Anda di halaman 1dari 50

DETASEMEN KESEHATAN WILAYAH 02.04.

04
RUMAH SAKIT Tk. IV 02.07.05 dr. NOESMIR

PEDOMAN MDGS
RUMAH SAKIT Tk. IV 02.07.05 dr. NOESMIR

2018
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................

1. DEFINSI .........................................................................................................
2. TUJUAN .........................................................................................................
3. RUANG LINGKUP .........................................................................................
4. BATASAN OPERASIONAL ............................................................................
5. LANDASAN HUKUM ......................................................................................
BAB II STANDAR KETENAGAAN
BAB III STANDAR FASILITAS
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN MDGS :
a. PELAYANAN PONEK
b. HIV/AIDS
c. TB PARU
d. PELAYANAN GERIATRI
e. ANTIMIKROBA

BAB IV PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN

1. Definisi
MDGs sasaran rumah sakit untuk melaksanakan program
PONEK untuk menurukan angkat kematian bayi dan meningkatkan
kesehatan ibu. Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat.
Di negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama
setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya.
Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada masa neonatal, dua per
tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan
dua per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi
pada hari pertama. Sedangkan di Indonesia, AKB mencapai 48 per
1000 kelahiran hidup pada tahun 2005 (Aprillia, 2009; 1).
Banyak tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan
untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru
lahir. Salah satunya adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera
setelah lahir atau biasa disebut inisiasi menyusui dini (IMD), serta
pemberian ASI Eksklusif. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah bayi
mulai menyusu sendiri segera setelah dilahirkan. Cara bayi
melakukan IMD ini dinamakan The Breast Crawl atau merangkak
mencari payudara. IMD memberi banyak manfaat baik bagi ibu
maupun bayi, antara lain mengontrol perdarahan post partum
dengan mengelurkan oksitosin. ASI yang pertama keluar
(colostrums) mengandung zat kekebalan tubuh dan nutrisi dapat
melindungi bayi dari infeksi, serta mempercepat berfungsinya
pencernaan bayi dengan normal (Roesli,2008:2) Penggunaan Air
Susu Ibu (ASI) di Indonesia perlu ditingkatkan dan dilestarikan.
Dalam "pelestarian penggunaan ASI", yang terutama perlu
ditingkatkan adalah pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI
segera (kurang lebih 30 menit setelah lahir) sampai bayi berumur 4
bulan dan memberikan kolostrum pada bayi (Depkes RI; 1992:15).
Oleh karena itu sesuai dengan visi dan misi Rumah sakit Bersalin
Asih maka dirasakan perlu adanya upaya untuk mendukung program
Asi Eksklusif yang berpedoman pada motto rumah sakit yaitu “
Memberikan Pelayanan Prima dibidang Kebidanan dan Penyakit
Kandungan” selalu memberikan pelayanan sebaik-baiknya terutama
pada pelayanan ibu dan bayi secara terpadu dan paripurna.
Pelayanan laboratorium kesehatan sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan dibutuhkan baik dalam upaya promosi
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, dan
pemulihan kesehatan.
Pelayanan laboratorium kesehatan meliputi pelayanan
laboratorium kesehatan masyarakat yang terutama berkaitan dengan
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, serta
pelayanan laboratorium klinik yang terutama berkaitan dengan upaya
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Penyelenggaraan pelayanan laboratorium kesehatan
dilaksanakan oleh berbagai laboratorium milik Pemerintah dan
swasta pada berbagai jenjang pelayanan mulai dari tingkat
kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, regional dan nasional. Masing-
masing laboratorium pada berbagai jenjang pelayanan tersebut
mempunyai tugas dan fungsi tersendiri dengan kemampuan
pemeriksaan yang berbeda-beda, demikian juga untuk pemeriksaan
HIV.
Pemeriksaan yang paling sering dipakai untuk menentukan
adanya infeksi HIV saat ini adalah pemeriksaan serologik untuk
mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV dalam darah penderita.
Berbagai teknik dapat dipakai untuk pemeriksaan ini, diantaranya
rapid test (aglutinasi, imunokromatografi), dan Enzyme immunoassay
(EIA).
Dengan meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV khususnya pada
kelompokpengguna napza suntik (penasun/IDU = Injecting Drug
User), penjaja seks (Sex Worker) dan pasangan , serta waria di
beberapa provinsi di Indonesia pada saat ini, maka kemungkinan
terjadinya risiko penyebaran infeksi HIV ke masyarakat umum tidak
dapat diabaikan. Kebanyakan dari mereka yang berisiko tertular HIV
tidak mengetahui akan status HIV mereka, apakah sudah terinfeksi
atau belum.
Perubahan perilaku seseorang dari berisiko menjadi kurang
berisiko terhadap kemungkinan tertular HIV memerlukan bantuan
perubahan emosional dann pengetahuan dalam suatu proses yang
mendorong nurani dan logoka. Proses mendorong ini sangat unik dan
membutuhkan pendekatan individual. Konseling merupakan salah
satu pendekatan yang perlu dikembangkan untuk mengelola kejiwaan
dan proses menggunakan pikiran secara mandiri.
Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dapat
dilakukan disarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya, yang
dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.
Layanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela ini harus
berdasarkan pada pedoman konseling dan testing HIV/AIDS sukarela,
agar mutu layanan dapat dipertanggung jawabkan.

2. Tujuan
1) Untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi di rumah sakit.
2) Untuk meningkatkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera
setelah lahir
3) Meningkatkan Metode kangguru (PMK) pada BBLR
4) Meningkatkan rumah sakit sebagai pusat rujukan pelayanan
kesehatan ibu dan bayi
5) menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui peningkatan
mutu pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dan
perlindungan bagi petugas layanan VCT dan klien.
6) Untuk mengurangi Tb paru di rumah sakit.

3. Ruang Lingkup
Rumah sakit dilakukan penyusuan program PONEK yaitu :

a. Pelayanan Kesehatan maternal dan Neonatus


b. Penyelenggaraan PONEK 24 jam di rumah sakit
c. Rawat Gabung Ibu dan bayi
d. IMD dan ASI Eksklusif
e. Perawatan metode kangguru pada BBLR
f. Perawatan dengan mengurangi angka HIV/AIDS
g. Pelayanan pengobatan Tb Paru

4. Batasan Operasional
MDGs sasaran rumah sakit untuk melaksanakan program
Ponek,HIV/AIDS dan Tb Paru di lingkungan rumah sakit.

5. Landasan Hukum
a. Undang – Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15
Tahun 2015; dan
c. PERMENKESK/XI/2008 tentang pelayanan obstetri Neonatal
emergensi komperhensif
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

VISI
Melaksanakan pembinaan kualitas atau mutu profesi pelayanan

MISI
Terselenggaranya semua program MDGS di Rumah sakit Tk IV
dr.Noesmir Baturaja

A. Uraian Tugas
1. Kepala Rumah Sakit
1. Bertanggung jawab atas fasilitas yang dibutuhkan
2. Bertanggung jawab atas
a. Pembentukan tim ponek , hiv/aids dan Tb Paru
b. Mengadakan evaluasi ponek , hiv/aids dan Tb Paru

2. Ketua Tim Ponek


a. Hasil Kerja : Terselenggaranya visi, misi, dan program
PONEK di rumah sakit secara menyeluruh dan terpadu.
b. Uraian Tugas :
1) Melaksanakan pembinaan kualitas atau mutu profesi
pelayanan.
2) Melaksanakan koordinasi dengan kepala bidang
keperawatan maupun kepala instalasi yang terkait dalam
membina kualitas profesi pelayanan.
3) Mengendalikan dan mengevaluasi kualitas pelayanan
profesi.
c. Tanggung Jawab
1) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan visi dan misi
PONEK.
2) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program dan
evaluasi.
3) Bertanggung jawab terhadap Ketua Tim PONEK
d. Wewenang :
1) Mendelegasikan tugas apabila berhalangan hadir
2) Memeriksa hasil kegiatan PONEK
e. Syarat Jabatan :
1) Pendidikan dasar dokter spesialis anak.
2) Pernah mengikuti pelatihan-pelatihan sesuai dengan
bidangnya.
3) Memiliki dedikasi dan loyalitas kerja yang tinggi.
4) Memiliki kemampuan kepemimpinan.
3. SEKRETARIS TIM PONEK.
a. Hasil Kerja :
1) Terkelola dan terdokumentasinya seluruh data PONEK.
2) Terkoordinasinya seluruh program kegiatan PONEK
b. Uraian Tugas :
1) Mengelola administrasi surat-surat PONEK.
2) Mencatat data-data yang berhubungan dengan PONEK.
3) Membuat undangan dan notulen
4) Mencatat data-data yang berhubungan dengan PONEK.
5) Memberikan bantuan-bantuan yang diperlukan oleh
penanggung jawab dan penanggung jawab sosialisasi dari
suksesnya program PONEK.
6) Melakukan tugas-tugas lain dari atasan yang
berhubungan dengan PONEK.

4. TIM IGD
a. Hasil kerja : Terselenggaranya semua program PONEK di
Instalasi Gawat Darurat
b. Uraian Tugas :
1) Melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan
neonatal
2) Melakukan koordinasi dengan ketua tim PONEK dan tim
medis lain.
3) Melaksanakan evaluasi terhadap kasus-kasus
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
c. Tanggung Jawab :
1) Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program
2) Bertanggung jawab kepada ketua tim PONEK
d. Syarat Jabatan :
1) Pendidikan dokter
2) Memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang PONEK

4. TIM MATERNAL
a. Hasil Kerja : Terselenggaranya semua program PONEK di
Poli Obgyn dan Ruang Bersalin.
b. Uraian Tugas :
1) Melaksanakan pelayanan antenatal care, post natal,
imunisasi, keluarga berencana, pelayanan neonatal.
2) Pemantauan pelaporan pelayanan PONEK
3) Melakukan koordinasi dengan ketua tim PONEK terkait
dengan pelayanan PONEK
4) Membuat perencanaan untuk pelayanan di ruang bersalin
dan pelayanan nifas
5) Melakukan kegiatan-kegiatan operasional untuk
pelayanan persalinan dan nifas (pengawasan nifas, IMD,
menyusui, perawatan payudara, rawat gabung).
6) Melakukan koordinasi dengan tim pelayanan perinatal
dalam rangka kegiatan operasional
7) Melakukan pengawasan kegiatan di ruang bersalin dan
ruang nifas.
8) Melakukan pengawasan terhadap SPO yang telah
ditetapkan.
9) Melakukan evaluasi kegiatan operasional dan mutu
pelayanan termasuk pencatatan dan pelaporan.
c. Tanggung Jawab :
1) Bertanggung jawab terhadap ketua tim PONEK
2) Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan
program di masing-masing unit kerjanya.
d. Syarat Jabatan :
1) Pendidikan dasar DIII Kebidanan
2) Pengalaman kerja di rumah sakit minimal 3 tahun
3) Memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang PONEK
4) Pernah mengikuti pelatihan-pelatihan.

