Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rumah adalah sesuatu bangunan yang tidak dapat di pisahkan
dari kehidupan manusia karena rumah merupakan kebutuhan primer bagi
manusia sebagai tempat berlindung manusia dari berbagai gangguan dari
luar, salain itu pengertian rumah juga berfungsi sebagai tempat tinggal atau
hunian, tempat manusia melangsungkan kehidupannya, tempat manusia
berumah tangga dan sebagainya.
Sesuai hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow, setelah
manusia terpenuhi kebutuhan jasmaniahnya ( sandang, pangan dan
kesehatan ), maka kebutuhan akan rumah merupakan salah satu motivasi
untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik dan tinggi. Karena
rumah telah menjadi satu dengan hidupnya, maka tercipta mikro kosmos (
rumah dan suasananya ) terpadu dengan makro kosmos ( lingkungan kota,
daerah, negara, dunia, alam ), secara harmonis yang saling mempengaruhi.
Hubungan yang tidak serasi akan mengakibatkan ketidaktenangan dan
ketidakstabilan hidup. Menyadari hal tersebut, disepakati untuk
membangun rumah untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Untuk
membangun rumah yang layak, sehat untuk dihuni.
Rumah merupakan tempat berlindung dari pengaruh luar
manusia, seperti iklim, musuh, penyakit, dan sebagainya. Untuk dapat
berfungsi secara fisiologis, rumah haruslah dilengkapi dengan berbagai
fasilitas yang dibutuhkan, seperti listrik, air bersih, jendela, ventilasi,
tempat pembuangan kotoran dan lain-lain. (Koesputranto, 1988).

Menurut UU No. 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun, bahwa


rumah susun merupakan bangunan gedung bertingkat yang dibangun
dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang
distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun
vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat
dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian
yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah
bersama. Pembangunan rusun dianggap mengatasi masalah penyediaan
tempat tinggal bagi masyarakat Jakarta, dengan tipe bangunan yang
vertikal dapat mengurangi pemakaian lahan dan menampung penduduk
yang tinggal pada lahan illegal.

Seperti yang tertulis dalam undang-undang No. 36 tahun 2009


tentang kesehatan. “Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk
mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik fisik, kimia, biologi,
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.” Upaya penyehatan lingkungan
pemukiman adalah salah satu cara untuk meningkatkan derajat
kesehatan penghuni rumah susun. Sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonsesia No. 829 tahun 1999 tentang persyaratan
kesehatan perumahan bahwa “Kesehatan perumahan dimaksudkan
untuk melindungi keluarga dari dampak kualitas lingkungan
perumahan dan rumah tinggal yang tidak sehat.” Sehingga program
penyehatan lingkungan perlu dilaksanakan untuk memperbaiki kualitas
lingkungan yang lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat dari
bahaya kesehatan menuju derajat kesehatan lingkungan pemukiman.

Upaya Sanitasi lingkungan Rusun seharusnya dapat dikelola sesuai


peraturan yang telah ditetapkan, agar tidak adanya angka kesakitan penyakit
menular dan seluruh penghuni bertanggung jawab pada komponen-
komponen sanitasi lingkungan rusun. Dalam rangka pelaksanaan PKL
(Praktek Kerja Lapangan) jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik
Kesehatan Jakarta II, telah ditetapkan Marunda Jakarta Utara yang menjadi
lokasi PKL.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mampu memahami pengelolaan Sanitasi Pemukiman dan
mengidentifikasi gambaran umum sanitasi pemukiman serta melakukan
analisis faktor – faktor yang berhubungan dengan kondisi kesehatan
lingkungan di Rumah Susun Marunda Jakarta Utara.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mampu Memahami Pengeloaan Sanitasi Pemukiman [Perencanaan,
Pelaksanaan, Evaluasi ] di Rumah Susun Marunda Jakarta Utara.
2. Untuk mengetahui penyehatan lingkungan luar bangunan Rumah
Susun Marunda Jakarta Utara.
3. Untuk mengetahui penyehatan ruang bangunan di Rumah Susun
Marunda Jakarta Utara.
4. Untuk mengetahui Pengelolaan Sampah di Rumah Susun Marunda
Jakarta Utara.
5. Untuk mengetahui Pengendalian Vector dan Binatang Penganggu di
Rumah Susun Marunda Jakarta Utara.
6. Untuk mengetahui Penyediaan Air Bersih di Rumah Susun Marunda
Jakarta Utara.
7. Untuk mengetahui Pengolahan Saluran Pembuangan Air limbah di
Rumah Susun Marunda Jakarta Utara .
8. Untuk mengetahui Penyehatan Udara di Rumah Susun Marunda
Jakarta Utara.
9. Untuk mengetahui kualitas lingkungan fisik yang meliputi
Pencahayaan, Kelembaban dan Suhu di Rumah Susun Marunda
Jakarta Utara.
10. Untuk mengetahui Pengelolaan Makanan dan Minuman di Rumah
Susun Marunda Jakarta Utara.
11. Untuk mengetahui Sarana, Fasilitas dan kegiatan mengenai
kesehatan lingkungan di Rumah Susun Marunda Jakarta Utara .

