Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Keberadaan Berbagai Profesi

Dewasa ini makin banyak banyak bermunculan organisasi profesi dari kelompok
profesi sejenis dan setiap organisasi makin menyadari perlunya membuat kode etik untuk
menjadi pedoman perilaku bagi para anggotanya.

Tujuan khusus dari setiap organisasi profesi adalah untuk mengembangkan


kompetensi para anggota secara berkelanjutan sekaligus untuk melakukan pengendalian
perilaku para anggotanya dengan berpedoman pada kode etik yang telah disepakati
bersama. Kelompok-kelompok organisasi profesi seperti ini tidak membeda-bedakan latar
belakang status para anggota mereka, baik dari sektor swasta atau sektor publik.

Setiap organisasi profesi mempunyai pedoman kode etik untuk menjadi


standar/acuan perilaku bagi para anggotanya. Karena banyaknya organisasi profesi yang
ada, maka pada kesempatan ini hanya akan dibahas beberapa contoh kode etik dari
beberapa organisasi profesi, yaitu profesi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK-RI), Perhimpunan Auditor Internal Indonesia (PAII), Himpunan Psikologi
Indonesia, dan Advokat Indonesia.

Setelah mempelajari masing-masing kode etik profesi ini, dapat diketahui bahwa:
(1) tidak ada sistematika baku dalam penulisan kode etik; (2) terdapat banyak istilah dan
konsep yang sama, tetapi pemaknaan atas istilah-istilah atau konsep tersebut bias jadi
berbeda; dan (3) banyak konsep dan istilah yang maknanya tumpang-tindih. Mengingat
adanya perbedaan dalam sistematika, substansi, konsep, dan istilah yang dipergunakan,
maka untuk lebih memudahkan pemahaman atas masing-masing kode etik akan digunakan
model penalaran kode etik berdasarkan acuan pada unsur-unsur pokok suatu profesi
sebagaimana terlihat pada gambar berikut!
2.2 Model Penalaran Kode Etik Profesi

Kepentingan Tanggung
Umum Jawab

Kompetensi

Pengetahuan Keterampilan Sikap-Perilaku

(Knowledge) (Skill) (Attitude)

2.3 Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia(BPK-RI)

Kode Etik BPK dituangkan dalam Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2007, serta telah diumumkan dalam Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2007. Kode Etik ini berlaku untuk Anggota dan
Pemeriksa BPK.

Anggota BPK dan Pemeriksa BPK mempunyai pengertian yang berbeda menurut
pasal 1 ayat 2 dan 3 Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 2
Tahun 2007, yaitu :

a. Anggota BPK adalah pejabat Negara pada BPK yang dipilih oleh DPR dan
diresmikan berdasarkan Keputusan Presiden.
b. Pemeriksa BPK adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan pengeloaan
dan tanggung jawab keuangan Negara untuk dan atas nama BPK.

Proses penalaran atas kode etik BPK-RI ini dengan mengacu pada cirri-ciri utama
suatu profesi. Pasal 2 kode etik BPK mengatur tentang nilai-nilai dasar yang wajib dimiliki
oleh anggota dan pemeriksa BPK. Nilai-nilai dasar ini terdiri atas:

a. Mematuhi peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku.


b. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
c. Menjunjung tinggi indepedensi, integritas, dan profesionalitas.
d. Menjunnjung tinggi martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas BPK.
Tabel 2. 1 Proses Penalaran Kode Etik BPK

