Anda di halaman 1dari 9

F.

4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Laporan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer


(PMKP) dan Usaha KesehatanMasyarakat (UKM)

F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

PENYULUHAN DAN PENILAIAN STATUS GIZI BALITA DI


POSYANDU

Oleh:

dr. Nadia Ananda Elsinta

Pendamping:

dr. Hj. Dahlia Abbas

PUSKESMAS BARA BARAYYA


KOTA MAKASSAR
PROVINSI SULAWESI SELATAN
PERIODE JUNI – OKTOBER 2018

1
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : dr. Nadia Ananda Elsinta

Judul Laporan : Penyuluhan dan Penilaian Status Gizi Balita di Posyandu

Laporan tentang Penyuluhan dan Penilaian Status Gizi Balita di Posyandu telah
disetujui guna melengkapi tugas Dokter Internsip dalam Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Primer (PKMP) dan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) di bidang
Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Makassar, 4 September 2018

Mengetahui,

Pendamping Dokter Internsip

dr. Hj. Dahlia Abbas

2
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN
UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
PENYULUHAN DAN PENILAIAN STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU

A. LATAR BELAKANG
Status gizi adalah status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan
antara kebutuhan dan masukan nutrisi atau zat gizi. Bila kebutuhan lebih besar
dibanding masukan disebut status gizi kurang, bila kebutuhan seimbang dengan
masukan disebut status gizi seimbang, dan bila kebutuhan lebih kecil dibanding
masukan disebut status gizi lebih. Gangguan atau penyakit yang disebabkan oleh
adanya ketidakseimbangan antara masukan zat gizi dan kebutuhan tubuh disebut
penyakit gangguan gizi atau nutritional disorders. Namun keadaan gizi kurang
(undernutrition/malnutrition) atau gizi lebih (overnutrition), keduanya tidak selalu
disebabkan oleh oleh masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan.
Keadaan demikian dapat juga terjadi karena kelainan dalam tubuh sendiri seperti
gangguan pencernaaan, absorpsi, utilisasi, ekskresi, dan sebagainya.
Permasalahan gizi pada balita merupakan masalah gizi ganda yaitu
masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang sering luput dari
penglihatan ataupun pengamatan biasa serta seringkali tidak cepat dalam
penanggulangannya, hal ini dapat memunculkan masalah besar. Hasil Riskesdas
(2010) menunjukan 40,6% penduduk mengkonsumsi makanan di bawah
kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang
dianjurkan. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24,4% pada balita, dan 41,2%
pada anak usia sekolah.
Penyebab masalah pada status gizi anak juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain ketersediaan bahan makanan, pola konsumsi dan pola asuh.
Perilaku dan kebiasaan orang tua dalam menyediakan makanan keluarga di
pengaruhi oleh faktor budaya, sehingga akan memengaruhi sikap suka tidak suka
masa dan lingkungan. Aktivitas yang tinggi pada anak membutuhkan intake
pangan dan gizi yang cukup dan berkualitas. Penilaian status gizi yang
berkesinambungan sangat dibutuhkan untuk mendeteksi kejadian masalah gizi

3
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

lebih dini dan mengetahui kecenderungan pertumbuhan fisik penduduk, guna


dapat melakukan tindakan intervensi dan pencegahan masalah gizi terutama pada
balita.

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Status gizi pada anak saat ini kurang menjadi perhatian, padahal gizi
merupakan elemen penting dalam masa tumbuh kembang anak. Di samping
dampak langsung terhadap kesakitan dan kematian, gizi juga berdampak terhadap
pertumbuhan, perkembangan intelektual dan produktivitas.
Kecerdasan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik dan
faktor lingkungan berupa stimulasi, melainkan juga faktor gizi atau nutrisi. Untuk
memperoleh anak yang cerdas dan sehat dibutuhkan asupan gizi atau nutrisi yang
sehat dan seimbang dalam makanan sehari-hari. Dari penelitian-penelitian
sebelumnya, terdapat hubungan antara malnutrisi dengan tingkat inteligensi dan
prestasi akademik yang rendah. Untuk negara-negara berkembang dimana
kejadian malnutrisi sering dijumpai, hal ini akan berdampak serius terhadap
keberhasilan pembangunan nasional.

