu
kemudian akan dapat mengembangkan kesadaran bahwa setiap orangpun
memiliki keanekaragaman budaya, sehingga ketika individu menemukan
perbedaan budaya antara dirinya dengan orang lain, individu memandangnya
sebagai hal yang wajar.
Selanjutnya Hays & Efords (2010:4) mendefinisikan layanan konseling
multibudaya sebagai berikut: multicultural counseling may be defined as the
integration of cultural identities within the counseling process. Cultural
identify refers to the degree to with individuals identify belonging to subgroup
of various cultural groups. These cultural groups may include race, ethnicity,
gender, sexual identity, socioeconomic status, disability, age, and spirituality,
to name of few. Within each of these cultur categories, we can most likely
articultural subgroup membership in which we align. Jadi menurut hays &
eford, konseling multikultural adalah suatu integrasi antara indentitas budaya
dalam proses konseling. Indentitas budaya mengacu pada derajat seorang
individu dalam mengidentifikasi keberagaman kelompok budaya. Kelompok
budaya termasuk didalamnya ras, etnis, suku, identitas seksual, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, keterbatasan, usia dan kerohanian.
Adapun menurut baruth & manning (2007:17) layanan konselinh
multibudaya diartikan sebagai "...professional intervention and counseling
relationship in wich the counselor and the client belong to different cultural
groups, subcibe to different world views, and have distingishing differences
such as gender, sexual orientation, disabilitiws, social class, spirituality and
lifespan period." Layanan konseling multikultural menurut baruth & manning
adalah suatu intervensi secara profesional dan hubungan konseling dimana
konselor dan konseli termasuk dalam suatu kelompok budaya yang berbeda,
perbedaa cara pandang, dan memilikk perbedaan seperti jenis kelamin,
orientasi seksual, keterbatasan, kelas sosial, kerohanian dan rentang kehidupan.

4
Selanjutnya dalam lembaga pendidikan khususnya sekolah layanan
konseling multibudaya merupakan suatu bentuk layanan konseling yang
melibatkan siswa yang didalamnya terdapat penghargaan terhadap konteks
budaya sehingga dituntut seorang konselor yang mampu secara penuh
memahami dan menguasai keterampilan dsn jntervendi layanan konseling
multibudaya. Adapun layanan khusus didalam dunia pendidikan menurut Eford
(2004:640) adalah "...multicultural counseling demands that professional
school counselors work with student within appreciate cultural context. In
order to do this, professional school counselors must fully consider the
language, values, beliefs, social class, level of acculturation, race, and
ethnicity of their students, and only use counseling interventions and
techniques that are consistent with those values". Layanan konseling
multibudaya dalam konteks lrmbaga pendidikan (sekolah) menurut eford
adalah uatu pelayanan konseling yang lebih menitik beratkan pada relasi
layanan kondelor profesional dengan siswa yang didalamnya terdapat
pebghargaan berarti terhadap oonteks budaya. Dalam proses layanan konseling
multibudaya tersebut konselor dituntut secara penuh memahami aspek bahasa,
nilai, keyakinan, kelas sosial, tingkatan akurlturasi, ras dan etnis dari konselu
dan selalu menggunakan teknik dan intervensi konseling yang konsisten
dengan nilai budaya tersebut.
Berdasarkan pendapat dari para ahli diatas, maka yang dimakasud dengan
layanan kobseling multibudaya adalah suatu layanan yang berupa relasi antara
kobselor dan konseli dalam proses bantuan yang di integrasi antara identitas
budaya dalam prosed konselinh yang mengacu pada derajat seorang individu
termasuk didalamnya ras, etnis, jenis kelamin, identitas seksual, status
ekonomi, keterbatasan, usia dan kerohanian. Dengan kata lain, secara
sederhana layanan konseling multibudaya dapat diartikan sebagai suatu atribut
budaya konselor dan konseli dalam suatu hubungan membantu untuk
menyeledaikan suatu masalah secafa efektif. Selain itu, layanan konseling
dapat diartikan sebagai penerapan pemahaman dan penghayatan dimensi
multibudaya yang dubawa oleh konseli dan konselor dalam proses layanan

