Anda di halaman 1dari 26

Pertemuan 1

MEKANIKATANAH 1
(TSI 341 / 3P )

Oleh :

RINA YULIET, MT

Rina Yuliet, MT 1
Kompetensi Umum

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini,


mahasiwa akan dapat menyebutkan,
menjelaskan, menunjukan perilaku tanah
dari segi keteknikan dan parameter-
parameternya.

Rina Yuliet, MT 2
SYLABUS
 Tanah dan Batuan
 Index Properties Tanah
 Klasifikasi Tanah
 Pemadatan Tanah dan CBR
 Permeabilitas dan Rembesan
 Jaringan Aliran (Flownet)
 Dasar-dasar Konsolidasi dan Uji
Konsolidasi di Laboratorium
 Penurunan Tanah (Settlement)

Rina Yuliet, MT 3
REFERENSI
 Das, B, M, Advanced Soil Mechanics, McGraw-Hill
International Edition, 1983.
 Das, B, M, Principles of Foundation Engineering, Second
Edition, PWS-KENT Publishing Company, Boston, 1990.
 Das, B, M, Mekanika Tanah Jilid 1 dan 2, Erlangga, Jakarta,
1995.
 Holtz, Robert D and Kovacs, William D, An Introduction to
Geotechnical Engineering, Practice-Hall, Inc, 1981.
 Pusat Pelatihan MBT, Pelatihan Soil Testing, Bandung.
 Bigman Hutapea-Prodi Teknik Sipil,FTSL-ITB, “Meteri Worksop
Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI)”.

Rina Yuliet, MT 4
KRITERIA PENILAIAN

Rina Yuliet, MT 5
TANAH DAN BATUAN

Kompetensi Khusus :
 Mahasiswa dapat menyebutkan, menjelaskan
Tanah dan Batuan
 Mahasiswa dapat menunjukan ukuran partikel
Tanah dan batuan

Rina Yuliet, MT 6
Ilmu Mekanika Tanah
Adalah cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari sifat fisik tanah dan perilaku
tanah bila menerima bermacam-macam
gaya. (Sifat Mekanis)

Rina Yuliet, MT 7
Geologi, Geologi Teknik, Geoteknik

 Geologi = ilmu yg mempelajari seluk beluk kerak bumi (earth


crust); mulai dari asal-usul, jenis, komposisi, dan
penyebaran materialnya, hingga struktur dan proses perubahan
yang terjadi.
 Geologi teknik atau Engineering Geology = ilmu geologi terapan
dalam bidang teknik sipil yang mempelajari hubungan dan
pengaruh geologi terhadap pekerjaan konstruksi (engineering
practice).
 Geoteknik atau Geotechnic = cabang dari ilmu teknik sipil yang
menerapkan geologi dalam tahap perencanaan, pelaksanaan
maupun Operational Procedure (OP) pada pekerjaan konstruksi.

Rina Yuliet, MT 8
Rekayasa Geoteknis
(Geotechnical Engineering)

 Adalah ilmu pengetahuan dan pelaksanaan dari


bagian teknik sipil yang menyangkut material-
material alam yang terdapat pada dan dekat
dengan permukaan bumi.
 Rekayasa geoteknik juga mengikutsertakan
aplikasi dari prinsip-prinsip dasar mekanika
tanah dan mekanika batuan dalam masalah
perancangan fondasi.
Rina Yuliet, MT 9
TANAH DAN BATUAN
BATUAN : bagian dari kerak bumi yang mengandung
satu macam atau lebih mineral yang terikat sangat
kuat (tersementasi)

TANAH : hasil pelapukan batuan berupa kumpulan


butiran-butiran partikel dengan ikatan antar butir
yang lemah (Tidak tersementasi)

FUNGSI TANAH :
 Sebagai pendukung pondasi bangunan
 Sebagai bahan bangunan
Rina Yuliet, MT 10
Faktor-faktor yang mempengaruhi
sifat fisik tanah

Butiran-butiran mineral yang membentuk


bagian padat dari tanah merupakan hasil
pelapukan dari batuan.
 Faktor-faktor ukuran
 Bentuk
 Komposisi kimia dari butiran

Rina Yuliet, MT 11
Asal Usul Batuan

Asal-usul batuan dapat dibagi menjadi tiga tipe dasar :


 Batuan Beku (Igneous Rocks)
 Batuan Sedimen (Sedimentary Rock)
 Batuan Metamorf (Metamorphic Rock)

Rina Yuliet, MT 12
Rina Yuliet, MT 13
Rina Yuliet, MT 14
Rina Yuliet, MT 15
Batuan Beku (Igneous Rock)
 Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api")
adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin
dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di
bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di
atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini
dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang
sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses
pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut:
kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan
komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil
dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan
kerak bumi.

