Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progesif dan lambat,

biasanya berlangsung beberapa tahun.Penyakit ginjal kronik merupakan suatu proses

patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang

progesif dan irreversibel serta umumnya berakhir dengan gagal ginjal (Sukandar,2006)

1. Definisi

Sindrom gagal ginjal kronik (GGK) merupakan permasalahan bidang nefrologi

dengan angka kejadian yang masih cukup tinggi,etiologi luas dan komplek,sering

tanpa keluhan maupun gejala klinik kecuali sudah stadium terminal atau gagal ginjal

terminal.

2. Etiologi

Dalam penatalaksaan sindrom gagal ginjal kronik (GGK) beberapa aspek yang harus

diidentifikasi sebagai berikut:

a. Etiologi GGK yang dapat di koreksi

Misalnya: tuberkulosis saluran kemih, dan ginjal,nefropati yang berhubungan

dengan urolitiasis, diabetes melitus,lupus eritematosus sistemik dan gangguan

elektrolit

b. Etiologi yang tidak mungkin dikoreksi tetapi dapat di hambat perjalanan

penyakitnya

Misalnya : nefropati (glomerulopati)idiopati


c. Beberapa faktor yang mungkin dapat memperburuk penurunan faal ginjal

misalnya : infeksi saluran kemih dan ginjal, gangguan keseimbangan cairan dan

elektrolit

d. Menentukan status derajat penurunan faal ginjal

3. Patofisilogis

Secara umum penyebab gagal ginjal baik akut maupun kronis yang berujung pada

gagal ginjal terminal. Pada penyebab pre renal umumnya ginjal mengalami depisit suplai

darah, pada internal biasanya terjadi gangguan primer apakah karena infeksi ataupun auto

imun atau sebuah trauma, sedangkan pada penyebab post renal ginjal mengalami tekanan

balik akibat adanya obstruksi apakah karena prostat, batu ginjal atau faktor lain. Apapun

dan dimanapun etiologinya yang pasti akan berdampak pada penurunan GFR sehingga

sebagian atau seluruh fungsi ginjaltidak dapat dilaksanakan dengan baik. Gagal ginjal

pada kelompok usia lanjut berhubungan erat dengan proses degeneratif kekakuan katup

jantung, tidak elastistasnya pembuluh darah, tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi

sehingga tingkat survuvalnya lebih rendah di bandingkan usia pertengahan

.glomerulonerfritis sebagai 60 % penyebab gagal gnjal kronis lebih banyak di derita pada

kelompok usia 20-40 tahun.

Penimbunan sisa metabolisme terutama ureum dan kreatinin merupakan dampak dari

ketidak mampuan ginjal dalam mempertahankan bufer asam basa terutama dalam

mnghasilkan bikarbonat sehingga mengakibatkan asidosis metabolik yang menujukan

peningkatan ionH sehingga berdampak buruk terhadap seluruh sel didalam tubh karena

sifat toksiknya, berbagai gejala keadaan ini sering disebut sindrom azotemia seperti

mual,muntah,pusing,napas cepat dangkal dan lainnya. Gangguan ginjal dalam mengatur

keseimbangan cairan dan elektrolit mengakibatkan berbagai gangguan emergensi seperti

hiperkalemia dan overhidrasi berat,menisfestasi awal dari gangguan fungsi ini terlihat dari
adanya oedema yang bisa disebabkan karena retensi air dan natrium karena perubahan

tekanan hidrostatik atau karena kehilangan albumin melalui urine atau karena malnutrisi

seningga menurunkan tekanan osmotik koloid dan terjadilah oedema,jika terjadi diarea

paru maka akan menyebabkan oedema paru dengan suara ronchi basah yang jelas kecuali

jika disertai efusi pleura. Gangguan metabolisme vit D akan berkibat pada gangguan

pemeliharaan tulang sehingga pasien mengalami osteopororsis atau osteodistrofi.

Gangguan fungsi hormonal dari gnjal memiliki dampak yang tidak sedikit,defisit

erytopoetin mekibatkan proses erytopoesis terganggu sehingga jumlah eritrosist berkurang

atau dengan umur yang lebih pendek, maka tidak heran pasien dengan gagal ginjal kronk

atau terminal sering memiliki hemoglobin yang rendah dan tidak jarang memerlukan

transfusi darah. Masih dari fungsi hormonal gangguan fungsi renin agiotensin,respon

ADH-Aldosteron merupakan beberapa hormon yang mencetuskan kejadian hipertensi

setelah pasien gagal ginjal,sebenarnya hipertensi dapat menjadi penyebab ataupun

komplikasi terjadinya gagal ginja.

