Anda di halaman 1dari 58

USULAN PENELITIAN

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI DENGAN METODE AUDIO


VISUAL DAN CERAMAH TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN
SERTA SIKAP ORANG DEWASA OBESITAS TENTANG PEDOMAN
UMUM GIZI SEIMBANG DI DESA MENGWITANI BADUNG

AGIK CINTYA DEWI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN BALI
DENPASAR
2018

1
USULAN PENELITIAN

PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI DENGAN METODE AUDIO


VISUAL DAN CERAMAH TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN
SERTA SIKAP ORANG DEWASA OBESITAS TENTANG PEDOMAN
UMUM GIZI SEIMBANG DI DESA MENGWITANI BADUNG

AGIK CINTYA DEWI


15C11412

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN BALI
DENPASAR
2018

2
PERNYATAAN PERSETUJUAN PELAKSANAAN PEMBIMBING

Proposal dengan judul “Pengaruh Pemberian Edukasi Dengan Metode Audio


Visual dan Ceramah Terhadap Tingkat Pengetahuan Serta Sikap Orang Dewasa
Obesitas Tentang Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) di Desa Mengwitani
Badung” telah mendapat persetujuan pembimbing dan disetujui untuk diajukan
dalam ujian proposal penelitian.

Denpasar, November 2018

Pembimbing I Pembimbing II

(IGA Rai Rahayuni, S.Kep.,Ns.,MNS) (Gusti Ayu Dwina Mastryagung, M.Keb)

3
PERNYATAAN PERSETUJUAN PENELITIAN

Proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Edukasi Dengan Metode


Audio Visual dan Ceramah Terhadap Tingkat Pengetahuan Serta Sikap Orang
Dewasa Obesitas Tentang Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) di Desa
Mengwitani Badung”, telah mendapat persetujuan pembimbing dan Ketua
STIKES Bali untuk dilakukan sesuai dengan rencana penelitian yang tertuang
dalam proposal penelitian.

Denpasar, November 2018

Pembimbing I Pembimbing II

(IGA Rai Rahayuni, S.Kep.,Ns.,MNS) (Gusti Ayu Dwina Mastryagung, M.Keb)

Menyetujui

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bali

Ketua

I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., Ph.D

NIDN.0823067802

4
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepda Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
rahmat-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan proposal yang berjudul
“Pengaruh Pemberian Edukasi Dengan Metode Audio Visual dan Ceramah
Terhadap Tingkat Pengetahuan Serta Sikap Orang Dewasa Obesitas Tentang
Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) di Desa Mengwitani Badung”.

Dalam penyusunan proposal ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan,


pengarahan, dan bantuan dari semua pihak sehingga proposal ini bisa diselesaikan
tepat pada waktunya. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak I Gede Putu Dharma Suyasa, K.Kep.,M.Ng.,Ph.D. selaku Ketua


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali yang telah memberikan izin dan
kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan proposal ini.
2. Ibu A.A.A Yuliati Darmini,S.Kep.,Ns.,MNS selaku Ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan yang memberikan dukungan moral dan perhatian
kepada penulis.
3. Ibu IGA Rai Rahayuni, S.Kep.,Ns.,MNS selaku Pembimbing I yang telah
banyak memberikan bimbingan dalam menyelesaikan proposal ini.
4. Ibu Gusti Ayu Dwina Mastryagung, M.Keb selaku Pembimbing II yang
telah banyak memberikan bimbingan dalam menyelesaikan proposal ini.
5. Ibu Gusti Ayu Dwina Mastryagung, M.Keb selaku Penguji tamu yang
telah memberi masukan serta saran dalam penyusunan proposal ini.
6. Bapak Ns. I Nyoman Dharma Wisnawa, S.Kep.,M.Kes selaku Wali kelas
A tingkat IV Program Studi S1 Keperawatan STIKES Bali yang telah
memberikan motivasi dalam penyusunan proposal ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen beserta seluruh staf STIKES Bali atas izin dan
dukungannya dalam penyusunan proposal ini.

5
8. Perpustakaan STIKES Bali yang telah menyediakan buku-buku sebagai
referensi dalam penyusunan proposal ini.
9. Kedua Orang Tua dan saudara-saudara yang banyak memberikan doa,
dukungan materiil dan semangat dalam penyusunan proposal ini.
10. Seluruh teman-teman Angkatan 2015 S1 Keperawatan STIKES Bali yang
telah membantu penyusunan proposal ini terutama Ni Putu Dara Parmita
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah
banyak membantu dalam penyusunan proposal ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan proposal ini masih belum sempurna,


untuk itu dengan hati terbuka, penulis menerima kritik dan saran yang sifatnya
konstruktif demi kesempurnaan proposal ini. Akhir kata, penulis mengharapkan
semoga proposal ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada
khususnya.

Denpasar, 30 November 2018

Penulis

Agik Cintya Dewi

6
DAFTAR ISI

7
DAFTAR TABEL

8
DAFTAR GAMBAR

9
DAFTAR LAMPIRAN

10
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obesitas dikatakan suatu keadaan seseorang memiliki berat badan
lebih yang disebabkan oleh terjadinya penumpukan lemak di dalam tubuh.
Obesitas merupakan fenomena “Gunung Es” dimana keadaan yang tampak
dipermukaan hanya sedikit, sedangkan didalamnya terkandung suatu
masalah yang besar bagi kesehatan (Sumanto, 2009). Prevalensi obesitas
diseluruh dunia meningkat drastis sehingga menempatkan masalah gizi ini
menjadi salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Obesitas sering terjadi pada orang dewasa karena ketidaksesuaian
pemenuhan gizi pada orang dewasa. Orang dewasa obesitas dapat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti teman sebaya yang
memengaruhi pola makan yaitu dengan lebih memilih makanan praktis
dan cepat saji yang cenderung memiliki tinggi kalori, lemak dan rendah
serat (Sudarko dkk., n.d.).
Prevalensi obesitas secara nasional tahun 2018 pada dewasa umur
>15 tahun sekitar 21,8%. Sebanyak 8 provinsi yang memiliki prevalensi
obesitas di atas angka nasional, yaitu Jawa Timur, Bali, Riau, Gorontalo,
Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara
(Riskesdas 2018). Obesitas dianggap sebagai faktor risiko yang berkaitan
erat dengan beberapa penyakit kronis misalnya Diabetes Mellitus,
Hipertensi, Stroke, Gagal Nafas, Kanker dan Angka Kematian Meningkat
(Proverawati, 2010).
Prevalensi obesitas di Bali tahun 2017 pada dewasa umur ≥15
tahun sekitar 48,84 % di Kabupaten Badung, dengan data pria yang
mengalami obesitas 46,38 % dan wanita 50,89 % (Dinkes Prov. Bali,
2017). Hasil studi pendahuluan di Dinkes Kabupaten Badung penduduk
berusia ≥15 tahun yang mengalami obesitas tertinggi di wilayah kerja
puskesmas Menguwi I.

11
Menurut Manurung, 2009 dalam Rostania, 2013 penyebab
terjadinya obesitas antara lain seperti, jenis kelamin, umur, status
ekonomi, pola makan, gangguan emosi, faktor genetik, tingkat
pengetahuan dan pendidikan. Obesitas dominan disebabkan oleh pola
makan dan aktivitas fisik. Perubahan gaya hidup yang menjurus ke
westernisasi dan pola hidup kurang gerak (sedentary life styles) sering
ditemukan di kota kota besar di Indonesia, hal ini mengakibatkan
terjadinya perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada pola
makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol, terutama makanan siap saji (fast
food) yang berdampak meningkatkan obesitas (Manurung, 2009 dalam
Rostania, 2013 ).
Pola makan berlebihan cenderung dimiliki oleh orang yang
kegemukan. Orang yang kegemukan biasanya lebih responsif dibanding
dengan orang memiliki berat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal
seperti rasa dan bau makanan atau saatnya waktu makan, mereka
cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia
lapar. Pola makan yang berlebihan inilah yang menyebabkan mereka sulit
untuk keluar dari kegemukan apabila tidak memiliki kontrol diri dan
motivasi kuat untuk mengurangi berat badan (Indika, 2010 dalam
Rostania, 2013).
Aktivitas fisik juga merupakan salah satu variabel yang menjadi
faktor pemicu obesitas. Seseorang yang jarang bergerak akan lebih mudah
mengalami kenaikan berat badan karena mereka tidak membakar kalori
melalui aktifitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan setiap hari
bermanfaat bukan hanya untuk mendapatkan kondisi tubuh yang sehat
tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan mental, hiburan dalam mencegah
stres (WHO, 2000 dalam Rostania, 2013).
Ada beberapa penelitian yang terkait dalam penelitian ini,
penelitian tentang kualitas diet yang dilakukan oleh Ulfah Puspita Dewi
pada remaja di SMA Negeri 9 Semarang. Hasil penelitian menunjukkan
konsumsi makanan berdensitas energi tinggi lebih banyak pada perempuan

