Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH


(ASWAJA)

Disusun untuk memenuhi tugas


PKKMB
Universitas Islam Nadlotul Ulama (UNISNU)

Dibuat Oleh
Nama : Lailatul Uchdiyah

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA’
(UNISNU) JEPARA
2018

1
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dengan rahmat
dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam
semoga tetap tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW. Dalam Makalah yang
berjudul “Ahlusunnah Wal Jama’ah (ASWAJA)”
Penulis bermaksud menjelaskan secara detail tentang materi penalaran.
Adapun tujuan pembuatan makalh ini untuk memenuhi tugas PKKMB UNISNU.
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan
penulisan makalah ini.

Jepara, 08 September 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Sampul Depan..................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................... ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan......................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan....................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
A. Pengertian Aswaja................................................................................... 3
B. Pemahaman Terhadap Paham Ahlussunnah Waljamaah......................... 5
C. Pembentukan Faham Ahlussunnah Waljamaah....................................... 6
D. Metode Pemikiran Ahlussunnah Waljamaah........................................... 7
E. Karakter kaum Ahlussunnah Waljamaah................................................ 8
F. Pemikiran ahlussunnah waljamaah dalam berbagai bidang.................... 10

BAB III PENUTUP........................................................................................ 13


A. Kesimpulan............................................................................................. 13
B. Saran........................................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 14

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa Rasulullah SAW. masih hidup, istilah Aswaja sudah pernah
ada tetapi tidak menunjuk pada kelompok tertentu atau aliran tertentu. Yang
dimaksud dengan Ahlussunah wal Jama’ah adalah orang-orang Islam secara
keseluruhan.
Ada sebuah hadits yang mungkin perlu dikutipkan telebih dahulu:
‫إن بني إسرائيل تفترق على ثنتين وسبعين ملة وستفترق أمتي على ثلثا وسبعين ملة‬
‫ قال ما انا عليه وأصحابي‬:‫ قالوا من هي يارسول ا‬،‫كلهم في النار إل ملة واحدة‬.
Artinya : “Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya bani Israil akan
terpecah menjadi 70 golongan dan ummatku terpecah menjadi 73 golongan
dan semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Para Shohabat
bertanya : Siapa yang satu golongan itu? Rasulullah SAW. menjawab : yaitu
golongan dimana Aku dan Shahabatku berada. Hadits inilah yang sering
digunakan oleh orang-orang NU sebagai salah satu dalil atau dasar tentang
Ahlussunah wal Jamaah.”

Ahli sunnah wal jamaah adalah suatu golongan yang menganut syariat
islam yang berdasarkan pada alqur`an dan al hadis dan beri`tikad apabila tidak
ada dasar hukum pada alqur`an dan hadis
Inilah kemudian kita sampai pada pengertian Aswaja. Pertama kalau
kita melihat ijtihadnya para ulama-ulama merasionalkan dan memecahkan
masalah jika didalam alqur`an dan hadis tidak menerangkanya. Definisi kedua
adalah (melihat cara berpikir dari berbagai kelompok aliran yang
bertentangan); orang-orang yang memiliki metode berpikir keagamaan yang
mencakup aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar moderasi menjaga
keseimbangan dan toleransi. Ahlussunah wal Jama’ah ini tidak mengecam
Jabariyah, Qodariyah maupun Mu’tazilah akan tetapi berada di tengah-tengah
dengan mengembalikan pada ma anna alaihi wa ashabihi.Nah itulah latar
belakang sosial dan latar belakang politik munculnya paham Aswaja. Jadi
tidak muncul tiba-tiba tetapi karena ada sebab, ada ekstrim mutazilah yang