5
konseling sebagai modal untuk menentukan pendekatan dan strategi untuk
membantu konseli dalam menyelesaikan masalahnya. (Susanto: 2018)
2.2 Dimensi Kompetensi Multibudaya pada Konselor
Pemahaman dan pengakuan adanya perbedaan budaya ini dapat konselor
lakukan sebagai upaya peningkatan kualitas diri baik melalui segi pendidikan,
pelatihan, praktik bahkan penelitian (Constantine & Sue, 2005). Berikut ini
kompetensi konselor yang harus dimiliki dari pandangan konseling multibudaya
Sue dan Sue.
I. Kesadaran Konselor akan Nilai-nilai pada Kebudayaannya dan Bias yang
mungkin muncul
A. Sikap dan Keyakinan
a. Konselor yang handal telah menyadari keberadaan budaya dan
sensitif terhadap kebudayaan yang diwarisinya, menilai dan menghargai
perbedaan
b. Konselor yang handal sadar bahwa latar belakang kebudayaan
yang dimilikinya, pengalaman sikap, nilai, dan bias mempengaruhi proses
psikologis
c. Konselor yang handal mampu mengenali batas kemampuan dan
keahliannya
d. Konselor yang handal merasa nyaman dengan perbedaan yang ada
antara dirinya dan klien dalam bentuk ras, etnik, kebudayaan, dan
kepercayaan
B. Pengetahuan
a. Konselor yang handal memiliki pengetahuan tentang ras dan
kebudayaannya sendiri dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi secara
personal dan profesional pandangannya tentang normal dan abnormal dan
proses dalam konseling
b. Konselor yang handal mengetahui dan memahami bahwa tekanan,
ras, diskriminasi, dan stereotipe mempengaruhi mereka secara personal dan
dalam pekerjaannya.
c. Konselor yang handal mengetahui dampak sosialnya terhadap
orang lain. Pengetahuan mereka tentang perbedaan komunikasi, bagaimana
gaya komunikasi ini mungkin akan menimbulkan perselisihan atau
membantu perkembangan dalam proses konseling pada klien minoritas, dan

6
bagaimana cara mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi pada orang
lain
C. Keterampilan
a. Konselor yang handal mencari: pendidikan, konsultasi, dan
pengalaman pelatihan untuk memperbaiki pemahaman dan keefektifan
dalam bekerja dengan populasi dari budaya yang berbeda. Mengenali
keterbatasan, mereka: a) mencari konsultasi, b) mencari pelatihan dan
pendidikan lebih lanjut, c) menjadi individu yang berkualifikasi atau
berwawasan, atau d) kombinasi dari ketiganya
b. Konselor yang handal secara konsisten mencari pemahaman
terhadap diri mereka sebagai ras dan kebudayaan dan secara aktif mencari
identias non-ras

II. Kesadaran Konselor terhadap Pandangan Klien


A. Sikap dan Keyakinan
a. Konselor yang handal sadar bahwa reaksi emosional yang negatif
terhadap ras lain dan kelompok etnik yang bisa menggangu klien dalam
konseling. Mereka hendaknya mempertentangkannya antara sikap dan
keyakinan mereka dengan sikap dan keyakinan klien dengan cara yang
tidak memberikan penilaian.
b. Konselor yang handal sadar stereotip mereka dan
mempertimbangkan dugaan-dugaan yang mereka simpan terhadap ras lain
dan kelompok etnik minoritas
B. Pengetahuan
a. Konselor yang handal memiliki pengetahuan dan informasi yang
spesifik tentang kelompok yang diajak bekerja sama. Mereka menyadari
pengalaman, kebudayaan yang diwariskan, latar belakang sejarah klien
dari kebudayaan yang berbeda
b. Konselor yang handal memahami bagaimana ras, kebudayaan,
etnik, dsb mungkin mempengaruhi struktur kepribadian, pilihan karir,
manifestasi gangguan psikologis, perilaku mencari bantuan, dan
kecocokan dan ketidakcocokan dari pendekatan konseling
c. Konselor yang handal memahami dan memiliki pengetahuan
tentang sosiopolitik mempengaruhi yang bergeseran dengan kehidupan ras,

