Anda di halaman 1dari 14

SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA INDONESIA

Oleh: Prof. Dr. Sofian Effendi

PENGANTAR

ebagian Negara Bangsa dipraktekan sejak 2004, perkawinan


yang terdiri atas lebih antara sistem presidensiil murni den-
dari 350 kelompok etnis, gan demokrasi multi partai ternyata
pemeluk semua agama tidak mampu menciptakan pemerin-
besar, dan berdiam di 300 dari 17000 tahan yang stabil yang diperlukan un-
pulau yang tersebar diseluruh Nusan- tuk pembangunan nasional.
tara, Indonesia oleh seorang pejabat Karena itu pertanyaan mendasar
kolonial dan etnolog Inggris bernama dalam kajian tentang sistem pemerin-
J.S. Furnifall, dijadikan gambaran tahan negara pada model demokrasi
suatu masyarakat majemuk dalam Indonesia adalah "Apakah sistem
sosial, budaya dan ekonomi. Pada pemerintahan negara yang paling
masyarakat yang heterogen terse- mampu menciptakan stabilitas sosial-
but, stabilitas politik hanya sistem politik pada demokrasi multi-partai ?".
demokrasi multi-partai yang mampu Pertanyaan ini mengandung asumsi
mengakomodasi kepentingan politik teoritis bahwa masyarakat Indonesia
semua unsur dalam masyarakat. Un- yang sangat plural memerlukan ben-
tuk membangun stabilitas pemeritah- tuk demokrasi yang khas yang tidak
an pada demokrasi multi-partai terse- mungkin dapat diakomodasi dalam
but Amandemen Kedua UUD 1945 sistem kepartaian sederhana. Apak-
menetapkan sistem pemerintahan ah sistem pemerintahan presidensiil
Presidensiil murni hasil contekan dari merupakan sistem yang paling ses-
negara lain, dan menggantikan sistem uai dengan demokrasi multi-partai?
pemerintahan sendiri, hasil pemikiran Sesuai dengan tugas yang di-
dan pemahaman para perumus UUD berikan, saya mencoba memba-
1945 terhadap kondisi masyarakat In- has dengan ringkas pertanyaan
donesia yang mereka kenaI. Setelah kedua dan berusaha merumus-
46 Jurnal Asthabrata Edis; XI/Juli - Agustus 2012
kan eiri-eiri sistem demokrasi untuk dalam meneapai tujuan nasional?
masyarakat plural Indonesia dan Hanya satu jawabannya. Keeuali
bagaimana strategi untuk mem- pada awal pemerintahan dan selama
bangun sistem demokrasi tersebut. Orde Baru bangsa ini telah mener-
apkan model demokrasi yang salah
I
t
PERJALANAN BANGSA MENeARI dan hanya coeok utnuk masyarakat
DEMOKRASI homogen yang menerapkan sistem
Sejak 1945 bangsa Indonesia ter-
us bereksperimen meneari sosok de-
partai sederhana. Ketika sistem de-
mokrasi majoritas diterapkan sejak I
I
mokrasi yang efektif. Beberapa model 1949, dalam waktu 4 tahun terjadi 33 I
demokrasi telah dieoba dan temyata kali pergantian Kabinet. Bagaimana !
belum mampu meneiptakan stabili- diharapkan dapat tereipta stabilitas
tas pemerintahan Negara yang amat pemerintahan kalau pemerintahan
diperlukan bangsa. Akibatnya eukup hanya bertahan kurang dari 1 'h bu-
fatal, setelah 63 tahun bereksperi- lan. Setelah itu Indonesia bereksperi-
men belum ada tanda-tanda bangsa men dengan demokrasi terpimpin ala
ini telah menemukan demokrasi yang Bung Kamo,yang mengandalkan ko-
sepadan dengan pondasi sosok so- alisi 3 kekuatan politik nasional yang
sial-budaya Nusantara. Eksperimen menerapkan idiologi Nasional, Aga-
terakhir dengan demokrasi mayoritas mis, dan Komunis. Nasakom, dalam
dan sistem pemerintahan "presiden- pemikiran Bung Kamo, dipandang
sial" betul-betul membuat bangsa In- dapat bekerjasama untuk meneapai
donesia semakin sial nasibnya dan tujuan nasional. Konsep Nasakom
sedang menuju jurang beneana na- yang menjadi landasan demokrasi ter-
sional, bila dalam bangsa ini tidak pimpin temyata tak mampu mencip-
menemukan sistem demokrasi dan takan stabilitas, sehingga pada 1969
bentuk pemerintahan Negara yang berakhirlah pemerintahan Orde Lama
sepadan untuk masyarakat majemuk. dibawah pimpinan Presiden Soek-
Mengapa model demokrasi yang amo dan naiklah pemerintahan Orde
diterapkan pada 5 masa kepresidenan Baru dibawah Presiden Soeharto.
tidak berhasil menciptakan stabilitas Untuk meneiptakan stabilitas
politik-pemerintahan yang diperlukan pemerintahan, pemerintah Orde Baru
untuk menyelenggarakan fungsi dan meluruskan kembali pelaksanaan
misi negara dengan sebaik-baiknya UUD 1945 dan menerapkan sistem