1
serba akal, ada ekstrim jabariyah yang serba taqdir, aswaja ini di tengah-
tengah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Aswaja sebagai sebuah
paham keagamaan (ajaran) maupun sebagai aliran pemikiran (manhajul fiqr)
kemunculannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh dinamika sosial politik
pada waktu itu, lebih khusus sejak peristiwa Tahqim yang melibatkan Sahabat
Ali dan sahabat Muawiyyah sekitar akhir tahun 40 H.
Ahli sunnah wal jamaah pemikiranya menggunakan pemikiran al
asyari dan hukum fiqihnyanya menggunakan imam madzhab sehingga
golongan aswaja inilah golongan yang sifatnya luas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pemahaman Ahlussunnah Waljamaah ?
2. Bagaimana pembentukan paham Ahlussunnah Waljamaah ?
3. Bagaimana metode pemikiran Ahlussunnah Waljamaah ?
4. Apa karakter kaum Ahlussunnah Waljamaaah ?
5. Bagaimana pemikiran Ahlussunnah Waljamaah dalam berbagai bidang ?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pemahaman dan karakter Ahlussunnah Waljamaah
2. Memahamai pembentukan paham, metode pemikiran dan pemikiran
Ahlussunnah Waljamaah dalam berbagai bidang

D. Manfaat Penulisan
Membuat masyarakat memahami ajaran Islam yang berhaluan
Ahlussunnah Waljamaaah Masyarakat dapat mengetahui paham-paham
Ahlussunnah Waljamaah

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Pengertian Aswaja
Ahlussunnah Wal Jama’ah Menurut Syekh Abu al-Fadl ibn Syekh
‘Abdus Syakur al-Senori dalam kitab karyanya “al-Kawâkib al-Lammâ‘ah fî
Tahqîq al-Musammâ bi Ahli al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah” (kitab ini telah
disahkan oleh Muktamar NU ke XXlll di Solo Jawa Tengah) menyebutkan
definisi Ahlussunnah wal jama’ah sebagai: kelompok atau golongan yang
senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi saw. dan thariqah para
sahabatnya dalam hal akidah, amaliyah fisik (fiqh), dan akhlaq batin
(tasawwuf). Syekh ‘Abdul Qodir al-Jilani mendefinisikan Ahlussunnah wal
jama’ah sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan as-Sunnah adalah apa yang
telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (meliputi ucapan, prilaku, serta
ketetapan beliau). Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jama’ah
adalah segala sesuatu yang yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi saw.
pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah
Allah.”
Secara historis, para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak
zaman para sahabat Nabi saw. sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam
Aswaja pada saat itu diantaranya adalah ‘Ali bin Abi Thalib ra., karena
jasanya menentang pendapat Khawarij tentang al-Wa‘d wa al-Wa‘îd dan
pendapat Qadariyah tentang kehendak Allah dan daya manusia. Di masa
tabi’in ada beberapa imam, mereka bahkan menulis beberapa kitab untuk
mejelaskan tentang paham Aswaja, seperti ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz dengan
karyanya “Risâlah Bâlighah fî Raddi ‘alâ al-Qadariyah”. Para mujtahid fiqh
juga turut menyumbang beberapa karya teologi untuk menentang paham-
paham di luar Aswaja, seperti Abu Hanifah dengan kitabnya “Al-Fiqh al-
Akbar”, Imam Syafii dengan kitabnya “Fi Tashîh al-Nubuwwah wa al-Radd
‘alâ al-Barâhimah”. Generasi Imam dalam teologi Aswaja sesudah itu
kemudian diwakili oleh Abu Hasan al-Asy’ari (260 H – 324 H), lantaran
keberhasilannya menjatuhkan paham Mu’tazilah.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa akidah Aswaja secara
substantif telah ada sejak masa para sahabat Nabi saw. Artinya paham