C. PEMILIHAN INTERVENSI
Cara dan strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah diadakan kegiatan screening (penjaringan) berupa pemeriksaan
antropometrik untuk mengetahui status gizi pada balita dan bayi agar dapat
dilakukan deteksi dini terhadap ada tidaknya masalah gizi yang dialami. Upaya
deteksi dini ini diharapkan dapat memberi data awal tentang permasalahan gizi
yang dialami anak balita dan bayi di Wilayah Bara-Barayya untuk selanjutnya
dilakukan intervensi dan penanganan baik pada masalah gizi kurang maupun gizi
lebih.
D. PELAKSANAAN
Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Palem IV berlokasi di Kel.
Lariangbangi Kec. Makasar pada hari Selasa, tanggal 4 September 2018, pukul
09.00 WITA - selesai. Setiap Balita dan Bayi yang datang menjalani pemeriksaan
kesehatan dasar, pemeriksaan berat badan dan tinggi badan yang kemudian
hasilnya dicatat untuk selanjutnya diolah dalam penentuan masalah status gizi.

4
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Pada kegiatan ini penentuan status gizi bayi menggunakan software WHO-
Antrho v3.2.2 dimana ukuran antropometri yang digunakan yaitu berat badan
terhadap umur, dengan kriteria sebagai berikut :
 Gizi Buruk, jika BB/U < -3 SD
 Gizi Kurang, jika BB/U -3 SD s.d. < -2 SD
 Gizi Baik, jika BB/U -2 SD s.d. +2 SD
 Gizi Lebih, jika BB/U > +2 SD

E. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan pemeriksaan status gizi dilakukan satu hari
sebelumnya.
2. Evaluasi Proses
Pelaksana kegiatan dilakukan satu kali oleh satu tim yang terdiri
atas satu dokter, kader-kader, dan satu pemegang program gizi.
Kegiatan penjaringan dilakukan sesuai dengan jadwal posyandu yang
telah ditentukan oleh Puskesmas Bara-baraya.
3. Evaluasi Hasil
a. Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar dan pemeriksaan
status gizi di Posyandu Palem IV dengan total sebanyak :
Laki-laki Perempuan Jumlah
Balita 7 5 12
Bayi 5 3 8
Jumlah 12 8 20

b. Dari 12 balita yang menjalani pemeriksaan status gizi


didapatkan 10 balita (83,3%) memiliki gizi baik, dan 2 balita
(16,37%) memiliki gizi kurang.
c. Dari 8 bayi yang menjalani pemeriksaan status gizi didapatkan 7
bayi (87.5%) memiliki gizi baik dan 1 bayi (12,5%) memiliki
gizi kurang.
d. Dibutuhkan intervensi lebih lanjut terhadap anak yang
mengalami gizi kurang. Penting memberikan pemahaman
terhadap orang tua untuk meningkatkan asupan nutrisi bagi anak
mereka demi tercapainya status gizi normal.

5
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Untuk mengatasi gizi kurang diperlukan perubahan sosial baik gaya hidup,
aktivitas fisik, perilaku makan dan penyiapan lingkungan yang mendukung.
Perubahan yang paling efektif dilakukan adalah sejak usia dini salah satunya pada
saat balita, melalui monitoring dan evaluasi hasil penjaringan status gizi di
posyandu. Makanan dengan kandungan gizi seimbang cukup energi dan zat gizi
sesuai kebutuhan gizi balita sangat dianjurkan karena berguna untuk
perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.
Dukungan media massa dalam hal informasi asupan gizi seimbang, peran
kader untuk menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan dalam
memberikan edukasi tentang asupan gizi seimbang, serta keberpihakan organisasi
profesi dan asosiasi/lembaga lainnya.

Makassar, 4 September 2018

Peserta Pendamping

(dr. Nadia Ananda Elsinta) (dr. Hj. Dahlia Abbas)

DOKUMENTASI

6
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN

Nama Peserta dr. Nadia Ananda Elsinta Tanda tangan:

7
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Nama Pendamping dr. Hj. Dahlia Abbas Tanda tangan:

Nama Wahana Puskesmas Bara Barayya

Tujuan Pelaksanaan Penyuluhan dan Penilaian status gizi balita di Posyandu

Hari/Tanggal Selasa / 4 September 2018

Waktu 09.00 WITA

Tempat Posyandu Palem IV

Jumlah Pasien 20

8
F.4Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat