Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

BAHASA INDONESIA
PANDANGAN ISLAM MENGENAI SIFAT BOROS

Dosen Pembimbing :
Dr. Aries Purwanto, M.Pd.

Disusun Oleh:
WISNU ADHI NUGROHO/1622022

JURUSAN ARSITEKTUR S-1


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini
bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dan
berkontribusi dalam penyusunan makalah ini

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi
terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Malang, 6 Januari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI
COVER JUDUL ...............................................................................................1
KATA PENGANTAR .......................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................4
1.3 Tujuan....................................................................................................4
BAB II ISI
2.1 Boros Sahabat Setan .............................................................................5
2.2 Contoh Perbuatan Boros .....................................................................10
2.3 Efek atau Dampak Buruk Boros .........................................................11
2.4 Larangan Boros ...................................................................................11
2.5 Cara Menghindari Sifat Boros.............................................................13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .........................................................................................16
3.2 Saran ...................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................17

BAB I

3
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Slogan “Hemat pangkal kaya” sepertinya sudah tidak berlaku lagi bagi kalangan
masyarakat saat ini. Kata itu seakan lenyap tergantikan oleh semakin banyaknya keinginan,
bukan kebutuhan. Banyak diantara mereka yang tidak memperhatikan sikap hemat, baik
dalam pola hidup maupun pemenuhan kebutuhan sehingga sikap boros sudah menjadi hal
yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ini sangat bertolak belakang dengan
perintah Allah dalam ayat-Nya yaitu surat Al-Isra : 26-27. Dalam ayat ini kita diwajibkan
untuk membelanjakan sebagian harta kita untuk hal-hal yang bermanfaat saja, bukan untuk
hal yang tidak bermanfaat. Lalu, kita pun dilarang untuk menjadi orang-orang yang boros,
Karena orang yang boros itu adalah saudara setan yang sangat ingkar kepada Tuhannya.

Allah memerintah atau melarang suatu hal pasti ada sebabnya. Boros dilarang dalam
Islam karena memiliki dampak buruk, yaitu salah satunya menghabiskan uang untuk hal yang
tidak bermanfaat dan untuk lebih jelasnya, akan dibahas secara lengkap dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

a. Sifat boros menurut Al-Quran


b. Dampak apa saja yang tercipta dari sifat boros?
c. Bagaimana cara menghindari sifat Boros?

1.3 Tujuan

a. Memberi edukasi mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan dari sifat boros

BAB II

ISI

4
2.1 Boros Sahabat Setan
1. Surat Al-Isra’ Ayat 26-27
‫تتربتذيِراَا تقبتذذرر تولت اَلقستبيِتل تواَربتن تواَرلتمرستكيِتن تحققهق اَرلققررتبىَ تذاَ توآَ ت‬
‫ت‬
‫طاَقن توتكاَتن اَلقشتيِاَتطيِتن إترختوُاَتن تكاَقنوُراَ اَرلقمبتذذتريِتن إتقن تكقفوُراَا‬
‫لتتربذته اَلقشريِ ت‬
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-
hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS.
AL-ISRA’ : 26-27)

Dalam ayat 26, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman


untuk membelanjakan harta (termasuk uang) yang mereka miliki untuk hal- hal yang
bermanfaat, misalnya, untuk membantu keluarga dekat, orang-orang miskin, dan ibnu
sabil (orang dalam perjalanan jauh) yang membutuhkan santunan. Memberikan
bantuan kepada keluarga dekat akan lebih mempererat tali hubungan kekeluargaan
(silaturahmi) diantara mereka. Membantu orang-orang miskin yaitu orang-orang yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya setiap hari, berarti turut serta berusaha
mengentaskan kemiskinan antar sesame manusia sehingga dapat meringankan derita
yang mereka alami. Begitu juga orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan
menuju tujuan baik, yaitu perjalanan yang diridhai Allah SWT., juga memperoleh hak
untuk memperoleh bantuan.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Munaafiqun : 9-10 :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu


melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka
mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah
5
Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara
kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)
ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku
termasuk orang-orang yang saleh?" (QS.Al-Munafiqun : 9-10)
Sedangkan dalam ayat 27, Allah melarang kita untuk bersifat mubadzir. Mubadzir
bisa juga disebut Isrof. Secara lughawi, Isrof berarti berlebihan. Menurut Al-Ragib,
“Isrof adalah melampui batas dalam segala perbuatan yang dikerjakan oleh manusia,
sekalipun hal tersebut lebih mashur, yang berhubungan dengan pengeluaran dalam
pembelajaan harta”
Sedangkan menurut Sofyan bin Uyainah berkata, “Harta yang aku belanjakan bukan
dalam ketaatan kepada Allah maka dia termasuk boros sekalipun hal tersebut sedikit.”

