Anda di halaman 1dari 121

Heat Exchanger Shell & Tube

RULES OF
KONSEP STANDAR
THUMB

PROSEDUR SOAL
PERHITUNGAN HITUNGAN

RANGKA PRESENTASI
Perancangan Alat
KONSEP HE SHELL & TUBE
Perancangan Alat
Definisi Shell and Tube Heat Exchanger
Tujuan
 STHE merupakan jenis HE
yang sangat berguna dan
banyak digunakan dalam
proses industri.

 Hal ini dikarenakan, industri


membutuhkan jumlah
hairpin double pipe yang
cukup banyak.
Komponen Utama
1. Shell

2. Nozzles

3. Channels

4. Channel covers

5. Baffles
Perbandingan
Single Pass Multiple Passes

• Saat fluida dalam HE saling melewati • Saat fluida dalam HE saling melewati
hanya satu kali disebut singgle pass lebih dari satu kali disebut multi pass
heat exchanger. heat exchanger.
• Tidak dapat menyediakan heat • Untuk membuat fluida yang multiple
recovery passes ialah menggunakan U-tube
HE dan menambah baffle.
• Contoh 1-4,1-6,1-8,2-4. Angka
pertama menunjukan jumlah shell
dan angka kedua menunjukan
jumlah passes.
Single Pass
& Multi Pass
MULTIPASS STHE

X-X SHELL TUBE STHE


MULTIPASS STHE

4-8 SHELL TUBE STHE


Istilah-istilah dalam HE Shell&Tube
 BAFFLE

 Merupakan penyokong
agar tubes tidak bergetar
atau bergerak

 Terbagi 2 tipe:
 PLATE
 ROD
PLATE BAFFLE
J e n i s B a f f l e p a d a S T H E
ROD BAFFLE
J e n i s B a f f l e p a d a S T H E
Istilah-istilah dalam HE Shell&Tube
 BAFFLE CUT

 Sejumlah persenan dari tinggi


yang dipotong dari keseluruhan
setiap baffle untuk
mempengaruhi aliran di dalam
shell

 Salah satu parameter penting


dalam desain sebuah STHE

 Pengaruhi keefisienan
perpindahan panas di shellside

 Biasa digunakan sekitar 15%-40%


dari shell inside diameter
Effect of Baffle Cut
Baffle cut mempengaruhi aliran pada shell side
Istilah-istilah dalam HE Shell&Tube

 TUBE LAYOUT PATTERNS


 Triangular
 Rotated Triangular
 Square
 Rotated Square

 Tipe 30° memberi lebih


banyak tubes dalam shell

 Tipe 60° lebih bersih karena


pitch nya dekat
pitch
Aplikasi HE Shell&Tube
 Aplikasi sangat luas

 STHE jenis Heat Exchanger yang paling umum dipergunakan


pada proses Revinary, Oil and Gas, Petrochemical, dan
perusahaan-perusahaan energi
 Dapat bekerja pada range T dan P yang luas
 Dapat terbuat dari berbagai macam material
 Banyak supplier
 Well established – desain dan kode nya sudah berkembang
melalui pengalaman

 Pada power plants biasanya menggunkan 2-4 STHE Desain


dikarenakan lebih simple karena aliran masuk dan keluar disisi
yang sama (economizer)
Aplikasi
Shell and tube heat exchanger pada oil and gas industry
STANDAR HE SHELL & TUBE
Perancangan Alat
Shell and Tube Heat Exchanger Standards

American
Petroleum Institute TEMA
(API)
(Tubular Exchanger
ANSI/API Standard 660 (8th Ed) Manufactures Association)
tahun 2007
Design STHE
 Temperatur

Harus mempunyai
Maximum Design Design Temperature
Temperaute dan harus dipengaruhi oleh
Minimum Design Metal shell dan tube
Temperature (MDMT)

 Cladding for Corrosion Allowance

Ketebalan Minimum 10 mm (3/8 in)


Design
Tubes

 Diameter minimim luar tubes harus 19.05 mm (3/4 in),

 Radius rata-rata dari lengkungan-U, tidak boleh kurang dari 1.5


kali diameter luar.
Materials
 Tubes
 Integrally finned tubes of copper
alloy shall be furnished in the
annealed-temper condition, such
as described in ASTM B 359/B 359M.