5. TIM NEONATAL

a. Hasil Kerja : Terselenggaranya semua program PONEK di ruang


perinatologi
b. Uraian Tugas :
1) Membuat perencanaan untuk pelayanan perinatologi
2) Mengawasi kegiatan-kegiatan di ruang perinatologi
3) Melakukan koordinasi dengan tim pelayanan ruang
bersalin dan nifas dalam rangka kegiatan operasional
4) Pengawasan terhadap SPO yang telah ditetapkan
5) Melakukan evaluasi kegiatan operasional dan mutu
pelayanan perinatologi termasuk pencatatan dan pelaporan
c. Tanggung Jawab :
1) Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan
program di masing-masing unit kerjanya
2) Bertanggung jawab terhadap ketua tim PONEK
d. Syarat Jabatan :
1) DIII Kebidanan atau Keperawatan
2) Memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang PONEK
3) Pengalaman kerja di rumah sakit minimal 3 tahun
4) Pernah mengikuti pelatihan-pelatihan
5) Memiliki dedikasi dan loyalitas kerja yang tinggi
6. TIM HIV/AIDS
Keperawatan
Uraian Tugas :
a. Menerapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam
maemberikan asuhan keperawatan
b. Menerapkan prioritas asuhan keperawatan dan membantu
orang-orang untuk meningkatkan kualitas hidup
c. Sebagai konselor bagi pasien, keluarga dan komunitas dalam
menghadapi perubahan kesehatan, ketidakmampuan dan kematian
d. Sebagai komunikator dan pendengar yang baik dalam
memberikan dukungan dan motivasi
e. Membantu pasien sebagai individu agar kemampuan mereka
meningkat sehingga tercipta kenyamanan untuk meningkatkan
kualitas hidup
f. Bekerja sama dengan divisi-divisi yang ada di Tim HIV AIDS agar
terbentuk kerjasama yang sinergis.

LABORATORIUM
Uraian Tugas :
a. Mengambil sampel darah klien sesuai dengan SPO
b. Melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai prosedur dan
standar laboratorium yang telah ditetapkan.
c. Menerapkan kewaspadaan baku dan transmisi
d. Melakukan pencegahan pasca pajanan okupasional
e. Mengikuti perkembangan kemajuan dan teknologi pemeriksaan
laboratorium
f. Mencatat hasil testing HIV dan sesuaikan dengan nomor
identifikasl klien
g. Menjaga kerahasiaan hasil testing HIV
h. Melakukan pencatatan, menjaga kerahasiaan dan merujuk ke
laboratorium rujukan.

FARMASI
Uraian Tugas :
a. Mengelola obat ARV yang berasal dari GF ATM komponen
AIDS
b. Menyediakan dan memberikan obat ARV yang berasal dari
resep dokter spesialis
c. Mencatat pemasukan dan pengeluaran obat ARV secara
teratur
d. Mempersiapkan ARV bagi ODHA
e. Menjaga kondisi ARV supaya tetap baik
f. Menjaga kerahasiaan ODHA
g. Mengusulkan pengadaan obat ARV ke GF ATM Komponen
AIDS
h. Bekerjasama dengan divisi-divisi yang ada di Tim HIV AIDS
agar terbentuk kerjasama yang sinergis

7. TIM Geriatri
1. Ketua Tim Terpadu
Tugas Pokok:
1) Melaksanakan koordinasi penyelenggaraan upaya pelayanan
geriatri sesuai dengan tingkatan pelayanan.
2) Melaksanakan koordinasi pelaksanaan kerjasama lintas
program dan lintas sektoral dengan berbagai disiplin.

Uraian Tugas:
1) Merencanakan/membuat rencana kerja kebutuhan tim geriatri
setiap tahunnya.
2) Menyelenggarakan pelayanan geriatri berdasarkan rencana
kebutuhan ketenagaan, sesuai kebijaksanaan yang telah ditetapkan
oleh direktur rumah sakit.
3) Menyelenggarakan rujukan, baik di dalam maupun ke dan dari
luar rumah sakit.
4) Menyelenggarakan kerjasama dengan tim/departeman/
bagian/KSMF (Kelompok Staf Medik Fungsional) lain di rumah sakit,
serta hubungan lintas program dan lintas sektoral melalui direktur
rumah sakit.
5) Memberikan laporan berkala tim terpadu geriatri kepada
Direktur Rumah Sakit.

2. Rawat jalan
Tugas Pokok:
Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang
lingkup poliklinik, meliputi asesmen geriatri, tugas konsultatif
kuratif (sederhana) serta melaksanakan rujukan ke dan dari
tim/departemen/KSMF lain bila perlu

Uraian Tugas:
1) Merencanakan/membuat rencana kerja serta rencana
kebutuhan poliklinik geriatri setiap tahunnya.
2) Menyediakan kelengkapan pelayanan geriatri di poliklinik
berdasarkan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh ketua tim
geriatri.
3) Menyediakan kelengkapan tugas pendidikan, latihan dan
penelitian serta pengembangan sesuai kebijakan tim geriatri.
4) Menyelenggarakan kerja sama dengan SMF di rumah sakit.
5) Bertanggung jawab kepada ketua tim geriatri atas
penyelenggaraan pelayanan geriatri di poliklinik.

3. Rawat inap akut


Tugas Pokok:
Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang lingkup
rawat inap akut, meliputi pengkajian, tindakan kuratif,rehabilitasi dan
konsultasi, serta melaksanakan rujukan ke SMF lain bila perlu.

Uraian Tugas:
1) Merencanakan/membuat rencana kerja serta rencana
kebutuhan bangsal geriatri akut setiap tahunnya.
2) Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di rawat inap akut
berdasarkan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh ketua tim
geriatri.
3) Menyelenggarakan tugas pendidikan, latihan, penelitian serta
pengembangan sesuai kebijakan tim geriatri.
4) Menyelenggarakan kerjasama dan rujukan dengan SMF lain di
Rumah Sakit.
5) Bertanggung jawab kepada ketua tim geriatri atas laporan
berkala dan penyelenggaraan pelayanan geriatri di rawat inap
geriatri akut.

4. Koordinator rawat inap kronik


Tugas Pokok:
Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang lingkup
rawat inap geriatri kronis, meliputi pengkajian, kuratif, konsultatif dan
rehabilitatif, serta mengadakan rujukan ke SMF lain bila perlu.

Uraian Tugas:
1) Merencanakan/membuat rencana kerja serta rencana
kebutuhan rawat inap geriatri kronis setiap tahunnya.
2) Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang lingkup
rawat inap geriatri kronis sesuai kebijaksanaan yang telah ditetapkan
oleh katua tim geriatri
3) Menyelenggarakan tugas pendidikan, latihan, penelitian dan
pengembangan sesuai kebijakan tim geriatri.
4) Menyelenggarakan kerjasama dan rujukan kepada SMF lain di
rumah sakit.
5) Bertanggung jawab atas laporan berkala rawat inap geriatri
kronis.
6) Bertanggung jawab kepada ketua tim geriatri atas
penyelenggaraan geriatri di rawat inap geriatri kronis.

5. Koordinator klinik asuhan siang


Tugas Pokok:
Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri diruang lingkup
klinik asuhan siang, meliputi asesmen, kuratif, rekreatif dan
rehabilitatif serta mengadakan rujukan ke SMF lain bila perlu.

Uraian Tugas:
1) Merencanakan/membuat rencana kerja serta rencana
kebutuhan klinik asuhan siang setiap tahunnya.
2) Menyelenggarakan upaya pelayanan geriatri di ruang lingkup
klinik asuhan siang berdasarkan kebijaksanaan yang telah
ditetapkan oleh ketua tim geriatri.
3) Menyelenggarakan tugas pendidikan, latihan, penelitian dan
pengembangan sesuai kebijakan tim geriatri.
4) Menyelenggarakan kerjasama dan rujukan dengan SMF lain di
rumah sakit.
5) Bertanggung jawab atas laporan berkala dan penyelenggaraan
geriatri di klinik asuhan siang.

8. Antimikroba
1. Tugas Pokok Tim PPRA
Uraian tugas pokok Tim PPRA adalah:
a. membantu Kepala rumah sakit dalam menyusun kebijakan
tentang pengendalian resistensi antimikroba;
b. membantu Kepala rumah sakit dalam menyusun kebijakan dan
panduan penggunaan antibiotik rumah sakit;
c. membantu Kepala rumah sakit dalam melaksanakan program
pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit;
d. membantu Kepala rumah sakit dalam mengawasi dan
mengevaluasi pelaksanaan pengendalian resistensi antimikoba di
rumah sakit;
e. menyelenggarakan forum kajian kasus pengelolaan penyakit
infeksi terintegrasi;
f. melakukan surveilans pola penggunaan antibiotik;
g. melakukan surveilans pola mikroba penyebab infeksi dan
kepekaannya terhadap antibiotik;
h. menyebarluaskan serta meningkatkan pemahaman dan
kesadaran tentang prinsip pengendalian resistensi antimikroba,
penggunaan antibiotik secara bijak, dan ketaatan terhadap
pencegahan pengendalian infeksi melalui kegiatan pendidikan dan
pelatihan;
i. mengembangkan penelitian di bidang pengendalian resistensi
antimikroba;
j. melaporkan pelaksanaan program pengendalian resistensi
antimikroba kepada Kepala rumah sakit.

Tugas masing-masing unit adalah sebagai berikut.


