Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja atau adolesense adalah periode tumbuh untuk mencapai
kematangan, biasanya antara usia 12 – 22 tahun (Mappiare, 1982 dalam Ali,
2014). Secara psikologis masa remaja adalah sebuah masa individu
berperan bersama masyarakat dewasa, pada usia ini anak sudah tidak lagi
merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua, anak sudah mulai
merasa dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah
hak. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa, di mulai saat anak secara seksual matang dan berakhir saat ia
mencapai usia matang secara hukum (Hurlock, 1991 dalam Ali, 2014).
Santrock (2012), mendefinisikan remaja sebagai satu periode
perkembangan dari transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, yang
disertai perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Menurut Monks
(2006), remaja adalah individu berusia 12-22 tahun yang sudah mengalami
peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan pembagian 12-15
tahun adalah masa remaja awal, 15-18 adalah masa remaja pertengahan, dan
18-22 tahun adalah masa remaja akhir
2. Ciri-Ciri Umum Masa Remaja
Remaja mengalami perubahan-perubahan, baik fisik maupun psikis.
Dan perubahan yang tampak paling jelas adalah perubahan fisik, dimana
tubuh berkembang sehingga mencapai tubuh orang dewasa yang turut
disertai dengan perkembangn reproduksi. Remaja juga mengalami
perkembangan secara kognitif dan mulai berfikir abstrak layaknya orang
dewasa. Dan mereka juga mulai mencoba melepaskan diri dari orang tua dan
mulai menjelaskan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.
(Clarke-stewar & Friedman, dalam Hendriati, 2006).

Selain perubahan diri remaja, terjadi pula perubahan dalam lingkungan


seperti sikap orang tua atau keluarga lain, guru, teman sebaya, dan
masyarakat pada umumnya. Kondisi ini sebagai reaksi terhadap
pertumbuhan remaja, remaja dituntut untuk mampu menampilkan sikap
yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang sesuainya. Adanya
perubahan-perubahan tersebut membuat kebutuhan remaja semakin
meningkat terutama kebutuhan sosial dan psikologisnya. Dan untuk
memenuhi kebutuhannya itulah remaja mulai memperluas lingkungan
sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan
lingkungan masyarakat lain.
Secara umum masa remaja dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai
berikut : (Konopka dalam Hendriati, 2006) :
a. Masa remaja awal (12-15)
Pada tahap ini remaja mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan
berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak
tegantung pada orang tua. Namun remaja masih heran dengan
perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Akibatnya mereka
mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru dan menjadi lebih peka
terhadap lingkungan sekitarnya, kepekaan yang berlebihan ini di tambah
dengan berkurangnya pengendalian terhadap ego yang dapat membuat
remaja sulit dimengerti oleh orang dewasa. Fokus pada tahap ini adalah
penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas
yang kuat dengan teman sebaya.
b. Masa remaja pertengahan (15-18)
Masa ini ditandai dengan semakin berkembangnya kemampuan berpikir
yang baru. Pada masa ini remaja sangat membutuhkan teman-teman ini
membuat teman sebaya sangatlah penting bagi remaja. Masa ini remaja
akan mengalami kondisi kebingungan karena masih ragu dalam
memilih, sendiri, peduli, optimis.
c. Masa remaja akhir (19-22)
Tahap ini adalah masa mendekati kedewasaan yang ditandai dengan
persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama
masa ini remaja berusaha menyakinkan tujuannya. Keinginan yang kuat
untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan
orang dewasa, juga menjadi ciri pada tahap ini.
3. Tugas Perkembangan Remaja
Setiap tahap perkembangan dalam kehidupan manusia mempunyai
tugas-tugas tersendiri yang berbeda-beda di setiap tahapnya. Tugus-tugas ini
merupakan harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh setiap individu.
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam melaksanakan tugas
perkembangannya pada periode usia tertentu akan mempengaruhi seseorang
untuk melaksanakan tugas perkembangan selanjutnya.
