Anda di halaman 1dari 14

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) SEBAGAI AGEN ANTIBAKTERI

TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes


Fitri Lestari1, Anna Sari Dewi2, Mona Nulanda3
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia
Email : fitrilestaaari@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang : Bawang putih (Allium sativum) merupakan salah satu tanaman yang sering
digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh
infeksi bakteri. Bawang putih mengandung allicin yang mempunyai efek antibakteri terhadap bakteri
Propionibacterium acnes. Propionibacterium Acnes merupakan bakteri gram positif berbentuk batang
dan merupakan flora normal kulit yang ikut berperan dalam terjadinya akne vulgaris. Di dunia
diperkirakan terdapat lebih dari 60 juta orang menderita akne vulgaris. Peran Propionibacterium acnes
dalam patogenesis AV menjadi dasar pemberian antibiotik sistemik melalui aktivitas antibakteri
maupun efek antiinflamasi. Dengan semakin luasnya penggunaan antibiotik, maka resistensi
Propionibacterium acnes terhadap antibiotik semakin meningkat. Timbulnya resistensi antibiotik,
menyebabkan kegagalan terapi pada beberapa kasus. Salah satu strategi untuk menanggulangi hal
tersebut ialah menggunakan terapi alternatif, salah satunya dengan menggunakan tumbuhan herbal,
yaitu bawang putih (Allium Sativum) yang memiliki efek antimikroba.
Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektifitas antibakteri ekstrak Bawang putih (Allium
Sativum) sebagai agen antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Propionbacterium acnes
Metode : Penelitian ini adalah penelitian true experimental post test dengan menggunakan metode
disc diffusion untuk melihat efektivitas kulit buah delima terhadap bakteri Propionibacterium acnes
penyebab Akne Vulgaris
Hasil : Didapatkan hasil bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak bawang putih maka semakin besar
hambatan terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes. Rata-rata diameter zona hambat yang
terbentuk pada konsentrasi 25%; 50%; 75%; 100% sebesar 10mm; 12,5mm; 13mm; 16mm. Hal ini
menunjukkan bahwa interpretasi dari konsentrasi 25%, 50% dan 70% adalah resisten sedangkan pada
konsentrasi 100% adalah intermediet
Kesimpulan : Ekstrak bawang putih (Allium sativum) dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki
efek antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan interpretasi resisten sedangkan
pada konsentrasi 100% memiliki interpretasi intermediet.
Kata kunci: Ekstrak bawang putih, Propionibacterium acnes, Efektivitas, Akne Vulgaris
1. Pendahuluan
Latar Belakang
Propionibacterium acnes adalah bakteri anaerob Gram-positif yang dapat di temukan di folikel
sebasea kulit manusia seperti di wajah, dada bagian atas, dan punggung. Bakteri ini merupakan bakteri
komensal utama kulit manusia.(1) Meskipun virulensinya rendah, bakteri ini diketahui berperan dalam
patogenesis dari kelainan kulit yaitu Akne vulgaris.(2)
Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi
pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Etiologi pasti dari penyakit ini belum diketahui, namun
ada berbagai faktor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit salah satunya adalah peningkatan
jumlah flora folikel seperti Propionibacterium acnes, Corynebacterium acnes, dan Staphylococcus
epidermidis.(3)
Di dunia diperkirakan terdapat lebih dari 60 juta orang menderita akne vulgaris. Jumlah
penderita akne vulgaris cukup banyak di Indonesia. Berdasarkan Kelompok Studi Dermatologi
Kosmetik Indonesia (KSDKI), tercatat pada tahun 2006 terdapat 60% penderita akne vulgaris dan 80%
di tahun 2007 dan 90% pada tahun 2009. Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini,
maka akne vulgaris sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. (4)
Meskipun Akne vulgaris bukan merupakan suatu ancaman serius bagi kesehatan, kelainan
psikologis, sosial, dan emosional yang diakibatkan oleh Akne vulgaris diperkirakan sama dan dalam
beberapa kasus lebih tinggi daripada diabetes, artritis, epilepsi dan asma. Akne vulgaris dapat
menyebabkan jaringan parut, yang menyebabkan masalah seumur hidup berkaitan dengan harga diri.
Pasien ini cenderung mengalami depresi dan cenderung menganggur. (5)
Peran Propionibacterium acnes dalam patogenesis AV menjadi dasar pemberian antibiotik
sistemik melalui aktivitas antibakteri maupun efek antiinflamasi(7). Antibiotik lain yang sering digunakan
