Anda di halaman 1dari 23

PANDUAN SKRINING PASIEN

TAHUN 2018

RUMAH SAKIT UMUM BUNDA


JL. DARUSSALAM NO. 16 LHOKSEUMAWE
TELP((0645) 46924 -46925
BAB I
DEFINISI

Skrining merupakan pemeriksaan sekelompok orang untuk memisahkan orang yang


sehat dari orang yang memiliki keadaan patologis yang tidak terdiagnosis atau mempunyai
resiko tinggi (Kamus Dorland ed. 25 : 974). Menurut Rochjati P (2008), skrining merupakan
pengenalan diri secara pro aktif pada ibu hamil untuk menemukan adanya masalah atau
faktor resiko.
Sehingga skrining dapat dikatakan sebagai suatu upaya mengidentifikasi penyakit atau
kelainan pasien sehingga didapat keterangan tentang kondisi dan kebutuhan pasien saat
kontak pertama. Keterangan hasil skrining digunakan untuk mengambil keputusan untuk
menerima pasien rawat inap atau pasien rawat jalan dan merujuk ke pelayanan kesehatan
lainnya dengan menyesuaikan kebutuhan pasien dengan misi dan sumber daya rumah sakit.
Semua pasien yang datang berobat dilakukan skrining terlebih dahulu untuk
menentukan pelayanan yang dibutuhkan : preventif, paliatif, kuratif dan rehabilitatif dan
menetapkan pelayanan yang paling tepat sesuai dengan urgensinya.
Skrining dilaksanakan melalui evaluasi visual atau pengamatan, kriteria triase,
pemeriksaan fisik atau hasil pemeriksaan fisik, psikologik, laboratorium klinik atau
diagnostik imaging sebelumnya. Skrining dilakukan apabila pasien tiba di rumah sakit, pada
saat pasien di transportasi emergensi atau di sumber rujukan.

1
BAB II
RUANG LINGKUP

Skrining dilakukan pada area:


1. Unit Rawat Jalan;
2. UGD (Unit Gawat Darurat);
3. Tempat Pendaftaran dan Informasi Pasien.

Skrining dilakukan melalui :


a. Evaluasi visual atau pengamatan;
b. Kriteria triase;
c. Pemeriksaan fisik atau hasil dari pemeriksaan fisik, psikologik;
d. Pemeriksaan laboratorium atau diagnostik imajing sebelumnya.

2
BAB III
TATA LAKSANA

Penderita non trauma atau trauma / multi-trauma memerlukan penilaian dan


pengelolaan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa penderita. Waktu berperan
sangat penting, oleh karena itu diperlukan cara yang mudah, cepat dan tepat. Proses awal ini
dikenal dengan Initial Assessment (penilaian awal).
Penilaian awal meliputi:
1. Persiapan;
2. Evaluasi Visual dan Pengamatan;
3. Triase (Primer & Sekunder) ;
4. Pemeriksaan fisik;
5. Pemeriksaan penunjang;
6. Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan;
7. Transfer ke pusat rujukan yang lebih baik.

Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-seolah berurutan namun dalam praktek sehari-
hari dapat dilakukan secara bersamaan dan terus menerus.

A. PERSIAPAN
I. Fase Pra-Rumah Sakit
1. Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan
petugas lapangan.
2. Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah
sakit sebelum penderita mulai diangkut dari tempat kejadian.
3. Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di
rumah sakit seperti waktu kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian dan riwayat
penderita.

II. Fase Rumah Sakit


1. Perencanaan sebelum penderita tiba.
2. Perlengkapan airway sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di
tempat yang mudah dijangkau.
3. Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan diletakkan
pada tempat yang mudah dijangkau.
4. Pemberitahuan terhadap petugas laboratorium dan petugas radiologi
apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
5. Pemakaian alat-alat proteksi diri.

