Anda di halaman 1dari 65

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

DESAIN PEMODELAN DAN INFORMASI BANGUNAN

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA &


LINGKUNGAN (K3L), SERTA PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG TERKAIT
DENGAN PELAKSANAAN PEKERJAAN
F.410100.001.02
BUKU INFORMASI

Direktorat Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan


Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan
Tahun 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................. 2


BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 5
A. TUJUAN UMUM ......................................................................... 5

B. TUJUAN KHUSUS ........................................................................ 5

BAB II Menerapkan peraturan perundang-undangan yang terkait


dengan pelaksanaan pekerjaan 6
A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan peraturan perundang-

undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan ......................... 6

2.1 Definisi K3 ................................................................................. 6

2.2 Tujuan K3 ................................................................................... 7

2.3 Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan

pelaksanaan pekerjaan ........................................................ 9

B. Keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan peraturan

perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan ......... 10

C. Sikap Kerja yang diperlukan untuk menerapkan peraturan

perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan ......... 11

BAB III Menyiapkan terselenggaranya keselamatan kerja


A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menyiapkan terselenggaranya

keselamatan kerja ................................................................................ 12

3.1 Persyaratan Jaminan Mutu .......................................................... 12

3.2 APD yang memadai dan sesuai dengan pekerjaan ......................... 13

3.3 Peralatan dan perlengkapan kerja ................................................ 20

3.4 Pagar dan perataan tanah………………………………………………… …….. 21

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 2 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

B. Keterampilan yang diperlukan untuk menyiapkan terselenggaranya

keselamatan kerja ............................................................................... 22

C. Sikap Kerja yang diperlukan untuk menyiapkan terselenggaranya

keselamatan kerja ............................................................................... 22

BAB IV Menerapkan keselamatan kerja pada pelaksanaan pekerjaan


A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan

kerja pada pelaksanaan pekerjaan ........................................................... 23

4.1 Melaksanakan pekerjaan dengan aman………………………………………. 23

4.2 Prosedur keadaan darurat…………………………………………………………. 38

4.3 Keadaan berbahaya dan peristiwa kecelakaan…………………………….. 43

B. Keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan

kerja pada pelaksanaan pekerjaan ........................................................... 44

C. Sikap Kerja yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan

kerja pada pelaksanaan pekerjaan ........................................................... 45

BAB V Menegakkan tanggungjawab keselamatan diri sendiri dan


orang lain

A. Pengetahuan yang diperlukan menerapkan tanggung jawab keselamatan

diri sendiri dan orang lain ....................................................................... 46

5.1 Menggunakan APD dengan benar……………………………………………. 46

5.2 SOP pengangkata dan pemindahan bahan dan peralatan………….. 47

5.3 Rambu-rambu,tanda-tanda dan symbol peringatan bahaya……… 54

5.4 Petunjuk K3 pengoperasian peralatan manual dan peralatan listrik 59

B. Keterampilan yang diperlukan menerapkan tanggung jawab keselamatan

diri sendiri dan orang lain ........................................................................ 62

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 3 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

C. Sikap Kerja yang diperlukan menerapkan tanggung jawab keselamatan diri

sendiri dan orang lain…………………………………………………………………………. 62

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 63


A. Buku Referensi ........................................................................... 63

B. Referensi Lainnya ....................................................................... 63

DAFTAR ALAT DAN BAHAN ......................................................................... 64


A. DAFTAR PERALATAN/MESIN ....................................................... 64

B. DAFTAR BAHAN ......................................................................... 64

DAFTAR PENYUSUN ................................................................................... 65

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 4 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

BAB I
PENDAHULUAN
A. TUJUAN UMUM

Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu menerapkan Keselamatan


dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L), serta Peraturan Perundang-Undangan yang terkait
dengan Pelaksanaan Pekerjaan

B. TUJUAN KHUSUS

Adapun tujuan mempelajari unit kompetensi melalui buku informasi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L), serta Peraturan Perundang-Undangan yang terkait
dengan Pelaksanaan Pekerjaan ini guna memfasilitasi peserta sehingga pada akhir diklat
diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Menerapkan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan
2. Menyiapkan terselenggaranya keselamatan kerja
3. Menerapkan keselamatan kerja pada pelaksanaan pekerjaan
4. Menegakkan tanggungjawab keselamatan diri sendiri dan orang lain

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 5 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

BAB II
MENERAPKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG
TERKAIT DENGAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan peraturan perundang-


undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan

2.1.Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Terdapat beberapa pengertian dan definisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang
dapat diambil dari beberapa sumber, di antaranya ialah pengertian dan definisi K3 menurut
Filosofi, Keilmuan serta menurut standar OHSAS 18001:2007.

Berikut adalah pengertian dan definisi K3 :

Secara Filosofi menurut Mangkunegara : Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan
manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan
makmur.

Secara Keilmuan : Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya


kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran
lingkungan. OHSAS 18001:2007 : Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada
keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok,
pengunjung dan tamu) di tempat kerja.

Pengertian dan definisi K3 Menurut Para Ahli : Menurut Simanjuntak (1994),


Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan
kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi
mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Menurut Ridley, John (1983) yang
dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya,

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 6 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja
tersebut.

Menurut Mangkunegara (2002, p.163) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya
dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut Mangkunegara (2002,
p.170), bahwa indikator penyebab keselamatan kerja adalah:

1. Keadaan tempat lingkungan kerja, yang meliputi:

a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya yang kurang


diperhitungkan keamanannya.
b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak
c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.

2. Pemakaian peralatan kerja, yang meliputi:

a. Pengaman peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.


b. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengaman yang baik Pengaturan
penerangan.

2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga.
Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja,
atau perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap
perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan
definisi kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang
mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan
unsur penyebab kecelakaan dan atau mengadakan pengawasan yang ketat.

Menurut (Silalahi, 1995) Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan
mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 7 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

dilakukan dengan dua cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan
meneliti apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak.

Menurut Mangkunegara (2002, p.165) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan
kerja adalah sebagai berikut:

a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik
secara fisik, sosial, dan psikologis.
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif
mungkin.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja

ILO melaporkan bahwa satu pekerja meninggal setiap 15 detik akibat kecelakaan di
tempat kerja atau sakit akibat kerja. Setiap 15 detik terdapat sekitar 160 kecelakaan kerja
di dunia. Di Indonesia sendiri, dilaporkan bahwa selama kurun waktu 5 (lima) tahun
terakhir kasus kecelakaan kerja meningkat. Dari 96.314 kasus kecelakaan kerja di Tahun
2009, meningkat mencapai 103.285 kasus kecelakaan kerja di Tahun 2013. BPJS
Ketenagakerjaan, yang semula dikenal dengan nama PT Jamsostek mencatat, di Indonesia
tidak kurang dari 9 orang meninggal dunia akibat kecelakaan di tempat kerja setiap
harinya dimana angka kematian akibat kerja di Inggris sebagai pembanding, hanya
mencapai angka 2 orang per harinya. Karena tingginya angka kecelakaan kerja ini, maka
diperlukan upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja atau sakit akibat
kerja.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 8 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

2.3 Peraturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di bidang Konstruksi

Pada kesempatan ini akan berbagi informasi mengenai dasar hukum keselamatan dan
kesehatan kerja di bidang konstruksi. K3 sangat diperlukan bagi para pelaku di dunia
konstruksi agar pekerjaan yang berjalan tercipta keselamatan dan kesehatan terhadap
semua tenaga kerja. Tujuan dari peraturan K3 ini adalah meminimalisir terjadinya korban
jiwa akibat kecelakaan kerja selama pelaksanaan. Oleh karena peraturan-peraturan yang
dikeluarkan oleh pemerintah harus benar-benar diperhatikan.

Seberapa penting dasar hukum untuk Keselamatan dan kesehatan kerja di bidang
konstruksi? pertanyaan itu terlintas di setiap orang yang masih belum memahami dengan
baik tujuan dibuatnya dasar-dasar hukum K3.