untuk pengobatan AV adalah tetrasiklin, klindamisin, dan minosiklin. Dengan semakin luasnya
penggunaan antibiotik, maka resistensi Propionibacterium acnes terhadap antibiotik semakin
meningkat. Pasien Akne Vulgaris dengan koloni Propionibacterium acnes yang kurang sensitif
terhadap antibiotik memiliki respons terapi yang lebih buruk bila dibandingkan dengan individu dengan
mikroorganisme Propionibacterium acnes yang masih sensitive.(6)
Durasi terapi antibiotik adalah sering >6 bulan, yang dapat mendukung munculnya resistensi
antibiotik. Sembarangan penggunaan antibiotik juga dapat berkontribusi untuk pengembangan
resistensi.Resistensi terhadap antibiotik mendorong pengembangan agen antibakteri terhadap
Propionibacterium acnes menjadi menarik untuk diteliti, salah satunya adalah agen antibakteri yang
berasal dari bahan alam.(7)
Penggunaan tumbuhan tradisional dan produk dari alam sering digunakan dalam mengobati
berbagai penyakit termasuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Salah satu tanaman
tradisional yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan terhadap infeksi bakteri adalah bawang putih.(8)
Bawang putih adalah salah satu tumbuhan yang termasuk kedalam famili Liliales yang memiliki
aktivitas antibakteri.(9) Senyawa yang terkandung dalam bawang putih yang berpotensi sebagai
antibakteri adalah allicin. Aktivitas antibakteri dari bawang putih disebabkan reaksi kimia dari allicin
dengan cara menunda dan menghambat sintesis RNA secara keseluruhan, sintesis DNA dan protein,
senyawa lain yang terkandung dalam bawang putih adalah steroid, terpenoid, saponin, flavonoid,
glikosida dan tanin. Beberapa senyawa tesebut dapat diisolasi dengan menggunakan pelaut etanol.
Etanol merupakan pelarut yang memiliki polaritas tinggi, sehingga dapat mengesitraksi scnyawa yang
bersifat polar(9). Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membuktikan secara ilmiah pengaruh dari
ekstrak Bawang putih (Allium sativum) sebagai penghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium
Acnes sebagai salah satu bakteri penyebab akne vulgaris.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah “Bagaimana efektivitas
ekstrak Bawang putih (Allium Sativum) sebagai agen antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri
Propionibacterium acnes ?”\
3. Tujuan Penelitian
3.1 Tujuan Umum
Mengetahui efektifitas antibakteri ekstrak Bawang putih (Allium Sativum) sebagai agen
antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Propionbacterium acnes
3.2 Tujuan Khusus
1. Menilai zona hambat ekstrak Bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 25%
2. Menilai zona hambat ekstrak Bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 50%
3. Menilai zona hambat ekstrak Bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 75%
4. Menilai zona hambat ekstrak Bawang putih terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 100%
5. Mengetahui sensitivitas Propionibacterium acnes terhadap ekstrak bawang putih sebagai
antimikroba.
6. Mengetahui sensitivitas Propionibacterium acnes terhadap antibiotik tetrasiklin sebagai kontrol
positif
4. Manfaat Penelitian
4.1 Manfaat akademik
1. Dapat dijadikan referensi sebagai dasar melakukan penelitian selanjutnya.
2. Menambah wawasan ilmu pengetahuan.
4.2 Manfaat klinis
1. Mengetahui bahwa ekstrak Bawang putih (Allium sativum) dapat digunakan sebagai
antibakteri pada bakteri penyebab acne vulgari yaitu bakteri Propionbacterium acnes.
4.3 Manfaat bagi masyarakat
1. Memberikan informasi tentang alternatif penyembuhan acne vulgaris yang mudah,
murah dan aman dan dapat di temukan bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan
kualitas kesehatan masyarakat.
2. Memberikan informasi pada masyarakat umumnya bahwa Bawang putih (Allium
sativum) dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba untuk mengatasi penyakit yang
disebabkan oleh bakteri Propionbacterium acnes.
5. Hipotesis
H0 : Ekstrak Bawang putih (Allium sativum) tidak efektif menghambat pertumbuhan bakteri
Propionbacterium acnes
H1 : Ekstrak Bawang putih (Allium sativum) efektif menghambat pertumbuhan bakteri
Propionibacterium acnes
6. Desain Penelitian
Penelitian adalah penelitian true experimental post test dengan menggunakan metode disc
diffusion untuk melihat efektivitas ekstrak bawang putih (Allium sativum) terhadap bakteri
Propionibacterium acnes.
7. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium penelitian Fakultas Kedokteran UMI pada tanggal 18
maret 2017 – 01 november 2018
8. Alat dan Bahan Penelitian