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli -Agustus 2012 47


demokrasi permusyawaratan per- politisasi birokrasi negara. Pada 1998
wakilan. Kedaulatan berada di tan- didorong oleh krisis keuangan yang
gan rakyat dan MPR yang secara melanda Asia Tenggara, bergulirlah
kostitusional ditetapkan sebagai lem- Gerakan Reformasi yang berawal dari
baga pelaksanaan kedaulatan rakyat. kampus-kampus di berbagai kota,
MPR terdiri dari OPR yang dipilih se- dan kemudian menjadi gelombang
cara semi-proporsional oleh rakyat besar yang menggulung dan men-
ditambah dengan wakil daerah dan jatuhkan Pemerintahan Orde Baru.
utusan-utusan golongan. MPR pada Sejak 1998 telah terjadi 4
dasarnya adalah pemegang kekua- kali pergantian pemerintahan di
saan legislatif dan sekaligus kekua- Indonesia,pemerintahan Presiden
saan eksekutif. Kekuasaan legislatif B.J. Habibie hanya berlangsung 15
dilaksanakan oleh OPR yang meru- bulan, pemerintahan Presiden Ab-
pakan bagian dari Majelis, dan kekua- durahman Wachid hanya bertahan
saan eksekutif dilaksanakan oleh 28 bulan, dan pemerintahan Gotong
Presiden sebagai mandataris dari Royong dibawah Presiden Megawati
Majelis. Para penyusun UUO 1945 me- Soekarno Putri, hanya bertahan se-
mandang bentuk pemerintahan yang lama 32 bulan. Instabilitas pemer-
khas Indonesia ini, yang merupakan intahan terjadi karena demokrati-
modifikasi dari sistem parlementer sasi politik yang dihasilkan oleh
Inggris, merupakan sistem pemerin- Gelombang Reformasi telah meng-
tahan Negara yang lebih efektif untuk hasilkan dewan perwakilan multi-par-
menciptakan stabilitas politik yang di- tai tanpa ada partai yang dominan.
perlukan oleh masyarakat majemuk. Pemerintahan dibawah pimpinan
Oemokrasi Azas Tunggal yang Presiden Susilo Bambang Yudhoy-
diterapkan oleh Pemerintahan Orde ono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
Baru selama 32 tahun ternyata tidak adalah yang pertama menerapkan
mampu menciptakan stabilitas politik sistem pemerintahan presidensiil
yang diperlukan. Sentralisasi pemer- dengan pemilihan langsung untuk
intahan yang terlalu kuat telah meng- menciptakan demokrasi mayoritas.
hasilkan konsentrasi kekuasaan Hasilnya, sesuai dengan prediksi teo-
pada mandataris MPR sehingga ke- ri-teori demokrasi, terjadi mismatch
hidupan demokrasi tersumbat, sistem antara masyarakat plural dengan
ekonomi menjadi kolutif, dan terjadi sistem demokrasi dan sistem pemer-

48 Jurnal Asthabrata Edisi XI/Jull - Agustus 2012


intahan Negara. Kondisi bangsa dan telah mengadakan 2 perubahan fun-
Negara semakin parah karena bu- damental dalam penyelenggaraan
daya politik para elit nasional dan pemerintahan negara. Yang perta-
daerah bukannya membangun ker- ma, menetapkan sistem demokrasi
jasama untuk mencari solusi atas mayoritas yang dilaksanakan me-
masalah-masalah mendasar bangsa lalui pemilihan umum secara semi-
dan Negara. Para elit partai bahkan proporsional untuk mengangkat
cendrung kontradiktif yang menye- keanggotaan badan legislatif dan
babkan terjadinya perpecahan dalam pemilihan langsung Presiden dan
partai seperti terjadi antara PKB versi Wakil Presiden. Kedua, menerapkan
Muhaimin Iskandar dan PKB versi sistem presidensial sebagai bentuk
Gus Our, PKB dengan PKNU, antara pemerintahan Negara. Demokrasi
Partai Matahari Biru dengan Partai mayoritas adalah demokrasi yang
Matahari Merah, antara PDIP dengan lebih cocok untuk masyarakat ho-
PDIP versi Laksamana 8ukardi dan mogen. 8istem presidensial yang
Joris. Kombinasi budaya kontradiktif ditetapkan sebagai pengganti sistem
yang dianut para elit politik dan ma- semi-presidensial atau "sistem send-
syarakat majemuk telah melahirkan iri", dalam bahasa anggota BPUPK
demokrasi sentrifugal yangsaling ber- Dr. 80ekiman dan Prof. Dr. 80-
pencar dan menyebabkan Indone- epomo, hanya efektif dalam sistem
sia terpecah-pecah baik karana tari- dua-partai. Indonesia jelas sekali ti-
kan kekuatan global maupun karena dak memenuhi dua kondisi tersebut.
kekuatan etno-nasionalisme. Pendek Indonesia adalah Negara Bangsa
cerita, model demokrasi mayoritas yang terbangun atas "cleavages"
yang diterapkan dalam masyarakat atau pengelompokan berdasarkan
majemuk yang memiliki sistem poli- agama, etnisitas, daerah dan kelas
tik multi-partai yang pembentukan- sosial yang sangat majemuk sehing-
nya atas dasar ikatan atau cleav- ga sangat fragile dan mudah pecah.
ages agama, etnisitas daerah, dan Tiap-tiap cleavage itu punya aspirasi
idiologi politik, menunjukkan tanda- dan tuntutan politik yang berbeda se-
tanda ketidak-mampuan mencip- hingga untuk menyalurkannya diper-
takan stabilitas politik yang sangat di- lukan bentuk demokrasi non mayori-
perlukan oleh bangsa yang majemuk. tas. 8ifat sosio-kultural, geografis dan
Amandemen ke 2 UUD 1945 politis bangsa Indonesia yang maje-

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Agustus 2012 49


muk tersebut sangat difahami oleh mangat masyarakat homogen. Sejak
para pendiri Bangsa ini, dan mereka itu ketidakpuasan masyarakat mere-
menabalkannya dengan beragam bak dimana-mana yang di salurkan
nama. Bung Karno menyebutkan melalui partai politik, 33 pemerintah-
"masyarakat gotong rotong" karena an provinsi, 497 pemeritahan kabu-
ingin menunjukkan masyarakat Indo- paten dan kota, ribuan pemerintahan
nesia memiliki semangat kerjasama kecamatan, puluhan ribu pemerin-
atau tolong menolong yang amat be- tahan desa, dan ribuan organisasi
sar. Bung Halla menggunakan "ma- masyarakat madani. Ketidakpuasan
syarakat kekeluargaan" karena be- masyarakat semakin meningkat kare-
liau menangkap kegiatan produksi na dalam kondisi ketidak mampuan
dipedesaan dilandasi oleh semangat mengatasi krisis energi, krisis BBM,
dimiliki bersama, dikerjakan bersama krisis pangan, bancana alam, korupsi
untuk dinikmati hasilnya oleh semua. yang merebak pada cabang-cabang
Oi atas fondasi masyarakat ma- kekuasaan eksekutif, legislatif, dan
jemuk, bersemangat gotong royong yudikatif, elit politik bangsa bukan-
atau kekeluargaan itulah dibangun nya bekerjasama untuk mencari
model demokrasi Indonesia yang di- solusi masalah-masalah mendasar
harapkan mampu menciptakan sta- bangsa, tapi, sebaliknya, saling baku
bilitas pemerintahan yang diperlukan hantam dalam memperjuangakan
untuk mendukung pembangunan Na- kepentingan politik individu, klik dan
sional. Pilihan para pendiri negara kelompok. Ancaman failed state yang
adalah demokrasi permusyawaratan- mengerikan semakin nyata karena
perwakilan sebagaimana ditetapkan UUO hasil amandemen telah mene-
dalam UUO 1945. Oemokrasi tersebut tapkan sistem presidensial yang bu-
dipilih karena dipandang paling co- kan merupakan padanan yang cocok
cok dan paling mampu menyalurkan untuk sistem multi-partai. Sistem de-
aspirasi politik dari berbagai c1eav- mokrasi mayoritas dan sistem pres-
ages sosial yang kompleks tersebul. idensial milik bangsa lain diadopsi
Amandemen kedua UUO 1945 tanpa modifikasi dan diletakan diatas
telah mengganti sistem demokrasi fondasi bangsa Indonesia yang ma-
permusyawaratan-perwakilan untuk jemuk ternyata telah menghasilkan
masyarakat majemuk dengan sistem bangunan pemerintahan negara yang
demokrasi mayoritas yang berse- "oglang-ogleng" sehingga sangat

50 Jurnal Asthabrata Edis; XI/Juli - Agustus 2012


mengancam sendi-sendi kehidupan kerjasama; (b) demokrasi sentripetal
bangsa dan keutuhan negara. Sen- pada masyarakat homogen yang ke-
di-sendi kehidupan demokrasi yang lompok elitnya berbudaya kontradik-
lebih sesuai dengan bangunan sosial tif; (c) demokrasi konsosiasional pada
budaya bangsa Indonesia telah di- masyarakat majemuk yang kelompok
rombak dan diganti oleh MPR periode elitnya berbudaya gotong royong;
1999-2004, dan berkembang menjadi dan (d) demokrasi sentrifugal pada
demokrasi sentrifugal dimana ke- masyarakat majemuk yang kelom-
pentingan individu, partai dan daerah pok elitnya saling gontok-gontokan.
lebih menonjol, dan hanya meng- Oemokrasi pemilihan Presiden
hasilkan Pemerintahan yang tidak dan anggota OPR dan OPO se-
mampu memenuhijanji-janji politiknya. cara langsung yang ditetapkan me-
lalui amandemen kedua UUO 1945
DEMOKRASI KONSOSIASIONAL pada masyarakat majemuk Indo-
DAN PEMERINTAHAN KOALISI nesia ternyata telah menyuburkan
Tipologi demokrasi rekaan ilmuwan budaya kontradiktif pada kelompok
politik Belanda Arend Lijphart dapat elit politik. Perpecahan didalam dan
membantu kita memahami model- antar partai, pertikaian dalam pilka-
model demokrasi atas dasar struktur da, kurang berkembangnya seman-
masyarakat dan budaya politik yang gat kerjasama pimpinan lembaga
dianut oleh elit politik suatu bangsa. Negara, sera menonjolnya seman-
Struktur masyarakat dibagi dalam dua gat kepentingan individu, golongan
kategori yaitu masyarakat homogen dan daerah dalam kehidupan politik
dan masyarakat heterogen. Budaya merupakan bukti konkret bahwa de-
politik yang dianut kelompok elit juga mokrasi yangsedang berlaku saat
dibagi dalam dua kategori yaitu bu- ini mengandung ciri-ciri demokrasi
daya koalisional atau gotong royong sentrifugal. Pengalaman negara-
dan budaya kontradiktif. Atas dasar negara lain menunjukkan demokrasi
kombinasi 2 kategori struktur sosial tersebut tidak mampu menciptakan
dan 2 kategori budaya politik terse- stabilitas pemerintahan. Justru se-
but, dirumuskan 4 bentuk demokrasi baliknya, demokrasi sentrifugal yang
yaitu: (a) depolitisasi demokrasi pada ditetapkan oleh UUO hasil aman-
masyarakat homogen yang kelompok demen tengah berkembang men-
elitnya berbudaya koalisional atau jadi ancaman bagi keutuhan NKRI.

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Agustus 2012 . :.


51
Tipologi demokrasi Lijphart tional democracy) dalah power shar-

Struktur Ma- Homogen Heterogen


ing melalui pemerintahan koalisi
syarakat besar (government by grand coali-
Budaya
Politik tion). Dalam masyarakat plural ke-
Kel. Elil
pentingan politik jauh lebih menon-
Koalisional Depolitisasi Demokrasi jol dari masyarakat homogen harus
demokrasi Konsosia-
sional bekerjasama melalui koalisi besar
Kontradiktif Demokrasi Demokrasi dalam pemerintan negara. Untuk
Sentripetal Sentrifugal
mendukung koalisi besar tersebut
amat diperlukan semangat saling
asah saling asuh pada elit bangsa,
Untuk masyarakat majemuk yang bukan pola hubungan pemerin-
para elitnya menganut budaya politik tahan dan opsisi. Dalam demokrasi
koalisional atau bersemangat gotong mayoritas pembentukan pemerin-
royong, Arendt Lijphart memperkenal- tah koalisi ditempuh melalui koalisi
kan suatu model demokrasi konso- minimal partai pemenang, dengan
siaso-nal (consociational democracy) tujuan untuk menciptakan mayori-
yang secara bebas dapat diterjemah- tas diparlemen yang diperlukan un-
kan menjadi demokrasi kekeluargaan tuk memperlancar penyelenggaraan
atau demokrasi gotong royong me- pemerintahan. Koalisidalamdemokra-
lalui pemilihan langsung. Demokrasi si mayoritas bukan didorong oelh
konsensus sama dengan demokrasi semangat demokrasi, tetapi oleh ke-
konsosiasional dalam semangat go- inginan mendominasi pemerintahan.
tong royong tetapi menggunakan Secara teoritis Lijphart mengaju-
cara pemilihan berbeda. Demokrasi kan beberapa model koalisi besar
konsensus menggunakan cara pe- yaitu : koalisi minimal pemenang, ko-
milihan tidak langsung sedangkan alisi jumlah minimum, koalisi jumlah
demokrasi konsosiasional menerap- partai terbatas, koalisi rentang idiolo-
kan pemilihan langsung demokrasi gis terbatas, dan koalisi hubungan
permusyawaratan-perwakilan seb- terbatas. Dalam pembentukan koalisi
agaiman ditetapkan oleh UUD 1945 sangat perlu diperhatikan motivasi
adalah bentuk demokrasi konsensus. pimpinan partai. Pengalaman di Neg-
Karakteristik paling penting de- ara-Negara Eropa Timur menunjuk-
mokrasi konsosiasional (consocia- kan motivasi utama politisi dan partai