1. SMF/Bagian
a. Menerapkan prinsip penggunaan antibiotik secara bijak dan
menerapkan kewaspadaan standar.
b. Melakukan koordinasi program pengendalian resistensi
antimikroba di SMF/bagian.
c. Melakukan koordinasi dalam penyusunan panduan
penggunaan antibiotik di SMF/bagian.
d. Melakukan evaluasi penggunaan antibiotik bersama tim.
2. Bidang keperawatan
a. Menerapkan kewaspadaan standar dalam upaya mencegah
penyebaran mikroba resisten.
b. Terlibat dalam cara pemberian antibiotik yang benar.
c. Terlibat dalam pengambilan spesimen mikrobiologi secara
teknik aseptik.

3. Instalasi Farmasi
a. Mengelola serta menjamin mutu dan ketersediaan antibiotik
yang tercantum dalam formularium.
b. Memberikan rekomendasi dan konsultasi serta terlibat dalam
tata laksana pasien infeksi, melalui: pengkajian peresepan,
pengendalian dan monitoring penggunaan antibiotik, visite ke
bangsal pasien bersama tim.
c. Memberikan informasi dan edukasi tentang penggunaan
antibiotik yang tepat dan benar.
d. Melakukan evaluasi penggunaan antibiotik bersama tim.

4. Laboratorium mikrobiologi klinik


a. Melakukan pelayanan pemeriksaan mikrobiologi.
b. Memberikan rekomendasi dan konsultasi serta terlibat dalam
tata laksana pasien infeksi melalui visite ke bangsal pasien bersama
tim.
c. Memberikan informasi pola mikroba dan pola resistensi secara
berkala setiap tahun.

5. Komite/tim pencegahan pengendalian infeksi (KPPI)


Komite PPI berperanan dalam mencegah penyebaran mikroba
resisten melalui:
a. penerapan kewaspadaan standar,
b. surveilans kasus infeksi yang disebabkan mikroba
multiresisten,
c. cohorting/isolasi bagi pasien infeksi yang disebabkan mikroba
multiresisten,
d. menyusun pedoman penanganan kejadian luar biasa mikroba
multiresisten.

6. Komite/tim farmasi dan terapi (KFT)


a. Berperanan dalam menyusun kebijakan dan panduan
penggunaan antibiotik di rumah sakit,
b. Memantau kepatuhan penggunaan antibiotik terhadap
kebijakan dan panduan di rumah sakit,
c. Melakukan evaluasi penggunaan antibiotik bersama tim.
B. Kualifikasi Ketenagaan
Jabatan Spesifikasi Pendidikan Jumlah
Dokter Obgyn S1 Kedokteran Obgyn 3

Dokter Penyakit S1 Kedokteran 3


Dalam Penyakit Dalam
Dokter Anak S1 Kedokteran Anak 2

Bidan DIII Bidan 10


DIV Bidan 2
Perawat DIII Perawat
S1 Perawat
Laboratorium DIII Analis 3

Farmasi DIII Farmasi 4


S1 Farmasi 1
Apoteker 1
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Rumah Sakit

B. Denah Ruang Kebidanan

RUANG KONSULTASI
RUANG BIDAN
DAN TINDAKAN

PINTU MASUK PINTU MASUK

MEJA TULIS BAD PARTUS BAD PARTUS


1 2

MEJA TULIS TIMBANGAN MEJA


LEMARI
DALAM BAYI
OBAT-
OBATAN

MEJA TROLI 1 TROLI 2


KOMPUTER
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

a. PELAYANAN PONEK

Mdgs rumah sakit melaksanakan program PONEK sesuai dengan


pedoman PONEK yang berlaku adapun pelayanan kesehatan maternal
dan neonatus , penyelenggaran PONEK 24 jam, rawat gabung ibu dan bayi
IMD, ASI eklusif dan perawatan metode kangkuru pada banyi BBLR .
1. Pelayanan kesehatan dan neonatus
2. Penyenggaraan PONEK 24 jam di rumah sakit
Pelaksanaan rujukan Ponek merupakan bagian penting dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah rujukan
kesehatan. Rujukan kesehatan dapat disebut sebagai penyerahan
tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan pke pelayanan kesehatan
yang lain. Secara lengkap Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo mendefinisikan
sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik
terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari
unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antara unit-unit
yang setingkat kemampuanya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur
darimana adan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan
tertentu ditangani keadaan sakitnya.
Sistem Rujukan adalah system yang dikelola secara strategis,
pragmatis, merata proaktif dan koordinatif untuk menamin pemerataan
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan
komprehensif bagi masyarakat yang membutuhkannya terutama bagi ibu
dan bayi baru lahir, dimanapun mereka berada dan berasal dari golongan
ekonomi manapun, agar dapat dicapai peningkatan derajat kesehatan ibu
hamil dan bayi melalui peningkatan mutu dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal di wilayah mereka berada. Suatu sistem
pelayanan kesehatan dimana terjadi pelimpahan tanggung jawab timbal
balik atas kasus atau masalah kesehatan Obstetrik dan gynekologi yang
timbul baik secara horizontal maupun vertikal.
Tatalaksana Alur Pelayanan Rujukan Kegawat daruratan Obstetri dan
Neonatal
a. Sistem rujukan pelayanan kegawat daruratan maternal dan
neonatal mengacu pada prinsip utama kecepatan dan ketepatan
tindakan, efisien, efektif dan sesuai dengan kemampuan dan
kewenganan fasilitas pelayanan.
b. Setiap kasus dengan kegawat daruratan obstetri dan neonatal
yang ke Rumah sakit dr.Noesmir Baturaja harus langsung dikelola
sesuai prosedur tetap dengan standar Operasional Prosedur. Setelah
dilakukan stabilitas kondisi pasien di UGD dan di ruang bersalin,
kemudian ditentukan apakah pasien akan dikelola di Rumah sakit
dr.Noesmir Baturaja atau dilakukan rujukan ke RS yang lebih tinggi.
c. Bila pasien sudah mendapat tindakan (seperti Operasi) dan
dalam perawatan terjadi sesuatu yang memerlukan penanganan yang
lebih komplek maka bisa dilakukan rujukan dari ruangan yang
merawat (HCU) ke Rumah Sakit rujukan yang lebih tinggi.
d. Semua rujukan yang dilakukan terlebih dahulu menghubungi
rumah sakit yang akan dituju untuk kesinambungan dan kontinuitas
pelayanan
e. Rujukan dilakukan setelah menyelesaikan administrasi dan
mempertimbangkan kestabilan pasien.

3. Rawat gabung ibu dan bayi


1. Tata Laksana Mempersiapkan alat dan sarana
1. Kebutuhan bayi Bayi dapat tidur di ranjang ibunya atau di
dalam boksnya sendiri. Boks bayi sebaiknya diletakkan di
tempat yang mudah dijangkau ibunya, jadi dianjurkan diletakkan
di samping tempat tidur ibu, bukan di dekat kaki ibu. Siapkan
juga alat-alat perawatan bayi dan pakaian bayi di dekat ibu, agar
ibu juga dapat merawat bayinya dengan mudah.
2. Kebutuhan ibu Sediakan tempat tidur yang rendah untuk
ibu supaya ibu tidak kesulitan naik turun tempat tidur bila ingin
menyusui atau merawat bayinya. Bila tempat tidur yang tersedia
tinggi, sediakan anak tangga untuk membantu ibu naik turun
tempat tidur. Sediakan juga meja pasien agar ibu dapat
menaruh keperluannya dan keperluan bayinya di tempat yang
terjangkau.
3. Sarana lain Siapkan lemari pakaian untuk keperluan
pakaian ibu dan pakaian bayinya. Untuk di ruangan perlu
disiapkan tempat mandi bayi yang portabel serta
perlengkapannya agar kegiatan memandikan bayi dapat
dilakukan di dekat ibu. Sediakan juga tempat cuci tangan ibu,
kamar mandi dan wc tersendiri. Bel untuk memanggil petugas
harus disediakan di tempat yang mudah dijangkau ibu. Bahan
bacaan, leaflet mengenai petunjuk perawatan ibu menyusui dan
perawatan nifas dapat disediakan untuk dibaca oleh ibu.

1. Membuat kriteria/syarat rawat gabung


Tidak semua bayi baru lahir dapat menjalani rawat gabung.
Perlu dibuat suatu kriteria/syarat untuk menentukan bayi mana
saja yang dapat menjalani rawat gabung. Kriteria yang dapat
dipakai adalah sebagai berikut:
1. Bayi normal, tidak mempunyai cacat bawaan berat
2. Nilai APGAR menit ke 5 lebih dari 7
3. Keadaan stabil
4. Berat badan lahir >2500-4000 gram
5. Umur kehamilan 37-42 minggu
6. Tak ada faktor risiko
7. Ibu sehat

4. IMD dan ASI Eksklusif


A. Tata Laksana Inisiasi Dini Secara Umum
1. Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat
persalinan.
2. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan,
misalnya melahirkan normal di dalam air atau dengan jongkok.
3. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya,
kecuali kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang
menyamankan kulit bayi sebaiknya dibiarkan.
4. Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit
bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini
dipertahankan minimun satu jam atau setelah menyusu awal
selesai. Kedunya diselimuti, jika perlu gunakan topi bayi.
5. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat
merangsang bayi dengan sentuhan lembut tetapi tidak
memaksakan bayi ke puting susu.
6. Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tanda-
tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat
berlangsung selama beberapa menit atau satu jam, bahkan
lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu.
Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya
setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil
menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan
puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi
tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu
pertama.
7. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit
dengan kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan,
misalnya operasi caesar.
8. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, di ukur, di cap
setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang
invasife, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi
dapat ditunda.
9. Rawat gabung – ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar.
Selama 24 jam ibu – bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu
dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan
yang diberikan sebelum ASI keluar) dihindarkan.