8.1 Alat
Penelitian ini menggunakan beberapa alat laboratorium penelitian Fakultas Farmasi
Universitas Muslim Indonesia untuk menekstraksi bawang putih (Allium sativum), antara lain :

1. Cawan petri
2. Lampu spiritus
3. Mortar dan stamper
4. Ose bulat
5. Jangka sorong
6. Kertas saring
7. Inkubator
8. Pinset
9. Tabung reaksi
10. Rak tabung
11. Volume pipet 1 ml dan 10 ml
12. Labu ukur 100 ml
13. Rotary evaporation
14. Waterbath (oven)

8.2 Bahan

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah Medium Mueller Hinton Agar, Ekstrak
Bawang Putih (Allium sativum), aquades steril, etanol 96%, Mikroba Uji (Propionibacterium acnes),
dan Paper disk yang mengandung Tetrasiklin.

9. Sampel dan Cara Pengolahan Penelitian

9.1 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel bawang putih dilakukan di pasar tradisional Daya, Biring Kanaya Kota
Makassar (Sulawesi Selatan) yang menyediakan bawang putih.

9.2 Proses Ekstraksi Bahan Bawang Putih (Allium sativum)

a. Bawang putih dicuci bersih, kemudian dilap kering


b. Iris tipis kulit bawang putih
c. Dilakukan pengeringan untuk mengeluarkan atau menghilangkan air dari suatu bahan
dengan menggunakan sinar matahari sampai layu kemudian dimasukkan kedalam alat baik
oven maupun fresh dryer. Pengeringan dilakukan untuk memperpanjang masa simpan,
mengurangi penurunan mutu sebelum diolah lebih lanjut, memudahkan dalam dalam
pengangkutan
d. Bawang putih digiling sampai halus kemudian dimasukkan ke dalam beker gelas (tabung
reaksi) kemudian dituangkan pelarut etanol 70% dengan perbandingan 1:4 yaitu 1 kg bahan
ke dalam 4 liter pelarut
e. Rendam Rendam bahan dan diamkan pada suhu kamar selama 3x24 jam dengan sesekali
diaduk
f. Setelah 3x24 jam, saring bahan dengan menggunakan kertas saring whatman no.40 dan
pelarut yang diperoleh (yang mengandung bahan aktif) dievaporasi dengan rotary
evaporator pada suhu 40-50oC untuk menghilangkan sisa pelarut. Kemudian ekstrak
bawang putih dibagi menjadi konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%.

9.3 Pembuatan Medium

1. Medium Mueller Hinton Agar

Mueller Hinton Agar ditimbang sebanyak 1,8 gram untuk volume 100 ml, kemudian
dilarutkan dengan aquades sebanyak 100 ml dalam Erlenmeyer, setelah itu dipanaskan sambil
diaduk hingga mendidih dan bahan larut kemudian tutup mulut tabung dengan kapas lalu diberi
kertas aluminium foil, kemudian disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 oC pada tekanan 2
atm selama 15 menit.
2. Penyiapan Bakteri Uji
a. Peremajaan Bakteri Uji
Bakteri uji yang digunakan yaitu Propionibacterium acnes yang berasal dari biakan murni,
masing-masing diambil sebanyak satu ose lalu diinokulasikan dengan cara goresan pada
medium Mueller Hinton Agar lalu diinkubasi pada suhu 37oC selama 1x24 jam.

b. Pembuatan Suspensi

Masing-masing bakteri uji yang berumur 24 jam dari agar disuspensikan dengan bantuan
larutan aquades. Suspensi kemudian dituang ke dalam cuvet berdiameter 13 mm. Penentuan
kepadatan suspense biakan diatur sehingga diperoleh pengenceran yang diharapkan pada
panjang gelombang 580 mm yang memiliki transmitan 25% (setara dengan kepadatan 108)
terhadap blanko aquades dengan menggunakan alat spektrofotometer.