Bidang konstruksi adalah salah satu bidang pekerjaan yang mempunyai risiko tinggi bagi
para tenaga kerja. Penerapan sistem K3 atau keselamatan dan kesehatan kerja di
perusahaan kontraktor merupakan keharusan. Baik kontraktor dengan grade rendah
ataupun grade tinggi. Upaya untuk mengurangi kecelakaan tenaga kerja selalu
ditingkatkan oleh pemerintah terbukti dengan keluarnya peraturan-peraturan baru baik
dari Peraturan Kementrian maupun Undang-undang.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 9 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Beberapa kasus yang terjadi di proyek besar memang selalu terjadi kecelakaan tenaga
kerja, namun dengan penerapan sistem K3 ini mampu mengurangi jumlah kecelakaan di
Proyek. Sistem K3 di proyek harus benar-benar diterapkan dan menjadi pedoman bagi
seluruh orang yang bergerak dibidang konstruksi.

Di dunia proyek sendiri saat ini sudah banyak tersedia sub kontraktor K3 atau keselamatan
dan kesehatan kerja. Subkon tersebut bertugas melakukan pengawasan dan penindakan
terhadap pelanggaran kepada tenaga kerja yang tidak mematuhi peraturan K3 di proyek
tersebut. Adapun peraturan yang paling ketat di proyek antara lain

1. Para tenaga kerja wajib menggunakan perlengkapan safety seperti helm, sepatu
safety, tanda pengenal, dan sebagainya.
2. Para tenaga kerja di larang membuang sampah sembarang
3. Tenaga kerja yang berada pada ketinggian tertentu diwajibkan menggunakan
safety belt.
4. dan sebagainya.

Peraturan tentang keselamatan dan kesehatan kerja juga sudah diatur dalam dasar-dasar
hukum konstruksi. Adapun peraturan-peraturan terkait Keselamatan dan kesehatan Kerja
adalah.

1. UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.


2. UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dimana di dalam UU tersebut
memuat seluruh tentang ketenagakerjaan termasuk keselamatan dan kesehatan
kerja.
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2014 tentang pedoman sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) konstruksi bidang pekerjaan
umum.
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja N0.1/Men/1980 tentang keselamatan dan
kesehatan kerja dibidang konstruksi bangunan.
5. Surat keputusan bersama menteri pekerjaan umum dan menteri tenaga kerja
No.Kep.174/MEN/1986-104/KPTS/1986 tentang pedoman keselamatan dan
kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi.

Dasar-dasar hukum di atas dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan keselamatan dan
kesehatan kerja di bidang konstruksi. Peraturan K3 ini memang banyak yang belum
memahami termasuk para kontraktor besar.
Dengan membaca Peraturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di bidang Konstruksi
semoga mengingatkan kepada para pelaku konstruksi untuk selalu menerapkan sistem
keselamatan dan kesehatan kerja.

B. Keterampilan yang Diperlukan dalam menerapkan peraturan


perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 10 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

1. Mengatur dengan baik sehingga tercapai tujuan Keselamatan dan


Kesehatan Kerja
2. Melaksanakan pekerjaan konstruksi gedung sesuai Peraturan K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di bidang Konstruksi

C. Sikap Kerja yang Diperlukan dalam menerapkan peraturan


perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan
1. Harus cermat dan teliti dalam mengatur dengan baik sehingga tujuan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1.
2. Harus cermat dan teliti melaksanakan pekerjaan konstruksi gedung
sesuai Peraturan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di bidang
Konstruksi

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 11 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

BAB III
MENYIAPKAN TERSELENGGARANYA KESELAMATAN
KERJA

A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menyiapkan terselenggaranya


keselamatan kerja

1.1 Sistem Manajemen K3

Untuk Menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3)/ OHSAS 18001 ada beberapa tahapan
yang harus dilakukan agar SMK3 tersebut menjadi efektif, karena SMK3/ OHSAS 18001
mempunyai elemen-elemen atau persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dibangun .
Sistem Manajemen K3/ OHSAS 18001 juga harus ditinjau ulang dan ditingkatkan secara
terus menerus didalam pelaksanaanya untuk menjamin bahwa system itu dapat berperan
dan berfungsi dengan baik serat berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan. Untuk
lebih memudahkan penerapan standar Sistem Manajemen K3, berikut ini dijelaskan
mengenai tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya :

3.1.1 Pra Implementasi / Persiapan PenerapanSistem Manajemen K3 /SMK3/

OHSAS 18001 .

Sebelum membangun dan mengimplementasikan SMK3/ OHSAS 18001 suatu


organisasi/perusahaan. harus melakukan hal hal sbb:

 Komitmen manajemen puncak.


 Menentukan ruang lingkup
 Membentuk Steering Commitee
 Menetapkan Tugas dan Tanggung Jawab Steering Commitee
 Menetapkan Anggaran dan Pembiayaan
 Menetapkan pendamping atau Konsultan SMK3/ OHSAS 18001 misalnya saja
GMCI
 Pelatihan Steering Commiteee untuk SMK3/ OHSAS 18001 Awareness

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 12 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

3.1.2 Menyatakan Komitmen SMK3/ OHSAS 18001

Pernyataan komintmen dan penetapan kebijakan untuk menerapan sebuah Sistem


Manajemen K3 dalam organisasi/perusahaan harus dilakukan oleh manajemen puncak.
Persiapan Sistem Manajemen K3 tidak akan berjalan tanpa adanya komintmen terhadap
system manajemen tersebut. Manajemen harus benar-benar menyadari bahwa merekalah
yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan atau kegagalan penerapanSistem
K3. Komitmen manajemen puncak harus dinyatakan bukan dalam bentuk dokumen
Kebijakan SMK3/ OHSAS 18001, Kebijakan ini harus ditandatangani oleh Top Manajemen
atau manajemen puncak untuk selanjutnya di sosialisasikan kepada seluruh karyawan,
semua karyawan harus memahami, mengikuti, menjalankan apa yang sudah menjadi
komitment Top Manajemen dalam mengimplementasikan SMK3/ OHSAS 18001

3.1.3 Menentukan Ruang Lingkup SMK3/ OHSAS 18001

Dalam Menerapkan ruang Lingkup ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan

1. Jenis Usaha./ Pekerjaan : Misalnya penerapan SMK3 / OHSAS untuk perusahaan


pembuatan mobil pemadam kebakaran, dll , mungkin saja perusahaan hanya
menjalankan 1 bidang usaha, namun bisa juga perusahaan banyak menjalankan
bidang usaha
2. Lokasi Usaha/ Site, Penerapan bisa hanya untuk sebagian / departemen / divisi di
dalam perusahaan. atau penerapan hanya untuk kantor pusat, untuk satu site
atau untuk banyak site.

Dalam menentukan ruang lingkup organisasi harus mempertimbangkan kesiapan SDM


maupun infrastrukture dan aspek finansial

1.2 Alat Pelindung Diri (APD) Sesuai Jenis Pekerjaan

Konstruksi merupakan suatu kegiatan pembangunan sarana maupun prasarana. Dalam


bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal sebagai bangunan atau
satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area. Secara ringkas konstruksi
didefinisikan sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur.
Misalnya, Konstruksi Struktur Bangunan adalah bentuk/bangun secara keseluruhan dari
struktur bangunan. contoh lain: Konstruksi Jalan Raya, Konstruksi Jembatan, Konstruksi
Kapal, dan lain lain.

Pekerjaan konstruksi banyak mengandung resiko, karena itu diperlukan sekali suatu ilmu
dalam pengendaliannya, ilmu tersebut dinamakan Manajemen Resiko.Pada Manajemen

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 13 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Resiko yang harus dilakukan adalah identifikas bahaya, penilaian resiko dan pengendalian
resiko

Gambar. Manajemen Resiko


3.2.1 Metoda pencegahan kecelakaan :

 Eliminasi : modifikasi dari proses suatu metode atau material untuk


menghilangkan bahaya seluruhnya.
 Subsitusi : mengganti material, bahan atau proses dengan yang kurang
berbahaya.
 Pemisahan : menghindari bahaya dari pekerja dengan memakai pengaman, atau
dengan memberi jarak dan jangka waktu.
 Administrasi : mengatur waktu atau kondisi dari kemungkinan munculnya resiko
 Pelatihan : meningkatkan keterampilan sehingga mengurangi bahaya bagi orang
–orang yang terlibat.
 Alat Pelindung Diri (APD) : dirancang secara tepat dan peralatan dipasang dengan
benar di mana kontrol lain dianggap tidak praktis.

Untuk keselamatan pekerja yang paling utama adalah dengan memakai Alat Pelindung
Diri ( APD ). Kontraktor berkewajiban untuk menyediakan APD dimana sebelumnya
harus sudah dianggarkan dalam perencanaan proyek.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 14 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

3.2.2 Alat Pelindung Diri ( APD ), antara lain :

1. Pelindung Kepala (Helm )

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 15 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Pada proyek dapat ditemukan bermacam-macam warna helm tergantung penggunanya :

Melindungi kepala dari benda-benda yang jatuh, terkena pipa batang, sengatan listrik ,
dan harus standard ANSI Z 89.1-1986.

2. Pelindung Kaki

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 16 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Melindungi kaki dari :kejatuhan batang berat, benda benda tajam, permukaan yang basah,
licin , sengatan listrik, dan harus standard ANSI Z 41.1-1991.

3. Pelindung Tangan

Contoh sarung tangan :

• Kulit : Kanvas tahan panas


• Katun : Melindungi dari abrasi, tahan kotor, anti selip
• Karet : Tahan aliran listrik dan tahan kimia

4. Pelindung Pernapasan

Penggunaan : Daerah kerja dengan tingkat kontaminasi yang tinggi mensyaratkan


pelindung pernapasan dan harus memenuhi persyaratan ANSI Z 88.2.

5. Pelindung Pendengaran

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 17 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Pemakaian pelindung telinga tergantung tingkat kebisingan dan waktu pemakaian

 Standard : kebisingan 85 db untuk waktu 8 jam


 Ear plug : menutupi lubang telinga waktu dipakai diluar sumber kebisingan
 Ear muff :menutupi daun telinga untuk dipakai disumber kebisingan

6. Jas Hujan (RainCoat)

Berfungsi melindungi dari percikan air saat bekerja (misal bekerja pada waktu hujan
atau sedang mencuci alat).

7. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)

Kacamata pengaman (safety glassess)

Goggles : melindungi terhadap impak

Masker las : melindungi sinar radiasi yang kuat dari pengelasan, percikan las dan
harus Standard ANSI Z 87.1-1989.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 18 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

8. Pelindung Wajah (Face Shield)

Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal
pekerjaan menggerinda).

9. Pelindung Bahaya Jatuh

Contoh pelindung bahaya jatuh :

• Safety belt
• Safety harness
• Safety net (jaring pengaman)
• Catch platform
• Jaket pelampung
• Rompi pelampung

Penggunaan Alat Pelindung Diri diwajibkan untuk semua anggota/ yang terlibat dalam
proyek mulai dari Project Manager sampai ke pekerja. Dibawah ini table penggunaan APD
untuk tiap tingkat di proyek :

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 19 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

1.3 Pagar Pengaman Proyek

Untuk menjaga keamanan dalam proyek dengan mempekerjakan tenaga untuk penjagaan
(security). Jumlah personil security disesuaikan dengan kebutuhan dan system pergantian
jaga diatur dengan sift siang dan malam. Untuk keamanan proyek juga dilakukan
kordinasi dengan keamanan disekitar lokasi proyek.
Selain itu tenaga keamanan proyek, untuk mejaga keamanan dibuat pagar pengaman
proyek yang berfungsi untuk pembatas area kegiatan pekerjaan dan mengamankan area
pekerjaan dari tindakan orang luar yang mengganggu dan membahayakan.
Pembuatan pagar pengaman proyek dilaksanakan sebelum aktivitas pelaksanaan di
lapangan dilakukan. Tujuannya adalah untuk menjamin keamanan kerja didalam
lingkungan proyek dan sekaligus sebagai pemisah aktifitas diluar dan didalam areal
proyek. Pagar pengaman ini dibuat berdinding seng dan disokong oleh tiang-tiang
penyanggah yang kokoh, dibangun mengitari lokasi proyek sehingga dapat memenuhi
fungsinya sebagai pengaman.
Tahapan Pelaksanaan

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 20 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

 Hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pengukuran untuk


menentukan batas-batas yang termasuk kedalam wilayah proyek.
 Pemasangan papan kayu dan seng gelombang sebagai bahan utama pembuatan
pagar pengaman.
 Setelah papan dan seng siap untuk dipasang, maka pada bagian dalam pagar akan
diberikan kayu penopang sebagai tumpuan.

Peralatan yang digunakan :

 Meteran
 Tang
 Gergaji
 Kakatua ( Gegep )
 Palu
 Gunting Seng

Pagar pengaman proyek dibutuhkan selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung. Sebelum


pagar pengaman proyek dibuat, telebih dahulu dilakukan pengukuran untuk batas-batas
area pekerjaan. Pagar pengaman proyek dibuat dengan menggunakan penutup seng
gelombang dan tiang kaso. Pagar sementara didirikan mengelilingi batas area lokasi
pekerjaan. Untuk sirkulasi keluar masuk, pada bagian depan pagar pengaman proyek
dibuat pintu lengkap dengan pengunci. Pagar pengaman proyek dapat dibongkar setelah
pelaksanaan pekerjaan proyek selesai.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 21 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

B. Keterampilan yang Diperlukan dalam menyiapkan terselenggaranya


keselamatan kerja

1. Mengatur dengan baik sehingga tercapai efisiensi biaya dan waktu


untuk menerapkan sistem manajemen K3
2. Melaksanakan pekerjaan konstruksi gedung dengan memakai APD
sesuai dengan jenis pekerjaan
3. Melaksanakan pekerjaan pagar pengaman proyek

C. Sikap Kerja yang Diperlukan dalam menyiapkan terselenggaranya


keselamatan kerja

1. Harus cermat dan teliti dalam mengatur dengan baik sehingga


penerapan manajemen K3 dapat berjalan dengan baik.
2. Harus cermat dan teliti melaksanakan pekerjaan konstruksi gedung
dengan memakai APD sesuai dengan jenis pekerjaan
3. Harus cermat dan teliti dalam mengerjakan pagar pengaman proyek

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 22 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

BAB IV
MENERAPKAN KESELAMATAN KERJA PADA
PELAKSANAAN PEKERJAAN

A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan kerja


pada pelaksanaan pekerjaan

4.1.Melaksanakan Pekerjaan Dengan Aman

4.1.1 K3 Pekerjaan Tanah

Tanah/lahan merupakan pondasi alami dari konstruksi yang berdiri diatasnya.


Pengetahuan mengenai sifat-sifat pisik tanah, sangat berguna dalam menentukan metoda
pencegahan terhadap bahaya yang mungkin akan terjadi. Pada dasarnya pekerjaan tanah
terdiri dari: pekerjaan galian, pekerjaan timbunan & pemadatan , dan pekerjaan bawah tanah
.

Gambar 4.1 Excavator pada Pekerjaan Tanah Mekanis

Beberapa kecelakaan yang timbul pada pekerjaan tanah :


1. Kecelakaan pada pemerataan tanah. Operator sedang membelakangi korban,
korban terlindas.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 23 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 4.2 kecelakaan pekerjaan tanah


2. Kecelakaan pada pekerjaan pengurukan, truk pengangkut tanah uruk
terperosok di tepian, kesalahan pengemudi karena berhenti pada daerah
tebing

Gambar 4.3 truk terperosok

Karena tingkat potensi bahaya yang berbeda-beda , untuk hal ini dibutuhkan tenaga
operator yang terdidik dan terlatih dalam bidang K3.
Pada pekerjaan galian harus dilakukan pengaman:
 dinding penahan , perancah dan tangga kerja
 pagar pengaman
 sirkulasi udara yang cukup
 penerangan yang cukup
 sarana komunikasi
 alat pelindung diri untuk pekerja

4.1.2 K3 Pekerjaan Struktur

1. Pekerjaan Bekisting dan perancah


2. Pekerjaan Pembesian
3. Pekerjaan Beton

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 24 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

4. Pekerjaan Shotcrete
5. Pekerjaan ditempat Tinggi

4.1.2.1 Pekerjaan Bekisting dan Perancah ( Scafolding )

Gambar.4.4 Pekerjaan Bekesting

Contoh kasus pada pekerjaan bekesting dan perancah : pekerja konstruksi sedang berdiri
di atas scaffolding dimana pekerja memasang bekesting balok. Bahaya apakah yang
mungkin timbul pada pekerja dengan posisi dan kondisi seperti gambar di atas ?
Bahwa dalam perencanaan, pembuatan, pemasangan, pemakaian dan perubahan teknis
perancah, mengandung potensi bahaya. Perlu pengawasan dan pembinaan dalam tahapan
pekerjaan perancah: konstruksi perancah, tenaga kerja dan lingkungan kerja.

a. Dasar Hukum Pengawasan K3 Perancah


1). UNDANG-UNDANG NO. 1/1970 KESELAMATAN KERJA

- Pasal 4 : Syarat- syarat K3 dalam


perencanaan,pembuatan,pengangkutan,pemasangan, pembongkaran dan
pemeliharaan.