3
B. EVALUASI VISUAL ATAU PENGAMATAN
 Pasien yang secara pengamatan visual dalam keadaan gawat dan memerlukan
pertolongan segera langsung diarahkan ke UGD.
 Pasien yang secara pengamatan visual tidak memerlukan pertolongan segera akan
diarahkan ke Unit Rawat Jalan.

C. TRIASE
Triase adalah seleksi pasien sesuai tingkat kegawatdaruratan sehingga pasien terseleksi
dalam mendapatkan pertolongan sesuai dengan tingkat kegawatdaruratannya.
Adapun bentuk jenis triase yang ada di dalam Rumah Sakit Umum XX adalah:
1. Triase rutin / sehari hari
Memprioritaskan kasus kasus yang benar-benar gawat darurat (true emergency)
dengan tepat dan cepat (life saving).
2. Triase Disaster / Dalam keadaan bencana
Bila terjadi bencana baik dari dalam maupun dari luar rumah sakit, dimana pasien
yang datang lebih dari 10 orang dalam waktu yang bersamaan, maka kriteria triase
berdasarkan kemungkinan hidup pasien yang lebih besar.

TRIASE RUTIN / SEHARI-HARI


Proses Triase merupakan suatu proses identifikasi yang dilakukan terhadap pasien pada
kontak pertama berdasarkan tingkat prioritas kegawatan pasien agar pasien UGD dapat
segera diidentifikasi dan diberikan pelayanan segera sesuai tingkat kegawatdaruratannya,
juga memprioritaskan kasus-kasus yang benar-benar gawat darurat (true emergency) dengan
tepat dan cepat (life saving).
A. Melakukan Triase Primer
Tindakan untuk mencari keadaan yang mengancam nyawa adalah:
1. Kesadaran
Dengan cara cepat yaitu sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik
(alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri
(pain) atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi
rangsang nyeri (unresponsive).
Empat unsur yang diuji:

4
A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau aktual.
P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.
2. Jalan Nafas (Airway)
Menilai jalan nafas bebas, mengalami sumbatan total atau sebagian.
3. Pernapasan
Penilaian pernafasan :
 Nafas spontan;
 Distress pernafasan ringan, sedang atau berat;
 Kemampuan berkomunikasi;
 Frekuensi nafas.
4. Sirkulasi
Penilaian sirkulasi :
 Perabaan nadi;
 Adanya gangguan hemodinamik;
 Takikardi;
 Tanda-tanda dehidrasi;
 Pendarahan.
5. Disability (tanda lain)
Penilaian :
 Adanya gejala klinis seperti nyeri ringan, sedang, berat;
 Ada kontak mata;
 Gangguan neurovaskuler.

B. Melakukan Triase Sekunder


Melakukan penilaian :
 Keadaan Umum (baik / sedang / buruk);
 Kesadaran (compos mentis / apatis / XXrium / somnolent / sopor / coma);
 GCS;
 Tekanan Darah;
 Nadi;
5
 Respiratory Rate;
 Temperatur;
 Saturasi Oksigen;
 Skala nyeri;
 Kadar Gula Sewaktu;
 Riwayat Alergi.

Klasifikasi Kriteria pasien sesuai jenis Triase (kegawat-daruratannya).

RESUSITASI
Level I : Resusitasi adalah pasien yang datang dengan keadaan gawat darurat dan
mengancam nyawa dan harus mendapat penanganan resusitasi SEGERA.
Label Warna Biru

Penilaian :
Kesadaran :
Empat unsur yang diuji:
 A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
 V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau actual.
 P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
 U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.

Jalan Nafas (Airway) :


 Sumbatan Total;
 Sumbatan Sebagian.

Pernafasan (Breathing) :
 Berhenti nafas / Hipoventilasi;
 Distress pernafasan berat (pernafasan abdominal, retraksi dada berat, sianosis akut);
6
 Tidak mampu berbicara;
 Frekuensi nafas < 10 x / menit.

