Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERSIAPAN PENYEMPURNAAN


PROSES PENGELANTANGAN (BLEACHING) PADA KAPAS
DENGAN VARIASI METODA
MENGGUNAKAN H2O2

Kelompok 2
Disusun oleh : Ahmad Jauhari N. (15020092)
Arlin Rosmanita (15020093)
Atih Fauzi H. (15020095)
Ryan Suryadi (15020116)
Grup : 2K4
Nama Dosen : M. Ichwan, AT , MS.Eng.
Asisten Dosen : Eka O., S.ST., MT.
Priatna
Tanggal Praktikum : 13 Oktober 2016

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL


POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL
BANDUNG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Maksud
Melaksanakan proses bleaching pada kain kapas menggunakan variasi metoda (exhaust,
pad steam, dan pad batching) menggunakan H2O2.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum :
 Memvariasikan Metoda (exhaust, pad steam, dan pad batching) untuk mengetahui
pengaruh terhadap hasil pengelantangan
 Mengevaluasi masing-masing kain terhadap masing-masing metoda dengan cara uji
penilaian derajat putih secara kualitatif
 Mengidentifikasi metoda yang optimal untuk digunakan pada proses bleaching.
Sehingga praktikan dapat memahami pengaruh metoda exhaust, pad steam dan pad batching
terhadap hasil pengelantangan, serta dapat menentukan metoda yang optimal untuk digunakan
pada proses.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Serat Kapas
Menurut perkiraan serat kapas telah dikenal sejak + 500 tahun sebelum masehi dan
para ahli sependapat India adalah Negara tertua yang menggunakan kapas pada tahun + 500
sebelum masehi.
Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman, yang termasuk dalam jenis
Gossypium, yaitu :
 Gossypium arboreum (berasal dari India)
 Gossypium herbareum (asal tidak jelas)
 Gossypium barbadense (berasal dari peru)
 Gossypium hirsutum (berasal dari Meksiko selatan, dan Amerika tengah)
Spesies yang berhasil di kembangkan menjadi tanaman industri adalah Gossypium
hirsutum yang dikenal sebagai kapas upland yang merupakan 87% produksi dunia. Gossypium
barbadense di Amerika kemudian muncul sebagai tanaman yang menghasilkan kapas dengan
mutu tinggi karena seratnya halus dan stapelnya panjang yang dikenal dengan kapas sea island
dan merupakan 8% produksi dunia, kapas ini digunakan untuk bahan-bahan tekstil dengan mutu
tinggi. Tanaman ini tumbuh dengan baik didaerah lembab dan banyak disinari matahari. Sifat
dan kualitas kapas tergantung pada tempat berkembang.
Adapun komposisi serat kapas dapat dilihat pada tabel berikut :
Komposisi % Pada Serat % Pada Dinding Primer
Selulosa 88 – 96 52
Pektin 0,7 - 1,2 12
Lilin 0,4 – 0,1 7
Protein 1,1 – 1,9 12
Abu 0,7 – 1,6 3
Senyawa Organik 0.5 – 1,0 14
*Sumber : Serat-serat Tekstil, Institut Teknologi Tekstil Bandung.

Komposisi selulosa murni diketahui sebagai suatu zat yang terdiri dari unit-unit anhidro-
β-glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n , dimana n merupakan derajat polimerisasi yang
tergantung dari besarnya molekul, berikut ini merupakan struktur molekul dari selulosa :

H OH CH 2 OH H OH CH 2 OH

HO H H O H O
OH H O OH H OH
H H H

H H H O H
O OH H OH
H H H
O O
CH 2 OH H OH CH 2 OH H OH

2.1.1. Morfologi serat


 Penampang membujur : seperti pipa terpilin
 Penampang melintang : seperti ginjal
 Dimensi serat : Pada umumnya bervariasi dari (p:d) 1000 : 1 sampai 5000 : 1

2.1.2. Sifat-sifat Serat Kapas


Sifat - sifat kimia
Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan
pemakaian yang normal. Beberapa zat oksidasi atau penghidrolisa dapat menyebabkan
penurunan kekuatan. Kerusakan karena oksidasi ditandai dengan terbentuknya
oksiselulosa yang biasanya terjadi pada proses pemutihan yang berlebih, penyinaran
dalam kondisi lembab atau pemanasan yang lama pada suhu 140℃ .
Asam-asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa dalam rantai selulosa
membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan menyebabkan degradasi yang cepat
sedangkan larutan yang encer apabila dibiarkan mongering pada serat akan menyebabkan
penurunan kekuatan.
Alkali mempunyai sedikit pengaruh pada kapas kecuali larutan alkali kuat dengan
konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan penggelembungan pada serat seperti pada
proses merserisasi. Pada kondisi ini dinding primer menahan penggelembungan serat
kapas keluar sehingga bagian lumennya sebagian tertutup, irisan melintang menjadi lebih
bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau, lebih kuat dan afinitas
terhadap zat warna menjadi lebih besar.