4. Penatalaksanaan

Beberapa prisip terapi konservatif yang dapat dilaksanakan adalah:

a.mencegah memburuknya faal ginjal (LFG)

1. hati hati pembarian obat yang bersifat nefrotoksik

2. hindari keadaan yang menyebabkan diplesi volume cairan

3. hindari gangguan keseimbangan elektrolit

4. hindari pembatasan ketat komsumsi protein hewani

5. hindari proses kehamilan dan pemberian obat kontrasepsi

6. hindari instrumentasi(kateterisasidian sistoskopi) tanpa indikasi medik yang kuat

7. hindari pemeriksaan radiologi dengan media kontras tanpa indikasi medik yang

kuat
b. Program memperlambat penurunan progresif faal ginjal

1. kendalikan terapi ISK

2. kendalikan hipertensi sistemik dan intraglomerular

3. diet protein yang proporsional

4. kendalikan hiperfosfatemia

5. terapi hiperurekemia bila asam urat serum >10 mg%0

6. terapi keadaan asidosis metabolik

7. kendalikan keadaan hiperglikemia

c. terapi alleviative gejala azotemia

1, pembatasan komsumsi protein hewani

2. terapi gatal gatal

3. terapi keluhan gastrointestinal

4. terapi gejala neuromuskuler

5. terapi kelainan tulang dan sendi

6. terapi anemia

7. terapi setiap infeksi ( bakteri,virus HBV atau HCV)

d. terapi pengganti ginjal (TPG)

yang di maksud TPG adalah usaha untuk mengembalikan alih fungsi gina yang telah

menurun dengan menggunakan ginjal buatan (dialiser) dengan tehnik dialisis atau

hemofiltrasi, yaitu fungsi pengaturan cairan dan elektrolit,serta ekresi sisa sisa

metabolisme protein. Sedangkan fungsi endokrin seperti sisa sisa metablisme priten

.sedangkan fungsi endokrin seperti fungsi pengaturan tekanan darah, pembentukan

erytrosit, fungsi hormonal, maupun integritas tulang tidak dapat di ganti olh terapi

jenis lain.

1. Jenis TGP
Adanya indikasi TPG dan GGA ataupun GGK tahap akhir memberikan pilihan

pada pasien khususnys dan tim medis untuk menentukan TPG yang ada yang

terdiri dari:

1. Artifisial (buatan)

Hemodialisis :cuci darah dengan menggunakan mesin cuci darah

Dialisis Peritoneal: cuci darah dengan menggunakan rongga perut sendiri

(peritonium) yaitu Continous Ambulatori Peritonial Dialisis (CAPD),

Automatoc Peritonial Dialisis (ADP)

2. Alamiah

Cangkok (transplantasi ginjal): mengganti ginjal pasien yang sakit dengan

ginjal dari donor:Transplantasi donor hidup ( keluarga),Translantasi donor

jenazah ( cadaveric).
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

Hemodialisis ialah proses pemisahan zat-zat tertentu dari darah melalui membrane

semipermeabel, sebelum ditemukan hemodialisis, penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK)

stadium akhir tidak dapat ditolong dengan cara apapun. Sehingga dapat dikatakan bahwa

hemodialisis dapat menggantikan fungsi ginjal seseorang untuk tetap dapat bertahan hidup

meskipun tidak sempurna bila ginjal masih berfungsi.

Hanya fungsi tertentu yang dapat digantikan namun cukup dapat mempertahankan

kehidupan dan masih dapat bekerja tentunya dengan pembatasan makanan dan minuman.

Alternatif terbaik untuk mengatasi GGK stadium akhir adalah transplatasi (cangkok ginjal).

Bahwa tidak semua penderita GGK stadium akhir dapat dilakukan transplatasi dan sulit untuk

mendapatkan donor ginjal.

Untuk mengatasi penderita dengan Gagal Ginjal Kronik (GGK), hemodialisis juga

diperlukan untuk penderita dengan Gagal Ginjal Akut (GGA), keracunan obat-obatan,

oedama paru akut yang tidak dapat diatasi dengan medika mentosa.

