Anda di halaman 1dari 1

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau
dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,
bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan. Obat
asma dapat digolongkan menjadi pengedali (controller) dan pelega (reliever).
Controller adalah obat yang dikonsumsi tiap hari untuk membuat asma dalam
keadaan terkontrol terutama melalui efek anti inflamasi. Reliever adalah obat yang
digunakan bila perlu berdasar efek cepat untuk menghilangkan bronkokontriksi
dan menghilangkan gejalanya.
Diagnosis asma bronkial akut ringan pada asma persisten ringan
dipikirkan karena keluhan sesak dirasakan >1x/minggu atau 1x/hari terutama pada
malam hari, pasien terbangun pada malam hari dan tidur menggunakan 2 bantal,
suara sesak juga berbunyi, serangan menggangu aktifitas dan tidur. Pada saat
serangan jika berjalan sesak bertambah, pasien lebih suka duduk, sesak juga
memberat apabila terpapar debu, asap dapur, asap rokok, makan makanan
berminyak dan apabila pasien kelelahan atau beraktivitas. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan frekuensi nafas 20 x/menit dan nadi 96 x/menit, auskultasi terdengar
suara wheezing di akhir ekspirasi pada kedua lapangan paru hal ini disebabkan
karena menyempitnya saluran nafas, yang mana akan menyebabkan peningkatan
kecepatan udara didalam saluran respirasi dan menghasilkan getaran dinding
saluran respirasi dan akan terdengar suara sesak berbunyi.

31