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat Bagi Akademik
1. Mendapatkan pengalaman pembimbingan di lapangan dan
mengetahui berbagai kendala dalam proses pembimbingan.
2. Menajamkan kemampuan diagnotis komunitas, intervensi dan
evaluasi di lapangan.
3. Memperluas wawasan atas bidang garapan kesehatan lingkungan
dan meningkatkan keprofesian.
4. Menajamkan keterampilan dalam metodologi penelitian.
5. Mendapatkan gagasan untuk penulisan ilmiah.
6. Mampu meningkatkan kemitraan dengan instansi lain dalam urusan
pendidikan sanitasi kesehatan lingkungan.

1.3.2 Manfaat Bagi Institusi dan Masyarakat


1. Mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan masyarakat
akademika dan memperluas wawasan, khususnya tentang kesehatan
lingkungan.
2. Mengembangkan potensi penghuni permukiman dalam upaya
peningkatan mutu kesehatan lingkungan.
3. Dapat berpartisipasi aktif dalam upaya peningkatan status kesehatan
masyarakat melalui pendekatan preventif di bidang kesehatan
lingkungan.
4. Mendapat masukan gambaran kondisi sanitasi di lingkungan
permukiman serta faktor-faktor yang berhubungan dengan
kesehatan lingkungan pada unit pelaksanaan kegiatan di
permukiman.
5. Mendapat interaksi dengan tenaga akademik dari Jurusan Kesehatan
Lingkungan, Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta II, yang
dapat dilanjutkan dengan bekerjasama lainnya.
6. Mendapatkan gagasan bagi pengembangan upaya peningkatan mutu
kesehatan lingkungan secara keseluruhan.

1.3.3 Manfaat Bagi Mahasiswa


1. Memberikan pengalaman kelompok bagi peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan Manajerial dan akademiknya pada
tatanan nyata di lapangan.
2. Memberikan kesempatan peserta didik untuk berinteraksi dan
bekerjasama dengan teman sejawat, pengelola Pemukiman dan
masyarakat di permukiman.
3. Menyusun keterampilan profesional dengan menerapkan
pendekatan spesifik atas masalah kesehatan lingkungan yang
dihadapi.
4. Mendapatkan pengalaman kerja di bidang penelitian, terutama
kegiatan penelitian survai.
5. Menumbuhkan sikap positif dan percaya diri atas keprofesian
kesehatan lingkungan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Rumah dan Rumah Sehat


Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian
dan sarana pembinaan keluarga. Menurut Dinkes (2005), secara umum rumah dapat
dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria yaitu: (1) memenuhi kebutuhan
fisiologis meliputi pencahayaan, penghawaan, ruang gerak yang cukup, dan
terhindar dari kebisingan yang mengganggu; (2) memenuhi kebutuhan psikologis
meliputi privasi yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan
penghuni rumah; (3) memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar
penghuni rumah meliputi penyediaan air bersih, pengelolaan tinja, limbah rumah
tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan,
dan cukup sinar matahari pagi; (4)memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya
kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain
fisik rumah yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar dan tidak cenderung
membuat penghuninya jatuh tergelincir (Notoatmodjo, 2003).

Rumah sehat adalah proporsi rumah yang memenuhi kriteria sehat


minimum komponen rumah dan sarana sanitasi tiga komponen (rumah, sarana
sanitasi dan perilaku) di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Minimum
yang memenuhi kriteria sehat pada masing-masing parameter adalah sebagai
berikut: (1) minimum dari kelompok komponen rumah adalah langit-langit,
dinding, lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga, ventilasi, sarana
pembuangan asap dapur, dan pencahayaan; (2) minimum dari kelompok sarana
sanitasi adalah sarana air bersih, jamban (sarana pembuangan kotoran), sarana
pembuangan air limbah (SPAL), dan sarana pembuangan sampah; (3) perilaku
sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap struktur fisik yang digunakan (Dinas Kesehatan, 2005).
Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya taraf kesehatan
jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakit dan mengurangi daya
kerja atau daya produktif seseorang. Rumah tidak sehat ini dapat menjadi reservoir
penyakit bagi seluruh lingkungan, jika kondisi tidak sehat bukan hanya pada satu
rumah tetapi pada kumpulan rumah (lingkungan pemukiman). Timbulnya
permasalahan kesehatan di lingkungan pemukiman pada dasarnya disebabkan
karena tingkat kemampuan ekonomi masyarakat yang rendah, karena rumah
dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003).

2.2. Pengertian Rumah Susun


Menurut UU No.20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun, Bahwa Pengertian
Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu
lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara
fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-
satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama
untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan
tanah bersama.