12
(32,4%) dibandingkan laki-laki (5,9%). Kualitas diet pada laki-laki 8,8%
tergolong tinggi sedangkan pada perempuan 100% tergolong rendah. Gizi
lebih (obesitas dan overweight) pada remaja sebesar 35,2% dan secara
umum lebih tinggi pada perempuan 37,8% dibandingkan laki-laki 32,3%
(Dewi, 2013).
Penelitian tentang edukasi gizi yang dilakukan oleh Marisa
Rostania yang dilakukan pada anak usia sekolah di SDN Sudirman 1
Makassar. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh signifikan antara
edukasi gizi dengan perubahan pengetahuan anak gizi lebih di Sekolah
Dasar Sudirman I Makassar Tahun 2013 dengan nilai p 0,000 (p<0,05).
Dan Tidak ada hubungan yang bermakna antara edukasi yang diberikan
dengan perubahan gaya hidup sedentary pada anak gizi lebih di Sekolah
Dasar Sudirman I Makassar Tahun 2013 dengan nilai p 0,108 (p>0,05)
(Rostania, 2013).
Penelitian tentang kualitas diet yang dilakukan oleh Garnis
Retnaningrum di SMP Nasima, SMP Islam Al Azhar 14 dan SMP 23
Semarang didapatkan hasil sebagian besar remaja obesitas (96.4%) dan
non obesitas (64.3%) memiliki kualitas diet rendah. Kualitas diet rendah
pada remaja non obesitas digambarkan dengan rendahnya asupan serat dan
mikronutrien, tingginya asupan lemak jenuh dan adanya
ketidakseimbangan proporsi makronutrien dan asam lemak, sementara
pada remaja obesitas ditambah dengan tingginya asupan energi,
karbohidrat, lemak, kolestrol, dan makanan rendah zat gizi. Sebanyak
73.2% remaja obesitas juga memiliki aktivitas fisik yang rendah,
sementara remaja non obesitas yang memiliki aktivitas fisik rendah hanya
23.2%. Remaja dengan kualitas diet rendah dan aktivitas fisik rendah
masing - masing memiliki risiko 10.4 dan 7.2 kali lebih besar untuk
mengalami obesitas (Retnaningrum, 2015).
Penelitian tentang konseling modifikasi gaya hidup yang dilakukan
oleh Hafidhotun Nabawiyah dan M. Sulchan yang dilakukan pada remaja
di SMA N 2 Semarang didapatkan hasil konseling modifikasi gaya hidup

13
berpengaruh terhadap kualitas diet (p=0.002), aktifitas fisik (p=0.001), IL-
18 (p=0.000), dan tidak berpengaruh terhadap densitas energi makanan
dan lingkar pinggang. Rerata kualitas diet kelompok konseling intensif
7.18 (0.02) lebih bermakna dibanding kelompok konseling tidak intensif
7.31 (p=0.04). Aktifitas fisik konseling tidak intensif 2335.81 (p=0.00)
lebih bermakna dibanding konseling intensif 1806 (p=0.18). Rerata
densitas energi makanan konseling intensif 1.83 (p=0.21). Rerata lingkar
pinggang konseling intensif 98.22 (p=0.30). Kadar IL -18 kelompok
konseling intensif 359.18(p=0.00) lebih bermakna dibandingkan konseling
tidak intensif (Nabawiyah & Sulchan, 2015).
Tingginya prevalensi obesitas dan dampak buruk dari obesitas itu
sendiri, maka perlu dilakukan pencegahan sejak dini untuk mengurangi
tingkat prevalensi dan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia
yang lebih baik. Pendidikan kesehatan merupakan upaya yang sangat
penting sebagai tahap awal dalam mengubah perilaku masyarakat untuk
menuju perilaku hidup sehat. Pendidikan kesehatan yang dilakukan pada
usia dini merupakan upaya strategis dari sisi manfaat jangka pendek
maupun jangka panjang. Penambahan berat badan dapat dibatasi dengan
upaya mengotrol kebiasaan makan dan melakukan aktivitas fisik yang
cukup. Hal ini yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian
mengenai pengaruh pemberian edukasi dengan metode audio visual dan
ceramah terhadap tingkat pengetahuan serta sikap orang dewasa obesitas
tentang pedoman umum gizi seimbang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan pemberian
edukasi pada orang dewasa agar dapat menekan terjadinya gizi lebih. Maka
dengan itu peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh pemberian
edukasi dengan metode audio visual dan ceramah terhadap tingkat
pengetahuan serta sikap orang dewasa obesitas tentang pedoman umum
gizi seimbang.

14
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi dengan metode audio
visual dan ceramah terhadap tingkat pengetahuan serta sikap orang
dewasa obesitas tentang pedoman umum gizi seimbang.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan serta sikap sebelum
dilakukan pemberian edukasi dengan metode audio visual dan ceramah
tentang pedoman umum gizi seimbang.
b. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan serta sikap sesudah
dilakukan pemberian edukasi dengan metode audio visual dan ceramah
tentang pedoman umum gizi seimbang.
c. Untuk menganalisa pengaruh pemberian edukasi dengan metode
audio visual dan ceramah terhadap tingkat pengetahuan serta sikap
orang dewasa obesitas tentang pedoman umum gizi seimbang.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi kajian dalam pemberian edukasi
dengan metode yang dapat meningkatkan tingkat pengetahuan dan
sikap masyarakat tentang pedoman umum gizi seimbang.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan
pengalaman peneliti mengenai besarnya pemahaman tentang 13
pesan pedoman umum gizi seimbang (PUGS).

15
b. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengaruh kepada
masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai pemahaman tentang
13 pesan pedoman umum gizi seimbang (PUGS), agar dapat
mengaplikasikan pesan ini dikehidupan dengan mengkonsumsi gizi
seimbang.

16
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Diskripsi Teori
A. Dewasa
1. Pengertian Dewasa
Masa dewasa adalah masa terpanjang setelah masa anak – anak
dan masa remaja. Masa ini adalah masa dimana seseorang harus
melepaskan ketergantungannya terhadap orang tuanya dan mulai
belajar mandiri karena telah mempunyai tugas dan peran yang
baru.
2. Pembagian Masa Dewasa
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
a. Masa Dewasa Awal (usia 21 – 40 tahun)
Masa dewasa awal adalah massa pencarian kemantapan dan
masa reprodukif yaitu suatu masa yang penuh dengan
masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial,
periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai
– nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang
baru.
b. Masa Dewasa Madya (usia 40 – 60 tahun)
Masa dewasa madya merupakan masa transisi, di mana pria
dan wanita meninggalkan ciri – ciri jasmani dan prilaku masa
dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan
dengan ciri – ciri jasmani dan prilaku yang baru.
c. Masa Dewasa Lanjut (dari usia 60 sampai akhir hayat)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup
seseorang. Masa ini dimulai dari umur 60 tahun sampai akhir
hayat, yang ditandi dengan adanya perubahan yang bersifat
fisik dan psikologis yang semakin menurun.

17
3. Ciri – Ciri Manusia Dewasa
Ciri – ciri masa dewasa dini :
a. Masa pengaturan : pada masa ini seseorang akan mencoba –
coba sebelum ia menentukan mana yang sesuai dan memeberi
kepuasan permanen.
b. Masa usia produktif : pada masa ini merupakan masa – masa
yang cocok untuk menentukanpasangan hidup karena pada
masa ini organ reproduksi sangat produktif dalam
menghasilkan keturunan (anak).
c. Masa bermasalah : karena pada masa ini sseorang harus
mengadakan penyesuaian dengan peran barunya (perkawinan
vs pekerjaan).
d. Masa ketegangan emosional : ketika seseorang berusia 20-an
kondisi emosionalnya tidak terkendali. Namun ketika telah
berusia 30-an seseorang akan cenderung stabil dan tenang
dalam emosi.
e. Masa keterasingan sosial : dimana pada masa ini seseorang
mengalami krisis isolasi, ia terisolasi atau tersingkirkan dari
kelompok sosial.
f. Masa komitmen : pada masa ini juga setiap individu mulai
sadar akan pentingnya sebuah komitmen.
g. Masa ketergantungan : pada awal masa dewasa dini sampai
akhir usia 20-an, seseorang masih punya ketergantungan pada
orang tua.
h. Masa perubahan nilai : nilai yang dimiliki seseorang pada
masa dewasa dini berubah karena pengalaman dan hubungan
sosialnya semakin meluas.
i. Masa penyesuaian diri dengan hidup baru : seseorang pada
masa ini sudah harus lebih bertanggung jawab karena pada
masa ini ia sudah mempunyai peran ganda

18
j. Masa kreatif : pada saat ini seseorang bebas untuk berbuat apa
yang diinginkan.
Menurut Dr. Horold Shyrock dari amerika serikat, ada lima
faktor yang dapat menunjukan kedewasaan yaitu : ciri fisik,
kemampuan mental, pertumbuhan sosial emosi, dan pertumbuhan
spiritual dan moral .

B. Obesitas
1. Pengertian Obesitas
Obesitas adalah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan
yang lebih dibandingkan berat badan idealnya yang disebabkan
terjadinya penumpukan lemak ditubuhnya. Setiap orang
memerlukan sejumlah lemak tubuh yang berfungsi sebagai energi,
penyekat panas, penyerap goncangan dan fungsi lainnya. Normal
lemak tubuh dengan barat badan adalah sekitar 25 – 30% pada
wanita dan 18 – 23% pada pria. Wanita dengan memiliki lemak
tubuh lebih dari 30% dan pria dengan memiliki lemak tubuh lebih
dari 23% dianggap obesitas (Proverawati, 2010, hal.71).
2. Penyebab
Ada beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi
terjadinya kegemukan (obesitas) antara lain: jenis kelamin, umur,
tingkat sosial ekonomi, faktor lingkungan, aktivitas fisik,
kebiasaan makan, faktor psikologis dan faktor genetik
(Manurung, 2009 dalam Rostania, 2013).
a. Jenis Kelami
Jenis kelamin merupakan faktor internal yang menentukan
kebutuhan gizi sehingga ada hubungan antara jenis kelamin
dengan status gizi (Kurniasih, dkk, 2010 dalam Rostania,
2013).