 Gaskets – seal mekanis yang mengisi


ruang antara dua permukaan rapat Gasket
untuk mencegah kebooran
 Gaskets shall not contain asbestos.
Fabrication
Fabrication
TEMA
(Tubular Exchanger Manufactures Association)
TEMA
Designation
RULES OF THUMB HE SHELL & TUBE
Perancangan Alat
RULE OF THUMB #1
1. Kecepatan maksimum pada shellside
Untuk mengurangi pressure drop yang tinggi
Kecepatan harus dijaga tidak dapat menggunakan kecepatan aliran di bawah
terlalu cepat , hal ini ditujukan maksimum pada kondisi operasi tertentu
untuk mencegah terjadinya erosi
ketika terdapat moisture dan Kecepatan pada nozzle boleh diizinkan sampai
partikel dalam aliran. 1,2 dan 1,4 kali lipatnya
RULE OF THUMB #2
2. Kecepatan maksimum pada nozzle

Penurunan tekanan dalam


heat exchanger harus
selalu diperhatikan ,
terutama pada sistem yang
menggunakan aliran
bertekanan rendah
RULE OF THUMB #3
3. Jangan digunakan untuk menurunkan temperatur yang terlalu tinggi
Ilustrasi : pada pencairan Hidrogen dan neon

Udara (umpan dimana mengandung hidrogen dan neon), tidak


langsung didinginkan menggunakan nitrogen cair, akan tetapi
didinginkan secara bertahap dahulu, yaitu didinginkan dengan air pada
kondisi normal, lalu kemudian didinignkan menggunakan cairan nitrogen.

4. Penempatan fluida pada heat exchanger


• Fluida korosif ditempatkan pada bagian tubeside
• Fluida yang memiliki tekanan dan temperatur tinggi diletakkan dalam
tubeside
• Fluida yang memiliki kecepatan tinggi ditempatkan dalam tubeside
• Fluida yang memiliki kekotoran, ditempatkan pada bagian tubeside
• Aliran yang memiliki debit besar diletakkan pada bagian yang
berdiameter lebih besar, begitu sebaliknya
RULE OF THUMB #4

Untuk sistem yang relatif


bersih (kotoran) dan memiliki
perbedaan temperatur
antara shell dan tube yang
tidak terlalu tinggi, maka
digunakan BEM

Untuk sistem yang heat


exchanger yang akan
mengakomodasi ekspansi
thermal yang secara
signifikan antara tube dan
shell, maka digunaan BEU
PROSEDUR PERHITUNGAN HE SHELL & TUBE
Perancangan Alat
Shell and Tube Design Flowsheet
Determining R,S
Determining Temperature Difference
Determining Physical Properties
Determining Heat Transfer
Overall Coefficient
Determining Uo
Determining Tube Side Coefficient
Determining Bundle Diameter
Shell Diameter and Baffle Spacing
Colborn Coefficient (jH)
Overall Coefficient
Tube Side Friction Factor
Shell Friction Factor
Check Pressure Drop
EXAMPLE 8.1

 Perancangan Alat
 Soal .1. Sebuah alat penukar kalor pipa ganda jenis
aliran sejajar (parallel flow), dimana air panas
didinginkan dengan menggunakan air dingin dengan
laju aliran massa masingmasingnya adalah 0,2 kg/dtk
dan 0,5 kg/dtk, temperatur masuk dan keluar air panas
adalah 75 oC dan 45 oC, temperatur masuk air dingin 20
oC. Jika koefisien perpindahan panas kedua sisi adalah
650 W/m2.oC. Tentukan luas penampang alat penukar
kalor tersebut.
 Diketahui : APK pipa • Fluida dingin (air)
ganda aliran searah
(parallel flow) mc = 0,5 kg/dtk

• Fluida panas (air) Tc, in = tc, 1 = 20 oC

mh = 0,2 kg/dtk hc = 650 W/m2 . oC

Th, in = th, 1 = 75 oC

Th, out = th, 2 = 45 oC

hh = 650 W/m2 . oC
EXAMPLE 8.2 (KERN)
Perancangan Alat
Calculation of a 2-4 Oil Cooler

A 33.5˚API oil has viscosity of 1.0


centipoise at 180˚F and 2.0 centipoise at
100˚F.49,600lb/hr of oil leaving a distilling
column at 358˚F and is to be used in an
absorption process at 100˚F.Cooling will be
achieved by water from 90˚F to
120˚F.Pressure drop allowances of 10psi may
be used on both streams along with a
combined dirt factor of 0.004.
 Available for this service from a discontinued operation is
35in.ID 2-4exchanger having 454 1in.OD ,11BWG tubes
12‫׳‬0‫ ״‬long laid out on 1¼-in.squre pitch. The bundle is
arranged for six tube passes and vertical cut baffles are
spaced 7in. apart. The longitudinal baffle is welded to the
shell.

 Is it necessary to use a 2-4 exchanger?

 Will the available exchanger fulfill the requirements?


