Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA KELUARGA Ny.

J
DENGAN PENYAKIT ASAM URAT DI JALAN PELAJAR
DUSUN 1 PANCUR BATU PADA TANGGAL 26-08
DESEMBER 2018

DISUSUN OLEH:
ENJELIKA SITUMORANG
012016004

DOSEN PEMBIMBING: NAGOKLAN SIMBOLON,SST.,M.Kes

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN


STIKes SANTA ELISABETH
MEDAN T.A 2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas
segala berkat dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini
dengan baik. Laporan ini berjudul tentang “Laporan Asuhan Keperawatan
Gerontik pada Ny.J Di Desa Tuntungan 1 kecamatan Pancur Batu.
Selama dalam melakukan Praktek Belajar Lapangan oleh STIKes Santa
Elisabeth Medan Prodi D3 Keperawatan Penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada:
1. Mestiana br. Karo-karo S.Kep.,Ns.,M.Kep Selaku ketua STIKes Santa
Elisabeth Medan
2. Indra Hizkia Perangin-angin S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku Kaprodi D3
Keperawatan STIKes Santa Elisabeth Medan yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis dalam melakukan Praktek Belajar Lapangan Di
Desa Tuntungan 1 kecamatan Pancur Batu.
3. Magda Siringo-ringo SST.,M.Kes selaku PJMA mata kuliah Keperawatan
Gerontik.
4. Nagoklan simbolon SST., M.Kes selaku dosen pembimbing penulis yang
telah memberikan pengarahan dalam menyelesaikan laporan ini.
5. Drs. Surono selaku Kepala Desa di Desa Tuntungan 1 kecamatan Pancur
Batu.
6. Seluruh teman-teman Angkatan 25 Prodi D3 Keperawatan STIKes Santa
Elisabeth Medan yang turut memberikan motivasi, dukungan kepada penulis
sehingga dapat tersusun dengan baik.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu pada
kesempatan ini penulis menyampaikan sangat mengharapkan kritikan dan
masukan dari semua pihak demi penyempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis
mengucapkan terimakasih.
Medan, Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang ................................................................................. 1
1.2. Tujuan Penulisan ............................................................................... 2
1.2.1 Tujuan Umum ............................................................................... 2
1.2.2 Tujuan Khusus ............................................................................... 2
1.3. Ruang lingkup .................................................................................. 3
1.4. Metoda penulisan ............................................................................. 3

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS


2.1 Asuhan Keperawatan ........................................................................... 10
2.1.1 Pengertian ............................................................................ 10
2.1.2 Tujuan .................................................................................. 11
2.1.3 Sasaran .................................................................................. 12
2.1.4 Alasan keluarga menjadi salah satu unit Askep .................... 12
2.1.5 Tugas keluarga dalam pelayanan kesehatan ......................... 13
2.1.6 Model Keperawatan ............................................................. 14
2.1.7 Langkah-langkah asuhan keperawatan ................................ 15
2.1.7.1 Pengkajian ................................................................... 15
a. Pengertian ................................................................ 15
b. Langkah-langkah ..................................................... 15
c. Jenis dan Kesehatan Keluarga .................................. 16
d. Tipologi Masalah ...................................................... 18
2.1.7.2 Diagnosa Keperawatan ............................................... 19
2.1.7.3 Prioritas diagnosa keperawatan .................................. 26
2.1.7.4 Intervensi .................................................................... 29
2.2 Konsep Medis
2.2.1 Defenisi ................................................................................. 31
2.2.2 Etiologi .................................................................................. 31
2.2.3 Tanda dan Gejala .................................................................. 31
2.2.4 Ruang lingkup pelayanan yang diberikan ............................. 32
2.2.4.1 Primordial ................................................................... 32
2.2.4.2 Primer.......................................................................... 32
2.2.4.3 Sekunder ..................................................................... 32
2.2.4.4 Tersier ......................................................................... 32
BAB 3 TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian ........................................................................................... 33
3.2 Analisa Data ........................................................................................ 46
3.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................................ 46
3.4 Prioritas Masalah ................................................................................ 47
3.5 Intervensi ............................................................................................. 49
3.6 Implementasi ....................................................................................... 51
3.7 Evaluasi ............................................................................................... 51

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian kesehatan keluarga ............................................................ 57
4.2 Analisa Data .......................................................................................... 58
4.3 Diagnosa Keperawatan ......................................................................... 58
4.4 Prioritas Masalah ................................................................................. 58
4.5 Intervensi .............................................................................................. 58
4.6 Implementasi ......................................................................................... 59
4.7 Evaluasi ................................................................................................. 59

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .................................................................................... 60
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Keluarga .......................................................................... 60
5.2.2 Bagi Penulis atau mahasiswa .................................................. 61

DAFTAR PUSTAKA
Lampiran
 ADL
 SAP
 Denah Rumah
 Daftar Konsul
 Jadwal Dan Tanda Tangan Pembimbing
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan tingginya kadar
purin didalam darah, kondisi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak orang
yang dinyatakan menderita penyakit tersebut. Penyakit asam urat cenderung
diderita pada usia yang semakin muda. Penderita paling banyak pada golngan
usia 30-50 tahun yang tergolong usia produktif (Krisnatuti & Rina, 2016).

Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow adalah bahwa


setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar. Tingkat pertama, termaksut
kebutuhan fisiologis seperti udara, nutrisi, ari, eliminasi, istirahat dan tidur.
Tingkat kedua yaitu kebutuhan keamanan dan perlindungan, termaksut juga
keaman fisik dan psikologis. Tingkat ketiga berisi kebutuhan akan cinta dan
memiliki, termaksut di dalamnya hubungan pertemanan, hubungan sosial,
hubungan cinta. Tingkat keempat yaitu kebutuhan akan penghargaan diri,
termaksut juga kepercayaan diri, pendayagunaan, penghargaan, dan nilai diri.
Tingkat terakhir merupakan kebutuhan aktualisasi diri, keadaan pencapaian
potensi, dam mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan
beradaptasi dengan kehidupan (Rosdalh dan Kowalksi, 2012).
Rasa nyaman berupa terbebas dari rasa yang tidak menyenangkan adalah
suatu kebutuhan induvidu. Nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan
yang terkadang dialami induvidu. Kebutuhan terbebas dari rasa nyeri itu
merupakan salah satu kebutuhan dasar yang merupakan tujuan diberikannya
asuhan keperawatan. Nyeri mungkin suatu hal yang tidak asing. Nyeri menjadi
alasan yang paling umum dikeluhkan seorang pasien untuk mencari perawatan
kesehatan dibandingkan dengan keluhan-keluhan lain (Prasetyo, 2013).
Kondisi yang menyebabkan ketidak nyamanan klien adalah nyeri. Nyeri
merupakan sensasi ketidaknyamanan yang bersifat individual. Klien merespon
terhadap nyeri yang dialaminya dengan beragam cara, misalnya berteriak,
meringis, dan lain-lain (Asmadi, 2016).
Oleh karna itu, permasalahan kebutuhan dasar nyeri pada lansia harus
diperhatikan. Pentingnya pemenuhan kebutuhan klien akan nyeri selama
dilakukan perawatan, menarik minat penulis untuk membahas dan menyusun
intervensi penatalaksaan gangguan nyeri yang dialami oleh Ny.J di Desa
Tuntungan II, Dusun 1.

1.2 Tujuan
1.2.1Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan prioritas masalah
kebutuhan dasar nyeri di di DesaTuntungan II, Dusun 1
1.2.2Tujuan Khusus

1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada Ny.J

2. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny.J

3. mampu memberikan intervensi keperawatan pada Ny.J

4. Mampu memberikan implementasi keperawatan pada Ny.J

5. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada Ny.J

1.3 Ruang Lingkup


Dalam memberikan asuhan keperawatan Gerontik perawat kesehatan
melakukan semua tingkatan upaya kesehatan. Upaya pelayanan kesehatan yang
dimaksud meliputi:
1. Primordial, upaya pencegahan masalah kesehatan yang dilakukan
sebelum ada faktor resiko. Contoh: Membuat peraturan pemerintah
melarang merokok di tempat umum.
2. Promotif, upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang
dilakukan.
3. Preventif, uapaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit
tetapi sudah ada faktor resiko.
4. Kuratif, upaya perawatan dan pengobatan yang dilakukan untuk
penyembuhan penyakit dan mencegah timbulnya komplikasi.
5. Rehabilitatif, upaya pemulihan penyakit atau masalah yang dilakukan
baik terhadapap masalah fisik, psikososial dan sosial.

