Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anak bagi orang tua merupakan suatu aset yang berharga
yang harus dijaga dan dilindungi. Orang tua akan senang ketika
melihat anaknya tumbuh dan berkembang secara sehat. Namun
ketika anak sedang sakit menjadikan suatu kekhawatiran yang akan
muncul pada orang tua dan menimbulkan ekspresi tingkah laku
yang tidak seperti biasanya (Notoatmodjo, 2007). Anak-anak
adalah suatu kelompok yang mudh sekali terserang penyakit
karena mereka masih memiliki daya tahan tubuh yang rendah.
Penyakit yang umumnya menyerang bayi dan balita antara lain :
demam, batuk, pilek, dan diare. Demam merupakan suatugejala
dan bukan merupakan penyakit terendiri yang sering di derita oleh
anak (Nanik, 2008).
Masalah demam terjadi karena ketidakmampuan
mekanisme kehilangan panas untuk mengimbangi produksi panas
yang berlebih sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh. Demam
tidak berbahaya jika di bawah 39℃, dan pengukuran tunggal tidak
menggambarkan demam.Selain adanya tanda klinis, penentuan
demam juga berdasarkan pada pembacaan suhu pada waktu yang
berbeda dalam satu hari dan dibandingkan dengan nilai normal
individu tersebut (Potter dan Perry, 2009).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan jumlah
kasus demam di seluruh dunia mencapai 18-34 juta. Anak
merupakan yang paling rentan terkena demam, di hampir semua
daerah endemik, insidensi demam banyak terjadi pada anak usia 5-
19 tahun (Suriadi, 2010). Data kunjungan ke fasilitas kesehatan
pediatrik di Brazil terdapat sekitar 19% sampai 30% anak diperiksa
karena menderita demam (Alves & Almeida, 2008). Penelitian
yang dilakukan di Kuwait (Jalil, Jumah, & Al-Baghli, 2007)
menunjukkan bahwa sebagian besar anak 3 bulan sampai 36 bulan
mengalami serangan demam rata-rata 6 kali per tahun. Apabila
demam tidak segera diatasi maka dapat terjadi komplikasi antara
lain kemungkinan dehidrasi, kekurangan oksigen, demam diatas
42ºC dan kejang demam bahkan kematian. Untuk itu agar tidak
terjadi komplikasi yang fatal demam harus segera ditangani dan
dikelola dengan benar (Sarasvati, 2010).
Profil kesehatan Indonesia tahun 2013, mengungkapkan
bahwa pada tahun 2013 jumlah penderita demam yang disebabkan
oleh infeksi dilaporkan sebanyak 112.511 kasus dengan jumlah
kematian 871 orang. Hal ini terjadi peningkatan jumlah kasus
demam yang disebabkan oleh infeksi tahun 2013 1 2 dibandingkan
dengan tahun 2012 dengan angka 90.245 kasus demam infeksi
pada anak di Indonesia (Sekretariat Jendral Kementerian
Kesehatan RI, 2014).
Penatalaksanaan demam sangat bermanfaat untuk
mengurangi rasa ketidaknyamanan yang dirasakan pasien. Saat ini
pengobatan demam dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya
pemberian antipiretik, manajemen cairan, pemakaian pakaian yang
tipis, dan tepid sponge dengan air hangat. Telah dikenal dua
macam cara kompres kulit, yaitu water tepid sponge dan kompres
hangat. Namun kompres hangat telah dikenal secara luas
penggunaannya di masyarakat dibandingkan water tepid sponge.
Suprapti (2008) menyatakan tepid sponge efektif dalam
mengurangi suhu tubuh pada anak dengan hipertermia dan juga
membantu dalam mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan.
Teknik water tepid sponge berpengaruh terhadap penurunan suhu
tubuh karena kompres blok langsung dilakukan di beberapa tempat
yang memiliki pembuluh darah besar, sehingga mengakibatkan
peningkatan sirkulasi serta peningkatan tekanan kapiler. Tekanan
O2 dan CO2 dalam darah akan meningkat dan pH dalam darah
turun (Ali, 2011).
Penelitian Setiawati (2008) rata-rata penurunan suhu tubuh
pada anak hipertermia yang mendapatkan terapi antipiretik
ditambah tepid sponge sebesar 0,53℃ dalam waktu 30 menit.
Sedangkan yang mendapat terapi tepid sponge saja rata-rata
penurunan suhu tubuhnya sebesar 0,97℃ dalam waktu 60 menit.
Maling, dkk, (2012) menyatakan rata-rata suhu tubuh sebelum
diberikan tepid sponge sebesar 38,5℃ dengan standar deviasi
0,4℃. Nilai rata-rata setelah diberikan tepid sponge sebesar
37,1oC dengan standar devisiasi 0,5℃ sehingga diketahui ada
penurunan nilai rata-rata suhu tubuh sebesar 1,4℃ setelah
diberikan tepid sponge.
Peran perawat dibutuhkan dalam pelaksanaan water taped
sponge. Selain itu, banyak orang tua yang hanya mengerti cara
mengurangi demam dengan melakukan kompres saja. Mencermati
hal tersebut, penulis ingin melakukan penerapan tindakan water
tepid sponge untuk mengurangi demam pada anak.

1.2 Rumusan Masalah


Penelitian yang mengkaji gambaran pengetahuan keluarga tentang
water tapid sponge pada anak demam, hal yang membuat peneliti
tertarik dikarenakan bebanyakan keluarga belum mengetahui
bagaimana penanganan demam yang tepat untuk anak-anak
mereka. Pengetahuan keluarga yang berbeda-beda mengenai
demam akan mengakibatkan penanganan yang berbeda pula bagi
anak.
1.3 Tujuan studi kasus
Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penerapan
pendidikan kesehatan pada keluarga tentang water tapid sponge
untuk mengurangi demam pada anak.

1.4 Manfaat studi kasus


1. Masyarakat
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang mengurangi
demam pada anak melalui penerapan water tepid sponge.

2. Pengembangan Ilmu Teknologi Keperawatan


Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan pada bidang
keperawatan keluarga tentang pendidikan kesehatan untuk
mengurangi demam pada anak melalui penerapan water tepid
sponge.

3. Manfaat Penulisan untuk Penulis


Pengetahuan keluarga tentang water tapid sponge masih sangat
minim sehingga peran perawat sebagai edukator sangat
dibutuhkan, perawat perlu memberikan pendidikan keshatan
mengenai pendidikan kesehatan ini, oleh karena itu penulis
tertarik untuk menerapkan water tapid sponge ini. Dan manfaat
bagi penulis adalah memperoleh pengalaman, wawasan dan
pengetahuan mengenai gambaran pengetahuan keluarga
tentang pemberian water tapid sponge pada anak demam.