Sifat – sifat fisika


1. Warna, warna serat kapas sedikit cream tidak berwarna putih.
2. Kekuatan, kekuatan serat kapas perbundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon per
inci persegi. Dalam keadaan basah kekuatan serat kapas akan lebih besar.
3. Mulur, mulur serat kapas sekitar 4-13% dengan rata-ratanya 7%.
4. Moisture regain serat kapas pada kondisi standar adalah 7 – 8,5%
5. Berat jenis kapas berkisar 1,50 – 1,56.
6. Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat adalah 1,58 sedangkan yang tegak
lurus adalah 1,53.
2.2. Proses Persiapan Penyempurnaan
Proses persiapan penyempurnaan adalah semua proses kimia maupun mekanik yang
dilakukan terhadap bahan tekstil yang terbuat dari serat alam maupun serat sintetik,
sebelum mengalami proses pencelupan, pencapan, dan penyempurnaan dengan tujuan
supaya proses proses tersebut dapat berjalan dengan lancar dan hasilnya sesuai dengan
yang diharapkan.
Secara garis besar proses ini meliputi penghilangan kanji, pemasakan, dan
pengelantangan, serta pretreatmen (penyikatan, bakar bulu, penghilangan kanji dan
pemasakan).
Proses persiapan pada dasarnya bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang
terdapat pada serat, terutama selulosa. Sehingga bahan memiliki daya serap dan derajat
putih yang baik. Adapun kotoran bahan tekstil pada umumnya adalah :
 Kotoran alamiah, kotoran ini timbul bersama dengan terjadinya pertumbuhan serat,
misalnya lemak, malam, lilin pada kapas. serisin pada sutera. keringat , lemak, dan
lanolin pada wol.
 Kotoran dari luar, adalah kotoraan yang berasal dari luar dan menempel pada serat,
benang atau kain, misalnya debu, potongan daun, ranting, noda minyak dari mesin,
dan lain-lain
 Kotoran yang sengaja ditambahkan untuk kelancara proses, misalnya minyak untuk
zat anti static pada benang, kanji pada benang lusi dan lain-lain.

2.3. Pengelantangan (Bleaching)


Mekanisme Proses pengelantangan ini dilakukan dengan merendam bahan dengan
suatu larutan yang mengandung zat pengelantang yang bersifat oksidator maupun zat
pengelantang yang bersifat reduktor. Senyawa-senyawa organik dalam bahan yang
mempunyai ikatan rangkap dioksidasi atau direduksi menjadi ikatan tunggal atau menjadi
senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan tekstil tersebut menjadi putih.
Pada proses pemutihan optik bahan direndam dalam larutan zat pemutih optik
dimana zat ini nantinya akan menyerap sinar ultraviolet dan memantulkannya menjadi
sinar tampak pada daerah ungu-biru, sehingga jumlah sinar yang dipantulkan bahan
bertambah dan mengurangi pantulan sinar pada daerah kuning atau merah pada bahan.
Serat-serat alam umumnya berwarna kunig, kecoklatan karena terdapat pigmen warna
alam. Pigmen warna ini tiak bisa hilang selama proses pemasakan, teteapi akan hilang jika
pigmen ini dirusak dengan reaksi kimia oleh zat oksidator maupun reduktor yang akan
mendekomposisi ikatan rangkap dan terkonyugasi dai senyawa pigmen menjadi ikatan
tunggal, sehingga senyawa ini menjadi tidak berwarna dan larut dalam air. Hal ini
menyebabkan distribusi pemantulan cahaya oleh permukaan kain menjadi lebih seragam
dan kain lebih putih.
Proses pengelantangan bertujuan untuk menghilangkan warna alam (pigmen alam)
yang terdapat pada bahan tekstil sehingga diperoleh bahan yang lebih putih.
Pengelantangan dapat menggunakan zat oksidator maupun reduktor. Pigmen-pigmen alam
pada bahan tekstil umumnya terdapat pada bahan dari serat-serat alam, baik serat
tumbuhan, maupun serat binatang yang tertentu selama masa pertumbuhannya.
Sedangkan pada bahan sintetik tidak perlu dikelantang, karena pada proses
pembuatan seratnya sudah mengalami pemurnian dan pengelantangan, tetapi untuk bahan
tekstil yang terbuat dari campuran serat sintetik dengan serat alam diperlukan proses
pengelantangan yang ditujukan untuk serat alamnya.
Untuk meghilangkan pigmen-pigmen alam tersebut hanya dapat dilakukan dalam
prses pengelantangan menggunakan zat pengelantang yang bersifat oksidator atau yag
bersifat reduktor.
Pengelantangan dapat dilakukan sampai memperoleh bahan yang putih sekali,
misalnya untuk bahan-bahan yang akan dijual sebagai benang putih/kain putih, tetapi dapat
pula hanya dilakukan setengah putih , khususnya untuk bahan-bahan yang akan dicelup
atau penggunaan akhirnya.