Allah SWT berfirman:


‫ب تجتميِاعاَ إتنقهق هقتوُ اَرلتغقفوُقر اَلقرتحيِقم‬ ‫ي اَلقتذيِتن أترسترقفوُاَ تعتلىَ تأنفقتستهرم تل تترقنتطقوُاَ تمن قررحتمتة ق‬
‫ات إتقن ق‬
‫ات يِترغفتقر اَلذذقنوُ ت‬ ‫ققرل تيِاَ تعتباَتد ت‬
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Zumar: 53)

Kalimat isrof bisa terjadi pada harta dan yang lainnya, seperti pola makan,
minum, berpakaian, gaya hidup, bahkan dalam hal yang baik-baik pun kita dilarang
untuk berlebihan, seperti : belajar, sedekah, atau shalat sekalipun. Karena terlalu
rajinnya, belajarnya pun sampai sehari semalam. Karena terlalu shalehnya, shalat
subuh yang hanya 2 rakaat menjadi 4 rakaat. Ibadah itu tidak bisa seenaknya saja,
ibadah sudah memiliki aturan-aturan yang tak bisa ditambah maupun dikurangi.
Allah SWT memperingatkan hamba -Nya dari sikap boros dalam firman-Nya:
‫ب اَرلقمرسترتفيِتن‬
‫وقكقلوُراَ تواَرشترقبوُراَ تولت تقرسترقفوُراَ إتنقهق لت يِقتح ذ‬
“Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Arof: 31)

Allah SWT berfirman:


‫ب اَرلقمرسترتفيِتن‬
‫صاَتدته تولت تقرسترقفوُراَ إتنقهق لت يِقتح ذ‬
‫وآَقتوُراَ تحققهق يِتروُتم تح ت‬

6
“…dan tunaikanlah haknya di hari saat memetik hasilnya (dengan
dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am: 141)

Atho’ bin Abi Robah berkata “Mereka dilarang berlaku boros dalam segala
hal.” Ibnu Katsir berkata, “yang artinya janganlah berlebihan dalam makan, sebab
akan bisa membahayakan bagi akal dan badan”.
Dari Amr bin Syu’aib daru bapaknya dari kakeknya RA bahwa Nabi
bersabda,“Makan dan bersedeqahlah dan pakailah pakaian tanpa berlebihan dan
sombong”.
Dari Ibnu Abbas RA berkata: Makanlah sekehendakmu dan pakailah
sekehendakmu, dua perkara yang membuatmu salah yaitu boros dan sombong”.
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib RA bahwa Nabi bersabda, “Tidaklah seorang
anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi
anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya, dan
jika mesti dilakukan maka hendaklah dia mengambil sepertiga untuk makanannya
dan sepertiga untuk minumannya serta sepertiga untuk nafasnya”.

Dari penggalan dalil diatas, membuktikan bahwa Allah sedemikian rapinya mengatur
segala hal, bahkan sampai masalah pola hidup sekecil apapun telah diatur oleh Allah, seperti
pola makan, minum, atau berpakaian. Mengapa Allah melarang kita untuk berlebihan dalam
makan, minum, maupun berpakaian ? Jika kita makan secara berlebihan, tidak sesuai dengan
porsi yang dianjurkan, akan berbuah akibat yang fatal. Akibatnya bisa kekenyangan, terus
perutnya sakit, dan jadi berbuah penyakit. Atau akibat kekenyangan saja, segala aktivitas kita
bisa terganggu. Akibat kekenyangan, badan menjadi lemas, akibat kekenyangan biasanya
orang menjadi malas, atau yang lebih parahnya lagi bisa mengganggu ibadah kita. Masalah
kecil saja bisa berbuah besar. Itulah sebabnya Allah memperhatikan segalanya sampai yang
sekecil atom sekalipun.
Lalu, kita pun dilarang untuk berbuat mubadzir, baik pada makanan atau harta benda.
Manusia itu, kalau sudah ada ini, maunya itu. Ada itu, mau yang lain. Seperti itulah kodrat
manusia, selalu tidak puas dengan apa yang telah ada, malah selalu mencari-cari yang tidak
ada. Kalau mau makan, ini itu dimasak. Ada nasi goreng, mie goreng, spaghetti, pizza,
semuanya ada. Ujung-ujungnya banyak yang terbuang percuma. Orang yang memiliki sifat