- Pengujian, pengesahan, perlengkapan Alat Pelindung Diri


2). permennaker no.per.01/men/1980 tentang keselamatan dan kesehatan kerja
konstruksi bangunan pasal 12, pasal 24 dan pasal 99 tentang penggunaan
perlengkapan penyelamatan diri dan perlindungan diri

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 25 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Pengurus :

- Alat-alat penyelamatan dan perlindungan diri, yang jenisnya disesuaikan


dengan sifat pekerjaan yang dilakukan oleh masing- masing tenaga kerja
dan harus disediakan.

- Alat–alat penyalamatan dan Pelindung Diri harus selalu memenuhi syarat


K3 yang ditentukan.
Tenaga Kerja :

-
Harus digunakan sesuai dengan kegunaannya oleh setiap tenaga kerja dan
orang
Pada penggunaan alat pengaman pada pekerjaan schafolding untuk pemakaian safety
belt, hooknya harus lebih tinggi dari pinggang .

Gambar4.5 Pekerja Schafolding

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 26 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar4.6 Kaki Penahan Bekesting Harus Stabil

Gambar4.7 Rambu-Rambu Pada Pekerjaan Bekesting

Beberapa kondisi yang salah yang sering terjadi :


1. Dalam Perencanaan
- Kesalahan disain : tidak standar perancah.
2. Dalam Pembuatan
- Penggunaan bahan yang tidak sesuai.
- Ukuran-ukuran yang salah
- Mutu pengelasan yang tidak sesuai.
- Pemeriksaan dan pengujian yang tidak lengkap.
3. Dalam pengangkutan.
- Komponen perancah cacat.
- Rusak.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 27 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

4. Dalam Pemasangan
- Salah sambungan
- Tidak ada prosedur kerja.
- Tenaga Kerja Tidak Trampil K3.
- Pondasi tidak mendukung konstruksi.
- Tiang vertikal, tidak vertikal.
- Batang horizontal, tidak horizontal.
5. Dalam Pemakaian.
- Beban overload.
- Tidak melaksanakan riksa-uji.

6. Dalam perawatan.
- Komponen perancah korosif.
- Bengkok-bengkok.
- Tidak dilakukan teknik perawatan.

Jenis Kecelakaan Yang Mungkin


1. Perencanaan : perancah roboh, perancah goyang dan komponen perancah jatuh
2. Pembuatan : perancah roboh, perancah tidak stabil, komponen perancah patah,
dan komponen perancah tidak kuat
3. Pengangkutan : komponen perancah rusak, patah,tidak lengkap.
4. Pemasangan : perancah tidak stabil, komponen perancah jatuh, komponen perancah
tidak Lengkap, tidak ada peralatan keselamatan
5. Pemakaian : perancah roboh, komponen perancah jatuh, dan komponen perancah
rusak karena telah dipakai
6. Perawatan : tidak layak pakai, kekuatan bahan menurun, tidak lengkap

Pola Pencegahan Kecelakaan


1. Sebelum Kecelakaan
Pada Perencanaan konstruksi perancah dan pembuatan harus mendapat ijin
fabrikasi. Pelaksanaan, pemakaian dan perawatan harus mendapat ijin penggunaan,
pemeriksaan dan pengujian.Operator harus sudah mendapat job training

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 28 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Lingkungan Kerja, seperti sudah menjaga kebersihan dan pengaturan tata ruang
konstruksi

2. Sesudah Kecelakaan
Analisis kecelakan perancah secara akurat terhadap 3 unsur: (Konstruksi
Perancah, Operator dan Lingkungan Kerja).
Tetapkan hasil analisis.
Lakukan modifikasi dan perbaikan.
Tindak lanjut dan merealisasikan ulang yaitu usaha-usaha pencegahan sebelum
terjadi.
Pengawasan Perancah
A. Pemeriksaan Umum
1. Pemeriksaan Pertama

- Pemilik/Pengguna/Pemakai Perancah Wajib Lapor Pekerjaan Perancah.

- Sebelum Digunakan Harus Diadakan Pemeriksaan.

- Pengawas Spesialis K3 Konstruksi/Ahli K3 Konstruksi, Melaksanakan


Pemeriksaan Dan Pengujian.
2. Pemeriksaan Dokumen Teknik.

- Meneliti Buku Petunjuk/Brosur Pabrik Dan Data Pembuatan Dari Pabrik.

- Sertifikat Pengujian Selama Pembuatan


a. Mereview Gambar Konstruksi
b. Mereview Perhitungan Kekuatan Konstuksi
c. Mereview Sertifikat Material
d. Mereview Hasil Uji Tak Rusak
e. Mereview Hasil Uji Beban
f. Dan lain lain Yang Dianggap Perlu
3. Pemeriksaan Lapangan

- Pemeriksaan Gambar Terpasang KonStruksi Dengan Bangunan Perancah.

- Pemeriksaan Phisik Visual Lengkap


4. Pemeriksaan Komponen Perancah

- Tiang Vertikal

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 29 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

- Batang Horizontal

- Palang Penguat

- Sambungan
5. Pemeriksaan Dimensi Kerangka Perancah, Sesuai Dengan Yang Dipasang

- Pengujian Beban Bila Dianggap Perlu

- Alat-Alat Pelindung Diri Yang Diwajibkan


6. Pengesahan Penggunaan Perancah

Bila Dinyatakan baik berdasarkan laporan pemeriksaan oleh pengawas/Ahli K3 diterbitkan


izin oleh kantor dinas ketenagakerjaan setempat.

- Pemeriksaan Phisik-Visual Lengkap.

- Pemeriksaan Komponen Perancah.

- Pemeriksaan Sambungan.

- Pengujian Beban Bila Dianggap Perlu


7.Laporan Pemeriksaan.

- Dituangkan Didalam Izin


- Ditulis Oleh Pengawas/Ahli K3
B. Pemeriksaan Khusus

Apabila Ditemukan Penggunaan Perancah Tidak Memiliki Data-Data Teknis.


1. Pemeriksaan Dokumen.
- Buatkan Gambar Konstruksi Perancah.
- Buatkan Detail Gambar Komponen Konstruksi Perancah.
2. Pemeriksaan Lapangan

- Dapatkan Pemeriksaan Material, Untuk Mendapatkan Data Material.

- Adakan Pemeriksaan Phisik-Visual

- Adakan Penilaian Kekuatan Rangka

- Adakan Pengujian Tidak Merusak

- Adakan Pengujian Beban Sesuai Spesifik.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 30 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Di bawah ini salah satu contoh kecelakaan yang dapat terjadi pada pekerjaan
perancah/schafolding.Pekerja sedang merakit perancah dengan ketinggian 1,7 m. Ketika
pekerja sedang memasangkan perancah vertical pada tingkat 2, pekerja kehilangan
keseimbangan dan jatuh dan ditimpa bagian dari perancah sehingga mengakibatkan kakinya
patah.

Gambar4.8 Kecelakaan pada Pekerjaan Perancah

4.1.2.2 Pekerjaan Pembesian

4.1.2.2.1 K3 Pekerjaan Pembesian-1

a. Pemasangan besi beton yang panjang harus dikerjakan oleh pekerja yang cukup
jumlahnya, terutama pada tempat yang tinggi, untuk mencegah besi beton
tersebut meliuk / melengkung dan jatuh
b. Pada waktu memasang besi beton yang vertical, pekerja harus ber-hati hati agar
besi beton tidak melengkung misalnya dengan cara mengikatkan bambu atau
kayu sementara
c. Memasang besi beton ditempat tinggi harus memakai perancah, dilarang keras
naik / turun melalui besi beton yang sudah terpasang
d. Ujung-ujung besi beton yang sudah tertanam harus ditutup dengan potongan
bambu atau lainnya, baik setiap besi beton masing-2 atau secara kelompok
batang besi, untuk mencegah kecelakaan fatal
4.1.2.2.2 K3 Pekerjaan Pembesian-2

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 31 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

a. Bila menggunakan pesawat angkat ( kran / crane ) untuk mengangkat atau


menurunkan sejumlah besi beton, harus menggunakan alat bantu angkat yang
terbuat dari tali kabel baja ( sling ) untuk mengikat besi beton menjadi satu dan
pada saat pengangkatan atau penurunan harus dipandu oleh petugas ( misal
dengan memakai peluit )

b. Pengangkatan atau penurunan ikatan besi beton harus mengikuti prosedur


operasi pesawat angkat ( crane )

c. Semua pekerja yang bekerja ditempat tinggi harus dilengkapi dan menggunakan
sabuk pengaman, sarung tangan, sepatu lapangan , helm dan alat pelindung diri
lain yang diperlukan .

Gambar4.9 Whorkshop Besi

Gambar4.10 Pekerja Pembesian di Ketinggian

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 32 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

4.1.2.3 Pekerjaan Beton

4.1.1.3.1 K3 Pekerjaan Beton-1

Secara umum, sebelum melakukan pekerjaan pembetonan , ada beberapa hal yang harus
dilakukan / diperhatikan oleh pekerja antara lain :

a. Pemeriksaan semua peralatan dan mesin yang akan digunakan

b. Pemeriksaan semua perancah / steiger , stoot,dan ikatan penyangga

c. Apabila menggunakan peralatan concrete pump, antara lain :

 memeriksa dan memastikan bahwa semua pipa yang sedang digunakan sudah
cukup kuat / mampu dan hubungan satu pipa dengan pipa lainnya cukup kuat
dan aman

 mencegah kemungkinan pergerakan pipa arah horizontal dan beberapa


tempat harus diikat dengan kuat. Ikatan tidak boleh dengan bekisting atau
besi beton yang pengecorannya sedang dilakukan

Gambar4.11 Pekerjaan Pengecoran Plat Lantai

4.1.2.3.2 Pekerjaan Beton-2

Pada proses pelaksanaan penuangan beton sebagai berikut :

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 33 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

a. komando atau perintah yang jelas harus diberikan pada saat pompa bekerja :
kapan harus mulai, berhenti sementara dan kapan mulai lagi. Alat komunikasi
yang komunikatif, kalau perlu gunakan handy-talky.

b. pekerja yang tidak berkepentingan dilarang berada tepat diujung pipa pada saat
pompa sedang bekerja

c. pekerja dan siapapun berdiri didekat boom concrete pump pada saat pompa
bekerja

d. peralatan seperti : vibrator, pipa-pipa, penerangan dll, harus selalu dirawat oleh
petugas yang berpengalaman sebelum dan sesudah penuangan beton

4.1.2.3.3 K3 Pekerjaan Beton-3

a. Menara atau tiang yang dipergunakan untuk mengangkat adukan beton (


concrete bucket towers ) harus dibangun dan diperkuat sedemikian rupa
sehingga terjamin kestabilannya

b. Usaha pencegahan yang praktis harus dilakukan untuk menghindarkan


terjadinya kecelakaan selama pekerjaan persiapan dan pembangunan konstruksi
beton, antara lain : kejatuhan benda-benda atau bahan yang diangkut dengan
ember dan singgungan langsung kulit terhadap semen, adukan atau kapur

c. Sewaktu beton dipompa atau dicor, pipa-pipa termasuk penghubung atau


sambungan dan penguat harus kuat

Gambar4.12 Bucket Beton

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 34 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

4.1.2.3.4 K3 Pekerjaan Beton-4

a. Sewaktu proses pembekuan beton ( setting concrete ) harus terhindar dari


goncangan dan bahan kimia yang dapat mengurangi kekuatan

b. Sewaktu lempengan ( panel ) atau lembaran beton ( slab ) dipasang pada


dudukannya, harus digerakkan dengan hati-hati terhadap :

 melecutnya ujung besi beton yang mencuat sewaktu ditekan atau direnggang

 getaran sewaktu menjalankan vibrator

c. Setiap ujung-ujung ( besi, kayu, bambu) yang mencuat, harus dilengkungkan atau
ditutup

d. Proses pengecoran harus dilakukan dengan hati-hati untuk menjamin bekisting dan
perancah dapat memikul / menahan seluruh beban sampai beton mengeras

4.1.2.3.5 K3 Pekerjaan Beton-5

a. Untuk melindungi tenaga kerja sewaktu melakukan pekerjaan konstruksi, harus


dibuatkan lantai kerja sementara yang kuat

b. Tenaga kerja harus dilindungi terhadap bahaya paparan / singgungan langsung


antara kulit dengan semen atau adukan beton, bahan pengawet kayu dan bahan
kimia lainnya

c. Apabila bahan-bahan yang mudah terbakar digunakan untuk keperluan lantai,


permukaan dinding dan pekerjaan lainnya, harus dilakukan tindakan pencegahan
terhadap :

• kemungkinan adanya api yang terbuka, timbulnya bunga api pada pekerjaan
pengelasan

• sumber api lainnya yang dapat menyulut uap yang mudah terbakar yang
timbul ditempat kerja dan daerah sekitarnya

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 35 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

4.1.2.4 K3 Pekerjaan Shotcrete

a. Pekerja yang bertugas mengoperasikan alat penyemprot harus memakai APD yang
cukup antara lain : masker pelindung pernafasan, kaca mata pelindung debu, sarung
tangan dan sepatu karet

b. Campuran semen dapat menyebabkan penyakit kulit. Iritasi dan alergi dapat
disebabkan oleh adanya kontak langsung dengan semen basah, dan apabila paparan
dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kulit terbakar.

c. Hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh pekerja antara lain : sedapat
mungkin harus dihindari bernafas dalam keadaan berdebu tanpa menggunakan
masker pelindung pernafasan

4.1.2.5 Pekerjaan ditempat tinggi

4.1.2.5.1 K3 Pekerjaan ditempat Tinggi-1

Dalam pelaksanaan pekerjaan ditempat ketinggian ( >2m) beberapa hal yang harus
diperhatikan antara lain :

a. Menggunakan perancah ( scaffolding ) atau tangga besi permanen

b. Dilengkapi APD yang sesuai ( sabuk pengaman / safety belt ) untuk menjamin agar
tidak terjatuh. Tali sabuk pengaman harus cukup pendek agar tinggi jatuh bebas
tidak melebihi 1,5 meter

c. Harus dipersiapkan jalur yang aman sebelum memulai pekerjaan

d. Harus dipastikan tempat dudukan tangga tersambung aman dan papan dudukannya
terpasang rapat untuk mencegah orang tersandung dengan barang-barang yang
jatuh

e. Harus dipastikan bahwa daerah dibawahnya bersih dari reruntuhan dan barang-2
lain yang tidak diperlukan

4.1.2.5.2 K3 Pekerjaan ditempat Tinggi-2

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 36 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

a. Jaring pengaman harus digunakan dan dipasang untuk mengantisipasi jatuhnya


benda-2 yang dapat menimpa orang dibawahnya

b. Tangga harus dipasang dan dipastikan sudah terikat kuat dan aman pada bagian
atasnya untuk mencegah pergerakan

c. Jangan memakai tangga yang dibuat sendiri yang tidak dapat dijamin mengenai
kekuatan dan keamanannya

d. Jangan sekali-kali menggunakan tangga susun dan sejenisnya yang belum pernah
diperiksa oleh petugas K-3 dan jika masih ragu-ragu,segera tanyakan kepada petugas
K-3

e. Pasang pagar pembatas pada sekitar kerja agar jangan ada orang yang tidak
berkepentingan masuk / berada pada area kerja

Gambar 4.13 Pekerja Pada Ketinggian

Gambar 4.14 Jaring Pengaman

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 37 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 4.15 Pagar Pembatas


4.2 Prosedur keadaan darurat dan peristiwa kecelakaan

4.2.1 Potensi Bahaya Kebakaran

Salah satu potensi bahaya yang paling ditakuti pada pekerjaan konstruksi kayu adalah
kebakaran, kebakaran dapat menimbulkan korban nyawa atau kerugian material yang
sangat besar.