2.3. Pengelolaan Rumah Sehat


Menurut (Soemirat, 2007) bahwa kesehatan lingkungan sangat berpengaruh
terhadap kesehatan masyarakat. Untuk dapat mengelola kualitas lingkungan
terhadap ataupun kesehatan masyarakat perlu dihayati hubungannya dengan
manusia, yaitu ekologi manusia. Konsekuensi dari pengelolaan sanitasi lingkungan
yang tidak baik maka akan menyebabkan terjadinya berbagai masalah kesehatan
seperti meningkatkannya angka kesakitan penyakit berbasis lingkungan seperti
diare, terjadinya masalah sosial dan masalah kenyamanan dan keindahan daerah.
Salah satu bentuk upaya pengelolaan sanitasi lingkungan adalah penerapan rumah
sehat yang mencakup sanitasi dasar seperti penyediaan air bersih, penggunaan
jamban, pembuangan limbah dan sampah.
Menurut WHO, 2001, perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan
sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep
tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor resiko dan
berorientasi pada lokasi bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan
dan pemeliharaan rumah serta lingkungan sekitarnya. Unsur yang melibatkan
apakah rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai
untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta membuang kotoran manusia
maupun limbah lainnya.

2.4. Syarat-syarat Pengelolaan Rumah Sehat


2.4.1. Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan terhadap suhu dalam rumah
yang optimal, pencahayaan yang optimal, ventilasi yang memenuhi
persyaratan dan tersedianya ruang yang optimal untuk bermain anak. Suhu
ruangan dalam rumah yang ideal yaitu berkisar antara 18-20°C, dan suhu
tersebut sangat dipengaruhi oleh udara luar, pergerakan udara, dan
kelembaban udara dalam ruangan. Pencahayaan harus cukup pada waktu
siang maupun malam hari. Pada malam hari pencahayaan yang ideal adalah
cahaya yang bersumber dari listrik atau lampu sedangkan pada waktu pagi
hari pencahayaan yang ideal adalah cahaya yang bersumber dari sinar
matahari.

2.4.2. Konstruksi Bangunan


1. Lantai
Lantai rumah harus terbuat dari bahan yang kedap air dan tidak
lembab, tinggi minimum 10 cm dari pekarangan dan 25 cm dari badan
jalan, bahan lantai kedap air (keramik atau sejenisnya).
2. Dinding
Dinding rumah harus terbuat dari bahan yang kedap air dan tidak
lembab, berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap, menahan
angin dan hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar, serta
menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya.
3. Langit-langit
Langit-langit rumah berfungsi untuk menahan dan menyerap panas
terik matahari minimum 2,4 meter dari lantai.
4. Ventilasi
a. Ventilasi alam
Ventilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan, yaitu: daya difusi
dari gas-gas, gerakan angin dan gerakan massa di udara karena
perubahan temperatur. Ventilasi alam ini mengandalkan
pergerakan udara bebas (angin), temperatur udara dan
kelembabannya. Selain melalui jendela, pintu dan lubang angin,
maka ventilasi dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai
hasil sifat porous dinding ruangan, atap, dan lantai.
b. Ventilasi buatan
Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan
menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut
diantaranya adalah kipas angin, exhauster, dan AC (air
conditioner).
Persyaratan ventilasi yang baik adalah sebagai berikut:
 Jumlah luas lubang ventilasi minimal 10% dari luas lantai
ruangan.
 Udara yang masuk harus bersih, tidak dicemari asap dari
sampah atau pabrik, knalpot kendaraan, debu, dan lain-
lain.Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan
menempatkan lubang ventilasi berhadapan antar dua
dinding.

2.4.3. Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu


1. Tidak Terdapat tanda tanda keberadaan vektor seperti tempat
perindukan, kotoran, jejak kaki tikus, dan gigitan vektor dan binatang
pengganggu.
2. Indeks jentik nyamuk (angka bebas jentik) di pemukiman tidak melebihi
5%.
2.6.4. Penyediaan Air Bersih
Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusia
sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat
badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar
80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk
minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Pada negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60
liter per hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting
adalah kebutuhan untuk minum. Untuk keperluan air minum dan masak air
harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2003). Sumber air minum utama
merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan
dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan
melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke
dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air
minum, jari-jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang
dicuci dengan air tercemar (Depkes RI, 2000).
Macam-macam sumber air minum antara lain : (1). Air permukaan adalah
air yang terdapat pada permukaan tanah. Misalnya air sungai, air rawa dan
danau; (2). Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah.
Syarat Tersedianya Air Bersih adalah :
1. Tersedia sarana air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/orang/hari.
2. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih Yaitu
Permenkes No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan Dan Persyaratan Kesehatan Air Untuk Keperluan Higiene
Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, Dan Pemandian Umum.
Tabel 2.6.4

Daftar Persyaratan Kualitas Fisik Air Bersih

2.6.5. Air Limbah


Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari
limbah rumah tangga. Pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-
zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta mencemari
lingkungan hidup. Cara pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan cara
yang sederhana yakni dengan melakukan pengenceran terlebih dahulu.
Pengenceran ini dilakukan untuk menurunkan konsentrasi dari air limbah
itu sendiri, kemudian baru dibuang. Cara lain adalah dengan membuat
kolam oksidasi. Pada umumnya cara ini adalah memanfaaatkan cahaya
langsung dari sinar matahari, ganggang, bakteri dan oksigen dalam
pembersihan secara alamiah. Cara selanjutnya adalah dengan membuat
saluran irigasi yakni dengan membuat parit terbuka untuk saluran
pembuangan air limbah. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar air limbah
meresap terlebih dahulu kedalam parit-parit terbuka yang dalam hal ini
terbuat dari galian tanah sehingga lingkungan sekitar tidak akan tercemar
(Evierni, 2010).
Kriteria teknis untuk pembuangan air limbah adalah:
1. Pembangunan prasarana air limbah komunal.
2. Penempatan instalasi pembuangan air limbah dapat ditempatkan pada
lokasi ruang terbuka hijau atau pada badan jalan, dengan
memperhatikan kekuatan dan kemanan konstruksi.
3. Penyediaan sarana air limbah sistem terpusat, meliputi air limbah dan
instalasi pembuangan air limbah.
4. Sarana dan prasarana pembangunan pembuangan air limbah harus
berorientasi pada kebutuhan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan
kemudahan dalam pengoperasian.
2.6.6. Pengelolaan Sampah
Melakukan penanganan sampah berdasarkan Undang-Undang No. 18
Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah Pasal 22 yaitu sebagai berikut:
1. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;

2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari


sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat
pengolahan sampah terpadu;

3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau


dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;

4. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan


jumlah sampah; dan/atau
5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau
residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

2.6.7. Sarana Pembuangan Tinja


Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan
lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan
terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja
antara lain penyakit diare. Syarat pembuangan kotoran yang memenuhi
aturan kesehatan adalah : (1). tidak mengotori permukaan tanah di
sekitarnya; (2). tidak mengotori air permukaan di sekitarnya; (3). tidak
mengotori air dalam tanah di sekitarnya; (4). kotoran tidak boleh terbuka
sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan
vektor penyakit lainnya; (5). tidak menimbulkan bau; (6) pembuatannya
murah; (7). mudah digunakan dan dipelihara (Notoatmodjo, 2003).
BAB III
GAMBARAN UMUM

3.1 Gambaran Umum Rumah Susun Marunda


Rumah Susun Marunda terletak di Kelurahan Marunda, Kecamatan
Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Rumah susun marunda didirikan Pada tahan 2002 Dibangun diatas tanah
seluas 48 hektar dan pertama kali diresmikan oleh Gubernur Bapak
Fauzi Bowo. Rusun Marunda terletak di kawasan Pesisir jakarta
tepatnya di Laut Marunda .Bangunan Rumah Susun Marunda terdapat
4 cluster. Yang terdiri dari :
1. Cluster A : 11 tower
2. Cluster B : 10 tower
3. Cluster C : 5 Tower
4. Cluster D : 3 Tower
Rusun Marunda ditempati oleh 2900 KK, yang terdiri dari warga
penjaringan, muara baru dan kalijodo yang di relokasikan ke rusun
marunda.
Adapun Fasilitas yang ada Di Rusun Marunda Meliputi :
1. Masjid Raya Rusun Marunda
Gambar 3.1

2. Gereja
3. Puskesmas

Gambar 3.1
4. 6 RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) :

Gambar 3.1
a. Cluster A : 2 RPTRA
b. Cluster B : 2 RPTRA
c. Cluster C : 1 RPTRA
d. Cluster D : 1 RPTRA
5. PAUD (Pendidiikan Anak Usia Dini)
a. Cluster A : 1
b. Cluster B : 2
c. Cluster C : 1
6. SMN TERPADU Rusun Marunda

Gambar 3.1
7. SDN 01 MARUNDA
8. Pasar Traditional yang akan diresmikan oleh PD.Pasar Jaya
STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA RUSUN
MARUNDA JAKARTA UTARA