B. Tatalaksana Inisiasi Dini Pada Ibu Post Operasi Caesar


1. Tenaga dan pelayanan kesehatan yang suportif
2. Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20°-25°C.
Disediakan selimut untuk menutupi punggung bayi dan
badan ibu. Disiapkan juga topi bayi untuk mengurangi
hilangnya panas dari kepala bayi.
3. Anjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat
melahirkan yang tepat, sensitif dan mendukung ibu
4. Sarankan untuk mempergunakan cara yang tidak
mempergunakan obat kimiawi dalam menolong ibu saat
melahirkan (pijat, aroma therapi dsb)
5. Biarkan ibu menentukan cara dan posisi melahirkan
6. Keringkan bayi secepatnya tanpa menghilangkan vernix
yang menyamankan kulit bayi
7. Tengkurapkan bayi di dada atau perut ibu dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu. Selimuti keduanya, kalau perlu
menggunakan topi bayi
8. Biarkan bayi mencari puting susu ibunya sendiri. Ibu dapat
merangsang bayi dengan sentuhan lembut. Bila perlu ibu
boleh mendekatkan bayi pada puting tapi jangan
memaksakan bayi ke puting susu
9. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit
ibu sampai proses menyusu pertama selesai
10. Ibu melahirkan dengan proses operasi berikan kesempatan
skin to skin contact
11. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap,
setelah menyusu dini selesai
12. Hindarkan pemberian minuman pre-laktal
13. Jika inisiasi dini belum terjadi di kamar bersalin, kamar
operasi atau bayi harus dipindah sebelum satu jam maka
bayi tetap diletakkan di dada ibu ketika dipindahkan ke
kamar perawatan atau pemulihan.

5. Perawatan metode kangguru pada BBLR


Ada baiknya sebelum sang ibu dengan bayi BBLR hendak menyusui
bayinya untuk mengetahui bagaimana cara yang baik untuk menyusui
bayinya dengan metode kanguru ini. Persiapan pemberian ASI pada PMK
Bila bayi prematur atau BBLR pada awalnya tidak memungkinkan
untuk mendapat minum melalui mulut (asupan per oral), maka berikan
melalui infus terlebih dahulu. Bayi dapat dirawat dalam inkubator. Segera
setelah bayi menunjukkan tanda kesiapan menyusu yang ditandai dengan
menggerakkan lidah dan mulut serta keinginan menghisap (menghisap jari
atau kulit ibu), maka bantulah ibu untuk menyusui bayinya, pada saat ini
dapat dimulai PMK intermiten. Ibu dibantu untuk duduk dengan nyaman di
kursi dengan bayi dalam posisi kontak kulit ke kulit (Gambar). Akan
menolong bila ibu memerah sedikit ASI sebelum memulai menyusui untuk
melunakkan daerah puting susu dan memudahkan bayi untuk menempel.
Walaupun bayi PMK umumnya BBLR atau prematur dimana bayi belum
dapat menghisap dengan baik danlama, tetaplah menganjurkan ibu untuk
mencoba menyusui terlebih dulu, bila tidak berhasil dapat menggunakan
metode minum yang lain.
Bayi dengan usia kehamilan antara 30 – 32 minggu, pemberian
minum biasanya masih memerlukan penggunaan pipa orogastrik. Ibu dapat
memberikan ASI perah secara teratur melalui pipa orogastrik. Ibu dapat
melatih bayi menghisap dengan membiarkan jari tangan ibu yang bersih
berada dalam mulut bayi, saat bayi diberi ASI melalui pipa orogastrik.
Selain itu, dapat dicoba pemberian melalui gelas kecil (cup feeding) satu
atau dua kali sehari terlebih dulu.
Pemberian ASI perah melalui pipa orogastrik dapat dilakukan dalam
posisi kanguru. Pemberian ASI perah dengan menggunakan gelas kecil
dilakukan dengan mengeluarkan bayi dari posisi kanguru, membungkus
bayi agar terjaga kehangatannya. Setelah pemberian ASI perah selesai
dilakukan, bayi dapat diletakkan kembali dalam posisi kanguru. Bila
memungkinkan, dapat dicoba pemberian ASI yang diperah dari payudara
ibu secara langsung ke dalam mulut bayi, cara ini juga dapat dilakukan
pada bayi dalam posisi kanguru. Posisikan bayi dalam posisi kanguru,
dekatkan mulut bayi keputing susu ibu, tunggu sampai bayi siap dan
membuka mulut dan matanya. Keluarkan beberapa tetes ASI, biarkan bayi
mencium dan menjilat puting susu dan membuka mulutnya, tunggu sampai
ia menelan ASI. Kegiatan ini dapat diulangi kembali.
Bila bayi kecil sudah mulai menghisap dengan efektif, mungkin
sesekali ia akan berhenti saat menyusu dengan jeda yang agak lama. Hal
ini dapat terjadi karena bayi kecil mudah lelah, menghisap agak lemah
pada awalnya, dan memerlukan waktu istirahat yang agak lama setelah
menghisap. Ibu dianjurkan untuk tidak menarik bayi dari puting susunya
terlalu cepat. Biarkan bayi menempel di dada ibu, dan biarkan ia
menghisap kembali bila sudah siap. Umumnya bayi kecil perlu menyusu
lebih sering, setiap 2 hingga 3 jam. Pada awalnya, mungkin bayi tidak
bangun untuk minum sehingga harus dibangunkan terlebih dahulu agar ia
mau minum.
Bayi prematur dengan usia kehamilan 34 hingga 36 minggu atau
lebih, umumnya sudah dapat menyusu langsung ke ibu. Namun sebaiknya,
periksa terlebih dahulu refleks hisap bayi, bila perlu, sesekali selingi
pemberian ASI perah menggunakan gelas kecil. Pastikan bayi menghisap
dalam posisi dan pelekatan yang benar sehingga proses menyusu dapat
berlangsung dengan lancar.
1. Cara memegang atau memposisikan bayi:
a) Peluk kepala dan tubuh bayi dalam posisi lurus
b) Arahkan muka bayi ke puting payudara ibu
c) Ibu memeluk tubuh bayi, bayi merapat ke tubuh ibunya
d) Peluklah seluruh tubuh bayi, tidak hanya bagian leher dan bahu
2. Cara melekatkan bayi:
a) Sentuhkan puting payudara ibu ke mulut bayi
b) Tunggulah sampai bayi membuka lebar mulutnya
c) Segerah arahkan puting dan payudara ibu ke dalam mulut bayi
3. Tanda-tanda posisi dan pelekatan yang benar:
a) Dagu bayi menempel ke dada ibu
b) Mulut bayi terbuka lebar
c) Bibir bawah bayi terposisi melipat ke luar
d) Daerah areola payudara bagian atas lebih terlihat
daripadaareola payudara bagian bawah
e) Bayi menghisap dengan lambat dan dalam, terkadang berhenti.

Untuk memantau kecukupan asupan ASI, timbang bayi sekali sehari


hingga berat badan bayi mulai meningkat, kemudian lanjutkan menimbang
2 kali seminggu,dan selanjutnya timbang bayi sekali seminggu sampai usia
bayi mencapai cukup bulan.

B. HIV / AIDS
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan
dukuangan psikologi, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS mencegah
penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang
bertanggungjawab,pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai
masalah terkait dengan HIV/AIDS. Konseling dan Testing Suka rela yang
dikenal sebagai Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah
satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke seluruh
layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan.
1. Layanan VCT dapat dilakukan kebutuhan klien pada saat klien
mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan
layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif
maupun negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses
untuk terapi suportif, terapi infeksi oportunistik, dan ART.
2. VCT harus dikerjakan secara profersional dan konsisten untuk
memperoleh intervensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan
bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko
infeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS, mempelajari status
dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku
berisiko dan mencegah penyebaran infeksi kepda orang lain guna
mempertahakan dan meningkatkan perilaku sehat.
3. Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksaan dan
tekanan, segera setelah klien memahami berbagai keuntungan,
konsekuensi, dan risiko.

Prinsip Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS Sukarela (VCT)


1. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV
Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien,
tanpa paksaan, dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan
testing terletak ditangan klien. Kecuali testing HIV pada donor darah
di unit tranfusi dan transplantasi jaringan, organ tubuh dan sel.
Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak
direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan
menikah, pekerja seksual, IDU, rekrutmen pegawai/tenaga kerja
Indonesia, dan asuransi kesehatan.
2. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas
Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat
semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga
kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak
diperkenakan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien. Semua
informosi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat
dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus
dari diri klien dapat diketahui.
3. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang efektif.
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan
mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi
perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan
klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil
testing positif.
4. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT
WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman
yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan
hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh
konselor yang sama atau konselor lainnya yang disetujui oleh klien.
Tahapan Pelayanan VCT
1. Konseling pra testing
2. Alur penatalaksanaan dan keterampilan melakukan konseling
pra testing dan pasca testing perlu memperhatikan tahap berikut
ini :

Perencanaan Rawatan
Psikososial Lanjutan

Konseling Pasca-testing

Konseling Pra- testing

Penilaian Risiko Klinik


Ketrampilan Mikro Konseling Dasar
Komunikasi Perubahan Prilaku
Alasan Dilakukan VCT
Informasi Dasar HIV

Tahapan Penatalaksaan:
a. Penerima klien:
1) Informasikan kepada klien tentang pelayanan tanpa
nama (anonimus) sehingga nama tidak ditanyakan.
2) Pastikan klien datang tepat waktu dan usahakan tidak
menunggu
3) Jelaskan tentang prosedur
4) Buat catatan rekam medik klien dan pastikan setiap klien
mempunyai nomor kodenya sendiri
Kartu periksa Konseling dan testing ,Klien mempunyai
kartu dengan nomor kode. Data ditulis oleh konselor.
Untuk meminimalkan kesalahan,kode harus diperiksa
ulang oleh konselor dan pengambilan darah.