7
mubadzir adalah orang yang tidak pernah mau bersyukur akan nikmat yang Allah berikan,
orang yang kufur akan nikmat.
Dan sebagian ulama membedakan antara boros dan berlebihan/melampaui batas. Dan
pola berlebih-lebihan yang dilarang oleh syara’ di dalam firman Allah SWT:
‫إقن اَرلقمبتذذتريِتن تكاَقنوُراَ إترختوُاَتن اَلقشتيِاَتطيِتن توتكاَتن اَلقشريِ ت‬
َ‫طاَقن لتتربذته تكقفوُارا‬
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu
adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isro’: 27)
Mereka berkata, “Tabzir adalah mempergunakan harta bukan pada tempatnya, seperti
penyaluran harta dalam kemaksiatan, atau menyalurkannya pada perkara yang tidak
bermanfaat baik untuk bermain-main, meremehkan fungsi harta, sementara Isrof (Boros)
adalah berlebihan dalam makan dan minum serta berpakaian tanpa dituntut kebutuhan. Allah
SWT berfirman saat memuji hamba -Nya yang bersikap sederhana:
‫تواَلقتذيِتن إتتذاَ تأنفتققوُاَ لترم يِقرسترقفوُاَ تولترم يِترقتققرواَ توتكاَتن بتريِتن تذلت ت‬
َ‫ك قتتوُاَاما‬
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-
lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan sesungguhnya (pembelanjaan itu) di tengah-tengah
antara yang demikian. (QS. Al-Furqon: 67)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: َ‫تواَلقتذيِتن إتتذاَ تأنفتققوُاَ لترم يِقرسترقفوُاَ تولترم يِترقتققروا‬
Mereka tidak boros dalam memanfaatkan harta sehingga berbelanja melebihi
kebutuhan dan tidak pula kikir terhadap keluarga mereka sehingga mengurangi hak-hak
mereka, tidak memberikan kecukupan bagi mereka, namun mereka berlaku adil dan
bertindak yang terbaik, dan sebaik-baik perkara itu adalah yang pertengahan, tidak
berlebih-lebihan”.
Allah SWT berfirman:
‫ك تولت تتربقس ر‬
َ‫طتهاَ قكقل اَرلبترستط فتتترققعتد تمقلوُاماَ قمرحقسوُارا‬ ‫ك تمرغقلوُلتةا إتتلىَ قعنققت ت‬
‫ولت تترجتعرل يِتتد ت‬
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu belenggu pada lehermu dan janganlah kamu
terlalu mengulurkannya karena hal itu memebuat kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS.
Al-Isro’: 29)
Inilah bentuk wujud sikap pertengahan yang diperintahkan, tidak kikir, tidak
menahan, tidak berlebihan dan boros namun yang seharusnya adalah pertengahan di antara
semua sikap ekstrim tersebut, karena Khoirul umur ausatuha, “Sebaik-baiknya urusan
adalah pertengahan”
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah SWT memerintahkan agar seseorang
bersikap sederhana di dalam kehidupan duniawinya, Dia mencela sikap kikir dan melarang
sikap boros,
8
‫ك تمرغقلوُلتةا إتتلىَ قعنققتقق ت‬
(‫ك‬ ‫ )لت تترجتعرل يِتتد ت‬Maksudnya adalah janganlah engkau bersikap pelit yang
menahan harta, tidak memberikannya kepada seorangpun, (‫طتهاَ قكققل اَرلبترسقتط‬ ‫ )تولت تتربقس ر‬Maksudnya
janganlah berlebihan dalam membelanjakan harta, sehingga pemberianmu terhadap orang
melebihi kemampuanmu, dan pengeluaranmu melebihi penghasilanmu, (َ‫)فتتترققعقتد تمقلوُامقاَ قمرحقسقوُارا‬
sehingga engkau terjebak dalam celaan manusia karena kekikiranmu dan mencercamu,
mereka tidak membutuhkanmu, dan pada saat engkau mengulurkan pengeluaranmu di atas