2-6 Shell and tube heat exchanger
Temperature profile:

T1(358)

t2(120)

T2(100)

t1(90)
L
Solution:-
Exchanger
shell side Tube side
ID=35in. Number=454
Baffle spacing=7in. Length=12‫׳‬0‫״‬
Passes=2 OD,BWG=1in.,11
Pitch=1¼in.squre
Passes=6
Hot fluid Cold fluid

difference
T1=358˚F t2=120˚F ∆t1=238˚F
T2=100˚F t1=90˚F ∆t2=10˚F
Temperature range:-
(T1-T2) (t2-t1)
258˚F 30˚F
LMTD:-

LMTD= ∆t1-∆t2
ln(∆t1/∆t2)
LMTD = 238-10
ln(238/10)
LMTD =72˚F
Correction factor:-

R= (T1-T2)/(t2 - t1)
R=238/30
R=8.6
S=(t2-t1)/(T1-t1)
S=30/(358-90)
S=0.112
True temperature difference:-

∆t=FT×LMTD
From table: FT=0.93
LMTD=72˚F
∆t=0.93×72
∆t=66.96˚F
Heat balance:-
Oil
Q=W ×cp×(T1-T2)
Q=49,600×0.545×(358-100)
Q=6,980,000Btu/hr
Water
Q=m×cp×(t2-t1)
Q=23,2666.67×1.0×(120-90)
Q=6,980,000.1Btu/hr
Caloric temperatures:-

∆t2/∆t1=10/238=0.042
For
API=33.5˚ and temperature
range(258˚F) Kc=0.47(from table)
For Kc=0.47 and ∆t2/∆t1=0.042
Fc=0.267
Caloric temperature of hot fluid:
Tc=T2+Fc×(T1-T2)
Tc=100+0.267×(258)
Tc=165˚F
Caloric temperature of cold fluid:
tc=t1+Fc×(t2-t1)
tc=90+0.267×(30)
tc=98˚F
Hot fluid: shell side
Flow area
as=1/2(ID×C‫×׳‬B)/144PT
as=1/2(35×0.25×7)/144×1.25
as=0.17ft2
Mass velocity
Gs=W/as
Gs=49,600/0.17
Gs=292000lb/(hr)(ft2)
Viscosity:
At Tc=165F (from table)
µ=1.12cp
µ=1.12×2.42
µ=2.71lb/(ft)(hr)
Equivalent diameter:
De=0.99 in. (from table)
De=0.99/12
De=0.0825ft
Reynolds number:
Res=DeGs/µ
Res=0.0825×292000/2.71
Res=8900
jH=52.5 (from table)
Prandtl number:-
Pr=(cµ/k)
For
API=33.5˚ and µ=2.71 (from table)
k(Pr)⅓=0.20Btu/(hr)(ft2)(˚F)
Film coefficient:
ho=jH× (k/De) × (Pr)⅓×Φs
ho/Φs= 52.5 ×0.2/0.0825
ho/Φs=127
Cold fluid: tube side
Flow area:
a‫׳‬t=0.455 in. square
at=(Nt×a‫׳‬t)/(144×n)
at=(454×0.455)/(144×6)
at=0.239ft2
Mass velocity:
Gt=m/at
Gt=232666.67/0.239
Gt=973500lb/(hr)(ft2)
Fluid velocity:
V=Gt/(3600×ρ)
V=973500/(3600×62.37)
V=4.33fps
Diameter:
D=0.76 in./12 (from table)
D=0.0633ft
Viscosity:
At tc=98˚F
µ=0.73 cp (from table)
µ=0.73×2.42
µ=1.77 lb/(hr)(ft)
Reynolds number:
Ret=D× Gt/μ
Ret=(0.0633 ×973500)/1.77
Ret=348156
Film coefficient:
For
V=4.33fps (from table)
hi=1010×0.96
hi=970 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
hio=hi×(ID/OD)
hio=970×(0.76/1.0)
hio=737 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Tube-wall temperature:
tw=tc+ ho × (Tc-tc)
(ho+hio)
tw=98+ 127 × (165-98)
(127+737)
tw=108ºF
At tw:
μw=1.95×2.42
μw=4.72 lb/(hr)(ft)
Φs=(μ/μw)¼
Φs=(2.71/4.72)¼
Φs=0.92
ho=127×0.92
ho=117 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Clean overall coefficient Uc:

Uc= (hio×ho)/ (hio+ho)

Uc=(737×117)/(737+117)

Uc=101 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Design overall coefficient UD:

UD=Q/(A× ∆t)
A(total)=454×12ft×(0.2618ft2/lin ft)
A=1425ft2
UD=6980000/(1425×66.96)
UD=73.15 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Dirt factor Rd:

Rd=(Uc-UD)/UcUD
Rd=(101-73.15)/(101×73.15)
Rd=0.00377 (hr)(ft2)(ºF)/Btu

Rd (required) 0.004
Rd(calculated) 0.00377
Pressure drop: (on shell side)