3
Aswaja tidak mutlak seperti yang dirumuskan oleh Imam al-Asy’ari, tetapi
beliau adalah salah satu di antara imam yang telah berhasil menyusun dan
merumuskan ulang doktrin paham akidah Aswaja secara sistematis sehingga
menjadi pedoman akidah Aswaja.
Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, istilah Aswaja secara resmi
menjadi bagian dari disiplin ilmu keislaman. Dalam hal akidah pengertiannya
adalah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Imam Ibnu Hajar al-Haytami berkata:
Jika Ahlussunnah wal jama’ah disebutkan, maka yang dimaksud adalah
pengikut rumusan yang digagas oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan
Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dalam fiqh adalah mazhab empat, Hanafi,
Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dalam tasawuf adalah Imam al-Ghazali, Abu
Yazid al-Bisthomi, Imam al-Junaydi, dan ulama-ulama lain yang sepaham.
Semuanya menjadi diskursus Islam paham Ahlussunnah wal jama’ah.
Secara teks, ada beberapa dalil Hadits yang dapat dijadikan dalil
tentang paham Aswaja, sebagai paham yang menyelamatkan umat dari
kesesatan, dan juga dapat dijadikan pedoman secara substantif. Di antara
teks-teks Hadits Aswaja adalah:
‫صايرىَ يعيلى ثفلنتيليفن يويسلبفعيين ففلرقيةة يو‬
‫ت النن ي‬‫ت اللييدهودد يعيلى إلحيدىَ يويسلبفعيين ففلرقيةة يوالفتييرقي ل‬ ‫الفتييرقي ل‬
‫ق أدنمفتي يعيلى ثييل ث‬
‫ يملن هم ييا‬:‫ يقادلوا‬.‫ دكللهدلم ففي الننافر إنل يوافحيدةة‬،‫ثا يويسلبفعيين ففلرقيةة‬ ‫يستيلفتيفر د‬
‫ يريواهد أيدبو يدادوديوالتتلرفمفذ ل‬.‫صيحافبي‬
‫ي يوالبدن يمايجله‬ ‫ يما أيينا يعليليفه يوأي ل‬:‫اف؟ِهَّلل يقايل‬
‫يردسويل ن‬
Dari Abi Hurayrah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Terpecah
umat Yahudi menjadi 71 golongan. Dan terpecah umat Nasrani menjadi 72
golongan. Dan akan terpecah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya
masuk neraka kecuali satu.” Berkata para sahabat, “Siapakah mereka wahai
Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab, “Mereka adalah yang mengikuti
aku dan para sahabatku.” (HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Jadi inti paham Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) seperti yang


tertera dalam teks Hadits adalah paham keagamaan yang sesuai dengan
sunnah Nabi saw. dan petunjuk para sahabatnya.

B. Pemahaman Terhadap Paham Ahlussunnah Waljamaah

4
Dalam perjalanan pemerintahan Islam muncul beberapa sekte atau
golongan yang akan merubah pemikiran dan pola kehidupan baik dalam
beribadah maupun berkeyakinan.
Ahlussunnah Waljamaah atau lebih sering disingkat Ahlussunnah atau
Sunni adalah mereka yang senantiasa tegak diatas Islam berdasarkan Al-
Qur’an dan Hadits yang sahih dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan
tabi’it tabi’in. Menurut sejarah bahwa ahlussunnah waljamaah adalah nama
sebuah aliran pemikiran (school of tought ) yang menganggap dirinya
sebagai pengikut sunah (The follower of The sunah) yaitu sebuah jalan
keagamaan yang mengikuti Rosulullah dan sahabat-sahabatnya, sebagaimana
dituliskan dalam hadis: “Ma Ana ‘alaih Kwa ashabi” sedangkan jamaah
berarti mayoritas.
Paham ahlussunah waljamaah sebenarnya sudah terformat sejak masa
awal Islam yang ajarannya merupakan pengembangan dari dasar pemikiran
yang telah dirumuskan sejak periode sahabat dan tabi’in. Yaitu pemikiran
keagamaan yang menjadikan hadis sebagai rujukan utamanya setelah Al-
Qur’an. Nama Ahlu Al-hadits diberikan sebagai ganti ahl al-sunnah wa-
jamaah yang pada saat itu masih dalam proses pembentukan dan merupakan
penunjuk jalan lurus dari paham khawarij dan muktazilah yang tidak mau
menerima hadis (al sunah) sebagai sumber pokok ajaran agama Islam setelah
Al-Qur’an.
Imam Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturudi adalah dua sosok yang
memiliki tempat tersendiri dikalangan kaum Sunni karena melalui dua
ulama kharismatik itulah Ahlussunnah Waljamaah lahir sebagai faham
ideologi keagamaan. Paham ini lahir sebagai reaksi terhadap perkembangan
pemikiran kelompok muktazilah yang begitu liar, Diana doktrin ketuhanan
dan keimanannya semakin menimbulkan keguncangan spiritual ideologis
yang dahsyat. Paham Ahlussunnah Waljamaah yang diajarkan Imam Al
Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturudi pada dasarnya merupakan koreksi
terhadap berkembangnya berbagai doktrin ketuhanan dan keimanan (visi
akidah) yang dipandang menyimpang dari ajaran nabi dan para sahabatnya.