52 Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Agustus 2012


dalam pembentukan koalisi adalah tidak mampu menjalankan agen-
untuk kepentingan individual atau da kebijakan pada masa baktinya.
partai. Dalam kondisi seperti itu mod- Apakah ini berarti bangsa ini akan
el koalisi yang dapat ditempuh adalah memilih Presiden baru pada 20147
"koalisi pemenang minimal" dan po- Secara teoritis jawabanya sudah di-
sisi-posisi penting dalam pemerin- berikan oleh Dr Daoed Joesoef, man-
tahan koalisi diisi oleh partai mayori- tan Mendiknas, beberapa tahun lalu.
tas. Juga dapat terjadi yang menjadi Bangsa Indonesia, kata pak Daoed,
motivasi utama adalah kesamaan adalah bangsa yang mengidap miopi
kebijakan politik, sehingga mendo- temporal atau rabun dekat temporal.
rang politisi dari partai yang berbeda Karenanya kemampuan penglihatan
untuk membentuk koalisi yang mam- dan ingatannya terpasung hanya
pu memenuhi janji politik mereka. pada kurun waktu yang singkat. Keti-
Pada rentangan motivasi "self' dan dak mampuan suatu pemerintah dan
"policy" itulah koalisi dapat dibentuk. seorang Presiden dalam memenuhi
Sebagai pencetus ide demokra- janji-janji politiknya akan segera sir-
si konsosiasional, Liphart percaya na bak embun pagi terhapus oleh
sekali demokrasi ini berpotensi be- sinar mentari pagi kalau setahun
sar untuk mengatasi deadlock dalam menjelang Pilpres kepada rakyat
pembuatan keputusan yang terjadi miskin yang konon berjumlah lebih
dalam demokrasi mayoritas, seperti 100 juta, digelontori dengan BLT,
yang dialami Pemeritahan Presiden- subsidi tabung gas, Askeskin, serta
sial dibawah Presiden SBY dalam berbagai kebijakan publik populis.
menghadapi krisis energi, krisis im- Pengelompokan dalam masyara-
por bahan pangan, krisis penetapan kat biasanya terjadi melalui dikoto-
Gubernur Maluku Utara, Krisis Ah- mi desa-kota, kaya-miskin, agama,
madiyah, Krisis dalam penetapan etnisitas,pro-anti pemerintah, dan
keistimewaan Daerah Istimewa Yog- ideologi. Dalam demokrasi konsi-
yakarta, serta yang terbesar adalah siasional perlu sekali difahami garis
krisis amandemen kelima UUD. pembatas kelompok-kelompok tadi,
Memang sistem presidensiil yang agar dapat dibentuk koalisi yang me-
diterapkan dalam setting demokrasi wakili mayoritas kelompok-kelompok
sentripetal telah menyebabkan Pres- tersebut. Demokrasi konsosiasional
iden betul-betul bernasib sial karena akan kokoh pertumbuhannya bila