Berikut ini adalah tugas-tugas perkembangan menurut Havighurst (dalam
Hendriati 2006):
a. Menciptakan hubungan baru dengan orang lain dan lebih matang bergaul
dengan teman sesuainya baik laki-laki maupun perempuan. Terjalinnya
hubungan pertemanan dengan lawan jenis, maka remaja dapat belajar
dengan keterampilan sosial sebagai orang dewasa. Pada saat usia mereka
bertambah tua, mereka akan lebih terampil dan siap untuk terjun pada
lingkungan yang lebih luas lagi.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita. Remaja dapat menerima dan
belajar mengenai peran sosial maskulinitas dan femininitas yang
dibenarkan dalam lingkungan orang dewasa.
c. Menerima perubahan terhadap keadaan fisiknya dan memanfaatkan
perubahan tersebut secara efektif dan bijaksana. Pada diri remaja
perubahan secara internal maupun eksternal terjadi secara pararel.
Diharapkan dengan adanya perubahan ini, remaja dapat memiliki
toleransi terhadap kondisi fisiknya, serta dapat menggunakan dan
memeliharanya secara efektif dengan kepuasan pribadi.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa
lainnya. Remaja harus bisa tidak tergantung lagi pada orang tua sedikit
demi sedikit. Mereka harus bisa mengembangkan afeksi dari orang tua
tanpa bergantung pada mereka untuk mengembangkan rasa hormat
dengan orang dewasa lainnya tanpa bergantung pada mereka.
e. Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Remaja
menunjukan perbedaan dalam sikap positif terhadap kehidupan keluarga,
khususnya wanita untuk mendapatkan pengetahuan penting dalam
mengelola rumah dan mengasuh anak.
f. Mempersiapkan diri untuk karir dan ekonomi. Remaja dapat
mengorganisasikan suatu perencanaan dan berusaha dengan berbagai cara
untuk mencapai tingkat karir yang teratur dan mampu membina
kehidupan.
g. Memperoleh peningkatan nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi.
h. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
Remaja belajar untuk menggabungkan diri dengan masyarakat dan
negaranya. Remaja harus mengorbankan sesuatu untuk menciptakan
tahap kebaikan yang lebih tinggi.

4. Masalah-Masalah Yang Terjadi Pada Remaja


Banyak sekali masalah-masalah yang akan dihadapi seseorang pada
saat remaja. Seorang remaja bisa saja mengalami masalah yang sangat berat
dan memerlikan waktu lama untuk menyelesaikannya (Santrock, 2007).
Misalnya saat berusia 13 tahun ia mulai menunjukan perilaku mengganggu
orang lain, pada usia 14 ia sudah melakukan kenakalan-kenakalan yang
nyata, dan pada usia 16 tahun masalahnya akan bertambah parah karena ia
semakin sering melakukan kesalahan. Hai ini terjadi karena masa remaja
adalah masa pembuktian diri kepada orang lain, maka remaja akan
melakukan apapun agar dirinya diakui walaupun apa yang ia lakukan
sebenarnya salah. Berikut adalah masalah yang sering terjadi pada remaja
(Santrock, 2007):
a. Penggunaan obat terlarang, alkhohol, dan merokok
Pada remaja tertarik menggunakan obat-obat karena mereka yakin
bahwa obat-obatan dapat membantu mereka beradaptasi terhadap
lingkungan yang selalu berubah. Mereka menganggap merokokdan
minum-minuman keras mereka dapat mengurangi stress, tidak bosan dan
beberapa situasi dapat membantu remaja untuk melarikan diri dari
kenyataan dunia. Remaja dapat merasakan perasaan tenang, gembira,
rileks saat memakai obat. Namun penggunaan obat untuk memperoleh
kepuasanpribadi dan kemampuan beradaptasi yang sementara dapat
menimbulkan dampak yang sangat merugikan. Dengan demikian, remaja
yang menganggap penggunaan obat itu adalah perilaku adaptif masalah
sebenarnya adalah maladaptif, karena dapat menimbulkan masalah
kesehatan dalam jangka panjang.
