Anda di halaman 1dari 11

PEMERIKSAAN BIOKIMIA PADA PASIEN

GAGAL GINJAL KRONIK


Disusun untuk memenuhi Ujian Perbaikan Praktek Biokimia

Yang Dibimbing Oleh Ibu Dr. Ir. Juliana Christiyaningsih, M.Kes

Oleh :

DESI KURNIAWATI – P27835111008

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

D3 JURUSAN GIZI

2013
PEMERIKSAAN BIOKIMIA PADA PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK

I. PENGERTIAN GAGAL GINJAL KRONIS

Gagal ginjal kronis adalah berkurangnya kemampuan ginjal untuk menyaring


racun, zat sisa, dan cairan berlebih dari darah, yang terjadi secara perlahan-lahan.
Kondisi ini membuat terjadinya penumpukan cairan dan zat sisa di dalam tubuh.

Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3
bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti
proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal kronik
ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m².

Batasan penyakit ginjal kronik Menurut Chonchol, 2005 :

1. Kerusakan ginjal > 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau
tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan:
a. Kelainan patologik
b. Pertanda kerusakan ginjal seperti proteinuria atau kelainan pada
pemeriksaan pencitraan
2. Laju filtrasi glomerulus < 60 ml/menit/1,73m² selama > 3 bulan dengan atau tanpa
kerusakan ginjal.

Gambar tahapan perkembangan ginjal pada pasien gagal ginjal kronis

II. GEJALA GAGAL GINJAL KRONIS

Gagal ginjal kronis ditunjukkan dengan gejala berikut :


 Berkurangnya urine yang keluar.
 Mual dan muntah.
 Kehilangan nafsu makan.
 Kelelahan dan badan lemah.
 Gangguan tidur.
 Kehilangan kepekaan.
 Otot nyeri dan kram.
 Pembengkakan kaki dan tumit.
 Tubuh terasa gatal atau serasa dicubit.

Karena ginjal sangat mudah beradaptasi terhadap gangguan pada fungsinya,


gejala gagal ginjal kronis mungkin baru akan muncul setelah kondisinya sangat parah.
Itulah sebabnya sangat perlu untuk setiap orang melakukan screening atau medical
check up secara teratur agar kondisi-kondisi yang tidak normal dapat segera
terdeteksi.

III. PENYEBAB GAGAL GINJAL KRONIS

Gagal ginjal kronis dipicu oleh penyakit lain yang membuat ginjal kehilangan
kemampuannya. Beberapa penyebabnya yaitu :

 Diabetes tipe I dan II.


 Tekanan darah tinggi.
 Pembesaran prostat.
 Batu ginjal.
 Kanker kandung kemih.
 Sebuah kondisi yang membuat urine kembali masuk ke ginjal (vesicoureteral reflux).
 Polycystic kidney disease.
 Infeksi ginjal atau infeksi saluran kencing berulang.
 Glomerulonephritis atau peradangan ginjal.
 Penyakit lupus.
 Scleroderma.
 Vasculitis.
 Kerusakan pembuluh darah arteri ginjal.
IV. FAKTOR RESIKO GAGAL GINJAL

Faktor peningkat risiko terjadinya gagal ginjal kronis, yaitu :

 Diabetes.
 Tekanan darah tinggi.
 Penyakit jantung.
 Merokok.
 Obesitas.
 Kolesterol tinggi.
 Riwayat penyakit ginjal di keluarga.
 Berumur 65 tahun atau lebih tua.

Komplikasi yang mungkin dapat terjadi akibat dipicu gagal ginjal kronis, meliputi :

 Penolakan cairan oleh tubuh, cairan tidak dapat keluar dari tubuh. Kondisi ini
menyebabkan pembengkakan lengan, kaki, tekanan darah tinggi, atau penumpukan
cairan di paru-paru (pulmonary edema).
 Peningkatan kadar kalium di dalam darah, yang dapat menimbulkan kerusakan fungsi
jantung dan dapat berakibat fatal.
 Penyakit kardiovaskuler.
 Kerapuhan tulang dan meningkatnya risiko patah tulang.
 Anemia.
 Berkurangnya gairah seksual atau impotensi.
 Kerusakan sistem syaraf.
 Menurunnya respon sistem kekebalan tubuh.
 Peradangan pada lapisan yang melingkupi jantung (pericarditis).
 Komplikasi kehamilan.
 Kerusakan ginjal yang tidak dapat diperbaiki.

V. DIAGNOSA

Diagnosa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan medis oleh Dokter Spesialis


Penyakit Dalam (jika ingin berkonsultasi secara spesifik, mungkin pasien perlu
mencari Dokter Konsultan Ginjal dan Hipertensi). Pemeriksaan penunjang untuk
mendiagnosis gagal ginjal kronis mencakup tes darah, tes urine, tes pencitraan
(ultrasound atau CT scan), dan biopsi ginjal.