kemampuanmu maka dirimu tidak akan memiliki sesuatu yang dapat engkau infakkan,
sehingga kamu menjadi seperti hasir, yaitu sebuah hewan tunggangan yang tidak mampu lagi
berjalan”.
Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, “Apa yang engkau nafkahkan untuk dirimu, dan
keluargamu tanpa ada sikap berlebihan dan boros, dan apa yang engkau shedeqahkan maka
hal itu adalah bagimu dan apa yang engkau belanjakan dengan motifasi riya dan sum’ah
maka itu adalah bagian dari setan”.
Ibnul Jauzi berkata, “Orang yang berakal akan mengatur kehidupannya di dunia, jika
dia miskin maka dia akan bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berwiraswasta guna
menghindarkannya dari tunduk terhina terhadap makhluk, meminimalisir hubungan (hutang
piutang), menciptakan sikap qona’ah, sehingga dengan demikian dia akan selamat dari
ketergantungan kepada pemberian orang lain dan hidup dengan citra yang mulia, namun jika
dia adalah orang yang kaya maka hendaklah dia mengatur belanjanya, agar dia tidak terjebak
ke dalam kefakiran yang mengarahkannya kepada kehinaan bagi seorang makhluk…”.
Dan seyogyanya juga dia memperhatikan perkara ini, bahwa mengeluarkan harta
dalam kebenaran tidak termasuk boros. Mujahid berkata, “Kalau seandainya seorang
menginfakkan hartanya dalam kebenaran maka dia bukan termasuk pemborosan, dan
seandainya dia menginfakkan satu mud bukan pada tempatnya maka hal itu termsuk
pemborosan”.
Di antara bentuk pemborosan yang dilakukan oleh masyarakat adalah pemborosan
dalam pesta dan resepsi pernikahan serta acara-acara lainnya, baik pesta yang kecil atau
besar, ketika makanan dihidangkan melebihi kebutuhan.
Di antara bentuk pemborosan adalah pemborosan dalam pemakaian air. Dari Anas RA
bahwa Nabi berwudhu’ dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud”.
Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: Seorang A’rabi datang kepada
Nabi dan bertanya kepada beliau tentang wudhu’?. Maka beliau memperlihatkan kepadanya
cara berwudhu’ tiga kali, kemudian beliau bersabda, “Inilah wudhu’, maka barangsiapa yang
menambah berarti dia telah berbuat buruk, melampaui batas dan berlaku zalim”.
9
Bentuk pemborosan lainnya adalah berlebihan dalam membelanjakan harta. Dari
Khaulah Al-Anshoriyah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
seorang lelaki menenggelamkan diri memanfaatkan harta milik Allah bukan pada jalan yang
benar, maka mereka mendapat balasan neraka pada hari kiamat”.
Termasuk di dalam hadits ini adalah orang yang bepergian ke negara-negara kafir, mereka
membelanjakan harta yang banyak dalam rangka rekreasi mereka tersebut, maka dengan
melakukan hal tersebut mereka telah mengumpulkan dua kemaksiatan:
Pertama: Kemaksiatan bepergian ke negara-negara orang kafir dan Nabi telah melarang
perbuatan tersebut.
Dari Jarir RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku berlepas diri dari setiap muslim
yang tinggal di tengah-tengah orang musyrik…….”.
Kedua: Menyokong negeri-negeri kafir dengan harta yang telah dibelanjakan pada saat itu.