19
b. Umur
Meskipun dapat terjadi pada semua umur, obesitas sering
dianggap sebagai kelainan pada umur pertengahan. Anak-
anak yang mengalami obesitas cenderung menjadi orang
dewasa yang juga obesitas (Misnadiarly, 2007 dalam
Rostania, 2013).
c. Status Ekonomi
Peningkatan pendapatan masyarakat pada kelompok sosial
ekonomi tertentu, terutama di perkotaan, menyebabkan
adanya perubahan pola makan dan pola aktivitas yang
mendukung terjadinya peningkatan jumlah penderita
kegemukan dan obesitas (Almatsier, 2009 dalam Rostania,
2013).
d. Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan
Salah satu penyebab munculnya gangguan gizi dikarenakan
pengatahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan
informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari masih
kurang. Pengetahuan tentang kandungan zat gizi dalam
berbagai bahan makanan dan kegunaan makanan bagi
kesehatan keluarga dapat membantu ibu dalam memilih bahan
makanan yang harganya tidak begitu mahal akan tetapi nilai
gizinya tinggi (Moehji, 2002 dalam Rostania, 2013).
e. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik berkaitan erat dengan pengunaan energi pada
tubuh. Penggunaan energi dapat mencegah penimbunan lemak
karena energi yang dihasilkan langsung terpakai untuk
berkativitas. (WHO, 2000 dalam Rostania, 2013).
f. Pola Makan
Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan dan
pengeluaran energi. Kelebihan asupan ini bisa terjadi karena
frekuensi makan yang berlebih, jumlah makanan yang

20
berlebih ataupun jenis makanan yang dikonsumsi. Kebiasaan
makan adalah faktor penting yang mempengaruhi status gizi
dan kesehatan. Variasi makanan diperkirakan dapat
mengurangi risiko terhadap penyakit dan pada beberapa kasus
dapat mencegah penyakit. Kebiasaan makan mencerminkan
terjadinya kelebihan asupan dan penyakit akibat gizi
(Mandang, 2009 dalam Rostania, 2013).
g. Gangguan emosi
Seseorang yang sedang mengalami keadaan yang tidak
menyenangkan akan nampak lebih emosi baik sikap maupun
perilakunya. Jika keadaan tersebut berlangsung dalam waktu
reatif lama maka dapat menyebabkan suatu keadaan yang
disebut stres, bahkan depresi. Menurut para ahli, faktor
tersebut erat dengan rasa lapar dan nafsu makan (Juwaeriah,
2012 dalam Rostania, 2013).
h. Faktor genetik
Faktor genetik yang diturunkan oleh orang tua merupakan
salah satu penyebab obesitas. Akan tetapi bukan hanya
genetik tetapi pola hidup yang menjadi kebiasaan orangtua
bisa juga menjadi faktor resiko. (Utami, 2009 dalam Rostania,
2013).
3. Dampak Obesitas
Menurut Proverawati, 2010 obesitas meningkatkan resiko
terjadinya sejumlah penyakit menahun antara lain :
a. Diabetes tipe 2 (timbul pada masa remaja)
b. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
c. Stroke
d. Serangan jantung (infark miokardium)
e. Gagal jantung
f. Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan
kanker usus besar)

21
g. Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
h. Gout dan arthritis
i. Osreoastritis
j. Tidur apneu (kegagalan nafas secara normal ketika sedang
tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam
darah)
k. Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan,
underventilasi, dan ngantuk).
4. Diagnosis
Ada beberapa cara dilakukan dalam mendiagnosa obesitas, yaitu
dengan cara :
a. Jangka kulit, dimana ketebalan lipatan kulit di beberapa
bagian tubuh diukur dengan menggunakan jangka, yaitu
suatu alat yang terbuat dari logam yang menyerupai forceps.
b. Mengukur lingkar pinggang, dimana pinggang diukur dititik
yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang
terlebar. Sebagai patokan, pinggang yang berukuran ≥ 90 cm
merupakan tanda berbahaya bagi pria. Sedangkan pada
wanita resiko tersebut meningkat apabila lingkar pinggang ≥
80 cm. Umumnya lingkar pinggang yang berlebih sering
terjadi pada pria. Sedangkan pada wanita umumnya terjadi
penumpukan lemak pada bagian bah tubuh seperti pinggul,
pantat dan paha.
c. Status tubuh dinyatakan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)
atau Body Mass Index (BMI) dalam (kg/m2) yang didapatkan
dengan cara membagi BB dalam kg dengan TB dalam meter
dikuadratkan. IMT berkolerasi bermakna dengan lemak
tubuh, dan relatif tidak dipengaruhi oleh TB (Soegih &
Kunkun, 2009 dalam Rostania, 2013). Kategori IMT yang
digunakan, sebagai berikut:

22
Tabel 2.1. Klasifikasi Indeks Massa Tubuh
Keterangan Kategori Batas Ambang

Kekurangan BB tingkat berat < 17,0


Kurus
Kekuranga BB tingkat ringan 17,0 – 18,5

Normal > 18,5 – 22,9

Overweight ≥ 23,0 – 24,9

Gemuk Obesitas I > 25 – 29,9

Obesitas II ≥ 30

Sumber: Asia Pacific Journal of Clin Nutr, 2002


5. Pengobatan
Ada beberapa cara untuk mengurangi prevalensi obesitas
yaitu sebagai berikut :
a. Edukasi
Memberikan pengajaran kepada penderita obesitas bahwa
cara yang paling efektif untuk menurunkan berat badan
adalah dengan meningkatkan aktifitas fisik dan mengurangi
asupan energi.
b. Pencegahan
Meyakinkan bahwa seseorang sudah pada berat badan yang
cukup ideal.
c. Pengobatan
Memberikan motivasi kepada penderita obesitas untuk
membuat suatu rencana dalam rangka menurunkan asupan
energi dan meningkatkan aktifitas fisik. Pembatasan kalori
dan modifikasi diet seharusnya dilakukan sehingga mereka

23
dapat mencapai dan menjaga berat badan yang diidam –
idamkan.
Bagi sebagaian besar orang yang menderita overweight atau
obese, cara yang paling efektif dan aman untuk mengurangi berat
badan adalah dengan cara mengurangi makanan dan
meningkatkan olahraga. Adapun asupan kalori yang dibutuhkan
untuk diet :
a. Resiko kesehatan rendah
Pada wanita 1200 – 1500 kalori perhari disertai dengan
olahraga. Sedangkan pada pria 1400 – 2000 kalori perhari
disertai dengan olahraga.
b. Resiko kesehatan menengah
Pada wanita 800 – 1200 kalori perhari disertai dengan
olahraga. Sedangkan pada pria 1000 – 1400 kalori perhari
disertai dengan olahraga.
c. Resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi
Mendapatkan obat anti obesitas disertai diet rendah kalori
dan disertai olahraga.

C. Pedoman Umum Gizi Seimabang


Pedoman umum gizi seimbang (PUGS) menggambarkan
susunan makanan sehari – hari yang mengandung zat – zat dalam
jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan hidup dengan
memperhatikan 4 prinsip yaitu :
1. Variasi makanan
2. Pentingnya pola hidup bersih
3. Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga
4. Memantau berat badan ideal
Pedoman umum gizi seimbang (PUGS) berprinsif bahwa tiap
golongan usia, jenis kelamin, kesehatan dan aktivitas fisik
memerlukan (PUGS) yang berbeda, sesuai dengan kondisi masing –

24
masing kelompok tersebut. Disamping itu, PUGS juga menekankan
proporsi yang berbeda untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau
diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. PUGS juga tidak
memperlakukan susu sebagai makanan sempurna, melainkan
ditempatkan satu kelompok dengan sumber protein hewani lainnya.
Pedoman gizi seimbang yang perlu dipahami dan diaplikasikan
dalam pola konsumsi masyarakat diuraikan dalam 13 pesan dasar
gizi seimbang, seperti berikut :
1. Makanlah beranekaragam makanan.
Makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi
kesehatan karena dapat mencukupi kebutuhan gizi yaitu :
a. Terpenuhinya zat tenaga : Jenis sumber makanan zat tenaga
adalah beras, jagung, dan gandum.
b. Terpenuhinya zat pembangun : Jenis sumber makanan zat
pembangun adalah tempe, telur dan ikan.
c. Terpenuhinya zat pengatur : Jenis sumber makanan zat
pengatur adalah sayur dan buah.
Penerapan idealnya adalah jika setiap kali makan siang dan
makan malam, hidangan tersebut terdiri dari 4 kelompol
makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah). Dengan
makanan yang seimbang dan serat yang cukup (25 – 35
gram/hari) dapat mencegah atau memperkecil kemungkinan
terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, darah
tinggi, diabetes mellitus, dan sebagainya.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Energi didapatkan dari makanan khususnya kharbohidrat,
protein, dan lemak. Jumlah makanan yang dimakan harus cukup,
jika berlebihan akan menambah berat badan sehingga
meningkatkan resiko penyakit jantung, stroke dan lainnya.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan
energi

25
Makanan sumber karbohidrat ini harus dibatasi konsumsinya 50
– 60 % dari kebutuhan energi. Dengan demikian, kekurangan zat
gizi yang lain dapat dipenuhi dari sumber zat pembangun dan
pengatur. Apabila energi yang diperoleh dari makanan sumber
karbohidrat kompleks melebihi 60%, maka kebutuhan protein,
vitamin dan mineral sulit dipenuhi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari
kecukupan energi.
Lemak dan minyak yang terdapat dalam makanan berguna untuk
meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin A,
D, E dan K serta menambah kelezatan hidangan. Konsumsi
lemak dan minyak dalam makan sehari – hari sebaiknya 15 – 25
% dari kebutuhan energi. Tiap gram lemak menghasilkan 9
kalori, dengan karbohidrat dan protein hewani hanya 4 kalori.
5. Gunakan garam beryodium
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya
dengan KIO3 (kalium iodat) sebanyak 30 – 80 ppm atau 30mg
dalam 1kg garam. Di Indonesia semua garam harus mengandung
yodium karena masih tingginya kejadian gangguan kesehatan
akibat kekurangan yodium (GAKY).
Gaky merupakan masalah gizi yang serius, karena dapat
menyebabkan penyakit gondok dan kretin (kerdil). Kekurangan
unsur yodium dalam makanan sehari – haari, juga dapat
menurunkan tingkat kecerdasan seseorang.
Kelebihan konsumsi garam beryodium pun dapat memicu
timbulnya penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi), karena
terkandung natrium didalamnya. Tekanan darah tinggi meruakan
faktor resiko terjadinya stroke. Oleh karena itu, anjuran
konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram atau 2½ gram tiap 1000
kalori, atau satu sendok teh setiap hari.
6. Makanlah makanan sumber zat besi