Sirkulasi :
 Henti jantung;
 Tidak mampu berbicara;
 Gangguan hemodinamik berat (akral dingin, pucat, kebiruan, perfusi buruk);
 Pendarahan berat tidak terkontrol.

Tanda Lain (Disability)


 Bila ada tanda-tanda lain yang signifikan dicatat
Terjadi pada :
1. Henti jantung;
2. Henti nafas;
3. Risiko penyumbatan jalan nafas, ancaman terjadi henti nafas;
4. Frekuensi nafas < 10 x /menit;
5. Distress nafas ekstrim;
6. TD < 80 (dewasa) atau anak/ bayi syok berat;
7. Tidak respons/ hanya respons atas nyeri (GCS ≤ 8);
8. Kejang terus menerus;
9. Overdosis IV dan tidak respons atau hipoventilasi;
10. Gangguan perilaku berat dengan ancaman yang berbahaya.

EMERGENT
Level II : Emergent adalah pasien yang datang dengan keadaan gawat darurat karena dapat
mengakibatkan kerusakan organ permanen dan pasien harus ditangani dalam waktu maksimal
10 menit.
Label Warna Merah

Penilaian :
Kesadaran :
Empat unsur yang diuji :
 A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
7
 V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau actual.
 P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
 U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.

Jalan Nafas (Airway) :


 Bebas

Pernafasan (Breathing) :
 Nafas spontan;
 Distress pernafasan sedang (pernafasan abdominal, retraksi dada sedang, kulit pucat);
 Bicara hanya satu kata.

Sirkulasi :
 Nadi teraba;
 Gangguan hemodinamik sedang (akral dingin, pucat, kulit basah);
 Takikardi sedang;
 Kehilangan banyak darah;
 Tanda dehidrasi berat.

Tanda Lain (Disability)


 Penurunan aktivitas berat (kontak mata (-), tegangan otot menurun);
 Nyeri hebat;
 Mengerang kesakitan;
 Gangguan neurovaskuler berat (nadi sukar diraba, akral dingin, sensasi rasa (-),
pergerakan (-), pengisian kapiler ).

Terjadi pada:
1. Risiko penyumbatan jalan nafas, stridor berat/ banyak lendir dengan distress;
2. Distress pernafasan berat;
3. Gangguan sirkulatori
a. Kulit lembab / berbercak karena perfusi buruk;
b. DJ <50 kali permenit atau >150 kali permenit (dewasa);
c. Hipotensi dengan dampak hemodinamik;
8
d. Kehilangan darah hebat;
e. Nyeri dada seperti lazim berasal dari jantung;
4. Nyeri sangat hebat apapun penyebabnya;
5. Base Serum Laktat ( BSL ) < 3 mmol/l (36 mg/dl);
6. Mengantuk, penurunan tingkat respons apapun penyebabnya (GCS ≤12);
7. Hemiparesis/ disfasia akut;
8. Demam disertai tanda-tanda letargi;
9. Percikan asam/ basa pada mata yang perlu irigasi;
10. Multipel trauma mayor (perlu respons cepat tim);
11. Trauma berat yang terlokalisir : fraktur mayor, amputasi;
12. Riwayat risiko tinggi sbb :
o Menelan sedatif/ zat racun jumlah bermakna;
o Sengatan/gigitan binatang bermakna/berbahaya;
o Nyeri hebat mengarah PE (Preeklampsi), AAA (aneurisma aortic abdominal),
kehamilan ektopik terganggu.
13. Tingkah laku/ psikiatrik:
a. Merusak atau agresif;
b. Ancaman terhadap diri sendiri / orang lain;
c. Memerlukan / telah dilakukan restraint;
d. Agitasi atau cenderung menyerang.

URGENT
Level III : Urgent adalah pasien yang datang dengan keadaan darurat tidak gawat yang harus
ditangani dalam waktu maksimal 30 menit.
Label Warna Kuning

Penilaian :
Kesadaran :
Empat unsur yang diuji:
 A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
 V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau actual.