5
Kaitannya dengan pandangan Jabariah yang fatalistik tentang nasib serta
pandangan Qodariyah yang geraham tentang kemampuan manusia untuk
menentukan perbuatannya, seperti dalam tatapan ideologis kaum Syi’ah dan
Muktazilah, kaum Sunni (Ahlussunah Waljamaah) membuat garis batas yang
jelas terhadap kedua kelompok tersebut. Secara epistemologi Ahlussunnah
Waljamaah bisa diartikan sebagai “para penganut tradisi nabi Muhammad
dan Ijmak ulama’.”
Adapun secara terminologi, Ahlussunnah Waljamaah berarti “ ajaran
Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh
Rosulullah SAW bersama para sahabatnya”. Pengertian ini mengacu pada
hadis nabi yang terkenal : “hal mana Nabi memprediksikan bahwa satu saat
kelak umat Islam akan terpecah dalam 73 golongan, semua celaka kecuali
satu firqah, yaitu mereka berpegang teguh pada pegangan beliau dan
pegangan para sahabat-sahabatnya.” Dalam hadis lain yang senada, golongan
yang selamat ini disebut sebagai Ahlussunnah Waljamaah

C. Pembentukan Faham Ahlussunnah Waljamaah


Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah serangkaian tuntunan
hidup yang diajarkan oleh para kiai, ustadz, atau guru di pesantren-pesantren,
madrasah atau sekolah dan sudah kita amalkan saat ini. Banyak kalangan,
khususnya kader NU sendiri, yang salah faham menganggap Aswaja terpisah
dari amal keseharian sehingga membutuhkan disiplin ilmu atau kajian
khusus, dan ternyata yang kemudian dibahas hanyalah sekelumit sejarah
Aswaja, bukan Aswaja itu sendiri. Secara umum aswaja adalah ajaran yang
mengikuti Rasulullah SAW, melalui praktik-praktik yang dilakukan oleh para
sahabat, tabi’in, mujdtahiddin, dan imam mazhab. Hal tersebut sesungguhnya
sudah kita lakukan dalam kehidupn sehari-hari, pada dasarnya aswaja berisi
tentang ajaran tauhid, fiqh, tasawwuf dll yang sering kita lakukan namun
secara terminologi kita belum memahaminya secara mendalam.
Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlussunnah waljamaah,
secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW.

6
Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami
perkembangan dengan tiga tahap. Pertama, masa imbreonal pemikiran suni
dalam bidang teologi yang mana memilih salah satu pendapat yang paling
benar. Pada tahap ini boleh dibilang masih pada tahap konsulidasi dan tokoh
penggeraknya adalah Hasan al-Basri (110 H/728 M). Kemudian yang kedua,
proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-Syafi’I (205
H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah
Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian
dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga,
merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme
dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama.

