Anda di halaman 1dari 3

HIPOSPADIA

Definisi
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang terletak di sebelah
ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis. Letak meatus uretra bisa terletak pada
glandular hingga perineal.1

Prevalensi
Berdasarkan tiga studi berbasis case-control dari kelahiran di Denmark, Perancis, dan
Italia ditemukan kasus hipospadia dengan prevalensi 0.3% hingga 0.45%. Risiko relatif untuk
terjadi rekurensi pada relasi tingkat pertama sebesar 13x lebih besar. Risiko pada individu
kembar dengan jenis kelamin yang sama sebesar 50%. 2–4

Etiologi
Penyebab terjadinya hipospadia belum diketahui secara jelas. Pada sebagian pasien
dengan hipospadia, ditemukan adanya kelainan seperti kelainan produksi testosterone oleh
testis dan kelenjar adrenal, kegagalan konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron, kelainan
jumlah reseptor androgen, dan kelainan genetik. 1,5

Embriologi
Diferensiasi seksual dan perkembangan uretra dimulai sejak dalam rahim pada minggu
ke-8 dan berakhir pada minggu ke-15. Pada tahap ini terjadi proses virilisasi yang dipengaruhi
oleh hormon testosteron. Hormon testosteron pada usia ini diproduksi akibat rangsangan oleh
hCG plasenta. 6
Uretra terbentuk dari fusi urethral folds sepanjang permukaan ventral dari penis hingga
corona dari bagian distal. Uretra dibentuk dari kanalisasi ectodermal cord yang memanjang
melewati glans sehingga dapat menyatu dengan urethral fold yang telah menyatu.
Hipospadia terjadi jika ada gangguan dari fusi urethral folds.6
Klasifikasi
Hipospadia diklasifikasikan berdasarkan lokasi:7

Hipospadia dibedakan menjadi dua tipe, isolated dan syndromic. Sekitar 90% dari
kasus hipospadia merupakan bentuk dari tipe isolated.2,4 Pasien dengan development delay,
wajah dysmorphic, dana atau malformasi anorectal dicurigai memiliki hipospadia tipe
syndromic.8

Tata Laksana
Pada pasien dengan hipospadia dilakukan pemeriksaan karyotyping, terutama pada
pasien yang dicurigai mengalami gangguan perkembangan seks atau disorder of sex
development (DSD), biasanya pada pasien dengan fenotip laki-laki disertai hipospadia dan
undesensus testis.8
Pada isolated hypospadias bukanlah merupakan indikasi untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang berupa intravenous pyelography dan voiding cystourethrography.8
Pada pasien dengan hipospadia perlu dilakukan tindakan operatif dengan tujuan repair
dengan dilakukan evaluasi hasil akhir berupa fungsi dari urinary dan seksual. Tindakan
operatif hipospadia dapat dilakukan pada usia 3 bulan atau lebih.8
Daftar Pustaka
1. Leung AKC, Robson WLM. Hypospadias: an update. Asian J Androl. 2007;9:16–22.

2. Calzolari E, Contiero MR, Roncarati E, Mattiuz PL, Volpato S. Aetiological factors in


hypospadias. J Med Genet. 1986;23:333–7.

3. Schnack TH, Zdravkovic S, Myrup C, Westergaard T, Christensen K, Wohlfahrt J, et al.


Familial Aggregation of Hypospadias: A Cohort Study. Am J Epidemiol. 2007;167:251–
6.

4. Stoll C, Alembik Y, Roth MP, Dott B. Genetic and environmental factors in hypospadias.
:5.

5. Baskin LS, Ebbers MB. Hypospadias: anatomy, etiology, and technique. J Pediatr Surg.
2006;41:463–72.

6. Hutson JM, Warne GL, Grover SR, editors. Disorders of sex development: an integrated
approach to management. Heidelberg ; New York: Springer; 2012. 311 p.

7. Hadidi AT, Azmy AF, editors. Hypospadias Surgery [Internet]. Berlin, Heidelberg:
Springer Berlin Heidelberg; 2004 [cited 2018 May 13]. Available from:
http://link.springer.com/10.1007/978-3-662-07841-9

8. Wein AJ, Kavoussi LR, Partin AW, Peter CA. CAMPBELL-WALSH UROLOGY,
ELEVENTH EDITION. :4903.