Anda di halaman 1dari 8

Filsafat Ilmu “Aksiologi”

TUGAS MAKALAH

“ AKSIOLOGI ”

NAMA : SURIYANTI NASUTION ( 20110730041 )

MATA KULIAH : FILSAFAT ILMU

DOSEN PENGAMPU : Drs. Muhammad Azhar M.Ag

Program Studi Ekonomi & Perbankan Islam

Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakart

2011/2012

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala limpahan rahma,
bimbingan dan petunjuk serta hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah filsafat ilmu..

Saya menyadari sepenuhnya bahwa penulisan dan penyusunan makalah ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik
tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak.

Akhirnya kata saya meminta maaf atas kesalahan serta kekhilafan yang penulis perbuat baik sengaja maupun tidak
sengaja. Saya berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua pihak. Semoga Allah SWT memberikan
petunjuk serta rahmat-Nya kepada kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, April 2012

Penulis

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang artinya nilai dan logos artinya teori atau
ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai bentuk.
Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tentang nilai-
nilai khususnya etika.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap
tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan
ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan
sebaliknya menimbulkan bencana.

Dalam perkembangan sejarar etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme,
utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah padangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral
dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan, tujuan manusia adalah
mendapatkan kebahagiaan.

DAFTAR ISI

BAB I. KATA PENGANTAR

BAB II. PENDAHULUAN

BAB III. PEMBAHASAN

I.PENGERTIAN AKSIOLOGI

II.KEGUNAAN AKSIOLOGI TERHADAP TUJUAN ILMU PENGETAHUAN

III. TEORI – TEORI TENTANG NILAI

 Objektivisme atau Realisme Aksiologi


 Subjektivisme Aksiologi
 Nominalisme Aksiologis atau Skeptisime (Emotivisme) Aksiologi.

IV. TEORI ETIKA

 Perbedaan Normatif dengan Metaetik


 Perbedaan Teleologis dengan Deontologis
 Teori Etika Teleologis
 Teori Etika Deontologis
V. JUSTIFIKASI MORALITAS

 Etika Egoisme
 Egoisme Psikologis

VII. TEORI – TEORI ANALITIK ATAU MATAETIK

 Teori – teori Kognitivis dan Nonkongnitif..


 Fallasi dengan Naturalistik.

VIII. ETIKA RELATIVISME

 Relativisme Sosiologis.
 Relativisme Etik.
 Relativisme Metaetik.

BAB IV. PENUTUP

BAB V. DAFTAR PUSTAKA

BAB II . PEMBAHASAN
I.PENGERTIAN AKSIOLOGI
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang artinya nilai dan logos artinya teori atau
ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai bentuk.
Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tentang nilai-
nilai khususnya etika.

Menurut Bramel Aksiologi terbagi tiga bagian :

1. Moral Conduct yaitu tindakan moral, Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika.
2. Estetic expression yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan
3. Socio-politcal life yaitu kehidupan social politik, yangakan melahirkan filsafat social politik.
Menurut pandangan Kattsoff aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakekat nilai yang
umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.. Dan Barneld juga
aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang nilai-nilai, menjelaskan berdasarkan kriteria atau prinsip
tertentu yang dianggap baik di dalam tingkah laku manusia

II.KEGUNAAN AKSIOLOGI TERHADAP TUJUAN ILMU PENGETAHUAN


Menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun.S.Suriasumatri yaitu bahwa pengetahuan adalah kekuasaan.
Ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya dan ilmu memiliki sifat netral,
ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya. .

Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan dapat
memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:

1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau
hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari
teori-teori filsafatnya. Filsafat sebagai pandangan hidup.

Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan.
Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.

1. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.


Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita
tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan

III. TEORI – TEORI TENTANG NILAI


Permula adanya teori umum dari terjadinya perdebatan antara Alexius Meinong dengan Christian von Ehrenfels pada
tahun 1890-an berkaitan dengan sumber nilai. Alexius Meinong berpendapat sumber nilai adalah
perasaan (feeling) atau perkiraan adanya kesenangan terhadap suatu objek. Christian von Ehrenfels berpendapat
sumber nilai adalah hasrat atau keinginan (desire). Menurut pendapat keduanya nilai adalah milik objek itu sendiri .

 Objektivisme atau Realisme Aksiologi


Penetapan nilai merupakan suatu yang dianggap objektif. Alexander mengatakan nilai, norma, ideal, dan sebagainya
merupakan unsure atau berada dalam objek atau berada pada realitas objek . Penetapan suatu nilai memiliki arti benar
atau salah, meskipun penilaian itu tidak dapat diverifikasi, yaitu yang tidak dapat dijelaskan melalui suatu istilah
tertentu.

Pendukung dari objektivisme aksiologi mencangkup Plato, Aristoteles , St. Thomas Aquinas, Maritain, Rotce,
Alexander , dan lain- lainnya.