Tanggung jawab klien dalam konseling adalah sebagai


berikut:
1) Bersama konselor mendiskusikan hal-hal yang terkait
dengan informasi akurat dan lengkap tentang HIV/AIDS,
perilaku berisiko, testing HIV dan pertimbangan yang
terkait dengan hasil negatif atau positif.
2) Sesudah melakukan konseling lamnjutan, diharapkan
dapat melindungi dirinya sendiri dan keluarganya dari
penyebaran infeksi, dengan cara menggunakan
berbagai informasi dan alat prevensi yang tersedia bagi
mereka.
3) Untuk klien dengan HIV positif memberitahu perasangan
atau kelurganya akan status HIV dirinya dan
merencanakan kehidupan lebih lanjut.
b. Konseling pra testing HIV/AIDS
1) Periksa ulang nomor klien dalam formulir
2) Perkenalan dan arahan
3) Membangun kepercayaan klien pada konselor yang
merupakan dasar utama bagi terjaganya kerahasiaan
sehingga terjalin hubungan baik dan terbina sikap saling
memahami.
4) Alasan kunjungan dan klarifikasi tentang fakta dan mitos
tentang HIV/AIDS
5) Penilaian risiko untuk membantu klien mengetahui faktor
risiko dan menyiapkan diri untuk pemeriksaan darah.
6) Memberikan pengetahuan akan implikasi terinfeksi atau tidak
terinfeksi HIV dan memfasilitasi diskusi tentang cara
menyesuaikan diri dengan status HIV.
7) Di dalam konseling pra testing seorang konselor VCT harus
dapat membuat keseimbangan antara pemberian informasi,
penilaian risiko dan merespon kebutuhan emosi klien.
8) Konselor VCT melakukan penilaian sistem dukungan
9) Klien memberikan persetujuan tertulisnya (Informed Concent)
sebelum dilakukan tersting HIV/AIDS.

c. Konseling Pra Testing HIV/AIDS dalam keadaan khusus


1) Dalam keadaan klien terbaring maka konseling dapat
dilakukan di samping tempat tidur atau dengan memindahkan
tempat tidur klien ke ruang yang nyaman dan terjaga
kerahasiaannya.
2) Dalam keadaan klien tidak stabil maka VCT tidak dapat
dilakuakan langsung kepada klien an menunggu hingga
kondisi klien stabil.
3) Dalam keadaan pasien kritis tetapi stabil dapat melakukan
konseling

Informed Concent
a. Semua klien sebelum menjalani testing HIV harus
memberikan persetujuan tertulisnya
Aspek penting didalam persetujuan tertulis itu adalah sebagai
berikut:
1) Klien telah diberi penjelasan cukup tentang risiko dan
dampak sebagai akibat dan tindakannya dan klien
menyetujuinya.
2) Klien mempunyai kemampuan menangkap pengertian dan
mampu menyatakan persetujuannya(secara intelektual
dan psikiatris)
3) Klien tidak dalam paksaan untuk memberikan persetuan
meski konselor memahami bahwa mereka memang
sangat memerlukan pemeriksaan HIV.
4) Untuk klien yang tidak mampu mengambil keputusan bagi
dirinya karena keterbatasan dalm memahami informasi
maka tugas konselor untuk berlaku jujur dan objektif
dalam menyampaikan informasi sehingga klien
memahami dengan benar dan dapat menyatakan
persetujuannya.

b. Informed Concent pada anak


Umur anak untuk dapat menyatakan persetujuan
pemeriksaan ketika anak telah dapat berkembang pikiran
abstak dan logikanya, yakni pada umur 12 tahun. Secara
hukum seseorang dianggap dewasa ketika seorang laki-laki
berusia 19 tahun dan perempuan berumur 16 tahun atau
pernah menikah. Antara umur 12 tahun sampai usia
dewasasecara hukum, persetujuan dapat dilakukan dengan
persetujuan orangtua.
Ketika anak berumur dibawah 12 tahun, orangtua atau
pengampunya yang menandatangani surat persetujuan
(informed concent), jika ia tak punya orangtua atau
pengampun, maka kepala institusi, kepala puskesmas,
kepala rumah sakit, kepala klinik atau siapa yang
bertanggung jawab atas diri anak harus menandatangani
informed concent.
Jika anak dibawah umur 12 tahun memerlukan testing HIV,
maka orangtua atau pengampunya harus mendampingi
secara penuh.

Testing HIV dalam VCT Prinsip Testing HIV adalah


sukarela dan terjaga kerahasiaanya. Testing dimaksud untuk
menegakkan diagnisis. Terdapat serangkaian testing yang
berbeda-beda karena perbedaan prinsip metoda yang
digunakan. Testing yang digunakan adalah testing serologis
untuk mendeteksi antibodi HIV dalam serum atau plasma.
Spesimen adalah darah klien yang diambil secara intravena,
plasma atau serumnya. Pada saat ini belum digunakan
spesimen lain seperti saliva, urin, dan spot darah kering.
Penggunaan metode testing cepat (rapid testing)
memungkinkan klien mendapatkan hasil testing pada hari
yang sama. Tujuan testing HIV ada 4 yaitu untuk membantu
diagnosis, pengamanan darah donor (skrining), untuk
surveilens, dan untuk pnelitian. Hasil testing yang
disampaikan kepada klien adalah benar milik klien. Petugas
laboratorium harus menjaga mutu dan konfidenisialitas.
Hindari terjadinya kesalahan, baik teknis(technical error)
maupun manusia (Human error) dan administratif
(administrative error). Petugas laboratorium (perawat)
(mengambil) darah setelah klien menjlani konseling pra
testing.
Bagan alur testing HIV

A1 (Pemeriksaan I)

A1 + A1 –
Laporan Negatif

A2 (Pemeriksaan II)

A1 + A2 + A1 + A2 -

Ulangi A1 dan A2

A1 + A2 A1 + A2 A1 – A2 –
+ - Laporan Negatif

A3 (Pemeriksaan III)

A1 + A2 + A3+ A1 + A2 + A3- A1 + A2 – A3+ A1 + A2 – A3 -

Laporan Positif Indeterminate Resiko Resiko


Tinggi Rendah

Dianggap
Indeterminate
Negatif
Konseling Pasca Testing
Konseling pasca testing membantu klien memahami dan
menyesuaikan diri dengan hasil testing. Konselor mempersiapkan klien
untuk menerima hasil testing, memberikan hasil testing, dan menyediakan
informasi selanjutnya. Konselor mengajak klien mendiskusikan strategi
untuk menurunkan penularan HIV. Kunci utama dalm menyampaikan hasil
testing:
a. Periksa ulang seluruh hasil klien dalam catatan medik. Lakukan
hal ini sebelum bertemu klien, untuk memastikan kebenarannya.
b. Sampaikan hasil hanya kepadda klien secara tatap muka.
c. Berhati-hatilah dalam memanggil klien dari ruang tunggu.
d. Seorang konselor tak diperkenankan memberikan hasil pada
klien atau lainnya secara verbal dan non verbal selagi berada
diruang tunggu.
e. Hasil testing tertulis.

Tahapan penatalaksanaan konseling pasca testing


a. Penerimaan klien:
1) Memanggil klien secara wajar
2) Pastikan klien datang tepat waktu dan usahakan tidak
menunggu
3) Ingat akan semua kunci utama dalam menyampaikan hasil
testing.

b. Pedoman penyampaian hasil testing negatif


1) Periksa kemungkinan terpapar dalm periode jendela.
2) Buatlah ikhtisar dan gali lebi lanjut berbagai hambatan untuk
seks aman, pemberian makanan pada bayi dan penggunaan
jarum suntik yang aman.
3) Periksa kembali reaksi emosi yang ada.
4) Buatlah rencana lebih lanjut.

c. Pedoman penyampaian hasil testing positif


1) Perhatikann komunikasi non verbal saat memanggil klien
memasuki ruang konseling
2) Pastikan klien siap menerima hasil
3) Tekankan kerahasiaan
4) Lakukan secara jelas dan langsung
5) Sediakan waktu cukup untuk menyerap informasi tentang hasil
6) Periksa apa yang diketahui klien tentang hasil testing
7) Dengan tenang bicarakanapa arti hasil pemeriksaan
8) Galilah ekspresi dan ventilasikan emosi

d. Terangkan secara ringkas tentang:


1) Tersedianya fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan
2) 24 jam pendampingan
3) Dukungan ionformasi verbal dengan informasi tertulis
4) Rencana nyata
5) Adanya dukungan dan orang dekat
6) Apa yang akan dilakukan klien dalam 48 jam
7) Strategi mekanisme penyesuaian diri
8) Tanyakan apakah klien masih ingin bertanya
9) Beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan
dikemudian hari
10) Rencanakan tindak lanjut atau rujukan, jika diperlukan.

e. Konfidensialitas
Persetujuan untuk mengungkapkan status HIV seorang
individu kepada pihak ketiga seperti institusi rujukan, petugas
kesehatan yang secara tidak langsung melakukan perawatan
kepada klien yang terinfeksi dan pasangannya, harus
senantiasa diperhatikan. Persetujuan ini dituliskan dan
dicantumkan dalam catatan medik. Konselor bertanggung
jawab mengkomunikasikan secara jelas perluasan
konfidensialitas yang ditawarkan kepada klien. Dalam
keadaan normal, penjelasan rinci seperti ini dilakukan dalm
konseling pra testing atau saat penandatanganan kontrak
pertama. Berbagi konfidensialitas, artinya rahasia diperluas
kepada oranga lain, harus terlebih dulu dibicarakan dengan
klien. Orang lain yang dimaksud adalah anggota keluarga,
orang yang dicintai orang yang merawat, teman yang
dipercaya, atau rujukan pelayanan lainnya ke pelayanan
medik dan keselamatan klien. Konfidensialitas juga dapat
dibuka jika diharuskan oleh hukum (statutory) yang jelas.
Contoh , ketika kepolisian membutuhkan pengungkapan
status untuk perlindungan kepada korban perkosaan. Korban
perkosaan dapat segera ART agar terlindungdari infeksi HIV.
“ Model Standar Emas ”

Gejala atau kecemasan yang membawa seseorang memutuskan untuk tes


status HIV

Konseling pra test mencakup penilaian kondisi prilaku beresiko dan


kondisi psikososial. Dan penyediaan informasi faktual tertulis ataupun
lisan.

Beri waktu berfikir

Penundaan pengambilan darah Pengambilan darah pengambilan

HIV Negatif HIV Positif

Mendorong mengubah prilaku kearah Sampaikan berita dengan hati-hati, menilai kemampuan
positif, hilangkan yang negatif mengelola berita hasil, sedangkan waktu untuk diskusi,
bantu agar adptasi dengan situasi dan buat rencana
Katakan meski situasinya masih tepat dan rasional.
beresiko rendah, tetap harus merawat
diri untuk hindari infeksi dan
kemungkinan penularan.
Berikan konseling berkelanjutan yang melibat sertakan
keluarga dan teman; gerakan dukungan keluarga dan
masyarakat; cari dukungan lainnya; tumbuhkan prilaku
bertanggung jawab.

