Anda di halaman 1dari 1

Sindrom nefrotik adalah kumpulan tanda atau gejala yang berkaitan dengan

permasalahan pada ginjal. Baik orang dewasa maupun anak-anak dapat mengalaminya,
namun sindrom nefrotik merupakan kelainan ginjal terbanyak dijumpai pada anak-anak,
dengan angka kejadian 15 kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Insidennya
sekitar 2-3 per 100.000 anak per tahun dan sebagian besar anak dengan sindrom nefrotik
merupakan tipe sensitif terhadap pengobatan steroid yang dimasukkan sebagai kelainan
minimal. Insiden penyakit sindrom nefrotik primer dua kasus per tahun tiap 100.000 anak
berumur kurang dari 16 tahun.

Etiologi sindrom nefrotik dibagi 3 yaitu kongenital, primer/idiopatik, dan sekunder


mengikuti penyakit sistemik. Sindrom nefrotik terjadi karena peningkatan permeabilitas
dinding kapiler glomerulus yang mengakibatkan proteinuria masif dan hipoalbuminemia.

Gambaran klinis sindrom nefrotik ditandai dengan proteinuria masif


(>40mg/m2/jam), hipoalbuminemia (<2,5 g/dL), edema, dan hiperkolestronemia (>250
mg/dL). Sebagian besar (90%) sindrom nefrotik pada anak-anak merupakan sindrom
nefrotik yang idiopatik. Sisanya (10%) merupakan sindrom nefrotik sekunder yang
berhubungan dengan kelainan glomerulus seperti nefropati membranosa dan
glomerulonefritis membranoprolifratif. Diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan
berdasarkan gejala klinis yang seringkali ditandai dengan edema yang timbul pertama kali
pada daerah sekitar mata dan ekstremitas bagian bawah. Selanjutnya edema semakin
meluas yang ditandai dengan asites, efusi pleura, dan edema pada daerah genital.
Seringkali dijumpai dengan gejala anoreksia, nyeri perut dan diare. Pada kasus lain dapat
disertai hipertensi maupun hematuria gross. Hasil pemeriksaan urin menunjukkan
proteinuria 3+ atau 4+ atau protein dalam urin > 40 mg/m2/jam.

Berdasarkan respon terapinya, sindrom nefrotik terbagi menjadi sindrom nefrotik


sensitif steroid (SNSS) dan sindrom nefrotik resisten steroid (SNRS). Jumlah pasien SNRS
pada anak memiliki persentasi yang lebih kecil (20%) dibandingkan dengan SNSS, tetapi
SNRS masih merupakan masalah bagi dokter nefrologi anak karena kronisitas, sulitnya
penanganan dengan obat-obatan, serta kemungkinan menjadi penyakit ginjal kronik.