3. Uji Aktivitas

Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar yang menggunakan paper
disk berkurang 15 mm. Medium Mueller Hinton Agar steril didinginkan pada suhu 400C-450C,
kemudian dituangkan suspensi bakteri uji secara aseptis ke dalam cawan petri sebanyak 1 ml,
selanjutnya dituangkan medium Mueller Hinton Agar sebanyak 12-15 ml di atasnya,
dihomogenkan dan dibiarkan memadat.

Setelah itu beberapa lembar paper disk steril masing-masing direndam selama 5 menit
dalam larutan estrak bawang putih dengan konsentrasi 50%, 75%, dan 100% dan tetrasikin
yang sudah diencerkan, kemudian diletakkan secara aseptis dengan pinset steril pada
permukaan medium dengan jarak paper disk dari pinggir cawan petri 2 cm. selanjutnya
diinkubasi pada suhu 370C selama 1x24 jam dan diukur daerah hambatan dengan
menggunakan jangka sorong.

10. Klasifikasi Variabel Penelitian

10.1 Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang bila dalam suatu saat berada bersama dengan variabel
lain, variabel yang terakhir ini berubah dalam variasinya. Dalam penelitian ini yang dianggap
variabel bebas adalah bakteri penyebab akne vulgaris Propionibacterium acnes.

10.2 Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel efek yaitu Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum).

11. Kriteria Sampel

11.1 Kriteria Inklusi

1. Bawang Putih (Allium sativum) yang segar, berbentuk bulat agak lonjong dan tidak rusak
(busuk).
2. Memakai kontrol positif tetrasiklin dengan dosis 30 mg yang belum kedaluwarsa.
3. Medium Agar yang di tumbuhi bakteri Propionibacterium acnes.
11.2 Kriteria Eksklusi

1. Medium Agar yang sudah ditumbuhi bakteri Propionibacterium acnes namun pada saat
akan melakukan penelitian, medium mengalami kerusakan.

12. Definisi Operasional

1. Akne vulgaris: adalah suatu kondisi dimana kulit mengalami proses peradangan kronik pada
kelenjar-kelenjar sebasea. Ditandai oleh lesi noninflamasi dapat berupa komedo terbuka
atau komedo tertutup dan lesi inflamasi berupa papul, pustul, hingga nodus dan kista.
2. Ekstrak bawang putih (Allium sativum) : Umbi bawang putih yang berbentuk bulat agak
lonjong, ukurannya bervariasi dan hasil ekstraksi bawang putih yang dilarutkan
menggunakan etanol 70% dengan berbagai konsentrasi.
3. Propionibacterium acnes : bakteri anaerob Gram-positif yang dapat di temukan di folikel
sebasea kulit manusi seperti di wajah, dada bagian atas, dan punggung. Merupakan salah
satu faktor penyebab Akne vulgaris.
4. Antibakteri : adalah semua substansi yang berasal dari natural, semisintesis atau sintetik
yang membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang tidak membuat
kerusakan pada host.
5. Kontrol positif : berupa kertas cakram yang berisi antibiotik tetrasiklin

13. Kriteria Objektif Tetrasiklin

13.1 Zona Hambat Minimal

Zona hambatan tetrasiklin NCCLS (National Committee for Clinical Laboratory Standards)
yang terbentuk pada uji daya antibakteri memang terbagi tiga, yaitu ada yang bersifat resisten,
intermedia dan sensitif.

Resisten ≤14 mm

Intermedia 15-18 mm
Sensitive >18 mm

Tabel Zona Hambat Minimal

14. Hasil Penelitian


14.1 Hasil Tabulasi Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes
Pada Konsentrasi 25%

Ekstrak Bawang Putih


Bakteri Uji Replikasi Interpretasi
Konsentrasi 25%

1 10mm Resisten
Propionibacterium
2 10mm Resisten
acnes
Rata – rata 10mm Resisten

Tabel Daya hambat ekstrak bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium
acnes pada konsentrasi 25%
Berdasarkan hasil tabulasi diatas, pada replikasi 1 didapatkan diameter ekstrak bawang putih
pada konsentrasi 25% ialah 10mm dengan interpretasi resisten dan pada replikasi 2 didapatkan 10mm
dengan interpretasi resisten. Dari kedua replikasi tersebut didapatkan diameter rata-rata ekstrak
bawang putih pada konsentrasi 25% ialah 10mm dengan interpretasi resisten.
14.2 Hasil Tabulasi Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes
Pada Konsentrasi 50%