2. Prinsip Hemodialisis

Dialysis merupakan pengobatan pengganti (replacement trearment) pada penderita GGK

stadium terminal, jadi fungsi ginjal digantikan oleh alat yang dinamakan Dialyzer (Artificial

Kidney). Pada dialyzer ini terjadi proses perpindahan zat-zat terlarut dalam darah kedalam

cairan dialisat atau sebaliknya.

A. Faktor-faktor yang menyebabkan proses Hemodialisis


a) Proses difusi

Ialah proses pengeluaran solut karena perbedaan konsentrasi dari konsentrasi

yang tinggi ke konsentrasi yang rendah

b) Proses ultrafiltrasi

Ialah proses perpindahan solvent, terjadi karena adanya perbedaan tekanan

hidrostatik.

c) Proses konveksi

Ialah proses perpindahnya solute dan solvent karena proses ultrafiltrasi.

B. Istilah-istilah dalam hemodialisis

a) Dialisis

Ialah proses difusi melalui membran semipermeabel

b) Dialiyzer

Ialah suatu alat dimana terjadi dialysis (Artificial Kidney)

Pada dialyzer terdapat 2 ruang, yaitu kompartemen darah dan kompartemen

dialisat, keduanya dipisahkan oleh membran semipermeabel

c) Membran Semipermeabel

Ialah selaput yang tipis dan mempunyai lubang-lubang (pori-pori) dengan

ukuran tertentu sehingga bila ukuran suatu molekul yang lebih besar tidak

dapat melaluinya.

d) Dialisat

Ialah cairan yang dipakai pada hemodialisis, terdiri dari campuran elektrolit

dengan konsentrasi tertentu, menyerupai serum normal.


e) Blood Lines

Ialah selang-selang yang mengalirkan darah dari pasien ke dialyzer dan dari

dialyzer ke pasien. Terdiri dari 2 yaitu :

1) Inlet/arterial line (mengalirkan darah dari pasien ke dialyzer/warna

merah)

2) Outlet/venous line (Mengalirkan darah dari dialyzer ke pasien/warna

biru)

f) Blood Pump

Ialah suatu alat yang menyebabkan darah dapat mengalir dalam sirkulasi

darah.

g) Pump Segment

Ialah bagian inlet yang ditempatkan dalam blood pump.

h) Bubble Trap

Ialah suatu ruangan yang berfungsi menahan gelembung udara dalam

sirkulasi darah, sehingga tidak masuk ke pasien, terdapat 2 buah yaitu pada

inlet sebelum dialyzer dan pada outlet setelah dialyzer.

i) Blood Flow Rate

Ialah kecepatan aliran darah tiap menit.

j) Priming

Ialah pengisian cairan fisiologis pertama sebelum sirkulasi darah, jumlahnya

disebut priming volume.

k) Conductivity
Ialah kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan ailkran listrik, makin

pekat konsentrasi elektrolitnya makin tinggi kemampuan untuk

menghantarkan arus listrik.

l) Pressure = tekanan

m) Fistula Pressure

Ialah tekanan yang diukur pada inlet sebelum blood pump, fistula pressure ini

menjadi negatif bila aliran darah sebelum blood pump terhambat

n) Arterial Pressure

Ialah tekanan yang diukur pada bubble trap pada inlet sesudah blood pump,

terjadi positif pressure bila ada tekanan dari dialyzer misalnya ada kloting.

o) Venous Pressure

Ialah tekanan yang diukur pada bubble trap pada outlet, terjadi tekanan positif

bila ada hambatan jalan masuk darah ke tubuh pasien.

p) Trans Membran Pressure

Ialah beda tekanan pada kedua sisis membrane dialyzer (kompartemen darah

dan dialisat).

q) Ektra Corporeal Dialisis

Ialah dialysis di luar tubuh, misalnya hemodialisis.

r) Intra Corproreal dialysis

Ialah dialysis di dalam tubuh, misalnya peritoneal dialysis.

C. Membran dan dialyzer


Membran semipermeabel adaalah suatu selaput yang sangat tipis yang mengandung

pori-pori kecil didalamnya. Biasanya ketebalan membran ini berkisar 12-30 mikron

dalam keadaan kering dan menjadi 2-3 kali lebih tebal alam keadaan basah.

Pori-pori tersebut sangat halus sehingga tidak dapat dilihat dengan mata, apabila

diperbesar ribuan kali maka akan Nampak sebagai sebuah saringan yang sangat halus.