26
Zat besi (Fe) merupakan salah satu pembentukan sel darah
merah (eritrosit) yang bertanggung jawab pada transport oksigen
dan karbondioksida. Kekurangan zat besi bisa menimbulkan
anemia gizi besi atau dikenal dengan penyakit kekurangan
darah.
7. Berikan ASI saja pada bayi 0 – 4 bulan dan tambahkan MP-ASI
sesudahnya.
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Konsumsi gizi dalam
ASI sangat lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan bayi untuk
tumbuh sehat. ASI harus diberikan kepada bayi segera setelah
dilahirkan (sekitar 30 menit setelah lahir) karena mengandung
kolosrum yang mengandung zat kekebalan dan vitamin A tinggi.
8. Biasakan makan pagi/sarapan
Kebiasaan makan pagi juga membantu seseorang untuk
memenuhi kecukupan gizinya sehari – hari. Kebiasaan
seseorang menghindari makan pagi dengan tujuan untuk
menurunkan berat badan merupakan kekeliruan yang dapat
mengganggu kondisi kesehatan misalnya berupa gangguan pada
saluran pencernaan seperti sakit maag.
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya
Fungsi air dalam tubuh adalah melancarkan transportasi zat gizi
dalam tubuh, mengatur keseimbangan cairan, dan garam mineral
dalam tubuh, mengatur suhu tubuh dan melancarkan dalam
proses buang air besar dan kecil. Mengkonsumsi air minum,
sekurang – kurngnya dua liter atau setara dengan delapan gelas
sehari.
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Kebugaran fisik akan mudah dicapai jika seseorang berolahraga
atau melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Ketidakseimbangan antara konsumsi makanan dan aktivitas fisik

27
dapat meengganggu kesehatan terutama berhubungan dengan
kelebihan berat badan.
11. Hindari minuman alkohol
Kebiasaan minum – minuman beralkohol dapat mengakibatkan :
a. Terhambatnya proses penyerapan zat gizi
b. Hilangnya zat – zat gizi yang penting, meskipun oran
tersebut mengkonsumsi makanan bergizi dalam jumlah
yang cukup.
c. Kurang gizi
d. Penyakit gangguan hati
e. Kerusakan saraf otak dan jaringan
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
Makanan yang aman adalah makanan yang bebas dari kuman
dan bahan kimia berbahaya. Tanda – tanda umum bagi maknan
yang tidak aman bagi kesehatan yaitu berlendir, berjamur,
aroma dan rasa atau warna makanan berubah.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas
Label pada umumnya berisi :
a. Nama makanan
b. Keterangan jenis produk
c. Kualitas
d. Pabrik yang memproduksi serta alamatnya
e. Komposisi produk
f. Informasi nilai gizi
g. Tanggal kadaluarsa
h. Petunjuk penyimpanan
i. Label halal

28
D. Pendidikan Kesehatan
1. Pengertian
Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan
kemampuan seseorang agar dapat memperbaiki mutu
keberadaannya agar semakin baik (Amien dalam Waryana
2016).
2. Metode
Menurut Notoatmodjo (2012), ada beberapa metode dalam
pendidikan kesehatan, salah satunya dalah metode ceramah.
Metode ceramah merupakan metode yang baik untuk sasaran
yang berpendidikan tinggi maupun rendah dan cocok digunakan
pada kelompok besar yang berjumlah lebih dari 15 orang.
3. Alat bantu
Alat bantu merupakan merupakan alat yang digunakan
petugas dalam menyampaikan materi (Notoatmodjo, 2012).
Macam-macam alat bantu atau media, diantara lain :
a. Alat bantu lihat (visual aids), alat yang berguna membantu
indra penglihatan dalam proses penerimaan informasi. Alat
bantu ada yang diproyeksikan seperti, slide, film, film strip
dan sebagainya. Alat bantu yang tidak diproyeksikan
seperti, dua dimensi yaitu gambar peta, bagan dan tiga
dimensi yaitu bola dunia dan boneka
b. Alat bantu dengar (audio aids), alat yang berguna
membantu indra pendengaran dalam proses penerimaan
informasi. Misalnya, piringan hitam, radio, pita suara dan
kepingan CD.
c. Alat bantu lihat-dengar (audio visua aidsl), sperti televisi,
video cassette dan DVD.
4. Media
Menurut Notoatmodjo (2012), media merupakan saluran
(channel) yang digunakan untuk menyampaikan informasi

29
kesehatan. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan,
media dibagi menjadi tiga, yakni:
a. Media cetak, terdiri dari booklet, leaflet, flyer (selebaran),
flif chart (lembar balik), rubrik, poster dan foto.
b. Media elektronik, terdiri dari televisi, radio, video, slide dan
film strip.
c. Media papan (Billboard) merupakan papan yang disapang
di tempat-tempat umum yang berisi infromasi kesehatan.

E. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil setelah seseorang melakukan
penginderaan pada suatu objek. Penginderaan manusia terdiri dari
indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan didapatkan dari proses melihat dan
mendengar (Notoatmodjo, dalam Titik 2015).Pengetahuan dalam
kamus besar Bahasa Indonesia (1999), diartikan segala sesuatu
yang di ketahui atau yang berkenaan dengan hal mata pelajaran.
Menurut Titik (2015) pengetahuan adalah prosese mengingat dan
mengenali kembali obyek yang telah dipelajari melalui panca
indra.
2. Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan dalam Titik (2015) adalah seberapa
dalam seseorang dapat menghadapi, memahami dan
menyelesaikan suatu masalah. Tingkat pengetahuan seseorang
terdiri dari, antara lain :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) sesutau
yang telah dipelajari sebelumnya. Kata kerja yang digunaka
untuk mengukur seseorang tahu seperti menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

30
b. Memahami (comprehesion)
Kemampuan menjelaskan obyek dan menginterprestasikan
materi yang diketahui.
c. Aplikasi (application)
Kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi dan kondisi nyata.
d. Analisis (analysis)
Kemampuan menjabarkan materi yang masih ada dalam
struktur tertentu dan masih saling berkaitan.
e. Sintesis (synthesis)
Kemampuan meletakkan atau menyusun bagian-bagian
kedalam bentuk yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Kemampuan untuk melakukan penilain terhadap suatu obyek.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan (Titik, 2015)
a. Tingkat pendidikan
Merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga
terjadi perubahan perilaku yang meningkat.
b. Informasi
Seseorang yang mendapat informasi banyak akan dapat
meningkatkan pengetahuannya.
c. Pengalaman
Sesutu yang pernah dilakukan seseorang akan meningktakan
pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal.
d. Budaya
Tingkah laku seseorang yang berkaitan dengan
kepercayaannya

31
4. Cara memperoleh pengetahuan (Titik, 2015)
a. Cara kuno memperoleh pengetahuan :
1) Cara coba salah (Trial and Error)
Cara yang digunakan dengan kemungkinan dalam
memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tidak
berhasil maka kemungkinan lain yang akan digunakan
sampai masalah dipecahkan.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan yang didapatkan dari pemimpin-
pemimpin masyarakat baik formal atau informal tanpa
menguji kebenarannya.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengetahuan yang diperoleh dengan cara mengulang
pengalaman yang pernah digunakan dalam memecahkan
permasalah dimasa lalu.
b. Cara modern memperoleh pengetahuan
Memperoleh pengetahuan dengan metode ilmiah atau
metodelogi penelitian. Cara ini dikembangkan oleh Francis
Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold
Van Daven.
5. Sumber pengetahuan
Upaya-upaya yang dipergunakan dalam memperoleh pengetahuan
antara lain :
a. Orang yang memiliki otoritas
Upaya dalam memperoleh pengetahuan dengan bertanya
kepada orang yang memiliki otoritas. Orang yang memiliki
otoritas misalnya dengan pengakuan melalui gelar.
b. Indra
Indra merupakan sumber internal pengetahuan. Pengalaman-
pengalaman konkrit kita terbentuk karena persepsi indra

32
penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan
pengecapan melalui lidah.
c. Akal
Pengetahuan dapat diketahui seseorang tanpa bisa terlebih
dahulu mempersepsikannya melalui indra tetapi terbentuk
karena potensi akal.
d. Intuisi
Pengetahuan yang diperoleh dari kesadaran tentang data-data
yang langsung dirasakan.
6. Kriteria tingkat pengetahuan
Menurut Arikunto dalam Budimana (2013) kriteria tingkat
pengetahuan yaitu :
a. Baik : hasil presentase 76% - 100%
b. Cukup : hasil presentase 56% - 75%
c. Kurang : hasil presntase > 56%

F. Sikap
1. Pengertian
Menurut Newcomb dalam Notoadmojo (2012), sikap itu
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan
suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi
tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi
tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka.
2. Komponen Sikap
Menurut Allport (1954) dalam Notoadmojo (2012)
menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok
yaitu:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu
objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

33
c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk
sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh
ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang
peranan yang penting.
3. Tingkatan Sikap
Menurut (Notoadmojo, 2012)Ada beberapa tingkatan dari sikap
yaitu:
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memperhatikastimulus yang diberikan (objek).
b. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
dari sikap. Sebab dengan seseorang mengerjakan suatu
pekerjaan terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah
berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala risiko merupakan merupakan sikap yang
paling tinggi
4. Susunan Sikap
Sikap terbentuk oleh berbagai 3 macam komponen (Donsu,
2017). Berikut merupakan susunan komponen tersebut:
a. Kognitif (konseptual)
Sikap terbentuk oleh komponen kognitif, olah kognitif yang
muncul adalah sikap percaya, stereotip, dan adanya persepsi.
Komponen kognitif sering juga disebut dengan komponen