D. Metode Pemikiran Ahlussunnah Waljamaah


Memahami Aswaja (Ahlussunah Waljamaah) sebagai sebuah metode
pemikiran dan pergerakan Islam masih sangat penting, khususnya dewasa ini
dimana Islam tengah berada di persimpangan jalan antara kutub kanan dan
kiri. Tarik menarik yang terjadi antara dua kutub ini tidak terlepas dari
pergulatan Islam itu sendiri dengan realitas yang selalu hidup. Wacana
penyegaran pemahamanan keagamaan kemudian menjadi sebuah kebutuhan
jaman yang tidak dapat terelakkan. Boleh dibilang bahwa unsur dinamik
yang terdapat dalam agama Islam sejatinya terletak pada multi-interprestasi
yang selalu berkembang dalam merespon perubahan realitas yang terjadi
melalui satu titik mainstream Islam berupa pedoman kitab dan sunnah yang
diyakini oleh umatnya.
Hal ini yang membedakan dengan agama-agama lainnya,
penyeregamanan (konvergensi) satu model interprestasi sumber otentik
agama yang dimilikinya menjadikan nilai sebuah agama itu justru kehilangan
kesegarannya. Betapapun secara historis upaya memunculkan bentuk tafsir
yang berbeda tersebut telah ada, namun muaranya lebih kepada pengelupasan
agama yang mereka anut dari panggung kehidupan materialistik.

7
Sebagai bukti dari dinamika progresif yang terdapat dalam Islam ini,
adalah dari larisnya wacana-wacana keislaman yang diangkat baik dalam
lingkup nasional ataupun internasional, yang dijelmakan ke dalam ruang
aktualisasi gagasan dan karya, baik buku, jurnal, institusi, seminar, pelatihan
dan lain-lain. Wacana yang diangkat pun sangat beragam dari mulai yang
paling kanan sampai yang paling kiri, dari yang paling fundamentalis sampai
yang liberal. Seluruhnya membentuk siklus pencerahan yang berangkat dari
misi mengembalikan Islam sebagai sebuah agama yang mampu menjadi
solusi masa kini dan juga masa depan, dan nampaknnya tidak ada yang
meyempalkan wacananya dari sumber otentik al-kitab dan sunnah.

E. Karakter kaum Ahlussunnah Waljamaah


Karakter kemasyarakatan yang digariskan oleh para ulama’ NU selalu
identik dan segaris dengan karakter masyarakat yang digariskan oleh para
ulama Ahlussunnah Waljamaah
Ada lima istilah yang diambil dari Al-Qur’an maupun Al-hadits
dalam menggambarkkaan karakteristik Ahlussunnah Waljamaah, yakni
a. At-Tawasuth
Berarti pertengahan maksudnya menempatkan diri antara dua
kutub dalam berbagai masalah dan keadaan untuk mencapai kebenaran
serta menghindari keterlanjutan ke kiri atau ke kanan secara berlebihan.
Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 143.
‫س يوييدكوين ٱلنردسودل يعليمُيدك مُم يشفهيدداا‬ ‫يويكنيذلف ي مُ ن‬
‫ك يجيعلنيدك مُم أدنمدة يويسدطا لتتيدكودنولا دشهييداَيء يعيلى ٱلننا ف‬
Artinya :” dan demikian kami telah menjadikan kamu umat yang adil
dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan Rosul
(Muhammad) menjadi saksi atas kamu.”

b. Al-I’tidal
Berarti tegak lurus, tidak condong ke kanan dan tidak condong ke
kiri. I’tidal juga berlaku adil, tidak berpihak kecuali pada yang benar
yang harus dibela. Kata I’tidal diambil dari kata adu pada surat Al-
Maidah ayat 8.