7
etnik minoritas. Isu imigrasi, kemiskinan, rasisme, stereotipe, dan
ketidakberdayaan semuanya meninggalkan kesan buruk yang mungkin
mempengaruhi proses konseling
C. Keterampilan
a. Konselor yang handal seharusnya terbiasa dengan penelitian yang
relevan dan penemuan terbaru mengenai kesehatan mental dan gangguan
mental dari berbagai kelompok etnik dan ras.
b. Konselor yang handal menjadi aktif terlibat dengan individu yang
berasal dari luar setting konseling (even komunitas, fungsi sosial dan
politik, perayaan, pertemanan, bertetangga, dsb) sehingga perspektif
mereka mengenai kaum minoritas tidak hanya sekedar akademik atau
pelatihan saja.
III. Strategi Intervensi yang Cocok Berdasarkan Kebudayaan
A. Sikap dan Keyakinan
a. Konselor yang handal menghargai agama, keyakinan dan nilai
yang dimiliki oleh klien, termasuk atribut dan hal-hal yangbersifat tabu,
karena hal tersebut mempengaruhi kemenduniaan pandangan mereka,
fungsi psikososial, dan eksresi terhadap stress
b. Konselor yang handal menghargai ketulusan pertolongan dan
menghargai jaringan pertolongan instrinsik kaum minoritas
c. Konselor yang handal menghargai bilingualisme dan tidak
memandang bahasa asing sebagai penghalang dalam konseling
(monolingual sebagai penjahat)
B. Pengetahuan
a. Konselor yang handal memiliki pengetahuan yang jelas dan
eksplisit dan memahami karakteristik umum dari konseling dan terapi
(batasan dalam budaya, batasan dalam kelas, dan monolungual) dan
bagaimana mereka memiliki pertentangan dengan nilai kebudayaan dari
berbagai kelompok minoritas lainnya
b. Konselor yang handal menyadari hambatan instistusional yang
menghambat kaum minoritas dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
mental

8
c. Konselor yang handal memiliki pengetahuan tentang potensi bias
dalam intsrumen asesmen dan penggunaan prosedur dan interpretasi yang
ditemukan dalam budaya dan karakteristik bahasa dari klien
d. Konselor yang handal memiliki pengetahuan tentang struktur
keluarga, hirarki, nilai dan keyakinan. Mereka memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai karakteristik komunitas dan sumber-sumber komunitas
seperti keluarga
e. Konselor yang handal sebaiknya menyadari bahwa perbedaan
tingkat sosial dan komunitas dapat mempengaruhi kesejahteraan
psikologis pada populasi yang diberikan pelayanan
C. Keterampilan
a. Konselor yang handal mampu memberikan respon berupa verbal
maupun nonverbal dalam memberikan pertolongan. Mereka mampu
memberikan dan menerima kedua pesan tersebut secara tepat dan akurat
b. Konselor yang handal mampu melatih keterampilan intervensi
institusi pada klien pada umumnya. Mereka dapat memahami apakah akar
permasalahan adalah rasisme atau bias diantara mereka (konsep paranoid)
sehingga klien tidak salah dalam mengenali permasalahannya
c. Konselor yang handal tidak menolak untuk berkonsultasi dengan
pengobatan tradisional tokoh dan pemimpin agama, pratiktisi dalam
memberikan tretman terhadap klien dari budaya yang berbeda jika
diperlukan
d. Konselor yang handal bertanggung jawab terhadap interaksi bahasa
yang diinginkan klien dan jika tidak mungkin untuk dilakukan maka
mengalihkan kepada yang lain. Permasalahan yang serius akan muncul
apabila bahasa konselor tidak cocok dengan bahasa klien. Dalam kasus ini,
konselor sebaiknya a) mencari penterjemah dengan pengetahuan tentang
budaya dan latar belakang professional yang sesuai, dan b).
mengalihtangankan pada konselor yang lebih berkompeten dan
berpengetahuan dalam dwi bahasa
e. Konselor yang handal telah terlatih dan ahli dalam menggunakan
berbagai intsrumen dan tes. Mereka tidak hanya sekedar mampu
menggunakan tetapi mereka juga menyadari keterbatasan kebudayaan.
f. Konselor yang handal sebaiknya bermaksud untuk menghilangkan
bias, prejudis, dan pendiskriminasian

