Anda di halaman 1dari 41

1

TATALAKSANA RADIOTERAPI KANKER PROSTAT DENGAN


TEKNIK INTENSITY MODULATED RADIATION THERAPY (IMRT) DI
UNIT RADIOTERAPI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.
SOETOMO SURABAYA

Laporan Kasus
Disusun sebagai salah satu syarat untuk laporan Praktek Kerja Lapangan 5

Diajukan oleh:
DEFY INDAH PERMATASARI
P1337430218159

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK RADIOLOGI


JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2018

1
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah diperiksa dan disetujui untuk memenuhi Laporan Kasus Praktek Kerja Lapangan 5
pada Program Studi Diploma IV Teknik Radiologi, Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan
Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.
Nama : Defy Indah Permatasari
NIM : P1337430218159
Judul Tugas : Tatalaksana Radioterapi kanker Prostat Dengan Teknik Intensity
Modulated Radiation Therapy (IMRT) Di Unit Radioterapi Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.

Semarang, Desember 2018


Pembimbing

.....................

2
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan Kasus : Tatalaksana Radioterapi kanker Prostat Dengan Teknik


Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) Di Unit
Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya.
Nama : Defy Indah Permatasari
Nim : P1337430218159

Telah diujikan dan direvisi sesuai dengan saran-saran dari dewan penguji

DEWAN PENGUJI
1. Penguji I : ( )
2. Penguji II : ( )

Mengetahui,

Ketua Jurusan
Ketua Prtogram Studi
Teknik Radiodiagnostik dan
Diploma IV Teknik Radiologi,
Radioterapi,

Rini Indrati,S.Si, M.Kes.


Siti masrochah, S.Si, M.Kes
NIP. 19690719 199203 2 001
NIP. 19700716 199303 2 002

3
KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat kemurahan-Nya laporan ini dapat kami selesaikan sesuai
dengan yang diharapkan. Dalam laporan kasus ini kami membahas tentang teknik
Teknik Radioterapi Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) pada Pasien
Dengan Kanker Prostat yang terdiri dari deskripsi tentang kanker prostat, teknik
radioterapi untuk kanker Prostat, modalitas Linac dan penggunaan teknik
Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) pada Pasien Dengan Kanker
Prostat.
Laporan ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman masalah yang
terdapat dalam radioterapi secara kompleks serta sekaligus melakukan apa yang
menjadi tugas mahasiswa dalam kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) V.
Dalam proses pendalaman materi Praktek Kerja Lapangan (PKL) V,
tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran.

Terima Kasih

BELUM FIX

4
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN...................................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................................iii
KATA PENGANTAR......................................................................................................iv
DAFTAR ISI......................................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................................vi
DAFTAR TABEL.............................................................................................................vii
BAB I.................................................................................................................................8
PENDAHULUAN.............................................................................................................8
A. Latar Belakang Masalah......................................................................................8
B. Rumusan Masalah..............................................................................................10
C. Tujuan.................................................................................................................10
D. Manfaat Penelitian.............................................................................................10
BAB II.............................................................................................................................11
TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................11
A. Definisi Kanker Prostat.....................................................................................11
B. Anatomi Prostat..................................................................................................12
C. Patofisiologi Kanker Prostat..............................................................................14
D. Etiologi dan Faktor Risiko.................................................................................15
E. Klasifikasi Stadium Kanker Prostat.................................................................16
F. Pesawat Linac.....................................................................................................18
1. Komponen LINAC (Linear Accelerator).........................................................19
Pada LINAC modern terdapat enam bagian penyusun penting alat diantaranya
adalah:......................................................................................................................19
G. CT Simulator..................................................................................................26
H. Treatment Planning System (TPS)................................................................27
I. Verifikasi.............................................................................................................28
J. Penatalaksanaan Radioterapi Kanker Prostat.................................................28
BAB III...........................................................................................................................32
PEMBAHASAN.............................................................................................................32
A. Hasil Penelitian...................................................................................................32
B. Pembahasan........................................................................................................36

5
BAB IV............................................................................................................................38
KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................39

6
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Prostat Normal dan Kanker Prosta


Gambar 2.2 Anatomi Prostat
Gambar 2.3 Prostat Zone
Gambar 2.4 Skematik Prinsip Kerja Linac
Gambar 2.5 Komponen Pada Acellerator Tube
Gambar 2.6 Bending System
Gambar 2.7 Kolimator Primer
Gambar 2.8 Kolomator Sekunder
Gambar 2.9 a ) Profil energi tanpa FF b) Profil energi dengan FF
Gambar 2.10 MLC ( Multi Leaf Collimator )
Gambar 2.11.MLC membentuk Berkas Lapangan
Gambar 2.12 Pasien di Meja CT Simulator
Gambar 2.13 Perancanaan Radiasi Eksternal Kanker Teknik IMRT
Gambar 3.1. CT Simulator
Gambar 3.2 Alat Immobilisasi
Gambar 3.3 Spidol
Gambar 3.4 Marker Titik Timah

7
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 TNM

8
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan kasus keganasan
(kanker) dengan memanfaatkan radiasi pengion untuk membunuh dan
menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Dengan menggunakan radiasi
sinar yang dapat menimbulkan ionisasi dalam jaringan. Sinar dibagi atas
gelombang elektromagnetik dan partikel. Jenis sinar yang digunakan dalam
dunia medis adalah sinar x, sinar gamma dan elektron (Susworo, 2007).
Prostat merupakan kelenjar seukuran buah kenari yang terdapat di dalam
sistem reproduksi pria, yang terletak di antara leher kandung kemih dan
saluran kemih (uretra). Prostat mengeluarkan cairan berwarna putih yang
memberi nutrisi dan mengangkut sperma, yang disebut sebagai semen.
Hormon pria yang disekresi oleh testis secara langsung memengaruhi
pertumbuhan dan fungsi prostat.
Kasus prostat yang bengkak umum terjadi di kalangan pria paruh baya dan
lanjut usia, namun sebagian besar kasus yang terjadi merupakan hiperplasia
jinak (peningkatan jumlah sel yang tidak normal). Ketika ada mutasi genetik
yang bersifat tidak normal, tumor ganas bisa berkembang di dalam prostat
dan menyebabkan kanker prostat. Kanker prostat bisa menyebar ke bagian
tubuh lainnya, khususnya tulang dan kelenjar getah bening di panggul.
Berdasarkan data WHO, prevalensi kanker prostat menempati posisi pertama di
dunia dan angka insidensnya merupakan peringkat kelima dari seluruh jenis kanker
di dunia. Sekitar 95% pasien didiagnosa pada rentang usia 45 – 89 tahun (usia rerata
72 tahun). Insidens kanker prostat meningkat seiring pertambahan usia. Risiko yang
dimiliki pria untuk menderita kanker prostat dalam seumur hidupnya mendekati
10%.
Pengobatan penyakit kanker dilakukan antara lain dengan pembedahan,
kemoterapi, dan radioterapi. Radiasi eksterna pada umumnya diberikan
dengan modalitas Linier Acelerator (Linac). Dimana radiasi eksternal