34
perseptual yang berbicara tentang kepercayaan seseorang.
Misalnya bagaimana seseorang menilai orang berdasarkan
gejala-gejala dan informasi yang diperolehnya, untuk
membuat sebuah kesimpulan. Selain itu kognitif juga
tergantung dari pengetahuan mereka. Orang yang banyak
pengetahuan cenderung memiliki rasa empati terhadap sikap
dan perilaku orang lain dan lebih bisa menghargai keputusan
orang lain.
b. Emosional (afektif)
Komponen emosional berisi tentang perasaan yang
melibatkan emosi. Bisa perasaan bahagia, perasaan sedih, dan
perasaan terkejut. Komponen ini bersifat subjektif yang
artinya stimulus atau objek yang direspons dengan perasaan
yang belum tantu sama oleh individu yang berbeda.
melibatkan emosional.
c. Prilaku (psikomotor)
Komponen perilaku seringkali disebut dengan komponen
konatif. Komponen ini bersifat predisposisi. Predisposisi
merupakan kecenderungan seseorang terhadap stimulus /
objek yang dihadapi.
5. Penilaian sikap
Secara umum, sikap baik dan buruk seseorang dapat diukur lewat
dua cara yaitu:
a. Langsung
Pengukuran sikap langsung biasa kita lakukan dengan car
mengajukan pertanyaan. Adapun beberapa jenis pengukuran
sikap yang termasuk kepengukuran sikap secara langsung
yaitu dengan cara terstruktur dan tidak terstruktur.
1) Skala terstruktur
Skala terstruktur selain secara tertulis, juga bisa dengan
mengajukan pertanyaan tersusun begitu rapi. Adapun

35
beberapa nama alat tes pengukuran sikap yang disebut
skala berikut:
a) Skala bogardus
Skala untuk mengetahui sejauh mana sikap
seseorang berdasarkan jarak sosialnya seperti yang
dirasakan dalam interaksi sosial dengan sekeliling
kita, sering terjadi jarang soaial. Penyebabnya
bermacam-macam, bisa disebabkan karena faktor
usia, ras, agama dan masih banyak lagi.
b) Skala thurston
Skala yang digunakan untuk mengukur sikap
seseorang terhadap pengaruh like-dislike.
Penggunaan skala thurston menggunakan metode
equal-appearing intervals yang telah disusun
sedemikian rupa. Penyusunan dibuat semacam range
bawah ke atas, dari yang menyenangkan sampai
tidak menyenangkan.
2) Skala likert
Skala likert, barangkali sudah pernah mengerjakan dalam
psikotes. Skala ini dikemas dengan menampilkan lima
pilihan jawaban, pernyataan yang diajukan pun berupa
pernyataan. Tester biasanya disuruh memilih jawaban
yang sudah disediakan, bentuk pilihan jawaban pun sama
dengan jawaban sebulumnya yaitu setuju, ragu-ragu,
tidak setuju, dan sangat tidak setuju.
3) Penilaian sikap yang paling sederhana dan tanpa
persiapan yang ribet adalah menggunakan skala tidak
berstruktur. Penilaian ini dilakukan hanya melakukan
wawancara kepada partisipan, bukan berarti melakukan
wawancara semata tetapi, juga juga melakukan
pengamatan survei. Bentuk survei itu sendiri tidak selalu

36
dalam bentuk peninjauan langsung di rumah partisipan
tetapi, bisa melakukan survei di jejaring media sosial.
b. Tidak langsung
Mengukur sikap secra tidak langsung dapat menggunakan
skala semanti-diferensial. Dimana cara pengukuran sikap ini
lebih banyak digunakan saat menilai seseorang, pengagasan
skala ini adalah Charles E.Osgood.

G. Penelitian Terkait
Penelitian yang dilakukan oleh Ulfah Puspita Dewi (2013)
penelitian ini berjudul “Hubungan Antara Densitas Energi Dan
Kualitas Diet Dengan Indeks Massa Tubuh (Imt) Pada Remaja”.
Metode penelitian yang digunakan observasional dengan pendekatan
cross sectional, bertempat di SMA N 9 Semarang dengan jumlah
sampel 71 remaja usia 16-18 tahun yang dipilih dengan simple
random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi identitas sampel,
Indeks Massa Tubuh (IMT), densitas energi, kualitas diet, dan
aktisfitas fisik. IMT diperoleh dari perhitungan Z-score berdasarkan
BMI/U, densitas energi menggunakan recall 3x24 jam, kualitas diet
menggunakan formulir DQI-I (Diet Quality indexs International), dan
aktifitas fisik menggunakan kuisioner IPAQ (International Physical
Activity Questionnaire). Data dianalisis dengan uji rank spearman.
Hasil dari penelitian ini adalah konsumsi makanan berdensitas energi
tinggi lebih banyak pada perempuan (32,4%) dibandingkan laki-laki
(5,9%). Kualitas diet pada laki-laki 8,8% tergolong tinggi sedangkan
pada perempuan 100% tergolong rendah. Gizi lebih (obesitas dan
overweight) pada remaja sebesar 35,2% dan secara umum lebih tinggi
pada perempuan 37,8% dibandingkan laki-laki 32,3%. Ada hubungan
signifikan antara kualitas diet dengan densitas energi (r = -0,502;
p=0,000). Ada hubungan signifikan antara densitas energi dengan
IMT (r = 0,569; p=0,000). Namun, tidak terdapat hubungan antara

37
aktifitas fisik dengan IMT (r = -0,194; p=0,106). Kesimpulan dari
penelitian ini remaja yang mengkonsumsi lebih banyak makanan
berdensitas energi rendah (buah dan sayur) kualitas dietnya lebih baik
dan IMT nya lebih rendah daripada remaja yang mengkonsumsi
makanan berdensitas energi tinggi (sumber lemak). Kualitas diet
rendah berhubungan dengan tingginya konsumsi makanan
berdensitas energi tinggi yang dapat berdampak pada peningkatan
IMT.
Penelitian yang dilakukan oleh Marisa Rostania (2013) dengan
judul ” Pengaruh Edukasi Gizi Terhadap Perubahan Pengetahuan Dan
Gaya Hidup Sedentary Pada Anak Gizi Lebih Di Sdn Sudirman I
Makassar”. Jenis penelitian yang digunakan adalah pra
eksperimental. Jumlah sampel yaitu 55 responden. Analisis data
dilakukan dengan menggunakan analisis Univariat dan Bivariat. Hasil
penelitian ini menunjukkan, ada pengaruh signifikan antara edukasi
gizi dengan perubahan pengetahuan anak gizi lebih di Sekolah Dasar
Sudirman I Makassar Tahun 2013 dengan nilai p 0,000 (p<0,05). Dan
Tidak ada hubungan yang bermakna antara edukasi yang diberikan
dengan perubahan gaya hidup sedentary pada anak gizi lebih di
Sekolah Dasar Sudirman I Makassar Tahun 2013 dengan nilai p
0,108 (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian adalah ada pengaruh
edukasi terhadap pengetahuan dan edukasi tidak berpengaruh
terhadap gaya hidup sedentary. Disarankan kepada peneliti
selanjutnya untuk melakukan penelitian yang lebih spesifik mengenai
gaya hidup sedentar.
Penelitian yang dilakukan oleh Garnis Retnaningrum (2015)
dengan judul “Kualitas Diet Dan Aktivitas Fisik Pada Remaja
Obesitas Dan Non Obesitas”. Metode penelitian yang digunakan
observasional dengan pendekatan case control melibatkan 112 subjek
di SMP Nasima, SMP Al Azhar 14, dan 23 Semarang. Subjek terdiri
dari 56 remaja obesitas dan 56 remaja non obesitas usia 13-15 tahun

38
yang dipilih melalui proportional random sampling dan dilakukan
matching terhadap jenis kelamin dan asal sekolah. Data yang
dikumpulkan meliputi identitas sampel, persen lemak tubuh, kualitas
diet, dan aktivitas fisik. Persen lemak tubuh diukur menggunakan
Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), kualitas diet diperoleh
melalui formulir Diet Quality Index- International (DQI-I), dan
aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity
Questionnaire-short form (IPAQ-short form). Uji chi square untuk
menganalisis hubungan kualitas diet dan aktivitas fisik terhadap
status obesitas. Uji regresi logistik untuk menganalisis variabel yang
paling berpengaruh terhadap status obesitas. Hasil dari penelitian ini
adalah sebagian besar remaja obesitas (96.4%) dan non obesitas
(64.3%) memiliki kualitas diet rendah. Kualitas diet rendah pada
remaja non obesitas digambarkan dengan rendahnya asupan serat dan
mikronutrien, tingginya asupan lemak jenuh dan adanya
ketidakseimbangan proporsi makronutrien dan asam lemak,
sementara pada remaja obesitas ditambah dengan tingginya asupan
energi, karbohidrat, lemak, kolestrol, dan makanan rendah zat gizi.
Sebanyak 73.2% remaja obesitas juga memiliki aktivitas fisik yang
rendah, sementara remaja non obesitas yang memiliki aktivitas fisik
rendah hanya 23.2%. Remaja dengan kualitas diet rendah dan
aktivitas fisik rendah masingmasing memiliki risiko 10.4 dan 7.2 kali
lebih besar untuk mengalami obesitas. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah kualitas diet yang rendah dan aktivitas fisik yang rendah
berpengaruh terhadap status obesitas pada remaja.
Penelitian yang dilakukan oleh Hafidhotun Nabawiyah dan M.
Sulcha (2015) dengan judul “Pengaruh Konseling Modifikasi Gaya
Hidup Terhadap Densitas Energi Makanan, Lingkar Pinggang, Dan
Kadar Interleukin-18 (Il-18) Pada Remaja Obesitas Dengan Sindrom
Metabolik”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini randomized
pret – post test control group design di SMA Negeri 2 Semarang. 27