8
‫ب فللتنمُقيو نىىَ يوٱتندقولا ٱ ن ل‬
‫لي إفنن ٱنلي يخفبيردر بفيما تيمُعيمدلوين‬ ‫لۚ ٱمُعفددلولا هديو أيمُقير د‬
Artinya : “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”

c. At-Tasamuh
Berarti sikap toleran kepada pihak lain, lapang dada, mengerti dan
menghargai sikap pendirian dan kepentingan pihak lain, tanpa
mengorbankan penndirian dan harga diri, bersedia berbeda pendapat,
baik dalam masalah keagamaan maupun masalah kebangsaan,
kemasyarakatan dan kebudayaan.
Berdasarkan surat Al-Kafirun ayat 1-6
‫ ) يويل‬٣( ‫ ) يويل يأنتد مُم نيعبفددوين يماَ أيمُعبددد‬٢( ‫ ) يل أيمُعبددد يما تيمُعبدددوين‬١( ‫قدمُل نيييأ يلييها ٱمُلنيكففدروين‬
) ٦ (‫ ) ليدك مُم فدينددك مُم يولفيي فديفن‬٥( ‫ )يويل يأنتد مُم نيعبفددوين يماَ أيمُعبددد‬٤( ‫أينياا يعابفدد نما يعيبدلت مُم‬
Artinya : “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir Aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah Dan kamu bukan penyembah Tuhan
yang aku sembah Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang
kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan
yang aku sembah Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"

d. At-Tawazun
Berarti keseimbangan, tidak berat sebelah, tidak berlebihan satu
unsur atau kekurangan unsur lain. Kata Tawazun diambil dari kata Al-
Waznu atau Mizan dari surat Al-Hadid ayat 25
‫س فبٱِمُلقفمُسفط‬ ‫ت يويأنيزمُلينا يميعهددم ٱمُلفك نتي ي‬
‫ب يوٱمُلفمييزاين لفييدقويم ٱلننا د‬ ‫ليقيمُد أيمُريسمُلينا دردسليينا فبٱِمُلبييت نني ف‬
Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama
mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat
melaksanakan keadilan.”

e. Amar Ma’ruf Nahi Munkar


selalu memiliki kepekaan untuj mendorong perbuatan baik dan
bermanfaat bagi kehidupan bersama, serta menolak dan mencegah sikap
perilaku yang tidak baik yang dapat menjerumuskan dan merendahkan
martabat kehidupan manusia.

9
Dengan lima ciri aswaja diatas, kehidupan umat Islam (khususnya
NU) diharapkan dapat terpelihara dengan baik dan terjalin secara
harmonis, baik dalam kegiatan berorganisasi maupun dalam kehidupan
bemasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Hal ini sesuai dengan firman Allah sal Al-Qur’an surat Ali Imran
ayat 110:

‫لف‬ ‫س تيمُأدمدروين فبٱِمُليممُعدرو ف‬


‫ف يوتيمُنهيمُوين يعفن ٱمُلدمنيكفر يوتدمُؤفمدنوين فبٱِ ن ا‬ ‫دكنتد مُم يخمُيير أدنمثة أدمُخفريجمُت فللننا ف‬
Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah.”

F. Pemikiran ahlussunnah waljamaah dalam berbagai bidang


1. Akidah.
a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil naqli.
b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik, bid'ah
apalagi kafir.
2. Syari'ah
a. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan menggunanakan
metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang tidak ada nash
yang je1as (sharih/qotht'i).
c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai masalah yang
memiliki dalil yang multi-interpretatif (zhanni).
3. Tashawwuf/ Akhlak
a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha memperdalam
penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai sesuatu.
c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya sikap syaja’ah atau
berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono),
sikap tawadhu' (antara sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan
(antara kikir dan boros).
4. Pergaulan antar golongan
a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul dan berkelompok
berdasarkan unsur pengikatnya masing-masing.
b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang berbeda.

10
c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling menghormati dan
menghargai.
d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata memusuhi agama
Islam.
5. Kehidupan bernegara
a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus tetap
dipertahankan karena merupakan kesepakatan seluruh komponen
bangsa.
b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan semua aturan yang
dibuat, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta kepada pemerintah yang
sah.
d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan, maka
mengingatkannya dengan cara yang baik.
6. Kebudayaan
a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan yang wajar. Dinilai
dan diukur dengan norma dan hukum agama.
b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan dengan agama dapat
diterima, dari manapun datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus
ditinggal.
c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan melestarikan budaya
lama yang masih relevan (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal
akhdu bil jadidil ashlah).