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Aguslus 2012 53


ia dibentuk dari berbagai kelom- permusyawaratan dalam pembuatan
pok yang memiliki kesatuan tujuan. keputusan dalam literature ilmu politik
Demokrasi konsosiasional adalah dikenal sebagai demokrasi konsen-
sistem multi-partai multidimensional sus seperti yang pernah ditetapkan
yang unsur utamanya adalah pen- dalam UUD 1945 sebagai demokra-
gelompokan daerah, agama, dan si permusyawaratan-perwakilan.
idiologi politik. Sistem pemilihan Dalam studi empiris yang diadakan
yang paling efektif untuk memben- oleh Lijphart di 36 negara, demokrasi
tuk demokrasi tersebut adalah sistem konsosiasional berjalan dengan efek-
perwakilan proporsional, sehingga tif dalam sistem pemerintahan parle-
rakyat dan daerah kenai dan yakin meter dan presidensial, serta di neg-
pada wakil-wakilnya. Sistem ini ter- ara federal dan di negara kesatuan.
bukti berhasil baik dalam negara fed-
eral maupun dalam negara kesatuan STRATEGI MEMBANGUN DE-
yang menerapkan desentralisasi MOKRASI UNTUK MASYARAKAT
pemerintahan. Giri pokok demokrasi PLURAL.
konsosiasional yang tidak ada pada Sebagai Negara Bangsa yang me-
demokrasi lain adalah hak veto yang miliki kemajemukan agama, etnis-kul-
diberikan pada kelompok minoritas. tural, pluralitas sosial, Indonesia akan
Di beberapa negara yang menerap- terus menghadapi ancaman disin-
kan sistem demokrasi ini veto untuk tegrasi yang dapat mengoyangkan
minoritas bahkan diberlakukan dalam NKRI. Karena itu bangsa Indonsia
perubahan konstitusi. Tapi ada juga perlu terus-menerus mencurahkan
yang mengkhawatirkan veto minori- tenaga untuk memperkokoh sistem
tas tersebut akan menyuburkan ti- demokrasi dan sistem pemerintahan
rani minoritas, sehingga di Negara presidential yang ditetapkan melalui 4
tersebut hak veto semacam itu tidak kali amandemen terhadap UUD 1945.
diterapkan. Sebagai pengganti veto UUD NRI Tahun 1945 telah menerap-
minoritas dikembangkan konsensus kan sistem demokrasi mayoritas den-
antara kekuatan politik dalam ma- gan pemilihan langsung dan system
syarakat majemuk dalam pembuatan pemeritahan presidensial. System de-
keputusan tentang berbagai masalah mokrasi mayoritas hanya cocok untuk
nasional yang dihadapi bangsa. De- masyarakat homogen dan kombinasi
mokrasi yang lebih mengutamakan sistem pemeritahan presidensial den-

54 Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli -Agustus 2012


gan sistem multi-partai telah mem- bangsa; (c) Negara Indonesia adalah
buktikan secara empiris tidak mampu negara yang berkedaulatan rakyat
menciptakan stabilitas pemerintahan. berdasarkan atas hikmat permusy-
Apabila sebagai bangsa kita tidak awaratan-perwakilan; dan (d) Negara
ingin terus-menerus terombang-amb- Indonesia adalah negara yang me-
ing oleh sistem demokrasi dan sis- wajibkan pemerintah negara dan pe-
tim pemerintahan presidensial yang jabat negara untuk memelihara dan
tidak mampu menciptakan stabilitas mengembangkan nilai-nilai kemanu-
pemerintahan, pasca 2014 bangsa sian yang luhur dan cita-cita moral
Indonesia menghadapi dua pilihan: bangsa yang luhur kepada setiap war-
pertama, memantapkan sistem de- gao Untuk merealisasikan demokrasi
mokrasi mayoritas dan sistem pemer- politik dan demokrasi sosial terse-
intahan semi-presidensial agar ter- but Indonesia memilih untuk mener-
cipta stabilitas pemerintahan yang apkan sistem pemeritahan "sistem
diperlukan untuk membangun bang- sendiri" yang 47 tahun kemudian
sa dan negara. Atau, kedua, meny- oleh ilmuan politik Perancis Maurice
elaraskan sistem demokrasi multi- Duverger ditabalkan sebagai mod-
partai dengan sistem pemerintahan el pemerintahan semi-presidensiil.
sejalan dengan nilai-nilai Pancasila
dan pokok-pokok fikiran sebagaima-
na terkandung dalam Pembukaan
UUD 1945. Menurut pandangan
saya pilihan kedua ini merupakan
pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia
Pokok-pokok fikiran dalam Pem-
bukaan UUD 1945 sebagaimana
diuraikan dalam Penjelasan Resmi,
yang tidak otomatis hapus karena
Amandemen ke IV adalah: (a) Nega-
ra Republik Indonesia adalah Negara
Kesatuan yang melindungi segenap
bangsa dan seluruh tanah air; (b)
Negara Indonesia bertujuan mewu-
judkan keadilan sosial bagi segenap

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli -Agustus 2012 55


SISTEM PEMERINTAHAN
METODE SISTEM KEPARTAIAN
PEMILU Dua Partai Multi Partai
DEMOKRASI o Sistem presidensiil kon- o Semi-parlementer
vensional
o Kabinet professional mumi

o Negara Kesatuan atau

Negara Federal
o Lembaga legislatif bi-kam-

eral atau uni-kameral yang


dipilih melalui sistem repre-
sentasi mayoritas, winner
takes all

DEMOKRASI o Sistem semi-presidensiil atau Dewan

KONSEN- Eksekutif (Executive Councils)