1.4 Metode Penulisan


Dalam Pembuatan asuhan keperawatan keluarga menggunakan metode kajian
pustaka yaitu menjelaskan tentang Penyakit asam urat melalui data yang didapat
dari buku atau reverensi berbagai kerangka, dan juga menggunakan metode studi
kasus dengan pendekatan berbagai proses keperawatan yang terdiri dari lima
tahap atas pengkajian, perumusan masalah, perencanaan, implementasi dan
evaluasi. Adapun tehnik penulisan adalah dekskriktif, yang merupakan gambaran
kasus yang dikelola dengan pengumpulan data yang dieroleh saat pengkajian.
1.Wawancara
Dengan menanyakkan atau tanya jawab dengan pasien, dan perawat ruangan
berhubungan dengan perubahan-perubahan kesehatan yang dialami oleh pasien.
2. Observasi
Pengamatan langsung atau inspeksi terhadap kondisi fisik, perilaku dan interaksi
pasien.
3.Study Kepustakaan
Mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan asuhan keperawatan gerontik.
4.Studi Dokumentasi
Dengan mempelajari dan melihat buku status pasien terkait dengan kondisi
penyakit pasien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Konsep Dasar Gerontik


2.1.1 Pengertian
Lanjut usia bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu tahap lanjut
dari suatu kehidupan dimana lansia berada pada fase akhir yang ditandai dengan
menurunnya kemampuan tubuh dalam melakukan adaptasi dengan lingkungannya
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
terjadi di dalam tubuhnya. Individu dikategorikan ke dalam lansia ketika telah
memasuki usia diatas 60 tahun. Banyak lansia yang mengalami gangguan akibat
penurunan fungsi tubuh seperti gangguan kardiovaskuler, pernafasan, pencernaan,
panca indra, persarafan, endokrin, integument dan muskuloskeletal (Sunaryo et
al., 2016).
Lanjut usia merupakan suatu bagian dari proses tumbuh kembang.
Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi melalui proses tahapan atau
perkembangan dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan akhirnya menjadi tua.
Lansia merupakan proses alami yang diikuti dengan perubahan fisik dan perilaku.
Semua individu akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan
masa hidup tahap akhir dari manusia, dimana mengalami kemunduran fisik,
mental dan sosial secara bertahap (Artinawati, 2014).
Proses menua merupakan proses yang terjadi secara terus-menerus atau
berkelanjutan serta perlahan-lahan yang berlangsung secara alamiah dan pasti
akan terjadi pada setiap makhluk hidup, seperti tubuh akan kehilangan
kemampuan progresif organ, jaringan dan sel-selnya. Kemampuan dalam
mempertahankan struktur dan fungsi berbagai organ tubuh sudah berkurang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses menua adalah faktor hereditas atau
keturunan dan lingkungan (Ode, 2013).
Proses menua atau ageing process adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan perbaikan kerusakan yang diderita yang terjadi secara terus-menerus
atau berkelanjutan secara alamiah (Artinawati, 2014).
2.1.2 Batasan Lanjut Usia
Menurut Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organzation ( dalam
Aspiani, 2014) lanjut usia dibagi menjadi tiga kategori yaitu usia lanjut berkisar
sekitar umur 60 sampai 74 tahun, usia tua masuk kedalam umur 75 sampai 89
tahun dan usia diatas 90 tahun dikatakan usia sangat lanjut.
Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro (dalam Aspiani, 2014) lanjut
usia dikelompokkan menjadi geriatric age usia >65 atau 70 tahun terbagi atas,
young old usia 70-75 tahun, old usia 75-80 tahun dan very old usia >80 tahun.
Menurut Burnise (dalam Artinawati, 2014) ada empat tahapan lanjut usia
young old memasuki usia 60-69 tahun, middle age old memasuki usia 70-79
tahun, old-old memasuki usia 80-89 tahun dan very old-old memasuki usia >90
tahun.
2.1.3 Masalah Kesehatan Pada Lansia
Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada
dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-
kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki
kerusakan yang diderita.Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi
pada lansia berbeda dari orang dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering
disebut dengan 14 istilah.
1. Kurang bergerak
Gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat menyebabkan lansia
kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang,
sendi dan otot, gangguan saraf, dan penyakit jantung dan pembuluh darah
2. Instabilitas
Penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor intrinsik (hal-hal yang
berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena proses menua,
penyakit maupun faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari luar tubuh)
seperti obat-obat tertentu dan faktor lingkungan. Akibat yang paling
sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bahagian tertentu dari
tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala,
luka bakar karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi. Selain
daripada itu, terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi
pergerakannya.
3. Beser
Beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang sering
didapati pada lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah
dan kekerapan yang cukup mengakibatkan masalah kesehatan atau sosial.
Beser bak merupakan masalah yang seringkali dianggap wajar dan normal
pada lansia, walaupun sebenarnya hal ini tidak dikehendaki terjadi baik
oleh lansia tersebut maupun keluarganya. Akibatnya timbul berbagai
masalah, baik masalah kesehatan maupun sosial, yang kesemuanya akan
memperburuk kualitas hidup dari lansia tersebut. Lansia dengan beser bak
sering mengurangi minum dengan harapan untuk mengurangi keluhan
tersebut, sehingga dapat menyebabkan lansia kekurangan cairan dan juga
berkurangnya kemampuan kandung kemih. Beser bak sering pula disertai
dengan beser buang air besar (bab), yang justru akan memperberat keluhan
beser bak tadi.
4. Gangguan intelektual
Merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi
intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan
terganggunya aktivitas kehidupan shari-hari
5. Infeksi
Merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia, karena
selain sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang
menyebabkan keterlambatan di dalam diaggnosis dan pengobatan serta
risiko menjadi fatal meningkat pula. Beberapa faktor risiko yang
menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi karena kekurangan
gizi, kekebalan tubuh:yang menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ
tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang
menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Selain daripada
itu, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah
tubuh mengalami infeksi.
6. Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit:
Akibat prosesd menua semua pancaindera berkurang fungsinya, demikian
juga gangguan pada otak, saraf dan otot-otot yang digunakan untuk
berbicara dapat menyebabkn terganggunya komunikasi, sedangkan kulit
menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang
minimal.
7. Sulit buang air besar (konstipasi)
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi, seperti
kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung serat,
kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain.
Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi
tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering,
dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa
penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.
8. Depresi
Perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya
kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua
menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia. Namun
demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan
penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun
terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul
seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal
ataupun tidak khas. Fejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih,
tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran
dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak
ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk
memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat, hilangnya
kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa
rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah
dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan
gejala-gejala fisik lainnya. Akan tetapi pada lansia sering timbul depresi
terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit
kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan
lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.
9. Kurang gizi
Kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan perubahan lingkungan
maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan
untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari
masyarakat) terutama karena gangguan pancaindera, kemiskinan, hidup
seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat tua dan baru
kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan berupa
penyakit fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan lain-
lain.
10. Tidak punya uang
Dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan mental
akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan
ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan
pekerjaannya sehingga tidak dapat memberikan penghasilan. Untuk dapat
menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit tiga
syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang
layak, mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.
11. Penyakit akibat obat-obatan
Salah satu yang sering didapati pada lansia adalah menderita penyakit
lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak,
apalagi sebahagian lansia sering menggunakan obat dalam jangka waktu
yang lama tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan timbulnya
penyakit akibat pemakaian obat-obatan
12. Gangguan tidur
Dua proses normal yang paling penting di dalam kehidupan manusia
adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat penting akan tetapi
karena sangat rutin maka kita sering melupakan akan proses itu dan baru
setelah adanya gangguan pada kedua proses tersebut maka kita ingat akan
pentingnya kedua keadaan ini. Jadi dalam keadaan normal (sehat) maka
pada umumnya manusia dapat menikmati makan enak dan tidur nyenyak.
Berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia,
yakni sulit untuk masuk dalam proses tidur. tidurnya tidak dalam dan
mudah terbangun, tidurnya banyak mimpi, jika terbangun sukar tidur
kembali, terbangun dinihari.
13. Daya tahan tubuh yang menurun
daya tahan tubuh yang menurun pada lansia merupakan salah satu fungsi
tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang walaupun
tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat pula
karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita
(menahun) maupun penyakit yang baru saja diderita (akut) dapat
menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang. Demikian juga
penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi
organ-organ tubuh dan lain-lain.
14. Impotensi
Merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan
ereksi yang cukup untuk melakukan sanggama yang memuaskan yang
terjadi paling sedikit 3 bulan. (andry, 2013).
2.2 Konsep Medis
2.2.1 Pengertian
Gout arthritis atau asam urat merupakan gangguan metabolisme yang
sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno oleh Hipokrates. Penyakit ini
berhubungan dengan tingginya kadar asam urat dalam darah. Asam urat
merupakan hasil metabolisme yang tidak boleh berlebihan di dalam tubuh, setiap
manusia memiliki kadar asam urat di dalam tubuhnya yang merupakan hasil dari
metabolisme sedangkan pemicu lainnya yang menyebabkan kadar asam urat
tinggi adalah senyawa yang banyak mengandung purin . Penyakit ini terjadi jika
timbunan kristal asam urat yang mengendap dalam persendian meningkat.
Peningkatan tersebut dapat disebabkan ginjal yang mengalami gangguan
membuang asam urat dalam jumlah yang banyak. Gout arthritis dapat bersifat
primer maupun sekunder. Gout primer terjadi secara langsung akibat
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau penurunan ekskresi asam urat.
Gout sekunder terjadi akibat pembentukan asam urat berlebih atau ekskresi asam
urat berkurang, disebabkan oleh proses penyakit lain atau pemakaian obat-obatan
tertentu (Price & Wilson, 2014).
Gout arthritis merupakan kelompok keadaan heterogenous atau beraneka
ragam yang berhubungan dengan efek genetik pada proses metabolisme purin atau
hiperurisemia. Pada keadaan yang dapat terjadi oversekresi asam urat atau defek
renal yang mengakibatkan menurunnya ekskresi asam urat, atau kombinasi dari
keduanya, ditandai dengan meningkatnya kristal asam urat didalam plasma. Kadar
normal asam urat pada pria : 3,0-7,1 mg/dL dan wanita : 2,6-6,0 mg/dL (Smeltzer
& Bare, 2013).
Gout arthritis adalah suatu proses inflamasi yang terjadi karena deposisi
kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi (tofi). Gout juga merupakan istilah
yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai dengan
meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia) (Misnadiarly, 2014).
Menurut Fitriana (2015), Gout athritis merupakan penyakit yang
diakibatkan oleh kelainan pada metabolisme dengan gejala adanya peningkatan
konsentrasi asam urat dalam darah. Gout merupakan sekelompok penyakit
heterogen yang terjadi akibat deposisi kristal monosodium urat (MSU) pada
jaringan atau akibat supersaturasi asam urat pada cairan ekstraseluler. Dasar
gangguan metabolik Gout adalah hiperuisemia yaitu kadar asam urat (menurut
Council For International Organisation of Medical Sciences/CIOMS) untuk pria >
7 mg/dl dan untuk wanita > 6 mg/dl; sedangkan menurut Roche kadar normal
untuk pria sekitar 3,4 – 7,0 mg/dl dan untuk wanita 2,4 – 5,7 mg/dl (Ongkowijaya,
2013).
2.2.2 Etiologi
Gout dapat disebabkan karena penggunaan obat diuretik dalam jangka
waktu yang lama bagi penderita hipertensi, karena obat-obatan tertentu (termasuk
aspirin), atau mengkonsumsi makanan yang tinggi protein disebut purin yang
menghasilkan monosodium urat (MSU) ketika matabolisme. Gout biasanya
muncul secara alami, namun satu dari tiga kasus memiliki kecenderungan
mewarisi: tubuh menghasilkan terlalu sedikit enzim yang dibutuhkan untuk
metabolisme monosodium urat (MSU), adanya gangguan pada fungsi ginjal yang
dapat mencegah pengeluaran serum MSU yang berlebih, dan tubuh memproduksi
purin dalam jumlah yang banyak. Serangan sering diakibatkan karena
mengkonsumsi alkohol, obat salisilat, seperti aspirin dan NSAIDs yang dapat
menghambat pemulihan dengan merusak pengeluaran MSU dari darah. Faktor
resiko lainnya termasuk obesitas, lemak darah, kanker, obat kemoterapi, serta sel
sabit atau anemia hemolitik (Krisnatuti & Rina, 2016).
2.2.3 Tanda dan gejala
Gout arthritis memiliki tanda dan gejala tertentu dan hampir pasti terjadi
pada penderita, yaitu : terjadinya peradangan dan nyeri pada sendi secara
maksimal selama sehari, sejumlah sendi meradang (oligoarthritis), adanya
hiperurisemia atau kadar asam urat yang berlebih didalam darah, terdapat kristal
asam urat yang khas di dalam cairan sendi, serangan unilateral di satu sisi pada
sendi pertama, terutama pada sendi ibu jari, sendi terlihat kemerahan, terjadi
pembengkakan asimetris pada satu sendi, namun tidak ditemukan bakteri pada
saat serangan atau inflamasi. Gejala lain yang muncul ialah suhu badan meningkat
(demam), kepala terasa sakit, nafsu makan berkurang serta jantung berdebar tidak
normal (Fitriana, 2015).
Menurut Misnadiarly (2014), terdapat empat tahap dari perjalanan klinis
penyakit gout yang tidak diobati, antara lain:
1. Tahap pertama adalah hiperurisemia asimptomatik.
Penderita tidak menunjukkan gelaja selain peningkatan kadar asam urat
serum dan hanya 20% dari penderita hiperurisemia asimptomatik yang
terjadi serangan gout akut.
2. Tahap kedua adalah gout arthritis akut
Terjadi pembengkakan dan nyeri yang luar biasa, biasanya terjadi pada
sendi ibu jari kaki dan metatarsofalageal, dan menunjukan tanda- tanda
peradangan lokal. Mungkin terdapat demam dan peningkatan jumlah sel
darah putih. Sendi-sendi yang lain dapat terserang, termasuk sendi jari- jari
tangan, lutut, mata kaki, pergelangan tangan, dan siku. Serangan gout akut
biasanya pulih dalam waktu 10 sampai 14 hari tanpa pengobatan.
3. Tahap ketiga ialah intercritical
Tidak adanya gejala pada tahapan ini yang dapat berlangsung beberapa
bulan samapi tahun. Jika tidak diobati dalam waktu kurang dari 1 tahun,
kebanyakan orang mengalami serangan gout secara ber ulang.
4. Pada tahap keempat adalah gout kronis
Jika pengobatan tidak dimulai, timbunan urat terus menerus bertambah
dalam beberapa tahun. Peradangan kronis akibat kristal asam urat dapat
menyebabkan nyeri, kaku, dan adanya tonjolan dari sendi yang bengkak
2.3.4 Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan
berlebihan atau penurunan sekresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat
adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin
menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut : sintesis purin melibatkan
dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan (salvage pathway).
1. Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat
melalui serangkaian precursor nonpurin. Subtrat awalnya adalah
ribose-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi
nukleotida purin (asam inositat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini
dikendalikan oleh serangkaian mekanisme kompleks, dan terdapat
beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu Terdapat suatu
mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk,
yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.
2. Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui
basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan.
Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo.
Basa purin bebas (adenine, guanine, hioxatin). Berkondensasi dengan
PRPP untuk membentuk prekusor nukleotida purin dari asam urat.
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian
kecil asam urat yang diresorpsi kemudian dieksresikan di nefron distal dan
dikeluarkan melalui urin. Pada penyakit gout arthritis, terdapat gangguan
keseimbangan metabolisme (pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut
meliputi :
1. Penurunan asam urat eksresi asam urat secara idiopatik
2. Penurunan eksresi asam urat sekunder, misalnya karena gagal
ginjal
3. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh
tumor atau peningkatan sintesis purin
4. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin
5. Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan
kadar asam urat dalam tubuh (Ode, 2012).
2.2.5 Upaya Penanggulangan

Pengobatan gout arthritis bergantung pada pada tahap penyakitnya.