Ka. UPRS Rusunawa Marunda

Kasubag Admin Kasubag Keuangan

Bendahara
Kasapras Penerimaan dan
Penertiban pengeluaran

Admin Koordinator
Staf keamanan

Kasapras Sarana dan


Prasarana

Koordinator
kebersihan dan
teknisi
BAB IV
METODE PENGUMPULAN DATA

4.1 Waktu Pelaksanaan


Waktu pelaksanaan dari kegiatan praktek kerja lapangan terpadu di Rumah
Susun Marunda, Jakarta Utara, dimulai tanggal 05 Desember – 8 Desember
2018 dan 24 Desember - 29 Desember 2018 yang mana dilaksanakan Pada
pukul 08.00 WIB – selesai. Dengan jadwal kegiatan secara umum selama
dua minggu (terlampir).
4.2 Pengumpulan Data
Dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan Terpadu di Rumah Susun
Marunda, Jakarta Utara, data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut:
4.3 Data Primer
4.3.1 Pengamatan Terhadap Sanitasi Lingkungan
Observasi atau pengamatan langsung dengan menggunakan checklist di
Rumah Susun Marunda. Adapun pengamatan yang kami lakukan meliputi:
4.3.1.1 Pengamatan Sarana dan Prasarana “Pemakaian Bersama”
Rumah Susun, terdiri atas :
1. Pengamatan terhadap lingkungan luar bangunan
2. Pengamatan terhadap pengendalian vektor dan binatang
penggangu
3. Pengamatan terhadap pengelolaan sampah
4. Pengamatan terhadap sarana pembuangan dan pengelolaan
limbah cair
5. Pengamatan terhadap tempat pengolahan makanan / kantin
6. Pengamatan terhadap sarana dan fasilitas lain
7. Pengamatan terhadap K3 pada rumah susun.
4.3.1.2 Pengamatan Sanitasi Permukiman Untuk Penghuni Rumah
Susun
1. Pengamatan terhadap ruang dan bangun
2. Pengamatan terhadap penyediaan air bersih
3. Pengamatan terhadap pengendalian vektor dan binatang
pengganggu
4. Pengamatan terhadap pengelolaan sampah
5. Pengamatan terhadap penyehatan udara
6. Pengamatan terhadap tempat pengolahan makanan / dapur

4.3.1.4 Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Penghuni dan Pengelola


Rumah Susun Marunda
Melakukan wawancara langsung menggunakan kuesioner kepada penghuni
rumah dan pengelola rumah susun yang terkait dengan tingkat pengetahuan,
sikap, dan tindakan mengenai aspek – aspek kesehatan lingkungan seperti
pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, pengendalian vektor,
penyehatan udara dalam ruang, PHBS, pengelolaan makanan dan minuman.

4.4 Data Sekunder


Pengumpulan data sekunder diperoleh berdasarkan data-data dan dokumen
yang dimiliki oleh pihak rumah susun marunda dan kepustakaan yang
menunjang hasil laporan.

4.5 Ruang Lingkup Kegiatan


Kegiatan Praktek Lapangan Terpadu Sanitasi Permukiman meliputi kegiatan
Pengelolaan Sanitasi Pemukiman yang mencakup:
a. Perencanaan

21
b. Pelaksanaan
c. Evaluasi
Kegiatan sanitasi Pemukiman yang mencakup 5 (lima) unsur utama sanitasi
dasar :
a. Air bersih dan air limbah
b. Penyehatan makanan minuman
c. Penyehatan udara
d. Pengolahan sampah
e. Pengendalian vektor dan binatang pengganggu

4.6 Alat Ukur Yang Digunakan


4.6.1 Checklist
Digunakan untuk mengetahui kondisi fisik bangunan, kesehatan lingkungan
(lokasi, sarana dan prasarana, penyediaan air bersih, pengendalian vektor,
pengelolaan sampah, sarana pembuangan air limbah, penyehatan udara
ruang, pencahayaan, tempat pengelolaan makanan) dengan cara mengamati
aspek tersebut.
Untuk penilaian data hasil checklist dalam buku Statistik dan Aplikasi Edisi
Keenam J. Supranto memberikan penilaian untuk setiap variabel
pengamatan.
Adapun rumus perhitungan checklist adalah:

𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒘𝒂𝒃𝒂𝒏 "𝒀𝒂"


x 100 %
𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒗𝒂𝒓𝒊𝒂𝒃𝒆𝒍

Range kategori :

Nilai Kriteria
< 75 % Tidak memenuhi
Syarat
≥ 75 % Memenuhi syarat

22
4.6.2 Kuesioner
Digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan mengenai aspek
– aspek kesehatan lingkungan seperti pengelolaan sampah, penyediaan air bersih,
pengendalian vektor, penyehatan udara dalam ruang, PHBS, pengelolaan makanan dan
minuman.
Data khusus meliputi pengetahuan, sikap dan tindakan. Untuk perhitungan perolehan
nilai fakta khusus dilakukan dengan cara :
Pilihan “A” dengan nilai 2
Pilihan “B” dengan nilai 1
Pilihan “C” dengan nilai 0
Pertanyaan untuk penghuni rumah susun apron dan pengelola rumah susun apron yaitu
terdiri dari 10 pertanyaan mengenai pengetahuan, 10 pertanyaan mengenai sikap dan
10 pertanyaan mengenai tindakan.
1). Untuk mendapatkan nilai karakteristik responden berdasarkan nilai tertinggi dan
terendah dari scoring, yaitu dengan cara :
Pengetahuan, Sikap dan Tindakan :

1) Nilai Tertinggi (Xn) = 2 x 10 = 20


2) Nilai Terendah (Xi) = 0 x 10 =0

2). Untuk mencari rentang nilai menggunakan rumus :


Pengetahuan, Sikap dan Tindakan :
𝑋𝑛−𝑋𝑖 20−0
= = 6,67
𝐾 3

69
Rentang Nilai Kategori

0–6 Kurang
7 – 13 Cukup
14 – 20 Baik

BAB V
HASIL IDENTIFIKASI DAN ANALISIS HASIL

5.1 Sarana dan Prasarana “Pemakaian Bersama” Rumah Susun


5.1.1 Lingkungan Luar Bangunan

Lokasi Rusun Marunda Cluster B, Blok A tidak terletak pada daerah


rawan bencana alam, seperti bantaran sungai, aliran lahar, tanah longsor,
akan tetapi terletak di daerah rawan gelombang tsunami, daerah gempa karna
berada di dekat laut marunda. pada daerah bekas TPA (Tempat Pembuangan
Akhir) atau tambang. Lingkungan secara fisik terlihat bersih, tidak terlihat

70
sampah, tetapi memungkinkan sebagai tempat bersarang serangga atau
binatang pengganggu karena terdapat genangan air di musim hujan ini dan
saluran got yang tidak tertutup menyebabkan kecoa dan tikus keluar. Lampu
penerangan jalan cukup banyak dan terawat, sehingga saat malam hari tidak
kekurangan pencahayaan. Lahan parkir bagi warga dan pengunjung Rusun
Marunda sangat tertata, Sarana taman bermain anak dan penghijauan ada
serta terawat, terdapat pula hidroponik dan lahan pertanian yang dikelola
oleh KPKP.
Dari hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap lokasi di rumah
susun marunda dengan mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang
Persyaratan Kesehatan Perumahan, rusun ini memenuhi syarat.

Gambar 5.1.1

5.1.2 Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu

Pada lingkungan rumah susun Marunda terdapat program pengendalian


vektor dan binatang pengganggu yang dilakukan secara periodik dan rutin
oleh kader Jumantik. Program PSN dilakukan seminggu sekali yaitu pada
hari minggu. Pelaksanaan program PSN juga dilakukan dengan menggalakan
3M (Menguras, Menutup, Menimbun) serta secara rutin membersihkan vas
bunga serta tempat berkembang biak nyamuk.

71
Dari hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap keberadaan vektor
dan binatang penyebab penyakit di rumah susun Marunda dengan acuan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan
telah memenuhi syarat.

5.1.3 Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah di rusun marunda sangat tertata dengan rapi dari


mulai pewadahan sampai pengangkutan. TPS terbuat dari beton dan kedap
air dan mencukupi volume sampah yang dibuang setiap hari, terdapat serta
saluran leachet sehingga air lindi tidak tercecer di sekitar TPS.
Berikut ini adalah tahapan-tahapan pengelolaan sampah di rumah susun

Marunda Jakarta Utara :


1. Pewadahan (Phase Storage)

Umumnya penghuni Rusun melakukan pewadahan dengan


menggunakan tempat sampah yang dilapisi plastik, dari hasil
pengamatan umumnya proses pewadahan tidak melebihi volume
sampah sehingga sampah tidak mudah tercecer ke lantai, namun
penghuni rusun masih mencampur antara sampah organik dan
anorganik karna praktis dan mudah.

2. Pengumpulan (Phase Collection)

kegiatan pengumpulan sampah yang dilakukan oleh penghuni


dengan cara mendatangi titik pengumpulan sampah yang berada
di luar gedung. Tempat pengumpulan dan penampungan sampah
berupa gerobak.

72
Gambar 5.1.3
3. Pengangkutan (Phase Transport)

Pengangkutan sampah dimulai dengan mengangkut


sampah dari gerobak pengumpulan menuju TPS. Dalam proses
pengangkutan dilakukan oleh petugas kebersihan setiap hari dari
titik pengumpulan. Pengangkutan sampah menggunakan
gerobak sampah, yang berkapasitas cukup, kuat, kedap air
namun gerobak dalam keadaan terbuka. Pengangkutan sampah
menuju TPS ini dilakukan setiap hari pada pagi hari. Lama
tinggal sampah di TPS 1 – 2 hari. Untuk penggangkutan sampah
dari TPS menuju TPA dilakukan seminggu 1 kali pada pagi hari.
Pengangkutan sampah dari TPS menuju TPA pada hari minggu
libur.

Gambar 5.1.3

73
Dari hasil identifikasi yang telah dilakukan terhadap pengelolaan sampah di
rumah susun Marunda dengan acuan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah adalah Memenuhi
Syarat.

5.1.4 Sarana Pembuangan dan Pengelolaan Limbah Cair

5.1.5 Tempat Pengolahan Makanan / Kantin

Rusun Marunda terdapat sedikit sekali sentra jajanan untuk penghuni


karna menurut warga sekitar minimnya jual-beli di kawasan rusun marunda
menbuat warga rusun enggan membuka sentra jajanan di sekitar rusun. Jika ada
penjual makanan menggunakan gerobak itu rata-rata bukan berasal dari warga
rusun marunda.