Beberapa bentuk Ekspresi Objektivisme Aksiologi:

1. Bosanquet ( idealisme )
Nilai adalah kualitas tertentu dari suatu objek, kejujujuran apa adanya, tetapi manifestasinya diilhamkan
kedalam sikap pikiran manusia.
1. Scheler (fenomenologi)
Nilai adalah esensi yaitu entitas yang ada dengan sendirinya yang diintuisikan secara emosional.

1. C.I. Lewis (Pragmatisme konseptual)


Penetapan nilai tunduk pada standar yang sama pada pengetahuan dan validitas seperti halnya penilaian empiris
kognitif lainnya.

1. G. E. moore ( Intuisime)
Nilai adalah suatu yang tidak dapat diterangkan , yakni tidak dapat dianalisis, tidak dapat direduksi dari terma itu
sendiri,meskipun nilai adalah suatu tindakan.

 Subjektivisme Aksiologi
Penentuan nilai mereduksi penentuan nilai ke dalam statemen yang berkaitan dengan sikap mental terhadap suatu
objek atau situasi dan penentuan sejalan dengan pernyataan benar atau salah. Subjektivisme aksiologi cenderung
mengabsahkan teori etika yang disebut hedonism, sebuah teori yang mengatakan kebahagian sebagai criteria nilai dan
naturalism yang meyakini bahwa suatu nilai dapat direduksi ke dalam psikologis.

Pendukung subjektivisme aksiologi adalah Hume , Perry, Prall, Parker, Santayana, dan lainnya.

Beberapa bentuk Ekspresi Subjektivisme Aksiologi :

1. Hume ( skeptisime )
A memiliki nilai berarti orang menyukai A

1. Sarte (eksistensialisme)
Nilai adalah kualitas empiris yang tidak dapat dijelaskan menyatu dengan kebahagian perasaan daripada berpikir
bagaimana kita ingin merasakannya.

1. D. H. Parker (humanisme)
Nilai merupakan pengalaman , tidak berwujud objek.

1. Perry (naturalisme)
Semua objek dari kepentingan sebagai suatu hubungan yang saling terkait antara kepentingan dengan objek.

 Nominalisme Aksiologis atau Skeptisime (Emotivisme) Aksiologi.


Pandangan ini mengatakan bahwa penentuan nilai adalah ekspresi emosi atau usaha untuk membujuk yang semua itu
tidak faktual.

Emotivisme : Nilai adalah suatu nilai yang tidak dapat dijelaskan dan bersifat emotif walaupun memiliki makna secara
faktual.

Asal mula emotivisme yaitu dengan adanya G. E. Moore mengajarkan tentang kebahagian yang tidak dapat dijelaskan
tetapi kebaikan secara factual dletakkan pada suatu tindakan atau objek, dengan I.A.Richard membedakan antara
makna factual dan makna emotif.

Pendukung emotivisme aksiologi adalah Nietzsche,Ayer, Stevenson, Carnap, dan lainnya.

Beberapa bentuk Ekspresi Subjektivisme Aksiologi :

1. Nietzsche ( relativisme aksiologi)


Nilai adalah sebuah ekspresi perasaan dan kebiasaan daripada sebuah pernyataan terhadap suatu fakta.

1. Ayer ( logika positivism)


Nilai adalah fungis ekspresif , member cela bagi perasaan , dan statemen yang bersifat emotif atau nonkognitif.

1. Stevenson (logika empirisme)


Nilai adalah fungsi persuasive dan tidak memiliki objek kesalahan seperti benar dan salah, maka persuasi diperlukan
dapat diterima.

IV. TEORI ETIKA


 Perbedaan Normatif dengan Metaetik
Dalam teori etika yang normative dan metaetik harus dibedakan dan dapat dilakukan :

1. Etika normative yaitu mengidentifikasikan satu atau lebih dari prinsip moral secara luas yang setiap orang
menggunakannya sebagai petunjuk, kode moralitas yang bersifat ideal atau benar.
2. Etika Metaetik yaitu menganalisis satu atau lebih cara untuk penentuan moral yang diterapkan secara actual.
Etika normatif dibedakan menjadi teleological atau deontologikal atau varian dari kombinasi keduannya (masalah
yang berkaitan dengan nilai). Sedangkan metaetika dibagi menjadi kognitifis atau nonkognitifis.

 Perbedaan Teleologis dengan Deontologis


Fakta – fakta yang harus dipertimbangkan dalam pembedaan teori etika yang bersifat teleologis dengan deontologis
yaitu:

1. Memperhatikan tingkat penegasan daripada dasar pengeluaran timbal balik.


2. Unsur – unsur dari teleologis dan deontologis ddapat ditemukan dalam teori etika tertentu.
3. Terdapat perbedaan interprestasi yang dilakukan filosof terhadap setiap teori etika yang lain.
4. Interprestasi sangat luas sebagian besar etika formalisme dan etika intuisime ke dalam deontologis dan semua
etika naturalistic yaitu hedonism, utilitarisme kedalam kelompok teleologis.