Pori-pori tersebut membentuk seperti pipa-pipa halus yang pendek-pendek sebuah

selaput yang lebih tipis lagi memotong pipa-pipa halus sehingga menjadi pori-pori.

Sebuah membran semipermeabel yang baik merupakan selaput yang sangat tipis

sehingga mempunyai bentuk satu lubang yang cukup rata sehingga berfungsi sebagai

penyaring, mengahalangi setiap partikel yang terkandung dalam suatu larutan yang

mempunyai ukuran lebih besar dari pori-pori, sedangkan partikel yang mempunyai

ukuran lebih kecil dari pori-pori itu dapat melaluinya dengan mudah.

Besarnya pori-pori pada suatu membran dialysis umumnya kurang lebih 50 Amstron,

dan molekul yang mempunyai berat molekul lebih besar dari 5000 tidak dapat

melewatinya. Termasuk diantaranya adalah virus, bakteri, eritrosit, dll. Pada umumnya

makin kecil berat molekul suatu zat, makin mudah pula zat tersebut melalui membrane

dialysis. Molekul-molekul dengan berat molekul antar 300-2000 disebut sebagai middle

molecule. Termasuk dalam golongan ini adalah ureum dan kreatinin, akan tetapi masih

banyak zat-zat yang kemudian diketahui sebagai penyebab gangguan yang terjadi pada

penderita CRF.

1. Faktor yang harus diperhatikan untuk memilih dialyzer :

a) Terbuat dari bahan-bahan yang non toksik

b) Priming volume yang rendah dan stabil

c) Resistensi yang rendah terhadap aliran darah

d) Clearance yang baik untuk small dan middle molecule


e) Ultrafiltrasi yang fleksibel dan dapat diatasi

f) Trombogenesiti yang rendah

g) Angka kebocoran kompartemen darah dan dialisat yang rendah

h) Bebas dari bahan pyrogen

i) Praktis aman dan murah

j) Dapat dipakai ulang

2. Bentuk dialyzer terdiri dari :

a) Coil dialyzer

b) Parallel plate dialyzer

c) Kapilari dialyzer/hollow fiber artificial kidney

3. Bahan dasar membrane dialyzer

a) Cellulose

b) Substituted cellulose

c) Cellulosynthetic

d) Synthetic

D. Dialisat

Adalah cairan yang digunakan dalam hemodialisis, terdiri dari campuran air dan

konsentrat yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai serum normal.

1. Fungsi dialisat

a) Membuang zat-zat sisa dan cairan yang keluar dari penderita seperti ureum,

kreatinin, elektrolit dll.

b) Untuk menjaga keseimbangan elektrolit.

c) Mencegah penurunan air yang sangat berlebihan.

2. Komposisi dialisat
Dialisat terbuat dari konsentrat dan air

a) Konsentrat ialah larutan yang mengandung elektrolit dalam konsentrasi

tertentu.

b) Sumber air untuk hemodialisis berasal dari ledeng, sumur. Air ini secara ideal

harus dilakukan water treatmen terlebih dahulu konsentrasi elektrolit dalam

dialisat standar ialah sebagai berikut;

Na : 132-135 meq/L

K : 2-3 meq/L

Cl : 100-110 meq/L

Ca : 3,5 meq/L

Mg ; 1,5 meq/L

Asetat : 35-45 meq/L

E. Air Untuk Hemodialisis

1. Ada central water treatment

2. Step pengolahan air :

a) Softening ( Calcium dan Magnesium )

b) Carbon filter ( Chloramine )

c) Reverse osmosis atau deionisasi

d) Sterilisasi

F. Bahan Atau Kontaminan Air Yang Berbahaya

1. Alumunium : demensia, anemia dan penyakit tulang


2. Chloramine dan copper : hemolysis

3. Endotoxin : pyrogen

4. Fluoride : penyakit tulang ( chronik ), kematian ( akut )

G. Konsentrat HD

1. Fungsi Konsentrat

a) Untuk menjamin bahwa difusi elektrolit akan terjadi dan menjamin level

elektrolit akan dijaga stabil.

b) Untuk menyediakan ion Bikarbonat dalam darah/tubuh.