2.3.1. Zat Pengelantang


Dalam pertekstilan dikenal dua jenis zat pengelantang yaitu zat pengelantang yang
bersifat oksidator dan yang bersifat reduktor. Zat pengelantang yang bersifat oksidator pada
umumnya digunakan untuk pengelantangan serat-serat selulosa dan beberapa di antaranya dapat
pula dipakai untuk serat-serat binatang dan seat-serat sintetis. Sedangkan zat pengelantang yang
bersifat reduktor hanya dapat digunakan untuk pengelantangan serat-serat binatang.
2.3.1.1. Zat Pengelantang yang Bersifat Oksidator
Zat pengelantang yang bersifat oksidator ada dua golongan, yaitu yang mengandung
khlor dan yang tidak mengandung khlor.
Zat pengelantang oksidator yang mengandung khlor, di antaranya :
 Kaporit (CaOCl2)
 Natrium hipokhlorit (NaOCl)
 Natrium khlorit (NaClO2)

Zat pengelantang oksidator yang tidak mengandung khlor, di antaranya :


 Hidrogen peroksida (H2O2)
 Natrium peroksida (Na2O2) Natrium perborat (NaBO3)
 Kalium bikhromat (K2Cr2O7)
 Kalium permanganat (KMnO4)
 Natrium perborat (NaBO3)

2.3.1.2. Zat Pengelantang yang bersifat reduktor,


antara lain :
 Sulfur dioksida (SO2)
 Natrium sulfit (Na2SO3)
 Natrium bisulfit (NaHSO3)
 Natrium hidrosulfit (Na2S2O4)

2.4. Hidrogen Peroksida (H2O2)


Hidrogen peroksida dengan rumus H2O2 merupakan bahan kimia anorganik yang
memiliki sifat oksidator kuat, H2O2 memiliki bau yang khas sedikit asam, dan tidak
berwarna. H2O2 larut dalam air dalam kondisi normal hidorgen peroksida sangat stabil,
dengan laju dekomposisi yang sangat rendah. Pada saat mengalami dekomposisi hidrogen
peroksida terurai menjadi air dan gas oksigen, dengan mengikuti reaksi eksotermis berikut:
H2O2 O2 + H2O + kalor (panas)
Hidrogen peroksida banyak digunakan sebagai zat pengelantang atau bleaching agent,
pada industri pulp, kertas dan tekstil. salah satu keunggulan hidrogen peroksida
dibandingkan dengan oksidator yang lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan. Ia tidak
meninggalka residu, hanya air dan oksigen. Kekuatan oksidatornyapun dapat diatur sesuai
kebutuhan sebagai contoh dalam industri pulp dan kertas, penggunaan hidrogen peroksida
biasanya dikombinasikan dengan NaOH atau soda api. Semakin basa, maka laju
dekomposisi hidrogen peroksidapun semakin tinggi.
Ada beberapa macam zat pengelantang jenis peroksida yaitu hidrogen peroksida
(H2O2), natrium peroksida (Na2O2) dan barium peroksida (BaO2). Pada umumnya zat
pengelantang peroksida yang sering digunakan di industri tekstil adalah hidrogen peroksida
yang diperdagangkan juga dikenal perhidrol. Dalam perdagangan hidrogen peroksida
berupa larutan yang kepekatannya berkisar 35 – 50% (130 – 200 volume) dan distabilkan
dengan asam.
Sifat hidrogen peroksida mudah larut dalam air pada berbagai perbandingan, jika
dipanaskan mudah terurai melepaskan gas oksigen sehingga sangat efektif digunakan untuk
pengelantangan.
H2O2 H2O + On