9
10

merupakan metode pemberian radiasi dengan sumber radiasi terletak pada


jarak tertentu dari tubuh pasien (Soesworo, 2007).
Radioterapi merupakan salah satu modalitas penanganan kanker Prostat.
Kemajuan teknologi radioterapi termasuk perkembangan Intensity Modulated
Radiotion Therapy (IMRT) memberikan hasil yang cukup memuaskan dalam
penanganan Kanker Prostat baik secara klinisi maupun dosimetri. IMRT
dapat mengurangi efek akut dan kronik, dengan cakupan dosis maksimal pada
tumor dan dosis minimal pada organ/jaringan sehat disekitarnya. IMRT
adalah jenis terapi radiasi termutahir yang Untuk terapi kanker dan tumor
jinak.sinar radiasi di kendalikan untuk menyesuaikan dengan bentuk tumor,
banyak sinar kecil dengan beragam intensitas yang digunakan untuk terapi
tumor secara tepat. Intensitas radiasi tiap berkas dikendalikan dan bentuk
sinar berubah selama terapi berlangsung.
Hal ini dapat terjadi dengan penggunaan perencanaan radiasi secara invers
planing dimana kita memasukkan tujuan (objektif) yang dikehendaki dan
komputer akan menghitung dan menentukan arah berkas. Sinar bentuk
lapangan dan intensitas berkas sinar sampai objektif tersebut tercapai. Tujuan
yang dimasukkan kedalam komputer adalah dosis yang dikehendaki pada
jaringan tumor, batasan dosis pada jaringan sehat, dan jumlah fraksi
(Soesworo, 2017).
Prosedur penatalaksanaan kanker prostat di Instalasi Radioterapi Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo yang secara umum menggunakan Intensity
Modulated Radiotion Therapy (IMRT) dengan berbagai lapangan. Pemilihan
teknik penyinaran tersebut tentu berdasarkan klinisi dan mempertimbangkan
banyak hal, selain itu penggunaan teknik radioterapi mutakhir seperti teknik
Intensity Modulated Radiotion Therapy (IMRT) tentu memiliki keunggulan
dan keterbatasan tersendiri.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian lebih lanjut tentang “Tatalaksana Radioterapi Kanker Prostat
Dengan Teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) Di Unit
Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya”.

B. Rumusan Masalah
11

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dikaji dalam
penulisan ini adalah :

1. “Bagaimana Tatalaksana Radioterapi Kanker Prrostat Dengan Teknik


Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit Radioterapi
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya?”

C. Tujuan

Adapun tujuan penulisan dari Laporan Kasus ini adalah :


1. Untuk mengetahui Tatalaksana Radioterapi Kanker Prrostat Dengan
Teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit
Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.
D. Manfaat Penelitian

Manfaat penulisan ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu manfaat


teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat Teoritis
Menambah wawasan dan pengetahuan pada penulis dan pembaca tentang
Tatalaksana Radioterapi Kanker Prrostat Dengan Teknik Intensity
Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.
2. Manfaat Praktis
Dapat membantu dalam hal pemahaman aplikasi yang berhubungan dengan
Tatalaksana Radioterapi Kanker Prrostat Dengan Teknik Intensity
Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Kanker Prostat
Kanker prostat merupakan suatu penyakit kanker yang menyerang kelenjar
prostat dengan sel-sel prostat, tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali,
sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya yang merupakan
keganasan terbanyak diantara sistem urogenitalia pada pria. Kanker ini sering
menyerang pria yang berumur di atas 50 tahun, diantaranya 30% menyerang
pria berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini
jarang menyerang pria berusia di bawah 45 tahun (Purnomo, 2011).
Tumor prostat ganas berkembang secara perlahan, tanpa gejala klinis yang
jelas pada stadium awal. Akibatnya, cukup banyak pasien yang baru
menyadari penyakit ini saat sudah mencapai stadium menengah hingga
stadium lanjut, sehingga memengaruhi hasil pengobatan yang dilakukan.
Kanker prostat bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya, khususnya tulang dan
kelenjar getah bening di panggul.

Gambar 2.1 Prostat Normal dan Kanker Prostat

12
13

B. Anatomi Prostat

Gambar 2.2 Anatomi Prostat


Prostat merupakan bagian dari sistem reproduksi pria, yang meliputi penis,
prostat dan testikel. Prostat, sebagai kelenjar aksesorius terbesar pada pria,
berbentuk konus terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang
terletak disebelah inferior vesika urinaria, mengelilingi bagian proksimal
uretra (uretra pars prostatika) dan berada disebelah anterior rektum (Drake
et.al. 2007). Bentuknya sebesar buah kemiri yang dan beratnya 20 gram, tebal
± 2cm , panjangnya ± 3cm dan lebar ± 4 cm pada bagian depan prostat
disokong oleh ligamentum prostatik dan di bagian belakang oleh diafragma
urogenital (Purnomo, 2011).
Menurut Sloane (2003), secara histologi prostat terdiri atas kumpulan 30-
50 kelenjar tubulo alveolar mengeluarkan sekret kedalam 15-25 saluran
keluar yang terpisah. Saluran ini bermuara ke uretra pada kedua sisi
kokikulus seminalis. Kelenjar ini terbenam dalam stroma yang terutama
terdiri dari otot polos yang dipisahkan oleh jaringan ikat kolagen dan serat
elastik. Otot membentuk masa padat dan dibungkus oleh kapsula yang tipis
dan kuat serta melekat erat pada stroma. Alveoli dan tubuli kelenjar sangat
tidak teratur dan sangat beragam bentuk ukurannya, alveoli dan tubuli
bercabang berkali-kali dan keduanya mempunyai lumen yang lebar, lamina
basal kurang jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Jenis epitelnya berlapis atau
14

bertingkat dan bervariasi dari silindris sampai kubus rendah tergantung pada
status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma mengandung sekret yang
berbutir-butir halus, lisosom dan butir lipid. Kelenjar Prostat menghasilakn
cairan yang merupakan salah satu komponen yang disimpan di bagian dalam
untuk dikeluarkan selama ejakulasi. Cairan ini dialirkan melalui duktus
sekretoris dan bermuara di utera posterioruntuk dikeluarkan bersama cairan
semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat berkisar ±25%
dari seluruh volume ejakulat (Purnomo, 2011).
Kelenjar prostat dipengaruhi oleh hormon androgen, termasuk testosteron
yang diproduksi oleh testis yaitu dehidroepiandrosteron. Fungsi kelenjar
prostat mensekresi cairan encer, seperti susu yang mengandung ion sitrat,
kalsium, ion fosfat, enzim pembeku, dan profibrinolisin. Selama pengisian,
simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi ductus
defferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar
prostat (saat ejakulasi) (Guyton dan Hall, 1997).
Menurut Mansjoer Arif dkk (2000), konsep terbaru kelenjar prostat
merupakan suatu organ campuran terdiri atas berbagai unsur glandular dan
non glandular. Telah ditemukan lima daerah atau zona tertentu yang berbeda
secara histologi maupun biologi, yaitu :