H. Jenis-jenis Konsentrat HD

1. Konsentrat Asetat.

2. Konsentrat Bikarbonat:

a) 7 – 17 mS/cm

b) 10 - 20 mS/cm

3. Bubuk Acid atau Bubuk Bikarbonat

I. Konsentrat HD dipergunakan dalam Dialisis?

1. Konsentrat Asetat: Dalam larutan dengan Air RO (Reverse Osmosis).

a) 1 bagian Konsentrat dengan


b) 34 bagian Air

2. Konsentrat Bikarbonat: Bagian A(cidic) dipergunakan bersama Bagian B(ikarbonat)

dengan air RO.

a) 1 bagian A

b) 2 bagian B

c) 34 bagian Air

3. Mesin Hemodialisis

1. Blood Monitor (Pengontrol Darah)

Berfungsi untuk mengontrol dan mengamati aliran darah sebelum dan setelah

melewati dialiser serta mengontrol penambahan heparin ke dalam darah.

2. Fluid monitor (Pengontrol Cairan)

Berfungsi untuk membuat cairan dialisat dari pencampuran antara konsentrat dan

air Reverse Osmosis dilengkapi dengan pengatur suhu untuk menghasilkan komposisi

yang tepat .
Mesin Hemodialisis ragam

TORAY

1
R.HEMODIALISA R.REUSE R.ICU

RO
UV
Tanki 1000L

POMPA 250 W REVERSE OSMOSIS

Artesis/ PDAM
Tanki 1000L

Karbon&manganis SOFTENER
POMPA 300 W POMPA 300 W Cartridge

1. Membuat flow diagram dan skema dari alat yang akan di pasang termasuk pemipaan

dan kelistrikannya

2. Beberapa parameter dipasang disesuaikan dengan kebutuhan

3 Distribusi air dengan sistem loop (tertutup)

4 Hindari sistem stagnasi/aliran buntu

- Terjadi perkembang biakan bakteri

- Menyulitkan Pencucian dan proses disinfektan

A. Cartridge Filter

a) Filter ini digunakan untuk menyaring bahan dalam air seperti: Karat, pasir, bahan

mikro, dan kapur

b) Ukuran 10 mikron digunakan untuk “pre filter”

c) Ukuran 5 mikron menyaring air sebelum masuk mesin HD


d) Ukuran 1 mikron sebelum masuk selang dialiser

e) Ukuran 0,5 mikron untuk material yang sangat halus

Bahan instalasi water treatment yang baik adalah polyethylene-cross linked (PE-X)

B. Karbon filter

1. Karbon filter berfungsi untuk menyaring :

a) Bau

b) Warna

c) Bahan pencuci

d) Klorin

e) Zat baja kimia

f) Bahan organik atau pyrogen

C. Sand/manganis filter

Berfungsi untuk menyerap besi dan mangan ]

D. Water softener

1. Pelunak air ini berfugsi untuk mengurangi kekerasan air yang sebabkan oleh

magnesium dan kalsium yang berlebihan.

2. Bekerja secara kationik. Air mengalir melewati resin kation dalam air dan diserap

ketika ada ion lawan jenisnya (sodium)

3. Harus dilakukan regenerasi

E. Reverse Osmosis

1. Reverse Osmisis adalah suatu metode pemurnian melalui membran semipermiable

dengan memberikan tekanan yang sangat tinggi melampaui tekanan osmosis sehingga
akan memaksa air melewati proses Reverse Osmosis dari bagian kepekatan tinggi ke

bagian kepekatan rendah.

2. Menghasilkan air murni 99.99%

3. Diameter membran RO 0,0001 mikron.

F. Bahan-bahan yang disaring oleh membran RO

1. Bakteri

2. Virus

3. Racun

4. Logam berat (arsenik, plumbum, kadmium, raksa)

5. Ion logam

6. pyrogens

(organik dan ionorganik)

G. Kualitas Material

1. Stainless steel

2. Polyvinyl chloride (pvc)

3. Pex (cross-linked polypropylene)

4. pvdf (polyvinylidene chloride)

H. Hindari bahan-bahan sebagai berikut :

1. Kuningan

2. Tembaga

3. Aluminium

4. Timah

I. Sistem Pemasangan
1. Menempatkan komponen water treatment secara teratur dan mudah untuk

dioperasionalkan

2. Meminimalkan sudut dan belokan pada saluran instalasi water treatment

3. Saluran dan tanki penampungan hindari dari sinar matahari

4. Jaga suhu ruangan Water treatment dibawah 40 o C

J. Jumlah Kebutuhan Air RO Untuk Cuci Darah

1. Sekali HD 150 liter

( satu kali tindakan + persiapan)