Lakukan periksa ulang adalah pajanan selama Berikan konseling berkelanjutan, termasuk dorongan
12 bulan setelah tes atau pajanan sesudah tes. untuk mengurangi penularan; motifasi untuk
Sarankan tes ulang dan lakukan tes ulang. menurunkan resiko penularan; jika dibutuhkan kenali
sumber dukungan lain, termasuk layanan medik RS,
perawatan rumah.

1. Rujukan
Rujukan merupakan proses ketika petugas kesehatan atau
pekerja masyarakat melakukan penilaian bahwa klien mereka
memerlukan pelayanan tambahan lainnya. Rujukan memerlukan
alat penting guna memastikan terpenuhinya pelayanan
berkelanjutan yang dibutuhkan klien untuk mengatasi keluhan
fisik, psikologik dan sosial. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada
pelaksanaan rujukan:
1) Dilakukan ke institusi, klinik, dan rumah sakit
2) Konselor menanamkan pemahaman kepada klien alasan,
keperluan, dan lokasi layanan rujukan.
3) Pengiriman surat rujukan dari dan ke pelayanan yang
dibutuhkan klien, dilakukan oleh konselor VCT dengan
surat pengantar rujukan yang memuat identitas klien yang
diperlukan dan tujuan rujukan. Klien juga diberi salinan
hasil rahasia yang mungkin diperlukan untuk ditunjukan
pada klinis yang menanganinya. Jika klien membutuhkan
informasi, konselor minimal mampu memberikan informasi
dasar atas apa yang dibutuhkan klien.
Merujuk pasien ke Rumah sakit lain untuk perawatan lanjutan
Merujuk pasien ke rumah sakit atau sarana kesehatan
lainnya sehingga kesinambungan pelayanan pasien terpenuhi yang
pada akhirnya keselamatan pasien dan mutu pelayanan dapat
ditingkatkan,dapat dilihat dalam standar prosedur oprasional
rujukan.
1. Dokter/ konselor memberikan informasi kepada pasien dan
keluarga mengenai kondisi pasien bahwa pasien perlu atau dapat
ditangani di tempat lain.
2. Sebelum merujuk memastikan terlebih dahulu bahwa rumah
sakit yang dituju memilik dokter atau fasilitas pelayanan yang
dibutuhkan.
3. Dokter/ konselor melengkapi rekam medis pasien dan
menyiapkanberkas penunjang yang akan diperlukan di rumah sakit
rujukan. Resume medis yang berisi
a. kondisi klinis pasien
b. prosedur dan pemeriksaan yang telah dilakukan
c. kebutuhan pelayanan lebih lanjut

4. Dokter melengkapi resume medis (Surat rujukan) dan


perawat melengkapi form catatan perpindahanpasien antar Rumah
sakit
5. Resume medis dibuat salinannya( Asli diberikan ke RS yang
dituju,copy tertinggal )
6. Pasien dirujuk menggunakan alat trasportasi yang sesuai
dengan kondisinya dan perawat yang merujuk menggunakan APD
sesuai PPI.
7. Perawat menghubungi koordinator ambulance,dan mengisi
formulir permintaan ambulance
8. Selama proses rujukan kondisi pasien kondisi dimonitor terus
menerus
9. petugas yang mengantar melakukan timbang terima setelah
sampai dirumah sakit rujukan
10. Fasilitas dan alat yang kontak dengan pasien harus
dibersihkan dengan desinfektan.

C. TB PARU

Diagnosis TB keluhan, hasil anamnesis, pemeriksaan klinis,


pemeriksaan labotarorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.
1. Keluhan dan hasil anamnesis meliputi: Keluhan yang disampaikan
pasien, serta wawancara rinci berdasar keluhan pasien. Pemeriksaan
klinis berdasarkan gejala dan tanda TB yang meliputi:
a. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2
minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa
kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan
HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala TB yang khas,
sehingga gejala batuk tidak harus selalu selama 2 minggu atau lebih.
b. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru
selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan
lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka
setiap orang yang datang ke fasyankes dengan gejala tersebut diatas,
dianggap sebagai seorang terduga pasien TB, dan perlu dilakukan
pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
c. Selain gejala tersebut, perlu dipertimbangkan pemeriksaan pada
orang dengan faktor risiko, seperti : kontak erat dengan pasien TB, tinggal
di daerah padat penduduk, wilayah kumuh, daerah pengungsian, dan
orang yang bekerja dengan bahan kimia yang berrisiko menimbulkan
paparan infeksi paru.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan Bakteriologi
1) Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
Pemeriksaan dahak selain berfungsi untuk menegakkan
diagnosis, juga untuk menentukan potensi penularan dan menilai
keberhasilan pengobatan.
Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan
mengumpulkan 2 contoh uji dahak yang dikumpulkan berupa dahak
Sewaktu-Pagi (SP):

a) S (Sewaktu): dahak ditampung di fasyankes.


b) P (Pagi): dahak ditampung pada pagi segera setelah bangun tidur.
Dapat dilakukan dirumah pasien atau di bangsal rawat inap bilamana
pasien menjalani rawat inap.

2) Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB


Pemeriksaan tes cepat molekuler dengan metode Xpert
MTB/RIF. TCM merupakan sarana untuk penegakan diagnosis,
namun tidak dapat dimanfaatkan untuk evaluasi hasil pengobatan.
3) Pemeriksaan Biakan
Pemeriksaan biakan dapat dilakukan dengan media padat
(Lowenstein-Jensen) dan media cair (Mycobacteria Growth Indicator
Tube) untuk identifikasi Mycobacterium tuberkulosis (M.tb).
Pemeriksaan tersebut diatas dilakukan disarana laboratorium yang
terpantau mutunya. Dalam menjamin hasil pemeriksaan
laboratorium, diperlukan contoh uji dahak yang berkualitas. Pada
faskes yang tidak memiliki akses langsung terhadap pemeriksaan
TCM, biakan, dan uji kepekaan, diperlukan sistem transportasi contoh
uji. Hal ini bertujuan untuk menjangkau pasien yang membutuhkan
akses terhadap pemeriksaan tersebut serta mengurangi risiko
penularan jika pasien bepergian langsung ke laboratorium.

b. Pemeriksaan Penunjang Lainnya


1) Pemeriksaan foto toraks
2) Pemeriksaan histopatologi pada kasus yang dicurigai TB
ekstraparu.

c. Pemeriksaan uji kepekaan obat


Uji kepekaan obat bertujuan untuk menentukan ada tidaknya
resistensi M.tb terhadap OAT. Uji kepekaan obat tersebut harus
dilakukan di laboratorium yang telah lulus uji pemantapan
mutu/Quality Assurance (QA), dan mendapatkan sertifikat
nasional maupun internasional.

d. Pemeriksaan serologis
Sampai saat ini belum direkomendasikan.

D. PELAYANAN GERIATRI

A. PERSYARATAN BANGUNAN
1. Konstruksi bangunan
a. Jalan
Jalan menuju ke pelayanan geriatri harus cukup kuat,
rata, tidak licin serta disediakan jalur khusus untuk
pasien/pengunjung dengan kursi roda.

b. Pintu
Pintu harus cukup lebar untuk memudahkan
pasien/pengunjung lewat dengan kursi roda atau tempat tidur.
Lebar pintu sebaiknya 120 cm terdiri dari pintu 90 cm dan
pintu 30 cm.

c. Listrik
Daya listrik harus cukup dengan cadangan daya bila
suatu saat memerlukan tambahan penerangan sehingga
diperlukan stabilisator untuk menjamin stabilitas tegangan,
dilengkapi dengan generator listrik.

d. Penerangan
Penerangan lorong dan ruang harus terang namun tidak
menyilaukan. Setiap lampu penerangan di atas tempat tidur
harus diberi penutup, agar tidak menyilaukan.

e. Lantai
Lantai harus rata, mudah dibersihkan tetapi tidak licin, bila
ada undakan atau tangga harus jelas terlihat dengan warna
ubin yang berbeda untuk mencegah jatuh.

f. Langit-langit
Langit-langit harus kuat dan mudah dibersihkan.

g. Dinding
Dinding harus permanen dan kuat dan sebaiknya di cat
berwarna terang. Khusus untuk dinding ruang latihan,
sebaiknya dipilih warna yang bersifat memberi semangat dan
di sepanjang dinding, terdapat pegangan yang kuat sebaiknya
terbuat dari kayu (hand rail).
h. Ventilasi
Semua ruangan harus diberi cukup ventilasi. Ruangan yang
menggunakan pendingin/air condition harus dilengkapi
cadangan ventilasi untuk mengantisipasi apabila sewaktu-
waktu terjadi kematian arus listrik.
i. Kamar mandi dan WC
Kamar mandi menggunakan kloset duduk dengan pegangan
di sebelah kanan dan kirinya. Shower dilengkapi dengan
tempat duduk dan pegangan. Gagang shower harus
diletakkan di tempat yang mudah dijangkau oleh pasien
dalam posisi duduk. Demikian pula tempat sabun harus
diletakkan sedemikian agar mudah dijangkau pasien.
Tersedia bel untuk meminta bantuan dan pintu membuka
keluar.
j. Air
Penyediaan air untuk kamar mandi, WC, cuci tangan harus
cukup dan memenuhi persyaratan. Semua fasilitas gedung
dan lingkungan harus mengacu kepada pedoman Pekerjaan
Umum tentang standar teknis eksesibilitas gedung dan
lingkungan.
k. Pada dinding-dinding tertentu harus diberi pengaman dan kayu atau
alumunium (leuning) yang berfungsi sebagai pegangan bagi pasien
pada saat berjalan serta untuk melindungi dinding dari benturan
kursi roda.
l. Agar dihindari sudut-sudut yang tajam pada dinding atau bagian
tertentu untuk menghindari kemungkinan terjadinya bahaya/trauma.
m. Disediakan wastafel pada setiap ruangan pemeriksaan, pengobatan
dan ruangan yang lain.