Gambar 2.3 Prostat Zone


1. Zona Anterior atau Ventral
Sesuai dengan lobus anterior, tidak mempunyai kelenjar, terdiri atas
stroma, fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
2. Zona Sentralis
15

Zona ini mempunyai epitel bertingkat dan mempunyai 25% dari volume
kelenjar. Lokasinya terletak antara kedua duktus ejakulatoris, zona ini
resistensi terhadap inflamasi.
3. Zona Perifer
kapsular dari aspek posterior kelenjar prostat yang mengitari uretra distal
dan meliputi hingga 70% kelenjar prostat normal pada lelaki muda. Dari
bagian kelenjar inilah lebih dari 70% penyakit kanker prostat berasal.
4. Zona Transisional
Zona ini bertanggung jawab terhadap 5% volume prostat dan sangat
jarang terkait dengan karsinoma. Zona Transisi mengitari uretra proksimal
dan merupakan wilayah kelenjar prostat yang bertumbuh sepanjang hidup
anda. Zona ini terlibat dalam pembesaran prostat jinak.
5. Kelenjar-Kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dari duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar
abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.

C. Patofisiologi Kanker Prostat


Menurut Mansjoer Arif dkk (2000), sebagian besar kanker prostat adalah
adenokarsinoma yang berasal dari sel asinar prostat dan bermula dari volume
yang kecil kemudian membesar hingga menyebar. Karsinoma prostat paling
sering ditemukan pada zona perifer sekitar 75%, pada zona sentral atau zona
transisi sekitar 15-20%, sedangkan menurut Presti (2004), dan Purnomo
(2011), sekitar 60-70% terdapat pada zona perifer, 10-20% pada zona
transisional, dan 5-10% pada zona sentral.
Munculnya kanker prostat secara laten pada usia tua banyak terjadi.
Sepuluh persen pria usia enam puluh tahun mempunyai kanker
prostat’diam’dan tidak bergejala. Persentasi ini bertambah usia. Pada tiga
puluh persen kematian pria yang sebelumnya mempunyai keluhan atau gejala
kanker prostat ternyata pada pemeriksaan ditemukan adanya tumor ganas ini.
Pertumbuhan dari kanker prostat asimtomatis yang kebemukan pada
umumnya lambat sekali. Sembilan puluh persen tumor tersebut merupakan
adenokarsinoma. Umumnya, penyakitnya multifocal keganasan sering terjadi
terletak di pinggir kelenjar. Prognosisnya langsung bergantung pada derajat
16

keganasan sel-sel dan kadar infiltrasi ke dalam pembuluh darah limfe dan
pembuluh balik (Jong dan Sjamsuhidayat, 2004).
Menurut Mc. NEAL (1988), mengemukakan konsep tantang zona anatomi
dari prostat. Komponen kelenjar dari prostat sebagian besar terletak atau
membentuk zona perifer. Zona perifer ini ditambah dengan zona sentral yang
terkecil merupakan 95% dari komponen kelenjar. Komponen kelenjar yang
lain (5%) membentuk zona transisi. Zona transisi ini terletak tepat di luar
uretra di daerah verumontanum. Proses hiperplasia dimulai di zona transisi.
Sebagian besar proses keganasan (60-70%) bermula di zona perifer, sebagian
juga dapat tumbuh di zona transisi dan zona sentra Karsinoma prostat berupa
lesi multi sentrik.
Kanker prostat menyebar ke kelenjar limfe di panggul kemudian ke
kelenjar limfe retroperitoneal atas. Penyebaran hematogen terjadi melalui V,
vertebralis ke tulang panggul, femur proksimal, ruas tulang lumbal, dan
tulang iga. Metastasis tulang sering bersifat osteoklastik. Kanker ini jarang
menyebar ke sumsum tulang dan visera, khususnya hati dan paru (jong dan
Sjamsuhidajat, 2010).

D. Etiologi dan Faktor Risiko


Penyebab kanker prostat sampai saat ini belum ditemukan, namun ada
beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan kejadian kanker prostat Faktor
risiko tersebut, antara lain:
1. Usia, Setelah usia 40, insidens kanker prostat sangat meningkat.
2. Etnis, Angka kejadian kanker prostat lebih tinggi pada orang keturunan
Asia dan pada orang berkulit hitam.
3. Riwayat keluarga, Pria dengan ayah atau saudara laki-laki yang menderita
kanker prostat memiliki risiko dua kali lipat untuk menderita kanker
prostat.
4. Diet dan gaya hidup, Diet tinggi lemak jenuh, daging merah, rendah serat,
rendah konsumsi tomat dan produknya, rendah konsumsi ikan dan kedelai
meningkatkan risiko kanker prostat. Hubungan kanker prostat dengan
obesitas masih terus diteliti, berdasarkan kaitan obesitas dengan risiko
keganasan dan kadar testosteron yang rendah. Frekuensi ejakulasi
17

dikatakan memiliki peran protektif terhadap kanker prostat, tapi saat ini
masih dalam tahap penelitian.
5. Genetik, Studi-studi yang meneliti peran genetik dalam berkembangnya
kanker prostat masih belum menemukan hasil yang konsisten. Beberapa
gen yang sudah diteliti antara lain RNA-seL, Macrophage-Scavenger
Receptor-1 (MSR1), ELAC2/HPC2 dan kromosom 8Q24.
6. Histopatologi, Jenis histopatologi terbanyak yang ditemukan pada kanker
prostat adalah adenokarsinoma (>95%), empat persen adalah jenis sel
transisional dan sisanya adalah karsinoma neuroendokrin (sel kecil) dan
sarkoma.
7. Lokasi, Sebagian besar (70%) kasus, kanker berasal dari zona perifer, 15
– 20% dari zona sentral dan 5 – 10% dari zona transisional. Akan tetapi,
kanker prostat lebih sering ditemukan di beberapa zona dalam derajat
histopatologi/grading yang berbeda-beda (multifokal). Kedua karakteristik
inilah yang menyulitkan tindakan kuratif defintif Transurethral
Resection of the Prostate (TURP). Tumor yang berasal dari zona sentral
biasanya bersifat lebih agresif dan cenderung menginvasi ke vesikula
seminalis.