9
g. Konselor yang handal bertanggung jawab dalam mendidik
kliennya kepada intervensi psikologis, seperti tujuan, harapan, hak-hak,
dan orientasi konselor
Seorang konselor memiliki tiga dimensi kompetensi multibudaya, yaitu: (1)
kepercayaan dan sikap (beliefs and attitude); (2) pengetahuan (knowledge); (3)
keterampilan (skill) (Sue, Arredondo & McDavis, 1992).
a. Kepercayaan dan sikap (beliefs and attitude), konselor yang efektif
mengetahui dan memahami adanya warisan budaya yang memengaruhi
mereka, mempelajari dan mengerti latar belakang budaya konselinya serta
tidak memaksakan nilai-nilai dan harapan mereka terhadap konselinya.
b. Pengetahuan (knowledge), konselor yang efektif mengetahui dan
memahami adanya warisan budaya yang memengaruhi mereka, mempelajari
dan mengerti latar belakang budaya konselinya serta tidak memaksakan
nilai-nilai dan harapan mereka terhadap konselinya.
c. Keterampilan (Skill), konselor yang efektif memiliki keterampilan
tertentu dalam bekerja pada populasi yang berbeda. Konseling multibudaya
akan bernilai lebih apabila konselor menggunakan metode dan strategi serta
gambaran tujuan yang konsisten dengan pengalaman hidup dan nilai budaya
konseli.
Kompetensi Konselor dalam ranah multibudaya merupakan suatu hal yang
perlu untuk dimiliki agar dapat menjadi seorang Konselor yang efektif.
Kompetensi multibudaya bukan sesuatu hal yang muncul tiba-tiba, namun
merupakan suatu proses yang perlu dilatihkan dan dibiasakan pada diri Guru
BK/Konselor tersebut. Pemaparan ini senada dengan pendapat ahli sebagai
berikut.

Konselor yang efektif adalah konselor yang mengerti keadaan budayanya


sendiri, kondisi klien mereka, dan sistem sosiopolitik yang merupakan bagian dari
mereka. Pengertian ini dimulai dari kesadaran konselor tentang nilai budaya,
prasangka, dan sikap yang mereka pegang. Bagian besar menjadi konselor yang
kompeten dalam perbedaan budaya ini meliputi tantangan nilai yang kita pegang
dan bagaimana nilai tersebut memengaruhi praktik kita dengan perbedaan budaya
yang ada pada diri klien. Selanjutnya, untuk menjadi praktisi yang kompeten