7. Dakwah
a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau memberikan vonis
bersalah, tetapi mengajak masyarakat menuju jalan yang diridhai
Allah SWT.
b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran yang jelas.
c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan keterangan yang
jelas, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan sasaran dakwah.

Dari sini sesungguhnya yang diperlukan dari kita adalah kearifan untuk
menyikapi problematika multi-tafsir pemahaman keagamaan ini secara apresiatif

11
dan tidak dianggap sebagai sebuah pencemaran agama. Yang harus dipersiapkan
adalah sejauh mana kesanggupan kita melakukan dialektika yang komprehensif
dalam menyaring gagasan mana yang lebih berdaya manfaat dan memberikan
kemaslahatan bagi umat Islam masa kini. Di samping kebesaran hati kita untuk
membuka pikiran dalam menerima berbagai varian gagasan yang dimunculkan
tersebut. Tak terkecuali bagi Aswaja yang telah lama diyakini sebagai teologi yang
banyak diyakini atau dianut oleh umat Islam di dunia, ia juga tak ubahnya
mangalami dialektika multi-tafsir yang sama. Maka menggiring Aswaja pada satu
bentuk konsep yang tunggal hanya akan menjadikan ajaran Aswaja kehilangan
kesegarannya. Lebih-lebih aswaja hanya berfungsi sebagai salah satu bentuk
metode berpikir dalam memahami lautan Islam dan keislaman yang maha luas.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai satu doktrin (ajaran) Ahlussunnah Waljamaah sudah ada jauh
sebelum dia tumbuh sebagai aliran dan gerakan, bahkan istilah Ahlussunnah
Waljamaah itu sudah dipakai sejak zaman Rosulullah dan para sahabat. Sebab
hakikat Ahlussunnah Waljamaah sebenarnya adalah Islam itu sendiri.
Di Indonesia sendiri Ahlussunnah Waljamaah muncul sebagai gerakan
pemurnian ajaran-ajaran Islam, sebagai respons dan reaksi atas terjadinya

12
penyimpangan-penyimpangan ajaran agama yang dilakukan oleh sekelompok
yang mengaku atau mengatasnamakan diri sebagai pembaharu. Sebagai
gerakan pemeliharaan pemurnian ajaran Islam, kaum Ahlussunnah Waljamaah
selalu berpedoman sesuai karakteristik dari Ahlussunnah Waljamaah itu
sendiri, yaitu At-Tawasuth (jalan tengah), Al-I’tidal (tegak lurus), At-Tasamuh
(toleran), At-Tawazun (seimbang) dan amar ma’ruf nah Munkar

B. Saran
Sebagai umat Islam kita harus waspada terhadap sesuatu yang bisa
memecah belah umat Islam sendiri, sehingga apabila umat Islam terpecah
belah musuh-musuh Islam dapat menyerang Islam dengan mudah. Dan juga
terhadap kaum kafir yang selalu berusaha untuk menghancurkan umat Islam
yang selalu meluncurkan propagandanya tersebut.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat
memberikan inspirasi sehingga ada yang meneruskan karya ini karah yang
lebih baik, lebih detail, dan lebih akurat dari yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA

Mursyid, Imam, Ke-NU-an Ahlussunnah Waljamaah kelas XI,


Semarang: Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif
NU Jawa Tengah, 2011
Taufiq, Imam, dik, Materi Dasar Nahdlatul Ulama (Ahlussunnah
Waljamaah), Semarang: PW LP Ma’arif NU Jawa Tengah,
2002
NU Center, T. A. (2013). Risalah Alussunnah Wal-Jamaah. Jakarta: Khalista.

13
Ramli, M. I. (2011). Pengantar Sejarah AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH. Jakarta:
Khalista.
http://pemikiranaswaja.blogspot.com/p/pemikiran-aswaja

14

Anda mungkin juga menyukai