Anda di halaman 1dari 6

Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains (2019),

Published by Tadris IPA Biologi, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Indonesia

SCIENTIAE EDUCATIA: JURNAL PENDIDIKAN SAINS


journal homepage: www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/sceducatia

article link in jounal


MANFAAT BAKTERI BACILLUS (Bt) THURINGIENSIS UNTUK
MENINGKATKAN PRODUKSI CABAI

Saeful Bakhri1, Siti Khaerunnisah2, Tati Mulyati3, Wimroah4, Yaya Rokhiyawati5


Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan/ Tadris IPA Biologi/IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat,45132 , Indonesia
Panguragan Lor, Panguragan, Cirebon, Jawa Barat, 45163, Indonesia. Yayarokhiyawati@Gmail.Com

a r t i c l ein f o Abstract
Article history:
Received: 14 januari 2014
Received in revised form: 15
januari 2019
Accepted: 16 januari 2019
Available online: januari 2019

Keywords:
Word 1
Word 2
Word 3

Kata Kunci:
Kata 1
Kata 2
Kata 3 2019 Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains. All rights reserved

1. Pendahuluan/Introduction
Cabai merupakan tanaman sayuran buah semusim yang diperlukan olehseluruh lapisan
masyarakat sebagai bumbu atau penyedap makanan. Tanaman cabai memiliki banyak
nama populer di berbagai negara. Namun secara umum tanaman cabai disebut sebagai
pepper atau chili. Nama pepper lebih umum digunakan untuk menyebut berbagai jenis
cabai besar, cabai manis, atau paprika. Sedangkan chili, biasanya digunakan untuk
menyebut cabai pedas,misalnya cabai rawit. Di Indonesia sendiri, penamaan cabai juga
bermacam-macam tergantung daerahnya. Kebutuhan masyarakat akan produksi sayuran
yang sehat dari sisi budidayanya memacu perkembangan teknik budidaya sayuran organik
tidak terkecuali untuk sayuran cabai merah, baik cabai merahbesar maupun cabai merah
keriting, (Setiawati, W . 2003).
Upaya pengembangan usaha budidaya cabai merah organik telah dilakukan oleh
petani dan kelompok tani di Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi
Selatan melalui sistem intensifikasi karena keterbatasanlahan dengan memanfaatkan aliran

1
Sungai Maros serta mempertimbangkankesesuaian lahan dan agroklimat, potensi pasar,
dan potensi sumber dayamanusia, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya
maupunpengembangan pemasaran dan kelembagaan. Penumbuhan sentra produksicabai
merah organik ini dilakukan di dalam lingkup Klaster Cabai Merah yangtelah
dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Dinas Pertanian KabupatenMaros sejak tahun
2011. Diharapkan terjadi sinergitas dalam pengembangancabai merah organik di dalam
lingkup Klaster Cabai Merah.
B. thuringiensis adalah bakteri gram-positif, berbentukbatang yang memproduksi
kristal protein pada saat sporulasi. Kristal protein tersebut dinamakan δ-endotoksin
(proteinCry) yang bersifat lethal jika dimakan oleh serangga yangpeka. Ketika masuk ke
dalam pencernaan, δ-endotoksinmasih dalam bentuk molekul yang besar dan masih
dalambentuk protoksin yang tidak aktif dan akan aktif padalingkungan basa. Kristal ini
sebenarnya hanya merupakanprotoksin yang jika larut dalam usus serangga akan
berubahmenjadi poli-peptida yang lebih pendek (27-149 kd) sertamempunyai sifat
insektisidal. Toksin yang telah aktifberinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut
serangga. Toksin B. thuringiensis menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang
sangat kecil) di sel membran di saluranpencernaan dan mengganggu keseimbangan
osmotik dari selseltersebut. Karena keseimbangan osmotik terganggu, selmenjadi bengkak
dan pecah dan menyebabkan matinyaserangga, (Bahagiawati . 2002).
Menurut Yun & Ahn (2009) bahwa fotosintesis pada tanaman cabai merah meningkat
sebesar 35% pada kadar CO2 700 ppm dan peningkatan temperatur sebesar 5oC.
Selanjutnya Shin & Yun (2010) melaporkan bahwa pada kondisi seperti itu serangan
penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), Phytophthora capsici, dan Xanthomonas
campestris meningkat masing-masing sebesar 25%, namun penyakit antraknos menurun
sebesar 10%, (Mafazah, A . 2017).
2. Metode Penelitian/Method
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Balittro (Balai Penelitian
Tanaman Rempah dan Obat) Cimanggu, Laboratorium Kesehatan Benih dan rumah kaca
Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor. Penelitian dimulai bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016.
Percobaan menggunakan benih cabai varietas Laris yang diproduksi dan diperoleh dari
PT. East West Indonesia. Benih cabai dipanen tanggal 19 November 2014. Benih