39
subjek remaja usia 16 -18 tahun, 16 subjek konseling tidak intensif
dan 11 subjek konseling intensif. Subjek diberikan konseling serta
pendampingan dan booklet. Data yang diambil berupa FFQ,
IPAQ,lingkar pinggang dengan metline, IL-18 menggunakan ELISA.
Uji statistik menggunakan Wilcoxon , paired t test, Mann whitney,
independent t test. Hasil dari penelitian ini adalah konseling
modifikasi gaya hidup berpengaruh terhadap kualitas diet (p=0.002),
aktifitas fisik (p=0.001), IL- 18 (p=0.000), dan tidak berpengaruh
terhadap densitas energi makanan dan lingkar pinggang. Rerata
kualitas diet kelompok konseling intensif 7.18 (0.02) lebih bermakna
dibanding kelompok konseling tidak intensif 7.31 (p=0.04). Aktifitas
fisik konseling tidak intensif 2335.81 (p=0.00) lebih bermakna
dibanding konseling intensif 1806 (p=0.18). Rerata densitas energi
makanan konseling intensif 1.83 (p=0.21). Rerata lingkar pinggang
konseling intensif 98.22 (p=0.30). Kadar IL -18 kelompok konseling
intensif 359.18(p=0.00) lebih bermakna dibandingkan konseling tidak
intensif. Kesimpulan dari penelitian ini ada pengaruh konseling
modifikasi gaya hidup terhadap aktifitas fisik, kualitas diet, dan IL-18
serta tidak ada pengaruh terhadap densitas energi makan dan lingkar
pinggang. Kelompok konseling intensif terbukti meningkatkan
kualitas diet dan menurunkan IL-18, serta tidak terbukti pada aktifitas
fisik, densitas energi makanan, dan lingkar pinggang. Kelompok
konseling tidak intensif berpengaruh terhadap kualitas diet, aktifitas
fisik, IL-18, tetapi tidak berpengaruh terhadap densitas energi
makanan dan lingkar pinggang

40
BAB III

KERANGKA KONSEP, ALUR PENELITIAN, HIPOTESIS DAN


VARIABEL PENELITIAN

A. Kerangka Konsep
kerangka konsep adalah menggambarkan hubungan – hubungan
antara variabel – variabel dan konsep – konsep yang diteliti (Swarjana,
2015).
Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat dilihat dari bagan
kerangka konsep sebagai berikut :

Komponen
Bentuk Media Pennyuluhan
Pengetahuan
1. Alat bantu
1. Tahu a. Alat bantu lihat dan dengar
2. Memahami (audio visual)
b. Alat bantu lihat (slide)
3. Menerapkan
c. Alat bantu dengar (pita suara)
4. Analisis
5. Sintesa
2. Media
6. Evaluasi
a. Media cetak (leaflet)
Komponen b. Media elektronik (film strip)
Sikap c. Media papan (billboard)

1. Kognitif
2. Afektif

3. Psikomotor
(Prilaku)

Setelah Diberikan Edukasi dengan Metode Audio Visual


dan Ceramah Terhadap Tingkat Pengetahuan serta Sikap
pada Orang Dewasa Obesitas tentang Pedoman Umum
Gizi Seimbang.

41
Gambar 3.1 : Pengaruh pemberian edukasi dengan metode audio visual
dan ceramah terhadap tingkat pengetahuan serta sikap
orang dewasa obesitas tentang pedoman umum gizi
seimbang.

Keterangan :

: Variabel yang di teliti


: Variabel yang tidak di teliti
: Alur pikir
Penjelasan kerangka konsep :

Dari kerangka konsep diatas dijelaskan bahwa peneliti akan meneliti


pengetahuan orang dewasa obesitas meliputi tahu dan memahami
sedangkan untuk sikap meliputi kogniif dan emosional tentang pedoman
umum gizi seimbang. Sebelum diberikan intervensi responden akan
diberikan pre test berupa kuesioner yang berisi pertanyaan – pertanyaan
terkait tentang pedoman umum gizi seimbang. Setelah diberikan pretest
responden akan diberikan intervensi berupa edukasi tentang pedoman
umum gizi seimbang dengan metode audio visual dan ceramah. Metode
audio visual dan ceramah ini akan menggunakan alat bantu dan media.
Alat bantu yang digunakan berupa alat bantu lihat (slide), alat bantu
dengar (pita suara), dan alat bantu lihat-dengar (video). Setelah diberikan
intervensi, responden akan diberikan posttest untuk menganalisa tingkat
pengetahuan dan sikap responden setelah diberikan intervensi.

B. Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu jawaban sementara atas pernyataan
penelitian yang telah dirumuskan dalam hasil perencanaan penelitian.
Untuk mengarahkan dalam hasil penelitian ini maka dalam perencanaan
penelitian perlu dirumuskan jawaban sementara dari penelitian
(Notoadmojo, 2012).

42
1. Ho adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya pengaruh antara
variabel independen dan variabel dependen yang diteliti.
2. Ha adalah hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh antara variabel
independen dan variabel dependen yang diteliti.
Hipotesis dalam penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
Ha : Adanya pengaruh pemberian edukasi dengan metode audio visual
dan ceramah terhadap tingkat pengetahuan serta sikap orang dewasa
obesitas tentang pedoman umum gizi seimbang.
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah salah satu bagian penting dalam
sebuah penelitian. Variabel adalah sebuah konsep yang
dioprasionalkan (Swarjana, 2015). Variabel dapat dibagi menjadi dua
yaitu :
a. Variabel Independen
Variabel yang menyebabkan adanya suatu perubahan
terhadap variabel lain (Swarjana, 2015). Variabel independen
dalam penelitian ini adalah pengaruh pemberian edukasi tentang
pedoman umum gizi seimbang.
b. Variabel dependen
Variabel yang dikenal sebagai variabel terikat, variabel
dependen yang mengalami perubahan sebagai efek dari variabel
dependen (Swarjana, 2015). Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah pengetahuan dan sikap orang dewasa obesitas.
2. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel penelitian adalah definisi yang
diberikan pada variabel penelitian yang didasarkan pada konsep teori
dan bersifat operasional agar dapat dilakukan pengukuran pada
variabel tersebut (Swarjana, 2015).

43
Tabel 3.1 Pengaruh Pemberian Edukasi dengan Metode Audio Visual
terhadap Tingkat Pengetahuan serta Sikap Orang Dewasa
Obesitas tentang pedoman umum gizi seimbang.
No Variabel Definisi Hasil
Alat ukur Skala
penelitian operasional Pengukuran
1. Tingkat Pengetahuan Cara ukur Semakin tinggi Interval
pengetahuan orang dewasa menggunakan skor yang
tentang obesitas yang kuesioner diperoleh
pedoman mencakup dengan skala setelah
umum gizi tahu dan Guttman diberikan
seimbang memahami yang berisi intervensi
sebelum dan tentang 10 maka tingkat
sesudah pedoman pernyataan pengetahuan
diberikan umum gizi dimana orang dewasa
intervensi. seimbang jawaban yang obesitas
untuk dapat benar akan semakin tinggi
mengatur diberi skor 1, dengan kriteria
pola makan jawaban yang
Baik : 7 – 10
sebelum dan salah akan
sesudah diberi skor 0, Cukup : 4 – 6
diberikan alat ukur Kurang : 1 – 3
intervensi yang
berdasarkan digunakan
jawaban berupa
kuesioner. kuesioner.

2. Sikap orang Sikap orang Cara ukur Rentang skor Interval


dewasa dewasa menggunakan 10 – 40
obesitas obesitas yang kuesioner a. Semakin
tentang mencakup dengan skala rendah skor

44
pedoman kognitif dan Likert yang maka
umum gizi emosional berisi 10 semakin
seimbang tentang pertanyaan rendah
sebelum dan pedoman dimana sikap pada
sesudah umum gizi jawaban orang
diberikan seimbang sangat setuju dewasa
intervensi. untuk dapat diberi skor 4, obesitas
mengatur setuju diberi skor 1 – 13
pola makan skor 3, tidak b. Sikap
sebelum dan setuju diberi dikatakan
sesudah skor 2, dan sedang
diberikan sangat tidak (netral) jika
intervensi setuju diberi skor 14 –
berdasarkan skor 1. Alat 26
jawaban ukur yang c. Semakin
kuesioner. digunakan tinggi skor
berupa maka
lembar semakin
kuesioner. tinggi sikap
pada orang
dewasa
obesitas
skor 27 –
40.

45
BAB IV

METODE PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan mengenai desain penelitian, waktu, tempat


penelitian, populasi, sampel, alat dan teknik pengumpulan data, data teknik
analisa dan serta etika penelitian.