Secara umum, kebakaran dapat terjadi apabila dipenuhi tiga unsur pemicu kebakaran itu,
yakni adanya api, oksigen, dan bahan bakar. Artinya, jika ketiga unsur itu ada pada saat
yang bersamaan pada suatu tempat, maka pastilah akan terjadi kebakaran. Rangkaian
ketiga unsur pemicu kebakaran itu dapat kita gambarkan sebagai sebuah segitiga, yang
sering dinamai triangle fire.

Udara
(Oxygen)

Kebakar
an

Panas Bahan Bakar


(Heat)
Gambar 4.16 Segitiga Api (Fuel)

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 38 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Ledakan dapat terjadi jika ada lima syarat yang terpenuhi, yakni ada panas (heat), bahan
bakar (fuel), udara (oxygen), ruang terisolasi (confinement), dan tahanan (suspension).
Ketika kelima unsur ini eksis pada waktu bersamaan pada suatu tempat, maka pasti terjadi
ledakan tersebut. Perhatikan Gambar berikut.

Ruang Terisolasi
(Confinement)

Udara Tahanan

Panas Bahan Bakar


(Heat) (Fuel)

Gambar 4.17 Segilima Ledakan

Bahasan berikut ini akan difokuskan tentang masalah kebakaran di bengkel kerja dan
bagaimana pengendalian/pemadaman api.

1) Penyebab Kebakaran

Sebagaimana kita ketahui, peristiwa kebakaran dapat terjadi bila terdapat 3 unsur secara
bersamaan dalam suatu tempat, yaitu bahan bakar, sumber api, dan oksigen yang cukup
(ingat segitiga api di atas). Bahan-bahan mudah terbakar dalam bengkel kayu dapat
berasal dari kayu, kertas, textil, bensin, minyak, acetelin, dan lain-lain.

Api, sebagai sumber panas dapat berasal dari sinar matahari, listrik yang mengalami
hubungan arus pendek, listrik statis, gesekan dua benda padat (logam), dan reaksi unsur-
unsur kimia flamable. Sedangkan kadar oksigen yang cukup berkisar antara 12 % sampai
21%, jika kadar oksigen dalam udara <12% tidak akan terjadi kebakaran.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 39 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Para ahli tentang masalah kebakaran ini, membagi tipe kebakaran atas lima kelas, seperti
Tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1. Kelas Kebakaran

2) Pemadaman Kebakaran

Berdasarkan tipe-tipe kebakaran, sebagaimana disebutkan di atas, bahan pemadaman api


dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

1. Kebakaran Klas A, yaitu kebakaran yang disebabkan oleh kayu, kertas,


atau kain digunakan Alat Pemadaman Api (APA) berupa pasir,
tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air.
2. Kebakaran Klas B, yaitu kebakaran yang disebabkan oleh bensin, oli, cat,
dan unsur kimia lainnya APAnya berupa tepung pemadam (dry powder),

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 40 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut yang halus.


3. Kebakaran Klas C, yaitu kebakaran yang disebabkan oleh bahan beraliran
listrik, digunakan APA berupa Carbondioxyda (CO2), tepung kering (dry
chemical). Perlu diingat bahwa dalam peristiwa kebakaran tipe C ini tidak
dibenarkan menggunakan air, karena air bersifat penghantar listrik, maka
dapat menyebabkan orang yang memadamkan api tersengat arus listrik.
4. Kebakaran Klas D, yaitu kebakaran yang berasal dari unsur logam,
digunakan APA berupa pasir halus dan kering, dry powder khusus.
5. Kebakaran Klas K, yaitu kebakaran yang penyebabnya adalah unsur lemak
(nabati atau hewani) dapat digunakan APA yang sama dengan APA pada
peristiwa kebakaran tipe B.
6. Kebakaran kelas E, khusus untuk kebakaran oleh arus pendek, dapat
digunakan APA berupa tepung kimia kering (dry powder), akan tetapi
memiliki resiko kerusakan peralatan elektronik, karena dry powder
mempunyai sifat lengket. Lebih cocok menggunakan pemadam api
berbahan clean agent.

3) Racun Api dan Penggunaannya

Secara garis besarnya racun api itu adalah: (1) dry powder, (2) Carbondioksida (CO2), (3)
Kombinasi dry powder untuk pemadaman api ABC, (4) Dry chemical, (5) Alcohol resistant
foam. Saat ini juga sudah dibuat racun api yang berfungsi secara otomatis. .

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 41 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 4.18Beberapa Bentuk Racun Api Manual

Gambar 4.19 Racun Api Otomatis

Seyogyanya setiap orang yang bekerja pada suatu area berpotensi kebakaran, seperti
pada pekerjaan konstruksi kayu, mengetahui dan terampil dalam melakukan pemadaman
kebakaran, terutama dengan menggunakan racun api.

Penggunaan racun api pada dasarnya cukup praktis, yaitu dengan mengikuti konsep PASS,
yaitu:

1. Pull the pin, yakni menarik pin pengunci racun api.

2. Aim the base of fire, arahkan ujung semprotan racun api ke dasar api,
tidak ke kobaran api.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 42 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

3. Squeeze the lever slowly, tekan tuas pemadam (perlahan-lahan). Jika


tuas dilepaskan, maka racun api akan berhenti disemburkan.

4. Sweep from side to side, sapukan racun dari samping ke samping.

Gambar 4.20 Pemakaian Racun Api

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 43 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 4.21 Pemadaman Api dengan Fire Extinguisher

Tentu saja tidaklah sama prosedur pemakaian racun api untuk semua jenis racun api yang
ada, untuk itu perlu dipelajari manualnya masing-masing.

Hal penting mengenai penggunaan racun api ini yang harus diperhatikan adalah mengenai
keselamatan kerjanya. Jangan datangi api dari termpat yang tertutup asap, artinya
perhatikan arah asap. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak lemas karena menghirup asap
tersebut.

B. Keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan kerja


pada pelaksanaan pekerjaan

1. Mengidentifikasi tempat pekerjaan dilaksanakan dengan aman

2. Menyiapkan prosedur keadaan darurat

3. Mengorganisasikan fasilitas bila terjadi keadaan bahaya

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 44 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

C. Sikap kerja yang diperlukan untuk menerapkan keselamatan kerja pada


pelaksanaan pekerjaan

Harus bersikap secara:


1. Harus cermat dan teliti dalam mengidentifikasi pekerjaan dilaksanakan
dengan aman

2. Taat asas dalam menangani prosedur keadaan darurat

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 45 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

BAB V
MENEGAKKAN TANGGUNGJAWAB KESELAMATAN DIRI
SENDIRI DAN ORANG LAIN

A. Pengetahuan yang diperlukan untuk menegakkan tanggungjawab


keselamatan diri sendiri dan orang lain

5.1 Menggunakan Alat Pelindung Diri dengan Benar

Alat pelindung diri (APD) adalah suatu kewajiban dimana biasanya para pekerja bangunan
yang bekerja disebuah proyek atau pembangunan sebuah gedung, diwajibkan
menggunakannya. Alat-alat demikian harus memenuhi persyaratan tidak mengganggu
kerja dan memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya. Alat Pelindung Diri
yang disediakan oleh kontraktor dan dipakai oleh tenaga kerja harus memenuhi syarat
pembuatan, pengujian dan sertifikat. Tenaga kerja berhak menolak untuk memakainya
jika APD yang disediakan jika tidak memenuhi syarat. Alat Pelindung diri berperan penting
terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja, serta berguna untuk mencegah pekerja dari
kecelakaan seperti:
 Tertimpa benda keras dan berat,
 tertusuk atau terpotong benda tajam,
 terjatuh dari tempat tinggi, terbakar atau terkena aliran listrik,
 terkena zat kimia berbahaya pada kulit atau melalui pernafasan,
 pendengaran menjadi rusak karena suara kebisingan,
 penglihatan menjadi rusak diakibatkan intensitas cahaya yang tinggi,
 terkena radiasi dan gangguan lainnya.

Macam alat pelindung diri antara lain adalah: Masker alat pelindung hidung, topi
pengaman, sarung tangan, sepatu pengaman sebagai alat pelindung kaki, pakaian kerja,
tali pengaman untuk melindungi pekerja dari kemungkinan jatuh.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 46 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.1 APD

5.2 Sistem Pemindahan Barang dan peralatan

Banyak orang mengartikan material transport sama dengan material handling.