2. Satu bulan 7500 liter

(150 x 2 shift x 25 hari )=7500 Liter/ satu mesin

3. Perhitungkan product dengan Reject nya

60 : 40

50 : 50

40 : 60

K. Perawatan Water Treatment

1. Selambat-lambatnya karbon filter diregenerasi 3 hari sekali

2. Penggantian media karbon paling lama 3 tahun/ disesuaikan kualitas air sumber

3. Lakukan regenerasi water softener selambat-lambatnya 3 hari sekali/ disesuaikan

kualitas air sumber

4. Penggantian resin pada water softener selambat-lambatnya 5 tahun/ disesuaikan

kualitas air sumber

5. Garam non iodium untuk regenerasi water softener harus selalu tersedia
6. Walau unit Ro banyak menggunakan sistem otomatis, pengecekan rutin harus selalu

dilakukan

7. Lakukan penggantian filter cartridge setelah indikasi tekanan air telah turun dan filter

sudah terlihat kotor

8. Secara rutin melakukan pengecekan sample produk RO ke laboratorium selambat

lambatnya 3 bulansekali.

L. HEPARIN ( ANTIKOAGULAN PADA HD )

A. Antikoagulasi Rutin

a. Dosis Awal 2000 U

b. Continous 1000 U / jam

- Dosis bolus awal ; 50 – 100 U/ kgbb ( 3000 – 4000 U )

- Continous 1000 – 2000 U / jam

2. Antikoagulasi Berisiko Perdarahan :

a. Heparinisasi Minimal

- Tidak diberikan dosis awal

- Continous 250 – 2000 U/jam, biasanya 500U/jam

b. Bebas Heparin

- Sirkulasi heparin 3000 – 5000 U ( dikeluarkan )

- Bilas 25 – 200 ml Nacl / 15 – 30 menit


c. LMWH ( Low Mollecullar Weight Heparin )

K. Jadwal Dialisis

a) Harus memenuhi kecukupan dialisis (adequacy of dialysis) dengan Kt/V

b) Standar NKF KDOQI 2001:

• Kt/V delivered : 1,2

• urea reduction rate : 65 %

• Karena banyak faktor yang berpengaruh maka

harus diantisipasi dengan target lebih tinggi pada pembuatan resep dialisis :

• Kt/V prescribed : 1,3

• Urea reduction rate : 70 %

L. Standar jadwal hemodialisis

a. Hemodialisis standar (Standard Hemodialysis) :

b. kali per minggu dengan 4-5 jam per sesiHemodialisis malam hari (Nocturnal

dialysis):

3-5 kali per minggu dengan 8-10 jam per sesi , malam hari

c. Hemodialisis pendek (Short dialysis) :

5-7 kali per minggu dengan 2-3 jam per sesi.

4. Adekuasihemodialisis

Adekuasihemodialisis (HD) menunjukkanefektivitas HD padapasiendengan HD

kronik.Efektivitasdilihatdarikombinasibeberapaindikatortidakhanyadaritingkatklirensureumsa

ja.
a) Adekuasi HD : regimen terapi yang dapatdicapai

olehpasiendan provider dialisisdalamrangka

mencapai :

 gejalauremikterkontrol

 pasienmerasanyaman

 parameter biokimiauremiadannutrisibaik

 dosisdialisistercapaiberdasarkanklirenssolutkecil

Kapandievaluasi

 Rekomendasipenilaianadekuasi HD :

 1 kali/3 bulanpadapasienstabil

 setiapbulanpadapasientidakstabilatausetelahperubahanpreskripsi HD

Indikatorbiokimia

 Ureum :tergantungpasien (sulitdiinterpretasikan)

 albumin : > 4 g/dL

 kreatinin : 12 – 15 mg/dL (range : 8 – 20 mg/dL)