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini merupakan kerangka kerja untuk
mengumpuklan analisa data dalam mencapai tujuan penelitan yang telah
ditetapkan dan berperan sebagai penuntun dalam proses penelitian
(Swarjana, 2015). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penelitian eksperiman. Penelitian dengan pendekatan eksperimen
adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh perlakuan tertentu
terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali (Sugiyono, 2012 dalam
Makara, 2018). Desain penelitian yang digunakan, adalah one group
pretest-posttest design, yaitu desain penelitian yang kepada subjek diberikan
pretest sebelum intervensi dan posttest setelah diberikan intervensi.
Sehingga hasil yang diketahui dapat lebih akurat, karena dapat
membandingkan hasil test sebelum dan sesudah diberikan intervensi
(Sugiyono, 2007 dalam Makara, 2018). Adapun rancangan tersebut dapat di
gambarkan sebagai berikut :
Tabel 4.1
Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest Design
Pre Test Treatment Post Test

O1 X O2

Keterangan :
Adapun design pra experimental one group pretest-posttest sebagai
berikut :

46
1. O1 : Pemberian pretest bermaksud yaitu untuk mengetahui tingkat
pengetahuan dan sikap orang dewasa yang mengalami
obesitas sebelum diberikan edukasi dengan metode audio
visual dan ceramah tentang pedoman umum gizi seimbang.
2. X : Memberikan intervensi agar orang dewasa yang mengalami
obesitas tau tentang pedoman umum gizi seimbang.
Pemberian intervensi dengan metode Audio Visual dan
Ceramah.
3. O2 : Pemberian postest bermaksud yaitu untuk mengetahui
perubahan tingkat pengetahuan dan sikap orang dewasa yang
mengalami obesitas sesudah diberikan edukasi dengan
metode audio visual dan ceramah tentang pedoman umum
gizi seimbang.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian merupakan tempat dimana penelitian itu
dilakukan serta masalah yang diteliti masih terjadi pada tempat dimana
penelitian tersebut dilakukan (Swarjana, 2012). Pengambilan data akan
dilakukan di Desa Mengwitani karena dari hasil study pendahuluan di
Puskesmas Mengwi I prevalensi tertinggi terjadinya obesitas di Desa
Mengwitani.
2. Waktu Penelitian
Waktu dalam penelitian merupakan kapan sebaiknya penelitian
tersebut akan dilakukan yang artinya ketika penelitian tersebut
dilakukan atau saat data dikumpulkan masalah tersebut memang masih
terjadi (Swarjana, 2012). Pengumpulan data akan dilaksanakan pada
bulan Februari 2019. Secara keseluruhan proses penelitian terlampir
pada POA.

47
C. Penentuan Sumber Data
1. Populasi
Populasi adalah kumpulan dari individu atau objek atau fenomena
yang secara potensial dapat diukur sebagai bagian dari penelitian
(Mazhindu & Scott, 2005 dalam Swarjana, 2012). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh orang dewasa yang terdata obesitas di
Desa Mengwitani. Jumlah populasi dalam penelitian ini 57 orang.
2. Sampel
Sampel adalah kumpulan individu – individu atau objek – objek
yang dapat diukur mewakili populasi (Swarjana, 2015). Teknik
sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu keseluruhan
populasi digunakan mejadi sampel.
Kriteria populsi meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi
untuk menentukan dapat atau tidaknya sampel tersebut dipergunakan.
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek
penelitian mewakili syarat sebagai sampel, jadi kriteria inklusi
yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu :
1) Orang dewasa yang bersedia menjadi responden dan
menjawab pertanyaan diberikan oleh peneliti.
2) Seseorang yang berumur ≥18 tahun.
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan kriteria yang subjek
penelitiannya tidak dapat mewakili sampel karena tidak dapat
memenuhi syarat sebagai sampel peneilitian, jadi kriteria Eksklusi
yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu:
1) Orang dewasa obesitas yang tidak ada di tempat saat
melakukan pengumpulan data.
3. Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total
sampling yaitu keseluruhan populasi digunakan mejadi sampel. Total

48
sampling yaitu teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel
sama dengan populasi (Sugiyono, 2011).

D. Pengumpulan Data
1. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini akan menggunakan instrumen pengumpulan data yaitu
kuesioner tingkat pengetahuan tentang pedoman umum gizi
seimbang dan kuesioner sikap tentang pedoman umum gizi
seimbang yang akan dijawab oleh responden secara subyektif dan
sukarela tanpa paksaan.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat yang akan digunakan pada pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner merupakan form yang
berisikan pertanyaan – pertanyaan yang telah ditentukan dan bisa
digunakan untuk mengumpulkan informasi (Data) tentang orang –
orang sebagai bagian dari sebuah survey (Swarjana, 2015). Jenis alat
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
Kuesioner yang digunakan berupa kuesioner yang berisikan
pertanyaan – pertanyaan tertutup (Closed ended question), isi dari
pertanyaan yang akan diberikan harus sesuai dengan apa yang akan
diukur atau pertanyaan yang diberikan merupakan bagian dimensi
yang dikaji (Swarjana, 2015).
Alat pengumpulan data yang akan digunakan dalam penlitian ini
adalah kuesioner. Kuesioner tingkat pengetahuan yang digunakan
adalah tentang pedoman umum gizi seimbang yang berisikan
pertanyaan – pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan dan
kuesioner sikap yang digunakan adalah tentang pedoman umum gizi
seimbang untuk mengetahui sikap responden terhadap pedoman
umum gizi seimbang. Kuesioner berfungsi untuk mengetahui tingkat
pengetahuan dan sikap responden tentang pedoman umum gizi
seimbang.

49
a. Kuesioner Tingkat Pengetahuan
Kuesioner tingkat pegetahuan berpatokan pada indikator tahu
dan memahami tentang pedoman umum gizi seimbang yang
dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan teori.
Selanjutnya akan dilakukan uji reabilitas menggunakan uji face
validity dengan melibatakan 2 orang dosen yang expert.
Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan positif. Pertanyaan terdiri
dari dua (2) domain pengetahuan yaitu tahu dan memahami. Dari
10 pertanyaan yang disediakan oleh peneliti lima (5) pertanyaan
merupakan domain dari kognitif tahu, dan lima (5) pertanyaan
merupakan domain dari kognitif memahami. Pertanyaan tahu
terdiri dari definisi dan manifestasi klinis. Pertanyaan memahami
terdiri dari faktor – faktor dan komplikasi dari pedoman umum
gizi seimbang. Parameter pertanyaan menggunakan skala
Guttman, dengan pilihan jawaban benar dan salah. Setiap item
pertanyaan jika benar dibernilai 1, dan jika salah diberi nilai 0.
Nilai tertinggi bernilai 1 dan nilai terendah bernilai 0. Cara
responden menjawab pertanyaan yang ada pada kuesioner
dengan mencentang pada kolom benar atau salah. Setelah
responden menjawab kuesioner yang diberikan hasil dari
kuesioner pengetahuan orang dewasa obesitas berupa
pengetahuan baik apabila jawaban benar 7 – 10, pengetahuan
cukup apabila jawaban benar 4 – 6, pengetahuan kurang 1 – 3.
b. Kuesioner Sikap
Kuesioner sikap berpatokan pada indikator kognitif dan afektif
tentang pedoman umum gizi seimbang yang dibuat sendiri oleh
peneliti berdasarkan tinjauan teori. Selanjutnya akan dilakukan
uji reabilitas menggunakan uji face validity dengan melibatakan
2 orang dosen yang expert. Kuesioner ini terdiri dari 10
pertanyaan positif. Pertanyaan terdiri dari dua (2) domain sikap
yaitu kognitif dan afektif. Dari 10 pertanyaan yang disediakan

50
oleh peneliti lima (5) pertanyaan merupakan domain dari kognitif
(Kepercayaan mengenai sesuatu yang berlaku bagi objek sikap)
dan lima (5) pertanyaan merupakan domain dari afektif
(Perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu). Parameter pertanyaan
menggunakan skala Likert, dengan pilihan jawaban sangat setuju
(SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS).
Setiap item pertanyaan positif jika sangat setuju (SS) skor 4,
setuju (S) skor 3, tidak setuju (TS) skor 2 dan sangat tidak setuju
(STS) skor 1 dan setiap item pertanyaan negaif jika sangat setuju
(SS) skor 1, setuju (S) skor 2, tidak setuju (TS) skor 3 dan sangat
tidak setuju (STS) skor 4. Nilai tertinggi bernilai 40 dan nilai
terendah bernilai 1. Cara responden menjawab pertanyaan yang
ada pada kuesioner dengan mencentang pada kolom sangat
setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju
(STS). Setelah responden menjawab kuesioner yang diberikan,
hasil dari kuesioner sikap orang dewasa obesitas terhadap pola
makan PUGS berupa sikap rendah apabila jawaban benar 1 - 13,
sikap sedang apabila jawaban benar 14 – 26, sikap tinggi apabila
jawaban benar 27 – 40.
Tabel 4.2 : Kisi – kisi Pertanyaan Kuesioner Tingkat
Pengetahuan dan Sikap Tentang Pedoman Umum Gizi Seimbang

Variabel Indikator No. Soal Jumlah

Tingkat Tahu : Pengertian dan


Manifestasi Klinis 1, 2, 3, 4,
Pengetahuan 5
Pedoman Umum Gizi 5
Tentang Seimbang
Pedoman Memahami :
6, 7, 8, 9,
Umum Gizi Faktor – faktor dan 5
Komplikasi Pedoman 10
Seimbang
Umum Gizi Seimbang
Sikap Kognitif (Kepercayaan 11, 12, 13,
5
mengenai sesuatu yang
Tentang 14, 15
berlaku bagi objek sikap)

51
Pedoman
Afektif (Perasaan yang 16, 17, 18,
Umum Gizi 5
dimiliki terhadap
19, 20
Seimbang sesuatu)

Jumlah Soal 20

3. Teknik Pengumpulan Data


a. Tahap Persiapan
1) Menentukan topik dan konsep penelitian
2) Peneliti membuat surat studi pendahuluan dan permohonan
data ke UPT Puskesmas Ubud II dengan nomor surat :
DL.02.02.2192.TU.XI.18
3) Peneliti melakukan penyusunan proposal penelitian yang
telah disetujui oleh kedua pembimbing
4) Mengurus surat ijin penelitian
Surat ijin penelitian untuk memohon ijin dilakukannya
penelitian. Peneliti mengajukan ijin berupa surat yang
ditandatangani oleh Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Bali (STIKES Bali) yang ditunjukan kepada Kasi Kesehatan
Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Badung..
5) Mempersiapkan lembar persetujuan menjadi responden
(Informed consent).
6) Mempersiapkan lembar kuesioner sesuai dengan jumlah
responden.
7) Mempersiapkan alat-alat dalam penelitian ini yaitu berupa
lembar kuesioner, lembar informed consent, video, LCD
dan laptop.
b. Tahap Pelaksanaan
Setelah ijin penelitian diperoleh dilanjutkan ketahap
pelaksanaan, yaitu :
1) Penelitian akan dilakukan pada bulan februari 2019.