Hiperurisemia asimtomatik biasanya tidak membutuhkan pengobatan. Serangan
akut gout arthritis diobati dengan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid atau
kolkisin. Obat-obatan yang diberikan dalam dosis tinggi atau dosis penuh untuk
mengurangi peradangan akut sendi. Kemudian dosis ini diturunkan secara
bertahap dalam beberapa hari. Pengobatan gout kronik berdasarkan usaha untuk
menurunkan produksi asam urat atau meningkatkan ekskresi asam urat oleh ginjal.
Obat allopurinol menghambat pembentukan asam urat dari prekursornya atau
xantin dan hipoxantin dengan menghambat enzim xantin oksidase. Obat-obatan
urikosurik dapat meningkatkan ekskresi asam urat dengan menghambat reabsorpsi
tubulus ginjal. Semua produk aspirin harus dihindari, karena menghambat kerja
urikosurik. (Price & Wilson, 2014).

Adapun penangan atau terapi komplementer untuk penderita asam urat


adalah kompres hangat dan kompres jahe. Penggunaan kompres hangat
memberikan efek mengatasi dan menghilangkan sensasi nyeri, teknik ini juga
memberikan reaksi fisiologis antara lain meningkatkan respons inflamasi, dan
meningkatkan aliran darah dalam jaringan. Tidak hanya kompres hangat tetapi
juga kompres jahe yang efektif menurunkan nyeri. Kompres jahe adalah salah satu
kombinasi antara terapi hangat dan terapi relaksasi yang bermanfaat pada
penderita nyeri sendi. Penggunaan jahe dalam bentuk kompres lebih aman
dibandingkan dengan penggunaan ekstrak jahe secara oral. Jahe memiliki efek
farmakologis dan fisiologis seperti efek panas, antinflamasi, antioksidan,
antitumor, antimikroba, anti-diabetik, antiobesitas, antiemetik (Depkes RI, 2011).

2.3 Asuhan Keperawatan

2.3.1 Pengkajian

Pengumpulan data klien, baik subjektif maupun objektif melalui anamnesis


riwayat kesehatan dahulu, sekarang, riwayat penyakit keluarga, pola makan,a
aktivitas, pemerksaan fisik melalui teknik inspeksi, auskultasi dan palpasi
(stanley,Mikey 2012)

a. Anamnesis : identitas (meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis


kelamin, alamat, agama , status perkawinan.

b. Riwayat pendidikan sekarang: Pengumpulan data dilakukan sejak


munculnya keluhan dan secara umum mencangkup awal gejala dan
bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting ditanyakan berapa lama
pemakaian obat analgesik, allopurinol

c. Riwayat penyakit dahulu: Pada pengkajian ini, ditemukan


kemungkinanpenyebab yang mendukung terjadinya gout (misalnya
penyakit gagal ginjal kronis, leukemia dsb). Masalah lain yang perlu
ditanyakan adalah pernakah klien dirawat dengan masalah yang sama.
Kaji adanya pemakaian alkohol yang berlebihan, penggunaan obat
deuretic.

d. Riwayat penyakit keluarga : Kaji adanya keluarga dari generasi


terdahulu yang mempunyai keluhan yang sama dengan klien karena
klien gout dipengaruhi oleh faktor genetik

e. Aktivitas dulu dan sekarang : Seseorang yang tak pernah berolahraga


atau diikutsertakan dalam aktivitas mungkin memilki kesukaran dalam
memulai suatu program latihan diusia lanjut, terutama jika aktivitas
tersebut sulit atau menyakitkan.

f. Pola nutrisi: Menggambarkan masukan nutris, nafsu makan, pola


makan, kesulitan menelan dan mual muntah

g. Pola eliminasi : Menjelaskan pola fungsi ekskresi, defekasi ada tidaknya


masalah defekasi

h. Persoal hygine : Berbagai kesulitan melaksanakan aktivitas pribasi,


ketergantungan

i. Neurosensori : Kebas/kesemutan tangan dan kaki, hilang sensasi jari


tangan, pembengkakan pada sendi.

2.3.2 Diagnosa

a. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penurunan fungsi tulang

b. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidakmampuan untuk melakukan


pergerakan

c. Resiko injury b/d ketidakmampuan dalam bergerak

d. Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah


2.3.3 Intervensi Keperawatan

Menurut sarif 2012, intervensi dari beberapa diagnosa yaitu :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri

Rencana Tindakan :

1) Kaji keluhan nyeri, catat lokasi, intensitas dan kualitas nyeri (0-10)

2) Beri matras atau kasur keras, bantal kecil, tinggikan linen tempat tidur
sesuai kebutuhan

3) Biarkan klien mengambil posisi yang nyaman waktu tidur/duduk


dikursi. Tingkatkan istirahat ditempat tidur sesuai kebutuhan

4) Dorong untuk sering ubah posisi

5) Bantu klien bergerak di tempat tidur

6) Sokong sendi yang sakit diatas dan dibawah, hindari gerakan yang
menyentak.

7) Anjurkan klien mandi air hangat atau air pancur saat bangun pagi

8) Berikan masase yang lembut

9) Kolaborasi obat sebelum aktvitas atau latihan yang di rencanakan

2. Kerusakan mobilitas fisik b/d ketidakmauan untuk melakukan pergerakan

Rencana tindakan :

1) Kaji pengetahuan klien dan keluarga dalam hal perawatan bagi


penderita mobilitas

2) Nilai keyakinan klien terhadap setiap usaha perawatan

3) Monitor cara latihan yang telah dilakukan oleh klien

4) Monitor TTV

5) Monitor kekuatan otot dan ROM pada klien

6) Diskusikan cara-cara mlatih pergerakan pada klien

7) Demonstrasikan cara-cara melatih pergerakan pada klien dan keluarga


8) Kolaborasi, beri lingkungan yang aman dan anjurkan untuk
menggunakan alat bantu

9) Kolaborasi obat-obatan sesuai indikasi (steroid)

3. Resiko injury

Rencana Tindakan

1) Kaji pengetahuan klien dan keluarga terhadap perubahan fisik pada


lanjut usia dan akibatnya

2) Monitor TTV

3) Diskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai perubahan pada


lanjut usia, proses menua, perubahan pada system tubuh, akibat
perubahan

4) Gali pengetahuan klien dan keluarga mengenai upaya pencegahan


agar klien tidak jatuh

5) Monitor sumber-sumber dalam keluarga yang ada dan dapat


digunakan peralatan biaya tenaga

6) Kaji faktor pendukung terjadinya jatuh : kondisi rumah, kondisi


penderita

7) Diskusikan cara-cara pencegahan jatuh pada klien modifikasi


lingkungan

8) Beri motivasi klien dan keluarga untuk mempraktekan cara


pencegahan

9) Beri pujian atas usaha yang dilakukan.


BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
1. Data Umum
a) Tanggal Pengkajian :03 desember 2018
b) Nama Kepala Keluarga :Ny.J
c) Umur :63 Tahun
d) Agama : Protestan
e) Alamat : Dusun 1 , tuntungan II
f) Pekerjaan : PNS
g) Pendidikan : DIII
h) Suku/pekerjaan : Karo/Indonesia
i) Komposisi Keluarga :

Jenis
No Nama Hubungan Umur Pendidikan Pekerjaan
Kelamin
Kepala
1 Ny.J 73 th DIII PNS Perempuan
keluarga

2. Keluhan Utama
Ny.J sudah mengalami keluhan dengan kaki kebas-kebas pada persendian kaki
jika berdiri terlalu lama bagian sendi-sendi kaki terasa sakit. Ketika banyak
bergerak Ny.J merasa mudah lelah dan kedua kaki klien jika melakukan
aktivitas klien selalu mudah capek. Keadaan Ny.J setelah dilakukan pengkajian
ulang tubuhnya terasa lemah dan mudah lelah saat melakukan aktivitas.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang

a. Provocative/palliative

1) Apa penyebabnya

Keadaan badan terasa lemah dan mudah lelah setiap melakukan


aktifitas yang banyak kemungkinan di sebabkan oleh adanya
gangguan mobilisasi fisik pada bagian kaki dan tidak dapat
digerakan diakibatkan oleh kehilangan kekuatan/tonus otot.
2) Hal-hal yang memperbaiki keadaan

Klien hanya gangguan mobilisasi fisik dan klien jika merasa


kakinya kebaskebas dan jika tidak terasa menginjak kan kaki
nya ke lantai klien meluruskan kakinya di atas tempat tidur dan
tonus otot, sendi yang terasa kebas dan keram merasa nyaman
dan rileks.
b. Quantity/Quality

1) Bagaimana dirasakan

Saat ingin melakukan aktifitas, saat kaki di injakkan terasa seperti


menebal dibagian kaki terasa melemah dan rasanya tidak bisa
menopang berat tubuh hingga tubuh terasa lemah.
2) Bagaimana dilihat
Saat dilakukan pengkajian, klien bersedia untuk berdiri tetapi tidak
bertahan lama karena terasa sakit
c. Region

1) Dimana lokasinya

Kebas-kebas dan nyeri di bagian jari dan kaki bagian kiri dan
kanan itulah yang membuat klien lemah untuk melakukan
aktifitas.
2) Apakah menyebar

Klien mengatakan nyeri dan kebas-kebas jika kakinya ditekuk


dan jika kelamaan duduk nyeri dan kebasnya menyebar ke
pinggang, dan jari-jari kaki, lutut tidak terasa jika menginjak kaki
terasa lemah.

d. Provocative/palliative

1) Apa penyebabnya

Klien keadaan badan terasa lemah dan mudah lelah setiap melakukan
aktifitas yang banyak kemungkinan di sebabkan oleh adanya gangguan
mobilisasi fisik pada bagian kaki dan tidak dapat digerakan
diakibatkan oleh kehilangan kekuatan/tonus otot.

2) Hal-hal yang memperbaiki keadaan

Klien hanya gangguan mobilisasi fisik dan klien jika merasa kakinya
kebaskebas dan jika tidak terasa menginjak kan kaki nya ke lantai
klien meluruskan kakinya di atas tempat tidur dan tonus otot, sendi
yang terasa kebas dan keram merasa nyaman dan rileks.

e. Quantity/Quality

1) Bagaimana dirasakan

Saat ingin melakukan aktifitas, saat kaki di injakkan terasa seperti


menebal dibagian kaki terasa melemah dan rasanya tidak bisa menopang
berat tubuh hingga tubuh terasa lemah.

2) Bagaimana dilihat

Saat dilakukan pengkajian, klien bersedia untuk berdiri tetapi tidak


bertahan lama karena terasa sakit
f. Region

1) Dimana lokasinya

Kebas-kebas dan nyeri di bagian jari dan kaki bagian kiri dan kanan
itulah yang membuat klien lemah untuk melakukan aktifitas.
2) Apakah menyebar

Klien mengatakan nyeri dan kebas-kebas jika kakinya ditekuk dan


jika kelamaan duduk nyeri dan kebasnya menyebar ke pinggang, dan
jari-jari kaki, lutut tidak terasa jika menginjak kaki terasa lemah.

g. Severity
Klien mengatakan dengan keadaannya yang seperti ini ( lemah, mudah lelah
saat melakukan aktifitas yang berlebihan serta kakinya yang terlihat terganggu
mobilitas fisiknya, otot dan sendi, tulang terlihat lemah. Dan kemampuan klien
yang terlihat yang membuat klien nyaman kaki klien melakukan tehnik ROM
dilakukannya dengan meluruskan kaki dan menyenderkan pinggang ke kursi.
h. Time

Klien merasakan kebas, sakit pada bagian otot kakinya itu jika klien terlalu
banyak beraktivitas dan ketika kaki di tekuk.
3. Riwayat kesehatan masa lalau
a. Penyakit yang pernah dialam
Klien tidak memiliki riwayat penyait masa lalu.
b. Pengobatan/ tindakan yang dilakukan
Klien rutin melakukan pemeriksan Kadar Gula Darah ke bidan desa.
c. Lama dirawat/dioperasi
Klien tidak pernah dirawat di Rumah Sakit ataupun dioperasi.
d. Lama dirawat
Klien tidak pernah dirawat di Rumah Sakit.
e. Alergi
Klien tidak memiliki riwayat alergi, baik alergi makanan ataupu
obat-obatan.
f. Imunisasi
Klien tidak bisa mengingat apakah status imunisasi dahulu
lengkap, dan klien mengatakan zaman dahulu imunisasi sulit untuk
diperoleh.
4. Riwayat Kesehatan keluarga
a. Orang tua
Klien mengatakan kedua orangtuanya sudah meninggal pada usia 60
tahun, dan ibu 63 tahun. Diketahui orang tua klien meninggal karena
suatu penyakit yang dialami tetapi memang karena faktor usia.
b. Saudara kandung
Klien memiliki 9 saudara, dan anak dari klien sudah menikah dan
sudah mempunyai anak.
c. Penyakit keturunan yang ada
Klien mengatakan selama ini yang ia ketahui tidak ada penyakit keturunan
dari kedua orang tua.
5. Riwayat kedaan psikososial
a. Persepsi pasien tentang penyakitnya
Klien tetap semangat walaupun pergerakan fisik nya terganggu setiap
melakukan aktifitas.
b. Konsep diri
1) Gambaran diri: klien mengatakan kalau dulu klien adalah orang yang
sangat pekerja keras.
2) Ideal diri: klien mengatak sudah terbiasa dengan penyakitnya dan
kondisinya.
3) Harga diri: klien mengatakan kalau dirinya masih sehat dan berguna
buat keluarganya.
4) Peran diri: Klien mengatakan merasa tidak dapat lagi mengerjakan
pekerjaannya secara keseluruhan karena kondisi tubuh yang mulai
lemah.
5) Identitas: klien adalah Ibu rumah tangga yang sekarang tingggal
sendiri di rumahnya karena semua anaknya sudah menikah.
c. Keadaan emosi
Klien memiliki sifat yang penuh kesabaran.Klien juga selalu bersemangat
dengan keadaannya.
Hubungan sosial :Klien mengatakan sangat dekat dengan teman
tetangganya.Klien juga sangat aktif dalam perkumpulan gereja.
d. Orang yang berarti : Bagi klien orang yang berarti dalam hidupnya adalah
kedua orang tua dan anak anaknya.
e. Hubungan dengan keluarga : klien mengatakan hubungan dengan semua
keluarga selama ini baik-baik saja dan harmonis.
f. Hubungan dengan orang lain : klien mengatakan selalu berusaha
menjaga hubungan baik dengan tetangga maupun dengan orang lain diluar
lingkungan rumah sekalipun.
g. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : klien tidak
memiliki hambatan saat berhubungan atau berkomunikasi dengan
orang lain.
h. Nilai dan keyakinan

Klien memiliki nilai sepiritual yang tinggi, klien meyakini sekali


kalau penyakitnya ini berasal dari ALLAH dan atas dasar karena
kasih sayang dari Tuhan pulalah penyakitnya akan sembuh.
i. Kegiatan ibadah