Fakor-faktor yang berpengaruh terhadap pengelantangan dengan H2O2 :


 Ph
H2O2 memiliki pH sedikit asam karena penambahan H2SO4 oleh pabrik
pembuatnya yang diharapkan supaya H2O2 menjadi stabil dalam penyimpanan. Pada proses
pengelantangannya diperlukan penambahan alkali untuk menetralkan asam yang digunakan
sebagai stabilisator sekaligus menaikan pH hingga mendekati 10-11, pada kondisi ini H2O2
menghasilkan oksigen aktif.
Dengan kenaikan pH menyebabkan semakin banyaknya zat oksigen yang dapat
mengelantang, sehingga dapat meningkatkan derajat putih bahan. Namun penguraian yang
terlalu cepat dapat menimbulkan kerusakan selulosa oleh oksidator (oksi-selulosa), maka
pH perlu dikontrol supaya tidak terjadi kerusakan yang ditandai dengan penurunan
kekuatan tarik bahan.
Pada pH asam hingga netral H2O2 tidak aktif mengelantang karena pelepasan
oksigen aktif yang sangat lambat. Maka perlu penambahan alkali untuk meningkatkan
penguraian oksigen. Tabel berikut merupakan pengaruh NaOH terhadap penguraian H2O2.
NaOH (gram/liter) pH larutan % Penguraian H2O2
1 10,4 7,0
2 11,1 12,5
3 11,8 19,0
4 12,0 25,0
5 12,2 59,0
*Sumber : Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Institut Teknologi Tekstil Bandung.

 Suhu
Suhu juga mempengaruhi penguraian H2O2. pada suhu rendah, pembebasan
oksigen sangat kecil, bahkan realtif stabil, makin tinggi suhu penguraiannya makin cepat.
Penguraian H2O2 yang efektif untuk pengelantangan terjadi pada suhu 80° - 85°C. Pada
suhu di atas 85°C penguraiannya sangat cepat dan waktu pengerjaan yang lebih lama
menimbulkan penguraian yang lebih banyak. Persentase larutan H2O2 yang terurai pada
berbagai suhu pH 10,2 tanpa penambahan stabilisator ditujukan pada tabel berikut
% H2O2 tersisa dalam larutan
Suhu (0C)
Awal Setelah 1 jam Setelah 2 jam
20 0,69 0,69 0,69
40 0,69 0,65 0,63
60 0,69 0,53 0,39
80 0,69 0,39 0,13
*Sumber : Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Institut Teknologi Tekstil Bandung.

 Logam
Penguraian H2O2 dipercepat dengan adanya ion logam dalam larutan, keberadaan
logam seperti besi (Fe), tembaga (Cu) dalam bahan selulosa dapat mempercepat
penguraian H2O2, dan bila atom menyerang tempat tertentu pada bahan dengan cepat
dapat menyebabkan lubang (Pin Hole) . salahsatu cara pencegahannya dalah dengan
merendam bahan dalam larutan asam encer sebelum dikelantang, berikut merupakan
feel katalis logam terhadap penguraian larutan H2O2.
Jenis Logam Residu H2O2 (Vol) %Pengurangan H2O2
Blangko 1,58 21
Alumunium 1,56 22
Baja tahan karat 1,48 23
Tembaga 1,30 35
Nikel 1,23 38,5
Besi 1,15 42,5
Kuningan 1,11 44
Timah 1,02 49
Perunggu 0,92 54,5
Karat besi 0,09 95,5
*Sumber : Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Institut Teknologi Tekstil Bandung.

