Anda di halaman 1dari 7

Filsafat Ilmu “Aksiologi”

NAMA : 1. SUPRIANDI 6. ZULFAJRI SURGAWI


2. SYAMSUDDIN 7. SYAMSINAR.M
3. NURAENI 8. NURAENI AMIR
4. FADRIAN.R 9. JAMALUDDIN
5. ASWANDI 10. ALIM BAHRI

MATA KULIAH : FILSAFAT ILMU

DOSEN PENGAMPU : Dr. ALIN LIANA, S.Si, M.Sc

Program PascaSarjana
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan-Pembangunan Indonesia
Makassar
2018
1. PENGERTIAN AKSIOLOGI

Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang
artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai dalam
berbagai bentuk. Dalam kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan
bagi kehidupan manusia tentang nilai-nilai khususnya etika. Menurut Bramel Aksiologi terbagi
tiga bagian : Moral Conduct yaitu tindakan moral, Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu
etika. Estetic expression yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan Socio-politcal
life yaitu kehidupan social politik, yang akan melahirkan filsafat social politik. Menurut
pandangan Kattsoff aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang hakekat nilai
yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.. Dan Barneld juga aksiologi
adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang nilai-nilai, menjelaskan berdasarkan kriteria atau
prinsip tertentu yang dianggap baik di dalam tingkah laku manusia.

2. KEGUNAAN AKSIOLOGI TERHADAP TUJUAN ILMU PENGETAHUAN

Menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun.S.Suriasumatri yaitu bahwa
pengetahuan adalah kekuasaan. Ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan hidupnya dan ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk
melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya. Nilai kegunaan ilmu, untuk
mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan dapat memulainya
dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu: Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan
memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut
mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem
kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori
filsafatnya.

3. TEORI – TEORI TENTANG NILAI

Permulaaan adanya teori umum dari terjadinya perdebatan antara Alexius Meinong dengan
Christian von Ehrenfels pada tahun 1890-an berkaitan dengan sumber nilai. Alexius Meinong
berpendapat sumber nilai adalah perasaan (feeling) atau perkiraan adanya kesenangan terhadap
suatu objek. Christian von Ehrenfels berpendapat sumber nilai adalah hasrat atau keinginan
(desire). Menurut pendapat keduanya nilai adalah milik objek itu sendiri . Objektivisme atau
Realisme Aksiologi Penetapan nilai merupakan suatu yang dianggap objektif. Alexander
mengatakan nilai, norma, ideal, dan sebagainya merupakan unsur atau berada dalam objek atau
berada pada realitas objek . Penetapan suatu nilai memiliki arti benar atau salah, meskipun
penilaian itu tidak dapat diverifikasi, yaitu yang tidak dapat dijelaskan melalui suatu istilah
tertentu. Pendukung dari objektivisme aksiologi mencangkup Plato, Aristoteles , St. Thomas
Aquinas, Maritain, Rotce, Alexander . Beberapa bentuk Ekspresi Objektivisme Aksiologi:

1. Bosanquet ( idealisme )
2. Scheler (fenomenologi)
3. C.I. Lewis (Pragmatisme konseptual)
4. G. E. moore ( Intuisime)
Subjektivisme Aksiologi

Penentuan nilai mereduksi penentuan nilai ke dalam statemen yang berkaitan dengan sikap
mental terhadap suatu objek atau situasi dan penentuan sejalan dengan pernyataan benar atau salah.
Subjektivisme aksiologi cenderung mengabsahkan teori etika yang disebut hedonisme, sebuah
teori yang mengatakan kebahagian sebagai criteria nilai dan naturalisme yang meyakini bahwa
suatu nilai dapat direduksi ke dalam psikologis. Pendukung subjektivisme aksiologi adalah Hume
, Perry, Prall, Parker, Santayana, dan lainnya.

Beberapa bentuk Ekspresi Subjektivisme Aksiologi :

1. Hume ( skeptisime )
2. Sarte (eksistensialisme)
3. D. H. Parker (humanisme)
4. Perry (naturalisme)
5. Nominalisme Aksiologis atau Skeptisime (Emotivisme) Aksiologi
Emotivisme

Nilai adalah suatu nilai yang tidak dapat dijelaskan dan bersifat emotif walaupun memiliki
makna secara faktual. Asal mula emotivisme yaitu dengan adanya G. E. Moore mengajarkan
tentang kebahagian yang tidak dapat dijelaskan tetapi kebaikan secara factual dletakkan pada suatu
tindakan atau objek, dengan I.A.Richard membedakan antara makna factual dan makna emotif.
Pendukung emotivisme aksiologi adalah Nietzsche( relativisme aksiologi),Ayer( logika
positivisme), Stevenson(logika empirisme), Carnap, dan lainnya.

4. TEORI ETIKA

Perbedaan Normatif dengan Metaetik Dalam teori etika yang normative dan metaetik harus
dibedakan dan dapat dilakukan : Etika normative yaitu mengidentifikasikan satu atau lebih dari
prinsip moral secara luas yang setiap orang menggunakannya sebagai petunjuk, kode moralitas
yang bersifat ideal atau benar. Etika Metaetik yaitu menganalisis satu atau lebih cara untuk
penentuan moral yang diterapkan secara actual. Etika normatif dibedakan menjadi teleological
atau deontologikal atau varian dari kombinasi keduanya (masalah yang berkaitan dengan nilai).
Sedangkan metaetika dibagi menjadi kognitifis atau nonkognitifis.