For Res=8900 (from table)


f=0.00215ft2/in.2
No of crosses, N+1=12L/B
N+1=(12 × 12)/7
N+1=20.1 ( Say,21)
Ds=35 in./12
Ds=2.92ft
S( specific gravity)=0.82 (from fig.)
∆Ps = f×Gs2×Ds×(N+1)
5.22×1010×De×s×Φs
∆Ps =0.00215×2920002×2.92×42

5.22×1010×0.0825×0.82×0.92
∆Ps =7.0psi (allowable=10psi)
Pressure drop: (on tube side)
Ret =34815.6 (from fig.)
f=0.000195ft2/in.2
∆Pt=(f×Gt2×L×n)/(5.22×1010×Ds×Φt)
∆Pt= 4 psi
Gt=973500,v2/2g=0.13 (from fig.)
∆Pr=(4×n×v2)/(2g×s)
∆Pr=3.2 psi
∆PT=∆Pt+∆Pr=7.2psi(allowable=10psi)
2-4 Shell and tube heat exchanger:-
Only replace value of n=6 to n=4
At=0.3585
Gt=649000
V=2.89fps
Ret=23210
hi=760 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
hio=577 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
tw=110ºF
ho=117 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Uc=94 Btu/(hr)(ft2)(ºF)
Rd=0.003 (hr)(ft2)(ºF)/Btu
F=0.00025
∆Pt=1.53 psi ,v2/2g =0.065
∆Pr=1.04 psi
∆PT=∆Pt+∆Pr=2.57psi
(allowable=10psi)s
So,2-6 STHE is more suitable as
compare to 2-4 STHE.
EXAMPLE 8.2 KERN
CONTOH PERHITUNGAN STHE
CALCULATION OF AN ACETONE-ACETIC ACID
EXCHANGER
Acetone (s=0.79) at 250oF is to be sent to storage at 100oF and at a rate of 60,000
lb/hr. The heat will be recieved by 168,000 lb/hr of 100 per cent acetic acid (s=1.07)
coming from storage at 90oC and heated to 150oC. Pressure drops of 10.0 psi are
available for both fluids, and a combined dirt factor of 0.004 should be provided.
Available for the service are a large number of 1-2 exchangers having 21 ¼ in. ID shells
with 270 tubes ¾ in. OD, 14 BWG, 16’0’’ long and laid out 1-in. Square pitch. The
bundles are arranged for two tube passes with segmental baffles spaced in. apart.
How many of the 1-2 exchangers should be installed in series?

Diketahui :
Table 9. Tube Sheet Table 10. Heat Exchanger and Condenser Tube
Layout Data
PEMBAHASAN
1. HEAT BALANCE  Q = WC (T1-T2)
Aceton Acetic acid
Q = 60,000 x 0.57 (250-100) = 5,130,000 Btu/hr Q = 168,000 x 0.51 (150-90) =
5,130,000 Btu/hr
2.TEMPERATURE DIFFERENCE
(
= LMTD. FT

 FT merupakan pertimbangan
pemilihan jumlah shell and tube.
Terlebih dahulu menghitung R dan S Fig. 18 (HE 1-2)  FT = tidak memotong
Fig. 19 (HE 2-4)  FT = 0.67 (masih terlalu
rendah, minimal 0.75)
Fig. 20 (HE 3-6)  FT = 0.88 (pilih tipe HE
3-6)
= LMTD. FT = 39.1 x 0.88 = 34.4 F
FIG. 18
FIG. 19

0.
67
FIG. 20 0.
88
3. CALORIC TEMPERATURE
Tc and tc. These liquids are not viscous, and the viscosity correction will be negligible, .
Average temperatures may be used.
Aceton  Ta = (250+100)/2 = 175 F , Acetic acid  ta = (150+90)/2 =
120 F

4. FLOW AREA

Keterangan :
ID = Inner Diameter
C’ = PT – OD tube
B = Baffle
5. MASS VELOCITY

6.
Aceton 100%
Ta = 175 F
x = 14.5
y = 7.2

Acetic acid 100%


ta = 120 F
x = 12.1
y = 14.2
Shell : aceton
D = de/12
[Fig. 10]

Tube : acetic acid


D = ID/12
[Fig. 10]
7. Colburn Coefficient (jH)
13
7
55
8. Ta, c, k
FIG. 2
9. ho, hi

10. hio

13. CLEAN OVERALL COEFFICIENT(Uc)


14. DESIGN OVERALL COEFFICIENT (Uc)
15. DIRT FACTOR (Rd)
15,80
0
FIG. 29

0.001
55
FIG. 26

0.000
24
FIG. 27

0.
63
THANK YOU 