10
dalam hal ini bukan sesuatu yang hadir bersamaan dan untuk semua, melainkan
proses yang berkelanjutan (Corey, 2013).
Salah satu cara untuk melatih dan membiasakan pada diri konselor agar
kompetensi multibudaya tersebut ada pada diri seorang konselor adalah peka
terhadap budaya dan memiliki karakter yang mendukung hal tersebut. Karakter
ideal konselor multibudaya yang telah dirumuskan dari nilai luhur Semar tersebut
dapat dikaitkan dengan ketiga kompetensi multibudaya di atas. Hal ini berkaitan
dengan karakter apa saja yang dapat masuk dalam masing-masing ranah
kompetensi tersebut, misalnya: (1) kompetensi kepercayaan dan sikap, karakter
yang dapat dimasukkan dalam kompetensi ini antara lain: (a) religius; (b) tulus;
(c) toleransi; (d) adil; dan (e) jujur; (2) kompetensi pengetahuan, karakter yang
dapat dimasukkan dalam kompetensi ini antara lain: (a) netral; (b) disiplin; dan (c)
rasa ingin tahu; (3) kompetensi keterampilan, karakter yang dapat dimasukkan
dalam kompetensi ini antara lain: (a) peduli sosial; (b) bersahabat; (c) luwes; dan
(d) demokratis. (Setyaputri: 2017)

2.3 Implikasi Model Multikulturalisme (Sue Dan Sue) dalam Praktik


Konseling
Selanjutnya, dalam kaitannya dengan layanan konseling multibudaya ini
Sue & Sue (2003:16-17) menjelaskan beberapa implikasi bagi praktik
konseling, khususnya konseling multibudaya, yaitu sebagai berikut:
a. Helping Role and Process. Dalam layanan konseling multibudaya,
konselor memiliki peran besar dan konselor dituntut untuk memperluas
ketrampilan-ketrampilan yang dianggap membantu dan cocok dalam
proses konseling. Pandangan yang lebih objektif dan pasif dari para
konselor dalam proses konseling dipandang sebagai sebuah metode
yang membantu. Sama halnya dengan mengajar, konsultasi dan
advokasi dapat menambah peran konvensional konselor.
b. Consistent With Life Experience and Cultural Values. Dalam
konseling multikultural yang efekif berarti menggunakan modalitas
dan menentukan tujuan proses konseling terhadap konseli yang
berbeda budaya yang konsisten dengan latarbelakang rasial, budaya,

11
etnis, gender, dan orientasi seksual mereka. Saran dan nasihat dapat
digunakan secara efektif bagi beberapa populasi konseli tertentu.
c. Individual, Group, and Universal Dimensions of Existence. Dalam
konseling multikultural terdapat pengakuan terhadap keberadaan dan
identitas individu dibentuk dari dimensi individual (keunikan),
kelompok, dan universal. Segala bentuk bantuan yang gagal untuk
memahami totalitas dari dimensi-dimensi ini menghilangkan aspek-
aspek penting dalam identitas seseorang.
d. Universal and Culture-Specific Strategies. Konseling multikultural
memercayai bahwa kelompok minoritas rasial/etnis yang berbeda
mampu merespon strategi bantuan yang diberikan pada budaya
tertentu.
e. Individualism and Collectivism. Konseling multikultural
memperluas perspektif suatu hubungan, saling membantu dengan
menyeimbangkan pendekatan individualistik dengan realitas
kolektivitas dimana adanya pengakuan keterikatan antara individu
dengan keluarga, komunitas, dan budaya. Konseli bukan hanya
seorang individu tunggal, melainkan juga seorang individu yang
merupakan produk konteks sosial atau budayanya.
f. Client and Client Systems. Konseling multibudaya memperhatikan
peran ganda dalam membantu konseli. Dalam beberapa kasus, sangat
penting untuk memfokuskan pada konseli secara individual dan
mendorong mereka untuk meraih pengetahuan dan mempelajari
perilaku-perilaku baru. Akan tetapi ketika permasalahan konseli
mengenai warna kulit muncul dalam bentuk praduga, diskriminasi,
rasisme pekerja, pendidik dan tetangga, atau dalam bentuk kebijakan-
kebijakan dalam organisasi atau praktik-praktik di sekolah, agen-agen
kesehatan mental, pemerintahan, bisnis, dan lingkungan, peran
pendekatan konseling tradisional sangat tidak efektif dan tidak tepat.
Fokus perubahan harus berpindah untuk mengubah sistem pemahaman
konseli daripada individual konseli itu sendiri.