Perbedaan Teleologis dengan Deontologis

Fakta – fakta yang harus dipertimbangkan dalam pembedaan teori etika yang bersifat
teleologis dengan deontologis yaitu: Memperhatikan tingkat penegasan dari pada dasar
pengeluaran timbal balik. Unsur – unsur dari teleologis dan deontologis dapat ditemukan dalam
teori etika tertentu. Terdapat perbedaan interprestasi yang dilakukan filosof terhadap setiap teori
etika yang lain. Interprestasi sangat luas sebagian besar etika formalisme dan etika intuisime ke
dalam deontologis dan semua etika naturalistic yaitu hedonisme, utilitarisme kedalam kelompok
teleologis. Menurut Bentham teleologis adalah kebaikan konsekuensi dan nilai moral adalah
hasilnya. Deontologis adalah memberi jawaban yang berbeda berdasarkan cabang keduanya yaitu
formal atau intuisionistik.

Teori Etika Teleologis

Teori etika berkaitan dengan hasil akhir atau kebaikan ketimbang sebagai kewajiban moral.
Teori teleologis lebih cenderung mengembangkan satu kebaikan intrinsic a priorir sebagai sebuah
moral standar seperti kebahagian. Pada saat teori teleologis bersifat naturalistik maka : Penentuan
etis dapat direduksi atau dianalisis ke dalam nonetis atau istilah deskriptif. Penentuan etis dalam
arti hasil akhir yang bersifat duniawi sebagai kebalikan dari spiritual atau kebaikan yang lain.

Beberapa contoh teori etika teleologis :


i. Plato dan Aristoteles (eudnemonisme Yunani) Baik adalah kesenangan sebagai sesuatu
yang baik atau pemenuhan tujuan seseorang.
ii. Epicurus ( hendonisme egoistic) Baik adalah kesenangan atau tidak ada yang sakit
(kesenangan dalam pikiran).
iii. Bentham dan Mill (Ultilarianisme hedonistik atau hedonisme universalistic). Baik
adalah kebahagian tertinggi dalam jumlah besar.
iv. Perry (naturalisme) Baik adalah objek dari semua kepentingan sebagai sebuah sikap
rasional.
v. Paley ( utilitarianisme ) Baik adalah apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk
kebahagian manusia.

Teori Etika Deontologis

Etika deontologis menekankan sifat pembuktian dari yang benar menjadi sesuatu yang lahir
sari penalaran, intuisi, dan rasa moral. Tindakan deontologis merupakan salah satu bentuk dari
etika kontekstual.

4. JUSTIFIKASI MORALITAS
 Etika Egoisme

Setiap orang harus melakukan kepentingan pribadinya dan mengabaikan kepentingan orang lain
kecuali jika ada kaitannya dengan kepentingan pribadi. Kepentingan sesorang seharusnya
memaksimalkan kesenangan sendiri dan secara umum. Dan penganut etika egoisme lainnya adalah
protogoras dan filosof yunani.

 Egoisme Psikologis

Egoisme psikologi adalah sebuah teori etika tidak memiliki makna , karena tidak seorang pun
dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya.

5. TEORI – TEORI ANALITIK ATAU MATAETIK

Mataetik adalah sebuah kajian tentang moral atau penilaian moral sebagai kebaikan dari etika
normative deskriptif dan analisis dari pada deskriptif dan substantive.

 Teori – teori Kognitif dan Nonkognitif


Teori kognitif yaitu menyatakan pernyataan etis itu bersifat informatif. Teori nonkognitif yaitu
menolak pernyataan etis itu bersifat informatif.

 Fallasi Naturalistik.

Fallasi naturalistic adalah nama dari sebuah usaha dalam teori metaetika yang mendefinisikan etis
(nonnatural) ke dalam istilah nonetis (natural) mendefinisikan baik sebagai kesenangan.

6. ETIKA RELATIVISME

Dalam teori etika relativisme menolak keberadaan standar moral secara luas.

 Relativisme Sosiologis.

Relativisme sosialogis menyatakan bahwa fakta merupakan keyakinan moral yaitu berbeda antara
budaya satu dengan lainnya.

 Relativisme Etik.

Menyatakan keyakinan moral adalah benar.

 Relativisme Metaetik.

Mengatakan bahwa jika ada ketidaksepakatan moral, mungkin itu benar.


DAFTAR PUSTAKA

Sumatriasumatri Jujun S.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan. 1988.

Hunnex, Milton D . Peta Filsafat. Jakarta: Teraju. 2004.

Habid, H. Mohammad. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2010 dan 2011.

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2124658-dimensi-aksiologi-dalam filsafat-
pendidikan/

https://pharmacya12.wordpress.com/2013/01/10/landasan-aksiologi-ilmu/LANDASAN
AKSIOLOGI ILMU