SUS o Kabinet koalisi

o Negara kesatuan desentralistis

o Lembaga legislatif unikameral plus, bika-

meral, atau tri-kameral yang dipilih melalui


sistem representasi proporsional

Karya ilmuwan politik Belanda Ar- an yang lebih cocok adalah sistem
end Lijphart yang membedakan mod- semi-presidensiil, sistem parlement-
el demokrasi atas dasar sistem kepar- er, atau sistem dewan eksekutif.
taian dan sistem representasi yang Oemokrasi permusyawaratan sep-
diterapkan rasanya cukup berguna erti yang diterapkan dalam UUO 1945
untuk menetapkan sistem pemer- adalah indegenisasi dari demokrasi
intahan yang efaktif. Oalam negara konsensus (consensus democracy)
yang hanya memiliki dua perwakilan Yang akan terlaksana bila seman-
partai diparlemen dan menggunakan gat persatuan tumbuh kuat dalam
sistem representasi atas dasar may- Negara bangsa yang memiliki ke-
oritas, sistem presidensiil konvension- bhineka-an agama dan sosio-kultural
al seperti yang diterapkan di Amerika dibawah pimpinan tokoh kharismatis
Serikat. Oi negara yang menerapkan yang dihormati oleh semua unsur
demokrasi multi-partai seperti hal- bangsa. Yugoslavakia pernah memi-
nya Indonesia, sistem tersebut tidak liki tokoh seperti itu yaitu Presiden
efektif untuk menciptakan stabillitas Tito dan Indonesia memiliki Bung
pemerintahan. Sistem pemerintah- Karno dan Bung Hatta. Sayangnya

56 Jumal Asthabrata Edis; XI/Juli - AQustus 2012


sekarang syarat-syarat untuk mener- awaratan-perwakilan sebagaimana
apkan kembali demokrasi permusy- ditetapkan dalam UUD 1945, De-
awaratan-perwakilan sudah tidak kita mokrasi ini merupakan indegenisasi
miliki dan sebagai bangsa kita telah dari demokrasi konsensus (concen-
terpecah belah karena perseteruan sual democracy) yang akan terlak-
pejabat Negara secara terbuka, elit sana bila semangat persatuan tum-
politik yang saling antagonistis dan buh kuat dalam Negara bangsa yang
semangat kedaerahan yang semakin memiliki ke-bhineka-an agama dan
menguat. Demokrasi konsosiasional sosio-kultural dibawah pimpinan to-
atau demokrasi gotong royong me- koh kharismatik yang dihormati oleh
lalui sharing of power parlai politik dan semua unsur bangsa. Yugoslavia
kekuatan politik dalam lembaga ekse- pemah memilii tokoh seperli itu yaitu
kutif dan legislatif. Koalisi Sesar harus Presiden Tito dan Indonesia memiliki
mampu menjamin stabilitas pemeri- Sung Kamo dan Sung Halla. Say-
tahan yang dalam konteks Indonesia angnya sekarang syarat-syarat untuk
amat diperlukan untuk mendorong menerapkan kembali demokrasi con-
pembangunan ekonomi nasional. sensus ini sudah tidak kita miliki dan
Koalisi besar harus dibangun sebagai bangsa kita telah terpecah
sebelum diadakan pemilihan ang- belah karena perseteruan pejabatan
gota legislatif sehingga memfasili- Negara secara terbuka, elit politik
tasi pembentukan koalisi permanen yang saling antagonis dan semangat
dalam pemilihan pimpinan ekse- kedaerahan yang semakin menguat.
kutif. Secara empiris sudah dibuk- Karena itu demokrasi konsosiasional
tikan sistem demokrasi konsosia- atau demokrasi gotong-royong layak
sional dapat berjalan baik dalam diperlimbangkan sebagai pilihan.
sistem parlementer maupun pres- Demokrasi gotong-royong terse-
idensial. Jadi tanpa amandemen but dilaksanakan melalui sharing
UUD sistem ini dapat dilaksanakan. of power parlai politik dan kekua-
Yang diperlukan adalah sedikit pe- tan politik dalam lembaga ekseku-
rubahan dalam UU Pemilu untuk tif dan legislatif. Koalisi Sesar harus
mendorong pembentukan koalisi. mampu menjamin stabilitas pemer-
Pasca 2009 pilihan kita sebagai intahan yang dalam konteks Indone-
bangsa ada dua; perlama, kembali sia amat diperlukan untuk mendo-
melaksanakan demokrasi permusy- rong pembanguan ekonomi nasional.