2
disimpan selama 7 bulan dalam ruang simpan benih dengan suhu 200C (setelah benih
didapatkan dari PT. East West Indonesia pada Maret 2015, sampai benih digunakan
dalam percobaan) Benih cabai sebelum digunakan dalam percobaan terlebih dahulu diuji
daya berkecambah, indeks vigor, keserempakan tumbuh (metode uji di atas kertas
stensil, ISTA, 2014), dan kadar air (metode oven suhu rendah, ISTA, 2014).
Sebagai perlakuan benih mengacu pada metode Ibrahim et al. (2014) dan Syamsuddin
(2010). Benih cabai sebelum perlakuan terlebih dahulu diberi disinfektan dengan
merendam benih dalam alkohol 70% selama 3 menit. Benih dicuci tiga kali dengan
akuades yang telah disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 0C dengan tekanan 1.02
MPa selama 15 menit, kemudian dikering-anginkan dalam laminar air flow cabinet
(LAFC) selama 1 jam. Sebanyak 450 benih yang telah dikeringkan, diberi perlakuan
dengan cara direndam dalam 50 mL suspensi isolat bakteri Bt selama 24 jam pada suhu
20 0C. Benih yang telah direndam, kemudian ditiriskan dan dikering-anginkan dalam
LAFC selama 1 jam sebelum disemai (Ibrahim et al., 2014). Suspensi isolat bakteri Bt
dibuat dengan menambahkan 10 mL akuades steril ke dalam cawan petri berisi media
potato dextrose agar (PDA). Sebanyak 1mL suspensi tersebut ditambahkan ke dalam 50
mL potato dextrose broth (PDB) kemudian dicampur menggunakan shaker dengan
kecepatan 100 rpm selama 48 jam (Syamsuddin, 2010).
3. Hasil dan Pembahasan/Result and Discussion
Bacillus thuringiensis merupakan salah satu bakteri patogen serangga yang telah
dikembangkan menjadi salah satu bioinseksitisida yang patogenik terhadap larva nyamuk
dan larva lalat hitam. Namun tidak toksik terhadap lingkungan dan organisme bukan
sasaran (Carrozi et al., 1991). Menurut Feitelson, et al. (1992), secara ekonomi Bacillus
thuringiensis sangat banyak digunakan untuk produksi bioinsektisida dan telah digunakan
secara luas untuk mengendalikan larva hama serangga.
Bacillus thuringiensis adalah bakteri Gram positif berbentuk batang, dan pembentuk
spora yang banyak ditemukan tersebar di tanah. Salah satu karakteristik Bacillus
thuringiensis adalah dapat memproduksi toksin kristal protein di dalam sel yang bersama-
sama dengan spora ketika mengalami sporulasi. Dalam perkembangannya, protein yang
bersifat toksin terhadap serangga tersebut dinamakan sebagai insecticidal crystal protein
(ICP) atau delta endotoksin (Gill et al., 1992). Kristal protein bersifat toksin pada serangga
disebabkan adanya aktifitas proteolisis dalam sistem pencernaan serangga. Toksin akan