9
 P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
 U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.

Jalan Nafas (Airway) :


 Bebas.

Pernafasan (Breathing) :
 Nafas spontan;
 Distress pernafasan sedang (pernafasan abdominal, bicara pendek-pendek, kulit
kemerahan).

Sirkulasi :
 Sirkulasi (+);
 Gangguan hemodinamik ringan (denyut nadi perifer teraba, kulit pucat, akral hangat);
 Takikardi ringan;
 Tanda dehidrasi sedang.

Tanda Lain (Disability)


 Nyeri sedang-berat (pasien dapat menunjukkan letak nyeri, kulit tampak pucat,
memohon analgesia);
 Kontak mata saat dipanggil / terganggu;
 Gangguan neurovaskuler sedang (nadi teraba, akral dingin, sensasi rasa (+),
pergerakan (+), pengisian kapiler ).

Terjadi Pada:
1. Hipertensi berat;
2. Kehilangan darah cukup banyak apapun penyebabnya;
3. Sesak nafas sedang;
4. Saturasi O2 90-95%;
5. BSL >16 mmol/l (288 mg/dl);
6. Kejang (saat ini sadar);
7. Semua demam akibat imunosupresi (pasien onkologi, pemakaian steroid);
10
8. Muntah persisten;
9. Dehidrasi;
10. Cedera kepala dengan penurunan kesadaran yang singkat (saat ini sadar);
11. Nyeri sedang berat penyebab apapun yang membutuhkan analgetik;
12. Nyeri dada kemungkinan non kardiak dengan tingkat nyeri sedang;
13. Nyeri abdominal yang tidak berisiko tinggi, tingkat nyeri sedang berat atau usia > 65
tahun;
14. Cedera anggota gerak sedang : deformitas, laserasi berat, crush;
15. Sensasi anggota gerak berubah, denyut nadi hilang akut;
16. Riwayat trauma yang berisiko tinggi akan tetapi tanpa risiko tinggi lainnya;
17. Neonatus stabil;
18. Anak yang dicurigai mengalami penyiksaan;
19. Tingkah laku/psikiatrik:
a. Distres berat, risiko melukai diri;
b. Psikotik akut atau gangguan berpikir;
c. Krisis situasional, melukai diri dengan sadar;
d. Agitasi, menarik diri;
e. berpotensi agresif.

NON URGENT
Level IV: Non Urgent adalah pasien yang datang dengan kondisi tidak gawat tidak darurat
dengan keluhan yang ringan-sedang, tetapi mempunyai kemungkinan atau dengan
riwayat penyakit serius yang harus mendapat penanganan dalam waktu 60 menit.
Label Warna Kuning

Penilaian :
Kesadaran :
Empat unsur yang diuji:
 A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
 V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau actual.
 P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
 U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.
11
Jalan Nafas (Airway) :
 Bebas;

Pernafasan (Breathing) :
 Nafas spontan;
 Distress pernafasan (-);
 Dapat berkomunikasi baik (kalimat penuh).

Sirkulasi :
 Nadi teraba;
 Tanpa gangguan hemodinamik;
 Denyut nadi perifer teraba;
 Kulit pucat / kemerahan;
 Akral hangat.

Tanda Lain (Disability)