5.1.6 Instalasi

Instalasi listrik aman atau tidak rawan kecelakaan, tersedia masing-


masing instalasi perpipaan pada air bersih, air limbah, air hujan, dan gas alam
serta pipa aliran hydrant. Pada masing-masing tower tersedia masing-masing
instalasi listrik dan setiap tower juga mempunyai aliran air limbah dan air hujan
yang mengalir kedalam got dan langsung dibuang ke laut. Untuk air bersih
sendiri warga rusun menggunakan air bersih dari PAM JAYA.

74
Gambar 5.1.6

5.1.7 Sarana dan Fasilitas Lain

Sarana dan fasilitas yang tersedia adalah:


1. Rumah susun marunda mempunyai RPTRA (Ruang Publik Terpadu
Ramah Anak) yang berada di masing-masing Cluster. Cluster A : 2
RPTRA, Cluster B : 2 RPTRA, Cluster C : 1 RPTRA, Cluster D : 1
RPTRA.

Gambar 5.1.7

2. Lapangan Olahraga di Rumah susun marunda mengikuti jumlah


RPTRA di rusun marunda.

75
Gambar 5.1.7

3. Area Parkir di rumah susun marunda mengikuti jumlah tower,


dibawah masing-masing tower terdapat area parkir yang cukup
memadai, parkiran ini hanya diperuntukkan untuk kendaraan roda
dua.

Gambar 5.1.7

4. Tempat Ibadah di rusun marunda juga mengikuti jumlah tower,


khususnya mushola. Terdapat masjid raya dan gereja yang
diperuntukkan untuk penghuni rusun agar memudahkan penghuni
rusun melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-
masing.

76
Gambar 5.1.7

5.1.8 K3 Rusun

Berdasarkan hasil checklist kegiatan Kesehatan dan Keselamatan


kerja di rumah susun Marunda meliputi instalasi hydrant dan penampungan
khusus air hydrant, dan tersedia alarm penanda kebakaran disekitar area
pemukiman, Terdapat jalur khusus dan tempat evakuasi kebakaran. Terdapat
alat yang berguna untuk memadamkan api, dan kotak P3K hanya tersedia
pada masing – masing pribadi penghuni.

Gambar 5.1.8

5.2 Sarana dan Prasarana Penghuni Rumah Susun

77
Rumah susun marunda cluster B Blok A terdiri dari 840 unit hunian
yang tersedia, diambil sampel sebanyak 20 unit hunian secara terpisah dari
blok 1 – blok 9.

5.2.1 Ruang dan Bangunan

Tabel 5.2.1
Hasil Identifikasi Terhadap Variabel Ruang dan Bangunan Rusun
Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018

Ruang dan Bangunan Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 20 100%

Tidak Memenuhi
0 0%
Persyaratan

Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable ruang dan bangunan seluruhnya


masih memenuhi syarat Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan.

5.2.2 Penyediaan Air Bersih


Tabel 5.2.2
Hasil Identifikasi Terhadap Penyediaan Air Bersih
Di Rusun Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018

Penyediaan air bersih Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 20 100%

Tidak Memenuhi
0 0%
Persyaratan

78
Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable penyediaan air bersih seluruhnya


masih memenuhi syarat Menurut Permenkes RI No 32 Tahun 2017 Tentang
Standar Baku Mutu Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk
Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian
Umum.

5.2.3 Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu

Tabel 5.2.3
Hasil Identifikasi Terhadap Pengendalian Vektor dan Binatang
Pengganggu Rusun Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018

Pengendalian Vektor
dan Binatang Pengganggu Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 20 100%

Tidak Memenuhi
0 0%
Persyaratan

Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable pengendalian vector dan binatang


pengganggu seluruhnya masih memenuhi syarat Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999
Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.

79
5.2.4 Pengelolaan Sampah

Tabel 5.2.4
Hasil Identifikasi Terhadap Pengelolaan Sampah
Di Rusun Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018

Pengelolaan Sampah Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 18 90%

Tidak Memenuhi
2 10%
Persyaratan

Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable pengelolaan sampah sebesar 90%


yang memenuhi syarat dan 10% belum memenuhi syarat Menurut Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sampah..

5.2.5 Penyehatan Udara

Tabel 5.2.5
Hasil Identifikasi Terhadap Penyehatan Udara
Di Rusun Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018

Penyehatan udara Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 20 100%

80
Tidak Memenuhi
0 0%
Persyaratan

Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable penyehatan udara seluruhnya masih


memenuhi syarat menurut standar Keputusan Menteri Kesehatan Republik
IndonesiaNomor 829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan.

5.2.6 Tempat Pengolahan Makanan / Dapur


Tabel 5.2.6
Hasil Identifikasi Terhadap Tempat Pengolahan Makanan / Dapur
Di Rusun Marunda, Jakarta Utara
Desember 2018
TPM / Dapur Jumlah Persentase

Memenuhi Persyaratan 20 100%

Tidak Memenuhi
0 0%
Persyaratan

Total 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Hasil checklist menunjukan bahwa variable TPM / dapur seluruhnya masih


memenuhi syarat Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan.
Tabel 5.8
Hasil Tingkat Pengetahuan Penghuni Rusun Marunda, Jakarta Utara.
Desember 2018

No. Kategori Jumlah Persentase

1. Baik 18 90%

81
2. Cukup 2 10%

3. Kurang 0 0%

Jumlah 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Dari hasil tabel didapatkan sebanyak 18 orang responden memiliki


pengetahuan yang baik dan 2 orang responden memiliki pengetahuan yang
cukup.