Menurut Bentham teleologis adalah kebaikan konsekuensi dan nilai moral adalah hasilnya.

Deontologis adalah member jawaban yang berbeda berdasarkan cabang keduanya yaitu formal atau intuisionistik.

 Teori Etika Teleologis


Teori etika berkaitan dengan hasil akhir atau kebaikan ketimbang sebagai kewajiban moral. Teori teleologis lebih
cenderung mengembangkan satu kebaikan intrinsic a priorir sebagai sebuah moral standar seperti kebahagian.

Pada saat teori teleologis bersifat naturalistik maka :

1. Penentuan etis dapat direduksi atau dianalisis ke dalam nonetis atau istilah deskriptif.
2. Penentuan etis dalam arti hasil akhir yang bersifat duniawi sebagai kebalikan dari spiritual atau kebaikan yang
lain.
Beberapa contoh teori etika teleologis :

i. Plato dan Aristoteles (eudnemonisme Yunani)

Baik adalah kesenangan sebagai sesuatu yang baik atau pemenuhan tujuan seseorang.

ii. Epicurus ( hendonisme egoistic)

Baik adalah kesenangan atau tidak ada yang sakit (kesenangan dalam pikiran).

iii. Bentham dan Mill (Ultilarianisme hedonistik atau hedonisme universalistic).

Baik adalah kebahagian tertinggi dalam jumlah besar.

iv. Perry (naturalisme)

Baik adalah objek dari semua kepentingan sebagai sebuah sikap rasional.

v. Paley ( utilitarianisme )

Baik adalah apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk kebahagian manusia.

 Teori Etika Deontologis


Etika deontologis menekankan sifat pembuktian dari yang benar menjadi sesuatu yang lahir sari penalaran, intuisi,
dan rasa moral. Tindakan deontologis merupakan salah satu bentuk dari etika kontekstual.
V. JUSTIFIKASI MORALITAS
 Etika Egoisme
Setiap orang harus melakukan kepentingan pribadinya dan mengabaikan kepentingan orang lain kecuali jika ada
kaitannya dengan kepentingan pribadi.

Kepentingan sesorang seharusnya memaksimalkan kesenangan sendiri dan secara umum. Dan penganut etika egoisme
lainnya adalah protogoras dan filosoft yunani.

 Egoisme Psikologis
Egoisme psikologi adalah sebuah teori etika tidak memiliki makna , karena tidak seorang pun dapat melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan keyakinannya.

VI. TEORI – TEORI ANALITIK ATAU MATAETIK

Mataetik adalah sebuah kajian tentang moral atau penilaian moral sebagai kebaikan dari etika normative deskriptif
dan analisis daripasa preskriptif dan substantive.

 Teori – teori Kognitivis dan Nonkongnitif..


Teori kognitivis yaitu menyatakan term atau pernyataan etis itu bersifat informatif.

Teori nonkronganitif yaitu menolak term atau pernyataan etis itu bersifat informatif.

 Fallasi Naturalistik.
Fallasi naturalistic adalah nama dari sebuah usaha dalam teori metaetika yang mendefinisikan etis (nonnatural) ke
dalam istilah nonetis (natural) mendefinisikan baik sebagai kesenangan.

VII. ETIKA RELATIVISME

Dalam teori etika relativisme menolak keberadaan standar moral secara luas.

 Relativisme Sosiologis.
Relativisme sosialogis menyatakan bahwa fakta merupakan keyakinan moral yaitu berbeda antara budaya satu dengan
lainnya.

 Relativisme Etik.
Menyatakan keyakinan moral adalah benar.

 Relativisme Metaetik.
Mengatakan bahwa jika ada ketidaksepakatan moral, mungkin itu benar.

PENUTUP
KESIMPULAN
Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang artinya nilai dan logos artinya teori atau
ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai bentuk
Kegunaan aksiologi terhadap ilmu pengetahuan:

1.Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.

Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau
hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari
teori-teori filsafatnya. Filsafat sebagai pandangan hidup.

Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan.
Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.

2.Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.

Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita
tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan

Dan aksiologi terdiri dari berbagai macam sub seperti teori – teori tentang nilai , teori etika, justifikasi , teori-teori
analitik atau mataetik dan etika relativisme.

DAFTAR PUSTAKA
 Sumatriasumatri Jujun S.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan. 1988.
 Hunnex, Milton D . Peta Filsafat. Jakarta: Teraju. 2004.
 Habid, H. Mohammad. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2010 dan 2011.
 http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2124658-dimensi-aksiologi-dalam filsafat-pendidikan/