E. Klasifikasi Stadium Kanker Prostat


Penentuan diagnosis utama dari Kanker prostat dengan colok dubur,
pengukuran PSA, biopsi prostat dan sidik tulang, ditambah dengan CT atau
MRI dan foto foto thorak.
Klasifikasi Secara klinis, penting untuk menentukan stadium serta
kelompok risiko dari kanker prostat. Sistem penentuan stadium yang umum
dipakai saat ini adalah sistem TNM dan G (grading-histopatologi) dari
American Joint Committee on Cancer (AJCC) edisi ke-7.
Selain penentuan stadium, dalam penanganan kanker prostat diperlukan
penentuan risiko. Sistem klasifikasi yang banyak dipakai saat ini adalah
menurut D’Amico. Klasifikasi menurut D’Amico ini awalnya dikembangkan
untuk memperkirakan risiko rekurensi biokimia dalam penanganan kanker
prostat, namun saat ini sistem ini telah dipakai secara luas sebagai prediksi
progresi klinis dan prognosis pada kanker prostat. Penentuan stadium dan
klasifikasi risiko secara lengkap dapat dilihat pada tabel 1 sampai 4.
18

Sementara itu, risiko keterlibatan kelenjar getah bening dan vesika seminalis
secara mikroskopik dapat diprediksi berdasarkan formula Roach.

T (Tumor)
Tx Tumor primer tak dapat dinilai
T0 Tidak ada bukti tumor primer
T1 Tumor yang tidak tampak atau tidak dapat diraba,
tidak terdeteksi pencitraan
T1a Tumor ditemukan secara incidental secara
histologis pada kurang dari sama dengan 5%
jaringan yang terpotong.
T1b Tumor ditemukan secara incidental secara
histologis pada lebih dari 5% jaringan yang
terpotong.
T1c Tumor yang teridentifikasi dengan biopsi jarum
(karena peningkatan PSA)
T2 Tumor terbatas dalam prostat*
T2a Tumor melibatkan kurang dari sama dengan 50%
dari 1 lobus.
T2b Tumor melibatkan lebih dari 50% dari 1 lobus.
T2c Tumor melibatkan kedua lobus
T3 Tumor menembus kapsul prostat
T3a Ekstensi ekstrakapsular (unilateral atau bilateral).
T3b Tumor menginvasi vesikula seminalis.
T4 Tumor terfiksasi atau menginvasi struktur organ
sekitar selain vesikula seminalis, bladder neck,
sfingter eksternal, rektum, muskulus levator dan atau
dinding pelvis.

N (Kelenjar getah bening/KGB)


Nx KGB regional tidak dapat dinilai
N1 Tidak ada metastasis KGB regional
N2 Metastasis pada lebih dari 1 KGB regional
M (Metastasis jauh)
Mx Metastasis jauh tidak dapat dinilai
M0 Tidak ada metastasis jauh
M1 Metastasis jauh
M1a KGB di luar regional
M1b Tulang
M1c Organ lain selain tulang
Tabel 2.1 TNM
F. Pesawat Linac
Linear Accelerator atau biasa disingkat LINAC adalah alat yang
digunakan untuk mengakselerasi atom atau partikel yang mengalami
19

percepatan sepanjang lintasan lurus akibat perbedaan potensial antara katoda


di antara lintasan tersebut. Akeselerator juga mengandung gaya listrik dan
gaya magnet untuk mengontrol arah gerak dari partikel tersebut. Satuan
energy dari setiap partikel adalah elektron volt, yaitu energy yang yang
dibutuhkan elektron untuk terionisasi saat beda potensialnya 1 volt. Dalam
dunia medis, alat ini membutuhkan radiasi energy tinggi sehingga dapat
digunakan untuk mengobati kanker dengan listrik memanfaatkan partikel
subatomic yang bergerak cepat
LINAC menghasilkan energy tinggi seperti pada prinsip sumber radiasi
sinar-X dengan mempercepat elektron yang telah diekstrak dari lapisan
permukaan logam. Berkas elektron yang dihasilkan dan dipercepat melewati
pandu gelombang ini dapat meningkatkan energinya menjadi lebih besar
mencapai daerah satuan KeV dan MeV. Elektron dipercepat melewati ruang
daerah vakum dengan menghasilkan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.
Elektron yang telah dipercepat melewati plat logam sehingga terjadi
tumbukan, sinar-X energy tinggi akan terhambur dari target. Berdasarkan
teori Planck, setiap foton memiliki nilai energy sama dengan h (Plank’s
Constan) dikalikan frekuensi (f).

Gambar 2.4. Skematik Prinsip Kerja Linac

1. Komponen LINAC (Linear Accelerator)


Pada LINAC modern terdapat enam bagian penyusun penting alat
diantaranya adalah:
20

a. Power Source
Sumber gelombang mikro disuplai oleh komponen Magnetron
ataupun Klystron. Magnetron berfungsi sebagai osilator frekuensi yang
mampu menghasilkan gelombang mikro dengan frekuensi tinggi.
Gelombang mikro tersebut digunakan untuk menghasilkan medan
magnet statis yang selanjutnya digunakan untuk mempercepat elektron
yang dihasilkan oleh elektron gun.
Berbeda dengan magnetron, kylstron bukanlah penghasil
gelombang mikro, melainkan memperkuat gelombang sumber yang
diberikan menggunakan sebuah amplifier penguat frekuensi. Dari hasil
penguatan frekuensi sumber tersebut, akan dihasilkan sebuah sistem
pandu gelombang dengan frekuensi mencapai 3 GHz. Khusus magnetron,
pada umumnya digunakan untuk menghasilkan energi radiasi rendah
yaitu 4 – 6 MeV. Untuk rentang energi yang lebih tinggi digunakan
kylstron.

b. Electron Source
Elektron adalah ion yang terpanaskan yang dihasilkan dari
pemanasan katoda, difokuskan menjadi sinar seperti pensil dengan
elektroda berfokus melengkung dan dipercepat menuju kutub anoda
melalui waveguide accelerator. Ini pada dasarnya adalah akselerator
elektrostatik sederhana yang disebut dengan electron gun.
Selanjutnya, elektron gun merupakan sumber elektron yang akan
dipercepat. Sebuah elektron gun dilengkapi dengan filamen tungsten
yang dipanaskan. Akibat pemanasan tersebut maka akan tejadi proses
emisi termionik yang mengakibatkan munculnya arus elektron yang
terlepas dari tungsten tersebut. Besarnya intensitas elektron berbanding
lurus dengan besarnya suhu pemanasan pada tungsten tersebut.

c. Accelerator Cube
Setelah elektron dihasilkan maka berkas elektron tersebut akan
diarahkan ke tabung pemercepat (accelerating tube) untuk dipercepat
sehingga energi kinetiknya meningkat.
21

Gambar 2.5 Komponen pada accelerator tube

Tabung pemercepat dilengkapi dengan pengendali arus/ drift tube


yang berfungsi membalik polarisasi dari medan listrik. Dengan adanya
proses ini akan terjadi lompatan partikel sehingga menambah kecepatan
partikel akibat pembalikan polarisasi tersebut. Semakin banyak dan
panjang drift tube yang digunakan, semakin besar pula kecepatan akhir /
energi kinetik partikel yang dihasilkan. Namun, tentunya akan
dibutuhkan konstruksi tabung yang panjang untuk menghasilkan energi
yang lebih tinggi.