Klien memiliki jadwal ibadah yang sama sekali tidak boleh ia


tinggalkan walau dalam kondisi apapun yaitu sholat 5 waktu,
walaupun terkadang klien mengatakan kalau ia sering lupa bacaan
sholat.
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Klien tampak lemah, terlihat kelelahan jika banyak berbicara, merasa
kebaskebas jika banyak bergerak.kaki tidak ada udem.
b. Tanda-tanda vital
- Suhu tubuh : 36 oC
- Tekanan darah : 130/80
- Nadi : 34x/menit
- Pernafasan : 22x/menit TB : 163 cm
c. BB : 80 kg
d. Pemeriksaan Head to toe
1) Kepala dan rambut
Bentuk : bulat dan simetris Ubun-ubun : fontanel anterior Kulit kepala :
kulit kepala bersih
2) Rambut
Penyebaran dan keadaan rambut Setengah dari rambut klien warnanya
sudah berubah menjadi uban dan penyebaran rambut merata diseluruh
kepala, Rambut klien mudah berkeringat., Warna kulit kepala kecoklatan.
3) Wajah Warna kulit
Warna kulit klien kuning langsat. Struktur wajah : simetris, wajah
berbentuk persegi
4) Mata
Klien memiliki sepasang mata (kanan kiri yang masih berfungsi secara
baik, dan memiliki ukuran yang simetris kanan dan kiri. Palpebra Kelopak
mata berfungsi dengan baik (reflek berkedip baik), posisi kelopak mata
simetris, warna anemis, serta pertumbuhan bulu mata merata pada bagian
kanan dan kiri.
5) Hidung
Tulang hidung dan posisi septum nasi Terdapat tulang hidung dengan
posisi septum nasi tepat ditengah (medialis). Posisi lubang hidung
simetris, tidak detemukan adanya pembengkakan, pernafasan cuping
hidung(-), tidak terdapat pengeluaran secret atau darah serta tidak di
temukan adanya massa. Pernafasan cuping hidung (-).
6) Mulut dan faring
7) Keadaan bibir Tidak terdapat adanya lesi, bekas terauma atau massa.
Mukosa bibit tampak kering.
8) Keadaan gusi dan gigi
Tidak ditemukan adnya pendarahan, keadaan gigi masih bagus (bersih,
karang gigi tidak ada), warna tampak putih.
9) Keadaan lidah
Warna permukaan lidah merah keputuh-putihan, penumpukan slem.
10) Oroparing
Normal, tidak ada ditemukan tanda-tanda peradangan serta uvula .
11) Thyroid
Dinyaatakan besar dan bentuknya normal. Saat berbicara klien
mengeluarkan kata-kata yang jelas.
12) Vena jugularis
Vena jugularis eksterna teraba lemah, bendungan vena- vena jugularis (+),
teraba jika klien batuk
13) Denyut nadi karotis
Dapat teraba vulsasi arteri karotis eksterna pada leher.
14) Pemeriksaan integument
Kulit tampak bersih, pruiritus (-), ruam (-)., Kulit teraba dingin dan
berkeringat. Warna kulit pucat dan kurangnya passokan O2 ke dalam
darah. Saat dilakukan tes, teraba turgor kulit kembali selama 3 menit. Kulit
teras sedikit kering karena kurangnya keinginan untuk minum.
15) Pemeriksaan thoraks/dada
1) Inspeksi thoraks (normal, burrel chest (-), funnel chest (-), pigeon chest
(-), flail chest (-), kifosis koliasis (-) Bentuk dada normal (Ratio A-P
lateral).
2) Frekuensi pernafasan dalam batas normal 22xmenit, bradipnea (-),
apnea (-).takipnea (-).
3) Tanda kesulitan bernafas : Ortopnea (-), chyne stone (-), kussmaul (-).
16) Pemeriksaan paru
- Palpasi getaran suara : Fremitus taktil normal, tidak terjadi
npeningkatan (adanya penimbunan cairan pada rongga dada), tidak
terjadi penurnan (atelektasi).
- Perkusi : Perkusi dada anterior terdengar suara resonan.
- Auskultasi :(suara nafas, suara ucapan, suara tambahan) Tidak
terdengar adanya suara tambahan(ronchi, wheezing,frction rub). Suara
nafas tersdengar bronkovesikuler: intesitas sedang.
17) Pemeriksaan abdomen
- Inspeksi (bentuk, benjolan), Simetris antara kanan dan kiri, tidak
terlihat adanya trauma dan pembengkakan.
- Auskultasi : Tidak terdengar adanya suara borborigmus/ indikasi
klien mengalami diare.
18) Pemeriksaan kelamin dan daerah sekitarnya : Genitalia (rambut pubis,
lubang uretra) Dalam batas normal
19) Pemeriksaan musculoskeletal :Ekstremitas atas Simetris antara kanan dan
kiri, adanya bekas trauma akibat sering jatuh,tingkat aktifitas mobilisasi : 0
(mampu merawat diri sendiri secara penuh.
20) Pemeriksaan neurologi (nervus cranial)
21) Fungsi motorik
Cara berjalan Klien berjalan dengan lambat serta dibantu/dipapah oleh
orang lain.
22) Romberg test
Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan karena klien tidak
bersedia/tidak mampu. Tes jari hidung Koordinasi baik
23) Pronasi-supinasi test.
Hanya dilakukan pada ekstremitas bawah dan hasilnya klien mampu
melakukan test.
24) Fungsi sensori (identifikasi sentuhan, tes tajam tumpul, panas dingin).
Klien dapat mengidentifikasi dengan baik adanya sentuhan tajamtumpul
serta sentuhan kapas dan mampu mengidentifikasi dimana sentuhan
tersebut dilakukan.
7. Pola Kebiasaa sehari-hari

a. Pola makan dan minum

- Frekuensi makan/harI : 3 x sehari

- Nafsu/selera makan :klien hanya menghabiskan 1/3dari porsi


nasi yang biasanya
- Nyeri ulu hati : klien menyatakan tidak merasakan adanya
nyeri ulu hati.
- Alergi : klien menyaakan tidak memiliki
riwayat alergI akan obat maupun makanan.
- Mual muntah : klien mengatakan tidak pernah mual muntah

- Waktu makan : pagi 08:00, siang 13:00, malam 18:00

- Jumlah dan jenis makan : satu porsi nasi, lauk pauk,sayur dan buah.
- Masalah makan : tidak ada kesulitan menelan maupun mengunyah.
b. Perawatan diri/personal hygiene

- Kebersihan : klien mengatakan mandi 2 x sehari

- Kebersihan gigi dan mulut : klien selalu menyikat giginya


setiap kali mandi.
- Kebersihan kuku dan kaki : kuku kaki klien terlihat pendek
dan pendek.
c. Pola kegiatan/aktivitas

- Untuk kegiatan makan, mandi,mengganti pakaian klien selalu


mandiri.
- Untuk aktivitas ibadah : klien rajin beribadah walaupun
terkadang kakinya kebas-kebas.
d. Pola eliminasi

BAB :

- Pola BAB : pola BAB klien 1 x sehari

- Karakter feses : tidak cair, kecoklatan.

- Riwayat perdarahan : klien tidak mempunyai riwayat


pendarahan pada saat BAB.
- BAB terakhir : konsistennya tidak cair

- Diare : klien tidak terkena diare

BAK

- Pola BAK : 2-3 x sehari.

- Karakter urin : kuning dengan jumlah urin sedang.

- Nyeri/rasa terbakar/kesulitan BAK : klien mengatakan


tidak ada kesulitan BAK.