Gagal ginjal kronis tidak dapat disembuhkan. Namun penanganan yang tepat
dapat meredakan gejalanya, mencegah komplikasi, dan memperlambat perkembangan
penyakitnya. Penanganan gagal ginjal kronis difokuskan pada mengatasi penyebabnya
dan mengatasi komplikasinya.

Untuk komplikasi, penanganannya dapat berupa pemberian obat untuk


mengontrol tekanan darah tinggi, menurunkan kolesterol, meredakan anemia,
meredakan pembengkakan, melindungi tulang, dan meminimalkan racun serta zat sisa
dalam darah. Jika hanya 15 persen bagian ginjal yang berfungsi, penanganannya akan
berbeda. Karena keadaannya sudah sangat parah, pilihannya terbatas pada prosedur
dialisis atau transplantasi ginjal.

Dialisis, atau cuci darah, terdiri atas dua jenis yaitu hemodialisis dan
peritoneal dialisis. Prosedur hemodialisis menggunakan mesin untuk mencuci darah
penderitanya. Sementara, peritoneal dialisis menggunakan cairan tertentu yang
disuntikkan ke aliran darah untuk menyerap racun dan zat sisa dari dalam darah.

Penderita gagal ginjal juga harus menjaga makanannya. Diet yang dilakukan
berupa pembatasan asupan protein, pilih makanan dengan kadar kalium yang rendah,
dan hindari produk dengan garam tambahan. Penderitanya juga tetap dapat
beraktivitas sehari-hari dan berolahraga. Tentunya dengan izin dan konsultasi dokter.

Gagal ginjal kronis dapat dicegah dengan :

 Batasi konsumsi alkohol.


 Patuhi instruksi pada obat yang dijual bebas di pasaran. Tidak mematuhi dosis yang
dianjurkan dapat merusak ginjal.
 Menjaga berat badan ideal.
 Tidak merokok.
 Hindari konsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan.
 Segera berkonsultasi dengan dokter jika memiliki masalah dengan kondisi ginjal atau
penyakit lainnya.
VI. PEMERIKSAAN BIOKIMIA YANG TEPAT UNTUK PASIEN GAGAL
GINJAL
Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan, untuk mengetahui kondisi
ginjal. Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal, bisa diketahui terutama melalui
pemeriksaan urin. Pemeriksaan urin rutin (urinalisis) terdiri dari analisa kimia untuk
mendeteksi protein yaitu dengan uji protein.

Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N .
Protein sangat penting sebagai sumber asam amino yang digunakan untuk
memnbangun struktur tubuh. Selain itu protein juga bisa digunakan sebagai sumber
energi bila terjadi defisiensi energi dari karbohidrat dan/atau lemak. Sifat-sifat protein
beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai sifatnya saat bereaksi dengan air,
beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti
urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal
dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses
reabsorpsi.

Biasanya, hanya sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus yang


diserap oleh tubulus ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. Normal ekskresi protein
biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl
didefinisikan sebagai proteinuria. Adanya protein dalam urine disebut proteinuria.

Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proteinuria adalah : penyakit


ginjal (glomerulonefritis, nefropati karena diabetes, pielonefritis, nefrosis lipoid),
demam, hipertensi, multiple myeloma, keracunan kehamilan (pre-eklampsia,
eklampsia), infeksi saluran kemih (urinary tract infection). Proteinuria juga dapat
dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine yang pekat atau stress karena
emosi.

Untuk mengetahui adanya protein di dalam urin dilakukan pemeriksaan.


Prinsip dari pemeriksaan ini terjadi endapan urine jika direaksikan dengan asam
sulfat.
Urine yang menghasilkan endapan setelah diberi asam asetat menandakan
bahwa ada protein didalam urine, dan urine yang tidak menghasilkan endapan setelah
diberi asam asetat menandakan bahwa tidak ada protein didalam urine.

VII. MAKANAN UNTUK PENDERITA GAGAL GINJAL

Makanan untuk penderita gagal ginjal ini sangatlah penting untuk membantu
memulihkan penyakit gagal ginjal. Selain itu dengan menjalankan atau
mengkonsumsi makanan ini dapat menjaga penderita gagal ginjal agar dapat
beraktifitas seperti orang normal, dan juga untuk mengatur keseimbangan cairan
elektrolit.

Penderita gagal ginjal sebaiknya mengurangi konsumsi buah-buahan karena


sebagian besar buah-buahan berkadar kalium tinggi. Kadar kalium tinggi dapat
menyebabkan irama jantung terganggu. Misalnya satu buah apel, penderita gagal
ginjal tetap bisa mengkonsumsi setengah buah apel saja. Akan tetapi penderita gagal
ginjal yang sudah tidak bisa berkemih, sebaiknya menghentikan konsumsi sayur dan
buah hingga lancer berkemih.