 Stabilisator
Pengelantangan dengan H2O2 memerlukan alkali untuk membantu pembentukan
ioh perhidroksil yang aktif mengelantang, akan tetapi ternyata semakin tinggi alkalinitas
larutan pengelantangan maka reaksi penguraian akan berjalan lebih cepat, terutama dama
suhu tinggi, sehingga memungkinkan terjadi oksiselulosa lebih besar, maka perlu
penambahan stabilisator untuk menjaga pH larutan. Penambahan stabilisator dalam larutan
pengelantangan dapat memperlambat penguraian H2O2 sehingga dapat menahan On yang
terbentuk secara berlebihan.
Selain berfungsi untuk menjaga alkalinitas larutan, stabilisator berfungsi sebagai
pengikat dan penetral ion-ion logam terutama ion besi (Fe) dan tembaga (Cu) serta ion-ion
lainnya yang dapat mengkatalis penguraian H2O2.
Namun kekurangannya adalah dapat menyebabkan pegangan kain menjadi kasar,
karena terbentuknya endapan kalsium silikat dipermukaan kain, bila air proses memiliki
kesadahan yang tinggi dan menimbulkan efek celupan tidak rata. Oleh karena itu akhir-
akhir ini banyak zat stabilisator (sequestering) jenis organik yang digunakan, selain
berfugsi sebagai stabilisator berfungsi juga sebagai pengikat logam mineral, terutama besi
dan tembaga.
Dari sekian banyak oksidator organik golongan organofosfonat lebih cocok
disbanding jenis amino atau asam hidrokarboksilat, seperti EDTA dan turunannya. Hal ini
disebabkan karena zat ini lebih tahan oksidasi dalam larutan pengelantang dan memberikan
hasil bahan yang lebih putih dengan cara mencegah pengendapan silikat apabila
dikombinasikan dengan silikat. Stabilisator yang umumnya digunakan adalah natrium
silikat, magnesium oksida, magnesium hidroksida, magnesium silikat, natrium metafosfat
dan natrium trifosfat.

2.5. Oksiselulosa
Pengerjaan selulosa dengan oksidator dapat menyebabkan terjadinya oksiselulosa yang
dapat menghasilkan gugus karboksilat dan gugus pereduksi yang diakibatkan pemutusan rantai
ikatan. Reaksi oksi-selulosa dapat dilihat pada :

*Sumber : Teknologi Persiapan Penyempurnaan, Institut Teknologi Tekstil Bandung.

Reaksi oksiselulosa dapat terjadi dalam beberapa tingkatan. Pada oksidasi


sederhana misalnya oleh NaOCl dalam suasana asam tidak terjadi pemutusan tetapi hanya
terjadi pembukaan cincin glukosa seperti jenis D. Pengerjaan lebih lanjut dengan alkali
akan menyebabkan pemutusan rantai molekul yang menyebabkan kekuatan tarik turun dan
memberikan hasil jenis F. Oksiselulosa jenis D dan F mempunyai daya reduksi karena
mempunyai gugus alhedida.
BAB III

PERCOBAAN

3.1. Diagram alir

Persiapan Bahan dan larutan Bleaching

Padding

Steaming/Batching

Washing

Drying

Evaluasi
Terhadap derajat putih warna

3.2. Skema proses


3.2.1. Exhaust

Air 1000C
Larutan
Bahan

300C 300C Cuci panas, cuci dingin

10 20 30 40
3.2.2. Pad Steam

Padding Steaming Washing Drying

3.2.3. Pad Batching

Padding Steaming Washing Drying

3.3 Data Percobaan


3.3.1 Resep
Exhaust non
(Metoda Exhaust Pad-steam Pad-batching
⁄Resep) stabilisator

H2O2 35% (ml⁄L) 20 30

NaOH 35% ( ml⁄L) pH 11

(ml
Wetting agent ⁄L) 1

Stabilisator
(ml - 2
H2O2 ⁄L)

Suhu (℃) 100 102 30


Vlot (1:x) 1 : 30 - -
Larutan (ml) - - 200
Waktu (menit) 30 30 120
WPU (%) - - 80

3.3.2. Perhitungan Resep


Metode/Berat Exhaust non stabilisator Exhaust
Pad-steam Pad batching
Berat (gram) 8,3 gram 8,2 gram
Larutan (mL) 8,3 × 30 = 249 mL 8,2 × 30 = 246 mL 200
20 20 30
H2O2 (mL) × 249 = 4,98 mL × 246 = 4,92 mL × 200 = 6 mL
1000 1000 1000
1 1 1
Wetting agent × 249 = 0,249 mL × 246 = 0,246 mL × 200 = 0,2 mL
1000 1000 1000
2 2
Stabilisator H2O2 - × 246 = 0,492 mL × 200 = 0,4 mL
1000 1000

249 – (4,98 + 0,249) = 243,771 246 – (4,92 + 0,246 + 200 – (6 + 0,2 + 0,4) =
Air
mL 0,492) = 240,342 mL 193,4 mL

3.3.3. Fungsi Zat


Larutan/air : Medium pengelantang
H2O2 : Sebagai zat pengelantang
Wetting Agent : Untuk menurunkan tegangan permukaan dan memudahkan kain terbasahi
Stabilisator : Untuk menstabilkan penguraian H2O2 menjadi On.