 Nyeri sedang (pasien sadar, nyeri, kulit hangat kemerahan, meminta analgesia);
 Tenang, ada kontak mata;
 Gangguan neurovaskuler ringan (nadi teraba, akral hangat, sensasi rasa (+),
pergerakan (+), pengisian kapiler normal).
Terjadi pada:
1. Perdarahan ringan;
2. Aspirasi benda asing, tanpa distress pernafasan;
3. Cedera dada tanpa nyeri / distress pernafasan;
4. Kesulitan menelan, tanpa distress pernafasan;
5. Cedera kepala ringan tanpa penurunan kesadaran;
6. Nyeri sedang dengan faktor risiko;
7. Muntah dan mencret tanpa dehidrasi;
8. Inflamasi / benda asing di mata tidak mengganggu penglihatan;
9. Trauma anggota minor, sprain ankle, mungkin fraktur, laserasi tanpa komplikasi yang
perlu investigasi / intervensi dengan TTV normal, nyeri ringan / sedang;
10. Cast/ gibs ketat tanpa gangguan neurovaskuler;
11. Sendi bengkak dan panas;
12
12. Nyeri perut tidak spesifik;
13. Tingkah laku/psikiatrik:
a. Masalah kesehatan mental semi-urgent;
b. Dalam observasi dan / tidak ada risiko melukai diri/ orang lain.

FALSE EMERGENCY
Level V : False Emergency / Ambulatory klinik adalah pasien yang datang dengan kondisi
tidak gawat dengan keluhan ringan dan tidak ada kemungkinan menderita penyakit
atau mempunyai riwayat penyakit yang serius, pasien dapat menunggu untuk
ditangani oleh dokter dalam waktu 120 menit.
Label Warna Hijau

Penilaian :
Kesadaran :
Empat unsur yang diuji:
 A lert - Berarti membuka mata spontan, fungsi motorik berbicara dan utuh, misalnya
anggota badan bergerak.
 V oice - Merespon bila diajak bicara, misalnya bicara mendengus atau actual.
 P ain - Merespon rasa sakit, misalnya menggosok sternum.
 U nresponsive - Jika tidak ada respon terhadap rasa sakit, yaitu tidak ada gerakan
mata, suara atau motorik.

Jalan Nafas (Airway) :


 Bebas;

Pernafasan (Breathing) :
 Nafas spontan;
 Distress pernafasan (-);
 Dapat berkomunikasi baik (kalimat penuh).

Sirkulasi :
 Nadi teraba;
 Tanpa gangguan hemodinamik;
 Denyut nadi perifer teraba;
13
 Kulit kemerahan;
 Akral hangat.

Tanda Lain (Disability)


 Tidak ada gejala klinis;
 Rencana imunisasi;
 Nyeri ringan;
 Demam / Tidak demam;
 Luka post trauma ringan.

Terjadi pada:
1. Rasa sakit minimal tanpa faktor risiko;
2. Faktor risiko rendah dan saat ini asimptomatik;
3. Penyakit dengan kondisi stabil disertai gejala yang ringan;
4. Pasien memiliki faktor risiko rendah terhadap suatu penyakit, saat ini hanya gejala ringan;
5. Luka ringan- luka lecet ringan dan luka robek yang tidak memerlukan jahitan luka;
6. Kunjungan ulang untuk kontrol seperti ganti perban luka dsb;
7. Imunisasi;
8. Pasien psikiatri :
o Pasien dengan symptom kronik;
o Krisis sosial dengan klinis yang baik.

TRIASE DISASTER / DALAM KEADAAN BENCANA


Bila terjadi bencana baik dari dalam maupun dari luar rumah sakit, dimana pasien yang
datang lebih dari 10 orang dalam waktu yang bersamaan, maka kriteria triase berdasarkan
kemungkinan hidup pasien yang lebih besar. Perawat UGD terlatih ikut dalam melakukan

14
triase, akan menetapkan kondisi pasien dengan label seperti berikut sesuai dengan klasifikasi
berat ringannya / kegawatdaruratan pasien :
Prioritas Pertama (I, Tertinggi, Emergency) Label Warna Merah :
Mengancam jiwa atau fungsi vital yang memerlukan tindakan / pertolongan segera untuk
penyelamatan nyawa, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera, mempunyai kesempatan
hidup
yang besar. Contoh seperti gangguan jalan napas, syok dengan perdarahan hebat, luka bakar
grade II dan III > 25%, penurunan status mental dsb.