Tabel 5.9
Hasil Tingkat Sikap Penghuni Rusun Marunda, Jakarta Utara.
Desember 2018

No. Kategori Jumlah Persentase

1. Baik 20 100%

2. Cukup 0 0%

3. Kurang 0 0%

Jumlah 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Dari hasil tabel didapatkan sebanyak 20 orang responden memiliki sikap


yang baik.

Tabel 5.10
Hasil Tingkat Tindakan Penghuni Rusun Marunda, Jakarta
Utara. Desember 2018

No. Kategori Jumlah Persentase

1. Baik 18 90%

2. Cukup 2 10%

82
3. Kurang 0 0%

Jumlah 20 100%

Sumber: Data Primer Terolah 2018

Dari hasil tabel didapatkan sebanyak 18 orang responden memiliki tindakan


yang baik dan 2 orang responden memiliki pengetahuan yang cukup.

83
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan identifikasi terhadap sanitasi pemukiman di Rumah Susun
Marunda, Jakarta Utara dapat disimpulkan secara singkat sebagai berikut :
6.1.1 Lingkungan Luar Bangunan
Komponen diluar bangunan sudah memenuhi syarat. Sedikit jalan yang
berlubang serta banyaknya pohon yang ditanam disekitar rusun serta tidak
adanya sampah berserakan di sekitar rusun.
6.1.2 Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu
Program pengendalian vector dan binatang pengganggu di rusun Marunda
sudah berjalan dengan baik seperti kegiatan Jumantik dan Fogging, perangkap
tikus, dan tidak diperbolehkannya warga rusun memelihara hewan peliharaan.
6.1.3 Pengelolaan Sampah
Sistem pengelolaan sampah di rusun Marunda sudah cukup baik mulai dari
pewadahan sampai pengangkutan. Meskipun masih banyak penghuni rusun
yang tidak memilah sampah organik-non orgaik di hunian masing-masing.
6.1.4 Penyediaan Air Bersih
Air bersih untuk keperluan sehari- hari berasal dari PAM
6.1.5 Sarana Pembuangan dan Pengolahan Limbah Cair
Limbah cair domestik diolah secara komunal pada masing-masing tower.
6.1.6 Tempat Pengolahan Makanan atau Kantin
Tidak terdapat Sentra jajanan didalam Rusun Marunda Cluster B Blok A,
namun diluar rusun banyak yang menjajakan jajanan namun bukan berasal dari
warga rusun.
6.1.7 Instalasi
Instalasi di rusun Marunda masih sesuai persyaratan dan terawat dengan baik.
6.1.8 Sarana dan Fasilitas Lain
Sarana dan fasilitas seperti lapangan, RPTRA, Tempat Ibadah, Sekolah cukup
Lengkap dan Terawat dengan baik.

84
6.1.9 K3 Pada Rumah Susun
Beberapa komponen seperti hydrant dan apar tersedia di Rumah susun
marunda dan terawat dengan baik.
6.1.10 Ruang dan Bangunan
Ruang dan bangunan di rusun marunda sudah sesuai standar yang berlaku,
karena rusun marunda merupakan rusun percontohan di DKI Jakarta.
6.1.11 Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu
PSN sudah terlaksana di rumah susun Marunda dengan baik dengan baik salah
satunya dengan menerapkan 3M.
6.1.12 Penyehatan Udara
Pertukaran udara di kamar menggunakan ventilasi alami dan ventilasi buatan.
Ventilasi alami dengan jendela dan ventilasi buatan dengan AC (Air
Conditioner). Setiap pagi dan siang hari, warga rutin membuka jendela dan
pintu kamar agar udara dari dalam kamar bertukar dengan udara luar dan tidak
pengap.
6.1.13 Tempat Pengolahan Makanan / Dapur
Dapur didalam kamar dilengkapi dengan jendela agar udara panas ketika
memasak bisa keluar. Beberapa warga ada yang memiliki lemari makanan
untuk menyimpan peralatan masak dan menyimpan makanan matang, tetapi ada
yang tidak mempunyai lemari makan. Di setiap dapur sudah terdapat tempat
sampah.

6.2 Saran
1. Menutup saluran drainase dengan menggunakan penutup yang kuat agar
vektor dan binatang pengganggu tidak mudah masuk.
2. Sosialisasi kepada penghuni rusun mengenai pentingnya pengelolaan
sampah yang baik dan benar
3. Alangkah lebih baik digunakan kembali IPALnya agar limbah tidak
langsung dibuang ke lingkungan.
4. Membuat grease trap yaitu saluran khusus pengolahan minyak hasil
kegiatan penghuni.

85