Anda di halaman 1dari 8

BAB I

KASUS

I.1 Identitas Pasien

Nama : By. MR

Umur : 14 hari

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Perumahan Graha Bunder Asri, Jalan Saphire I

I.2 Anamnesis

Keluhan Utama : Kedua mata merah

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke RSUD Soreang diantar oleh orang tuanya dengan
keluhan kedua mata merah sejak + 3 hari SMRS. Menurut ibu pasien,
pasien terlihat seperti kedua matanya terasa gatal, sehingga pasien sering
menggosok-gosok kedua matanya sehingga keluar air mata berwarna
bening tapi tidak banyak dan mata yang sangat merah. Saat bangun tidur
terdapat kotoran mata yang cukup banyak berwarna kekuningan. Selain
itu, ibu pasien mengatakan jika kedua mata anaknya sedikit bengkak dan
terlihat lebih sipit. Sebelum berobat ke poliklinik mata, ibu pasien sempat
memberikan tetes mata tapi keluhan tidak berkurang sehingga pasien
berobat ke poliklinik Mata RSUD Ibnu Sina.

Riwayat penyakit Dahulu:


 Riwayat trauma pada mata disangkal
 Riwayat mata merah sebelumnya disangkal
Riwayat penyakit Keluarga
 Riwayat alergi disangkal
 Dikeluarga tidak ada yang seperti ini sebelumnya.

1
1.3 Pemeriksaan Fisik
I. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos mentis

II. Status Generalis

Kepala : Normocephali

Leher : KGB dan tiroid tidak teraba

Jantung : Tidak diperiksa

Paru : Tidak diperiksa

Abdomen : Tidak diperiksa

Ekstremitas : Akral superior: hangat (+/+), edema (-/-), inferior: hangat

(+/+), edema (-/-)

III. Status Oftalmologi


Pemeriksaan Subyektif
Pemeriksaan OD OS
Visus Belum dapat dinilai

2
JENIS PEMERIKSAAN OD OS
1. Inspeksi Edema + +
Umum Hiperemis + +
Sekret + +
Lakrimasi + +
Fotofobia - -
Blefarospasme - -
Posisi bola mata Normal Normal
Benjolan/tonjolan - -
2. Inspeksi Supersilia Normal Normal
Khusus P Posisi Normal Normal
A Warna Normal Normal
L Bentuk Membesar Membesar
P Edema + +
E Pergerakan Normal Normal
B Ulkus - -
R Tumor - -
A Lain-lain - -
Posisi Normal Normal
Ulkus - -
Margo
Krusta - -
Palpebra
Silia + +
Skuama - -
K Warna Hiperemis Hiperemis
O Palpebra Sekret + +
N Edema + +
J Warna Hiperemis Hiperemis
U Sekret + +
N Bulbi Pembuluh Normal Normal
G darah
T Injeksi + +
I Forniks Hiperemis hiperemis
V Posisi Normal Normal
A Gerakan Normal Normal
Warna Normal Normal
Perdarahan - -
Sklera Ikterik - -
Injeksi - -
episklera
Kekeruhan - -
Ulkus - -
B
Sikatriks - -
U
L Kornea Keratis - -
B Precipitat
U Infiltrat - -
S Permukaan Licin Licin
COA Kedalaman Sedang Sedang
O Kejernihan Jernih Jernih
K Hipopion - -
U
Sinekia - -
L
Iris Warna Cokelat Cokelat
I
kehitaman kehitaman
Bentuk Bulat Bulat
Refleks + + 3
Pupil
cahaya
Ukuran 3mm 3mm
Lensa Kekeruhan - -
Letak Sentral Sentral
Pemeriksaan Obyektif

JENIS PEMERIKSAAN OD Os

1. Slit Lamp Kornea Jernih Jernih


COA Sedang Sedang
Iris Normal Normal
Lensa Jernih Jernih
Konjungtiva bulbi Injeksi Injeksi
konjungtiva konjungitva
(+) (+)
Injeksi Injeksi
perikorneal perikorneal
(+) (+)

1.4 Resume

Pasien datang ke RSUD Ibnu Sina diantar oleh orang tuanya dengan
keluhan kedua mata merah sejak + 3 SMRS. Menurut ibu pasien, pasien

4
terlihat seperti kedua matanya terasa gatal, sehingga pasien sering
menggosok-gosok kedua matanya sehingga keluar air mata berwarna
bening tapi tidak banyak dan mata yang sangat merah. Saat bangun tidur
terdapat kotoran mata yang cukup banyak berwarna kekuningan. Selain
itu, ibu pasien mengatakan jika kedua mata anaknya sedikit bengkak dan
terlihat lebih sipit. Sebelum berobat ke poliklinik mata, ibu pasien sempat
memberikan tetes mata tapi keluhan tidak berkurang sehingga pasien
berobat ke poliklinik Mata RSUD Ibnu Sina.

Pada pemeriksaan visus kedua mata belum dapat dilakukan. Pada


pemeriksaan fisik mata ditemukan edema palpebra ODS, hiperemis pada
konjungtiva ODS, tampak sekret berwarna kekuningan pada ODS dan
lakrimasi pada ODS, yang lain-lain dalam batas normal. Lalu pemeriksaan
dengan slit lamp ditemukan kornea dan lensa masih jernih. Ditemukan
injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi ODS.