Rina Yuliet, MT 16
 Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F
Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan
silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur
tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak)
serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma
tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air,
CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang
merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas)
yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam
batuan beku.

Rina Yuliet, MT 17
 Pada saat magma mengalami
penurunan suhu akibat
perjalanan ke permukaan
bumi, maka mineral-mineral
akan terbentuk. Peristiwa
tersebut dikenal dengan
peristiwa penghabluran.
Berdasarkan penghabluran
mineral-mineral silikat
(magma), oleh NL. Bowen
disusun suatu seri yang
dikenal dengan Bowen’s
Reaction Series.
Rina Yuliet, MT 18
Batuan Endapan (Sedimentary Rock)
Batuan endapan atau batuan
sedimen adalah yang terbentuk
melalui tiga cara utama: pelapukan
batuan lain (clastic); pengendapan
(deposition) karena aktivitas
biogenik; dan pengendapan
(precipitation) dari larutan. Jenis
batuan umum seperti batu kapur,
batu pasir, dan lempung, termasuk
dalam batuan endapan. Batuan
endapan meliputi 75% dari
permukaan bumi.

Rina Yuliet, MT 19
 Batuan sedimen (batuan endapan) adalah batuan
yang terjadi akibat pengendapan materi hasil erosi.
Sekitar 80% permukaan benua tertutup oleh batuan
sedimen. Materi hasil erosi terdiri atas berbagai jenis
partikel yaitu ada yang halus, kasar, berat dan ada
juga yang ringan. Cara pengangkutannya pun
bermacam-macam seperti terdorong (traction),
terbawa secara melompat-lompat (saltion), terbawa
dalam bentuk suspensi, dan ada pula yang larut
(salution).

Rina Yuliet, MT 20
Klasifikasi batuan sedimen
 Berdasarkan proses pengendapannya
 batuan sedimen klastik (dari pecahan pecahan batuan sebelumnya)
 batuan sedimen kimiawi (dari proses kimia)
 batuan sedimen organik (pengedapan dari bahan organik)
 Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut
 batuan sedimen aerik (udara)
 batuan sedimen aquatik (air sungai)
 batuan sedimen marin (laut)
 batuan sedimen glastik (gletser)
 Berdasarkan tempat endapannya
 batuan sedimen limnik (rawa)
 batuan sedimen fluvial (sungai)
 batuan sedimen marine (laut)
 batuan sedimen teistrik (darat)
Rina Yuliet, MT 21
Penamaan batuan sedimen berdasarkan
besar butiran penyusun batuan
 Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari
2 mm dengan bentuk butitan yang bersudut
 Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih
besar dari 2 mm dengan bentuk butiran yang membudar
 Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2
mm sampai 1/16 mm
 Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara
1/16 mm sampai 1/256 mm
 Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih
kecil dari 1/256 mm

Rina Yuliet, MT 22
 Batuan metamorf (atau batuan Batuan
malihan) adalah salah satu kelompok
utama batuan yang merupakan hasil Metamorf
transformasi atau ubahan dari suatu
tipe batuan yang telah ada
sebelumnya, protolith, oleh suatu
proses yang disebut metamorfisme,
yang berarti "perubahan bentuk".
Protolith yang dikenai panas (lebih
besar dari 150 °Celsius) dan tekanan
ekstrem akan mengalami perubahan
fisika dan/atau kimia yang besar.
Protolith dapat berupa batuan
sedimen, batuan beku, atau batuan
metamorf lain yang lebih tua.
Beberapa contoh batuan metamorf
adalah gneis, batu sabak, batu
marmer, dan skist.
Rina Yuliet, MT 23
 Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan
digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan
mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh dibawah
permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya
serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi
batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk
terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu
tinggi.
 Penelitian batuan metamorf (saat ini tersingkap di permukaan bumi
akibat erosi dan pengangkatan) memberikan kita informasi yang
sangat berharga mengenai suhu dan tekanan yang terjadi jauh di
dalam permukaan bumi.

Rina Yuliet, MT 24
Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi
a. Batuan Metamorf Kontak
Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya suhu yang
sangat tinggi (sebagai akibat dari aktivitas magma). Adanya suhu yang
sangat tinggi menyebabkan terjadinya perubahan bentuk maupun warna
batuan. Contohnya batu kapur (gamping) menjadi marmer.
b. Batuan Metamorf Dinamo
Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya tekanan
yang tinggi (berasal dari tenaga endogen) dalam waktu yang lama.
Contohnya batu lumpur (mud stone) menjzdi batu tulis (slate). Batuan ini
banyak dijumpai di daerah patahan atau lipatan.
c. Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis
Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya pengaruh
gas-gas yang ada pada magma. Contohnya kuarsa dengan gas fluorium
berubah menjadi topas.

Rina Yuliet, MT 25
SEKIAN

Rina Yuliet, MT 26