 cholesterol : 200 – 250 mg/dL

 kalium : 5 – 5,5 meq/dL

 fosfor : < 5,5 mg/dL

 calcium : 9 – 12 mg/dL

 alkali fosfatase : < 100 units/L


 bikarbonat : 20 – 22,5 meq/dL

 hemoglobin : 11 – 13 g/dL

 PTH :2 – 4,5 kali normal

 calcium/fosfat : < 4,4 kali

5. Dosishemodialisis

 Urea removalsebagaiindikatorkecukupandosis

HD

 urea sebagaisalahsatutoksinmolekulkecil

 produkkatabolismedanmenunjukkanlimbah nitrogen

 mudahdiperiksa

 menggambarkanfungsiginjalsisa

 jumlah urea terdialisisberkorelasidengan outcome pasien

Keterbatasan urea untukmenilaiadekuasihd

 urea removal : jangandipakaisebagaisatu-satunyaalatuntukmenilaiadekuasi HD

 klirens urea tidakberkorelasidenganklirenstoksinuremia lain

 validitasnyatergantungdariseberapabaikterapi HD

 akurasikadar urea sangatdipengaruhiketepatanwaktupengambilan sampling post HD

Metodauntukmemperkirakanklirens urea secaramatematis

 Urea reduction rate (URR)

 paling mudahdansederhana

 URR = urea predialisis – urea postdialisis


ureapredialisis

 R = 1 – URR

 URR :dinyatakandalamprosentase (kalikan 100 %)

 Contoh : 100 – 40/100 = 0,6 atau 60 %

 R = 1 – 0,6 = 0,4

Estimated single pool Kt/V

persamaanDaurgidas

R = urea post dialisis

ureapredialisis

𝑈𝐹
Kt/V= - ln( R- 0,008 x t)+( 4 - 3,5 X R ) x 𝑊

t = time dialysis

W= beratbadan post hd

UF = UF goal

ResirkulasiRebound urea

 Padasaat HD selesai

 tubuhakanmenstabilkankadarureum

 ureumdarijaringanakanmasukkedalamsirkulasisehinggakadarureumdarahakanmeningk

atdalamwaktu 30 - 60 menit

1. Pengambilansampelharustepatwaktu agartidakmembuat bias

A. Kt/V
a) spKt/V : single pool Kt/V

b) e Kt/V : equilibrate Kt/V

eKt/V<spKt/V eKt/V = (0,2 sd 0,25) spKt/V

6. Manajemen Pasien Hemodialisis

Meliputi :

a) Sesi hemodialisis pertama

b) Monitoring intradialitik

c) Pengawasan reguler jangka panjang

Keuntungan dilakukan HD awal

a) Memperbaiki rehabilitasi pasien spy dapat bekerja lagi

b) Mengurangi komplikasi yang terjadi pd awal dialisis

c) Menghindari status nutrisi yang buruk

d) Menghindari keadaan darurat untuk dilakukan dialisis

Indikasi absolut dilakukan HD

a) Perikarditis

b) Overhidrasi cairan/edema paru yang refrakter terhadap diuretika

c) Hipertensi akselerasi yang tidak dapat diobati dengan obat anti hipertensi

d) Ensefalopati / neuropati uremia ( kejang)

e) Perdarahan yang disebabkan uremia

f) Mual muntah persisten

g) Kreatinin plasma > 12 mg/dl, ureum > 100 mg/dl


Indikasi relatif untuk HD

a) Anoreksia mual muntah

b) Depresi

c) Anemia gravis tidak respon thd EPO

d) Pruritus persisten

 Dibutuhkan marka objektif untuk GGK sebelum dilakukan HD

Indikasi untuk dialisis awal

a) Estimasi glomerular filtration rate (GFR)

b) Penilaian status nutrisi

Penilaian status nutrisi

a) Protein intake < o,8 g/kg/hr

b) Albumin plasma

c) Kreatinin plasma

Marka malnutrisi yang lain :

- transferin

- prealbumin

- cholesterol

Kontra-indikasi HD

a) Tidak ada kontra indikasi absolut

b) Kontra indikasi relatif:

- keganasan lanjut
- dementia

- sirosis hati lanjut dg ensefalopati

Rekomendasi dialysis

a) Malnutrisi

-albumin plasma < 4 gr/dl

- asupan protein < 0,8 gr/kg/hr

- prealbumin < 30 mg/dl

- kolesterol total < 150 mg/dl

- transferin < 200 mg/dl

b) Kreatinin plasma > 10 mg/dl, ureum > 100 mg/dl

c) Klirens kreatinin 15 – 20 ml/mnt

Sesi Dialisis Pertama

a) Minimalkan reaksi dari tubuh pasien

Yang paling sering terjadi :

b) Dialysis Disequilibrium Syndrome

c) Mekanisme : penurunan toksin terlalu banyak dalam waktu singkat

d) Gejala : mual muntah, rasa berputar, lemah badan, penurunan kesadaran ringan sd