1.5 Diagnosis Kerja

 Konjungtivitis Bakterial Hiperakut ODS

1.6 Diagnosis Banding

 Konjungtivitis Bakterial Akut ODS

 Konjungtivitis Viral ODS

 Konjungtivitis Alergika ODS

1.7 USULAN PEMERIKSAAN


 Pewarnaan gram negatif pada eksudat konjungtiva
1.6 Terapi

 Isolasi di RS dengan kecurigaan Konjungtivitis bakterialis hiperakut

ODS ec N. gonorhoeae

 Inj. Ceftriaxon 25-50 mg/kgbb IM/IV

5
 Antibiotik eye drop: Gentamicin 0,3% (5 ml) 3 dd gtt 1
1.7 Anjuran

 Pakai obat secara teratur

 Membersihkan sekret mata secara rutin setiap 5 menit menggunakan


lidi kapas basah dan irigasi mata dengan NaCl steril dua kali sehari

1.8 Prognosis

Prognosis Konjungtivitis bakterial hiperakut bervariasi tergantung


kecepatan dan ketepatan dalam penanganan. Jika cepat terdeteksi dan
diobati, prognosis akan semakin baik agar tidak berlanjut ke stadium
selanjutnya.

BAB II

DISKUSI

Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan


dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva
palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus.
Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva
bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbital di forniks dan
melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata
bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. 10

Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar. Kemungkinan


konjungtiva terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Pertahanan
Konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film atau lapisan air mata pada
konjungtiva yang berfungsi untuk melarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan
yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi
inferior.Lapisan air mata mengandung beta lisin, lisosim, IgA, dan IgG yang

6
berfungsi untuk menghambat pertumbuhan kuman.4
Konjungtivitis infeksi terjadi apabila terdapat mikroorganisme patogen
yang mampu menembus pertahanan tersebut atau dengan kata lain Konjuntivitis
infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu dan kontaminasi
eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari tempat yang berdekatan
atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam sel mukosa konjungtiva.
Kedua infeksi bakterial dan viral memulai reaksi bertingkat dari peradangan
leukosit atau limfositik meyebabkan penarikan sel darah merah atau putih ke
area tersebut. Sel darah putih ini mencapai permukaan konjungtiva dan
berakumulasi di sana dengan berpindah secara mudahnya melewati kapiler yang
berdilatasi dan tinggi permeabilitas.4

Menurut Surasmiati, durasi konjungtivitis dapat mengarahkan dugaan


bakteri penyebab. Neisseria gonorrhoeae menyebabkan konjungtivitis hiperakut
yang terjadi kurang dari 12 jam. Bakteri lain yang menyebabkan konjungtivitis
hiperakut antara lain Neisseria kochii dan Neisseria meningitidis.

Konjungtivitis gonore mengenai bayi yang ditularkan oleh ibunya dimana


infeksi terjadi pada saat bayi melewati jalan lahir. Infeksi juga dapat terjadi secara
tidak langsung, yaitu dapat melalui tangan, sapu tangan, handuk atau sebagai auto
infeksi pada orang-orang yang menderita uretritis atau servisitis gonoroika.

Pada orang dewasa penyakit ini ditularkan dari penularan penyakit


kelamin sendiri. Biasanya kita melihat dalam bentuk oftalmia neonatorum (bayi
berusia 1-3 hari), konjungtivitis gonorea infantum (usia lebih dari 10 hari) dan
konjungtivitis gonorea adultorum. Terutama mengenai golongan muda dan bayi
yang ditularkan ibunya.

Pada kasus konjungtivitis hiperakut akibat infeksi Neisseria gonorhoeae


pada bayi, dapat menyebabkan penyakit Konjungtivitis Neonatorum. Onset
konjungtivitis neonatorum muncul saat bayi berumur 3-4 hari kehidupan namun
dapat juga saat berumur 3 minggu8.

7
Dibedakan menjadi 3 stadium8:
a. Stadium Infiltratif

Berlangsung 1-3 hari. Ditandai dengan palpebra bengkak, hiperemi,


tegang, blefarospasme. Konjungtiva palpebra hiperemi, bengkak, infiltrative,
mungkin terdapat pseudomembran di atasnya. Pada konjungtiva bulbi terdapat
injeksi konjungtival yang hebat, kemotik. Terdapat sekret, serous, terkadang
berdarah.

b. Stadium Supuratif atau Purulen


Berlangsung 2-3 minggu. Gejala tak begitu hebat. Palpebra masih
bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang. Blefarospasme masih ada. Sekret
bercampur darah, keluar terus menerus. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah
sekret akan keluar dengan mendadak, oleh karenanya harus hati-hati bila
membuka palpebra, jangan sampai mengenai mata pemeriksa.
c. Stadium Konvalesen (penyembuhan), hipertrofi papil
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala tidak begitu hebat lagi. Palpebra sedikit
bengkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltrative. Konjungtiva bulbi:
injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik. Sekret jauh berkurang

Gejala khas konjungtivitis gonore adalah reaksi inflamasi berat disertai


nyeri hebat, sekret sangat banyak dan berwarna kehijauan, edema palpebra,
hiperemi, kemosis konjungtiva serta pembesaran kelenjar limfe preaurikular. Pada
kasus berat, kornea menjadi keruh dan edema. Jika proses berlanjut dapat terjadi
nekrosis sentral, ulkus bahkan perforasi kornea yang mengakibatkan kebutaan.
Neiserria gonorrhoeae mengeluarkan enzim protease yang dapat melisiskan
kornea utuh tanpa didahului defek epitel.