Dari Abi Barzah AL-Asalmi RA bahwa Nabi bersabda, “Tidak akan melangkah dua kaki
seorang hamba pada hari kiamat sehingga dirinya akan ditanya oleh Allah SWT tentang
umurnya untuk apa umur tersebut dia habiskan? tentang ilmunya apakah yang telah
diperbuat dengan ilmu tersebut, tentang hartanya dari manakah dia dapatkan dan
kemanakah disalurkannya”. Dan banyak lagi bentuk-bentuk pemborosan lainnya.
Allah memperingatkan bahwa orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang
tiada berguna merupakan saudara-saudara setan. Setan adalah makhluk yang sangat ingkar
terhadap karunia yang Allah berikan dan senantiasa menentang segala ketentuan syara’ serta
mengajak manusia untuk berbuat dosa. Dengan demikian, orang-orang yang tidak dapat
memanfaatkan dan membelanjakan harta sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah Allah
gariskan, termasuk ke dalam kelompok makhluk yang enggan mensyukuri nikmat dan
menentang segala ketentuan yang diundangkan oleh Zat Pemberi nikmat tersebut.

2.2 Contoh Perbuatan Boros

Beberapa Contoh Sifat Boros dalam Kehidupan Sehari-Hari :

1. Gemar beli produk yang mahal-mahal karena gengsi


2. Suka belanja dengan kartu kredit tanpa melihat daya beli

3. Boros dalam mengunakan air bersih dan air minum

10
4. Pengeluaran lebih besar dari penghasilan (kecuali penghasilan rendah)

5. Suka menyisakan dan membuang-buang makanan

6. Senang membeli barang yang tidak perlu

7. Boros listrik, air, pulsa telepon, bensin, gas, dan lain-lain

8. Memiliki hobi yang mahal biayanya

2.3 Efek atau Dampak Buruk Boros

Beberapa Efek/Dampak Buruk Perilaku/Gaya Hidup Boros :

1. Uang yang dimiliki cepat habis karena biaya hidup yang tinggi
2. Menjadi budak hobi (nafsu) yang bisa menghalalkan uang haram

3. Malas membantu yang membutuhkan & beramal shaleh

4. Selalu sibuk mencari harta untuk memenuhi kebutuhan

5. Menimbulkan sifat kikir, iri, dengki, suka pamer, dsb

6. Anggota keluarga terbiasa hidup mewah tidak mau jadi orang sederhana

7. Bisa stres atau gila jika hartanya habis

8. Bisa terlilit hutang besar yang sulit dilunasi

9. Sumber daya alam yang ada menjadi habis

10. Tidak punya tabungan untuk saat krisis

2.4 Larangan Boros

1. Umi Salamah la berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Seseorang yang
minum minuman dalam gelas yang terbuat dari perak, dia telah menyalakan api
neraka Jahanam dalam perutnya.” (HR. Bukbari dan Muslim).

11
2. Imam Muslim mengetengahkan sebuah riwayat, bahwa Rasulullah saw telah
bersabda: “Barangsiapa makan atau minum dalam piring atau gelas yang terbuat dari
emas atau perak, maka berarti dia menyalakan api neraka Jahanam dalam perutnya
sendiri.”
3. Sahabat Hudzaifah ra beikata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah kamu memakai pakaian yang terbuat dari sutra asli, dan pakaian yang
tebal dari sutra pula. Janganlah kamu minum dalam gelas yang terbuat dari emas atau
perak. Demikian pula Janganlah kamu makan dalam piring yang terbuat dari emas
atau perak. Sebab semua itu adalah bagian bagi orang-orang kafir di dunia, dan akan
menjadi bagianmu kelak di akhirat. (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: ”Barangsiapa
memakai pakaian yang terbuat dari sutra murni di dunia, maka kelak di akhirat dia
tidak akan memakainya. Barangsiapa minum khamr di dunia, maka dia tiada akan
meminumnya kelak di akhirat. Barangsiapa minum dengan gelas yang terbuat dari
emas atau perak, maka dia tidak akan lagi minum dengan gelas yang terbuat dari emas
atau perak kelak di akhirat. Selanjutnya Rasulullah bersabda. “Semua itu adalah
pakaian ahli sorga, minuman ahli sorga, dan perabot rumah tangga ahli sorga.” (HR.
Hakim, dan menurutnya termasuk hadis yang shahih sanadnya).
5. Dari Miqdam bin Malik, aku mendengar Rasulullah SAW Bersabda: Tidak ada yang
lebih jahat dari pada orang yang memadati perutnya dengan makanan untuk
menguatkan badannya, jika perlu ia makan, hendaklah perutnya diisi sepertiga
makanan, sepertiga air minum dan sepertiga lagi untuk udara, bernapas. ( HR.
Turmudzi )
6. Dari Amr bin Syua’ib dari Bapaknya, dari kakeknya ia berkata: Bahwasanya
Rasulullah SAW Bersabda: makanlah, Minumlah, Bersedekahlah, dan berpakaianlah
tanpa berlebihan dan tidak sombong. (HR Abu Daud dan Ahmad)
7. Dari Abu Hurairah, Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menyayangi
tiga perkara untukmu, dan tiga perkara pula membencimu, tiga perkara yang dia
senangi adalah :1) jika kamu menyembah Allah, 2). Jika kamu berpegang teguh pada
agama Allah secara keseluruhan, 3). Jika kamu bersatu padu tidak memberontak.
Sedangkan tiga perkara yang dia benci ialah banyak bicara, banyak bertanya, dan
banyak menghambur-hamburkan uang (boros dalam pembelanjaan)” (HR Muslim).
8. Dari Warrad (sekretaris) Mughirah, berkata: Mughirah mendektekan suratnya yang
ditujukan kepada Mu’awiyah: bahwasanya Nabi SAW setiap ba’da Shalat Maktubah
berdoa sebagai berikut
12
Artinya:
“Tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah. Dia tunggal tiada serikat bagi-Nya, bagi-Nya
kerajaan, dan segala Pujian, Dia berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada kuasa
mengekang karunia pemberian-Mu, dan tiada pula kuasa memberi apa yang Kau
kekang, tiada manfaat harta kekayaan orang, sebab dari-Mu datangnya kejayaan”.
(HR Bukhari-Muslim).