3.4 Evaluasi

Nilai derajat
Kain
putih
Exhaust non- 80 Penilaian Derajat Putih
stabilisator 100

Exhaust 90 80
60
Pad steam 70
40
Pad Batching 60
20
0
Exhaust 1 Exhaust 2 Pad Steam Pad Batching

BAB IV DISKUSI
Pada praktikum ini dilakukan pengujian terhadap variasi resep dan metode yang
digunakan, yaitu metoda exhaust, pad steam dan pad batching, ketiga metoda tersebut dikerjakan
pada resep yang sama, kecuali pada metoda exhaust, dimana satu resep pada metoda ini
menggunakan stabilisator, dan satu resep lainnya tidak menggunakan stabilisator.
Proses pengelantangan sendiri, bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang
tidak dapat dihilangkan pada proses sebelumnya, yaitu desizing (penghilangan kanji) dan
scouring (pemasakan), adapun kotoran yang tidak bisa dihilangkan pada proses sebelumnya yaitu
pigmen/warna alami serat dan kulit biji kapas.
Mekanisme Proses pengelantangan ini dilakukan dengan cara merendam/padding bahan
dengan suatu larutan yang mengandung zat pengelantang sehingga senyawa-senyawa organik
dalam bahan yang mempunyai ikatan rangkap dioksidasi atau direduksi menjadi ikatan tunggal
atau menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga bahan tekstil tersebut menjadi putih, dan
sisa-sisa biji kapas berkurang.
Berdasarkan hasil praktikum, derajat putih yang paling baik ditunjukan pada metoda
exhaust menggunakan stabilisator, diikuti dengan exhaust non-stabilisator, kemudian pad steam
dan pad batching. Dari hasil tersebut pada masing-masing metoda menghasilkan tingkat derajat
putih yang tidak sama.

4.1. Exhaust non-stabilisator dan exhaust dengan stabilisator


Dengan resep yang hampir sama, pada metoda exhaust dengan stabilisator memiliki
derajat putih yang lebih tinggi dari exhaust non stabilisator, dalam hal ini menunjukan bahwa
oksidator memiliki pengaruh terhadap hasil proses.
Pengelantangan dengan H2O2 memerlukan alkali untuk membantu pembentukan ion
perhidroksil yang aktif mengelantang, akan tetapi jika alkalinitas terlalu tinggi pada penguraian
H2O2 mejadi On dapat menimbulkan oksiselulosa yang ditandai dengan penurunan kekuatan
tarik pada serat/kain. Maka untuk menjaga penguraian H2O2 memerlukan penambahan
stabilisator untuk menahan On yang terbentuk secara berlebihan.

Selain itu stabilisator pada umumnya memiliki fungsi lain, selain untuk
menstabilkan/menjaga penguraian H2O2 berlebih, dapat pula mengikat logam-logam mineral
yang terkandung dalam air proses, ataupun kapas yang diuji. Logam-logam mineral seperti Fe
dan Cu dapat mengkatalis (mempercepat) penguraian H2O2, bahkan jika kandungan Fe dan Cu
yang tinggi pada contoh uji dapat menimbulkan lubang/pin hole. Sedangkan logam Ca dan Mg
yang berasal dari air proses akan menentukan tingkat kesadahan air proses, karena kadar Ca dan
Mg yang terlalu tinggi dapat menimbulkan pengendapan pada larutan, maupun pada bahan,
sehingga Katalisasi dari NaOH (pH 11) kurang optimal.
Maka untuk mengikat logam mineral lainnya, selain dengan stabilisator yang memiliki
fungsi ganda, dapat digunakan zat yang lebih spesifik untuk menjaga kesadahan air dengan cara
mengikat logam-logam mineral, yaitu Zat anti sadah yang pada saat ini jarang digunakan pada
pengelantangan dengan H2O2 karena memiki fungsi yang sama pada stabilisator.
Sehingga penyebab derajat putih metoda exhaust dengan stabilisator memiliki warna
yang lebih putih dibanding dengan exhaust non-stabilisator, karena aktifitas logam-logam
mineral yang mengganggu seperti Fe, Cu, Ca dan Mg yang berasal dari serat maupun air proses.