- Riwayat penyakit ginjaj/kandung kemih : klien tidak ada


riwayat penyakit ginjal
3.2 Analisa data
No
Sign Syntom Problem Etiologi
Dx.
1 Data subjektif : Nyeri akut Agen cidera
1) Ny.J mengatakan merasa nyeri pada biologis
bagian sendi, jari kaki, pergelangan kaki, (gout)
lutut, jari tangan dan pergelangan tangan
seperti kesemutan dan kebas bahkan
seperti ditusuk-tusuk. Nyeri timbul saat
istirahat, saat beraktivitas dan duduk
dengan kaki berlipat terlalu lama .
2) Ny.J mengatakan menderita asam urat
sejak 6 bulan yang lalu
Data Objektif :
1) Skala nyeri 5
2) Jempol kaki, persendian jari, sendi lutut
dan pergelangan tangan dan kaki terlihat
bengkak, merah dan teraba hangat
3) Kadar asam urat serum 9 mg/dl
4) Pasien tampak kesulitan berjalan
5) Wajah tampak meringis

2 Data Subjektif : Hambatan Kaku sendi


1) Ny.J mengatakan merasa nyeri pada mobilitas fisik
sendi, jari kaki, pergelangan kaki,
lutut, jari tangan dan pergelangan
tangan
2) Ny.J mengatakan sulit beraktivitas
karena nyeri yang dialaminya.
3)Ny.L mengatakan tidak pernah
berolahraga sama selaki.
Data Objektif :
1) Jempol kaki, persendian jari, sendi
lutut dan pergelangan tangan dan
kaki terlihat bengkak, merah dan
teraba hangat
2) Ny.J tampak mengurut kakinya.
3) Nilai otot 3/5

3.3 Prioritas Masalah


Penilaian (Skoring) Diagnosa Keperawatan
DX 1 : Nyeri akut berhubungan dengan cidera biologis.

No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran

1. Sifat masalah : 1 3/3x2 = Ny.J mengatakan salit di bagian kaku


Aktual 1 sejak 6 bulan yang lalu.
2. Kemungkinan 2 2/2 x 2 Masalah dapat mudah dirubah karena
masalah dapat biaya dapat dijangkau keluarga,
diubah : Perawat dapat meberikan edukasi
Mudah kepada keluarga tentang gout atritis.
3. Potensi 1 3/3x 1 Kepekaan terhadap penyakit dapat
pencegahan : dicegah.
Tinggi
4. Menonjolnya 2 2/2 x 1 Keluarga menyadari bahwa itu
masalah adalah sebuah masalah dan inginn
segara diatasi.
Total Skor 5
DX 2 : Hambatan mobilitas fisik b/d Kaku sendi
No. Dx.
Kriteria Bobot Nilai Pembenaran
Kep
Sifat masalah : 3 /3 x 1 Masalah telah terjadi
1. 1
Aktual =1
Kemungkinan Keluarga kurang paham
2 / 2 x2
2. Masalah diubah : 2 tentang gout athritis.
=2
Mudah
Potensial Masalah Keluarga mau mengikuti
3/ 3 x 1
3. untuk dicegah : 3 penyuluhan kesehatan yang
=1
tinggi diberikan
Menonjolnya Keluarga mengetahui
masalah untuk masalah yang ada dan ingin
2 / 2 x1
4. dicegah : 2 seegera diatasi
=1
Masalah tidak
dirasakan

Total score 5
3.4 Diagnosa Keperawatan
No. Dx Diagnosa Keperawatan
1 nyeri akut b/d Agen cidera biologis (gout) d/d NyJ mengatakan
merasa nyeri pada bagian sendi, jari kaki, pergelangan kaki, lutut,
jari tangan dan pergelangan tangan seperti kesemutan dan kebas
bahkan seperti ditusuk-tusuk. Nyeri timbul saat istirahat, saat
beraktivitas dan duduk dengan kaki berlipat terlalu lama. Ny.J
mengatakan menderita asam urat sejak 6 bulan yang lalu. Skala
nyeri 5, Jempol kaki, persendian jari, sendi lutut dan pergelangan
tangan dan kaki terlihat bengkak, merah dan teraba hangat, Kadar
asam urat serum 9 mg/dl, Pasien tampak kesulitan berjalan, wajah
terlihat tegang.
2 Hambatan mobilitas fisik b/d Kaku sendi d/d Ny.J mengatakan
merasa nyeri pada sendi, jari kaki, pergelangan kaki, lutut, jari
tangan dan pergelangan tangan, Tn. D mengatakan sulit beraktivitas
karena terasa nyeri, Tn. D mengatakan tidak pernah berolahraga.
Jempol kaki, persendian jari, sendi lutut dan pergelangan tangan
dan kaki terlihat bengkak, merah dan teraba hangat, Ny.J tampak
mengurut kakinya, Nilai otot 3/5.
3.5 Intervensi Keperawatan
No Dx Noc (Tujuan ) NIC (Intervensi)
1 Setelah dilakukan tindakan Pain management :
keperawatan selama 3 kali kunjungan 1) Monitor TTV
diharapkan nyeri akut akut dapat 2) Kaji nyeri secara komprhnesif
teratasi.dengan kriteria hasil : 3) Kaji klien tentang kondisi
1) Klien tidak mengeluh nyeri pada ketidaknyamanan
bagian sendi, jari kaki, 4) Evaluasi pengalaman nyeri
pergelangan kaki, lutut, jari tangan 5) Kontrol faktor yang
dan pergelangan tangan dan sudah mempengaruhi nyeri
bisa digerakan 6) Ajarkan untuk mengontrol nyeri
2) Skla nyeri 0 – 3 dengan teknik non
3) Jempol kaki, persendian jari, sendi farmakologis/tekhnik relaksasi
lutut dan pergelangan tangan dan 7) Kaji tanda-tanda vital
kaki tidak terlihat bengkak, merah 8) Berikan posisi yang nyaman
dan tidak merah 9) Lakukan kompres hangat
4) Kadar asam urat serum < 8 mg/dl
5) Wajah tidak tampak meringis
kesakitan
2 Setelah dilakukan tindakan Manajemen aktivitas :
keperawatan selama 3x24 jam 1. Bantu aktivitas sehari-harinya
diharapkan hambatan mobilitas fisik 2. Bantu klien dalam perawatan dan
dapat teratasi. latihan diri
Kriteria hasil : 3. Tempatkan pasien diatas matras
1) Klien tidak mengeluh nyeri pada 4. Posisikan pasien dengan
sendi, jari kaki, pergelangan kaki, kesejajaran tubuh yang tepat
lutut, jari tangan dan pergelangan atau berikan semi fowler
tangan dan dapat digerakkan. 5. Sokong bagian tubuh yang
2) Klien tidak mengeluh sulit bengkak
beraktivitas. 6. Tempatkan barang klien dan
No Dx Noc (Tujuan ) NIC (Intervensi)
3) Jempol kaki, persendian jari, sendi lampu pemanggil dalam
lutut dan pergelangan tangan dan jangkauan pasien
kaki tidak bengkak dan tidak merah 7. Anjurkan klien untuk latiahn
gerak sendi seperti ROM
8. Observasi perubahan turgor kulit
9. Kolaborasi dengan ahli
fisioterapi untuk latihan fisik
klien seperti terapi pijat kaki
3.6 Implementasi Keperawatan
No. Hari/
Implementasi Evaluasi Ttd
Dx tang gal
1 Kamis, 6 - Mengukur vital sign S: pasien mengatakan nyeri
desember Ny.J dengan hasil Td: masih ada. Klien
2018 130/80mmhg,N: mengatakan nyeri seperti di
79x/menit, RR:21x/men tusuk – tusuk di bagian
it, S:36,40c.Klien menga kedua kaki tumit dan
takan selama ini lutut,nyeri timbul saat
tensinya masih bagus. beraktifitas.
- Mengkaji nyeri secara O:Td:130/80mmhg,N:79x/menit
komprehensif,Ny.J RR: 21x/menit, S: 36,40c,
mengatakan nyeri Ny. J terlihat rileks setelah
dibagian kedua lutut dilakukan kompres hangat
kaki dan tumit dan rendam air hangat di
kaki,Nyeri seperti kedua kakinya.
ditusuk tusuk,dan terasa
berat ketika beraktifitas.
A: Masalah belum teratasi.
- Mengajarkan teknik
untuk mengurangi rasa P: lanjutkan intervensi
nyeri (nafas - Monitor TTV
dalam),Ny.J - Kaji ulang nyeri
mengatakan terasa - Lakukan teknik
nyaman dan nyeri nonfarmakologi
berkurang saat tarik - Lakukan kompres air
napas dalam. hangat.
- Melakukan
kompres hangat untuk
mengurangi rasa
nyeri,Ny.J mengatakan
nyeri berkurang saat
tumit kaki di rendam
dengan air hangat.
No. Hari/
Implementasi Evaluasi Ttd
Dx tang gal
2 Kamis, 6 - Mengkaji keadaan umu S : Klien mengatakan sulit
desember pasien,Klien tampak untuk beraktivitas akibat
2018 meringis kesakitan saat nyeri yang di rasakan
beraktifitas. O : TD : 150/90 mmHg
- Mengukur vital sign HR : 88 x/i
dengan hasil TD : RR : 26 x/i
150/90 mmHg,HR : 88 T : 36,50C
x/i RR : 26 x/I ,T :
Kekuatan otot : 4
0
36,5 C
(rentang gerak
- Mengkaji kekuatan otot
komplit terhadap
kaki kanan
gravitas)
pasien,rentang gerak
A : masalah belum
komplit terhadap
teratasi
gravitas).
- Membantu klien dalam P : Intervensi dilanjutkan
perawatan dan latihan
diri,Klien tampak
kesulitan untuk pergi ke
kamar mandi.
- Menyokong bagian
tubuh yang bengkak
dengan menganjurkan
untuk memakai tongkat
untuk mencegah
terjadinya
kecelakaan/resiko jatuh.
- Menganjurkan klien
untuk latihan gerak
sendi,Klien mengatakan
No. Hari/
Implementasi Evaluasi Ttd
Dx tang gal
akan megikuti senam
lansia.
- Mengobservasi
perubahan turgor
kulit,Turgol kulit
ekstremitas bawah
terlihat odema.
1 Jumat, 7 - Mengukur vital sign S: pasien mengatakan nyeri
desembe klien dengan hasil Td: berkurang.