b. Kenakalan remaja
Kenakalan remaja mengarah pada berbagai perilaku, mulai dari perilaku
yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran , hingga tindakan
kriminal. Kenakalan ini biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang
gagal dalam menjalani tugas perkembangannya, baik pada saat remaja
maupun masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan dengan baik pada
tahap perkembangan sebelumnya.
c. Gangguan depresi dan bunuh diri
Di masa remaja, gejala-gejala depresif dapat dilihat dalam berbagai
cara, seperti kecenderungan untuk mengenakan pakaian hitam, menulis
kata-kata mengerikan, atau senang mendengarkan lagu-lagu yang
bertema sedih. Gangguan tidur juga dapat muncul seperti sulit bangun
di pagi hari maupun sulit tidur saat malam hari. Dengan timbulnya
perasaandepresi akan membuat remaja menjadi bosan dan enggan untuk
melanjutkan hidupnya, sehingga munculide-ide untuk bunuh diri dan
usaha bunuh diri di masa remaja.
B. Sikap
1. Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan sesuatu
yang tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan
konotasi adanya kesesuaian rekasi terhadap stimulus tertentu yang
dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional
terhadap stimulus sosial. Menurut Newcomb dalam Notoadmojo
(2012), sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka.
2. Komponen Sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoadmojo (2012) menjelaskan bahwa
sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan yang penting.
3. Tingkatan Sikap
Menurut (Notoadmojo, 2012) Ada beberapa tingkatan dari sikap yaitu:
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatika
stimulus yang diberikan (objek).
b. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari
sikap. Sebab dengan seseorang mengerjakan suatu pekerjaan
terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa
orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko merupakan merupakan sikap yang paling tinggi
4. Susunan Sikap
Sikap terbentuk oleh berbagai 3 macam komponen (Donsu, 2017).
Berikut merupakan susunan komponen tersebut:
a. Kognitif (konseptual)
Sikap terbentuk oleh komponen kognitif, olah kognitif yang muncul
adalah sikap percaya, stereotip, dan adanya persepsi. Komponen
kognitif sering juga disebut dengan komponen perseptual yang
berbicara tentang kepercayaan seseorang. Misalnya bagaimana
seseorang menilai orang berdasarkan gejala-gejala dan informasi
yang diperolehnya, untuk membuat sebuah kesimpulan. Selain itu
kognitif juga tergantung dari pengetahuan mereka. Orang yang
banyak pengetahuan cenderung memiliki rasa empati terhadap sikap
dan perilaku orang lain dan lebih bisa menghargai keputusan orang
lain.
b. Emosional (afektif)
Komponen emosional berisi tentang perasaan yang melibatkan
emosi. Bisa perasaan bahagia, perasaan sedih, dan perasaan terkejut.
Komponen ini bersifat subjektif yang artinya stimulus atau objek
yang direspons dengan perasaan yang belum tantu sama oleh
individu yang berbeda. melibatkan emosional.
c. Prilaku (psikomotor)
Komponen perilaku seringkali disebut dengan komponen konatif.
Komponen ini bersifat predisposisi. Predisposisi merupakan
kecenderungan seseorang terhadap stimulus / objek yang dihadapi.
5. Penilaian sikap
Secara umum, sikap baik dan buruk seseorang dapat diukur lewat
dua cara yaitu:
a. Langsung
Pengukuran sikap langsung biasa kita lakukan dengan car
mengajukan pertanyaan. Adapun beberapa jenis pengukuran sikap
yang termasuk kepengukuran sikap secara langsung yaitu dengan
cara terstruktur dan tidak terstruktur.
1) Skala terstruktur
Skala terstruktur selain secara tertulis, juga bisa dengan
mengajukan pertanyaan tersusun begitu rapi. Adapun beberapa
nama alat tes pengukuran sikap yang disebut skala berikut:
a) Skala bogardus
Skala untuk mengetahui sejauh mana sikap seseorang
berdasarkan jarak sosialnya seperti yang dirasakan dalam
interaksi sosial dengan sekeliling kita, sering terjadi jarang
soaial. Penyebabnya bermacam-macam, bisa disebabkan
karena faktor usia, ras, agama dan masih banyak lagi.
b) Skala thurston
Skala yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang
terhadap pengaruh like-dislike. Penggunaan skala thurston
menggunakan metode equal-appearing intervals yang telah
disusun sedemikian rupa. Penyusunan dibuat semacam range
bawah ke atas, dari yang menyenangkan sampai tidak
menyenangkan.
c) Skala likert
Skala likert, barangkali sudah pernah mengerjakan
dalam psikotes. Skala ini dikemas dengan menampilkan lima
pilihan jawaban, pernyataan yang diajukan pun berupa
pernyataan. Tester biasanya disuruh memilih jawaban yang
sudah disediakan, bentuk pilihan jawaban pun sama dengan
jawaban sebulumnya yaitu setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan
sangat tidak setuju.
2) Penilaian sikap yang paling sederhana dan tanpa
persiapan yang ribet adalah menggunakan skala tidak
berstruktur. Penilaian ini dilakukan hanya melakukan
wawancara kepada partisipan, bukan berarti melakukan
wawancara semata tetapi, juga juga melakukan pengamatan
survei. Bentuk survei itu sendiri tidak selalu dalam bentuk
peninjauan langsung di rumah partisipan tetapi, bisa
melakukan survei di jejaring media sosial.
b. Tidak langsung
Mengukur sikap secra tidak langsung dapat menggunakan
skala semanti-diferensial. Dimana cara pengukuran sikap ini
lebih banyak digunakan saat menilai seseorang, pengagasan
skala ini adalah Charles E.Osgood.

C. Rokok
Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk
dibakar dihisap dan dihirup asapnya (Pusat Promkes Kemkes RI, 2013).
Rokok biasanya berbentuk silinder dari kertas yang berukuran panjang
antara hingga 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan
diameter hingga 10 mm yang berisi daun tembakau di cacah (Pusat Promkes
Kemkes RI, 2013). Tiga racun dalm rokok yaitu nikotin, tar, karbon
monoksida.
1. Sebab seseorang merokok
Dokter Daniel Horn, Direktur dari National Clearing House for
Smoking and Health, mengatakan, bahwa secara umum, seorang
dewasa mengisap rokok disebabkan salah satu faktor berikut (dalam
Rokhmat, 2014):
a. Untuk merangsang perasaan, terutama pagi hari
b. Karena sudah kecanduan
c. Untuk mengurangi perasaan-perasaan negatif,
d. Karena sudah menjadi kebiasaan
e. Untuk kepuasaandi mulut, dan
f. Untuk santai. Berbeda dengan kaum remaja
Menurut penyelidikan Charles Gilbert wernn dan Shirley Schwarzrock,
remaja-remaja itu mulai merokok karena:
a. Ikut-ikutan dengan teman
b. Untuk iseng
c. Agar lebih tenang apalagi pada waktu berpacaran,
d. Berani ambil resiko
e. Karena bosan dan tidak ada yang sedang dilakukan, dan
f. Supaya kelihatan seperti orang dewasa
2. Perilaku merokok
Menurut Leventhal & Clearly (dalam Rochayati, 2015), terdapat 4
tahap, sehingga seseorang menjadi seorang perokok aktif (pecandu
rokok) yaitu:
a. Tahap preparatory (pengenalan terhadap rokok), seseorang
mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok
dengan cara mendengar, melihat, atau hasil bacaan. Hal-hal ini
menimbulkan minat untuk merokok.
b. Tahap initiation (tahap inisiasi), tahap perintisan apakah seseorang
akan meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
c. Tahap become a smoker (tahap menjadi seorang perokok), jika
seseorang secara rutin menghabiskan rokok sebanyak 4 batang
sehari, maka kecendrungan menjadi seorang perokok.
d. Tahap maintenance of smoking (tahap ketergantungan/tahap tetap
menjadi perokok), tahapan ini merokok sudah menjadi salah satu
bagian dari cara pengaturan diri (self regulation). Merokok
Merokok sudah menjadi ketergantungan karena mempunyai efek
fisiologis yang menyenangkan.