Apabila energi kinetik yang dibutuhkan sudah tercapai, maka


berkas elektron dengan kecepatan tinggi ini akan arahkan untuk
menumbuk lempengan logam. Karena energi yang menumbuk
lempengan logam sanagat tinggi, maka akan dihasilkan berkas foton dari
proses ini. Berkas tersebut diarahkan keluar melalui kepala linac yang
disebut gantri untuk selanjutnya di arahkan menuju target.

Setelah dihasilkan foton dengan energi tertentu, perlu diadakan


pengkondisian akan berkas tersebut dikarenakan berkas yang dihasilkan
tidak menghasilkan intensitas foton yang seragam yang artinya energinya
juga tidak seragam. Selain itu, dalam aplikasinya, geometri berkas yang
dibutuhkan akan beragam, sehingga diperlukan komponen yang bisa
mengatasi kedua permasalahan tersebut.

d. Beam Bending System


Elektron merupakan sumber awal radiasi yang dikenakan ke
pasien. Kemudian elektron tersebut dipercepat menjadi elektron
berenergi tinggi. Selanjutnya elektron tersebut dilewatkan ke magnet
22

pembelok (bending magnet) kemudian bending magnet akan


membelokan berkas elektron yang biasanya sebesar 900.

Pada bending magnet, elektron dengan energi yang sedikit lebih


tinggi atau lebih rendah dari yang dikehendaki, akan dibelokkan
sedemikian rupa sehingga energi dan lintasannya dapat sesuai kembali
dengan yang yang dikehendaki.

Gambar 2.6 Bending System

e. Gantry Linac
1) Retractable Targets X-Ray
Target berfungsi untuk menghasilkan sinar-X setelah elektron
berenergi tinggi menumbuk dan berinteraksi dalam bahan target
tersebut. Untuk sinar-X dengan sumber tegangan MV (Mega Voltage),
arah radiasi sinar-X searah datangnya elektron. Sinar-X yang
23

dihasilkan memiliki profile yang tidak rata. Di bagian tengah


memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan di bagian pinggir.

2) Collimator System
Kolimator pada modern Linac paling tidak ada 2 buah, yaitu
kolimator primer dan kolimator sekunder. Kolimator primer
ukurannya tetap, sementara kolimator sekunder, ukurannya bisa
diubah-ubah (adjustable) sesuai kebutuhan. Kolimator sekunder sering
dinamakan jaws, yang fungsi utamanya untuk membentuk lapangan
radiasi (field size radiation).

Kolimator Primer berbentuk kerucut terletak diantara target


sinar X dan flatening filter.

Gambar 2.7 Kolimator Primer

Kolimator Sekunder terdiri dari empat balok dua membentuk


bagian atas dan dua dibawahnya. Kolimator ini dapat membentuk
bidang persegi panjang atau bidang persegi dengan ukuran sampai
pada 40 cm. Dan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan.
24

Gambar 2.8 Kolimator Sekunder


3) Flattening filters and electron scattering foils (also called scattering
filters)
Untuk menjadikan energi berkas foton menjadi seragam/uniform
dapat digunakan flattening filter (FF). Komponen ini bekerja dengan
menyerap sebagian berkas foton pada bagian menggunakan bahan
tertentu agar intensitas dibagian tersebut berkurang dan sama dengan
bagian lainnya sehingga semua bagian memiliki intensitas energi yang
merata.

(a) (b)
Gambar 2.9. a ) Profil energi tanpa FF b) Profil energi dengan FF
25

Berkas Elektron berupa berkas pensil, untuk menghamburkan


berkas tersebut menggunakan scatering foil. Tujuannya agar ekstrak
berkas elektron dapat terhamburkan lalu dilanjutkan pada sekondari
kolimator. Elektron Aplikator membantu berkas elektron hasil
sekondary kolimator jatuh pada filed size yang tepat.

4) Dual ionization chambers;


Monitor chamber berguna untuk mengukur dosis radiasi yang
dihasilkan Linac. Monitor chamber dapat menampilkan nilai monitor
unit (MU), dapat memonitor dosis rata-rata, kerataan berkas radiasi,
energi radiasi, dan digunakan sebagai metode untuk mematikan sistem
Gambar
Linac. Monitor 1. Proses
chamber Terjadinya
terdiri Sinar ionization
atas primary X dan Elektron
chamber dan
secondary ionization chamber

5) Retractable wedges;
Filter Wedge dapat digunakan untuk meratakan permukaan
isodosis untuk foton. Sudut wedge didefinisikan sebagai sudut yang
dilalui kurva isodosis di kedalaman tertentu dalam air (biasanya 10
cm). Wedges fisik biasanya tersedia dengan sudut irisan 15º, 30º, 45º
dan 60 º, wedges dinamis memiliki besar sudut yang bervariasi antara
0º - 60º.

6) Multi Leaf Collimator (MLC)


26

MLC untuk sinar photon terdiri dari beberapa block kolimator


atau leaves yang bisa digerakkan secara otomatis, bergerak secara
sendiri-sendiri membentuk bidang reguler dan ireguler

MLC memiliki lebar 1 cm atau kurang. Terbuat dari tungsten


memiliki ketebalan mulai dari 6 cm s/d 7,5 cm tergantung pada jenis
akselerator.