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Agustus 2012 57


Koalisi Besar dapat dibangun coalition) atau Koalisi kesamaan Visi
sebelum diadakan pemilihan ang- dan Kebijakan (Policy Coalition). Di-
gota legislatif sehingga memfasili- antara dua kontinum tersebut ada
tasi pembentukan koalisi permanen cukup banyak variasi-variasi koalisi
dalam pemilihan pimpinan ekse- yang dapat dipilih oleh 3 Calon Pres-
kutif. Secara empiris sudah dibuk- iden. Pada model demokrasi multi-
tikan sistem demokrasi konsosia- partai yang dihasilkan oleh Pemilu
sional dapat berjalan baik dalam 2009, pembentukan Koalisi Partai
sistem parlementer maupun pres- maupun Koalisi Visi dan Kebijakan,
idensial. Jadi, tanpa amandemen. dapat dilakukan melalui power shar-
UUD sistem ini dapat dilaksanakan. ing jabatan Presiden dan Wakil
Yang diperlukan adalah sedikit pe- Presiden, serta penempatan profes-
rubahan dalam UU Pemilu untuk sional dan aktivis partai pada Kabi-
mendorong pembentukan koalisi. net yang akan menjalankan fungsi
Pemilu Legislatif yang diseleng- eksekutif pada 5 tahun mendatang.
garakan pada 5 Mei telah menghasil- Stabilitas pemerintahan akan se-
kan 9 partai pemenang dari 38 partai makin mantap bila Presiden terpikih
yang dinyatakan berhak ikut Pemilu. dilengkapi hak veto sehingga mem-
Kita telah menyaksikan dimedia ce- punyai check-and-balance yang
tak dan media elektronik betapa kuat seimbang dengan DPR. Penyempur-
"tekanan politik" kepada calon Pres- naan format MPR sebagai assembly
iden agar dapat dukungan dari partai- bi-kameral, seperti halnya Kongres di
partai yang mampu memenangkan Amerika Serikat, memerlukan peny-
calon tersebut. Agar dapat men- etaraan kedudukan DPR dan DPD.
jalankan pemerintahan yang relative Pemantapan sistem presidensial dan
stabil perlu dibentuk pemerintahan pemantapan lembaga perwakilan bi-
koalisi yang didukung oleh kekuatan kameral tersebut memerlukan aman-
mayoritas pada badan legistatif. Un- demen sekali lagi terhadap UUD NRI
tuk mengamankan Pilpres pada 8 Juli Tahun 1945. Nampaknya bangsa Indo-
2009, para calon presiden dan partai- nesia kembali harus memilih mana ja-
[artai pendukungnya perlu menyusun Ian yang akan ditempuhnya ke depan.
strategi pembentukan Pemerintahan Untuk mendukung sistem pemer-
Koalisi. Pilihannya ada dua, Koalisi intahan negara yang bersandarkan
partai pemenang Pemilu 2009 (party pada sistem perwakilan bikameral

58 Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli -Agustus 2012


dan sistem semi-presidensial (semi- tahan yang profesional, netral dan
presidential system) tersebut sangat a-politikal, dibawah suatu Komisi
diperlukan aparatur negara yang me- Aparatur Negara yang diangkat oleh
miliki profesionalisme tinggi dan be- Presiden sebagai Kepala Negara.
bas dari intervensi politik para peja- Pilpres pada 8 Juli dan Kabi-
bat politik ditingkat pusat dan daerah. net yang akan dibentuk setelah itu
Oalam rangka menciptakan aparatur nampaknya tidak menjamin semua
negara dan daerah yang demikian, langkah tersebut akan dapat dilak-
tangan para pejabat politik harus jauh sanakan sepenuhnya. Rupanya se-
dari aparatur negara dan daerah. bagai bangsa kita harus menunggu
Kepada para Calon Presiden lebih lama sebelum pemerintah yang
dan VVapres yang sedang bertand- efektif dapat tercipta. Oengan penuh
ing, kiranya Lemhannas R.I dapat kebijaksanaan constitutional framers
menawarkan Program Memantap- NKRI telah mengingatkan bangsanya
kan Sistem Oemokrasi dan Sistem pada Sidang BPUPKI tanggal 15 Juli
Pemerintahan sebagai berikut 1945 "kita menganut Sistem Pemeri-
(1) Mantapkan sistem bi-kameral tahan sendiri, bukan sistem presiden-
dengan menetapkan MPR sebagai siil seperti di Amerika Serikat atau
pemenang kewenangan legisla- Sistem Parlementer seperti di Inggris.
tif yang terdiri atas OPR dan OPO; Penjelasan Profesor Soepomo terse-
(2) Terapkan sistem semi-pres- but didukung oleh antara lain Ir. Soek-
idensial dengan penetapan Presiden arno, Drs Mohammad Halla, Dr. Soe-
dan VVakil Prasiden melalui pemilihan kiman, Mr. M. Yamin, dan Soetardjo.
langsung yang mewakili Partai Koalisi. Toh tetap kita langgar peringatan
(3) Lengkapi Presiden hak yang penuh kebijakan tersebut. •
veto sehingga terbentuk check
and balance antara kekua-
saan eksekutif dan legislatif;
(4) Sentuk kabinet teknokratik
yang 60 persen anggotanya adalah
para teknokrat yang ahli dalam bi-
dangnya dan 40 persen adalah
teknokrat aktivis partai koalisi.
(5) Bangun birokrasi pemerin-

Jurnal Asthabrata Edisi XI/Juli - Agustus 2012 59