Sebenarnya 2 istilah ini memiliki definisi yang berbeda. Material handling yaitu Ilmu
tentang pemindahan (material transport), penyimpanan (storage), pengamanan, dan
pengontrolan material. Jadi material transport merupakan bagian dari definisi material
handling. Istilah lainnya yaitu material moving.

Pada praktiknya, aktivitas ini menjadi sangat penting dalam operasi perusahaan. Mulai
dari Industri pertambangan, chemical, hingga manufacture, material transport memiliki
alokasi biaya yang cukup besar. Dari sisi Suplier, ini menjadi bisnis bernilai milayaran
dollar. Karena itu tidak mengherankan jika perkembangan teknologinya sangat pesat
untuk memenuhi kebutuhan sistem operasi ter-modern.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 47 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

1. Digerakkan dengan tenaga manusia.


Berikut beberapa penerapan dalam manufacture yang menggunakan cara ini.

a) Manual Hand Trucks, yaitu alat pemindah barang secara manual atau dengan tenaga
manusia. Variasi Hand Truck ini cukup banyak, karena rata-rata design alat menyesuaikan
kondisi operasi. Jadi dibawah ini baru contoh kecil saja yang umum digunakan. Bahkan
untuk memenuhi kebutuhan operasi yang khusus, alat terkadang harus di-design dan
dibuat secara customized. Umumnya orang menyebut alat ini dengan Trolley.

Gambar 5.2 Manual Hand Trucks

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 48 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

b) Hydraulic Hand Trucks, jenis alat ini digunakan untuk memindahkan barang, tapi
dilengkapi dengan mekanisme pengangkat secara hidraulic. Contoh dibawah yang umum
digunakan dalam industri, hand pallet, jack pallet, Scissors Lift Table, Hidraulic
Stackers,dll. Sistem Hidraulic tidak memerlukan sumber listrik dalam operasinya, sehingga
penggunaannya bisa lebih luas.

Gambar 5.3 Hydraulic Hand Trucks

Electric Hand Trucks, jenis alat ini digunakan untuk memindahkan barang, tapi
dilengkapi dengan mekanisme pengangkat/lifting secara electric/baterai. Jadi syarat
utama penggunaannya stasiun kerja harus memiliki sumber arus listrik.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 49 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.4 Electric Stacker


2. Digerakkan dengan tenaga mesin.
Barang dipindahkan dengan menggunakan mesin-mesin penggerak , umumnya alat ini
dilengkapi dengan mekanisme pengangkat secara hidraulic atau electric.

a) Fork Lift, Menurut penggunaan dan sumbe tenaganya ada beberapa type fork lift,
diantaranya electric forklift, Diesel Engine Fork Lift, Gasoline/LPG engine fork lift.
Penggunaan di dalam lingkungan Industri biasanya berkisar pada beban angkat 2,5 - 5
Ton. Namun rentang daya angkat fork lift yang tersedia dipasaran mulai dari 0,5 - 40 Ton.
Jika anda berencana untuk membeli fork Lift, harap diperhatikan hal-hal berikut ;1) Berapa
berat beban yang akan diangkat, 2) Berapa ketinggian angkat yang diinginkan, 3) Apakah
forklift digunakan didalam atau diluar ruangan, 4) Luasan ruang yang dimiliki untuk
bermanuver, 5) Frekuensi penggunaan forklift dalam sehari.

gambar 5.5 Electric fork lift

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 50 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.6 Diesel engine fork lift


b) Car on Rails, heavy duty load, alat ini banyak digunakan dalam industri logam berat,
karena bobot dan sizenya yang relatif besar, dan bentuk yang rata-rata standard.
Pemindahan barang tidak memungkinkan menggunakan crane, sehingga harus tetap
bertumpu di lantai dengan menggunakan jalur khusus ( Rail ).

Gambar 5.7 Car on rails, heavy duty

c.Crane

Crane adalah Alat pengangkat yang biasa digunakan didalam proyek konstruksi.Cara
kerja crane adalah dengan mengangkat material yang akan dipindahkan, memindahkan
secara horizontal, kemudian menurunkan material ditempat yang diinginkan. Beberapa
tipe crane yang umum dipakai adalah: 1. Crane Beroda Crawler 2. Truck Crane 3. Crane
untuk Lokasi Terbatas 4. Tower Crane
1. Crane Beroda Crawler Tipe ini mempunyai bagian atas yang dapat bergerak 3600.
dengan roda crawler maka crane tipe ini dapat bergerak didalam lokasi proyek
saat melakukan pekerjaannya. pada saat crane akan digunakan diproyek lain
maka crane diangkut dengan menggunakan lowbed trailer. pengangkutan ini

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 51 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

dilakukan dengan membongkar boom menjadi beberapa bagian untuk


mempermudah pelaksanaan pengangkutan.

Gambar 5.8 Crane Beroda Crawler


2. Truck Crane Crane jenis ini dapat berpindah tempat dari satu proyek ke proyek
lainnya tanpa bantuan dari alat pengangkutan. Akan tetapi bagian dari crane
tetap harus dibongkar untuk mempermudah perpindahan. seperti halnya crawler
crane, truck crane ini dapat berputar 360 derajat. untuk menjaga keseimbangan
alat, truck crane memiliki kaki. di dalam pengoperasiannya kaki tersebut harus
dipasangkan dan roda diangkat dari tanah sehingga keselamatan pengoperasian
dengan boom yang panjang akan terjaga.

Gambar 5.9 Truck Crane


3. Crane untuk Lokasi Terbatas Crane tipe ini diletakan di atas dua buah as tempat
kedua as ban bergerak secara simultan.dengan kelebihan ini maka crane jenis ini
dapat bergerak dengan leluasa. Alat penggerak crane jenis ini adalah roda yang

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 52 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

sangat besar yang dapat meningkatkan kemampuan alat dalam bergerak


dilapangan dan dapat bergerak di jalan raya dengan kecepatan maksimum30
mph. letak ruang operator crane biasanya pada bagian- bagian deck yang dapat
berputar.

4. Tower Crane Tower crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat
material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang
gerak yang terbatas. Tipe crane ini dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri
yaitu crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane), crane diatas rel (rail
mounted crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied&in tower crane)
dan crane panjat (climbing crane).

Gambar 5.10 Tower Crane

Kapasitas Tower Crane Kapsitas tower crane tergantung beberapa factor. Yang perlu
diperhatikan adalah bahaya jika material yang diangkut oleh crane melebihi kapasitasnya
maka akan terjadi jungkir. Oleh karena itu, berat material yang diangkut sebaiknya
sebagai berikut:
1. Untuk mesin beroda crawler adalah 75% dari kapasitas alat.
2. Untuk mesin beroda ban karet adalah 85% dari kapasitas alat

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 53 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

3. Untuk mesin yang memilliki kaki adalah 85% dari kapasitas alat
Faktor luar yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah :
1. Kekuatan angin terhadapa alat
2. Ayunan beban pada saat dipindahkan.
3. Kecepatan pemindahan material.
4. Pengereman mesin dalam pergerakannya
Bagian-Bagian Tower Crane Sebuah tower crane setidaknya terdiri dari 3 bagian:
1. Pondasi Bagian ini berfungsi meneruskan beban dari tower crane ke tanah keras
dan sebagai penahan agar tower crane tidak jatuh. Pada bagian inilah kaki tower
crane dibaut pada pondasi beton yang masif dan besar.
2. Tiang/standard section Bagian ini merupakan bagian vertikal dari tower crane
yang bisa terus tumbuh seiring dengan kebutuhan proyek. Pada bagian ini
terdapat tangga vertikal yang dibagi per section yang nantinya akan digunakan
oleh operator untuk naik ke atas.
3. Unit Yang Berputar Bagian ini terdiri dari 3 bagian: Horizontal jib ( hoisting jib
atau working jib) Machinery jib Operator’s cab .Horizontal Jib ( hoisting jib atau
working jib) Horizontal jib adalah bagian horizontal dari sebuah tower crane yang
panjang dan berfungsi sebagai bagian pengangkat beban. Disebut pula sebagai
hoisting jib atau working jib. Operator’s cab Tempat dimana operator bekerja.
Cab ini haruslah memiliki jendela besar untuk memastikan operator memiliki
pandangan penuh terhadap lokasi konstruksi. Mengingat letaknya yang tinggi, cab
ini juga sebaiknya dilengkapi dengan AC dan perlengkapan lainnya. Machinery jib
Pada bagian inilah terdapat motor penggerak tower crane, alat elektronik dan
sebuah beton masif yang berfungsi sebagai counter balance. Oleh karena itu
sering pula disebut counter balance jib.