2. Kebutuhan Ruangan
a. Ruang pendaftaran administrasi
Ruangan ini harus cukup luas untuk penempatan meja
tulis, lemari arsip untuk penyimpanan dokumen medik pasien.
Letaknya dekat dengan ruang tunggu, sehingga mudah dilihat
oleh pasien yang baru datang.
b. Ruang tunggu
Harus bersih dan cukup luas, aman dan nyaman, baik untuk
pasien dari luar ataupun dari bangsal yang menggunakan kursi
roda atau tempat tidur.
c. Ruang periksa
Ruangan ini dekat dengan ruang pendaftaran serta dilengkapi
dengan fasilitas dan alat-alat pemeriksaan. Ruangan terdiri dari:
1) ruang periksa perawat geriatri dan sosial medik
untuk melakukan anamnesis;
2) ruang periksa dokter/tim geriatri;
3) WC dan kamar mandi; dan
4) ruangan diskusi tim geriatri atau pertemuan
dengan keluarga pasien (family meeting).

d. Ruang bangsal geriatri akut


Ruang ini harus cukup luas dan setidaknya harus mempunyai
fasilitas:
1) bangsal perawatan terbagi atas laki-laki dan
perempuan dengan bel terpasang disetiap
dinding tempat tidur;
2) ruang semi intensif dengan minimal 1 (satu)
tempat tidur, terbagi atas laki-laki dan
perempuan (disesuaikan dengan kemampuan
dan perkembangan);
3) ruang dokter;
4) ruang rehabilitasi akut;
5) ruang perawat, dengan lokasi yang
memungkinkan untuk
perawat melihat semua pasien yang sedang dalam perawatan;
6) kamar mandi dan WC yang jumlahnya sesuai dan
dilengkapi dengan fasilitas dan persyaratan untuk pasien lanjut usia;
7) kamar mandi/WC khusus untuk perawat dan pengunjung;
8) ruang rapat kecil; dan
9) gudang.
e. Ruang asuhan siang (day care)
Ruang ini harus luas serta dilengkapi dengan pembagian
ruangan, masing-masing untuk:
1) ruang istirahat dengan tempat tidur dan kursi bersandaran tinggi
dilengkapi penyangga kaki;
2) ruang tindakan/periksa bila dibutuhkan;
3) ruang untuk latihan/gimnasium/olahraga ringan;
4) ruang simulasi aktivitas sehari-hari (dapur kecil dengan
perlengkapannya, kamar kecil dan lain-lain);
5) ruang untuk rekreasi/hobi, merangkap ruang makan bersama;
6) WC/kamar mandi yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah
pengunjung dan staf;
7) ruangan assessment dan sosialisasi;
8) ruang terapi okupasi; dan
9) ruang tamu, mebel dan pantry set.

f. Ruang bangsal geriatri kronis


Ruang ini harus cukup luas dan pada dasarnya perlu dilengkapi
dengan fasilitas dan perlengkapan seperti pada bangsal akut.
Ukuran/kapasitas ruang lebih besar dari bangsal akut, masing-
masing untuk laki-laki dan perempuan.

Perlengkapan sarana dan prasarana rehabilitasi medis sesuai


dengan perlengkapan untuk day care. Sebaiknya ruang ini
mempunyai taman yang cukup luas dengan area tempat
berjemur pasien serta dilengkapi kolam dengan air mengalir.

g. Ruang tempat penitipan pasien geriatri (respite care)


Ruang ini mirip dengan ruang rawat kronis namun terdiri atas
kamar/kamar mirip paviliun yang bertujuan untuk memberikan
privacy bagi pasien lanjut usia dengan fasilitas seperti
perpustakaan, ruang bersosialisasi dan taman untuk latihan
berjalan (taman mobilisasi). Sebaiknya juga terdapat ruang
untuk pertemuan dengan keluarga pasien yang bergabung
dengan ruang assessment/ruang rapat

h. Ruang hospice care


Hospice care merupakan ruang perawatan bagi pasien
paliatif di rumah sakit. Perlengkapan sarana dan prasarana
rehabilitasi medis hospice care sesuai dengan perlengkapan
untuk day care. Sebaiknya ruang ini mempunyai taman yang
cukup luas dengan area tempat berjemur pasien serta
dilengkapi kolam dengan air mengalir.

i. Ruang tenaga staf dan ruang pertemuan, terdiri dari:

1) ruang ketua tim;

2) ruang anggota;

3) 1 (satu) ruang pertemuan untuk tim;

4) ruang istirahat karyawan dan kamar kecil untuk karyawan.


3. PERSYARATAN PERALATAN GERIATRI
Memenuhi syarat untuk tingkatan pelayanan di rumah sakit harus mempunyai alat yang
melengkapi sebagai berikut :
Tingkatan Pelayanan

No Jenis Alat
Sederhana Lengkap Sempurna Paripurna

Ruang periksa

1 Tempat tidur pasien √ √ √ √

1 set alat
2 √ √ √ √
pemeriksaan fisik

3 EKG √ √ √ √

4 Light box √ √ √ √

Bioelectrical
5 - - √ √
impedance

Timbangan berat
6 badan dan pengukur √ √ √ √
tinggi badan

Instrumen penilaian
7 Kognitif, Psikologi, √ √ √ √
Psikiatri

Ruang rawat inap

8 Tempat tidur pasien - √ √ √

9 Oksigen - √ √ √

10 Suction - √ √ √

11 Komod - √ √ √

12 Light box - √ √ √

13 EKG - √ √ √

14 Blue bag - √ √ √

15 Chair scale - √ √ √

16 Timbangan rumah - √ √ √
tangga

Ruang Fisioterapi

17 Paralel bar - √ √ √

18 Walker - √ √ √

19 Stick - √ √ √

20 Tripot - √ √ √

21 Quadripot - √ √ √

Tingkatan Pelayanan

No Jenis Alat
Sederhana Lengkap Sempurna Paripurna

22 Kursi roda - √ √ √

23 Tilting table - √ √ √

24 Meja fisioterapi - √ √ √

25 Paralel bar - √ √ √

26 Alat diatermi - √ √ √

27 TENS - √ √ √

Ruang Asuhan Siang

28 Paralel bar - - √ √

29 Sepeda statis - - √ √

30 TENS - - √ √

31 EKG - - √ √

32 Tongkat ketiak - - √ √

33 Tongkat lengan - - √ √

Tripod, walker, kursi - √ √


34 roda -

Grip exerciser, - √ √
35 bantal pasir -

Wax, parafin batah, - √ √


36 matras -

Intermitten - √ √
37 pneumatic compres -
38 Oxigen silinder - - √ √
portable, infus set

Standar infus, alat - √ √


39 inhalasi -

40 Thera band, Gimnic - - √ √


arte 75

Softgym over, body - √ √


41 ball 75 -

Padded U sling with - √ √


42 head support -

Nylon Mesh Bath - √ √


43 sling -

Convertible exercise - √ √
44 training stand -

45 Endorphin pedal - - √ √
cycle

Hugger exercise - √ √
46 weight 48 -

47 Vinnyl Dumble Set - - √ √

Tingkatan Pelayanan

No Jenis Alat
Sederhana Lengkap Sempurna Paripurna

Multipurpose - √ √
48 combination rack -

49 Walbar - - √ √

50 Pulley exercise - - √ √

Shoulderwheel - √ √
51 exercise -
52 Quadriceps exercise - - √ √

53 Tempat tidur - - √ √

Kursi bersandaran - √ √
54 tinggi -

Ruang bangsal geriatri kronis

55 Tempat tidur pasien - - - √

Kursi roda, walker, - √


56 tripod, quadriceps - -
exercise

57 Komod - - - √

58 Light box, senter, - - - √


hammer reflex

Ruang Penitipan Pasien (respite care)

59 Tempat tidur pasien - - - √

Kursi roda, walker, - √


60 tripod, quadriceps - -
exercise

61 Komod - - - √

Light box, senter,


62 hammer reflex - - - √

Ruang hospice care

63 Tempat tidur pasien - - - √

Kursi roda, walker, - √


64 tripod, quadriceps - -
exercise

65 Komod - - - √

Light box, senter,


66 hammer reflex - - - √
4. Alur Pelayanan di yang harus di buat untuk pelayanan geriatri Rumah Sakit dr. Noesmir
Pasien lanjut usia

Rawat Jalan (Poliklinik)

− Asesmen dan

Triase di setiap Polikilinik konsultasi

Departemen/UGD − Kuratif

− Intervensi psikososial

− Rehabilitasi
Asesmen geriatri
komprehensif

oleh tim terpadu poli geriatri

Masalah Geriatri:

− Kondisi medis umum

− Status fungsional Rencana Tatalaksana


Home Care/ Asuhan
− Psikiatri: Status Komprehensif oleh tim
Rumah
mental, fungsi kognitif terpadu poli geriatri

− Sosial dan lingkungan


Rumah sakit dengan pelayanan geriatri sederhana boleh melakukan perawatan inap
namun karena belum terdapat ruang rawat khusus yakni ruang rawat akut geriatri maka
dapat dirawat di ruang rawat biasa. Semua pasien lanjut usia yang datang ke poliklinik/UGD
dilakukan triase apakah tergolong ke dalam pasien geriatri. Untuk pasien lanjut usia biasa
akan diteruskan ke dokter spesialis yang sesuai dengan Diagnosa penyakitnya. Apabila
tergolong pasien geriatri penurunan status fungsional, ada sindrom geriatri, gangguan
kognitif- demensia, jatuh–osteoporosis dan inkontinensia) akan dilakukan asesmen geriatri
komprehensif.
1. Lama Perawatan
Lama rawat pasien geriatri di ruang rawat inap akut tergantung dari kemampuan TTG
serta dukungan sarana dan prasarana. Makin terampil dan lengkap, lama rawat akan
semakin singkat. Rata-rata lama rawat pasien geriatri yang masuk karena mengalami
geriatric giants dan dirawat inap dengan menerapkan pengkajian paripurna pasien
geriatri adalah 12 hari.
3. Status fungsional
Status fungsional pasien diukur sejak pasien masuk rumah sakit sampai saat
pemulangan. Diukur rata-rata kenaikan skor status fungsional pasien geriatri dengan
karakteristik seperti di atas adalah 4/20 jika menggunakan instrumen ADL Barthel.
4. Kualitas hidup

Penilaian kualitas hidup harus menggunakan instrumen yang mampu menilai kualitas
hidup terkait kesehatan (health related quality of life = HRQoL). Salah satu instrumen
yang sering digunakan adalah EQ5D (Euro-Quality of Life Five Dimension) yang
mengukur lima dimensi atau aspek yang memengaruhi kesehatan. Standar nilai EQ5D
≥ 0,71 dengan EQ5D-VAS minimal 79%.