52
2) Sebelum melakukan penelitian peneliti harus mendapatkan
izin dari kepala Puskesmas Mengwi I dan kemudian
meminta izin dari kepala Desa Mengwitani.
3) Peneliti akan melakukan seleksi kepada semua orang
dewasa obesitas yang terdata di Puskesmas Mengwi I sesuai
dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah
ditetapkan.
4) Peneliti akan menjelaskan tujuan dari penelitian ini kepada
calon responden dengan memberikan beberapa informasi.
5) Setelah calon responden mengerti dan siap menjadi
responden, peneliti akan memberikan lembaran persetujuan
menjadi responden.
6) Bila orang dewasa obesitas bersedia menjadi responden,
calon responden akan menandatangani informed consent
sebagai bukti persetujuan.
7) Kemudian peneliti akan menjelaskan prosedur yang akan
dilakukan. Pertama peneliti akan menjelaskan bagaimana
langkah-langkah menjawab kuesioner sebelum diberikan
intervensi.
8) Kemudian peneliti akan memberikan lembar kuesioner
pretest.
9) Setelah rensponden selesai menjawab kuesioner, peneliti
akan mengumpulkan kembali kuesioner pretest.
10) Kemudian responden mendengarkan informasi yang
diberikan penyaji yang exspert dibidang gizi dengan metode
ceramah selama 20 menit.
11) Peneliti akan menayangkan video berduasi 2 menit 31 detik
yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
12) Peneliti akan memberikan kesempatan kepada responden
untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi
yang telah disampaikan.

53
13) Peneliti akan mengajukan kuesioner posttest kepada
responden sebagai evaluasi
14) Setelah semua pengumpulan data dilakukan peneliti akan
mengucapkan terimakasih kepada responden yang telah ikut
berpartisipasi.
15) Pada tahap terakhir pelaksanaan peneliti akan memeriksa
kembali kelengkapan data yang telah diperoleh saat
dilakukan penelitian. Setelah jumlah sampel telah
terpenuhi, kemudian akan dilakukan pengolahan data dan
analisa data.

E. Rencana Analisa Data


1. Teknik pengolahan data
Setelah data terkumpul, kemudian data akan akan dianalisa
menggunakan tehnik pengolahan data sebagai berikut :
a. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh. Peneliti akan melakukan pemeriksaan anatara
lain kesesuaian jawaban dan kelengkapan lembar kuesioner
yang telah diisi oleh responden.
b. Coding
Coding merupakan pemberian kode numerik (angka) terhadap
data untuk memudahkan proses pengolahan data. Pada
penelitian ini akan mengklasifikasikan kode pada karakteristik
responde berdasarkan :
1) Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dibagi
menjadi 2, yaitu : laki-laki (1) dan perempuan (2).
2) Karakteristik responden berdasarkan agama dibagi menjadi
6, yaitu : Islam (1), Kristen Protestan (2), Kristen Katolik
(3), Budha (4), Hindu (5), dan Lainnya, Sebutkan (6).

54
3) Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan
dibagi menjadi 5, yaitu : SD (1), SMP (2), SMA/SMK (3),
D3 (4), S1 (5)
4) Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dibagi
menjadi 6, yaitu : Tidak bekerja (1), TNI/Polri (2), PNS (3),
Pegawai swasta (4), Wiraswasta (6), dan Lainnya, Sebutkan
(6).
c. Processing/entry
Processing/entry adalah kegiatan memasukan data-data yang
sudah lengkap ke dalam database komputer, kemudian membuat
distribusi frekuensi sederhana. Dalam tahap ini dalam
memasukan data-data dibantu oleh program SPSS version
20.0for Windows.
d. Tabulating
Tabulating adalah pembuatan tabel sesuai dengan tujuan
penelitian, kemudian data dientri dan diperiksa kembali.
e. Cleaning
Cleaning atau pembersihan data merupakan kegiatan
pengecekan kembali data yang dimasukkan, apa ada data yang
didak tepat masuk ke dalam komputer. Peneliti juga melihat
pengkodean yang dimasukkan sudah benar.
2. Analisa data
Dalam penelitian ini data dianalisa menggunakan analisa
kuantitatif. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat dan
analisa bivariat kemudian dianalisi menggunakan Statistical
Program For Social Sience (SPSS) for windows.
a. Analisa Univariat
Analisa univariat adalah data yang terkit dengan pengukuran
satu variabel pada waktu trtentu (Swarjana, 2016). Variabel
penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan sikap orang
dewasa obesitas tentang pedoman umum gizi seimbang.

55
1) Analisa data tingkat pengetahuan orang dewasa obesitas
tentang pedoman umum gizi seimbang. Tingkat
pengetahuan orang dewasa tentang pedoman umum gizi
seimbang dianalisa dengan menentukan rentang skor dari
skor terendah dan skor tertinggi (poin 0-1), kemudian
masing – masing skor dikalikan dengan jumlah pertanyaan
pada kuesioner. Rentang skor pada kuesioner tingkat
pengetahuan orang dewasa obesitas terhadap pola makan
PUGS yaitu 1 – 10. Semakin tinggi skor yang diperoleh
orang dewasa obesitas maka tingkat pengetahuan orang
dewasa obesitas semakin baik. Pada penelitian ini variabel
tingkat pengetahuan disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi. Di dalam tabel distribusi frekuensi dapat diinsert
nilai median, nilai mean standar deviasi, nilai maksimum
dan nilai minimum. Dimana jika data berdistribusi normal
maka nilai dicantumkan nilai mean dan standar deviasi.
Tetapi, jika data tidak berdistribusi normal maka nilai yang
dicantumkan nilai median, nilai maksimum dan nilai
minimum.
2) Analisa data sikap orang dewasa obesitas tentang pedoman
umum gizi seimbang. Sikap orang dewasa tentang pedoman
umum gizi seimbang dianalisa dengan menentukan rentang
skor dari skor terendah dan skor tertinggi (poin 1-4),
kemudian masing – masing skor dikalikan dengan jumlah
pertanyaan pada kuesioner. Rentang skor pada kuesioner
sikap orang dewasa obesitas tentang pedoman umum gizi
seimbang yaitu 1 – 40. Semakin tinggi skor yang diperoleh
orang dewasa obesitas maka semakin tinggi sikap orang
dewasa obesitas semakin baik. Pada penelitian ini variabel
sikap disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Di
dalam tabel distribusi frekuensi dapat diinsert nilai median,

56
nilai mean standar deviasi, nilai maksimum dan nilai
minimum. Dimana jika data berdistribusi normal maka nilai
dicantumkan nilai mean dan standar deviasi. Tetapi, jika
data tidak berdistribusi normal maka nilai yang
dicantumkan nilai median, nilai maksimum dan nilai
minimum.
b. Analisa Bivariat
Analisa bivariat adalah data yang terkait dengan pengukuran dua
variabel pada waktu tertentu (Swarjana, 2016). Pada penelitian
ini sebelum data diolah akan dilakukan uji normalitas data untuk
mengetahui data berdistribusi normal atau tidak normal. Jika
data berdistribusi normal akan digunakan uji statistik dependent
t-test dan jika data berdistribusi tidak normal akan digunakan uji
non parametric test yaitu Wilcoxon. Apabila nilai signifikan
yang didapat <(𝛼) (0,05), maka Ha diterima yang menunjukkan
bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap intervensi pada
saat pretest dan posttest. Sedangkan apabila nilai signifikan
>(𝛼) (0,05), maka H0 ditolak yang menunjukkan tidak ada
pengaruh yang signifikan terhadap intervensi pada saat pretest
dan posttest.

F. Etika Penelitian
Etika penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian
karena subjek dari penelitian adalah manusia. Etika penelitian yang harus
diperhatikan, diantaranya :
1. Perijinan
Peneliti membuat surat izin permohonan yang ditandatangani oleh
ketua STIKES Bali. Kemudian surat ditunjukan kepada Kepala Dinas
Penanaman Modal dan Perijinan Provinsi Bali. Surat rekomemdasi
dari Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Provinsi Bali

57
ditunjukan kepada Puskesmas Mengwi I kemudian diteruskan kepada
Kepala Desa Mengwitani.
2. Informed Consent
Informed Consent merupakan lembaran yang berisi permintaan
persetujuan menjadi responden. Bagi calon responden yang bersedia
menjadi responden akan mengisi dan menandatangani lembar
informed consent.
3. Tanpa nama (Anonymity)
Untuk mejaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak
mencantumkan nama responden dalam lembar pengumpulan data
melainkan hanya mencantumkan nama inisial responden.
4. Kerahasiaan (Confidentiality)
Dalam penelitian ini, peneliti menjelaskan kepada responden bahwa
peneliti akan menjaga kerahasiaan tentang data yang didapat dari
responden. Peneliti akan menyimpan semua data yang didapat dan
tidak akan membocorkan data yang didapat peneliti.
5. Manfaat (Beneficence)
Prinsip bahwa responden mendapatkan manfaat melalui prosedur yang
diberikan. Dalam penelitian ini, peneliti memberikan informasi
kesehatan kepada responden sehingga dapat menambah wawasan dan
pemahaman responden tentang pedoman umum gizi seimbang.

58