4.2. Pad Steam dan Pad Batching


Dengan resep yang sama, tingkat derajat putih pada pengelantangan metoda pad steam
lebih tinggi dari pada pegelantangan metoda pad batching, karena pada metoda pad steam suhu
steam yang digunakan adalah 1020C sedangkan pada metoda pad batching tidak ada
penambahan/pengerjaan pada suhu tinggi. Dari keterangan tersebut, secara tidak langsung
menunjukan bahwa suhu proses yang terdapat pada masing-masing metoda memiliki pengaruh
terhadap hasil proses.
Menurut literatur, kestabilan dan kecepatan penguraian larutan H2O2 dipengaruhi oleh
suhu larutan. Pada suhu rendah larutan H2O2 relatif stabil, dan pada suhu tinggi penguraian
larutan H2O2 akan meningkat. Jadi karena aktifitas larutan yang relatif stabil pada metoda pad
batch, menyebabkan derajat putih yang lebih rendah dibanding derajat putih pada metoda pad
steam.

4.3. Exhaust dan Pad Batch/Steam


Hampir sama dengan diskusi/penjelasan sebelumnya, selain perbedaan metode yang
digunakan, dalam masing-masing metodapun memiliki resep dan metoda masing-masing,
diantaranya pengaruh penggunaan stabilisator pada exhaust, serta pengaruh perbadaan suhu dan
metoda pada metoda pad steam serta pad batch yang telah dijelaskan pada poin sebelumnya.

4.4. Disksui Secara Umum


Pada dasarnya proses pengelantangan bertujuan untuk menghilangkan warna alam
(pigmen alam) yang terdapat pada bahan tekstil sehingga diperoleh bahan tekstil yang lebih
putih, dan warna dari pigmen alam tidak mengganggu pada proses pewarnaan, baik pada proses
pencapan maupun pencelupan, terurama untuk pencelupan dan pencapan dengan warna putih dan
warna-warna muda.
Berdasarkan penjelasan tersebut, jika dibandingkan dengan hasil percobaan,
pengelantangan metoda exhaust dengan stabilisator sangat baik digunakan untuk bahan yang
akan dicelup dengan warna-warna muda, atau bahkan untuk bahan/kain yang akan dicelup
dengan warna putih, dibanding dengan metoda exhaust non stabilisator, pad steam dan pad batch.
Jika metoda exhaust non stabilisator kembali dibandingkan dengan metoda exhaust
penambahan stabilisator, tentu lebih baik dilakukan dengan metoda exhaust penambahan
stabilisator untuk didapat hasil maksimal dan tidak nanggung, karena waktu suhu dan resep
lainnya yang digunakan dalam pengerjaan sama, meski hasil yang tidak terlalu jauh berbeda.
Sedangkan proses pengelantangan dengan metoda pad steam dan pad batching dapat
digunakan untuk bahan yang nantinya akan dicelup atau cap dengan warna tua, sehingga warna
pigmen alam yang masih tersisapun tidak terlalu nampak, karena dicelup dan tertutupi oleh
warna tua dari zat warna dari proses pencelupan.
Sehingga pada akhirnya metoda yang digunakan dalam pengelantangan tergantung dari
tujuan kain dibuat, apakah kain yang dihasilkan akan dicelup dengan warna muda, atau dicelup
dengan warna muda. Selain itu ketersediaan mesinpun tentu menjadi faktor utama penggunaan
metoda pengelantangan yang digunakan.

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
 Metoda pengelantangan yang digunakan memiliki pengaruh terhadap derajat putih kain
 Urutan kain dengan derajat putih yang paling baik dimulai dari Metoda exhaust dengan
menggunakan stabilisator, exhaust non-stabilisator, pad steam dan metoda pad batching
 Metoda yang optimal untuk proses pengelantangan tergantung dari kain apakah akan
dicelup dengan warna muda/tua.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis. Arifin. dkk 1994. Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung : Institut Teknologi
Tekstil Bandung.

Ichwan, M., & Eka M, W. 2004. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan Penyempurnaan.
Bandung: STTT.

Soeprojo, dkk. 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung: Institut Teknologi Tekstil.

Yuliasti, L. 2012. Modul Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil. Bandung: SMKN 1


Katapang.