Ekstrak Bawang Putih


Bakteri Uji Replikasi Interpretasi
Konsentrasi 50%

1 13mm Resisten
Propionibacterium
2 12mm Resisten
acnes
Rata – rata 12,5mm Resisten

Tabel Daya hambat ekstrak bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium
acnes pada konsentrasi 50%
Berdasarkan hasil tabulasi diatas, pada replikasi 1 didapatkan diameter ekstrak bawang putih
pada konsentrasi 50% ialah 13mm dengan interpretasi resisten dan pada replikasi 2 didapatkan
12mm dengan interpretasi resisten. Dari kedua replikasi tersebut didapatkan diameter rata-rata
ekstrak bawang putih pada konsentrasi 50% ialah 12,5mm dengan interpretasi resisten.
14.3 Hasil Tabulasi Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes
Pada Konsentrasi 75%

Ekstrak Bawang Putih


Bakteri Uji Replikasi Interpretasi
Konsentrasi 75%

1 14mm Resisten
Propionibacterium
2 12mm Resisten
acnes
Rata – rata 13 mm Resisten

Tabel Daya hambat ekstrak bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium
acnes pada konsentrasi 75%
Berdasarkan hasil tabulasi diatas, pada replikasi 1 didapatkan diameter ekstrak bawang putih
pada konsentrasi 75% ialah 14mm dengan interpretasi resisten dan pada replikasi 2 didapatkan
12mm dengan interpretasi resisten. Dari kedua replikasi tersebut didapatkan diameter rata-rata
ekstrak bawang putih pada konsentrasi 75% ialah 13mm dengan interpretasi resisten.
14.4 Hasil Tabulasi Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes
Pada Konsentrasi 100%

Ekstrak Bawang Putih


Bakteri Uji Replikasi Interpretasi
Konsentrasi 100%

1 16mm Intermediet
Propionibacterium
2 16mm Intermediet
acnes
Rata – rata 16mm Intermediet

Tabel Daya hambat ekstrak bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium
acnes pada konsentrasi 100%
Berdasarkan hasil tabulasi diatas, pada replikasi 1 didapatkan diameter ekstrak bawang putih
pada konsentrasi 100% ialah 16mm dengan interpretasi intermediet dan pada replikasi 2 didapatkan
16mm dengan interpretasi intermediet. Dari kedua replikasi tersebut didapatkan diameter rata-rata
ekstrak bawang putih pada konsentrasi 100% ialah 16mm dengan interpretasi intermediet.
14.5 Hasil Tabulasi Kontrol Positif dan Kontrol Negatif Terhadap Propionibacterium
acnes

Bakteri Uji Kontrol Positif Kontrol Negatif

Propionibacterium
28mm 0mm
acnes

Interpretasi Sensitif Resisten

Tabel Daya hambat kontrol positi dan kontrol negatif terhadap Propionibacterium acnes.

Sementara pada pengamatan pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes yang di uji


menggunakan antibiotik tetrasiklin 30mg sebagai kontrol positif di dapatkan zona hambat sebesar
28mm dengan interpretasi sensitif. Interpretasi zona hambat ditentukan berdasarkan acuan tabel
interpretasi zona hambat, zona hambat ≤14mm dikatakan resisten, 15-18mm intermediate, dan
≥19mm sensitif
14.6 Diagram Sensitivitas Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bakteri Propionibacterium
acnes

13%
15% 35%

17%
20%

Kontrol Positif (Tetrasiklin) Ekstrak Bawang Putih Konsentrasi 100%


Ekstrak Bawang Putih Konsentrasi 75% Ekstrak Bawang Putih Konsentrasi 50%
Ekstrak Bawang Putih Konsentrasi 25%

Berdasarkan hasil diagram diatas, didapatkan bahwa semakin bertambahnya konsentrasi,


maka besar daya hambat akan bertambah juga terlihat pada perbedaan presentasi dari diagram diatas
untuk ekstrak bawang putih konsentrasi 25% didapatkan presentasi 13%, pada konsentrasi 50%
didapatkan presentasi 15%, pada konsentrasi 75% didapatkan presentasi 17% dan pada konsentrasi
100% didapatkan presentasi 20%. Bila dibandingkan dengan kontrol positif (tetrasiklin) maka dapat
dilihat bahwa tetrasiklin masih jauh lebih sensitif dibandingkan dengan ekstrak bawang putih
konsentrasi 100%.

