Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS KUALITAS BADAN AIR SUNGAI BRANTAS DI DESA

NGUNUT TULUNGAGUNG BERDASARKAN FAKTOR ABIOTIK DAN


MAKROOZOOBENTOSNYA

MAKALAH PROYEK
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Pencemaran Lingkungan
yang dibina oleh Dr. Sueb, M. Kes

oleh:
Nicholas Gerry Andreanto (160342606297)
nicholasgerry222@gmail.com

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI BIOLOGI
September 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sungai Brantas adalah sebuah sungai di Jawa Timur yang
merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo
(Wikipedia, 2018). Sungai Brantas mengalir dari Malang, Blitar,
Tulungagung, Kediri, Jombang dan Mojokerto dan bermuara di Selat
Madura (Priana, et al 2016). Air adalah komponen lingkungan yang
penting bagi kehidupan. Makhluk hidup di muka bumi ini tidak dapat
terlepas dari kebutuhan akan air. Sebab pada hakikatnya semua sel yang
hidup terdapat komponen air di dalamnya. Air dapat menyebabkan bahaya
jika tidak tersedia dalam kondisi yang baik. Air yang bersih sangat
dibutuhkan oleh manusia maupun makhluk hidup lain, baik untuk
keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan
sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Di
zaman sekarang, air menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius.
Untuk mendapatkan air yang baik sesuai dengan standar terntentu sudah
cukup sulit untuk di dapatkan. Hal ini dikarenakan air sudah banyak
tercemar oleh bermacam-macam limbah dari berbagai hasil kegiatan
manusia. Sehingga menyebabkan kualitas air menurun.
Pada ekosistem perairan dapat ditemukan kelompok organisme,
salah satunya adalah bentos. Bentos adalah organisme yang hidup di dasar
perairan, dari laut hingga sungai dan perairan lainnya. Binatang yang
disebut bentos ini dapat berada di dasar perairan baik yang sesil,
menyerap, atau yang menggali lubang.(Afrizal, 1992). Keberadaan hewan
bentos di dasar perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik
biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang mempengaruhinya adalah
produsen, yang merupakan sumber makanan bagi bentos, Adapun faktor
abiotik adalah fisik-kimia air yang diantaranya suhu, arus, oksigen terlarut
(DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD), dan kimia (COD) serta
kandungan nitrogen (N), kedalaman air dan substrat dasar (Ternala, 2007).
Selain faktor tersebut, faktor abiotic lain yang mempengaruhi kehidupan
bentos adalah pH, suhu dan kekeruhan air. Oleh karena hal tersebut,
penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas badan
air sungai Brantas yang berada di daerah Ngunut, Tulungagung.

1.2 Rumusan Masalah


a) Bagaimana faktor abiotic (DO, pH, Suhu, Kekeruhan) di badan air
sungai Brantas di daerah Ngunut Tulungagung?
b) Bagaimana keadaan makrozoobentos di badan air sungai Brantas di
daerah Ngunut Tulungagung?
c) Bagaimanakah keadaan air secara keseluruhan badan air sungai
Brantas di daerah Ngunut Tulungagung?
d) Apakah terdapat perbedaan kualitas badan air Brantas yang berada di
desa dan kota?

1.3 Tujuan
a) Untuk mengetahui faktor abiotic yang meliputi DO, pH, suhu, dan
kekeruhan badan air sungai Brantas yang berada di daerah Ngunut
Tulungagung.
b) Untuk mengetahui faktor biotik, yaitu berupa makrozoobentos badan
air sungai Brantas yang berada di daerah Ngunut Tulungagung.
c) Untuk menyimpulkan secara keseluruhan kualitas badan air sungai
Brantas yang berada di daerah Ngunut Tulungagung.
d) Untuk mengetahui perbedaan badan air sungai Brantas yang berada di
pedesaan dan perkotaan.

1.4 Manfaat
Bagi pembaca dapat bermanfaat sebagai bahan rujukan atau bacaan
yang bermanfaat yang memberi wawasan tentang kualitas badan air sungai
Brantas yang berada di daerah Ngunut Tulungagung, sehingga dapat
membedakannya dengan kualitas badan air sungai Brantas yang berada di
perkotaan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Badan Air dan Pencemaran Air

2.2 Faktor Abiotik Air


2.2.1 Dissolved Oxygen (DO)

2.2.2 pH

2.2.3 Suhu

2.2.4 Kekeruhan
Kecerahan, kekeruhan, dan padatan tersuspensi adalah
karakteristik
kualitas air yang sangat berkaitan satu sama lain. Nilai
pembacaan secchi disc
akan rendah apabila perairan keruh atau kandungan TSS-nya
tinggi, sebaliknya
akan tinggi bila kekeruhan atau kandungan TSS-nya rendah.
Kecerahan penting karena erat kaitannya dengan proses
fotosintesis yang
terjadi di perairan secara alami. Kecerahan menunjukan
sampai sejauh mana
cahaya dengan intensitas tertentu dapat menembus kedalaman
perairan. Dari total
sinar matahari yang jatuh ke atmosfer dan bumi, hanya
kurang dari 1% yang
ditangkap oleh klorofil (di darat dan air), yang dipakai untuk
fotosintesis (Basmi,
1995).
Kekeruhan seringkali berperan penting sebagai faktor
pembatas di suatu
perairan (Odum, 1971). Adanya kekeruhan dan padatan
tersuspensi dapat menghalangi penetrasi cahaya kedalam
badan air sehingga proses fotosintesis akan terganggu (Odum,
1971). Secara vertikal, distribusi fitoplankton terbesar berada
pada beberapa meter dibawah permukaan air dimana banyak
intensitas cahaya matahari optimal untuk pertumbuhan
fitoplankton. Beberapa fitoplankton akan mati atau terhambat
pertumbuhannya jika penyinarannya kurang atau berlebihan.
Widigdo (2001) menyebutkan bahwa dalam satu seri
pengamatan, perubahan atau naik turunnya nilai TSS tidaklah
selalu diikuti oleh naik turunnya nilai kekeruhan secara linear.
Hal ini dapat dijelaskan karena bahan-bahan yang
menyebabkan kekeruhan perairan dapat terdiri atas berbagai
bahan yang sifat dan beratnya berbeda sehingga tidak terlalu
tergambarkan dalam bobot residu TSS yang sebanding. Hal ini
juga berhubungan dengan prinsip pengukuran yang berbeda
antara kekeruhan dengan TSS. Kekeruhan didasarkan atas
seberapa besar cahaya yang tersisa setelah diserap oleh bahan-
bahan yang terkandung dalam air (baik yang tersuspensi
maupun yang terlarut), sedangkan TSS didasarkan atas bobot
residu (setelah air diuapkan) dari bahan-bahan yang
terkandung dalam air sebagai suspensi. Walaupun demikian,
pada dasarnya masing masing parameter ini dapat saling
mewakili satu sama lainnya.

2.3 Makrozoobentos
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan
menggunakan metode penelitian deskriptif.

3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian di sekitar Tambangan Pasar Sapi, Desa Ngunut,
Kabupaten Tulungagung. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 2
bulan, yaitu dari bulan Oktober 2018 hingga November 2018.

Gambar Lokasi Penelitian. Sumber: Google Maps

3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling


Populasi penelitian ini adalah badan air sungai Brantas yang hanya
berada di daerah Ngunut, sedangkan sampel adalah dari kelima titik yang
diambil dari daerah yang berbeda di sungai. Sedangkan teknik sampling
adalah menggunakan titik.

3.4 Instrumen Penelitian


Teknik pengumpulan data menggunakan instrument berupa
beberapa alat yang dapat mengukur parameter abiotic seperti DO meter,
pH meter, thermometer, dan turbidity meter. Sedangkan pengambilan
faktor biotik berupa makrozoobentos menggunakan jaring dan wadah
plastik untuk membawa sampel yang kemudian akan dianalisis dan
ditentukan skor masing-masing makrozoobentos yang telah ditemukan.

3.5 Prosedur Pengumpulan Data


Data abiotic diambil dari lima titik yang berbeda di sungai dengan
enam pengulangan. Sedangkan data biotik diambil dari lima titik yang
berbeda tanpa pengulangan.

3.6 Analisis Data


Analisis data abiotik adalah dengan cara merata-rata keenam
ulangan dari tiap titik kemudian merata-rata semua titik. Sedangkan untuk
faktor biotik, analisis adalah dengan cara menentukan makrozoobentos
yang telah ditemukan kemudian ditentukan skor dari masing-masing
makrozoobentos.

3.7 Tabel Jabaran Variabel


No Variabel Definisi Sub- Indikat Skala Alat atau
. Operasional variabe or Variab instrumen
l el pengambil
(Dimen an data
si)
1. DO Oksigen Dalam mg/L DO meter
terlarut, mg/L
diukur yang
dengan tertera
menggunak pada
an alat. alat
2. pH Tingkat Terter pH pH meter
keasaman a pada
dari air alat
berdasarka pH
n ion H+ meter
terlarut.
o
3. Suhu Besaran Celciu C Termome
fisika yang s (oC) ter
menyataka
n derajat
panas suatu
zat.
4. Kekeruhan Adalah NTU NTU Turbidity
ukuran yang
yang tertera
menggunak pada
an efek alat
cahaya
sebagai
dasar untuk
mengukur
keadaan air
baku
dengan
skala NTU
(nephelo
metrix
turbidity
unit).
5. Makrozooben Adalah Skor Skor Jaring
tos hewan dalam indek
invertebrat angka s
a yang
dalam
hidup di
angka
dasar
perairan.
DAFTAR RUJUKAN

Sungai Brantas. (2018, Juli 10). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses


pada 15:22, Juli 10, 2018,
dari https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sungai_Brantas&oldid=140277
86
Afrizal. 1992. Ekosistem Perairan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ternala. 2007. Keanekaragaman Hayati Ekosistem. Medan: Universitas
Sumatera Utara.