berat, kejang

Sistem Monitoring

1. Koneksi vaskular

2. Heparinisasi
3. Ultrafiltrasi

4. Aktivasi dan makan selama HD

5. Follow up selama HD

6. Akhir HD & restitusi darah

7. Teknik Hemodialisis

a. Persiapan pasien

a) Persiapan psikologis dari pasien

Sebelumnya dari permulaan hemodialisis pasien seharusnya diberitahukan dulu

tentang kebutuhan tentang dari pengobatan dialisis teratur. Pengertian dasar harus

diterangkan dengan cermat, terutama pengobatan yang teratur, kecuali dengan

transplatasi ginjal. Harus ditekankan bahwa pasien tambah baik dengn dialisis

sehingga aktifitas kerja akan tetap mendekati normal.

Beberapa trauma psikis tidak dapat dihindarkan bila pasien tahu bahwa ia

berhadapan dengan pengobatan yang tidak menentu dengan hemodialisis. Cara

yang terbaik uk melawan trauma ini yatu membuat persatuan pasien mungki jauh

lebih baik dalam menghadapi pengobatan.

b) Pembuatan jalan masuk untuk hubungan sirkulasi

Mesin ginjal baru dapat berfungsi bila sirkulasi darah dapat dihubungkan

dengan sirkulai sistemik penderita. Hal yang tidak dbolehkan adalah bahwa

pembuluh darah untuk inlet, adalah sama pentingnya dengan pembuluh darah

outlet. Karena gagal menghubungkan sirkulasi darah untuk outlet maka

hemodialsis tidak dapat dijelaskan.


Untuk menghubungkan sirkulasi dari mesin dengan sirkulasi sistemik ada

berbagai cara. Internal AV fistula adalah cara yang paling umum dari permulaan

hubungan sirkulasi.

b. Hubungan sirkulasi tanpa AV Shunt

Dilakukan fungsi melalui kulit langsung pada pembuluh darah yang ada, hal yang

dikerjakan pada :

a) Keadaan darurat, sedangkan shunt/fistula belum dibuat

b) Shunt/fistula yang dibuat belum bisa dipakai kerena aliran darah kecil, infeksi

 Untuk outlet dapat dipilih salah satu vena dibagian lengan, tungkai

dimana saja yang memungkinkan untuk dijadikan posisi.

 Untuk inlet dapat dipakai : Vena Femoralis

c. Persiapan mesin dan alat

Sebelum menjalankan hemodialsis hendaknya dilakukan dulu persiapan mesin dan

pasien dengan baik, persiapan mesin terdiri dari :

 Sirkulai dialisat

 Sirkulai darah

d. Persiapan sirkulasi dialisat

a) Sterilsasi sirkulasi dialisat

Sebeum dan seudah dipakai mesin hendaknya didesinfeksi terlebh dahulu baik

dengan bahan-bahan desinfektan maupun di panaskan.

Sebagai bahan desinfektan :

 Larutan formalin 3-5%

 Sodium Hipklorit 15%

 Cetric acid 20%

 Paracetie acid 3,5%


b) Mencampur dialisat

Dialisat dibuat dengan mencampur air dan konsntrat dengan perbandingan 35-

40 : 1, setelah dicampur diukur conductivitinya dengan alat, sedangkan cara yang

lbi sering digunakan adalah dengan sistem proportioning yaitu selang langsug

dihubungkan dengan konsetrat dan secara otomatis mesin dapat mencampur air

dengan perbandingan tertentu, dan dimonitor dengan alat khusus apakah

conductivitinya sudah sesuai.

c) Temperatur dialisat

Dialisat harus diapanaskan dulu sampai mencapai sushu antara 35-37 derajat

celcius.

e. Persiapan sirkulasi darah

Blood lines dan dializer

Sebelum dilakukan priming, dialyzer harus dilakukan test kebocoran dengan cara

cairan dimasukkan kedalam sirkulasi darah dengan menggunakan Nacl, lalu output di

klem, sedangkan hubungan inlet tetap terbuka, bila cairan menetes lebih cepat dari

ketentuan yang telah ditetapkan berarti ada kebocoran.

Setelah di test dan dialyzer tidak bocor, lalu dihubungan dengan blood lines dan

dilakukan priming, priming yaitu mengisi sirkulasi darah dengan cairan Nacl

fisiologis volumenya disebut Priming Volume.