14.7 Pembahasan
Ekstak bawang putih pada konsentrasi 25%, 50% , 75% dan 100% yang digunakan
dalam penelitian ini menunjukan perbedaan luas zona hambat yang terbentuk. Pada konsentrasi
25% kedua replikasi memiliki rata-rata 11mm, pada konsentrasi 50% kedua replikasi memiliki rata-
rata 12,5mm, dan pada konsentrasi 75% kedua replikasi memiliki rata-rata 12mm, ketiga
konsentrasi tersebut memberikan hasil dari tabel acuan zona hambat minimal adalah tidak sensitif
(resisten). Sedangkan pada konsentrasi 100% di dapatkan hasil rata-rata dari kedua replikasi yaitu
16mm ini menunjukkan hasil intermediate, pada penelitian ini kontrol positif yang digunakaan yaitu
tetrasiklin memberikan hasil sensitif yaitu 28mm bila dibandingkan dengan konsentrasi 100%
ekstrak bawang putih (Allium sativum) kontrol positif masih lebih lebih sensitif dapat dibuktikan dari
luas zona hambat yang terbentuk.
Perbedaan diameter zona hambat antara ekstrak dengan kontrol positif yang digunakan,
dapat disebabkan ekstrak bawang putih (Allium sativum) masih merupakan ekstrak kasar yang
masih banyak senyawa lain yang dapat mempengaruhi hasil, senyawa lain akan mengganggu
penetrasi senyawa aktif ke dalam dinding sel bakteri sehingga tidak efektif untuk menghambat
bakteri tersebut, salah satu senyawa aktif bawang putih yaitu allicin juga merupakan senyawa yang
kurang stabil sehingga adanya pengaruh air panas, oksigen udara, dan lingkungan basa, mudah
sekali terdekomposisi menjadi senyawa sulfur yang lain seperti dialil sulfida dan juga terdapat
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah senyawa aktif pada setiap bawang putih
contohnya seperti lingkungan tempat tumbuh tanaman dan teknik mengolah tanaman. Sedangkan
tetrasiklin adalah salah satu jenis antibiotik yang berspektrum luas yang dapat menghambat
berbagai bakteri Gram-positif, Gram- negatif, baik yang bersifat aerob maupun anaerob dan bersifat
bakteriostatik hal ini terbukti dari diameter zona hambat pada bakteri uji yang digunakan adalah 28
mm. (15)
Diduga aktivitas ini disebabkan oleh kemampuan tetrasiklin untuk menghilangkan ion-ion
logam yang penting bagi mikroorganisme, seperti ion Mg, dan sasaran kerja dari antibiotik ini
adalah pada ribosom, dengan mekanisme kerja yakni dengan cara menghalangi terikatnya RNA
(RNA transfer aminoasil) pada situs spesifik di ribosom selama perpanjangan rantai peptide.
Akibatnya sintesis protein juga mengalami hambatan. (15)
Berdasarkan hasil percobaan peneliti sebelumnya Maya Damayanti tahun 2014
didapatkan respon hambatan sedang pada konsentrasi 55% dengan rata-rata diameter 17, 67 mm,
pada konsentrasi 75% dengan rata-rata diameter 19 mm, dan pada konsentrasi 100% dengan rata-
rata diameter 23 mm didapatkan respon hambatan kuat. Terdapat beberapa perbedaan dari
penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, seperti pada penelitian Maya
menggunakan medium agar darah sedangkan pada penelitian ini menggynakan medium Mueller
Hinton Agar, dan pada penelitian sebelumnya menggunakan larutan bawang putih yang ditumbuk
sedangkan pada penelitian ini ekstrak bawang putih yang digiling halus lalu direndam etanol 70%
selama 3x24 jam kemudian disaring.(10)
Pada Pada percobaan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muh. Zuhal tahun
2017 mengenai uji efektivitas ekstrak bawang putih terhadap bakteri penyebab infeksi saluran
kemih salah satunya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dimana bakteri ini merupakan bakteri
gram positif sama seperti bakteri Propionibacterium acnes didapatkan hasil pada konsentrasi 50%
dengan diameter rata-rata 10,32 mm dan konsentrasi 80% dengan diameter 10,72 mm, interpretasi
pada kedua konsentrasi tersebut merupakan resisten.(14)
Penelitian lain yang memanfaatkan bawang putih dalam pengaruhnya terhadap suatu
bakteri adalah A. St. Nabila Nurfajri P.P. tahun 2017 mengenai uji efektivitas ekstrak bawang putih
(Allium sativum) terhadap pertumbuhan bakteri penyebab demam tifoid. Perbedaan penelitian
sebelumnya dengan penelitian ini pada bakteri yang digunakan, penelitian sebelumnya