3. Tipe-tipe perokok
Menurut (Smet, 1994 dalam Afandi, 2016), ada tiga tipe perokok yang
di klasifikasikan perokok berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap.
Tiga tipe perokok tersebut adalah:
a. Perokok berat yang menghisab lebih dari 15 batang rokok dalam
sehari.
b. Perokok sedang yang menghisab 5-14 batang rokok dalam sehari.
c. Perokok ringan yang menghisab 1-4 batang rokok dalam sehari.
4. Kandungan rokok
Menurut (Terry dan Horn dalam Nurullita, 2016) kandungan zat kimia
yang terdapat di dalam sebatang rokok itu berjumlah 3000 macam.
Tetapi hanya 700 macam zat saja yang dikenal. Secara umum hanya 15
macam zat berbahaya yang biasa dipelajari yaitu acrolein, karbon
monoksida, nikotin, amonia, formic acid, hidrogen cyanida,
nitrogen oksida, formaldehyde, phenol, acetol, hidrogen sulfida,
pyridine, methyl chlorida, methanol, TAR, butane, cadmium, asam
stearad, toluene, arsenic.
5. Bahaya merokok
Merokok sangat erat kaitannya dengan penyakit tidak menular (PTM)
yang penyebab kematian utama di dunia, termasuk di negara kita
Indonesia. Berdasarkan perhitungan rasio ini maka sedikitnya 25.000
kematian di Indonesia terjadi karena asap rokok orang lain. Kebiasaan
merokok menjadi faktor resiko terjangkitnya penyakit kronis,
kardiovaskuler, stroke, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker
paru, kanker mulut (Pusat Promkes Kemkes RI, 2013).
D. Pendikan kesehatan
Pendidikan kesehatan dalam arti pendidikan. secara umum adalah segala
upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu,
kelompok, atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan oleh pelaku pendidikan atau promosi kesehatan. Dan batasan ini
tersirat unsure-unsur input (sasaran dan pendidik dari pendidikan), proses
(upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain) dan output
(melakukan apa yang diharapkan). Hasil yang diharapkan dari suatu
promosi atau pendidikan kesehatan adalah perilaku kesehatan, atau perilaku
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif oleh sasaran
dari promosi kesehatan. (Notoadmojo, 2012).
1. Tujuan pendidikan kesehatan
Promosi kesehatan mempengaruhi 3 faktor penyebab terbentuknya
perilaku tersebut Green dalam (Notoadmojo, 2012) yaitu :
a. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor predisposisi
Promosi kesehatan bertujuan untuk mengunggah kesadaran,
memberikan atau meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
pemeliharaan dan penigkatan kesehatan bagi dirinya sendiri,
keluarganya maupun masyarakatnya. Disamping itu, dalam konteks
promosi kesehatan juga memberikan pengertian tentang tradisi,
kepercayaan masyarakat dan sebagainya, baik yang merugikan
maupun yang menguntungkan kesehatan. Bentuk promosi ini
dilakukan dengan penyuluhan kesehatan, pameran kesehatan, iklan-
iklan layanan kesehatan, billboard, dan sebagainya.
b. Promosi kesehatan dalam faktor-faktor enabling (penguat).
Bentuk promosi kesehatan ini dilakukan agar masyarakat dapat
memberdayakan masyarakat agar mampu mengadakan sarana dan
prasarana kesehatan dengan cara memberikan kemampuan dengan
cara bantuan teknik, memberikan arahan, dan cara-cara mencari
dana untuk pengadaan sarana dan prasarana.
c. Promosi kesehatan dalam faktor reinforcing (pemungkin)
Promosi kesehatan pada faktor ini bermaksud untuk mengadakan
pelatihan bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, dan petugas
kesehatan sendiri dengan tujuan agar sikap dan perilaku petugas
dapat menjadi teladan, contoh atau acuan bagi masyarakat tentang
hidup sehat.
2. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pendidikan kesehatan
dapat mencapai sasaran (Saragih, 2010 dalam Rochmawati, 2015) yaitu:
a. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap
informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa
semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin mudah seseorang
menerima informasi yang didapatnya.
b. Tingkat Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang, semakin mudah
pula dalam menerima informasi baru.
c. Adat Istiadat
Masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat
istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan.
d. Kepercayaan Masyarakat
Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh
orang-orang yang sudah mereka kenal, karena sudah ada
kepercayaan masyarakat dengan penyampai informasi.
e. Ketersediaan waktu di masyarakat
Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat
aktifitas masyarakat untuk menjamin tingkat kehadiran masyarakat
dalam penyuluhan.
3. Metode Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoadmojo (2012), berdasarkan pendekatan sasaran yang
ingin dicapai, penggolongan metode pendidikan ada 3 (tiga) yaitu:
a. Metode berdasarkan pendekatan perorangan
Metode ini bersifat individual dan biasanya digunakan untuk
membina perilaku baru, atau membina seorang yang mulai tertarik
pada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakannya
pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah
atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau
perilaku baru tersebut. Ada 2 bentuk pendekatannya yaitu:
1. Bimbingan dan penyuluhan (Guidance and Counceling)
2. Wawancara
b. Metode berdasarkan pendekatan kelompok
Penyuluh berhubungan dengan sasaran secara kelompok. Dalam
penyampaian promosi kesehatan dengan metode ini kita perlu
mempertimbangkan besarnya kelompok sasaran serta tingkat
pendidikan formal dari sasaran. Ada 2 jenis tergantung besarnya
kelompok, yaitu :
1. Kelompok besar
2. Kelompok kecil
c. Metode berdasarkan pendekatan massa
Metode pendekatan massa ini cocok untuk mengkomunikasikan
pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat.
Sehingga sasaran dari metode ini bersifat umum, dalam arti tidak
membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status social
ekonomi, tingkat pendidikan, daan sebagainya, sehingga pesan-
pesan kesehatan yang ingin disampaikan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa.
4. Media Pendidikan
Media sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Alat-
alat bantu tersebut mempunyai fungsi sebagai berikut (Notoadmojo,
2012):
a. Menimbulkan minat sasaran pendidikan
b. Mencapai sasaran yang lebih banyak
c. Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman
d. Menstimulasi sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan –pesan
yang diterima oran lain
e. Mempermudah penyampaian bahan atau informasi kesehatan
f. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran/ masyarakat
g. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih
mendalami, dan akhirnya mendapatkan pengertian yang lebih baik
h. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh
Dengan kata lain media ini memiliki beberapa tujuan yaitu :
a. Tujuan yang akan dicapai
1. Menanamkan pengetahuan/pengertian, pendapat dan konsep-
konsep.
2. Mengubah sikap dan persepsi
3. Menanamkan perilaku/kebiasaan yang baru
b. Tujuan penggunaan alat bantu
1. Sebagai alat bantu dalam latihan/penataran/pendidikan
2. Untuk menimbulkan perhatian terhadap suatu masalah
3. Untuk mengingatkan suatu pesan/informasi
4. Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan
Ada beberapa bentuk media penyuluhan antara lain (Notoadmojo,
2012):
a. Berdasarkan stimulasi indra
1. Alat bantu lihat (visual) yang berguna dalam membantu
menstimulasi indra penglihatan
2. Alat bantu dengar (audio) yaitu alat yang dapat membantu
untuk menstimulasi indra pendengar pada waktu
penyampaian bahan pendidikan/pengajaran
3. Alat bantu lihat-dengar (audio visual)
b. Berdasarkan pembuatannya dan penggunaannya
1. Alat peraga atau media yang rumit, seperti film, film strip,
slide, dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor
2. Alat peraga sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan
bahan – bahan setempat
3. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur media kesehatan.
E. Penelitian yang terkait