Prioritas Kedua (II, Medium, Urgent) Label Warna Kuning :


Potensi mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera diberikan pertolongan dalam
jangka waktu singkat seperti cedera abdomen tanpa syok, cedera dada tanpa gangguan
respirasi, cedera kepala dan tulang belakang tanpa gangguan kesadaran.

Prioritas Ketiga (III, Rendah, Non Emergency) Label Hijau :


Perlu penanganan seperti pelayanan biasa tidak perlu tindakan segera. Penanganan dan
pemindahan bersifat terakhir seperti luka ringan dan luka superficial.

Prioritas Keempat (IV, Death) Label Hitam :


Sudah meninggal atau kemungkinan untuk hidup sangat kecil atau luka sangat parah. Pasien
dalam kondisi tidak bernyawa / sudah meninggal ditempatkan di Unit Kamar Jenazah.

Pasien / korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah, kuning,
hijau, hitam. Pasien / korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan di
UGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut, penderita / korban dapat
dipindahkan ke Unit Kamar Operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
Pasien / korban dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih
lanjut dapat dipindahkan ke UGD dan menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triase
merah selesai ditangani. Pasien / korban dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke
Unit Rawat Jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka pasien / korban
dapat diperbolehkan untuk pulang. Pasien / korban kategori triase hitam dapat langsung
dipindahkan ke Unit Kamar Jenazah.
15
D. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik head to toe meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi,
termasuk juga pemeriksaan psikologik.
Khusus pasien dengan trauma, anamnesis yang harus diingat :
S : Syndrome;
A : Alergi;
M : Mekanisme dan sebab trauma;
M : Medikasi (obat yang sedang diminum saat ini);
P : Past illness;
L : Last meal (makan minum terakhir);
E : Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian perlukaan.

Pemeriksaan Fisik pada pasien trauma ( lihat tabel 1 ).

Tabel 1- Pemeriksaan Fisik pada Pasien Trauma

Hal yang Identifikasi/ Konfirmasi


Penilaian Penemuan Klinis
Dinilai Tentukan dengan

Tingkat • Beratnya • Skor GCS •  8, cedera kepala berat • CT Scan


Kesadaran trauma kapitis • 9 -12, cedera kepala sedang • Ulangi tanpa
• 13-15, cedera kepala ringan relaksasi Otot

Pupil • Jenis cedera • Ukuran • "mass effect" • CT Scan


kepala • Bentuk • Diffuse axional injury
• Luka pada • Reaksi • Perlukaan mata
mata

Kepala • Luka pada • Inspeksi • Luka kulit kepala • CT Scan


kulit kepala adanya luka • Fraktur impresi
• Fraktur tulang dan fraktur • Fraktur basis
tengkorak • Palpasi
adanya
fraktur

Maksilofas • Luka jaringan • Inspeksi : • Fraktur tulang wajah • Foto tulang


ial lunak deformitas wajah
• Fraktur • Maloklusi • Cedera jaringan lunak
• Kerusakan • Palpasi : • CT Scan tulang
syaraf krepitus wajah
• Luka dalam
mulut/gigi

Leher • Cedera pada • Inspeksi • Deformitas faring • Foto servikal


faring • Palpasi • Emfisema subkutan • Angiografi/
• Fraktur • Auskultasi • Hematoma Doppler

16
servikal • Murmur • Esofagoskopi
• Kerusakan • Tembusnya platisma • Laringoskopi
vaskular • Nyeri, nyeri tekan C spine
• Cedera
esofagus
• Gangguan
neurologis

Toraks • Perlukaan • Inspeksi • Jejas, deformitas, gerakan • Foto toraks


dinding toraks • Palpasi • Paradoksal • CT Scan
• Emfisema • Auskultasi • Nyeri tekan dada, krepitus • Angiografi
subkutan • Bising nafas berkurang • Bronchoskopi
• Pneumo/ • Bunyi jantung jauh • Tube
hematotorak • Krepitasi mediastinum torakostomi
• Cedera • Nyeri punggung hebat • Perikardio
bronchus sintesis
• Kontusio paru • USG Trans-
• Kerusakan Esofagus
aorta torakalis