CIRI PROFESI KODE ETIK BPK


1. Kepentingan Publik Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan
pribadi dan golongan (Pasal 2b)
2. Tanggung Jawab Mengembangkan standar kompetensi tinggi yang
menyangkut knowledge, skill, dan attitude
3. Kompetensi Dilihat dari tiga unsure kompetensi (knowledge, skill,
attitude):
a. Pengetahuan (knowledge) Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian tertentu (Pasal 1 ayat 8)
b. Keterampilan (skill) Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
merupakan patokan pemeriksaan yang menyangkut
standar umum, standar pelaksanaan pekerjaan, dan
standar pelatoran (Pasal 1 ayat 5)
c. Sikap perilaku (attitude) Menyangkut diri (pribadi) dan hubungan dengan
lembaga/pihak lain.
 Menyangkut diri Bagi setiap anggota dan pemeriksa wajib mematuhi,
(pribadi) memiliki, dan menjunjung nilai-nilai dasar (Pasal 2):
 Taat pada peraturan (ayat 2)
 Mengutamakan kepentingan Negara (ayat b)
 Menjunjung tinggi indepedensi, integritas, dan
profesionalitas (ayat c)
 Menjujung tinggi martabat, kehormatan, citra, dan
kredibilitas BPK
 Hubungan rekan sejawat Menghormati dan memercayai serta saling membantu di
antara pemeriksa sehingga dapat bekerja sama dengan
baik dalam melaksanakan tugas (Pasal 8 ayat 1g)
 Hubungan klien  Menghindari terjadinya benturan kepentingan (Pasal
6 ayat 1b)
 Dilarang menerima pemberian dalam bentuk apa
pun baik langsung maupun tidak langsung yang
diduga atau patut diduga dapat memengaruhi
pelaksanaan tigas dan wewenangnya (Pasal 4 ayat 2
dan Pasal 7 ayat 2a)
 Dilarang membocorkan informasi yang
diperolehnya dariauditee (Pasal 6 ayat 2d)
 Hubungan Lain  Dilarang merangkap jabatan pada badan, lembaga,
atau perusahaan lain untuk anggota dan pemeriksa
(Pasal 3 ayat 2a dan Pasal 6 ayat 2a)
 Dilarang menjadi anggota partai politik bagi
anggota BPK (Pasal 3 ayat 2b)
 Pengawasan Melalui Majelis Kehormatan Kode Etik (Bab III Pasal 9-
32)
Selanjutnya, penjelasan lebih lanjut atas nilai-nilai dasar indepedensi, integritas,
dan profesionalitas diberikan pada tabel berikut.

Tabel 2. 2 Indepedensi, Integritas, dan Profesionalitas BPK

NILAI DASAR ANGGOTA BPK PEMERIKSA


Indepedensi  Memegang sumpah jabatan  Netral dan tidak berpihak
 Netral dan tidak berpihak  Menghindari benturan
 Menghindari banturan kepentingan
kepentingan  Menghindari hal-hal yang
 Menghindari hal-hal yang dapat dapat memengaruhi
memengaruhi objektivitas objektivitas
Dilarang :  Mempertimbangkan
 Merangkap jabatan informasi, pandangan, dan
 Menjadi anggota partai politik tanggapan pihak lain
 Menunjukkan sikap dan perilaku diperiksa
yang menyebabkan orang lain  Bersikap tenang dan mampu
meragukan indepedensinya mengendalikan diri
Dilarang:
 Merangkap jabatan
 Menunjukkan sikap dan
perilaku yang menyebabkan
orang lain meragukan
indepedensinya
 Tunduk pada
intimidasi/tekanan orang lain
 Membocorkan
informasi auditee
 Dipengaruhi oleh prasangka,
interpretasi atau kepentingan
tertentu baik untuk
kepentingan pribadi
pemeriksa maupun pihak lain
Integritas  Bersikap tegas  Bersikap tegas
 Jujur  Jujur
 Memegang rahasia pihak yang  Memegang rahasia pihak
diperiksa yang diperiksa

Dilarang: menerima pemberian Dilarang:


dalam bentuk apa pun, baik  Menerima pemberian dalam
langsung maupun tidak langsung bentuk apa pun, baik
langsung maupun tidak
langsung
 Menyalahgunakan wewenang
Profesionalitas  Prinsip kehati-hatian, ketelitian,  Prinsip kehati-hatian,
kecermatan ketelitian, kecermatan
 Menyimpan rahasia Negara dan  Menyimpan rahasia Negara
jabatan dan jabatan
 Tidak menyalahgunakan rahasia  Tidak menyalahgunakan
Negara untuk kepentingan pribadi rahasia Negara untuk
dan golongan/pihak lain kepentingan pribadi dan
 Menghindari perbuatan di luar golongan/pihak lain
tugas dan wewenangnya  Menghindari perbuatan di
luar tugas dan wewenangnya
 Komitmen tinggi
 Meningkatkan kemampuan
 Profesionalisme secara
berkelanjutkan
 Kerja sama saling
menghormati dan
memercayai antar rekan
sejawat
 Berkomunikasi dan
berdiskusi antar rekan
sejawat
 Menggunakan sumber daya
publik secara efisien, efektif,
dan ekonomis.