menggunakan bakteri Salmonella typhii yang termasuk bakteri gram negative sedangkan penelitian
ini menggunakan bakteri Propionibacterium acnes yang termasuk bakteri gram positif gram positif.
Perbedaan respon hambat antara penelitian yang dilakukan sebelumnya dan penelitian ini karena
dipengaruhi oleh perbedaan dinding sel dari bakteri Gram negatif dan bakteri Gram positif.(11)
Penggolongan bakteri menjadi gram positif dan gram negatif adalah berdasarkan
perbedaan komposisi dinding sel. Bakteri gram positif dinding selnya terutama terdiri dari
peptidoglikan sehingga terbentuk dinding sel yang kaku. Pada bagian luar peptidoglikan terdapat
senyawa yang disebut asam teikhoat. Bakteri gram negatif mengandung peptidoglikan dalam
jumlah yang jauh lebih sedikit, akan tetapi di bagian luar peptidoglikan terdapat membran luar (outer
membrane) yang tersusun atas lipoprotein dan fosfolipid. Selain itu bakteri jenis ini mengandung
lipopolisakarida. Oleh karena perbedaan komposisi dinding sel ini, bakteri gram positif dan negatif
memiliki ketahanan yang berbeda. Bakteri gram positif lebih rentan terhadap antibiotika penisilin
karena antibiotika ini dapat merusak peptidoglikan. karena jumlah peptidoglikan yang lebih banyak,
bakteri gram positif biasanya lebih tahan terhadap kerusakan mekanis.
Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi hasil zona hambat dari
penelitian dengan metode disc diffusion, faktor ini dapat berasal dari medium, bakteri uji, serta pada
saat proses perlakuan. Faktor yang berasal dari medium yaitu kedalaman dari medium agar, pH,
dan suhu penyimpanan dari medium tersebut. Faktor yang berasal dari bakteri ialah jenis bakteri,
respon bakteri terhadap sampel yang diujicobakan, serta asal dari bakteri tersebut, apakah
merupakan bakteri biakan atau dari spesimen. Faktor pada saat proses perlakuan, seperti
perbedaan waktu antara inokulasi dan pengaplikasian cakram, kondisi saat inokulasi dan inkubasi,
serta adanya kontaminasi pada saat pengujian. (12)
Faktor kontaminasi merupakan salah satu faktor yang dapat merancaukan hasil zona
hambat, terutama kontaminasi yang melalui udara. Kontaminasi bakteri dapat berasal dari ventilasi
udara atau pada saat perlakuan terhadap bakteri uji dari peneliti. Penggunaan etanol 70% sebagai
antiseptik tidak sepenuhnya membunuh bakteri, karena tidak dapat membunuh spora dari bakteri.
Sehingga jika terdapat bakteri lain selain bakteri uji pada medium, bakteri tersebut dapat
berkembang biak bersama bakteri uji pada masa inkubasi. Hal ini dapat menyebabkan hasil zona
hambat yang tidak sesuai. (13)
15. Kesimpulan
1. Ekstrak bawang putih (Allium sativum) memiliki sifat antibakteri yang terhadap
Propionibacterium acnes.
2. Zona hambat minimal (ZHM) dengan konsentrasi 25% bersifat tidak sensitif (resisten)
terhadap Propionibacterium acnes dengan zona hambat yang terbentuk 10 mm.
3. Zona hambat minimal (ZHM) dengan konsentrasi 50% bersifat tidak sensitif (resisten)
terhadap Propionibacterium acnes dengan zona hambat yang terbentuk 12,5 mm.
4. Zona hambat minimal (ZHM) dengan konsentrasi 75% bersifat tidak sensitif (resisten)
terhadap Propionibacterium acnes dengan zona hambat yang terbentuk 13 mm.
5. Zona hambat minimal (ZHM) dengan konsentrasi 100% bersifat intermediate terhadap
Propionibacterium acnes dengan zona hambat yang terbentuk 16 mm.
6. Zona hambat minimal (ZHM) bersifat sensitif terhadap tetrasiklin sebagai control positif
dengan zona hambat sebesar 28 mm.
16. Saran
1. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan zat aktif dari bawang putih
(Allium Sativum) yang beraktivitas sebagai antibakteri serta mekanisme penghambatannya.
2. Dapat dilakukan penelitian mengenai efektivitas ekstrak bawang putih terhadap bakteri
lainnya yang bersifat patogen
3. Dapat dilakukan uji efektivitas bawang putih (Allium Sativum) yang lain seperti antifungi,
antivirus, maupun antitumor.
4. Dapat dilakukan uji efektivitas antibakteri lanjutan terhadap ekstrak bawang putih (Allium
Sativum) secara in vivo.