Abdomen/ • Perlukaan dd. • Inspeksi • Nyeri, nyeri tekan abd. • DPL


pinggang Abdomen • Palpasi • Iritasi peritoneal • FAST
• Cedera intra- • Auskultasi • Cedera organ viseral • CT Scan
peritoneal • Tentukan • Cedera retroperitoneal • Laparotomi
• Cedera arah • Foto dengan
retroperitonea penetrasi kontras
l • Angiografi

Tabel 1- Pemeriksaan Fisik pada Pasien Trauma (lanjutan)

Hal yang Identifikasi/ Konfirmasi


Penilaian Penemuan klinis
Dinilai tentukan dengan

Pelvis • Cedera Genito- • Palpasi simfisis • Cedera Genito- • Foto pelvis


urinarius pubis untuk rinarius (hematuria) • Urogram
• Fraktur pelvis pelebaran • Fraktur pelvis • Uretrogram
• Nyeri tekan • Perlukaan perineum, • Sistogram
tulang elvis rektum, vagina • IVP
• Tentukan • CT Scan dengan
instabilitas kontras
pelvis (hanya
satu kali)
• Inspeksi
perineum
• Pem.
Rektum/vagina

Medula • Trauma kapitis • Pemeriksaan • "mass effect" • Foto polos


• Trauma medulla

17
Spinalis spinalis motorik unilateral • MRI
• Trauma syaraf • Pemeriksaan • Tetraparesis
perifer sensorik Paraparesis
• Cedera radiks syaraf

Kolumna • Fraktur • Respon verbal • Fraktur atau • Foto polos


vertebralis • lnstabilitas terhadap nyeri, dislokasi • CT Scan
kolumna tanda lateralisasi
Vertebralis • Nyeri tekan
• Kerusakan • Deformitas
syaraf

Ekstremitas • Cedera jaringan • Inspeksi • Jejas, • Foto ronsen


lunak • Palpasi pembengkakan, • Doppler
• Fraktur pucat • Pengukuran
• Kerusakan sendi • Mal-alignment tekanan
• Defisit neuro- • Nyeri, nyeri tekan, kompartemen
vascular Krepitasi • Angiografi
• Pulsasi hilang/
berkurang
• Kompartemen
• Defisit neurologis

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG (laboratorium atau pemeriksaan imaging)


Pemeriksaan radiologi dan laboratorium memberikan data diagnostik penting yang
menuntun penilaian awal. Pastikan hemodinamik cukup stabil saat membawa pasien ke ruang
radiologi. Pemeriksaan laboratorium untuk pasien UGD dengan mempertimbangkan kondisi
pasien, maka petugas laboratorium yang akan ke UGD untuk pengambilan sample. Kemudian
jika memerlukan penanganan lebih lanjut akan dikonsulkan ke dokter spesialis sesuai
penyakit konsultasi bisa dilakukan melalui UGD atau diarahkan ke praktek di Unit Rawat
Jalan.
Skrining Tes Diagnostik Standar yang harus dilakukan sebelum menerima pasien adalah :
a. Kasus Umum
1) Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi / Darah rutin (Haemoglobin, Leukosit,
Eritrosit, Trombosit, Hitung jenis)
2) Kadar Gula Darah Sewaktu dan HbA1C (bila pasien ada riwayat Diabetes)
3) Kimia klinik standar (Ureum / Kreatinin, SGOT / SGPT)
4) Urine rutin
5) Elektrolit (Na, K, Cl)
6) EKG (untuk pasien riwayat jantung dan pasien dewasa ≥ 50 tahun)