3
bereaksi dalam usus serangga sehingga menyebabkan terbentuknya pori-pori di sel
membran saluran pencernaan.2 Hal ini mengganggu keseimbangan osmotik sel di dalam
usus sehingga serangga akan berhenti makan dan mati (Bahagiawati, 2002).
Hasil penelitian di laboratorium yang dilakukan oleh Bahagiawati (2002)
mengemukakan ada yang mengindikasikan bahwa beberapa hama dapat menjadi resisten
terhadap Bt toksin sehingga beberapa strategi telah diajukan untuk memperlambat atau
menghindari proses terjadinya resistensi hama Bt. Umumnya strategi ini lebih ditekankan
pa-da pemakaian tanaman transgenik Bt daripada Bt sebagai biopestisida. Sebagai contoh,
program untuk re-sistance management dari tanaman transgenik tahan hama adalah
program komprehensip resistance management dari tanaman kentang newleaf yang
diproduksi oleh Monsanto. Tanaman kentang ini adalah tanaman kentang transgenik
pertama yang dilepas yang mengandung gen cry3A yang tahan terhadap Colorado potato
beetle. Umumnya program ini adalah suatu program pengendalian hama ter-padu (PHT)
yang salah satu komponennya adalah tanaman transgenik tahan hama. Komponen yang
disa-rankan adalah penananam refugia plot, monitoring keberadaan hama, pengendalian
kultural dan fisikal, pengendalian biologikal, dan penggunaan pestisida yang selektif
(Fieldman dan Stone, 1997).
Dalam penelitian Subagyo (2017) menyatakan Serangga hama masih menjadi
permasalahan utama pada pertanaman cabai di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.
Jenis hama yang mendominasi adalah Trips dan Lalat Buah. Beberapa jenis musuh alami
potensial yang ditemukan adalah larva Syrphidae, kumbang Coccinellidae, Opius sp.dan
Ceranicus sp. Sementara itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa petani cabai di
Kecamatan Cikajang sangat membutuhkan informasi mengenai PHT (Pengendalian Hama
Terpadu) yang merupakan teknik pengendalian yang lebih ramah lingkungan, mengingat
pemakaian pestisida yang intensif dikhawatirkan timbul dampak negatif terhadap
lingkungan dan munculnya resistensi hama yang memberatkan petani.
B. thuringiensis adalah bakteri yang menghasilkan kristal protein yang bersifat
membunuh serangga (insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya (Hofte dan
Whiteley, 1989). Kristal protein yang bersifat insektisidal ini sering disebut dengan δ
endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya merupakan pro-toksin yang jika larut dalam usus
se-rangga akan berubah menjadi poli-peptida yang lebih pendek (27-149 kd) serta
mempunyai sifat insektisi-dal. Pada umumnya kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena

4
ada-nya aktivitas proteolisis dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt-
protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah
aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti telah
menunjukkan bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang
sangat kecil) di sel membran di sa-luran pencernaan dan mengganggu keseimbangan
osmotik dari sel-sel tersebut. Karena keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi
bengkak dan pecah dan menyebabkan matinya serangga (Hofte dan Whiteley, 1989)
Cara kerja Bt adalah sebagai racun pencernaan di mana δ- endotoksin (protein) yang
telah mengalami proteolisis dari nonaktif menjadi aktif menempel di sel pada epithelial,
yang menyebabkan keseimbangan osmosis sel terganggu, dan menyebabkan sel pecah dan
matinya serangga. Bt dapat dikomersialkan melalui suatu proses yang dimulai dengan
identifikasi hama target, pasar, isolat potensil, perbanyak-an massal dengan fermentasi, dan
formulasi. Di samping itu, perlu direncanakan secara matang dan menyeluruh tentang
proses produksi, registrasi, ja-ringan distribusi dan pemasaran-nya.
Serangga yang peka terhadap bakteri B. thuringiensis termasuk mempunyai saluran
pencernaan yang bersifat alkali, menghasilkan mineral dan enzim yang dapat
menghidrolisis kristal protoksin menjadi toksin yang berguna untuk meningkatkan
produktifitas tanaman Cabai. Komponen toksin B. thuringiensis disebut delta endotoksin.
Delta endotoksin berikatan dengan sel yang menempel pada dinding membran usus
membentuk lubang pada membran dan mengganggu keseimbangan ion dalam usus. Larva
serangga yang ada pada tanaman Cabai akan berhenti makan kemudian mati.
Pembengkakan disebabkan oleh banyaknya kation yang memasuki sel epitel melalui pori-
pori yang dibentuk toksin yang diduga spesifik terhadap kation seperti K+ dan Na+.
Banyaknya kation dalam sel menyebabkan ketidakseimbangan osmotik sehingga
menyebabkani lisis.
4. Simpulan/Conclusion
Daftar Pustaka/References