Apabila penderita gagal ginjal belum melakukan dialysis/cuci darah


dianjurkan untuk melakukan diet rendah protein 40-45 gram/hari. Hal ini tentunya
tergantung fungsi ginjal penderita tersebut yang dapat diketahui dengan menjalankan
pemeriksanaan laboratorium kreatinin tes.

Adapun prinsip diet untuk penderita gagal ginjal kronis antara lain :

 Diet lunak atau biasa


 Cukup energy dan rendah protein
 Untuk sumber karbohidrat dapat dengan gula pasir, selai, dan permen
 Tidak menggunakan lemak tidak jenuh
 Untuk sumber protein diutamakan protein hewani misalnya susu, daging, dan ikan.
Banyaknya konsumsi tergantung dengan kegagalan fungsi ginjal penderita.
 Untuk kebutuhan airm disesuaikan dengan jumlah urine 24 jam, sekitar 500ml melalui
minuman dan makanan.
 Dianjurkan mengkonsumsi agar-agar karena selain mengandung sumber energy juga
mengandung serat yang larut.
 Membatasi asupan garam dapur jikan ada hipertensi atau edema/bengkak.
 Kebutuhan kalium dan natrium harus disesuaikan dengan keadaaan penderita.

Makanan yang harus dihindari penderita gagal ginjal antara lain :

 Tahu
 Tempe
 Oncom
 Kacang-kacangan

Makanan yang harus dikurangi konsumsinya

Sayuran dan Buah-buahan tinggi Kalium, seperti

 buncis
 kembang kol
 peterseli
 seledri
 pepaya
 pisang
 jeruk
 alpukat
 apel

Protein Hewani seperti :

 telur
 udang
 ikan
 keju
 hati
 ayam
 daging kambing
Sumber Karbohidrat

 Ubi
 Macaroni
 Kentang
 Jagung
 NasI

VIII. MENU UNTUK PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK

Kebutuhan nutrisi tubuh sangat dipengaruhi dengan berat badan, karenanya


diet diberikan disesuaikan dengan berat badan pasien. Berdasarkan Penuntun Diet
yang disarankan oleh Instalasi Gizi Perjan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM), jenis diet digolongkan menjadi tiga, yaitu diet rendah protein I: Asupan
protein 30 g dan diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg. Diet protein
rendah II, asupan protein 35 g diberikan pasien dengan berat badan 60 kg. Diet
protein rendah III, diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg. Makanan
diberikan dalam bentuk makanan cair atau lunak untuk meringankan organ
pencernaan.

Contoh Bahan Makanan Sehari

Diet 30 g Protein Diet 35 g Protein Diet 40 g Protein


bahan Berat (gr) bahan Berat (gr) bahan Berat (gr)
Beras 100 g Beras 150 g Beras 100 g
Telur ayam 50 g Telur ayam 50 g Telur ayam 50 g
Daging 50 g Daging 50 g Daging 75 g

Sayuran 100 g Sayuran 150 g Sayuran 150 g

Papaya 200 g Papaya 200 g Papaya 200 g

Minyak 35 g Minyak 40 g Minyak 40 g

Gula pasir 60 g Gula pasir 80 g Gula pasir 100 g


Susu bubuk 10 g Susu bubuk 15 g Susu bubuk 20 g

Kue rendah Kue rendah


Kue rendah 150 g 150 g 150 g
protein protein
protein
Madu 20 g Madu 20 g Madu 30 g
Agar-agar 1 porsi Agar-agar 1 porsi Agar-agar 1 porsi
Sumber: Penuntun Diet. Gramedia 2006

Menu Diet Rendah Protein

CHICKEN PORIDGE

Untuk 1 porsi

Bahan:
3 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air
50 g daging ayam cincang
40 g wortel, parut
Protein: 8.8 g
400 ml air Energi: 225.1 kkal
1 siung bawang putih, haluskan Lemak: 1.05 g
Kabohidrat: 47.6 g
½ sdm minyak jagung
¼ sdt garam halus
¼ sdt lada halus

Cara Membuat:

1. Panaskan minyak jagung, tumis bawang putih hingga harum. masukkan daging ayam
cincang, aduk hingga berubah warna.
2. Tuang air, masak sampai mendidih. Tambahkan wortel, lada dan garam. Masak
sambil terus di aduk hingga semua bahan matang. Angkat. Hidangkan
DAFTAR PUSTAKA

http://gagalginjalkronik.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Gagal_ginjal_kronis

http://fleurazzahra.blogspot.com/2012/03/reaksi-uji-protein.html

http://mahasiswakedokteranonline.wordpress.com/tag/pemeriksaan-protein-urin/

http://budiboga.blogspot.com/2007/02/diet-bagi-penderita-penyakit-ginjal.html

http://balancefoodforfit.wordpress.com/2012/01/05/program-diet-khusus-bagi-penderita-
penyakit/