5. Rawat inap ulang (rehospitalisasi)

Rehospitalisasi adalah perawatan kembali setelah pulang ke rumah dari rumah


sakit. Perawatan yang terjadi kembali dalam 30 hari pertama pascarawat
menggambarkan adanya permasalahan kesehatan yang sesungguhnya belum optimal
ditatalaksana di rumah sakit. Persentase maksimal rehospitalisasi pasien geriatri
pascarawat inap akut adalah 15%. Rehospitalisasi ini dapat dipengaruhi oleh kesiapan
tim terpadu geriatri serta dukungan yang ada di rumah sakit. Rehospitalisasi juga tak
terlepas dari pengaruh kemampuan puskesmas dan community based geriatric service.

6. Kepuasan pasien

Kepuasan pasien diukur saat pasien pulang dengan instrumen yang secara sahih
dapat mengukur kepuasan pasien. Salah satu instrumen yang sering digunakan adalah
Patients’s Satisfaction Questionair (PSQ) yang telah diuji kesahihan (Spearman
correlation coefficient: 0,383 – 0,607 ; p < 0,01) dan keandalannya (Cronbach’s alpha:
0,684). Instrumen ini memiliki nilai standar minimal 190.
FORM RENCANA KEGIATAN (DISCHARGE PLANNING)
I. PASIEN MANDIRI

WAKTU AKTIVITAS OBAT MAKANAN MINUMAN

05.00 - 08.00 Bangun, membasuh A Makan regal Minum susu


wajah B dengan teh
C Makan telur

08.00 - 09.00 Berkebun


Senam ringan sambil
berjemur15-30 menit

09.00 - 10.00 Snack Makanan cair


150 cc

10.00 - 10.30 Mandi

10.30 - 12.00 Berkebun


Membaca
Menonton TV

12.00 - 14.00 A Jadwal makan


B siang

14.00 - 17.00 Berkebun


Bermain dengan
cucu

16.00 - 16.30 Senam ringan 30


menit

16.30 - 17.00 Snack sore

17.00 - 17.30 Mandi

17.30 - 19.00 Duduk-duduk /


menonton TV
Menerima tamu
19.00 - 20.00 A Makan malam
B
D

21.00 Makanan cair


200cc

20.00 - 24.00 Menonton TV,


bermain dengan
cucu.
(kadang-kadang
menerima tamu)
II. PASIEN KETERGANTUNGAN BERAT

WAKTU AKTIVITAS OBAT MAKANAN MINUMAN

05.00 - Cek pembalut, kasur, -


05.30 alas tempat tidur, kulit
genitalia, adakah urin,
feses

05.30 - Senam ringan (latihan


06.30 lingkup gerak sendi
pasif) 15-30 menit

06.30 - Dimandikan,
07.30 dibersihkan, ganti
pakaian

07.30 - Memposisikan (elevasi A Sarapan Bilas 50 cc


08.30 kepala dan bahu 30 B Makanan cair air putih
derajat); Meyakinkan C 200cc
posisi NGT yang benar

08.30 - Berjemur
10.00 Menonton TV
Berbaring di ruang
keluarga (interaksi dgn
keluarga)

10.00 - Memposisikan (elevasi Snack, atau Air putih


10.30 kepala dan bahu 30 susu, atau atau susu
derajat); Meyakinkan suplemen 100 cc
posisi NGT yang benar

10.30 - Istirahat
12.30 Bermain dengan cucu

12.30 - Memposisikan (elevasi Obat A Makan siang, Air putih


13.30 kepala dan bahu 30 B blender 200 cc
derajat); Meyakinkan C
posisi NGT yang benar

13.30 - Istirahat siang


16.00

16.00 - Senam ringan (latihan


16.30 lingkup gerak sendi
pasif) 30 menit

16.30 - Dimandikan
17.00

17.00 - Memposisikan (elevasi Snack sore Bilas 50 cc


17.30 kepala dan bahu 30 air putih
derajat); Meyakinkan
posisi NGT yang benar

17.30 - Duduk-duduk /
19.00 menonton TV
Menerima tamu
WAKTU AKTIVITAS OBAT MAKANAN MINUMAN

19.00 - Memposisikan (elevasi B Makan Bilas 50 cc


20.00 kepala dan bahu 30 C malam air putih
derajat); Meyakinkan
D
posisi NGT yang benar

21.00 Memposisikan (elevasi Susu 200cc


kepala dan bahu 30
derajat); Meyakinkan
posisi NGT yang benar

20.00 -24.00 Menonton TV, bermain


dengan cucu; sampai
tidur
E. ANTIMIKROBA

Pencegahan penyebaran mikroba resisten di rumah sakit dilakukan


melalui upaya Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI). Pasien yang terinfeksi
atau membawa koloni mikroba resisten dapat menyebarkan mikroba tersebut
ke lingkungan, sehingga perlu dilakukan upaya membatasi terjadinya
transmisi mikroba tersebut, terdiri dari 4 (empat) upaya berikut ini.

1. Meningkatkan kewaspadaan standar (standard precaution),


meliputi:
a. kebersihan tangan
b. alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker, goggle (kaca
mata pelindung), face shield (pelindung wajah), dan gaun
c. dekontaminasi peralatan perawatan pasien
d. pengendalian lingkungan
e. penatalaksanaan linen
f. perlindungan petugas kesehatan
g. penempatan pasien
h. hygiene respirasi/etika batuk
i. praktek menyuntik yang aman
j. praktek yang aman untuk lumbal punksi

2. Melaksanakan kewaspadaan transmisi


Jenis kewaspadaan transmisi meliputi:
a. Melalui kontak
b. Melalui droplet
c. Melalui udara (airborne)
d. Melalui common vehicle (makanan, air, obat, alat, peralatan)
e. Melalui vektor (lalat, nyamuk, tikus) Pada kewaspadaaan
transmisi, pasien ditempatkan di ruang terpisah. Bila tidak
memungkinkan, maka dilakukan cohorting yaitu merawat beberapa
pasien dengan pola penyebab infeksi yang sama dalam satu ruangan.

3. Dekolonisasi
Dekolonisasi adalah tindakan menghilangkan koloni mikroba multiresisten
pada individu pengidap (carrier). Contoh: pemberian mupirosin topikal pada
carrier MRSA.

4. Tata laksana Kejadian Luar Biasa (KLB) mikroba multiresisten atau


Multidrug-Resistant Organisms (MDRO) seperti Methicillin Resistant
Staphylococcus Aureus (MRSA), bakteri penghasil Extended Spectrum Beta-
Lactamase (ESBL), atau mikroba multiresisten yang lain.
Apabila ditemukan mikroba multiresisten sebagai penyebab infeksi, maka
laboratorium mikrobiologi segera melaporkan kepada tim PPI dan dokter
penanggung jawab pasien, agar segera dilakukan tindakan untuk membatasi
penyebaran strain mikroba multiresisten tersebut.
Tahapan pemeriksaan mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi terdiri dari beberapa tahap yaitu pemeriksaan
secara makroskopik dan mikroskopik yang dilanjutkan dengan pembiakan,
identifikasi mikroba, dan uji kepekaan mikroba terhadap antimikroba.

1. Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis paling sedikit mencakup pengecatan Gram, Ziehl
Neelsen, dan KOH. Hasil pemeriksaan ini berguna untuk mengarahkan
diagnosis awal dan pemilihan antimikroba.

2. Pemeriksaan kultur
Pemeriksaan kultur menurut metode yang baku dilakukan untuk identifikasi
bakteri atau jamur penyebab infeksi dan kepekaannya terhadap antibiotik
atau antijamur. Laboratorium mikrobiologi hendaknya dapat melakukan
pemeriksaan untuk menumbuhkan mikroba yang sering ditemukan sebagai
penyebab infeksi (bakteri aerob non-fastidious dan jamur).

3. Uji Kepekaan Antibiotik atau Antijamur


Hasil uji kepekaan antibiotik atau antijamur digunakan sebagai dasar
pemilihan terapi antimikroba definitif. Untuk uji kepekaan ini digunakan
metode difusi cakram menurut Kirby Bauer, sedangkan untuk mengetahui
KHM (konsentrasi hambat minimal atau Minimum Inhibitory Concentration,
MIC) dilakukan cara manual atau dengan mesin otomatik.
Hasil pemeriksaan dikategorikan dalam Sensitif (S), Intermediate (I), dan
Resisten (R) sesuai dengan kriteria yang ditentukan oleh Clinical Laboratory
Standards Institute (CLSI) revisi terkini. Masing-masing antibiotik memiliki
rentang S,I,R yang berbeda, sehingga antibiotik yang memiliki zona hambatan
lebih luas belum tentu memiliki kepekaan yang lebih baik.
Laboratorium mikrobiologi hendaknya melakukan kontrol kualitas berbagai
tahap pemeriksaan di atas sesuai dengan ketentuannya.
BAB IV
PENUTUP

Dalam menjalankan kegiatannya Rumah Sakit Tk. IV dr. Noesmir Baturaja


memberikan bermacam-macam asuhan yang merupakan bagian dari suatu
sistem pelayanan yang terintegrasi dengan para profesional di bidang
pelayanan kesehatan. Dengan adanya pedoman ini diharapkan rumah sakit
dapat menerapkan model pelayanan yang akan membangun suatu pelayanan
penurunan AKI dan AKB ,Penurunan program HIV/AIDS dan Pelayanan Tb
Paru , menyelaraskan kebutuhan asuhan pasien dengan pelayanan yang
tersedia di rumah sakit, mengkoordinasikan pelayanan, kemudian
merencanakan pemulangan dan tindakan selanjutnya.

Ditetapkan di : Baturaja
pada Tanggal : 2017
Kepala Rumah Sakit Tk. IV 02.07.05
dr. Noesmir Baturaja,

dr. Ely Sakti P Sihotang, Sp.B


Mayor Ckm. NRP 11030008060777