Gambar 2.2 MLC (Multi Leaf Collimator)

Gambar 2.3 MLC membentuk Berkas Lapangan

G. CT Simulator
Pada CT simulator, pemasangan masker atau peralatan lain yang
digunakan untuk immobilisasi dilakukan oleh radiografer dalam pengawasan
dokter onkologi radiasi. Pasien diposisikan di meja ct simulator, kemudian
peralatan immobilisasi (masker,pengganjal lutut atau alat bantu lainnya)
diposisikan sedemikian rupa sehingga nyaman untuk pasien.
27

Gambar 2.12 Pasien diatas meja CT simulator (Beyzadeouglu, 2010)


Laser pada CT simulator dinyalakan, posisi pasien diatur sedemikian rupa
sehingga garis tengah laser /midline lurus pada tubuh pasien pada organ yang
diperiksa. Titik referensi ditandai dengan marker radioopaque dan diposisikan
pada titik persimpangan laser. Titik referensi berguna untuk menentukan
posisi bagian dari organ yang diperiksa. Terdapat tiga lokasi titik referensi
satu dibagian atas kulit pasien, dan dua dibagian samping kanan dn kiri
pasien.
Kemudian dilakukan CT scan yang dimulai dengan topogram/scout view
yang berguna untuk menentukan posisi organ yang mau di periksa. Setelah
posisi organ dan ketebalan irisan ditentukan, kemudian dilakukan scanning
sehingga diperoleh irisan-irisan gambar CT scan.
Irisan gambar CT scan dikirim ke ruang perencanaan penyinaran
Treatment Planning System (TPS), melelui system jaringan informasi
radioterapi. Jika CT Simulator tanpa menggunakan masker, maka titik
referensi harus dibuat secara permanen (tattoo) pada permukaan kulit
(Beyzadeouglu, 2010).

H. Treatment Planning System (TPS)


TPS merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pelaksanaan terapi
radiasi, yaitu untuk menentukan homogenitas radiasi pada daerah target yang
dituju. Kemajuan dalam bidang teknologi elektronik dan komputer
memberikan berkas sinar dengan bentuk distribusi dosis yang diinginkan
sesuai target radiasi (Susworo, 2007).
Menurut Rasjidi (2011), target volume radiasi sangat penting ditetapkan
pada perencanaan radiasi (TPS) karena akan sangat menentukan apakah
lapangan radiasi akan mencakup seluruh sasaran radiasi atau sebaliknya akan
28

berlebihan, sehingga akan memasukkan banyak jaringan sehat didalam


lapangan radiasi (organ at risk).
Komputer di perencanaan penyinaran Treatment Planning System (TPS),
memperoleh transfer gambar dari CT simulator. Dokter onkologi radiasi akan
melakukan konturing (mengkontur) pada gambar ct scan. Kontur yang
digambar meliputi permukaan kulit organ, Gross Target Volume (GTV),
Clinical Target Volume (CTV), Planning Target Volume (PTV) serta organ
organ yang beresiko yang akan terkena radiasi penyinaran.

I. Verifikasi
Gambar Verifikasi lapangan penyinaran bertujuan untuk mengecek
ketepatan luas lapangan penyinaran yang akan dilakukan dengan
membandingkannya dengan perencanaan penyinaan (TPS) atau dengan film
simulator serta dilakukan secara regular. Apabila posisi pengaturan pasien
saat akan dilakunan penyinaran kurang tepat, maka dapat diatur sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan simulator.
Sistem perencanaan penyinaran (TPS) juga dapat menampilkan radiograf
yang direkonstruksi secara digital (DRR) dan dapat diperbandingkan dengan
gambar verifikasi lapangan yang diambil dengan Elektronic Portal Imaging
Device (EPID).

J. Penatalaksanaan Radioterapi Kanker Prostat


Radiasi definitif pada kanker prostat terbagi 2 yaitu radiasi hanya prostat
dan radiasi seluruh panggul diikuti dengan booster pada prostat. Radiasi
hanya prostat di berikan pada pasien kanker prostat risiko rendah yang
menolak operasi dan risiko sedang. Radiasi seluruh panggul diikuti dengan
booster pada prostat di berikan pada pasien kanker risiko tinggi atau pasien
peluang jangkitan kelenjar getah bening pelvis cukup. Risiko penyebaran ke
kelenjar getah bening pelvis dapat di hitung dengan rumus tertentuh atau di
ihat berdasarkan normogram.
Radiasi eksterna pada tumor yang masih terbatas pada prostat di tunjukan
pada volume target klinik prostat sampai dengan dosis 70-74 Gy perkali,
diberikan dari dua atau lebih lapangan.
29

Gambar 2.13 Perencanaan Radiasi Eksternal Kanker Prostat Dengan


Menggunkan Teknik IMRT.

Daerah radiasi pada kanker prostat risiko tinggi adalah seluruh panggul
dengan dosis 46 Gy diikitu dengan lapangan terbatas pada prostat sebanyak
34 Gy di berikan dari empat lapangan radiasi, sehingga total dosis pada
prostat adalah 80 Gy.
Radiasi seluruh panggul tidak di anjurkan pada kasus yang telah menjalani
limfadenektomi total guna menghindari sumbatan aliran getah bening dari
skrotum, penis dan tungkai.
Radiasi seluruh panggul meliputi lapangan atas setinggi perbatasan L5 dan
S1 dan bawah sebatas tepi bawah tuberositas iskiadika. Sedangkan batas
lateral berada pada 1-2 cm lateral dari rongga pelvis. Apabila diberikan
dengan 4 lapangan maka cakupan lapangan lateral batas atas dan bawah
sama, batas ventral terletak di pertengahan tulang simfisi pubis. Batas dorsal
mengikuti kecekungan sakrum untuk mengikutsertakan kelenjar getah bening
presaktal.
Lapangan anterior terbatas prostat adalah dengan menurunkan batas atas
menjadi setinggi 3 cm di atas teoi atas tulang simfisis pubis, panjang lapangan
laterolateral menjadi 10 cm. Dari lateral lapangan ini batas atasnya mengikuti
lapangan anterior sedangkan batas dorsal di geser ke arah ventral sehingga
terletak pada tuberositas iskiadika.
Radiasi diberikan dalam kondisi kandung kemih penuh serta pasien
dianjurkan untuk bernafas perlahan dan tidak menarik nafas panjang selama
periode radiasi. Dianjurkan memasang marka pada prostat melalui rektum
pada saat membuat foto simulasi.
30