DAFTAR PUSTAKA
1. Oh, J.; Byrd, A.L.; Deming, C.; Conlan, S.; Kong, H.H.; Segre, J.A. NISC Comparative
Sequencing Program. Biogeography and individuality shape function in the human skin
metagenome. Nature 2014, 514, 59–64.[CrossRef] [PubMed]
2. Dessinioti, C.; Katsambas, A.D. The role of Propionibacterium acnes in acne pathogenesis:
Facts and Controversies. Clin. Dermatol. 2010, 28, 2–7. [CrossRef] [PubMed]
3. Adhi Djuanda, dkk. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 7. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 254-255
4. Tjekyan RM. Kejadian dan Faktor Resiko Akne Vulgaris. Jurnal Media Medika Indonesia.
43(1);6-12. 2008.
5. Mallon E, Newton JN, Klassen A, Stewart-Brown SL, Ryan TJ, Finlay AY. The quality of life in
acne: a comparison with general medical conditions using generic questionnaires. Br J
Dermatol. 1999;140(4):672–6. [PubMed: 10233319]
6. Hindriatini, Reti. 2017. Resistensi antibiotik of propinibacterium acnes dari berbagai lesi kulit
Akne vulgaris . di R.S.Dr. hasan sadikin Bandung. Departemen IK Kulitdan kelamin FK Unpad.
Bandung. Vol.44
7. Mendoza, Natalia.dkk. 2-13Antimicroba susceptibility of propionibacterium acne isolity from
acne patients in colombia . colombia. International journal of dermatology.
8. Karina,Rina. 2013. Pengaruh ekstrak Bawang Putih (Allium sativum terhadap pertumbuhan
bakteri Streprococcus secara in vitro. Jakarta :UIN
9. Berrina,Arfa. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri ekstrak etanol Bawang Putih (Allium Sativum L)
terhadap pertumbuhan Pan Drugs Resistant Acinetobacter baumannii isolat klinis. Banda
Aceh: Univ. Syiah Kuala. Diakses tanggal : 27-02-2018
10. Damayanti,Maya. 2014. Uji Efektivitas Larutan Bawang Putih (Allium sativum) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Propionibacterium acnes Secara In Vitro. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah.
11. Parawansa,N.N.P. 2017. Uji Efektivitas Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) Sebagai
Antibiotik Terhadap Bakteri Salmonella Typhii Secara In Vitro. Makassar. Universitas Muslim
Indonesia
12. Anna King. 2001. Quality assurance of antimicrobial susceptibility testing by disc diffusion
13. Preventing Contamination in Cell Culture. 2015. Available from :
http://www.americanlaboratory.com/Lab-Tips/177647-Preventing-Contamination-in-Cell-
Culture/
14. Darwis, Muh. Zuhal. 2017. Uji Efektivitas Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) Sebagai
Antimikroba Terhadap Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Kemih. Makassar. Universitas Muslim
Indonesia
15. Pelczar MJ, Chan ECS, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi 2, Elements og Microbiology oleh
Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, Jakarta; UI Press.
Lampiran 01 : SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN
Lampiran 02 : SURAT REKOMENDASI PERSETUJUAN ETIK
Lampiran : SURAT SELESAI MENELITI