Oleh sebab itu, mari kita hindari sifat boros dalam hidup kita agar kita bisa hidup
bahagia tanpa harta yang banyak bersama seluruh anggota keluarga kita. Ada
peribahasa hemat pangkal kaya, sehingga dengan menjadi orang yang bergaya hidup
sederhana walaupun kaya raya maka hartanya akan berkah dan terus bertambahdari
waktu ke waktu.

2.5 Cara Menghindari Sifat Boros

Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu hari para sahabat menyembelih seekor
kambing, lalu Rasulullah saw bertanya kepada istrinya Aisyah ra: "Apa yang masih tersisa
dari kambing itu?" Aisyah menjawab: "Tidak ada yang tersisa selain sampil depan."
Rasulullah saw mengatakan: "Semua masih ada selain sampil depan itu."

Beliau mengajarkan konsep kepemilikan yang hakiki, yakni konsep kepemilikan harta
yang bersifat abadi. Apa saja yang kita nafkahkan di jalan Allah, termasuk mensedekahkan
daging kepada tetangga kita, maka harta yang kita sedekahkan akan menjadi tabungan kita,
menjadi milik kita dalam kehidupan yang kekal di akherat. Yang habis hanya sepotong yang
dimakan sendiri. Saat ini sebagian besar manusia lebih mencintai harta kekayaan dunia
daripada akherat. Mereka bangga dengan banyaknya harta, tingginya pangkat atau jabatan,
dan banyaknya wanita yang mereka ajak kencan. Hari-hari mereka disibukkan oleh urusan
mengejar materi. Seolah tidak ada topik yang lebih asyik dibicarakan daripada harta, tahta,
dan wanita. Setelah mereka mendapatkan harta itu, mereka akan hamburkan untuk
memuaskan hawa nafsu. Mereka lebih memilih kenikmatan dunia meskipun hanya bersifat
sementara daripada kebahagiaan. Tanpa disadari pola kehidupan hedonisme telah
menguasai kehidupan mayoritas umat Islam. Mereka nafkahkan harta secara berlebihan
untuk keperluan pribadi, sementara itu tidak sensitif terhadap penderitaan yang dialami
tetangga. Padahal Rasulullah saw bersabda tidak beriman kamu yang melewati malam
dengan perut kenyang sementara tetangganya lapar (HR Thabrani). Apalagi cuma lapar, ada

13
orang yang sudah mati membusuk beberapa hari saja ada tetangga yang tidak tahu.
Kepedulian kepada kerabat, tetangga dekat dan sesama saudara seiman semakin langka.
Padahal untuk menumbuhkan rasa solidaritas beliau mengajarkan bahwa: "Sepiring cukup
untuk berdua dan dua piring cukup untuk berempat." Semua pelajaran di atas menandaskan
betapa pentingnya menumbuhkan kesalehan sosial.

Dalam bulan Ramadhan seperti ini kedermawanan Rasulullah saw meningkat tajam. Imam
Bukhari meriwayatkan bahwa kedermawanan beliau seperti angin yang berhembus. Di
dalam QS Al Ma'un 107: 1-3 Allah swt menandaskan bahwa orang yang menghardik anak
yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin sebagai orang yang
mendustakan agama. Kedermawanan yang diajarkan Islam berbeda dengan perilaku boros
dan berlebihan yang diajarkan setan. Sekecil apapun harta yang kita belanjakan di jalan
setan akan termasuk pemborosan atau berlebihan.

Sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari orang membeli barang bukan karena fungsi
tetapi karena gengsi. Bahkan ada juga yang membeli barang bukan karena kebutuhan tetapi
karena persaingan. Merasa dirinya lebih mampu daripada tetangganya yang membeli suatu
barang, maka dia merasa tertantang untuk membelinya juga. Harta yang dikeluarkan karena
riya’ ini berapapun besarnya akan termasuk ke dalam kelompok berlebihan. Untuk itu
mestinya Amat Islam berhati-hati dalam mencari dan menafkahkan hartanya.

Tentang harta Allah akan bertanya min ainaktasabahu wa fima anfaqahu (dari mana dia
mendapatkannya dan untuk apa dia menafkahkannya). Sementara ini orang-orang yang
tinggal di kota banyak mengeluarkan harta untuk menjaga imej (JAIM). Jelas menurut
kacamata Islam perilaku seperti ini termasuk riya' dan uang yang dibelanjakan untuk itu
termasuk berlebihan. Padahal Allah sudah mengingatkan supaya manusia tidak
menghamburkan harta secara boros, karena para pemboros adalah saudara setan (QS Al Isra'
17:26-27).

Sedang di kampung –kampung sering terjadi keluarga mengangkat beban di luar


kemampuan. Mereka melakukan resepsi pernikahan dengan biaya mal, sehingga jatuh
terjerat hutang. Mereka bangga ketika sumbangan yang diterima lebih banyak dari biaya
yang mereka keluarkan. Namur sebaliknya akan Sangay berduka dan diam seribu basa ketika
mengalami kerugian dan harus menaggung beban hutang. Perilaku berlebihan akan

14
menyengsarakan hidup di dunia, sedang di akherat perilaku seperti itu masih harus
dipertanggung jawabkan.

Di sisi lain dalam sedekah fi sabilillah tidak ada kata berlebihan. Suatu hari Umar bin
Khaththab datang berinfak dengan separoh hartanya. Saat itu dia merasa bangga karena
infaknya melebihi infak Abu Bakar. Padahal selama ini tidak pernah begitu. Namun ketika
Rasulullah saw berdialog dengan mereka akhirnya terungkap bahwa Abu Bakar berinfak
dengan seluruh harta kekayaan yang dia miliki, sedang Umar hanya berinfak dengan separoh
hartanya. Juga tercatat dengan tinta emas kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf
seorang pejuang sekaligus pengusaha sukses. Dia pernah menginfakkan 700 ekor onta
beserta seluruh dagangannya kepada baitul-mal lantaran khawatir harta tersebut akan
membuatnya masuk sorga dengan merangkak.

Semua itu buah dari keteladanan yang diberikan oleh Rasulullah saw yang dikatakan oleh
salah seorang sahabat kalau bersedekah seperti orang yang tidak pernah takut akan miskin.

Dari uraian di atas kita dapat simpulkan bahwa harta hanya bisa dinafkahkan pada dua jalan
yakni jalan Allah atau jalan setan. Sekecil apapun harta yang kita keluarkan di jalan setan
akan termasuk pemborosan, termasuk perilaku berlebihan yang harus kita hindarkan.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan :

Boros adalah perbuatan berlebihan yang melampaui batas dan di larang oleh Allah swt.
Sehingga tidak mendatangkan manfaat apapun justru menimbulkan keburukan.

3.2 Saran :

Apabila kita telah mengetahui bahwa boros itu tidak baik, sebaiknya kita hindari sifat boros
dalam hidup kita agar kita bisa hidup bahagia tanpa harta yang banyak bersama seluruh
anggota keluarga kita. Ada peribahasa hemat pangkal kaya, sehingga dengan menjadi orang
yang bergaya hidup sederhana walaupun kaya raya maka hartanya akan berkah dan terus
bertambah dari waktu ke waktu.

16
DAFTAR PUSTAKA

Matsna, Moh., 2008, Pendidikan Agama Islam Al-Quran Hadis, Semarang: PT. Karya Toha
Putra
www.google.com
www.wikipedia.com
Kitab Al Hidayah

17
18