Bahagiawati . 2002. Penggunaan Bacillus Thuringiensis Sebagai Bioinsektisida. Buletin


AgroBio 5(1):21-28. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Pertanian, Bogor . VOL 5, NO. 1
Fieldman, J. and T. Stone. 1997. The Development Of A Comprehensive Resistance
Management Plan Fo Potatoes Expressing The Cry3a En Dotoxin. In Carozzi, N. And

5
M. Kozie (Eds.). Advance in Insect Control The Role of Transgenic Plants Taylor and
Francis. p. 49-61.
Feitelson, J.S., J. Payne, and L. Kim. 1992. Bacillus Thuringiensis: Insects And Beyond.
Bio/Technology 10: 271-275.
Hilbeck, A., M. Baumgartner, P.M. Fried, and F. Bigler. 1998. Effects of transgenic Bacillus
thuringiensis corn-fed prey on mortality and development time of immature
Chrysoperla carnea (Neuroptera: Chrysopidae).Environ. Entomol. 27:480-487
Huang, F., L.l. Buschman, R.A. Higgins, and W.H. McGaughey. 1999. Inheritance of
resistance to Bacillus thuringiensis toxin (Dipel ES) in the European corn borer.
Science 284:965-967.
Ibrahim, A., S. Ilyas, D. Manohara. 2014. Perlakuan Benih Cabai (Capsicum Annuum L.)
Dengan Rizobakteri Untuk Mengendalikan Phytophthora Capsici, Meningkatkan
Vigor Benih Dan Pertumbuhan Tanaman. Bul. Agrohorti. 2(1): 22-30.
[ISTA] International Seed Testing Association. 2014. International Rules for Seed Testing.
Basserdorf (CH): ISTA.
Mafazah, A Zulaika, E . (2017) . Potensi Bacillus Thuringiensis Dari Tanah Perkebunan Batu
Malang Sebagai Bioinsektisid Terhadap Larva Spodoptera Litura F. JURNAL SAINS
DAN SENI ITS Vol. 6, No. 2 (2017) 2337-3520 (2301-928X Print).
Syamsuddin. 2010. Perlakuan Benih Untuk Pengendalian Penyakit Busuk Phytophthora,
Peningkatan Hasil Dan Mutu Benih Cabai Merah (Capsicum Annuumm L).
[Disertasi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Setiawati, W, Sumarni, N, Koesandriani, Y, Hasyim, A, Uhan, TS, dan Sutarya, R . (2013) .


Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu padaTanaman Cabai Merah
untuk Mitigasi Dampak Perubahan Iklim (Implementation of Integrated Pest
Management for Mitigation of Climate Change on Chili Peppers). J. Hort. 23(2):174-
183, 2013

Subagyo, dkk. 2017. Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Cabai Di Kecamatan
Cikajang Kabupaten Garut : Permasalahan Dan Profil Petani. Fauna Indonesia Vol 16
(2) Desember 2017: 26-34