Tindakan brakhiterapi dengan teknik implantasi radioisotop secara


125 198 192
permanen dengan I atau Au, atau implan temporer dengan Ir dosis 70
Gy juga dapat memberikan hasil pengobatan yang baik. Brakhiterapi dapat
berkombinasi dengan radiasi eksterna ataupun berdiri sendiri.
Kasus lanjut lokal yang tidal operabel memerlukan radiasi guna
meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada umumnya diberikan radiasi seluruh
panggul dari 2 atau 4 lapangan radiasi sebanyak 46 Gy, kemudian lapangan
kecil diperkecil hanya pada prostat saja. Sangat dianjurkan lapangan kecil ini
diberikan dari 4 arah dengan dosis per fraksi 1,8 Gy sehingga diperoleh dosis
booster sebanyak 30-34 Gy.
Dengan berkembangnnya radiasi eksterna metode 3D konformal dan
IMRT pada, hasil radiasi keganasan prostat menunjukkan angka kesembuhan
yang tinggi dengan morbiditas yang rendah, karena dengan IMRT
dimungkinkan eklasi dosis > 74 Gy. Berbagai laporan menuliskan pemberian
dosis > 74 Gy dihubungkan dengan respons terapi yang lebih baik. Untuk
menghindari ketidaktepatan geografis pada radioterapi dengan menggunakan
teknik IMRT, maka dianjurkan bernapas perlahan dan tidak terlalu dalam
serta diperhatikan kondisi pada saat perencaan radiasi.
Radioterapi paliatif dilakukan pada kasus dengan metastasis tulang untuk
mencegah fraktur patologik pada tulang belakang dan tulang penyangga berat
badan mengurangi nyeri.
Pengobatan hormonal merupakan salah satu metode terapi kanker prostat
mengingat terdapat hubungan yang erat antara keganasan ini dengan hormon
androgen. Pada prinsipnya pengobatan hormonal ini bertujuan untuk
menurunkan hormon ini dengan berbagai cara seperti mengablasi jaringan
penghasil androgen, menekan pelepasan gonadrotopin oleh kelenjar hifosis,
penghambatan sintesis androgen atau mempengaruhi kerja androgen terhadap
target jaringan. Untuk menurunkan kadar testosteron dapat pula dilakukan
orkidektomi bilateral disamping pemberian dietil stilbesterol. Dilaporkan
bahwa pada kasus-kasus lanjut lokal yang memperoleh kombinasi radiasi
definitif dan terapi endokron sebagai (neo) adjuvan ini memberikan perbaikan
31

kesintasan bebas penyakit sebanyak 23% - 41%dan perbaikan kesintasan


hidup 10% - 22%.
Penggunaan IMRT ini juga dapat memberikan distribusi dosis yang baik
pada pengobatan tumor-tumor sinus maksilaris, nasofaring, paru-paru dan
prostat. Dengan demikian pada pengobatan karsinoma nasofaring
menggunakan IMRT tidak akan diperoleh efek lanjut berupa xerostomia serta
resiko mielopati karena kemampuannya untuk menghindari kelenjar parotis.
Pada beberapa kasus IMRT dapat digunakan sebagai boost setelah pemberian
radiasi primer
BAB III
PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Papar Kasus
Berdasarkan hasil observasi penulis pada saat Praktek Kerja
Lapangan 5 di unit Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo,
penyinaran radioterapi pada kanker prostat di dapatkan hasil sebagai
berikut:
a. Identitas Pasien
1) Nama : Tn. S
2) Umur/Tanggal Lahir : 02/09/1944
3) Jenis Kelamin : Laki-laki
4) Alamat : Perum Griya Candramas
5) No. RM : 0385B18361X
6) Tanggal Pemeriksaan : 26/ 02/2018
7) Teknik Penyinaran : IMRT
8) Keterangan Klinik Pasien : Adenocarcinoma Prostat Gleason 9
Score (4+5)
b. Riwayat Pasien
Berdasarkan observasi penulis terhadap buku rekam medis pasien,
Pada tanggal 25 Februari 2018 saat dilakukan anamnesa kepada
pasien didapatkan keluhan nyeri punggung hilang timbul, post OP
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), tidak bisa gerak agak keras.
Dokter menganjurkan kepada pasien untuk pemeriksaan penunjang
seperti melakukan pemeriksaan patologi, Foto Thorax dan USG
Abdomen. Dari hasil pemeriksaan Patologi menunjukkan hasil
Adenocarcinoma Prostat. Setelah diketahui adanya kanker prostat,
dokter menganjurkan untuk menjalani radioterapi.

c. Pemeriksaan Penunjang

Sebelum di tentukan jenis kanker yang diderita oleh pasien


terlebih dulu dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu:

32
33

1) Hasil pemeriksaan Foto Thorax (25 Februari 2017) adalah


Aortoscierosis

2) Hasil pemeriksaan USG Abdomen (26 Februari 2017) adalah


Nefrolithiasis bilateral dan pembesaran prostat.

3) Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi (06 Maret 2017) adalah


Adenocarcinoma Prostat Gleason 9 (4+5)

4) Hasil Laboratorium

d. Rencana Terapi

Pasien datang ke Poli Onkologi Radiasi pada tanggal 26 Februari


2018, hasil anamnesa yang dilakukan oleh Dokter Onkologi Radiasi
didapatkan keluhan nyeri punggung hilang timbul, post OP Benign
Prostatic Hyperplasia (BPH), tidak bisa gerak agak keras. Berdasarkan
hasil pemeriksaan, Dokter Onkologi Radiasi menyarankan untuk
dilakukan Radioterapi kuratif pada Prostat dengan teknik IMRT
diberikan dosis total 50 Gy 25x fraksinasi dan booster 10 Gy 5x
fraksinasi .

2. Prosedur Radioterapi Kanker Prostat dengan Teknik Intensity


Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit Radioterapi Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.

a. CT Simulator

Pasien dilaksanakan CT Simulasi Kanker Prostat pada tanggal 25


Oktober 2018.

1) Persiapan Alat dan Bahan

a) Hidupkan alat CT Scan


34

Gambar 3.1 CT Simulator


b) Lakukan warm up CT Scan
c) Pasang alat immobilisasi berupa bantal kotak biru dan ganjalan
kaki.

Gambar 3.2 Alat Immobilisasi


d) Siapkan plaster
e) Spidol permanen warna hitam dan merah

Gambar 3.3 Spidol


f) Marker titik original (marker timah)
35

Gambar 3.4 Marker Titik

b. Treatment Planning System (TPS)

Menurut Rasjidi (2011), target volume radiasi sangat penting


ditetapkan pada perencanaan radiasi (TPS) karena akan sangat
menentukan apakah lapangan radiasi akan mencakup seluruh sasaran
radiasi atau sebaliknya akan berlebihan, sehingga akan memasukkan
banyak jaringan sehat didalam lapangan radiasi (organ at risk).
Proses rekronstruksi data TPS di Unit Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya dilakukan setelah proses
konturing/deliniasi oleh dokter spesialis onkologi radiasi. Langkah-
langkah untuk perencanaan TPS pada kasus kanker Prostat di Unit
Radioterapi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya
adalah menentukan titik iso center. Yang kedua pemilihan jumlah
lapangan penyinaran yang diberikan dan membuat blok untuk
melindungi organ di sekitar target tumor yang tidak perlu
mendapatkan radiasi.
Penentuan target volume radiasi pada kasus kanker Prostat juga
sangat penting ditetapkan oleh dokter ahli onkologi radiasi pada
perencanaan karena akan sangat menentukan apakah lapangan radiasi
akan mencakup seluruh sasaran radiasi atau sebaliknya akan
berlebihan sehingga akan memasukkan banyak jaringan sehat di
dalam lapangan radiasi.

c. Tatalaksana Penyinaran Kanker Prostat

1) Radioterapis memanggil pasien melakukan identifikasi pasien


dengan menanyakan nama pasien, tanggal lahir pasien, nomor
rekam medis dan mempersiapkan alat fiksasi untuk pasien tersebut.
36

2) Mempersilahkan masuk ke dalam LINAC, memposisikan pasien


untuk berbaring di atas meja pemeriksaan, serta instruksikan pasien
agar kedua tangan di samping badan pasien dan kakinya dipasang
ganjalan kaki supaya pasien merasa nyaman. Radioterapis
menyesuaikan laser pada isocenter yang sudah ditetapkan pada saat
verifikasi dengan mengubah arah gerak meja dan tubuh pasien.
Kunci tombol meja, pasang safety belt pada pasien memasang
selimut pasien agar pasien lebih nyaman. Lakukan penyinaran.