r 2018 120/80mmhg,N:78x/me O: Tekanan darah: 120/80mmhg,


nit,RR: 20x/menit, S: N: 78x/menit, RR: 20x/menit,
36,60c, S: 36,60c, Ny. M terlihat
- Mengkaji ulang tingkat tenang setelah dilakukan
nyeri Ny.J ,Ekspresi kompres hangat dan rendam
wajah rileks dan air hangat di kedua kakinya,
tenang,Nyeri sudah tidak pasien terlihat mampu
terasa. melakukan teknik non
- Mengajarkan teknik farmakologi dengan kompres
untuk mengurangi rasa hangat dan rendam air hangat.
nyeri (nafas A: Masalah keperawatan nyeri
dalam),Klien teratasi
mengatakan
- Melakukan
kompres hangat untuk
mengurangi rasa nyeri
No. Hari/
Implementasi Evaluasi Ttd
Dx tang gal
2 Jumat, 7 - Mengkaji keadaan S : klien mengatakan
desember umum pasien,Klien mengerti bahwa
2018 tampak rileks dan mapu pentingnya beraktivitas
melakukan aktifitas sehingga Ny.N sering
tanpa ada rasa tidak melakukan aktivitas.
nyaman. O : Ny.J bisa melakukan
- Membantu aktivitas aktivitas akan tetapi
klien sehari- hari dengan kaki kanan yang
sepertimembersihkan berjalan agak meyeret
kamar mandi dan A : Masalah teratasi
membersihkan kandang sebagian
ayam nya,Klien mampu P : Intervensi dilanjutkan.
mengerjakan walaupun
dengan lambat.
- Mengkaji kekuatan otot
kaki kanan pasien
- Membantu klien dalam
perawatan dan latihan
diri,Klien mengatakan
sangat senang dengan
bantuan yang diberikan.
- Memposisikan pasien
dengan kesejajaran
tubuh yang tepat atau
berikan semi
fowler,klien mengatakan
merasa nyaman.
- Menyokong bagian
tubuh yang bengkak
BAB 4
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan antara teori san
kasus dengan cara membandingkannya dan mengemukakan alasannya.Adapun
langkah-langkah pembahasan ini sesuai dengan proses keperawatan keluarga.
4.1 Pengkajian
Pada teori bab 2 tanda gan gejala penyakit asam urat yaitu:
1. nyeri,
2. bengkak di daerah persendian
3. terasa hangat
4. merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil
5. merasa lelah.
Pada kasus tanda dan gejala yang ditemukan sama dengan yang ada pada
teoti.Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.
4.2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang ada pada teori yaitu aktual. pada kasus Ny.J
penulis menemukan adanya 3 diagnosa keperawatan yaitu :
1. Hambatan mobilisasi Fisik
2. Nyeri akut.
3.Resiko Injuri.
Adapun diagnosa yang ditemukan dalam kasus ada 2 yaitu nyeri akut dan
hambatan mobilisasi fisik.Penulis tidak membahas atau menemukan resiko injri
karena dalam mintervensi telelah dilakukan pencegahan segera.

4.3. Intervensi
Intervensi adalah suatu rencana tindakan yang disusun untuk mengatasi
permasalahan yang dialami klien .Dalam proses pelaksanaan kasus ini penulis
melibatkan keluarga untuk melihat demonstrasi Latihan tentang
ROM,pemeliharaan lingkungan dan penyakit asam urat.
Penulis sudah membuat intervensi dengan sebaik mungkin. Agar klien dan
keluarga dengan mudah memahami dan meniru yang telah dilakukan oleh penulis.
4.4. Implementasi
Pada implementasi semua rencana yag telah disusun dapat dilaksanakan

dengan baik dan adanya kerja sama yang baik antara penulis dengan keluarga

serta keinginan yang tinggi dari keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan

dalam keluarga.Akan tetapi dalam hal berbincang bincang diminimalkan karena

waktu yang terbatas.

4.5 Evaluasi

Tahap evaluasi adalah dimana penilaian dari keberhasilan dari penulis

dalam melaksanakan implementasi yang telah di intervensikan

sebelumnya,dimana pada evaluasi ini ditemukan klien dapat menjelaskan tentang

penyakit asam urat.


BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka penulis membuat

kesimpulan yaitu:

1. Pengkajian

Pada tahap ini terdapat kesenjangan antara teori dan kasus hal ini terjadi

karena saat pengkajian penulis hanya memiliki waktu sekitar 20 menit di rumah

keluarga sehingga data kurang efektif dan juga karena pengetahuan penulis yang

juga masih kurang.

2.Diagnosa

Pada tahap ini kesenjangan yang terdapat pada teori dan kasus yaitu

perbedaan diagnosa yang ditemukan.

3.Intervensi

Penulis sudah membuat intervensi dengan sebaik mungkin. Agar klien dan
keluarga dengan mudah memahami dan meniru yang telah dilakukan oleh penulis.
4.Implementasi
Pada implementasi semua rencana yag telah disusun dapat dilaksanakan

dengan baik dan adanya kerja sama yang baik antara penulis dengan keluarga

serta keinginan yang tinggi dari keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan

dalam keluarga.Akan tetapi dalam hal berbincang bincang diminimalkan karena

waktu yang terbatas.

5.Evaluasi

Tahap evaluasi adalah dimana penilaian dari keberhasilan dari penulis


dalam melaksanakan implementasi yang telah di intervensikan

sebelumnya,dimana pada evaluasi ini ditemukan klien dapat menjelaskan tentang

penyakit asam urat.

5.2 Saran

Dari kesimpulan yang dibuat maka penulis memiliki beberapa saran agar

kedepannya dapat melakukan asuhan keperawatan yang lebih baik yaitu:

1. Agar pada saat PBL mahasiswa tinggal di desa tempat PBL sehingga

waktu yang dimiliki utuk masyarakat dalam tahap pengkajian sampai

evaluasi lebih baik.

2. Agar anggota PBL memiliki sumber maupun literature yang cukup

sehingga keakuratan antara teori dan kasus tercapai.

3. Disarankan agar fasilitas yang mendukung proses PBL dipersiapkan

sebelum melakukan PBL.