Layanan konseling multibudaya diharapkan akan menimbulkan


kesadaran dan pemahaman secara luas yang diwujudkan dalam sikap yang

12
toleran terhadap semua keragaman, sehingga masalah tawuran, bullying dan
permasalahan lainnya yang disebabkan keragaman peserta didik dapat
dicegah dan diselesaikan melalui layanan konseling multibudaya yang
berperan membantu individu dan kelompok yang menggunakan perawatan
sesuai dengan pengalaman hidup dan nilai kultur konseli.
Peningkatan kompetensi sosial siswa perlu dilakukan sebagai respon
terhadap fenomena-fenomena negatif yang dilakukan oleh siswa yang
bersumber pada kompetensi sosial terutama penempatan diri, penerimaan diri
serta penerimaan orang lain yang masih rendah. Selanjutnya layanan
konseling multibudaya untuk meningkatkan kompetensi sosial siswa tersebut
dikemas dalam suasana kelompok berdasarkan keuntungan-keuntungan yang
didapat dari kontribusi kelompok terhadap perilaku anggota kelompok.
(Susanto: 2018)

13
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan pembahasan yang telah disajikan pada Bab II, pada bagian ini
dijabarkan simpulan dari makalah dan saran yang relevan.

3.1 Simpulan
Konseling multikultural merupakan proses pemberian bantuan dimana
penertapan tujuan harus konsisten terhadap pengalaman-pengalaman dan nilai-
nilai budaya konseli. Konselor diharapkan dapat mengidentifikasi identitas
konseli mencakup dimensi individual, kelompok dan universal, serta mendukung
penggunaan strategi-strategi dan peran-peran universal dan kultural dalam proses
konseling.
Karakteristik yang harus dimiliki konselor dalam konseling multibudaya
meliputi aspek sikap dan keyakinan, pengetahuan, serta keterampilan. Ketiga
aspek tersebut dapat membantu konselor untuk meningkatkan kesadaran akan
nilai pada kebudayaannya, kesadaran terhadap pandangan konseli, dan untuk
membantu menentukan intervensi yang cocok berdasarkan kebudayaan konseli.
Selanjutnya implikasi model multikulturalisme Sue dan Sue dalam praktik
konseling mencakup enam poin, yang secara ringkas dapat dijelaskan bahwa
implikasi model ini akan membantu memecahkan masalah konseli menggunakan
strategi yang sesuai dengan pengalaman hidup dan nilai budaya konseli.

3.2 Saran
Konseling multibudaya adalah konseling yang menekankan pada nilai
budaya konseli untuk menentukan strategi konseling agar strategi tersebut dapat
membantu proses penyelesaian masalah konseli dengan tepat. Konselor
diharapkan dapat memahami pengalaman konseli serta nilai budaya yang dianut
konseli, disamping itu konselor juga harus memahami nilai budayanya sendiri.
Hal tersebut akan membantu konselor untuk meningkatkan pemahaman dan
kesadaran akan toleransi budaya yang beragam.

14
15
DAFTAR RUJUKAN

Corey, G. (2013). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, Ninth


Edition. Belmot, CA: Brooks/Cole.
Susanto A, 2018. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Prenadamedia
Grroup.
Sue, D. W., Arrendondo, P., & McDavis, R. J. (1992). Multicultural Counseling
Competencies and Standards: A Call to the Profession. Journal of
Counseling & Development, 70 (4), 477–486.
https://doi.org/10.1002/j.1556-6676.1992.tb01642.x
Setyaputri, N. Y. (2017). Karakter Ideal Konselor Multibudaya Berdasarkan Nilai
Luhur Semar. JKBK, 2(2), 58–65. Diambil dari
http://journal2.um.ac.id/index.php/jkbk/article/view/865, diakses pada 20
September 2018

16