3. Setelah semua lapangan penyinaran sudah disinar, maka pasien


boleh keluar dari ruang LINAC.

Gambar 3.5 Linac

B. Pembahasan

1. Tatalaksana Radioterapi Kanker Prostat dengan Teknik Intensity


Modulated Radiation Therapy (IMRT) di Unit Radioterapi Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya.

Sebelum dilakukan penyinaran, pasien datang ke Unit Radioterapi


Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya untuk melakukan
konsultasi dengan Dokter Onkologi Radiasi terlebih dahulu. Pasien
membawa permintaan dokter pengirim dan hasil pemeriksaan penunjang
yang telah dilakukan seperti hasil Patologi-Anatomi, hasil CT Scan, hasil
USG, dan foto thorax. Selanjutnya pasien dijadwalakn untuk dilakukan CT
37

Simulasi Kanker Prostat, menentukan posisi pasien dan alat fiksasi yang
digunakan berupa bantalan kotak biru dan ganjalan kaki.
Setelah melakukan CT Simulator data dari ruang CT Simulator di
transfer ke ruang TPS. Di ruang TPS akan di rencanakan
delineasi/konturing target oleh dokter, waktu, pemberian dosis radiasi, arah
gantry dan kolimator dan akan dibuat perencanaan lapangan penyinaran
oleh fisikawan medis. Dalam hal ini teknik perencanaan yang digunakan
adalah dengan menggunakan teknik Intensity Modulated Radiation
Therapy (IMRT).
Setelah dari TPS data ditransfer kembali ke Simulator untuk dilakukan
simulasi dengan menentukan titik bidik, luas lapangan penyinaran, serta
daerah yang tidak disinar/dilindungi.
Hal ini sesuai dengan teori menurut Supriana, (2011) Treatment
Planing System (TPS) adalah suatu alat untuk membuat rencana
penyinaran yang tepat pada target volume, baik dalam radiasi eksterna
maupun brakiterapi. Tujuannya adalah untuk membuiat distribusi dosis
yang optimal dan homogeny pada target volume, menghitung dosis yang
diterima oleh jaringan sehat sekitarnya, menentukan arah dan sudut
penyinaran yang tepat, menentukan energi radiasi yang tepat, dan
menetukan waktu penyinaran.
Verifikasi lapangan penyinaran di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo pada kasus kanker prostat ini hanya dilakukan
sekali di ruangan Simulator sebelum penyinaran dilakukan hal ini
dimaksudkan agar tidak memakan waktu terlalu lama dan karena overload
pasien yang terlalu banyak.
Menurut Hoskin (2007) Verifikasi radioterapi adalah proses untuk
memastikan bahwa volume tumor yang diradiasi adalah sama seperti yang
direncanakan. Tujuan verifikasi adalah untuk memastikan bahwa akurasi
geometris dari radiasi yang diberikan masih didalam batas-batas yang
diperbolehkan dalam rencana penyinaran. Verifikasi dilakukan dengan
menggunakan Electronic Portal Image Device (EPID), jika hasil verifikasi
sudah benar maka dilakukan penyinaran.
38

Menurut Barret (2009) verifikasi lapangan penyinaran sebaiknya


dilakukan pada saat 3 kali penyinaran pertama dan pada penyinaran
seminggu sekali untuk memastikan ketepatan set up.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Tatalaksana radioterapi kanker prostat di Unit Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya dilakukan secara berurutan dimulai
dari persiapan pasien yaitu melakukan anamnesa dengan Dokter Onkologi
Radiasi yang selanjutnya dokter baru menentukan jenis terapi, teknik dan
dosis yang diberikan. Selanjutnya pasien dilakukan CT Simulasi dan hasil
dari CT Simulasi dikirim ke Treatment Planning System (TPS) untuk
menentuan arah, waktu, dan dosis penyinaran dengan mempertimbangkan
organ sehat mendapatkan dosis yang minimal dan jaringan yang terkena
kanker mendapatkan dosis yang maksimal. Dari hasil perhitungan Treatment
Planning System (TPS) barulah dapat diproses oleh komputer Linac untuk
diberikan ke pada pasien.

B. Saran
Verifikasi lapangan penyinaran di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Soetomo pada kasus kanker prostat ini hanya dilakukan
sekali di ruangan Simulator sebelum penyinaran dilakukan, sebaiknya
verifikasi lapangan di lakukan pada saat 3 kali penyinaran pertama dan pada
penyinaran seminggu sekali untuk memastikan ketepatan set up.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, dkk., (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica


Aesculpalus, FKUI, Jakarta.

39
Basuki B. Prunomo, 2011, Dasar - Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI,
Katalog Dalam Terbitan (KTO) Jakarta Guyton A. C., Hall J. E. 1997.
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC.

Beyzadeouglu M, Ebruli C, Ozyigit G. 2010. Basic Radiation Oncology. In:


Beyzadeoglu M, ed. Radiation Physics. Berlin Heidelberg: Springer;

Hoskin P, Gaze M, Greener T, etal. On Target Ensuring Geometric Accuracy in


Radiotherapy : Principles of Geometric Verification. Royal College of
Radiologists. 2007 :

Mc Neal, J.E. 1988. Normal anatomy of the prostate and chages in benign
prostatic hypertrophy and carcinomas. Semin USCT, MRI,

Presti, Jr. JC. Neoplasms of the Prostate. In: Tanagho EA, McAninch JW.
Smith's General Urology. 15th ed. New York: The McGraw-Hill Companies,
Inc. 2000,

Rasjidi Imam. (2010). Kanker Serviks Dalam Buku Epidemiologi Kanker Pada
Wanita, Jakarta, Sagung Seto

Sjamsuhidajat, R & Wim, de Jong (ed). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC

Susworo, R, Radioterapi, Dasar-Dasar Radioterapi Tata Laksana Radioterapi


Penyakit Kanker, Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia, 2007

www.kankerindo.org

BOOOMM

40
41