Faktor Penyebab Kegagalan Pengangkatan yaitu :


1. Perencanaan yang kurang baik
2. Kegagalan dari peralatan
3. SDM yang tidak memenuhi persyaratan
4. Faktor alam (cuaca, bencana alam dll)

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 54 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Hal-hal Penyebab Gagalnya Proses Pengangkatan


1. Buruknya kondisi mesin / crane
2. Konfigurasi mesin tidak sesuai dengan spesifikasi
3. Penggunaan / pemasangan outriggers yang tidak tepat
4. Lantai / tanah pijakan yang lembut / berlumpur
5. Crane tidak sesuai dengan beban yang akan diangkat (dari segi SWL, jenis dan
kapasitas angkat)
6. Pengangkutan dari sisi samping
7. Pengayunan berulang – ulang
8. Dampak dari naik – turunnya akselerasi saat pengangkatan dalam waktu yang singkat
dan cepat.
9. Tinggi nya kecepatan angin

Bahaya pada Crane


 Memperkirakan Kecepatan Angin Metode Bendera
 Ayunan CRANE
 Menyangga Boom Crane
 Estimasi Jarak Aman Boom Crane dengan saluran listrik
 Jarak Aman Crane dengan Power line
 Clear Area Crane / Jarak belakang crane aman
 Efek Crane Tanpa Boom Limit Switch
 Efek Crane Tanpa Hoist Limit Switch

Contoh kecelakaan pada crane


1. Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pengendalian Bahaya Di Tempat Kerja :
 Pemantauan dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja.
 Pemantauan dan Pengendalian Tindakan Tidak Aman di tempat kerja.
2. Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pembinaan dan Pengawasan :
 Pelatihan dan Pendidikan K3 terhadap tenaga kerja. o Konseling dan Konsultasi
mengenai penerapan K3 bersama tenaga kerja.
 Pengembangan Sumber Daya ataupun Teknologi yang berkaitan dengan
peningkatan penerapan K3 di tempat kerja.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 55 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

3. Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Sistem Manajemen :


 Prosedur dan Aturan K3 di tempat kerja.
 Penyediaan Sarana dan Prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
 Penghargaan dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga
kerja.

5.3 Rambu-Rambu ,tanda-tanda dan symbol peringatan bahaya

Rambu-rambu Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan alat bantu yang
bermanfaat untuk membantu menginformasikan bahaya dan untuk melindungi kesehatan
dan keselamatan para pekerja atau pengunjung yang berada di tempat kerja tersebut.
Fungsi dari rambu-rambu Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), antara lain :

1. Menarik perhatian setiap orang terhadap adanya bahaya keselamatan dan


kesehatan kerja.
2. Menunjukan kemungkinan terdapat potensi bahaya yang mungkin tidak terlihat di
tempat kerja.
3. Menyediakan informasi secara umum serta memberikan pengarahan.
4. Memberitahukan kepada para pekerja dimana mereka harus menggunakan alat
pelindung diri saat berada di tempat kerja.
5. Menginformasikan dimana peralatan darurat keselamatan diletakkan.
6. Memberikan peringatan waspada terhadap beberapa tindakan atau perilaku yang
tidak diperbolehkan dilakukan di tempat kerja.

Warna yang menarik perhatian yang dipakai pada rambu-rambu keselamatan kerja juga
untuk keperluan lainnya yang menyangkut keselamatan pekerja. Misalnya, warna untuk
menginformasikan isi aliran dalam suatu pipa dan bahaya yang terkandung di dalam aliran
tersebut.

Pemilihan warna pada rambu-rambu keselamatan kerja juga menuntut perhatian dari
kemungkinan terdapat potensi bahaya yang dapat menyebabkan celaka, misalnya potensi
akan adanya bahaya dapat digambarkan dengan menggunakan warna kuning. Bila mana
pekerja menyadari adanya potensi bahaya di sekitarnya, kemudian pekerja dapat

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 56 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

melakukan tindakan pencegahan dini agar tidak terjadi kecelakaan. Oleh sebab itu resiko
kemungkinan terjadinya kecelakaan, luka, cacat atau kerusakan lainnya dapat diperkecil.

Bagaimanapun juga manfaat rambu-rambu keselamatan kerja adalah untuk memberikan


sikap waspada akan adanya bahaya, tetapi tidak dapat mengeliminasi atau mengurangi
bahaya tesebut pada saat bahaya tersebut terjadi.

Warna keselamatan kerja dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Untuk sub kelompok rambu-rambu keselamatan kerja dapat ditunjukkan pada gambar
dibawah ini :

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 57 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.11 Simbol dan rambu

Simbol rambu-rambu keselamatan kerja


Dalam sebuah rambu-rambu keselamatan kerja pada umumnya terdapat simbol di
dalammnya, bisa berupa sebuah huruf atau sebuah gambar dengan dikelilingi garis yang
membentuk pola geometri yang spesifik dan warna yang spesifik. Contoh simbol rambu-
rambu keselamatan kerja dapat dilihat seperti gambar di bawah ini :

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 58 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.12 Rambu peringatan bahaya

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 59 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.13 Rambu peringatan bahaya

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 60 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

Gambar 5.14 Rambu peringatan bahaya

B. Keterampilan yang diperlukan untuk menegakkan tanggungjawab


keselamatan diri sendiri dan orang lain

1. Mengidentifikasi cara menggunakan APD dengan benar

2. Menyiapkan rambu-rambu,tanda-tanda dan symbol peringatan bahaya

3. Mengorganisasikan fasilitas K3

C. Sikap kerja yang diperlukan untuk menegakkan tanggungjawab


keselamatan diri sendiri dan orang lain

Harus bersikap secara:


1. Harus cermat dan teliti dalam mengidentifikasi penggunaan APD dengan
benar

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 61 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

2. Taat asas dalam mengaplikasikan cara mengamati pemasangan rambu,tanda-


tanda dan symbol peringatan bahaya

3. Harus cermat dan teliti dalam mengorganisasikan fasilitas K3

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 62 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku Referensi
a. Abdullah, Rijal. (2009). Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pertambangan
Batubara Bawah Tanah. UNP Press. Padang.
b. Permenakertrans RI No 1 Tahun 1980 tentang Keselamatan Kerja pada Konstruksi
Bangunan.
c. Permenaker RI No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
d. Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum RI No 174
Tahun 1986 No 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada
Tempat Kegiatan Konstruksi.

B. Referensi Lainnya

a. http://www.fireextinguisher.com Diakses 3 Desember 2017.


b. https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.co.id/2013/09/pengertian-dan-
definisi-k3-keselamatan.html Diakses 18 Desember 2017
c. https://diansyahrofiatin.wordpress.com/2015/03/11/materi-k3lh-kesehatan-
keselamatan-kerja-dan-lingkungan-hidup/ Diakses 18 Desember 2017
d. http://www.pengertianku.net/2015/01/pengertian-k3lh-secara-umum-dan-
tujuannya.html Diakses 19 Desember 2017

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 63 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

DAFTAR ALAT DAN BAHAN

A. Daftar Peralatan/Mesin

No. Nama Peralatan/Mesin Keterangan


1. Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori
2. Laptop Untuk setiap peserta
3. Printer
4.
5.
6.
7.

B. Daftar Bahan

No. Nama Bahan Keterangan


1. Buku Informasi Setiap peserta
2. Buku kerja Setiap peserta
3. Buku Penilaian Setiap peserta
4. APD Kelompok
5. Kertas HVS A4 kelompok
6.
7.
8.
9.

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 64 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018
Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi Kode:
F.410100.001.02
Bisnis Konstruksi dan Properti

DAFTAR PENYUSUN

No. Nama Profesi

1 Sunardi,S.Pd Widyaiswara

Judul Modul: Keselamatan dan Kesehatan Kerja & Lingkungan (K3L)


Halaman: 65 dari 65
Buku Informasi - Versi 2018