18
b. Pre Operatif
1) Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi / Darah rutin (Haemoglobin, Leukosit,
Eritrosit, Trombosit, Hitung jenis)
2) Kadar Gula Darah Sewaktu dan HbA1C (bila pasien ada riwayat Diabetes)
3) Kimia klinik standar (Ureum / Kreatinin, SGOT / SGPT)
4) Urine rutin
5) Elektrolit (Na, K, Cl)
6) Masa pendarahan dan pembekuan
7) EKG (untuk pasien riwayat jantung dan pasien dewasa ≥ 50 tahun)
8) Pemeriksaan foto thorax
9) Hasil konsul pre operatif (Penyakit Dalam, Kardiologi, Pulmonologi dll)
c. Kasus Stroke
1) Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi / Darah rutin (Haemoglobin, Leukosit,
Eritrosit, Trombosit, Hitung jenis)
2) Kadar Gula Darah Sewaktu dan HbA1C
3) Kimia klinik standar (Ureum / Kreatinin, SGOT / SGPT)
4) Profil lipid
5) Elektrolit (Na, K, Cl)
6) EKG
7) Pemeriksaan foto thorax
8) CT-scan Brain Routine
d. Pemeriksaan radiologi dengan kontras
1) Ureum dan Kreatinin
e. Kasus Penyakit Jantung Koroner
1) Pemeriksaan Laboratorium : Hematologi / Darah rutin (Haemoglobin, Leukosit,
Eritrosit, Trombosit, Hitung jenis)
2) Kadar Gula Darah Sewaktu dan HbA1C
3) Kimia klinik standar (Ureum / Kreatinin, SGOT / SGPT)
4) Profil lipid
5) Elektrolit (Na, K, Cl)
6) EKG
7) Pemeriksaan foto thorax
8) CK MB, Troponin T

19
F. RE-EVALUASI PENDERITA
I. Penilaian ulang terhadap penderita, dengan mencatat dan melaporkan setiap
perubahan pada kondisi penderita dan respon terhadap resusitasi.
II. Monitoring tanda-tanda vital dan jumlah urin.
III. Pemakaian analgetik yang tepat diperbolehkan.

G. TRANSFER KE PUSAT RUJUKAN YANG LEBIH BAIK


 Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu menangani pasien karena keterbatasan
SDM maupun fasilitas serta keadaan pasien yang masih memungkinkan untuk dirujuk.
 Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan dan kebutuhan penderita selama perjalanan
serta komunikasikan dengan dokter pada pusat rujukan yang dituju.

BAB IV
20
DOKUMENTASI

Dokumentasi skrining di Rumah Sakit Umum XX adalah Formulir Triase, Formulir


Asesmen UGD dan Formulir Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi. Sedangkan
dokumentasi atas triase dalam keadaan bencana adalah Formulir Catatan Perkembangan
Pasien Terintegrasi.

21
BAB V
PENUTUP

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa bahwasanya telah tersusun
Panduan Skrining Pasien di Rumah Sakit Umum XX, karena Panduan Skrining Pasien
merupakan acuan atau panduan bagi unit pelayanan Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit
Umum XX dalam menetapkan kegawatdaruratan pasien secara cepat, tepat dan efektif
sehingga dengan demikian dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Rumah Sakit Umum XX harus mampu menyediakan pelayanan yang sesuai dengan
sumber daya rumah sakit dengan konsisten tergantung pada keterangan yang didapat tentang
kebutuhan pasien dan kondisinya melalui skrining pada kontak pertama.
Semoga dengan telah tersusunnya Panduan Skrining Pasien di Rumah Sakit Umum
XX, maka unit layanan Unit Gawat Darurat dapat memiliki acuan untuk menetapkan
kegawatdaruratan pasien pada kontak pertama, yang hasilnya adalah meningkatkan mutu
pelayanan pasien dan efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia di rumah sakit.

Ditetapkan di : Lhokseumawe
Pada tanggal : 18 Januari 2018
DIREKTUR RSU Bunda

Dr.Hanafiah Hasan Sp.OG

22